Iron Man

Hmmmm, film ini bikin saya tercengang. Satu, karena saking katanya rame, tiba-tiba pada suatu siang pacar saya ngajakin saya nonton film ini. Hore. Setelah berabad-abad nggak pernah nonton bareng, meski itu di Jatos. Kedua, karena film ini bukan sekedar film fiksi biasa yang terlalu khayal membuat super hero. Iron Man beneran membuat saya berpikir bahwa pada suatu hari nanti bukan nggak mungkin kalau dunia kita ini dihiasi oleh mesin-mesin ala Tony Stark dan perang dunia III tidak lagi membutuhkan warga militer untuk menjadi front line peperangan (tapi warga sipil bakal banyak yang jadi korban).

Film ini dibuka dengan beberapa pernyataan khas kaum realisme, salah satunya tentang prinsip balance of power. Dikisahkan bahwa Tony Stark, sang otak pabrik senjata percaya bahwa dengan semakin canggih senjata yang ia buat untuk negaranya, maka perdamaian akan lebih cepat terjadi dan pasukan militer negaranya akan semakin terlindungi dari serangan musuh. Menurutnya lagi (lebih tepatnya, menurut narrator soalnya yang cerita bagian yang selanjutnya ini adalah si narrator), perdamaian seperti yang dirumuskan dalam charter-charter itu nggak lebih dari omong kosong. Perdamaian adalah persenjataan yang kuat.

Prinsip tersebut sama sekali bukan prinsip dari pedagang senjata yang ingin senjatanya laku. Secara awam memang tampak demikian, namun sesungguhnya itu adalah pemikiran para kaum realis yang memang menitikberatkan pada power, dimana menurut mereka, kemenangan adalah 1-0, sama sekali bukan 1-1 atau 0-0 dengan berbagai syarat dan sharing kepentingan seperti yang dirumuskan oleh para kaum idealis. Dengan adanya cita-cita kemenangan 1-0 itulah maka timbul kesepakatan bahwa hal tersebut hanya bisa diraih dengan adanya persenjataan yang kuat. Semakin kuat persenjataan satu pihak maka akan bertambah takutlah lawannya. Adanya ketakutan inilah yang akan menghindarkan pecahnya perang sehingga pada akhirnya apabila dua belah pihak saling memperkuat persenjataannya maka perang tidak akan terjadi karena keduanya sama-sama takut menjadi pihak yang menanggung hasil 0. Itulah intisari Balance of Power yang dianut kaum realis yang ditampilkan di cerita fiksi ini sebagai pembuka.

Namun pada akhirnya prinsip yang dianut Stark ini mulai goyah pada saat ia ditawan teroris. Senjata yang selama ini ia bangga-banggakan dapat melindungi AS dari musuh dan memang ia tujukan untuk AS ternyata dimiliki juga oleh teroris yang menjadi lawan AS. Senjata yang ia agungkan untuk mempercepat perdamaian pun ternyata selama ini telah melukai banyak warga sipil dan memisahkan mereka dari anggota keluarga yang mereka cintai. Perdamaian yang dicita-citakan pemerintah dan warga sipil ternyata sangat bertentangan. Semua terlihat seperti bumerang bagi Stark hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menghentikan bisnis senjatanya.

Mulai di bagian ini sang Iron Man pun tercipta. Dengan berbekal kecerdasannya mengolah segala sesuatu seperti Mac Gyver, di dalam tawanan teroris, Stark yang diminta untuk membuat senjata canggih bagi para teroris mulai menyusun material yang disediakan teroris menjadi pelindung tubuhnya dari serangan peluru. Dengan bumbu ketegangan yang disajikan kepada para penonton, akhirnya di saat-saat genting pelindung tubuh dari ujung rambut sampai lutut tersebut pun rampung diselesaikan Stark dan Yinsen, seorang ilmuwan yang juga ditawan oleh teroris. Di bagian ini kita mulai diperlihatkan bahwa suatu hari nanti, berbagai jenis power rangers, pasukan turbo, winspector, dan lain-lain bukan hanya sekedar cerita bagi anak-anak SD. Dengan prinsip-prinsip fisika yang logis, pelindung tubuh dari serangan peluru yang nampak di mata kita sebagai robot berisi manusia tersebut adalah hal yang mungkin.

Tapi ada hal yang khas Amerika yang ditampilkan di film tersebut, ehm...agak sedikit mengganggu. Pertama, tentang penggambaran image teroris. Lagi-lagi image Arab plus sorban dijadikan simbol bagi para teroris. Ada beberapa hal yang patut dicatat dari image tersebut, pada saat para teroris dalam dialognya mengungkapkan apa tujuan mereka ingin menyerang AS. Menurut dialog tersebut tujuan mereka melakukan serangan teror adalah untuk menguasai dunia. Hmmmm... tujuan tersebut di telinga saya terdengar sangat dangkal dan fiktif sekali. Menguasai dunia untuk apa? Kenapa? Apa latar belakangnya?

Selama ini kita sering mendengar bahwa tujuan teroris memang untuk mengusai dunia, namun masih ada kalimat ekornya, yakni menguasai dunia dan menyatukannya dalam panji Islam. Bukankah itu alasan yang menjustifikasi para teroris untuk mengatakan bahwa mereka syahid fisabillah ? Jika sang sutradara berdalih karena enggan menyelipkan unsur agama dalam film tersebut, namun, dalam pandangan saya, justru keengganan sutradara tersebut menimbulkan kejanggalan yang lain. Seolah-olah sang sutradara menggambarkan bahwa tujuan teroris menyerang AS sangat dangkal sekali dan sangat perlu diperangi karena sangat tidak terpuji.

Secara teoritis dan ini pun diungkapkan oleh para ilmuwan AS sendiri, sebenarnya tujuan umum teroris melakukan serangan teror adalah karena adanya penindasan terhadap ras mereka oleh suatu pemerintahan –khususnya pemerintahan di luar negara mereka- sehingga tujuan dari usaha yang mereka lakukan adalah untuk mengusir para ’penjajah’ dari tanah air mereka. Satu kesimpulan yang saya ambil adalah para teroris tersebut bertindak bukan tanpa alasan. Mereka memiliki latar belakang yang kuat untuk bangkit melakukan serangan. Mereka tidak akan menyerang apabila mereka tak disakiti terlebih dahulu. Alasan yang dikemukakan dalam film Iron Man, meski ia hanyalah sebuah film, sama sekali tidak menyentuh ranah ini. Seperti film kebanyakan lain, pesan yang ditampilkan oleh image teroris selalu mengarahkan masyarakat dunia untuk memusuhi kaum Arab (baca : teroris) secara absolut tanpa memberi celah untuk bercermin, siapa penyulut perang antara pemerintah dan teroris.

Hal lain yang agak mengganjal adalah kehiperbolaan penggunaan prinsip balance of power. Prinsip balance of power ini jauh lebih tepat apabila dikondisikan seperti pada saat masih ada bipolar Blok Barat dan Blok Timur atau yang kita kenal antara Amerika dan Rusia. Bandingkan dengan balance of power yang diperlihatkan oleh film ini. Amerika memang dikatakan berperang dengan negara di gurun pasir sana, namun mengapa musuh yang tampak hanyalah satu kelompok kecil teroris? Jangankan dengan satu kelompok teroris tersebut, bahkan dengan satu negara tersebut saja kekuatan AS sudah di atas segalanya. Dikisahkan juga para teroris tersebut memiliki senjata buatan Stark karena ada pengkhianatan dari orang dalam perusahaan Stark sendiri, namun masih saya melihatnya kurang logis karena dari mana para teroris tersebut mampu membeli senjata secanggih dan sebanyak itu? Sedangkan mereka hanyalah sekelompok, kecil, dan juga dimusuhi oleh warga sipil negaranya sendiri.

Masih ada hal yang lain yang tidak kalah mengganggu meski ia hanya detail ringan. Kembali lagi tentang image teroris. Teroris, yang digambarkan sebagai orang yang sukunya tidak jauh dari suku Arab (intinya sih karena muka dia kayak muka Arab tapi agak sangar –soalnya botak&matanya garang- dan pake sorban di lehernya), lagi-lagi digambarkan sebagai orang yang kalah cerdas dibanding AS. Tony Stark memang disebut sebagai orang tercerdas sejak kecil dengan beragam prestasi akademis sehingga wajar apabila ia tak terkalahkan dalam segala situasi, namun penggambaran image teroris tersebut sangat berlebihan. Mereka bisa ditipu Stark dengan mudah, mereka juga bisa diperdaya oleh pengkhianat Stark yang bekerja sama dengan mereka, dan mereka pun seolah tak mengerti apa-apa tentang persenjataan. Intinya, lagi-lagi AS lah pusat peradaban.

Saya tidak tahu apa saja kritik kefiksian Iron Man yang berasal dari dunia sains. Hmmm, bukan bidang saya yang jelas. Namun di atas semua kefiksian Iron Man, Iron Man masih dapat dibilang sebagai film yang masuk kategori Must See. Penggambaran yang sangat baik tampak dari berbagai angle yang diambil, dialog yang diucapkan, dan ide cerita yang tidak terlalu khayal seperti beberapa film superhero lainnya, meski para pembuat filmya bukan seorang ahli politik, ahli perang, dan ahli sains. Hmmm...mumpung film musim panas ini belum banyak diakhiri di bioskop, tonton aja film ini.

Ark.Mei’08

Beyond Life and Death : Ivan Scumbag

Masih lagi tentang buku, kali ini adalah buku biografi dengan judul, Beyond Life and Death : Ivan Scumbag. Ada yang tau siapa Ivan Scumbag? Yup, Ivan Scumbag adalah seorang vokalis band, spesifiknya band underground bernama Burgerkill. Ia berasal dari Ujungberung, Bandung. Dan ia adalah seorang vokalis underground yang paling fenomenal karena range suaranya luas, namun sayangnya ia sudah dipanggil duluan ke hadirat-Nya.

Jujur, saya bukan penggemar musik-musik underground, bahkan untuk membedakan mana musik dan mana vokal dalam lagu itu pun saya nggak bisa. Nah, kenapa saya bisa ngebaca dan mereview biografi vokalis Burgerkill yang udah alamrhum itu adalah karena Feby. Feby ini adalah Sekretaris II HILITE, Makrab HI 2008 yang karena saya adalah Sekretaris I akhirnya saya selalu kerja bareng cewek komunitas underground ini. Suatu ketika dalam perjalanan survey buat HILITE saya nemu ada buku bersampul hitam dan cukup tebal nganggur di tangannya. Saya pinjem dan dia dengan senang hati meminjamkannya.

Membaca buku yang ditulis Kimung, sahabat Ivan semasa hidup itu dan bertanya banyak hal tentang kehidupan komunitas underground kepada Feby sedikit banyak membuat saya trenyuh dan menghargai eksistensi komunitas yang sering dianggap preman oleh banyak masyarakat. Well, mereka juga manusia yang punya perasaan, punya kepekaan, punya cita-cita, punya prinsip, punya usaha, dan karena itulah sudah seharusnya mereka juga diterima sebagai bagian dari masyarakat kita. Tampilan mereka dan gaya hidup mereka memang berbeda dengan norma umum yang diminta, namun mengucilkan mereka dalam berbagai stereotype yang menyudutkan juga bukan solusi untuk menyadarkan mereka bahwa ada beberapa sisi dari mereka yang tidak seharusnya mereka anut sebagai penyelesaian, seperti drugs dan alkohol.

Gaya penceritaan Kimung dalam buku ini sangat sederhana namun menggugah, seolah ingin merangkul banyak komunitas underground yang sangat kehilangan Ivan dan menyuarakan keseharian Ivan yang mewakili keseharian underground ke masyarakat lain yang menyepelekan mereka. Dan itu berhasil. Saya sendiri merasakan betapa banyak citra yang saya peroleh ketika membaca buku ini. Citra untuk tertawa, terharu, merinding ngeri, trenyuh, miris, tegang, kagum, bahkan menangis. Great Kimung, great Ivan, and great underground, pokoknya!

Seperti umumnya buku biografi lain, cerita berawal dari kelahiran Ivan dan latar belakang keluarga Ivan. Ivan terlahir di keluarga yang sederhana dan mencintai musik. Bapaknya seorang guru yang kelak menjadi kepala sekolah dan beberapa anggota keluarganya telah mewariskan Ivan darah untuk mencintai underground. Cerita berlanjut dengan perjalanan Ivan semasa kecil. Ivan seorang anak yang rajin beribadah dan pintar, terbukti dari prestasinya menjadi sepuluh besar di kelas serta memiliki penguasaan bahasa Inggris yang sangat maju dibandingkan teman-temannya. Kemampuan berbahasa Inggris itu yang membuat Ivan sangat piawai menyusun lirik untuk lagu-lagu undergroundnya saat ia menjadi anggota band.

Cerita lalu mulai menggigit saat Kimung menyuguhkan kehidupan Ivan yang mulai mengenal minum, ganja, drugs, dan tato. Mulai dari sini saya mulai merinding ngeri. Hmmmm suasana yang digambarkan Kimung terlihat sangat nyata hingga seolah-olah saya sedang berada di tempat yang sama sambil menyaksikan aktivitas tersebut. Saya juga teringat pada banyak kawan saya semasa SMP dan kuliah yang sering menceritakan kegiatan demikian. Membaca deskripsi Kimung membuat saya berandai-andai seperti itukah yang dilakukan teman-teman saya itu hampir setiap malam?

Sama sekali saya tidak menganggap jijik pada mereka. Saya rasa itulah tahapan yang harus mereka lalui dalam satu masa kehidupan mereka. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk melewati guncangan tersebut. Bagi masyarakat lainnya, cara yang mereka ambil boleh dibilang salah, tapi yang perlu dicatat adalah, apakah si masyarakat yang mencemooh itu tahu bagaimana cara yang baik untuk melewati masa sulit kaum terpinggirkan tersebut? Apakah masyarakat tahu apa latar belakang kaum tersebut mengambil jalan demikian? Dan yang paling penting, apakah masyarakat tahu betapa kaum tersebut, underground dan teman-teman saya, juga sangat ingin keluar dari lingkaran setan tersebut?

Ya, Ivan dan teman-teman komunitasnya dalam buku Kimung tersebut mengisahkan betapa mereka sangat tersiksa terus menerus terjebak dalam pusaran kelam tersebut. Mereka tahu nikmat yang diberikan alkohol, ganja, dan drugs hanya bertahan beberapa lama untuk kemudian menyisakan sakit yang teramat lama. Saya yakin itu bukan hanya basa basi pembelaan dari mereka. Ada dua orang yang sangat dekat dengan saya yang sempat terjebak di lingkaran tersebut, meski alhamdulillah hanya sampai alkohol dan ganja, yang menceritakan pada saya betapa mereka sangat tersiksa berada dalam ketidaksadaran yang mengguncang lambung mereka hingga selama satu malam mereka tidak berhenti merasakan lelahnya menumpahkan isi perut yang membuat mereka tergeletak pasrah di kamar mandi sampai pagi. Yang mereka inginkan hanya satu, selesai dari ketergantungan mereka.

Di tengah sisi yang membuat saya merinding tersebut, saya juga merasakan kekaguman. Mulai dari semua lirik lagu yang dibuat Ivan, kegigihan Ivan dalam bermain band hingg akhirnya Burgerkill diterima sebuah label mayor, prinsip Ivan yang sangat keras memperjuangkan cita-citanya hingga akhirnya ia sadar bahwa idealisme yang ia inginkan sulit terwujud. Lalu tentang kehidupan Ivan yang sederhana bahkan sering kekurangan uang di kantong pada saat kritis, pada solidaritas teman-teman Ivan, bahkan hingga pada dedikasi Ivan yang sangat mulia pada komitmen bermusiknya. Saya tidak tahu apakah Kimung melebih-lebihkan Ivan atau tidak pada buku ini, namun di luar semua itu, Ivan memang patut dikagumi.

Dalam semua sisi Ivan, saya melihat Ivan sebagai orang yang sangat gigih dan bertanggung jawab. Salah satunya, betapa Ivan malu menjadi beban keluarga sepeninggal ayahnya padahal ia adalah anak pertama. Keputusannya untuk mengembara ke luar rumahnya dalam pandangan saya adalah bentuk tanggung jawabnya kepada ibunya. Ia tidak ingin merepotkan ibunya dan tidak ingin menjadi contoh yang salah bagi adik-adiknya. Ia tidak punya pilihan lain. Bagi Ivan, cukup dirinya saja yang ’gagal’.

Panggung demi panggung ia lewati hingga akhirnya komunitas underground mendapat tempat yang lebih baik dibanding pada perkembangan sebelumnya. Dari panggung ke panggung ini kisah cinta Ivan mengalami banyak aktris di dalamnya. Ada banyak cerita cinta yang membuat bergetar di sini. Pada semua kisahnya, Ivan nampak begitu total menyayangi para pendampingnya. Entah apa itu namanya, apakah itu bentuk tanggung jawab seorang laki-laki pada kekasihnya atau apa pun hingha satu hal yang paling terlihat dalam kisah-kisah Ivan adalah Ivan seorang yang sangat romantis.

Pada klimaks biografi ini saya berkali-kali tercenung. Di akhir hidupnya dengan penyakit yang ia derita, yang ia sendiri tak tahu ia sedang sakit apa, Ivan tetap menjalankan komitmennya untuk berolah vokal. Sesak nafasnya, sakit kepalanya, dan ketidaksadarannya yang datang tiba-tiba sama sekali tidak membuat Ivan meminta izin untuk beristirahat. Ia tetap menyuarakan suaranya yang fenomenal, berusaha menjangkau range yang ia bayangkan, dan membuat beragam lirik yang menyuarakan kegalauannya akan hidup dan kerinduannya pada satu tempat bernama spiritual.

Lirik yang ia ungkapkan begitu jujur dan sederhana. Ia mempertanyakan dirinya, masyarakat, tuhannya, kehidupannya, dan segala yang bertalian di dirinya. Lebih menyentuh lagi karena lirik tersebut ia ungkapkan dalam bahasa Inggris yang indah. Hmmmm, saya bahkan sempat lupa bahwa lirik lagu tersebut disuarakan dengan alunan musik yang sangat menghentak.

Di tengah semua prestasi yang sedang ia raih dan berhasil ia raih, ternyata langkah Ivan harus dihentikan. Tuhan lalu memanggil Ivan dalam usia yang cukup muda tanpa memberi tahu Ivan, keluarganya, sahabatnya, dan para pecintanya apa yang menjadi penjemput Ivan. Ya, tidak ada yang tahu sakit apa Ivan sebenarnya. Diagnosa pertama Ivan sakit TBC. Diagnosa yang cukup mengguncang Ivan karena pada saat itu ia mulai merasa komunitasnya menjauhinya lewat elakan mereka meminum dalam satu gelas yang sama dengan Ivan dan memaksa Ivan menjadi pengisap satu ganja urutan terakhir. Diagnosa itu bertahan cukup lama hingga terapi pengobatan TBC Ivan berakhir. Diagnosa itu baru diketahui salah setelah Ivan sekarat. Katanya, sakit Ivan bukanlah di paru-parunya melainkan di otaknya. Ada yang menyumbat peredaran darah otak Ivan sehingga Ivan sering merasakan sakit luar biasa di kepalanya dan sering buang air kecil tanpa terkontrol serta pingsan. Diagnosa yang cukup terlambat karena Ivan akhirnya meninggal bulan Juli di tengah ibunya, sahabatnya, dan calon istrinya yang rencananya akan ia nikahi bulan Desember di tahun yang sama, tak beberapa lama setelah diagnosa itu terbit.

Sebuah kisah yang menarik dari seorang pentolan underground. Begitu banyak pembelajaran yang diberikan oleh kehidupan Ivan lewat penceritaan Kimung. Melalui buku ini juga saya sadar begitu banyak kehidupan di luar kita yang tidak sepatutnya kita remehkan. Lagi-lagi, menghormati adalah hal terpenting yang harus kita miliki dalam diri kita.

Ark.Mei’08

Sedikit Review tentang Beauty Case

Kemaren-kemaren baca buku Raditya Dika-nya David. Tapi belom yang terbaru. Yang ini aja belom dibalikin. Belom kelar semua dibacanya. Banyak kemalesan yang harus ditumpas nih makanya baca novel aga harus ditunda. Heuheu. Sebelumnya juga baru beres baca Beuty Case yang dipinjem dari Septaris. Kebetulan lagi nggak ada kesibukan makanya cepet beres baca Beauty Case.

Garing banget ya bacaan saya, secara juga gituh itu buku udah ada dari jaman saya masi pake seragam (seragam TK kali ya...hehe), tapi saya seneng tuh baru bisa baca sekarang, ya pikiran saya udah aga nyambung kan buat membaca suatu karya secara objektif.

Ya, saya pikir, mungkin kalau saya baca Beauty Case waktu jaman saya masi sekolah, saya bakal setuju bahwa kecantikan adalah branded dan punya pasangan yang bereputasi. Dan kalau saya baca Raditya waku saya masih sekolah, saya cuman bisa dapet ketawa-tawa tanpa ada intisari yang diambil.

Membahas Beauty Case dulu ya kita. Di chapter-chapter awal saya sempat tergoncang juga. Buset gaya hidupnya jet set amat. Beauty is always associated with the ‘branded’. U’re gonna look beauty if u wear Mango, if u go for shopping to high class mall, if u pay for Baskin Robbins, if u’re a freelancer who works for the high class, if u can be the person who stands beside ‘the right-branded guy’, and so on.

Jetlag banget dah intinya pas baca bagian awalnya. Nggak bermaksud sirik sih, tapi emangnya ada ya kehidupan yang kayak gitu? I mean, kehidupan seorang sarjana yang harusnya bisa dong lebih dewasa dalam menghadapi hidup, yang harusnya bisa mendeskripsikan kebahagiaan bukan hanya bisa didapat lewat menjadi pemenang kompetisi mendapatkan pria yang jadi idaman nasional karena dia anggota keluarga tokoh masyarakat, yang harusnya nggak selabil itu tengkar sama sahabatnya gara-gara dia merasa bisa memenangkan kontes tersebut meski dia bukan seorang top mpdel super maha cantik. Nggak logis aja gituh. Intinya dia kayak anak SMA aja.

Saya nggak tahu apakah emang bener cinta segitu bisanya membutakan seseorang sehingga seorang sarjana berumur seperempat abad pun jadi begitu labil dan cengeng menghadapi hidup. Dia selalu nanya apakah dia cantik hanya untuk membuktikan bahwa dia nggak jelek-jelek amat buat ngedampingin si pria yang bersangkutan dan nggak parah-parah amat kalau dibandingin sama super model maha cantik, maha indah yang juga ngeceng pria itu yang ternyata si top model itu udah jadian sama si pria. Dia juga menutupi ‘kekurangan’-nya dengan membeli berbagai barang bermerk untuk membuat ia berpikir bahwa ia cantik. Novel itu juga seolah mengiyakan bahwa hobi cewek adalah belanja, spesifiknya belanja barang bermerk, terutama kalau si cewek tersebut lagi stress atau emang lagi kambuh aja shopaholiknya. Saya juga heran, kenapa seorang yang jelas-jelas dia adalah freelancer, yang artinya duitnya nggak menentu bisa segitu kayanya belanja barang bermerk, dan dia sama sekali nggak saying sama duitnya. O wow , konyol juga sebenernya saya mikirin hal ini . heuheu. Tapi miris aja sih, siapa wanita yang sedang diceritakan Icha Rahmanti ini? Apa dia beneran ada? Golongan mana yang sedang Icha wakili?

Saya yakin pasti ada. Pertama, nggak mungkin juga Icha bikin novel tanpa ada latar belakang. Kedua, counter barang bermerk yang harganya bisa buat subsidi BBM itu juga masih menjamur dan selalu punya stok baru untuk dijual, yang artinya memang dia punya pasar. Ketiga, pasti kita juga udah nggak asing sama majalah-majalah cewek atau wanita yang memang mengajarkan bahwa dunia perempuan nggak akan jauh dari namanya fashion, make up, and being ellegant and smart by wearing the right stuffs, upsssssssssss also how to get the ’most everything’ guy. Pikiran kita udah dikonstruk untuk menghargai diri kita (kita :wanita) sebagai makhluk yang cantik lewat barang mahal dan cantik yang harus kita dapatkan melalui keringat kita sendiri. Itulah kebahagiaan kita, katanya.

Nggak muna juga, saya akuin emang yang kayak gitu indah, tapi kan itu nggak realistis aja. Menurut Feminisme post kolonial (kalau nggak salah nyatet), bentuk ’penghargaan’ seperti itu tanpa kita sadari sebenarnya sedang ’melecehkan’ kita, terutama wanita di belahan dunia selatan. Kata penganut Feminisme aliran itu, selama ini yang punya suara untuk dihargai hanyalah wanita dari belahan bumi utara alias negara maju. Buktinya segala definisi kecantikan selalu berkait dengan ciri klas utara atau klas borjuis global. Kulit putih, barang bermerk utara, gaya hidup utara, dan lainnya. Sementara yang selatan? Well, pikiran mereka sudah terkonstruk bahwa mereka nggak cantik karena mereka nggak kayak cewek di iklan, mereka nggak pakai baju dengan merk yang dipamerkan di peragaan busana Prancis, dan mereka nggak bekerja di luar, tanpa suami, tanpa anak, atau minimal tanpa gangguan anak dan suami. Selain itu, dalam pandangan saya, citra keutaraan nggak realistis karena budaya selatan beda dengan budaya utara. Dari mana-mana itu beda banget. Nggak realistis aja kalau kita menuntut kehidupan utara untuk kita penuhi di sini alias di selatan. Salah satunya kayak deskripsi cantik itu.

Pose-pose Icha di novel itu walaupun saya akui memang dari artistiknya bisa dibilang indah, saya masih merasa bahwa pose itu seolah menunjukkan bahwa kecantikan juga identik dengan kesensualan. Kesensualan dari angle belahan buah dada kita diperlihatkan, dari cara kita melirik, dari cara kita memanyunkan bibir, dari warna make up kita, dari cara kita berbaring miring, dari cara kita duduk, and so on. Saya melihatnya cukup annoying, jujur. Penasaran aja gituh...”Kenapa harus demikian?” Secara agama, terutama agama Islam, kita diminta untuk menjauhi hal seperti itu, ya elah jangankan dari kesensualan dari gerak gerik, orang dari bau parfum aja kita udah diwanti-wanti ya kan ? Selain itu, budaya tertutup kita juga sama sekali nggak mengizinkan kita untuk berpose demikian.

Tapi kenapa budaya utara mengesahkan hal tersebut?

Dalam pandangan saya, ada perbedaan bagaimana cara utara dan cara selatan menghargai wanita.

Pertama, dari cara utara. Mereka menghargai wanita dengan jalan memberikan kebebasan sebebasnya-bebasnya bagi wanita untuk mengeksplorasi kecantikannya. Dari karir, dari branded, dari sensualitas. Kedua, tentang cara selatan. Cara selatan menghargai wanita adalah dengan cara menjaga agar si wanita tidak menjadi objek fantasi laki-laki melalui lekuk sensualitasnya, melalui karirnya yang mengajarinya tiga prinsip realisme ala Tim Dunne (heuheu), Survival, Self Help, Statism (mari kita ganti istilah Statism yang artinya mengutamakan negara sebagai aktor internasional menjadi Selfism alias mengutamakan diri sendiri sebagai aktor yang utama. Waahahahaha, Maafkan dosen PHI...saya ngaco), dan melalui branded-branded yang lisensinya diperoleh dari utara namun dibuat oleh para buruh murahan di selatan.

Perbedaan cara itulah yang belum banyak disadari.

Kebanyakan warga selatan menganggap bahwa warga utara adalah warga penuh dengan peradaban sehingga menurut mereka, untuk dapat mengikuti peradaban, mereka harus pula mengikuti gaya hidup si utara. Memang ada beberapa prinsip yang patut kita contoh dari utara seperti bagaimana mereka meletakkan wanita sebagai makhluk yang juga memiliki hak seperti pria, namun kembali lagi pada pernyataan Feminisme Post Kolonial yang diwakili Gayatri Spivak bahwa penindasan terhadap perempuan sangat berkaitan dengan perbedaan ras dan klas secara global dimana salah satu penjelasannya menujukkan bahwa belum semua perempuan dapat menyuarakan suaranya. Hanya perempuan dengan ras tertentu lah yang dapat menunjukkan eksistensinya dan menuduh budaya yang berbeda dengan budaya mereka adalah budaya yang sesat, yang menyudutkan wanita. Padahal di budaya yangberbeda itu, alis budaya selatan, hal seperti itu adalah fair, benar, dan wajar.

Tidak ada yang patut dipersalahkan dalam perbedaan kedua pandangan atas penghargaan wanita dari ras utara dengan ras selatan. Dengan budaya yang berbeda maka akan tercipta pula pandangan yang berbeda. Namun yang jadi permasalahan adalah ketika satu budaya mencoba mendominasi budaya lain dengan menuding bahwa budaya yang terekspansi tersebut adalah budaya yang salah yang artinya harus ditinggalkan oleh penganutnya lewat doktrin-doktrin yang meresahkan para pengawas peraturan/norma. Globalisasi salah satu pencetus terhebatnya. Kalau globalisasi nggak ada, mungkin nggak sih keresahan akan definisi cantik yang diungkapkan Icha dalam novelnya bisa terbit? Mungkin nggak sih merk internasional yang mahalnya selangit itu bakal terdistribusikan ke negara berkembang yang butuh duit untuk keperluan yang lebih urgent daripada memberikan asetnya ke negara maju? Mungkin nggak sih kalau globalisasi nggak ada, perbudakan atas wanita di negara berkembang itu ada? Kalau globalisasi nggak ada, mungkin nggak sih monokulturalisme global ini terjadi?

Ya intinya kita kembali mempersalahkan globalisasi, baik lewat teknologi kayak sekarang maupun lewat kolonialisme kayak beberapa dekade atau abad lalu. Globalisasi juga sebenernya nggak jelek. Hidup kita nggak akan lebih berwarna kalau nggak ada globalisasi. Yang paling dibutuhkan sekarang adalah pengharagaan terhadap budaya. Kenapa hanya dengan globalisasi lima menit kita meninjau ulang semua kebudayaan kita yang terbangun sejak zaman nenek moyang kita nyembah matahari? Meninjaunya bukan untuk introspeksi, mengenal, memperkaya khazanah, dan memajukan budaya kita tapi malah menghancurkan budaya kita, itu masalahnya. Akhirnya yang timbul dalam diri kita adalah keresahan. Anomie, istilah sosiologinya (kalau nggak salah juga, ini pelajaran kelas 1 SMA). Resah aja, kita belum punya pegangan baru alias masih linglung karena belum mampu tapi kita udah ngelepasin identitas lama kita.

Alhasil, salah satu contohnya adalah terbitnya Beauty Case.

Ada beberapa komen yang perlu direvisi yang ada di Beauty Case. Kata salah satu komentatornya, Beauty Case cocok banget buat tahu isi pikiran cewek. O wow. Saya kurang setuju. Nggak semua cewek punya keresahan nggak meaning kaya gitu. Bagi saya, Beauty Case harus dibaca, pertama karena ada penjelasan tentang politiknya di sana, jadi yang buat yang mau ujian PIP atau Pengantar Ilmu Politik, yang pengen tahu definisi politik kata Aristoteles(politics is master of science) dan Harold Laswell (who gets what, when, and how) dengan rada nyantei (we never know lah ya apakah tahun depan di saat kita ngulang si Arbayyy nya mau nanya Bab 1A. Kan garing aja gituh kalau harus ngulang lagi tahun depannya alias ketemu Arbay dalam 5 semester –belum termasuk ngulang PHI 1 dan 2- gara-gara nggak bisa jawab pengertian politik kata Laswel dan Aris.heuheu), Beauty Case adalah buku wajib kedua setelah Reading Kit tebal itu yang patut dibaca. Kedua, bagi saya Beauty Case patut dibaca karena dia memperlihatkan bahwa dalam era globalisasi ini pikiran kita ternyata masih terlalu kaku untuk menerima perbedaan. Selain itu, Beauty Case juga memperlihatkan penindasan terhadap perempuan itu nggak cuman dari upah buruhnya yang rendah tapi juga dari monokulturalisme yang dipaksakan pihak yang kuat untuk mematikan pihak yang lemah lewat doktrin indah yang membius.

Yah, gitulah. Beauty Case. Agak gerah ngebacanya tapi akhirnya membuat saya sadar bahwa inilah keresahan social yang paling dekat di sekeliling kita, Kecantikan.

(Ark.Mei’08)

Niat Tulus Suci pun Tergagalkan

Uh. Gini nih. Kaya gini nih. Kapan dunia pendidikan bisa maju????

Hehehe.

Lebai dah ah.

Jadi gini ceritanya. Lagi bete aja niat tulus suci untuk kuliah pagi terhalangi pelaksanaannya karena dosen tidak memfasilitasi. Ghiehehehe.

Udah beberapa minggu ini bawaannya ngantuk mulu tiap pagi dan tiap kali jan kuliah. Hehe. Alhasil beberapa minggu ini saya jadi orang fiktif di kampus. Tanda tangan absennya ada tapi batang idungnya ga ada. Masalah tanda tangan sih gampang aja. Saya nggak perlu ngtraining teman-teman saya yang baik hati buat malsuin karena tanda tangan saya (paraf, maksudnya) sangat-sangat-sanagt gampang untuk ditiru sehingga tanpa saya komando lagi, kalau pagi-pagi saya nggak ada, teman-teman saya udah cukup tau diri untuk segera mengisi kolom tanda tangan saya. Hoho. Tapi masalahnya sebagai mahasiswa yang baik dan bertanggung jawab, agak nggak enak aja gituh.

Bukan nggak enak sama mereka atau sama dosennya (bodo amat, hehe. Yang penting uas bisa), tapi nggak enak aja gituh kalau nanti utang catatan saya jadi banyak. Mahal gitu, bo fotokopi catatan orang. Heuheu. Mau nyalin juga pegel. Belom lagi saya juga sulit percaya dan ngerti catetan orang lain (sebenernya saya juga nggak ngerti sih sama apa yang saya catet sendiri, secara juga tulisan saya buruk rupa. Seminggu setelah dicatet saya juga lupa urek-urekan super nggak jelas itu dibacanya apa. Hehe). Udah gitu ada beberapa mata kuliah pagi yang nggak bisa nitip absen coz sama dosennya diabsen satu-satu mpe anaknya ngacung gitu, kalau udah 4x nggak masuk bisa nggak ikut uas.

Oh tidak, cukup Komputer aja yang ngulang tahun depan soalnya saya udah bolos 4x (praktikukmnya di kampus DIII, jauh banget gitu dari Nangor. Praktikumnya di Dago. Bheuh, pas lagi nggak ada duit mulu, bolos deh. Sebenernya males aja, kan kalo niat mah minjem duit juga jadi. Pacar saya juga sering sukarela minjemin 20rb buat ongkos saya. Hehe. Emang ngga niat aja intinya), ya udah karena absen saya di matkul itu udah 2x (sebenernya udah 6x juga nggak masuk pagi, tapi 4x sisanya dosennya ga ada), datenglah itu saya pagi-pagi.

Bangun aga pagi. Mmmm, 15 menit lebih awal, maksudnya. Udah gitu udah mikir mateng-mateng, kuliah engga ya, kuliah engga ya (yang akhirnya 15 menit itu ngga berguna soalnya dipake buat mikir2). Terus rebus air, nyetrika, makan, mandi. Terus naik ojek. Nah udah niat tulus suci banget plus bermodal, kan??? Pokoknya yang biasanya kelar mandi itu baru jam 8, nah di minggu ini saya kelar mandi jam 07.45. Berangkatnya yang biasanya jam 9.20, di minggu ini jadi jam 7.55 atau 8.05. Tuh udah niat banget kan kuliah jam 8 nya? Biasanya kan ikut kuliah jam setengah 10.

Nah, jam setengah sembilanan saya nyampe di lantai 3, ternyata dosennya belom dateng. Biasanya dosennya dateng antara jam 8.15-8.55 sih, makanya saya masih anteng nungguin. Tapi tunggu punya tunggu, jam 8.45 ada sms ke Ketua Kelas, katanya disennya ga masuk hari ini!!!!!!!! Ugghhhhhhhh!!!!! Niat tulus suci gueeeeeee....!!!!

Itu nggak cuman kejadian satu kali tuh. Udah dari hari Kamis sampai hari Rabu itu keulang mulu. Kan sebbbbbbbbbbbbelll. Niat tulus suci gueeeeee!!!!

Nah kalo giliran kemalesan saya turutin, eh dosennya ada. Ngasih tugas pula. Ngasih kuis juga. Ugh. Esmosi deh ekeh.

Sebenernya nggak niat untuk males dan ngantuk juga sih. Kebetulan aja tiap malem ada tugas yang harus dikerjain. Tugasnya aba tapi sebagai anak sekaligus sekretaris yang baik, hiks saya lah yang harus mengerjakannya dan mengirimkannya lewat email dan cuman dikasih waktu satu malem buat nyelesein. Ngerjain tugas bisa ampe jam 12 malem. Ngantuk banget. Sumpah. Bisa gila lah.

Terus lagian juga matkul semester genap ini beneran bikin males. Dari materinya, dari dosennya, dari tugasnya. Waktu semester satu kemarin sih dosennya wedan semua. Tugasnya juga bikin mikir dan bikin pegel dan bikin mahal soalnya harus ngeprint mulu.

Nah beda banget sama yang sekarang. Senin, Statistik jam 8. Dosennya bikin Statistik nambah pusing. Enakan dosen Statistik yang semester kemaren. Nggak jamin lagi deh semester ini bisa dapet A lagi buat Statistik. Eugh. Siang jam setengah sepuluhnya ada Sistem Budaya Indonesia. Sebenernya ceramah si dosen itu ada meaningnya. Tapi dikit banget. Dua jam itu cuman buat jelasin Teori Integrasi Konsensus-nya Talcott Parson sama Teori Konflik. Doang. Garing. Lammmmma banget. Malah dia juga pernah cerita bedanya Sistem Budaya Indonesia dan Sistem Budaya di Indonesia selama 2 jam. Yaudah, jam sebelas atao abis tanda tangan saya cabut, pura-pura pipis padahal ga balik-balik. Nungguin dosennya keluar jam setengah dua belas di kantin terus ngambil tas yang ditinggal di kelas. Hehe.

Selasa, yang jam 8 DDIA alias Dasar-Dasar Ilmu Administrasi. Dosennya yah gitu deh. Nggak bisa nitip absen. Neranginnya sih enak tapi ya masalahnya kuliah dia itu jam 8 dan nggak bisa nitip absen. Nggak boleh telat, lagih. Padahal dia juga kalo telat naudzubillah dan sering nggak ngajar. Yehhhh. Nggak ngajar pas gue lagi niat tulus suci kuliah. Jam setengah sepuluhnya Sistem Ekonomi Indonesia. Nah, ini rusak banget nih. Dosennya sering jadi dosen di seminar skripsian gitu. Udah gitu dia sering jadi penguji sidang skripsi. Heuheu. Ditinggalin deh kita. Tapi ya nggak ngaruh juga. Selama kuliah saya cuman nyatet 3x. Selain karena dosen itu sering nggak masuk, ya karena yang diteranginnya juga itu-itu lagi. Saya kira saya dejavu doang, ternyata kalau saya buka catetan saya yang lalu, lahhhhhh ternyata saya mencatat hal yang sama. Haha. Selanjutnya jam setengah 12. Ini dia mata kuliah yang paling paling paling paling penting dalam sejarah. Nothing but it. PHI I. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional I. Hore hore hore. Ceramahnya sih asik banget, serius. Yang nggak asik sih teks buk sama ujiannya, hehe. Tapi esensi kuliah saya ya ini. Dosen tercintanya bilang, “Udahhhh…ngga usah pikirin mata kuliah yang lain, belajar aja PHI, yang laen mah lupain…”

Hehehe.

Hari Rabu ada Sistem Hukum Indonesia jam 8 dan Kewarganegaraan jam setengah sepuluh. SHI cukup penting karena ada catetannya (kalo keseringan bolos bisa mampus gue, abis dah duit buat fotokopi catetan) tapi sayangnya ditaro jam 8 jadi saya sering bolos dan sebaliknya, Kn sangat sangat sangat nggak penting karena kita cuman disuruh presentasi dan sayang seribu sayang, dia ada di jam yang saya udah siap berangkat kuliah. Bolos dah jadinya hari Rabu. Dateng jam setengah sepuluh (setengah sepuluh lewat dua puluh lima menit) di kampus tapi nggak naik ke kelas. Hehe. Cari anak bolos juga di kantin.

Kamis ada Sistem Politik Indonesia jam 8 dan Bahasa Inggris jam setengah 3. Sispolin penting lah, ya…lagian dosennya top banget tapi sayangnya ditaro di jam 8 jadi aga-aga susah buat bangun heuheu. Tapi kalo matkul ini saya cuman bolos 2x, itu juga karena emang lagi ke Jakarta, bukan karena tidur. Ini mah niat. Beres mandi jam 07.40 terus ngga sarapan, jam 07.45 nya berangkat. Lanjut, Bahasa Inggris atau populernya EFIR (English for Intl Relation) itu dosennya sangat sangat sangat sangat top abis tapi sayangnya ditaro jam setengah tiga. Heuheuheu. Kalo nggak kebablasan tidur siang ya baru dateng kuliah. Heuheu. Lagian karena di matkul ini nggak ada absensi dan tugas kita cuman nonton film terus ngereview, ya sudahlah...anggap saja saya jekpot kalo dateng. Hehehehehe.

Ya gitulah. Semester depan lagi kayanya baru giat coz ada dosen killer yang siap mengocok. Ya semoga aja kebiasaan buruk semester ini agak sembuh lah ya di semester depan. Heuheu. Kalo nggak kan gimana dunia pendidikan kita bisa maju???
hehehehe (padahal dari SD sih saya girang banget tuh kalau jam pelajarannya kosong. Ngarep mulu, malah).