Seharusnya Memang Sederhana

Mungkin cinta dan keputusan untuk hidup bersama seseorang memang sesederhana hal-hal yang kita tertawakan. Mereka ada karena ada yang mengajak. Mereka ada karena memang sudah waktunya. Mereka ada karena salah satu pihak menjanjikan kehidupan yang lebih menyenangkan dan lebih mudah. Mereka ada karena manusia merasa itu pilihan yang baik. 

Namun memang ada orang-orang yang menganggapnya rumit dan penuh hal filosofis seperti bagaimana konsep gender di dalamnya; bagaimana mempertahankan eksistensi diri; bagaimana kisah-kisah romantis yang mungkin dijalin dan menjadi pondasi; bagaimana happy ending menjadi sebuah realita; dan hal-hal rumit lainnya. 

Mungkin bagi mereka yang merumitkannya, mereka takut akan masa depan dan konsekuensi luka yang mungkin timbul. Konsep diri yang berkurang; romantisme yang menguap; kesetiaan yang menjadi mahal; hal-hal manis yang menjadi usang dan berganti sebagai tanggung jawab mempertahankan; lalu semua berlomba mencintai anak sebagai pengisi hidup yang masih lama. 

Mungkin cinta dan menikah adalah suatu hal yang sudah diketahui tuhan sebagai hal yang rumit sehingga ia dianggap sebagai ibadah. It will not be easy. Merasakan perubahan dari manis hingga menjadi tanggung jawab tidak akan mudah. Mungkin karena itu juga seharusnya alasan untuk mencintai dan menikah tidak perlu dibuat terlalu rumit. Cukuplah mereka ada karena memang sudah waktunya ada. Cukuplah mereka muncul karena memang ada orang yang merasa perlu berhenti mencari lagi. Cukuplah mereka muncul karena ada yang menawarkan kehidupan yang lebih baik. Cukuplah mereka ada pada saat ini tanpa perlu ditanya esok dan tahun-tahun berikutnya akan ada kejadian apa sebagai cobaan dan apa kita akan selalu bisa dan perlu bertahan.


Ark. Feb’19