BBM Talk

Selain karena meja makan saya ada di depan tivi yang akhirnya membuat saya setiap kali mengambil makan noleh juga ke arah televisi, selebihnya saya udah lama nggak nonton tivi. Akibatnya, saya nggak tahu gimana rame-ramenya kenaikan BBM akhir-akhir ini selain dari pembicaraan teman-teman saya di twitter. Saya tahu BBM bakal naik sekitar Rp1500 dari twiter, saya juga tahu ada kegiatan demo besar-besaran juga dari twiter. Bukan berita yang netral, sebenarnya. Tentu saja karena twiter sendiri adalah dunia opini.

Posting kali ini saya dasarkan atas pengamatan saya atas dunia twiter yang diisi oleh pro-kontra kenaikan BBM. Yes, saya mau membahas sudut pandang teman-teman saya yang kemudian saya refleksikan dengan pandangan saya.

Seorang teman saya yang cukup aktif menyuarakan pendapatnya di twiter menyatakan persetujuannya atas kenaikan harga BBM karena harga minyak mentah di pasar dunia makin membumbung dan membuatnya makin tidak rasional dengan anggaran pemerintah Indonesia untuk membeli minyak mentah. Sampai di situ saya setuju dengan pandangan tersebut. Ya, logikanya mau ditutupi dengan uang apa kalau subsidi makin lama makin membengkak, apalagi anggaran negara nggak cuma untuk memenuhi kebutuhan perminyakan. Namun demikian, teman saya ini sempat juga meng-RT pendapat temannya yang sekubu. Nah, ini yang bikin saya agak mengernyitkan dahi. RT twit tersebut kira-kira berbunyi "Naikkan saja BBM sampai 12 ribu, subsidinya berikan kepada nelayan, petani, rs, sekolah supaya lebih efektif". Whattt, 12 ribu rupiah? Subsidinya diberikan kepada nelayan, petani, rs, sekolah? Keberatan saya terletak pertama pada poin kenaikan hingga 12 ribu, duh 12 ribu untuk satu liter bensin buat saya yang saat ini bergaji mepet UMR dan bergantung banget sama kendaraan bermotor itu berat banget, padahal saya nggak punya tanggungan apa-apa dan siapa-siapa, lalu bagaimana dengan orang-orang lain yang kondisinya tidak jauh lebih baik dari saya, yang punya tanggungan banyak banget, dan yes, bukan juga termasuk dalam golongan nelayan, petani, rs, sekolah?

Sudut pandang twit itu bagi saya nggak memihak aja sama keadaan kaum kecil secara keseluruhan. Nggak jauh berbeda denan twit yang di-RT tersebut, ada pula teman saya yang bilang bahwa "Sebenernya kenaikan 1500 itu nggak masalah..." Hmmmm, itu masalah lho. Serius, deh. Kondisinya balik lagi ke saya yang bergaji mepet UMR bla bla bla. Hitungannya gini, rata-rata dalam seminggu itu saya membeli bensin seharga Rp15.000 atau sekitar 3 liter sekian, nah kalau 3 liter itu dikonversi menjadi Rp6000/liter, maka saya akan mengeluarkan uang sekitar Rp20.000 untuk jumlah bensin yang sama. Dalam sebulan ada 4 minggu, berarti saya harus menganggarkan sekitar Rp80.000 untuk bensin. Itu baru bensin. Belum makan. Tentang pedagang yang dikritik teman saya sebagai pihak yang semena-mena dalam menaikkan harga, saya rasa itu juga bukan hal yang seharusnya dikritik. Teman saya boleh bilang kenaikan harga makanan/ bahan makanan oleh pedagang itu nggak rasional, namun bagi saya, pendapat teman saya itu juga kurang relevan. Masalahnya, dia adalah outsider yang melihat dari sudut pandang konsumen. Coba kalau dia menjalani peran sebagai produsen atau distributor yang pertimbangannya nggak cuma tentang keuntungan, tetapi juga untuk biaya perawatan, biaya karyawan, biaya produksi, dll yang juga harus ikut naik seiring dengan harga minyak yang naik, pasti dia juga harus mengambil tindakan menaikkan harga. Tapi ya memang sih, masalahnya kemudian adalah apakah dari kenaikan harga makanan dan lain-lain itu para konsumen sudah siap sedangkan besaran pendapatannya saja belum tentu dinaikkan sebanding dengan kenaikan harga BBM yang katanya 'hanya' Rp1500, dan boleh juga dinaikkan hingga Rp12.000?

Jujur, saya sebagai konsumen mah engga siap. Bukan 'belum', tapi beneran nggak siap.

From Anak Gila with Love

Jumat ini akhirnya jadi juga main sama geng SMA dan alhamdulillah setelah sekian tahun gitu, kali ini ngumpulnya full team, ada saya, Astrid, Meru, Bees, Widya, Panca, Prina, si gadis-gadis pojokan. Tempat ngumpulnya masih di spot biasa, yaitu food court BIP, daerah sekitar jalan Bali-Kalimantan yang kali ini karena sekolah lagi libur makanya batal nongkrong di kantin sampai magrib dan akhirnya diganti nongkrong di lapangan PLN Jalan Bali yang biasanya suka ditongkrongin anak 5, dan terakhir habis solat magrib di masjid Al Kautsar kita makan lagi ke Gampong Aceh yang di Dago bawah. Ngumpul kali ini diselenggarakan untuk menyambut ulang tahun Bees tanggal 24 Maret, yaitu Sabtu besok, dan untuk melepas kepergian Astrid bekerja di Tangerang. Bees juga sebelumnya kerja juga di KPMG *itu loh kantor akuntan internasional yang di Jakarta mah kantornya di Semanggi* cuma sekarang udah resign soalnya katanya cape pulang pagi melulu. Anak gila dasaaarrr. Orang lain susah nyari kerjaan, dia mah cape langsung resign mentang-mentang tabungannya udah banyak. Hahahaha. Ngumpul kali ini juga akhirnya disponsori oleh Bees *setelah diledek-ledek belum traktir gaji pertama tapi udah resign aja.*

Hmmmm, alhamdulillah seneng bangetlah hari ini bisa ngumpul lagi sama orang-orang yang udah barengan sejak kelas 2 SMA. Kayak apa ya rasanya...Hmmmm...oase gitu kali ya. Seger gitulah di tengah kepenatan yang ada. Hahay. Nemu tempat yang paling yoi banget ngerti masing-masing dari diri kita. Saling menertawakan kebodohan, kekonyolan, dan kelakuan dengan ledekan-ledekan yang sama sekali nggak bikin bete. Punya tempat buat mengenang masa-masa SMA yang waktu dulu kita jalanin sih kayaknya biasa aja tapi pas dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang yang berada di luar lingkungan SMA, wih ternyata apa yang kami punya zaman dulu tuh berharga banget. Dan kalau saya inget-inget, setiap kali saya habis main sama temen geng saya secara full team, ujungnya saya bangga bersekolah di SMA saya. Bukan soal prestise semacam "Waaahhh lu anak 3? Wiiiiihhhh," yang selalu dialamatkan kalau orang tahu saya sekolah dimana, tapi satu hal yang tadi terbongkar waktu lagi ngobrol (ngomongin teman),

"Eh, si Diva apa kabarnya?"
"Eh iyalah gimana dia? Akhirnya kan ngambil yang ITB-nya itu kan?"
"Ah, iya ya? Saya nggak pernah ketemu dia deh kayaknya. Eh, mmmm, pernah pernah. Iya pernah."
"Si orang misteriuslah hahhaa. Banggalah kalau udah disapa dia. Haha."
"Iya dia kan anaknya misterius ya. Kirain nggak tahu nama-nama kita,ternyata tau hihi."
"Iya kasian juga dia sering dituduh sama Bu TDL suka bolos."
"Iya padahal kan dia cuma suka keluar kelas aja kalau dia udah beres ngerjain soal. Pinterlah dia mah."
"Eh, si Acim katanya mau jadi dosen ya?"
"Oh gitu? Cocoklah cocok. Udah keliatan."
"Waakakakakakakakak. Iya hobi dia mah ngajarin orang."
"Mana kalau ngajar juga dari A sampai Z. Cim plis cimm yang bagian awal mah kita udah ngerti. Yang belum teh yang tadi dijelasin sama si Bapak."
"Terus Acim teh bakal bilang, 'Iya tapi ini teh dasar-dasarnya. Kalian harus saya ingatkan supaya bisa mengerjakan soal yang tadi'."
"Hahahaha. Iya, soklah mangga terserah Acim aja."
>> kemudian ngomongin A, B, C, D, E, F, G, ..., AB, AC, ...BZ, .., ZA hahaha banyaaakkk, kemudian kesimpulannya,
"Gila ya temen kita banyak bangetlah yang kelakuannya kocak gitu pas SMA. Ada aja gitulah.Hahaha"
"Lingkungan kita tuh baik banget, tau."

Itu kata-kata paling quotable hari ini, "Lingkungan kita tuh baik." Sepertinya satu hal itu juga yang membuat saya ngerasa ada sesuatu yang berbeda antara suasana yang pernah saya rasakan di SMA dengan suasana-suasana lain yang saya perhatikan. Apa ya...hmmmm. Di SMA saya anak-anaknya sama kok sama kayak anak-anak lain. Ada yang alay, yang galau, yang preman, yang ngebokep wae, yang naik gunung, yang dugem, yang itikaf melulu, yang nerd, yang suka bolos, yang full make up, yang cupu, yang jago debat, yang suka membully, yang gordes, yang manja, yang ganteng, yang unyu, yang sok, yang sombong, yang borju, yang cantik buangeeett, yang public enemy, yang tiap istirahat selalu pacaran, dan yang suka ngerebut pacar orang juga ada kok *nafaaas apiiiii*. Ya sama ajalah seperti remaja pada umumnya. Bedanya, lingkungan yang mengitari orang-orang di sekolah saya adalah lingkungan yang memberi kesadaran tanggung jawab belajar. Feel sekolahnya itu dapet banget gitu. Bolos itu fenomena yang nggak bisa dihindari, apalagi buat anak-anak geng tertentu. Tapi mereka bolos bukan karena malas yang pure malas. Mereka bolos karena mereka nggak bisa belajar dalam kondisi yang terdapat di kelas. Yang mereka lakukan ketika membolos juga bukan sekedar merokok, apalagi manggilin cewek-cewek di tepi jalan, tapi belajar. Seriusan, mereka belajar, bahkan sampai larut malam nongkrong itu mereka belajar. Hmmm, persoalan seperti nyontek juga ada, tapi ini nyontek yang tidak gratis. Bukan dalam hal bayar pakai uang, tapi pakai kelebihan lain. Misalnya, saya nggak suka fisika dan nggak bakal mau suka dan paham sama fisika, tapi saya suka biologi dan bahasa. Kalau saya disuruh ngerjain fisika, saya mending ngeliatin foto Lee Min Ho. Karena saya nggak berminat sama fisika, ya bisa ngerjain sih tapi dikit aja, sisanya ya pasti saya nyontek. Saya nggak bakalan ngerasa bersalah sama pencontekan yang saya lakukan soalnya saya bisa bayar contekan fisika itu di mata pelajaran lain. Silakan kalau mau nyontek biologi saya, bahasa indonesia saya, bahasa inggris saya, atau tugas-tugas yang berkaitan dengan pembuatan makalah. Guru juga paham sama kelebihan dan kekurangan murid. Mereka tahu kok mana yang menyontek, mana yang engga, kemudian berusaha mencari jalan keluar bagi yang menyontek. Tapi ya kalau sudah mentok ya bagaimana lagi. Mereka percaya bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan yang bisa ditutupi dengan kerja samanya dengan orang lain. Itulah, lingkungan. Saya bangga sekolah di sana bukan karena saya bakal dianggap pintar oleh masyarakat, melainkan karena di sana saya mendapat lingkungan yang baik yang mengajari saya bertanggung jawab menjalankan peran saya sebagai pelajar di tengah gejolak labilitas remaja.

Tanggung jawab tuh hal yang paling penting, sih kata saya. Dan tanggung jawab juga sih yang akhirnya mengantar saya dan teman geng saya jadi orang yang seperti ini. Seperti apa hahhahahhahahahhahahaha. Entah jadi seperti apa sih, saya juga bingung hahahahhaha tapi ya saya senang aja pernah merasakan atmosfer yang demikian kemudian sekarang saya menyaksikan teman-teman saya jadi gadis berusia 23 tahun. Seneng juga Astrid akhirnya dapat kerjaan di luar kota, di tempat yang baru, yang jauh dari Tante Lilis dan Oom Ego. Seneng juga akhirnya memang agak-agak terungkap bahwa tabungan Bees banyak. Seneng juga Prina, Amel, Widya, Meru, Panca belum lulus jadi saya masih ada teman hahahaha. Lebih seneng juga tadi waktu ngomongin teman-teman seangkatan dengan info terupdate hahahaha. Intinya mah senenglah nongkrong sambil ngomongin orang teh. Hahahahaha. Tapi ini ngomongin yang baik dan masa-masa dulu kok. Ikikikikikikikikikik. Yasudahlah hari ini menyenangkan dan semoga di pertemuan berikutnya yang entah kapan akan jauh lebih menyenangkan :D

from high school with love

Harusnya saya sekarang ngetik skripsi sih, tapi saya nggak ada ide. Udah gitu entah kenapa tadi saya inget zaman-zaman SMA, haha. Lama banget kayaknya SMA gitu. Masa-masa ketika saya masih berusia belasan tahun dan kini voila, umur saya masuk 23 nanti September. Masih lama, sih tapi tetep aja tahun 2012 ini umur saya 23.

Hmmm, mari mengingat-ingat masa SMA dan dimulai dari masa ospek. Seperti biasa, saya nggak suka suasana ospek. Dan seperti biasa juga, saya mangkal dari kewajiban ospek dengan berpura-pura sakit kemudian tiduran di UKS. Haha. Iya, saya melakukannya sejak SMP sampai masa kuliah. Haha. Hehe. Tapi ada bagusnya juga sih saya pura-pura sakit di UKS, soalnya kalau saya ikutan ospek secara full, pasti saya bikin keributan sama bagian tata tertib. Dan itu hampir terjadi, sih waktu ospek SMA, untungnya Pembimbing Kelompok saya orangnya pandai meredakan amarah. Weisss, hidup Kang Nanda! Hidup, Kang Insan! Buat Kang Insan, errr ini Kang, buku biologinya masih saya simpen. Dulu saya pura-pura kok Kang pinjem bukunya soalnya saya suka sama Akang tapi nggak berani bertindak lanjut. Eeeeeaaa. Terus tahunya si Kang Insan teh baca blog ini. Hahaha.

Mmmm, beres masa ospek, saatnya masuk ke dalam kelas. Saya masuk ke kelas X-6 yang nantinya memiliki nama Swimpack. Naon pisan kan nama kelas saya. Sangat nggak banget untuk dikoar-koarkan dalam upacara. Hahaha. Kenangan di kelas ini banyak bangeeeetttt. Seneng deh. Di kelas ini saya satu geng sama Senni, Dita, Okke, Marina, Ririn, terus nambah Lola. Pokoknya tiap pulang sekolah kalau nggak les, pasti main di kosan Okke atau jalan ke Istana Plaza atau minimal nyewa VCD di apa sih rental selain Ezzy teh, lupa euiii. Terus saya juga sering main di bangkunya Nene, Ayu, Achi, Chae. Terus saya ketemu temen SD saya yang udah lama nggak ketemu sejak saya waktu kelas 3 SD pindah sekolah dan dia kelas 5 juga pindah sekolah ke luar kota, Prina. Ah, iya di kelas ini juga saya sering nongkrong di bangku Toshi, Aurio, Candra, Afif, Dimas, Denny, aduh siapa lagi yakkk lupaa..Tama, Karim, hmmm iya kayaknya segitu deh geng bangku belakang teh. Kebersamaan di kelas ini tuh kuat banget. Tak tergoyahkan berkat wali kelas yang paling terkutuk sedunia hahahhahahhaha serius kita benci banget sama wali kelas ini dan karena nilai matematika satu kelas yang nggak pernah melebihi nilai 50 berkat sistem penilaian +4, -1. Hal yang paling berkesan selama di kelas ini adalah ber-20 orang bikin film pendek tentang HAM buat tugas PPKN, ber-15 dengan saya sendiri sebagai cewek buat neliti goa Jepang di Dago Pakar buat tugas Sejarah, terus bertiga sama Toshi dan Aurio ke Lembang nggak tahu mau ngapain.

Masuk ke kelas dua, nah ini juga nggak kalah rame. Yang paling berkesan selain karena letak kelas saya yang strategis di depan lalu lintas alumni ganteng yang mau solat jumat di sekolah jadi tiap jumat anak-anak cewek pasti pada baris rapi di teras kelas, adalah acara piknik ke Bali dong aakakakakakakakakakak. Ini keren banget ini. Tanyain geura sekolah mana di Bandung yang bisa pergi ke Bali, pasti jawabannya SMA saya aja. Hahaha. Nah di Bali ini rame, nih. Geng saya bentrok sama geng lain. Bahahahha. Gaya. Oia, di kelas dua ini, walaupun saya masih sering main sama geng kelas satu, saya punya geng baru yang sampai sekarang masih memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Di kelas dua ini saya mainnya sama Astrid, Bees, Amel, Panca, Widya, Prina. Ini sahabat sejati selamanya bangetlah. Nah kejadian bentrok ini epic banget. Sampai sekarang juga kita masih sensilah kalau ngomongin geng tetangga sebelah yang rebek itu. Pengen rasanya melihat kepala geng itu menderita *yang sayangnya orang itu nggak pernah menderita hahaha*. Eh, iya, selain berantem sama geng sebelah atas nama geng, saya juga berantem atas nama pribadi dengan satu orang yang blagu abis di sekolah gara-gara rebutan internet terus si cewek cemen yang sok jago itu ngebawa temen-temen satu gengnyalah buat balas dendam ke saya. Selama seminggu banget ada sekitar belasan kakak kelas yang nongkrong di depan kelas saya buat nyuruh saya minta maaf sama si kakak kelas songong itulah. Sebagai gadis yang berbudi, walaupun di dalam hati sempet jiper juga, saya tetapi bertahan dalam prinsip saya, yakni Tidak Ada Acara Maaf-maafan untuk Hal yang Saya Yakini Saya Benar. Jadi ya biarin weh itu si kakak-kakak rehe itu nongkrong, kayak yang bakal nongkrongin saya selamanya aja. Benar, kan akhirnya seminggu pun berlalu dan hidup saya pun tenang kembali. Tapi betelah, si kecengan saya teh ada di dalam daftar orang yang ngegencet saya. Arrrgggg.

Naik ke kelas tiga, suasana agak sedikit nggak heboh kayak kelas dua sama kelas satu. Sebabnya sih satu, kita nggak punya musuh bersama. Ada sih, tapi menjelang UAN dan SPMB gitu loh, masa mau ngomongin orang melulu. Ini mah saatnya mempeluas link untuk minta diskusi bersama. Hmmm, saya juga nggak terlalu sering gaul sih kecuali sama geng saya kelas dua atau sama beberapa orang yang duduk di sekitar saya seperi Mia si teman sebangku, Karim, dan Iman. Ya ngobrol juga lah sama anak sekelas lain, tapi saya serius pisan lagi ada masalah gitu jadi saya nggak konsenlah di sekolah. Saya juga sering ke Jakarta dalam urusan lomba nulis. Hmmm, tapi pasti ada sih kenangan-kenangan mah. Paling apa ya...ya kalau lagi praktikum kimia, fisika, biologi. Ya itu doang yang rame soalnya sekelas teh rusuh. Ya paling juga sering ngegodain temen sekelas yang perilakunya lemah lembut, sebut saja Sony Sopian Sonjaya Suka Sura Seuri Sorangan. Dia unyu loh sumpah. Ramah, baik, nggak goyah meskipun sering digodain sama cewek sekelas. Aduh ingatan saya jelek nih pas SMA kelas tiga ini. Ah, iya, saya sering main sama anak kelas lain juga, sih macem Agnes, Alm.Akbar, dan Ferdy. Tapi yang paling sering mah sama Alm.Akbar gara-gara kelas kita sama-sama di lantai dua. Makanya pas Akbar meninggal teh sedihnya beneran sedih :( Hmmm, hal yang berkesan dari masa kelas tiga ini teh apa ya...Hmmm, paling itu sih seeprti sednag menemukan hal yang hidup banget dari diri saya yang bisa saya jadikan cita-cita. Ini epifani banget.

Ada banyak sih sebenernya kenangan zaman SMA, tapi seriusanlah saya ngerasa bersalah banget nggak ngetik buat skripsi nih. Hehehe. Lain kali saya lanjutkan lagi deh. Yuuuu dadah babayyyyy.

god always does the rest

Saya bukan orang yang fanatik banget sama agama, tapi saya selalu percaya bahwa Allah sayang sama saya sehingga senantiasa memberikan hal-hal yang saya butuhkan pada waktu terbaik. Mungkin kalau Karl Marx bertemu saya, Marx bakal senang karena perilaku saya yang sulit masuk kategori ngoyo ini akan menguatkan tesis Marx yang mengatakan bahwa agama adalah candu karena berpotensi membuat manusia enggan bekerja. Hmmm, tapi apa ya. Saya sudah sering mengalami bahwa ketika saya sedang berusaha sekuat tenaga, ternyata hal yang saya kejar tidak kunjung datang. Ketika saya mau kecewa, nggak bisa juga. Sebabnya saya tahu dari hal-hal yang saya perjuangkan tersebut, meskipun hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan, nyatanya saya mendapat banyak pelajaran dari sana. Lebih senangnya lagi ketika ternyata saya mendapat hal yang lebih saya butuhkan ketimbang yang saya inginkan. Entahlah, saya hanya yakin bahwa saya nggak perlu terlalu berambisi karena Allah sudah menyiapkan sesuatu untuk saya.

Hmmm, tapi saya juga bingung sih akhirnya. Kenapa di sekitar saya terdapat banyak orang yang berambisi dan menyibukkan dirinya dengan berbagai keribetan hidup yang dipenuhi juga oleh keluhan? Bagi saya, ada bedanya ketika kita bekerja keras dan ketika kita berambisi. Bekerja keras memang diwajibkan agama, tetapi berambisi? Bermbisi hanya akan membuat jiwa kita lelah dan mudah marah. Cukuplah kita bekerja keras saja kemudian menerima apa yang ditetapkan Allah untuk mengganjar kerja keras kita. Yang paling penting sih kita mengerjakan sesuatu dengan ikhlas untuk diri kita sendiri dan dengan pertanggungjwaban kepada Allah, tanpa perlu kita berusaha untuk memuaskan dan membanggakan orang lain.
Mungkin terlalu sulit ya menggabungkan kapitalisme dengan idealisme.
Mungkin memang yang namanya baut di tengah sistem produksi itu buta akan cara kerja mesin secara keseluruhan.

Kata Adik Saya

Kemarin pas lagi makan siang di Pedca, saya ketemu adik saya yang kuliah di Sastra Jepang. Saya nggak sadar kalo itu adik saya. Yang sadar mah justru Alex. Setelah sadar, saya panggil kan adik saya itu. Panggil panggil panggil, eh doski nggak noleh jua. Bete kan. Teriaklah saya. Yeh masih nggak noleh juga. Nah, si teman-teman saya yang kebetulan waktu itu ada enam orang dan berjenis kelamin pria semua ikutan manggil. Lah, adik saya masih nggak sadar juga. Sedihlah. Akhirnya noleh juga sih setelah radius agak jauhan. Terus dia tertawa tanpa dosa, katanya sengaja nggak noleh gara-gara takut soalnya yang manggil laki-laki semua. Atuhlah ai suara saya yang merdu ini teh nggak dianggep gituh yah?

Ah, tapi bukan itu sih masalah yang mau saya omongin. Yang mau saya omongin adalah pembicaraan di rumah setelah siangnya saya bertemu adik saya itu. Tahu adik saya ngomong apa? Aduh ini mah dalem pisaaannnnn....

Aneh pisan, sih. Temenan sama laki-laki semua, tapi status masih jomblo aja

Atuhlaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh....
Kejam pisan, sumpah itu teh kejam pisan hahahahahahaha.

Tapi iya sih, saya jadi mikir yah. Kayaknya dari dulu jumlah teman laki-laki dan perempuan saya seimbang tuh, tapi ya gitu weh, saya mah temenan ya temenan aja. Tapi saya juga emang nggak kepikiran buat suka sama temen saya, sih. Sepertinya saya nggak berbakat untuk jadi gadis penjual cilok alias cinta lokasi kali ya. Ah, tapi ya bete juga sih. Zaman SMP sama SMA mah temen segeng saya yang berjenis kelamin laki-laki teh ganteng-gantenglah, tapi sayangnya suka ada weh cacatnya. Misalnya, suka ngupil, ketiduran di kelas, hobi telat, suka nyanyi-nyanyi sendiri, suka taruhan nggak penting, suka curhat nggak penting, dan yang paling parah mah ini sih, pacarannya sama cewek cantik. Plis atuhlah banget itu teh dosa. Haha. Tapi beneran, deh, meskipun mereka juga nggak pacaran sama cewek cantik, tetep aja saya juga nggak kepikiran untuk sukaaaa sama mereka. Ah, tapi sepertinya itu teh tindakan yang sangat rugi bandar pisan. Buktinya, sudah berapa pasangan yang jadian hanya karena mereka awalnya berteman kemudian saling curhat kemudian saling merapat lalu jadiaaaannnnn. Ah, bray! Ya tapi kumaha atuh da saya juga nggak kepikiran buat suka sama temen saya.