Edisi Kembali Jadi SJW

Posting pertama di tahun 2018 yeay! Lagi-lagi postingnya dibuat di Bandung yeay! Hhhhh jangan-jangan memang hanya bisa menulis di Bandung. Oke baiklah. 

Kali ini mau balik jadi SJW dulu karena sedang ingin berpikir dan bicara panjang tapi tentu saja:

  1. Buat apa
  2. Ngapain
  3. Sudahlahhhhh kan sudah pensiun bicara soal ini.

Tapi eyniwey, ya tetap keinginan untuk berpikir ini ada. Berpikir apaaa? Berpikir kenapa masih menerima masukan soal ungkapan yang bias kelas dan bias gender, yakni apakah pantas perempuan terdidik menggunakan seruan yang kasar dan kotor dalam perbincangan sehari-hari?

Hhhhhhhh...

Saya mau bilang bahwa saya tidak peduli karena saya berkeyakinan bahwa semua adalah manusia, semua kata pada dasarnya bermakna netral, dan kenapa harus ada pengaturan bahwa kelas dan gender tertentu pantasnya bertindak ini itu? Sepenting itu pengaturannya? Kenapa? Lebih pentingnya lagi sih, kenapa saya pikirin dan bikin posting di sini ya hahahahahahahahaha

Oke baiklah lagi.

Kalau dipikir-pikir sih, ya ngga dari kecil jugalah seruan yang berwawasan fauna itu tercetuskan. Orang tua sih tentu sudah melarang ya. Jadi, pertanyaan semacam, “Anak liar ya kamu? Orang tua kamu tidak pernah memberi tutorial mana ucapan yang baik dan kasar ya hemmm?”, bisa disingkirkqn dari pikiran.

Faktor pernah berteman baik dan dekat dengan anak-anak anggota geng (maaf ini jadi bias kelas), juga bukan alasan karena pas zaman berteman ama mereka sih itu zamannya saya belum mengeksplor makna apa-apa dalam hidup. Ya sering sih dengar istilah-istilah itu(tentu sajaaaaaaa) dari siapa aja tuh, dari yang ngajak ngomong saya sampai yang liat-liatan doang soalnya ganteng euy, jadi terharu saya juga melihat dia dari jauh. 

Ya jadi ini intinya alasannya ideologis saja. Saya ngga paham kenapa ada banyak peraturan ditempelkan kepada gender tertentu, yakni wanita, dan kelas tertentu, yakni terdidik atau priyayi atau ya para pemegang budaya adiluhung lainnya, dalam kehidupan mereka. Seolah-olah ya hanya faktor bias gender dan kelas itu saja yang mendefinisikan mereka. Soal bahasa, soal merokoklah, soal perasaanlah, soal pergaulanlah, ya banyak bangetlah. Kayaknya cuma hal-hal superfisial itu yang paling penting padahal ya dalamnya hati dan ketulusan itu siapa sih yang tahu? 

Syedap.

Ada banyak hal tentunya yang dianggap penting sebagai identitas oleh orang. Saya termasuk yang tidak menganggap atribut kebahasaan, pergaulan, dan cara hidup sebagai hal yang penting, terutama bila itu menyangkut perempuan. Kasihan aja gitu, ga masuk akal. Ada banyak hal yang bisa dilihat lebih dalam dan dihargai dari sosok perempuan dan terdidik ketimbang tempelan patriarkis yang fungsinya dalam hidup juga debatable.

Jadi kuat, punya prinsip, jadi pintar, humble, ramah, humanis, toleran, nyaman dengan dirinya sendiri, bisa pencak silat, piawai main saksofon, memahami cara kerja garpu tala, atau apalah, harusnya itu sudah cukup memberikan nuansa yang lebih kuat atas persona perempuan ketimbang mengembalikan lagi pada adab-adab yang kalaupun mengganggu lingkungan sekitar, lalu kenapa cuma perempuan yang ngga boleh?

Lalu, selain alasan ideologis yang sangat SJW itu, saya juga selalu percaya bahwa ya pada dasarnya kata-kata itu ya bebas nilai. Kita sendiri yang mengisi mereka untuk punya makna. Siapa pun bisa menggunakan kata “bangsat”, misalnya, untuk merujuk pada keadaan yang mengesalkan, baik murka serius atau marah sekejap, atau bisa juga sambil tertawa karena ada keadaan yang super kocak dan tidak bisa diterima akal sehat. Masih banyak contoh lain. 

Lalu soal mengaitkannya dengan kelas terdidik, baik secara intelektualitas maupun kepribadian, saya juga ngga melihatnya sebagai hal yang selalu bersisian. Sebabnya, masuk ke dalam klasifikasi terdidik itu berkaitan dengan faktor kognitif dan ya, lagi-lagi kapital, sedangkan penggunaan kata dan bahasa tertentu, nuansanya datang dari perasaan. Apa menjadi orang terdidik juga artinya harus menahan perasaan? Ya bagi saya, kalau mau senang mau marah mau sedih mau benci mau menyesal ya ungkapkan dengan cara yang paling membuat terbuka. Daripada jadi pintar tapi kalau sebal sama orang lain lalu membunuh? Kriminil gitu. Atau sedihnya lagi, dia yang bunuh diri? 

Saya ngga pernah sepakat saja dengan konsep menahan perasaan demi norma kelas. Tidak semua manusia lahir sebagai keluarga royal family. Ya memang. Kita bukan orang Inggris semua.

Ya tentu ada kata-kata lain yang lebih positif atau religik untuk mengungkapkan rasa bahagia. Namun lagi-lagi, kalau orang sudah membicarakan perasaan, ya mau dibantah apa lagi?

Namun tentu ya, sebagai pensiunan SJW dan melihat banyak fenomena ‘mendidik’ ini terjadi, saya juga sadar bahwa perempuan tidak bisa setegas itu memegang apa yang mereka yakini secara ideologis untuk tetap diejawantahkan. Saya sih ngga peduli-peduli amat sama penilaian orang atas hal yang bagi saya superfisial. Namun demikian, ya bolehlah saya hargai juga pandangan mayoritas yang melihat ketentuan-ketentuan superfisial itu sebagai suatu atribut yang seharusnya melekat pada perempuan pada umumnya. 





Ark. Jul.18