A Stucked Thing

Tuesday, January 24, 2012


I'm stucked in the middle of 2 pages microsift word with several paragraphs that seemed finely-structured, but if you look at that more carefiully, you exactly will know that those paragraphs don't have one main idea and not qualified with cohesive and coherent condition.

Iya, nih, kayaknya saya lagi agak grogi dan kena serangan mental pascabab 3. Parahlah ini sekarang masuk ke bab 4, 5, 6, 7, dan mungkin 8, atau bisa juga 9 *serem pisan ampe bab 9* yang isinya analisis dan tentu saja harus terstruktur. Ini analisis woiii. Ini serius. Ini untuk disidangkan. Ini untuk dijadikan bahan referensi. Ini adalah pintu pertama orang lain untuk mengakses dan meng-asses tingkat intelektualitas kamu. Ini adalah sejarah. Sejarah yang kamu buat untuk diri kamu sendiri. Selamanya. Oke, malaikat Munkar dan Nakir nggak bakal nanyain juga, sih, "Apakah konsep 3B yang kamu jadikan dasar penganalisisan kamu itu benar-benar posmodern? Apakah Vuving adalah tokoh posmodern?". Ya, tapi kan bisa aja sih, siapa tahuuuuu kalau daftar pertanyaan mereka tentang solat, puasa, zakat, haji, berbakti pada orang tua udah beres dan mereka pengen ngajak ngobrol karena ternyata saya orangnya asik buat diajak ngobrol, bukan buat diajak berkomitmen *eeeeeaaaa*, bisa jadi mereka juga nanya-nanya skripsi saya. Tapi, mari kita agak memikirkan hal yang duniawi dulu. Sepertinya akan lebih tidak horor kalau saya mikirin, gimana saya bisa mempertanggungjawabkan analisis saya di hadapan penguji dan mungkin orang-orang lain yang saya nggak tahu siapakah itu yang mungkin iseng mengkritisi skripsi saya. Karena, yes, saya yakin itu tidak mustahil karena di dalam beberapa scene kehidupan saya, saya menemukan beberapa orang yang surprisingly mencecar saya dengan pertanyaan yang bagi saya nggak penting untuk ditanyain semacam, "Di fesbukmu aku baca political view kamu third way ya? Kamu mendalami politik Inggris juga toh? Tapi kamu tahu nggak, sih kalau sistem partai buruh Inggris itu gagal total?" Saya bukan orang yang suka menjawab pertanyaan orang asing, apalagi kalau orang itu menanyakan hal yang janggal. Iya, loh, serius, nanyain political view di febuk itu janggal, karena itu bukan hal yang dipampang secara publik semacam stat, semacam foto, semacam wall. Nah, orang-orang stranger kayak gitu yang harus diwaspadai supaya nggak nyinyir soal skripsi saya di waktu-waktu yang tidak tepat.

Oke, intinya saya stak. Saya dari dua hari lalu muter-muter dalam progress yang sama. 

Hmmm, oke, sepertinya saya harus mengucapkan mantra canggih yang sudah ada sejak saya kelas 6 SD kalau saya lagi tegang.

Yes, gini ceritanya. Saya punya dua kalimat penting yang selalu jadi penolong saya. Satu datang dari Abba waktu saya tegang masuk ke final lomba mata pelajaran zaman SD. Abba bilang jangan pernah takut sama lawan karena sesungguhnya lawan kamu takut sama kamu. Kata Abba, daripada saya tegang, lebih saya mengiyakan ketakutan si lawan itu. Caranya? Mungkin kalau diibaratkan bahasa sekarang ya behave snobly kali ya. Haha. Nggak, sih, intinya pede aja, jangan kelihatan lemah. Hmmm, saya rasa Abba punya darah Sun Tzu di jantungnya. Mungkin darah Sun Tzu dan pemikiran besinya itu masuk ke darah Abba waktu Abba habis di-by pass pas saya SD. Kemudian, kedua, ini kata-kata dari orang yang teramat sangat penting bagi perkembangan mental saya selama SD. Idola saya yippppiiiihhhhh. Hahhahahha. Rahasia. Ini rahasia. Saya udah ngasih tahu kalian kalau saya punya idola dari Taiwan, yang bahkan Mao Zi Dong kalau sampai tahu perasaan saya ini pasti dia langsung menjewer kuping saya dari London sampai ke Teluk Persia, dan saya rasa itu udah cukup. Saya mau menjaga idola saya ini rapat-rapat di dalam hati. Oke, jadi si idola saya ini dalam wawancara di Majalah Bobo yang yes, saya klipingi itu bilang, "Anggaplah latihan sebagai pertandingan, dan pertandingan sebagai latihan." Yes, itu sangat berpengaruh bagi saya sampai sekarang.

Oke, Riki. Anggap skripsi ini sama kayak nulis blog.

Sesungguhnya terang akan datang, dan Lee Min Ho di atas bukit akan tersenyum senang.

Habis gelap terbitlah Bennedict Cumberbatch.