Tabu Pacaran di Sekolah


Ribut soal buku pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang memuat ulasan mengenai "pacaran sehat" rasanya cukup menggelikan. Mulai dari keberatan karena menggunakan ilustrasi perempuan berhijab dan laki-laki berpeci di depan air terjun, penjelasan yang tidak relevan dengan muatan PJOK sendiri, hingga kenapa persoalan pacaran harus diatur negara dengan diberikan arahan dari buku pelajaran. Haha. Saya sendiri punya pandangan lain mengenai kejadian tersebut.

Saya masih tidak habis pikir dengan kegemaran beberapa di antara kita untuk menabukan sesuatu hal yang sebenarnya telah menjadi fenomena yang tidak terhindarkan. Saya pikir, kenapa kita harus enggan membicarakan soal pacaran, terlebih dalam konteks untuk memberikan nasihat bagaimana sebaiknya hubungan dua remaja dibangun -mengingat buku pelajaran tersebut ditujukan untuk siswa SMA kelas XI-. Ulasan dalam buku pelajaran tersebut bagi saya justru membuka peluang bagi orang dewasa -dalam hal ini guru di sekolah- untuk memberi arahan gamblang atas pertanyaan-pertanyaan dalam pacaran yang saya yakin banyak menggelayuti pikiran ABG-ABG, khususnya perempuan. Fenomena kekerasan dalam pacaran, sifat posesif pacar yang membatasi gerak pasangan, dan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada seks bebas, kesemuanya butuh penjelasan dan peyakinan dari orang dewasa. Tanpa arahan tersebut, akan lebih banyak lagi remaja korban pacaran yang sesungguhnya.

Bagi saya yang pernah menjadi pengajar, pendamping, dan kawan curhat murid SMP dan SMA, dan pernah menjadi remaja, pacaran adalah hal yang tidak bisa begitu saja dilarang dan disimpan rapat-rapat. Bahkan, bisa dibilang, pacaran adalah bagian dari masa pubertas yang didukung oleh faktor kodrati dan kecenderungan lingkungan. Ketertarikan kepada lawan jenis, siapa di dunia ini yang belum pernah merasakannya saat remaja? Bahkan Felix Siauw yang saat ini sudah dijanjikan surga oleh dirinya sendiri itu pun pasti pernah merasakan cinta monyet. Masalah diterima atau tidak menjadi pacar si pujaan hati, biarkan saja menjadi rahasia besar pria yang di akun twiternya mengaku dengan bangga bahwa rumah pertamanya masih dibelikan orang tua setelah pisah pendapat sekian lama karena mau meratakan Jakarta dengan Islam.

Jangan pikirkan nama-nama jomblo dari lahir yang dari remaja sudah punya cinta tapi tidak jua berhasil mendapatkan, entah karena tertikung, cemen, mudah pindah ke lain hati, atau bukan jodoh. Fokus kita sekarang adalah pada remaja-remaja alpha male/female yang dengan gagahnya bisa jadian dengan pujaan. Ya namanya remaja yang baru merasakan cinta, pasti ada segi-segi amatir yang bila tidak diberi pengarahan, masa depan yang jadi taruhannya. Bisa jadi dia akan menganggap lumrah meluapkan emosi kepada pacar dengan memukul, menendang, atau meninggalkan di jalan tol. Bagi pacar yang jadi korban, dia juga tidak tahu apakah itu hal yang wajar didapatkannya karena tidak menyenangkan pasangannya atau justru dia harus melawan dan menegakkan harga dirinya bahwa apa pun yang dirasakan pacarnya, bukan dia yang seharusnya menanggung secara fisik dan batin. Bagaimana pula dengan remaja yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk kuliah karena sang pacar takut di universitas ia akan memiliki pacar baru, pandangan baru, dan lebih fokus mengejar cita-cita? Ada beberapa kawan saya yang dengan ikhlasnya menerima arahan posesif seperti itu dari pacarnya. Meski mereka sepertinya bahagia dengan pilihannya itu, saya tidak melihat pilihan tersebut sebagai hal yang adil karena bukan mereka yang memutuskan. 

Hal penting lagi terutama menyangkut aktivitas yang megarah pada seks bebas. Dorongan seksual saya rasa merupakan hal manusiawi yang dirasakan manusia saat ada kesempatan, niat, keinginan, pikiran, dan sebagainya. Dilema benar-salah, mau-tidak, takut-ragu menjadi isu yang pelik bagi remaja yang tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan atas batasan, dampak, dan cita-cita dalam pacaran. Ini tidak saja soal perempuan yang bila kegadisannya berakhir maka ia akan mendapat tempat yang tercela di mata masyarakat *kalau ketahuan* dan bagaimana ia akan menanggung kehamilan, kelahiran anak, dan mengasuh anak di usia muda, tapi juga bagaimana laki-laki dan perempuan menghargai dirinya sendiri dan pacarnya dalam suatu hubungan dan merencanakan masa depan hubungan mereka. Selama ada yang belum bisa dan belum mau bertanggung jawab atas dampak yang akan tertanggung di masa mendatang, masing-masing pihak boleh menolak tanpa rasa bersalah ajakan pihak yang lain. Sebaliknya, pihak yang ditolak juga tidak berhak untuk mempersuasi, apalagi memaksa pendirian tersebut. 

Masalahnya, jangankan untuk menentukan sikap, kebanyakan dari mereka tidak memiliki akses informasi terbuka tentang hal tersebut. Kalaupun ada, info yang ada adalah rekaan remaja yang sama-sama tidak tahu atau khayalan-khayalan yang sifatnya menabukan ketersediaan informasi. Saya saja pernah terseret pemahaman kearifan lokal anak remaja sok tau yang percaya bahwa kehamilan bisa terjadi lewat perpindahan sperma di kolam renang. Sampai kuliah saja saya percaya bahwa azab dari ciuman bibir adalah putus. Ini bukan persoalan sains yang menggunakan kecerdasan kognitif, melainkan ketidaktahuan yang dijelaskan dengan bentuk tabu dan ketakutan yang dampaknya dahsyat secara afektif. 

Persoalan apakah rambu-rambu pacaran itu pantas atau tidak diselipkan sebagai bahan pelajaran di sekolah, terlebih apakah relevan diselipkan sebagai salah satu bab dalam PJOK, dan sejauh mana negara dapat mengatur hubungan individu, saya pikir itu hanya persoalan teknis yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Apa salahnya sekolah memberi masukan mengenai hal-hal di luar kelimuan? Toh, fungsi sekolah pun adalah mendidik. Tentu tugas itu juga diemban oleh orang tua. Namun, sejauh mana dan seberapa banyak remaja yang dapat dengan bebas bertanya kepada orang tuanya mengenai, "Ma, kalau aku diludahi pacar aku lalu ditempeleng, tapi aku tetap cinta dia, aku harus apa?"; "Pa, pacar aku kok suka ikut campur memilihkan warna pakaian dalam aku?". Selain sungkan dan awkward, alokasi waktu remaja memang lebih banyak dihabiskan di sekolah dan dengan teman-temannya. Tak jarang pula, pacarnya berasal dari kawan-kawan sekolahnya yang juga dikenal oleh gurunya. Lalu apa yang salah bila sekolah juga menyelipkan wejangan mengenai pacaran? Lalu kenapa juga mesti mempertanyakan kenapa harus PJOK yang memberikan arahan mengenai pacaran yang sehat, kenapa bukan di Bimbingan dan Konseling (BK)? 

Bukan tidak mungkin untuk menyelipkan bab Pacaran Sehat pada buku pelajaran BK. Apalagi kawan saya yang menyenangi kemandiriannya dalam berpacaran, Remon, mengatakan bahwa ketika SMA ia memiliki buku pelajaran BK, berbeda dari saya yang tidak memilikinya, entah karena memang tidak diedarkan di sekolah saya atau saya yang terlalu apatis dengan pelajaran yang tidak ada ujiannya. Bisa jadi  faktor tidak meratanya buku pelajaran BK dan tidak diujiankannya pelajaran BK membuat buku BK kurang strategis untuk dijadikan alat sosialisasi pacaran sehat. Ya, tapi tidak berarti juga dengan dimasukkannya bab Pacaran Sehat ke PJOK maka akan ada ujian praktek Pacaran Sehat. Ini, sih jauh lebih tidak manusiawi. Ingat, masih banyak orang seperti Remon yang menjadikan pacaran sebagai aktivitas suci yang tidak perlu diuji-uji karena memang hatinya hanya untuk neng seorang. Masalah kapan Remon akan mempersunting si neng, itu masih menunggu keputusan KPK apakah cukup bersih untuk mendampingi pemuda Cipinang kinyis-kinyis pelaku revolusi mental ini. Cukuplah diselipkannya bab Pacaran Sehat ini hanya sebatas himbauan yang menumpang pada PJOK agar siswa SMA dapat berada dalam 1 kerangka formal untuk memperoleh informasi yang dapat mengurangi kegalauan mereka. Lagi-lagi persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan. 

Satu-satunya kesalahan yang perlu disorot dari ulasan pacaran sehat di buku PJOK tersebut adalah penyertaan ikon islam, gadis berjilbab dan lelaki berpeci, sebagai ilustrasi. Ya, di tengah majunya industri kreatif ilustrasi di dunia ini, kenapa harus memilih gambar muslim sebagai ilustrasi? Hehe. Saya memahami protes masyarakat yang merasa agamanya terlecehkan (secara tidak sengaja) itu. Di tengah kampanye antipacaran oleh kanjeng ganteng Felix Siauw yang suka bingung menepatkan posisinya sebagai ustad gaul atau penjual buku online dan lebih ngetrennya taaruf ketimbang tawaddu sebagai cara untuk mendekatkan jodoh, pemilihan ilustrasi tersebut memang sangat rawan kritik.

Namun tentu kritik atas ilustrasi tersebut tidak perlu mencuri panggung dari substansi yang ingin dibagi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pacaran, ingin ditutupi seperti apa pun caranya, telah menjadi fenomena yang paling manusiawi di dunia remaja. Saya malah merasa bahwa tanggapan negatif mengenai pacaran hanya merupakan keresahan penonton. Ya, saya juga suka ilfil kalau membaca menton-mention penuh cinta dari remaja, apalagi kalau hidupnya hanya diselimuti oleh cinta dan lupa kalau besok masih ada ujian fisika dan beberapa tahun ke depan, saat mereka masuk kerja, mereka akan menemukan bos muda serupa nabi yusuf dan banyak yang single. Hanya karena keresahan saya yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata penuh petuah yang inspiratif, tentu tidak adil apabila saya langsung menyebarkan informasi yang mendemonisasi pacaran lalu membuat remaja semakin gamang dengan gejala pubertasnya. Mereka sangat berhak memperoleh pengetahuan yang memiliki dampak langsung bagi diri mereka.

Ark. Okt. 14.

2 comments

btw, itu buku pelajaran Bimbingan Konseling ada kok rik. Lebih tepatnya modul yang dikasih Depdiknas sih. Buat dibahas di jam khusus guru BK masuk ke kelas. Tapi gw lupa-lupa inget di kelas BK itu pernah diterangin inget tentang pacaran nggak ya?

Reply

Wah, ciyus, mon? oke aku edit tulisannya. Makasih monds. Aku dulu guru BK-nya cuma modal bawa daftar nilai doang terus kita disuruh bikin tulisan ttg cita-citaku semacam itu lah ahahhahahaha

Reply