Tentang Tuhan yang Capslock

Friday, January 13, 2012

Ini mengenai hubungan transenden kita dengan suatu Dzat yang kita sembah dan selalu kita mintai perlindungan yang kita namai Allah. Dialah Tuhan yang selalu menjadi andalan kita dalam papa dan riang dan selalu kita sebut dengan huruf kapital untuk mengawali. Ya, Dialah Tuhan Sang Maha Kapital. Dosalah kamu sekalian secara religi dan KBBI apabila kalian khilaf menyebut segala yang berhubungan tentang-Nya tanpa kapital. Tidak ada satu pun ujian di negara Indonesia yang akan bertoleransi pada kekhilafan kalian saat seharusnya memilih opsi A. Tuhan Yang Maha Esa, tapi kalian malah memilih B. Tuhan yang Maha Esa karena kalian pikir konjungsi 'yang' dalam KBBI dan EYD tidak berhak mendapat awalan kapital. Ya, Dialah Tuhan yang sangat kalian tuhankan sehingga semua peraturan bahasa pun dikecualikan demi kepentingan-'Nya'. Barangkali 'Tuhan' yang kalian huruf kapitalkan itu sepertinya memang komoditas high culture yang paling utama dari segala komoditas. Dia pun menjelma menjadi citra yang kita ciptakan dan abadikan melalui sakralisasi-sakralisasi yang sebenarnya tidak substantif. Apakah bila kita khilaf menulis-Nya dalam huruf kapital maka Dia tidak akan lagi menjadi Tuhan? Apakah bila tombol capslock kita rusak maka kita akan langsung kehilangan tiket untuk memanggil-Nya dalam baris puisi kita yang kita tujukan kepada-Nya? Jika kalian menjawab iya, selamatlah kalian karena kalian adalah golongan manusia yang sebenarnya sedang memberhalakan 'Tuhan'. Kalianlah yang mereduksi keagungan ketuhanan-Nya melalui simplifikasi material kemudian mempertukarkannya dengan zat substansial yang harusnya kalian maknai. Dan bila di dunia ini bertambah jumlah manusia yang terlampau posesif pada Tuhan kemudian mengejawantahkan rasa itu menjadi kebencian terhadap segala sesuatu yang memberikan aturan penuhanan, termasuk pada agama, ya mungkin jumlah tersebut juga terprovokasi oleh kesederhanaan pola pikir kalian dalam menemukan 'Tuhan'. 

0 comments: