Kadang tanpa sengaja kita menemukan beberapa peristiwa yang nampaknya satu tipe, tapi karena kita belum dapat benang merahnya, kita maish agak-agak blur nagkap polanya. Nah, tapi kalau kita sudah tahu benang merahnya, pola itu pun akhirnya membesar dan semakin nyata. Kita pun semakin girang karena menemukan lebih banyak lagi contoh peristiwa yang membuat pola itu berkembang.
Hal itu berawal ketika SMA, teman-teman saya yang ikut olimpiade menemukan kertas formulir masuk NTU di pintu kamar hotelnya. Awalnya, sih pasti nggak paham, ini roomboy-nya ngapain gitu nyecer-nyecerin kertas. Tapi ya jelas nggak mungkin nyecer-nyecerin juga, sih, mengingat nggak cuma satu kamar dan satu orang yang dapat kertas itu, tetapi hampir semua. Orang-orang pun terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mungkin persoalan kertas itu bakal tetap jadi rahasia di otak masing-masing kalau saja satu orang ini nggak mengungkapkan pendapatnya, "Tadi malam gue ditelpon. Katanya gue bakal dikasih beasiswa dan kebutuhan hidup gue ditanggung. But, guys, no. I will not take the chance. Gue mau kuliah di sini aja." Kemudian pembicaraan pun berlanjut dan akhirnya saling tahu siapa yang mau ngambil kesempatan 'emas' itu dan siapa yang mau melepaskannya.
Beberapa waktu sebelum kejadian itu terjadi, saya juga tahu adanya beasiswa untuk pelajar sekolah menengah yang tertarik bersekolah di Singapura. Saya tertarik juga. Saya ikutan juga. Orang tua saya juga tipe orang tua yang kepercayaannya pada Allah diaplikasikan melalui kepercayaan pada anak sehingga nggak melarang anaknya untuk pergi jauh karena tahu anaknya pasti bisa hidup dan nggak akan terjerumus ke dalam lembah apapun. Hmmmm. Saya punya daya ingat yang sangat buruk mengenai masa remaja saya jadi saya sekarang lupa apa alasan saya akhirnya mundur dari ketertarikan saya ikutan program itu, yang jelas saya akhirnya masuk SMA 3 Bandung dan saya merasa itulah hal yang seharusnya saya jalani.
Tapi kemudian ada lagi teman dekat saya yang entah gara-gara ada hujan apa atau angin apa tiba-tiba merasa suck dengan kehidupannya di Bandung brackets Indonesia. He wanted to fly to Singapore. Yakin lo? Saya cuma nanya itu. Dia bilang yakin aja karena toh di Bandung ini juga dia nggak tinggal dengan orang tuanya jadi dia semacam sudah siap secara mental untuk tinggal di negeri orang. Saya punya daya ingat yang buruk juga, nih, so maafkan kalau ada kata yang tersilap, terselip, atau tidak lengkap, my dear Ferdy. Mmmmm, dia bilang alasan yang membuat dia tertarik kuliah di NTU adalah adanya satu konsentrasi jurusan yang nggak ada di ITB. Saya totally lupa apa konsentrasi jurusan itu.
Saya hampir lupa juga tiga kejadian itu sampai akhirnya saya beberapa minggu lalu terdampar di Gramedia dan membaca satu buku yang sangat luxurious, eksklusif, dan tentu saja mahal, mengingat google sebentar lagi mengantarkan saya pada versi ebook ilegal buku itu dan saya tahu bahwa harga Rp125.000 untuk hard cover dan Rp85.000 untuk soft cover itu bukan saya keluarkan untuk menanggung biaya produksi dan ilmu yang dibagi oleh si penulis, melainkan untuk membiayai reputasi si penulis. Itu beneran bukan buku biasa yang bisa kita pandang secara fungsional. Itu adalah buku perayaan bagi kita yang lelah dengan inflasi yang makin tinggi dan gaji yang besarannya makin nggak memungkinkan kita bikin resepsi pernikahan di salah satu kapsul Singapore Flyer atau di balkon Marina Sands Hotel. Nothing to do with all the words in there. Buku itu berisi pengalaman hidup seorang gadis yang akhirnya bisa sukses punya penghasilan satu juta dolar per bulan setelah mengalami berbagai kepahitan hidup. Buku itu cuma mengajarkan kita untuk berani bermimpi kemudian tidur lagi dan memuja si penulis dalam doa sebelum tidur kita.
Oke, bukan buku itu yang ingin saya review di posting ini. Yang menarik perhatian saya adalah si penulis itu. Ketika saya membaca namanya di sampul depan, saya tahu dia orang Indonesia meskipun matanya sipit seperti 70% orang Singapura. Waktu saya baca bukunya di bawah tatapan penjaga Gramedia yang agak sangar kepada pembaca free rider seperti saya, bukunya juga berbahasa Indonesia. Masalahnya, di sampul belakang itu banyaknya disebutkan Singapura. Semua tentang Singapura, deh. Ah, tapi nama orang itu sangat Indonesia sekali. Bukan, bukan Sri Mawarni Astuti Widyaningsih, kok. Nama dia itu tipe nama Cina yang diindonesiakan karena hukum Orde Baru berkata demikian. Coba aja kalian ketik "Mimpi Sejuta Dolar" di Google kalau penasaran siapa nama cici ini. Baca punya baca, keyakinan saya akhirnya terbuktikan. Dia orang Indonesia yang kuliah di Singapura kemudian mengalami sulitnya hidup tapi kemudian bangkit dan menjadi perempuan inspiratif. Nah, di titik inspiratif yang dibilang semua orang sebagai titik keberhasilan itulah yang bikin saya ber-Oooohhh dan langsung ingat beberapa literatur skripsi saya tentang Singapura dan kejadian-kejadian semacam itu di kehidupan saya yang lalu.
Ini mah beneran brain drain demi cita-cita Singapura yang pengen jadi knowledge-based economy!
Mari kita urutkan hal-hal yang menyiratkan ke-braindrain-an.
Beasiswa untuk pelajar di ASEAN yang mau bersekolah di Singapura sebagai pelajar sekolah menegah. Come on, ada sepuluh negara ASEAN dan tentu ada skema pembeasiswaan sebagai cara untuk meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat di ASEAN, tapi cuma SIngapura yang menawarkan beasiswa bagi pelajar sekolah menengah.
Beasiswa untuk kuliah di NTU sekaligus promosi bahwa NTU adalah universitas teknologi masa depan yang lebih wah daripada ITB. Know the fact? ITB jelas sudah berdiri sejak zaman Habibie masih jadi pemuda ideal dambaan kaum priyayi, bahkan sebelumnya juga. Coba kalian ngobrol sama burung-burung yang suka mangkal di Jalan Ganeca, pasti kalian bakal banyak dapat folklore yang diturunkan bergenerasi-generasi dari zaman mereka belum ber-evolusi dari kuda jadi burung. Intinya, ITB itu sudah melegenda dan sudah tua banget. Bandingkan dengan NTU yang baru berdiri pada tahun 1981 tepat ketika Lee Kuan Yew merasa galau membaca laporan komite ekonominya bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Singapura harus bertransformasi dari negara industrialisasi padat karya menjadi negara pemproduksi barang bernilai tinggi yang mengandalkan pengetahuan sebagai faktor produksi jika ingin tetap kompetitif terhadap perkembangan dunia. Masalahnya, ketika hal itu harus terjadi, Singapura dipastikan mengalami kekurangan sumber daya manusia terdidik yang mengandalkan otak ketimbang tenaga karena sebagian besar pekerja Singapura masih belum mengenyam pendidikan yang tinggi.
Menanggapi laporan demikian, pelatihan bagi tenaga kerja Singapura memang bisa dilakukan, namun itu hanya rencana jangka pendek. Singapura harus membuat rencana jangka panjang yang membuat ekonominya tetap kompetitif. Caranya? Pertama, mencondongkan pendidikan sekolah menengah pada subjek matematika dan ilmu alam serta membangun universitas teknologi untuk riset dan pembangunan. Kedua, Singapura juga membuat kebijakan yang sangat ramah untuk menarik siswa, mahasiswa, dan pekerja asing yang cerdas untuk belajar dan bekerja di Singapura. Ketiga, mempromosikan citra-citra yang wah mengenai pendidikan di Singapura, dari mulai sistem yang teratur, fasilitas yang lengkap, penguasaan bahasa Inggris, dan keajaiban matematika dan IPA yang luar biasa berguna bagi peradaban manusia. Gengsi merupakan hal yang paling dipromosikan oleh Singapura, instead the fact, NTU is still very much longer longer younger than ITB, and exporting professor from abroad.
Saya nggak bilang NTU nggak lebih bagus, ya. Tentu saja sama bagusnya atau bahkan, ya okelah lebih bagus. Tapi "NTU bagus" yang dimaksud di sini bagi saya lahir dengan cara yang berbeda. Tentu saja NTU bagus karena, satu, NTU sejak awal dikonsentrasikan untuk meningkatkan daya kompetisi Singapura dalam hal teknologi. Alasan itu jugalah yang melatarbelakangi mengapa ada beberapa konsentrasi jurusan yang ada di NTU tapi nggak ada di ITB atau institut teknologi lain. It purposefully serves Singapore's national interest. Singapura sejak tahun 1981 itu sudah kepikiran untuk menjadi seperti sekarang, lalu di akhir dekade 1980-an itu Singapura sudah mantap mendeklarasikan bahwa Singapura telah beranjak menuju fase deindustrialisasi padat karya menjadi industri barang bernilai tinggi, dan pada dekade 2000-an hingga sekarang ini, industri biologi, kimia, farmasi sudah beranak pinak menjadi jauh lebih khusus dan menadapat perhatian besar. Dua, pendidikan dasar dan menengah Singapura sudah dicondongkan pada IPA dan matematika. Ala bisa karena terbiasa gitu loh. Dasar para pelajar Singapura tentang IPA dan matematika itu udah kuat, makanya nggak terlalu sulit untuk membentuknya. Tiga, kalaupun NTU dimasuki oleh pelajar luar negeri yang sistem pendidikan menengahnya imbang antara IPA dan IPS, Singapura punya sistem seleksi tersendiri dan yang paling utamanya adalah memberi beasiswa bagi anak-anak yang sudah kuat dasar IPA-nya (baca : peserta dan khususnya pemenang olimpiade).
Why beasiswa? Kenapa Singapura baik banget memberi beasiswa? Pasti karena ada maunya, yes semua orang tahu. Secara teoritik memang benar.Kalau kita ngobrol sama Alexander Vuving, kita pasti bakal diomongin gini, "Beasiswa itu adalah soft power yang memiliki currency keramahtamahan. Keramahtamahan merupakan hal yang penting dalam soft power karena keramahtamahan atau benignity akan menghasilkan perasaan terlindungi, terima kasih, dan kebaikan berbalasan (reciprocal altruism). Dari rasa terlindungi dan terima kasih inilah klien akan mengikuti preferensi yang diberikan oleh agen sebagai balas jasa." Dengan adanya beasiswa, pasti nih si klien akan mikir-mikir yang pastinya ujung dari pemikirannya adalah membandingkan kebaikhatian Singapura dengan negara asalnya, yang biasanya sih Indonesia. Ujung ekstrem dari pemikiran ini sih biasanya berakhir pada kesimpulan, "Ah, gue pinter gini sampe Singapura aja mau, kalau di Indonesia mah gue nggak dapet pengharagaan. Apaan sih. Udah, ah mending gue ambil. Lulusan luar negeri juga lebih gampang dapet pekerjaan daripada lulusan Indonesia." Nggak salah juga, sih pemikiran itu. Itu adalah pemikiran paling rasional dari seorang warga negara poskolonial yang diakui kepintarannya oleh negara lain yang termistifikasi sebagai negara yang lebih maju. Yang salah bukan dia, melainkan si negara asalnya yang lebih sering membongkar kasus korupsi partai berkuasa di detik-detik menjelang pemilu yang akhirnya kurang taktis dalam merumuskan prioritas kepentingan nasional demi meningkatkan daya saing di era globalisasi. Layaknya istri pertama yang lelah dengan kelakuan suami yang lebih sering mampir di rumah selir-selir, si orang ini pun memutuskan trade-off alias kegalauannya dengan memilih belajar di negeri orang. Baguslah, daripada dia mendengarkan Gloomy Sunday kemudian bunuh diri.
Nah, sebenarnya, kalau saya ingat-ingat, dalam ketentuan beasiswa ini, baik saat kita menghabiskan masa SMP-SMA-NTU kita di Singapura, kita nggak ada kewajiban untuk bekerja di Singapura. Malah, khusus untuk beasiswa sekolah menengah, kita disarankan segera pulang ke negara asal setelah kita menyelesaikan studi kita. Namun demikian.....jeng jeng jeng jeng jeng... Siapa yang bisa menolak segala macam penghargaan dari berbagai departemen pemerintah Singapura yang dilewatkan melalui pemberian kesempatan berbicara di banyak forum seperti yang dialami oleh mbak sejuta dolar itu? Ketika kita menjadi siswa yang pintar ketika bersekolah di Singapura, baik dengan beasiswa maupun tidak, dan mengingat Singapura melalui dokumen nation building-nya adalah negara yang mengajarkan warganya untuk menganga dan mengidolakan orang yang jenius ketimbang terkena Korean Wave, pasti kita akan menjadi sorotan. Sorotan tersebut juga akan menyebar dengan sangat cepat dari teman ke teman, dosen ke dosen, media ke media, dan departemen ke departemen. Ibaratnya, kalau di Indonesia sini mah jam 11 siang kita pasti akan selalu menemukan Indra Herlambang menceritakan mobil baru Nikita Willy, kalau di Singapura, mungkin nih ya mungkin, kita bakal menemukan berita betapa jeniusnya si Nikita Willy menemukan cara untuk mengawinkan hamster dengan lobster kemudian memiliki anak berupa hamslob, yakni udang berbulu coklat pemakan kacang-kacangan. Hamslob ini pun akan dikaji secara ilmiah, bukan ditutup dengan antrian minta air berkah.
Proses itu juga bisa dilihat sebagai soft power atau bahkan symbolic power yang menjebak kita dalam perayaan yang setiap sudut sistemnya menyamankan kita sehingga kita pun enggan untuk keluar dari sistem itu. Parahnya lagi, keengganan kita itu juga bukan dicegah oleh kekerasan dari luar, tapi justru dari kepesimisan kita sendiri akan kehidupan di luar sistem yang kemudian diperkuat oleh janji-janji manis yang diberikan oleh sistem. Kita pun yang awalnya hanya meniatkan diri sekolah di Singapura demi mendapat pekerjaan yang lebih prestisius di Indonesia akan tergerak untuk menikmati perayaan kejeniusan kita di Singapura kemudian menjadi Permanent Resident di Singapura. Dalam kasus mbak sejuta dolar, mbak itu memang masih bisa travel ke Indonesia, tanah airnya untuk menyebarkan ilmunya. But, hey, Indonesia, mbak sejuta dolar itu bukan milikmu. Mbak eh cici ding. Cici itu adalah milik Singapura. Saya belum tahu sih apakah dia udah jadi PR di Singapura atau belum, yang jelas, dia selalu pulang ke Singapura dan menjadi salah satu gadis kebanggaan Singapura karena menjadi ikon bagi Singapura sebagai Land of Dream, just like USA. Yes, Singapura memang membutuhkan sosok-sosok yang mengawali hidupnya dari nol di Singapura kemudian menjadi besar di Singapura karena seperti yang saya baca dalam beberapa pidato pemerintah Singapura, agar Singapura didatangi oleh banyak pekerja dan mahasiswa asing yang berkualitas, Singapura harus menampilkan dirinya sebagai Tanah Harapan. Singapura memang nggak punya emas seperti California sehingga didatangi para pemburu emas, nah karena itulah Singapura harus menunjukkan sisi emasnya di bidang lain, salah satunya ya melalui sosok pengharapan itu.
Setelah Cici itu begitu inspiratif bagi saya dalam menganalisis Singapura, saya pun semakin banyak menemukan kasus serupa mengenai brain drain ke Singapura. Ada yang berasal dari kalangan artis karena Singapura juga sedang berusaha menjadikan dirinya negara pusat seni. Kenapa harus artis dari luar negeri? Bukan karena gengsi, bro. Ini karena pendidikan Singapura selama ini terlalu condong pada IPA dan matematika sehingga pendidikan seni terabaikan. SDM Singapura yang mumpuni dalam bidang seni itu minim banget jadi Singapura harus mengekspor seniman atau artis luar negeri sebagai awal pijakan Singapura melengkapi identitas dirinya sebagai negara berteknologi dan ber-high culture. Seni itu penting untuk meninggikan derajat bangsa dan mencitrakan kesan negara yang menyenangkan untuk ditinggali. Selain dari kalangan artis, pastinya juga dari kalangan dosen dan ilmuwan. Ini mah nggak heran banget. Singapura juga ingin jadi pusat pendidikan jadi Singapura harus punya dosen dan ilmuwan dari berbagai disiplin dan konsentrasi ilmu *dan tentu saja dari berbagai negara* yang aktif menulis karya ilmiah dan diterbitkan di Singapura. Ah, iya, dari kalangan atlet juga. Dari SD saya malah udah mewek-mewek kesal gara-gara atlet bulutangkis idola saya banyak yang setelah gantung raket malah jadi pelatih di Singapura. Singapura mau jadi negara yang kuat dalam bidang olahragakah? Ya iyalah, secara ada banyak perkumpulan olahraga tingkat dunia yang dianggotai Singapura dan di sana juga ada banyak pertandingannya. Kalah di bidang olahraga itu sudah pasti memalukan dan mengurangi reputasi internasional. Masih banyak, pastinya. Coba kita ingat-ingat.
Serakahkah Singapura? Harusnya, sih iya. Tapi, bagi saya, ya itu wajar. Singapura itu sejak kemerdekannya selalu percaya pada premis realisme mengenai survival, self help, statism dan nggak ada yang namanya musuh dan kawan abadi. Ini kata Lee Kuan Yew, Rajaratnam, dan kebijakan luar negeri Singapura deh serius, bukan kata saya. Selain itu, Singapura juga selalu menggarisbawahi kerawanannya dalam hal luas wilayah, SDA, SDM, dan letak geografis yang dikelilingi negara Melayu yang membenci Cina. Nah, masalahnya, Singapura juga nggak mungkin mengamankan dirinya dalam segi militer, bukan karena nggak ada budget dan lahan, melainkan karena akan memancing balance of power dari negara di sekitarnya. Singapura ini kan negara dagang dan investasi, jadi ya Singapura harus selalu maintain hubungan baiknya dengan semua negara di dunia. Delapan dari sepuluh poin prinsip kebijakan luar negeri Singapura pun akhirnya menegaskan komitmen Singapura untuk bersikap bersahabat dan beresiprokasi pada ajakan kerja sama. Nah, Singapura juga menyadari bahwa nggak mungkin ada negara yang mau bekerja sama dengan Singapura kalau Singapura nggak punya apa-apa. Singapura juga harus punya power berupa reputasi yang membuat negara-negara itu tertarik pada Singapura. Dengan keinginan untuk memiliki power itulah akhirnya Singapura menjadi negara yang tampaknya serakah harus menjadi pusat di segala bidang. Bukan serakah juga, sih. Itu adalah pilihan rasional bagi negara yang selalu merasa terancam dalam perjalanan hidupnya dan brain drain adalah salah satu cara untuk mendapat power demi mengonstruksikan citra nyaman bagi dirinya sendiri.
Ark. Feb'12.


0 comments:
Post a Comment