screen capture idolaku


Setelah 9 bulan mengerjakan 3 bab beserta revisinya, sambil menunggu kepastian tanggal UP, saya kembali lagi berkutat dengan bukuuuu untuk mengerjakan bab 4. Nah, karena bab 4 ini berisi objek penelitian, maka oh maka saya pun mau tidak mau, jadian nggak jadian, suka tidak suka, harus membaca buku tentang Singapura. Namun oh namun, mencari buku yang secara gratisan dan gamblang membahas Singapura itu sebenarnya lebih susah daripada mencari buku teori. Bahkan library.nu sebagai kiblat perbukuan elektronik pun sedikit memiliki buku mengenai Singapura yang saya butuhkan. Nah, oleh karena itulah setelah mengalami tempaan dahsyat dari otak, saya pun melirik jawara kehidupan maya, yakni GOOGLEBOOKS!!! Namun seribu sayang, buku di google books ini ngga bisa diunduh secara mudah, langsung, cepat, dan lengkap serta seringnya juga nggak semua halaman yang kita butuhkan bisa kita akses. Hmmmmh.

Aku pun binun.

Tapiiii...

Itu tak lama!

Ahhhhhhaaa!!!

Aku tahu aku harus apa!!!

Kalau masalah nggak semua halaman bisa kita akses, ngakalinnya sih dengan membukanya di chrome, mozilla, explorer, opera, dan lain-lain. Kalau halaman 78 nggak bisa dibuka di chrome, okeee saatnya membuka di mozilla, dan seterusnya. Tapi ini juga untung-untungan sih. Kalau bisa mah jangan dibuka dalam waktu yang bersamaan. Suka nggak bisa keakses juga.

Keduaaaa, untuk mengatasi pengunduhan yang tak mungkin bisa dilakukan, ya pasti pakai greasemonkey sih. Prinsipnya sih si graesemonkey ini mengubah setiap halaman buku ke dalam format jpg. Ya kitanya juga harus menyimpan setiap page secara manual. Saya lupa stepnya gimana pas mau nginstall si greasemonkey. Cari aja sendiri ya di Google. Nah, masalahnya, greasemonkey teh biasanya cuma keinstall di mozilla, padahal saya seringnya buka web dari chrome. Gimana cara ngakalinnya? Hahahaha ini emang agak tidak lebih canggih dari graesemonkey tapi ini berguna. Kalian mainan screen capture aja. Ada key print screen kan di keybord? Nah, pakai itu aja, ntar simpen secara manual. Nah, kalau kalian bingung gimana cara pakai si printscreen, ikutin saya aja pakai photoscape terus pilih screen capture hahaha. Klak klik deh dari sana. Pokoknya screen capture ini sangat berguna kalau kalian mau nyimpen hal-hal yang sulit diunduh. Hasilnya jadi gini,



Dua gambar di atas kalau kalian pakai capture window

Nah, ini kalau kalian pakai capture region



Selain bisa dibuat 'nyimpen' googlebooks, kalau misalnya kalian mau bikin skripsi atau tulisan yang salah satu datanya harus pakai penggalan video, daripada kalian bersusah payah bertindak cerdas macam mengunduh videonya terus memcah video tersebut ke dalam format yang dapat dipecah menjadi gambar-gambar terpisah, mending langsung screen capture aja dari youtube atau videonya gambar yang mau dianalisis. Hahahhaha. Semua juga udah tau.

Gitu deh pokoknya, selamat mengscreen capture yaaaa... :D

Ark.Nov'11

Beberapa Tindakan "Ya Elah-Itu kan-Alay-tapi kok-Masih-Lo-Lakuin"

Oke, menyambung posting sebelumnya tentang situasi membahayakan, sekarang saya mau bikin listing lagi tentang kejadian alay. Eh bay deh weiy kenapa coba akhir-akhir ini tulisan saya banyak yang nyampahnya? Haha. *nanya ke diri sendiri tapi ga nemu jawaban'.

1. Buka YahooNews
Gila, ini kegiatan saking bener-bener alaynya, saya sampai masukin ke peringkat pertama dan ini kali kedua saya sebut sebagai tindakan alay. Buka YahooNews itu serius, deh, wasting time, tapi lama-lama kalau saya pikir-pikir lagi itu tuh sebenernya guilty pleasure. Nah, inilah bedanya saya sama Nadia Saphira. Tahu, kan Nadia Saphira? Itu tuh, kakak tertua saya yang kalau dalam peristilahan Vita sih sedikit lebih beruntung karena memiliki kaki yang jenjang dan materi kecantikan yang disetujui oleh mayoritas pria tajir yang berprofesi sebagai produser.
Saya pernah baca tuh artikel di mana gitu, *yang jelas sih bukan artikel di pamflet Al Islam yang sering muncul di kala hari Jumat di kampus-kampus terdekat*, pas ditanya sama wartawan, "Apa guilty pleasure kamu, Nad?" Nadia jawab, "Makan coklat sambil tiduran di kamar soalnya bikin gemuk tapi itu enak." Sounds sexy, no? Itu kan jenis jawaban yang nggak bakal dipikirkan Grinanda Megantika. Bayangkan, guilty pleasure-nya makan masa? Justru itu satu-satunya pleasure Grinanda. Nah, itulah bedanya saya, Grinanda, dan Nadia Saphira. Guilty pleasure saya tuh baca YahooNews, bukan makan coklat sambil tiduran di kamar! Di tengah kesibukan mengetik Tinjauan Pustaka, saya menyempatkan diri liat YahooNews, merasa sampah banget sama berita-berita itu, tapi saya nggak bisa ngeclose windows saya, malahan setengah jam saya pakai ngetik skripsi, satu jam browsing YahooNews. What deeeeee....!!!!

2. Stalking Kecengan, Kecengan dan Kecengan, dan Kecengan, dan Kecengan, dan Kecengan...
Dulu sih orang bisa bilang udah tenang banget kalau bisa ngelihat genteng rumah si kecengannya. Ih, itu sih dulu, waktu Thomas Alva Edison belum beres bikin lampu buat nemenin Mark Zuckenberg bikin bahasa pemprogaman jejaring sosial yang secara telak mengalahkan friendster, media kita untuk alay di pertengahan tahun 2000-an. Sekarang mah bisa aja sih masih bisa tenang lihat genteng rumah kecengan, tapi ngelihatnya bukan pakai mata kepala sendiri sambil naik sepeda onthel sok-sok tersesat di kampung rumahnya, melainkan pakai teknologi satelit gratisan yang kita kenal dengan nama GoogleMap atau WikiMap. Ahahaha. Engga, saya aslinya nggak pernah melakukan hal tersebut, tapi kalau stalking-stalking akun twiter, facebook, blog, dan YM orang yang bersangkutan sih pernah. PERNAH. Catat itu! Sekarang udah engga lagi soalnya saya melakukan tindakan alay (yang nanti bakal saya bahas juga) yakni meremove, mendelete, dan memblock si target dari semua peralatan elektronik yang saya akses.

Kenapa tindakan stalking ini saya bilang alay? Kenapa ya? Soalnya ya alay aja. Kenapa kita harus tahu dan up date sama keadaan dia padahal dia nggak ada peduli-pedulinya sama kitaaaahhhh, huaaaaa. Hahaha. Itu salah satunya. Masih ada lagi alasan lain. Stalking itu tindakan terlemah kita dalam usaha mencintai orang. Kenapa harus nyari diam-diam? Kenapa harus merasa keren tahu keadaan terbarunya? Kenapa ga langsung nanya sendiri ke orangnya pakai sms, "Haaaaiiii, manis. Gimana kabar kamu hari ini? Kalau ada apa-apa bilang ya sama akkoeh! Akkoeh pasti datangggg." Sepertinya tindakan langsung dan nyata itu jauh lebih baik dan heroik daripada sekedar stalking. *macem bener aja hidup*

3. Mendelete, Meremove, Memblock Kecengan atau Mantan
Alay, nih! Kenapa coba? Harusnya bukan mendelete, meremove, dan memblock dari twiter, facebook, YM, dan nomor kontak, tapi delete, remove, dan blocklah dari hatimuuuuuuuu! Inti move on tuh itu tuhhhhhh. Ah, payah. Lagian nggak ngaruh juga kali buat kecengan kalian kalau kalian menutup segala akses kalian ke mereka atau sebaliknya. Lah, kan masih statusnya kecengan? Dan biasanya kecengan tuh suka mendamparkan kita pada kenyataan cinta bertepuk sebelah tangan, kan? Apalagi kalau itu teh mantan! Mantannya teh mantan karena mutusin kalian, pula! Ya berarti tindakan kalian yang menutup akses itu pasti nggak berguna. Ya iyalah soalnya mereka nggak ngerasa tersakiti dengan kepergian kalian. Justru malah bersyukur kalian pergi dengan kesadaran pribadi. Haha. *ngomong sambil liat webcam*

4. Percaya pada SBA
Udah dibilangin, percaya tuh sama Tuhan aja woyyyy! Jangan pernah percaya sama manusia, apalagi kalau manusia itu memiliki lahan pekerjaan di bagian administrasi bernama SBA dan mereka beroperasi di kampus. Kebanyakan dari kita begitu beres nulis surat permohonan cetak nilai, surat izin penelitian, perbaikan nilai, dan segala persurat-suratan lainnya akan langsung berserah diri pada SBA yang berkuasa kemudian baru mengecek kembali map berisi surat-surat jadi itu sekitar seminggu atau 10 hari setelahnya. Oh, plis, jangan pernah melakukan hal itu! Nggak cuma saya yang jadi korbannya, tapi juga teman-teman seperjuangan saya yang semakin naik semesternya maka akan semakin bergantung pada kemurahan hati SBA dalam hal cetak nilai dan surat menyurat penting. Udah ditungguin seminggu, si nilainya emnag udah dicetak, eh tapi belum ditandatangani PD I. Mannna bisa dipakai untuk daftar UP. Nunggu lagi, kan seminggu lagi. Udah beres nilai, eh surat tugas dosen taunya belom kelar. Katanya sih belum ditandatangani dekan. Padahal tau deh siapa yang paling bertanggung jawab atas hal ini. Pokoknya, jikalau kalian sedang mempersiapkan tahun terakhir perkuliahan, jangan pernah percaya pada SBA.

5. Nonton tivi
Ini setipe nih sama buka YahooNews. Nyampah tapi nyenengin. Guilty pleasure. Biasanya ini paling nikmat dilakukan ketika sedang liburan dan kalian bukan mahasiswa tingkat empat dan seterusnya. Pagi-pagi kalau nggak bisa tidur habis solat subuh, mau baca quran tapi abis solat secara reflek buka mukena, dan mamang bubur atau banros belom lewat, pasti kita nongton tipi. Siang-siang kalau perpustakaan kampus tutup karena alasan libur nasional, kita juga pasti nongton tipi. Sore? Malem? Nah, itu malah waktu-waktu senggang kita, apalagi buat yang jomblo yang ngga bisa ngerasain tengkar sama pacar. Pastilah kita nongton tipi. Nah, pasti juga pilihan acaranya ada lima, kartun Dora, ceramah agama, berita, sinetron, atau infotainment.

Nonton Dora? Sadar nggak sih kalau nonton Dora bagi pemuda pemudi Indonesia itu bisa meningkatkan emosi? Secara kita sudah biasa dilatih berpikir cepat dalam menganalisis dimana Robert Tantular menyimpan aset Bank Century-nya, terus kita harus menghabiskan waktu melihat Dora mau berpindah dari satu jembatan ke jembatan lain harus ngitung dulu berapa buah apel yang berada di atas pohon khuldi? Meeennn!

Ceramah agama? Ini lumayan cukup menggetarkan kalbu, nih. Tapi selama penceramah agamanya bukan alm.Zainuddin MZ atau Quraish Shihab, mending jauh-jauh deh dari tipi. Sekarang tuh ceramah agama bukan sekedar ceramah kali! Kalau boleh ngasih nama, sih gue bilang itu Religitainment. Penceramahnya camera-behaviour gitu masa. Pecicilan, humoris, dan suka menggoda ibu-ibu pengajian. Udah gitu tema yang dibahas juga tema dasar yang diajarkan oleh buku teks anak sekolah. Yah, mana maju pengetahuan agama gue. Menurut lo, jembatan syiratal mustaqim bisa dilewatin sambil kayang ngakak?

Apalagi berita! Apalagi kalau beritanya berasal dari salah satu stasiun televisi yang lo-pasti-tau-gue-ngomongin-apa, emosi kita itu pasti akan terkoyak-koyak, baik dari isi berita yang ga jauh dari keburukan kelakuan manusia, maupun cara presenternya membawakan berita yang lebih pantas disebut sebagai memanas-manasi. Wiiiihhhhh. Bener-bener sulit. Khazanah kita ngga bakal jauh dari gimana caranya berkorupsi secara langgeng dan membunuh gadis yang hamil karena 'kekhilafan' sang pria.

Dan jangan pernah lupakan infotainment! Dari mulai dia mengeluarkan album terbaru, punya pacar baru, punya mobil baru, minum vitamin apa, pergi ke konser sama siapa, berapa ipk-nya, yang anehnya kenapa nggak ada satu pun dari infotainment itu yang membahas bagaimana suka duka sang artis dalam menjalani skripsi, bimbingan, dan sidang? Kenapa infotainment itu bisa menghimpun berbagai berita mengenai si artis dari orang-orang terdekatnya seperti tukang baso langganan, ketua RT/RW, teman hang out, dan mama papanya tapi nggak pernah menghimpun berita dari dosen pembimbingnya? Kenapa para wartawan itu nggak pernah menguak perilaku si artis yang sampai hapal nomor plat dan jenis mobil dosen-dosennya sebagai salah satu syarat mengukuhkan status kemahasiswaannya? Kenapa coba? Kenapa para wartawan itu selalu menggiring kita menuju alam impian jetset padahal si artis itu juga memiliki sisi kehidupan rakyat jelata apabila sudah dihadapkan pada kenyataan akademik.

Kasus infotaiment juga sama kayak kasus sinetron. Kita tuh digiring menuju perjalanan hidup penuh liku-liku seperti anak tertukar dan diculik mafia Hongkong, padahal esensi dari hidup kita adalah SKRIPSI, Sodara-sodara! Kenapa judul sinetron itu harus Putri yang Ditukar? Kenapa nggak Skripsi yang Ditukar? Skripsiku bukan Skripsimu? Kupinang Kau dengan Skripsi? Skripsi dan Khadija? Pesantren Skripsi? Anugerah Skripsi? Sekarang kalian percaya kan kalau sinetron iu memang memiliki tujuan untuk mengalihkan dunia kita dari skripsi? Nah, terus kenapa kalian masih nonton sinetron coba? Ayo, dong, sadari hakikat hidup kalian!

6. Kedistrak sama berita artis
Ini sih pasti banget dilakukan. Sumber dari tindakan alay ini sesungguhnya hanya ada dua di dunia ini, satu Insert, dua YahooNews. Grinanda tuh parah banget masa. Dia itu nggak beres bikin abstraksinya padahal dari pagi dia udah nongkrong di perpus. Tahu kenapa? Karena dia dapet kabar bahwa seorang mantan artis cilik yang dulu membawakan acara cilik kini memutuskan untuk melakukan transgender. Nggak cuma Grinanda, kawan-kawan! Akuilah bahwa sesungguhnya naluri demikian memang ada di dalam jiwa-jiwa kalian yang ingin bebas dari kungkungan kenyataan hidup.

Hahaha. Iya, kan? Pasti kita pernah melakukan hal-hal tersebut sambil tertawa cerah tanpa beban. Nah, itu dia! Itu dia! Itu! Itulah kesalahan kita namun itu jugalah yang membuktikan bahwa kita adalah manusia yang tak pernah luput dari dosa. Yasudah, silakan direnungi, semoga saja setelah ini kita menjadi manusia kauniyah. Amin. Oke, sekian dulu posting tak berbayar ini. Saya mau makan dulu.


Ark. Nov'11.



Raffi

Namanya Raffi, umur sekitar 10 tahun. Dia pintar cenderung jenius dengan daya ingat yang baik namun sayang hanya dalam pelajaran yang dia sukai. Raffi, hampir sama dengan beberapa anak jenius lain, sebenarnya anak yang manis. Hanya sayang, manisnya tidak dia tunjukkan secara reguler dan tanpa syarat, tetapi harus melalui serangkaian proses yang membutuhkan kesabaran dan ketegasan dari orang yang berurusan dengannya. Seringnya, Raffi bersikap manja, egois, kasar, dan pemberontak.

Raffi adalah salah seorang murid saya yang duduk di kelas 5. Sebenarnya tahun ini saya sudah meneguhkan hati untuk tidak lagi mengajar murid SD, apalagi bukan kelas akhir karena saya malas menyiapkan bahan. Sedang banyak urusanlah intinya. Nah, namun berkat sifat hati saya yang lembut cenderung lemah prinsip dan didukung juga oleh rayuan sendu dari Bu Isma, sekretaris cabang Ujung Berung, saya pun menerima program kelas 5 SD setiap Selasa pagi hanya di channel kesayangan Anda.

Waktu pertama masuk ke kelas itu, saya belum bertemu Raffi. Anak-anak yang pada saat itu sudah pulang mudik hanya ada empat orang dan semuanya sangat manis, sopan, berperadaban, pintar, tidak alay, pokoknya sangat cocok untuk dijadikan sampel anak idaman di masa depan. Ada Deka, Alisa, Rizal, dan Desima. Kelas yang kami tempati cukup besar untuk ditempati lima orang, jadi saya membiarkan mereka duduk dimana saja. Kursi kek, tiduran di lantai kek, di sayap kiri kek, di sayap kanan kek. Bebas. Karena mereka juga masih kelas 5, saya juga nggak usah banyak membicarakan hal yang berat dengan mereka. Mereka juga pintar, jadi saya nggak perlu bolak balik menerangkan. Ah, ya, satu lagi, saya juga membebaskan mereka bercerita apa saja sama saya. Dari mulai Bruno Mars, ITB, kakak tiri-adik tiri-ayah tiri-ibu tiri, bebek goreng yang enak dimana, Situ Gintung itu sama nggak kayak Situ Bagendit, kecelakaan alm.istri Syaiful Jamil hingga tragedi Rizal difoto pakai bando dan disebarkan ke seluruh SD pakai bluetooth. Pembicaraan kami selalu berlangsung khidmat dengan diawali dengan doa awal majelis kemudian interupsi ala anggota DPR serta terkadang menggunakan jasa translator. Setiap kali akan berganti pembicara, saya selaku pimpinan sidang juga selalu mengetuk palu setelah berkata, "You may have the floor" ala Sekjen PBB.

Nah, namun kemudian, kebahagiaan kami agak sedikit terguncang ketika Raffi datang. Raffi bukanlah pria biasa yang bisa duduk berjam-jam di pantai Marina Jaya Ancol sambil membawa gitar lalu beringsut ke perumahan Agung Sedayu Grup untuk menyatakan cinta. Bukan sama sekali. Raffi ini menurut Deka *ngadu domba*, adalah anak yang agak mengesalkan karena suka tidak menghargai guru. Alisa, Rizal, dan Desima kemudian berebut menceritakan bukti-bukti empirik yang bisa diajukan kepada KPK dan Mahkamah Konstitusi. Saya hanya bisa berpasrah pada Yang Kuasa semoga kelak suami saya berasal dari golongan yang romantis dan modernis sehingga bisa meminmalisasi ketegangan di dalam ruang tamu dikarenakan memberikan keturunan yang harus melulu saya redakan amarahnya.

Pertama kali datang, Raffi memasang muka biasa saja. Dia hanya diam, mencatat, diam, mencatat, kemudian pulang. Pertemuan berikutnya, Raffi masih demikian. Saya mencoba menyapa, Raffi hanya menjawab singkat, ketus, dan berwibawa. Saya langsung mengira bahwa Raffi yang ini pasti bukan Raffi Ahmad. Ternyata memang benar. Pertemuan ketiga, Raffi mengganggu teman-temannya yang sedang mengerjakan soal. Saya masih menegur Raffi dengan halus, "Raffiiii...jangan, Raf." Nah, tapi anak macam Raffi, sekali ditegur, dua tiga keisengan dilakukan lagi. Mau marah tapi saya sudah makan, jadi saya masih punya pasokan sabar. Akhirnya Raffi saya gendong, saya pangku, dan dua tangannya saya tahan. Kirain Raffi bakal berontak lalu berubah menjadi Iron Man. Eh, ternyata tidak. Raffi sok sok meronta sambil tersipu geli terus bilang, "Iya, nggak akan iseng lagi iyaaa..tapi lepasin. Janjiiiii" Saya masih nggak percaya, "Nggak ah, boong." Raffi sok sok marah tapi ketawa, "Iya janji janji." Saya lihat dia, "Bener?" Raffi mengangguk, "Iyaaaa." Saya lepaskan dan ternyata Raffi menepati janjinya.

Pertemuan berikutnya, Raffi mengacau lagi. Raffi nggak suka pelajaran Bahasa Indonesia jadi Raffi mogok belajar. Raffi mengganggu teman-temannya yang sedang mengerjakan soal. Kontan saja *iye nggak ngutang*, Deka, Alisa, Rizal, Desi marah. Tapi kalau mereka marah, Raffi pasti senang. Jadi saya bikin #kode "Raffinya diemin aja, jangan diwaro kalau ngomong atau ngejek. Biarin aja." Anak-anak nurut. Jadilah satu hari itu menjadi hari Diam untuk Raffi. Eh tapi Raffi nggak menyerah. Raffi ngambek dan tiduran di lantai. tengkurap gitu. Ini emosi nih udah naik. Tapi kalau saya marah, anak ini bisa habis saya makan nih berhubung saya juga belum sarapan. Yasudah saya biarkan dia tiduran di lantai sampai jam pelajaran beres. Masuk angin masuk angin dah deritanya.

Minggu depannya, saya kira Raffi menaruh dendam sama saya. Eh, ternyata tidak! Raffi malah apet tuh seharian itu sama saya. Raffi juga konsentrasi banget sama pelajaran, bahkan lebih rajin daripada Deka, Alisa, Rizal, Desima. Dia juga minta tambah vocab dan soal. Imajinasinya juga jalan waktu dia disuruh bikin kalimat. Kalimatnya benar-benar nggak standar. Karena empat anak lainnya masih mencatat dan belum mengerjakan soal sementara Raffi sudah melesat, Raffi saya ajari sendirian. Eh dia seneng banget. Tutur katanya benar-benar halus, manis, sopan, dan nampak seperti anak kelas 5 SD beneran! Raut mukanya juga ceria. Iya, kayaknya Raffi ini memang hanya akan konsentrasi pada bidang yang dia sukai, orang yang sudah dikenal, dan orang yang memperhatikan dia sendiri secara khusus tanpa terbagi.

Ah, sayangnya saya masih bakal lama lagi ketemu Raffi sejak pertemuan terakhir itu. Sudah satu bulan ini saya nggak ngajar kelas Raffi lagi. Saya ngajar di kelas alumni. Masih bisa sih harusnya ganti hari, tapi saya masih sibuk mengerjakan revisi pagi-pagi. Entah kapan bisa ngajar Raffi lagi. Hmmmm, sudah satu bulan tidak bertemu Raffi, saya tadi baru dapat kabar Raffi. Ternyata Raffi mogok les :( Raffi nggak mau diajar sama yang menggantikan saya. Raffi dendam katanya pengajarnya selalu bentak-bentak Raffi. Hmmmmm. Raffinya katanya nyari saya. Nggak tega juga, sih, tapi ya saya juga gimana juga. Entahlah, jalan keluar sedang dicari oleh sekretaris.

Sayang juga sebenarnya melepaskan Raffi. Anak seperti Raffi itu berpotensial sebenarnya, tapi memang harus pas penanganannya. Kalau nggak pas, Raffi pasti berontak. Kalau udah berontak, mogok, marah, sayang sekali otaknya jadi terbengkalai. Siapa tahu di tangan Raffi nanti ujung tombak diplomasi akan bergantung. Bayangkan apabila gara-gara saya yang nggak bisa ngajar Raffi, dan sekretarisnya belum menemukan jalan keluar, baik mengenai jadwal maupun guru yang pas sama Raffi terus Raffinya mogok sampai kapan tahun, terus bagaimana nasib bangsa Indonesia? Ah, permasalahan Raffi memang pelik sekali bagaikan air di daun talas.


Ark. Nov'11

Black Box

Kata Nuran dalam judul postingnya, yang ia kutip dari seorang pria tambun, berambut kribo *tapi baru cukur rambut dalam rangka lebaran haji*, belum lulus *sama kayak saya sih, tapi dia lebih tua dua tahun daripada saya* yang ketika galau mendatangi rumah Nuran dan akhirnya mereka tidur bersama *terus kenapa isi posting ini jadi berbau koran lampu merah?*, ada beberapa hal yang harus dimasukkan ke dalam keranjang dan jangan diingat lagi. Saya tersenyum. Saya juga punya falsafah seperti itu di dalam sanubari saya yang kadang lapang dan kadang dangkal tergantung dari laju angin dan rasi bintang. Bedanya, saya menyebutnya sebagai kotak hitam.

Ya, dalam hidup memang ada hal-hal yang terlampau pahit untuk diingat. Ada beberapa saat ketika kita lupa dimana menyimpan pasokan maaf. Ada titik ketika kita sudah terlalu jenuh untuk mendengar motivasi Mario Teguh dan Oprah Winfrey mengenai sisi positif dari setiap kejadian. Ada masa sebelum atau setelah kita mengadu pada Tuhan yang kita manfaatkan untuk merasa sesak kemudian membenci meskipun entah membenci siapa atau apa. Ada momen ketika kita langsung ingin menutup telingan rapat-rapat saat ada kenangan menyeruak dan memaksa kita menari di antara masa kini dan masa lalu. Iya, itu ada. Dan karena alasan-alasan itulah sebuah kotak hitam kita perlukan.

Jangan berpikir secara literal kemudian langsung menghubungi gerai AirAsia terdekat untuk memesan kotak hitam. Kotak hitam yang saat ini sedang saya bicarakan adalah sebentuk sugesti yang apabila dicari bentuk geometrinya maka hanya akan tergambar kubus hitam mengkilat yang bernuansa sendu ala natal di Timbuktu bersama gerombolan Siberat tanpa ada ketupat dan opor ayam kalkun. Kotak hitam itulah yang kita butuhkan ketika kita merasa dunia sedang tidak bersahabat dengan kita.

Koran Kompas edisi Minggu, bubur ayam tanpa kacang, teh manis, iTunes, YM, facebook, tuiter, kolam renang, hujan gerimis kecil di antara sinar matahari, dan ..................................... hei, black box i need you...


Beberapa Situasi yang Membahayakan

Saya lagi mencatat beberapa situasi cenderung desperate yang saya kira hanya dialami oleh saya, tetapi juga oleh jutaan pengguna Dove dan kartu Axis lainnya *bukan posting berbayarrr*.

1. Kelamaan jomblo *entah kenapa harus gue taro di peringkat pertama*
Efek : Liat newsfeed ada foto yang bening dikit langsung terkesima dan buru-buru klik kanan open in new tab. Eh, pas udah dibuka profilnya, Yaaaaahhhhh itu kan si X, temen SMA gueeee. Harapan mengeceng pun pupus.

2. Kelamaan cari inspirasi revisi di depan laptop berinternet
Efek : Kalau efeknya cuma jadi silent reader timeline twiter atau news feed fesbuk mah udah biasa banget. Malah itu mah udah jadi reflek. Efek yang paling bahaya karena tingkat derajat penyampahannya adalah Membuka Yahoo News! Damn, kalau internet udah ada di zaman nabi sebelum Rasul SAW, saya yakin pasti Membuka Yahoo News bakal dikategorikan jadi Dosa Kedelapan!! Gimana nggak dosa coba, masa penting banget baca berita macem ginian :

- Selena Gomez dan Justin Bieber Berpisah?
- Sammi Cheng Akui Tubuhnya Kurang Menarik
- Ranbin Kapoor Tidak Miliki Akun Twiter
- Anil Kapoor dan Tom Cruise Jalan di Karpet Merah
*ngetik ini sambil klik kanan open in new tab*

Yang saya bingung itu, tujuan dan ekspektasi si pembuat berita tuh apa, sih sama kita sang pembaca budiman yang dirahmati Allah? Saya aja nggak tahu kapan Selena sama Justin jadian, Sammi Cheng itu artis yang main film apa, terus kalau Ranbin Kapoor punya twiter pun juga nggak bakal saya stalkerin, dan apa coba korelasi antara Anil Kapoor dan Tom Cruise dan apa juga masalah yang hendak disoroti dari berjalannya mereka di karpet merah? Mereka jalan sambil gandengan tangan emang? Ckckckckcck.

3. Terlalu sering mendengar curhat kemudian memotivasi namun keadaan diri juga masih jomblo
Efek : Nggak ada legitimasi untuk dapat dipercaya. Iya loh, maksud hati mau bantuin temen yang lagi galau, lah malah diejek balik dan diungkit-ungkit lagi luka galau yang sudah kita coba untuk tegar-tegarkan. Kejadiannya kayak gini,
X : Lo kemaren curhat yak sama si D?
Y : Kaga, orang kemaren gue lagi curhat sama si E, eh si D ngedenger. Ikutan dah dia.
X : Yaelah. Ngomong apa dia? Macem udah bener aja hidupnya. Hahaha.
Y : Ah, si D mah emang sensitif kalau udah denger soal cinta. Bawaannya pengen ngasih motivasi aja kalau lagi ada yang galau. Padahal kemaren serius deh gue itu curhatnya sama si E.
X : Ah, elu juga. Tau kalo si D sama E sama-sama begitu nasibnya. Nolong diri sendiri aja susah, mau nolongin orang.
Y : Ya kan lumayanlah buat ngasih dukungan moril dan penguatan batin.
X : Mereka mah teori kuat, implementasi kurang. Percuma cerita ama mereka.

4. Kebanyakan bilang Babi dan Monyet
Efek : Nggak bisa bedain nama-nama binatang lainnya. Misalnya nih, ada kecoak terbang, pasti langsung bilang, "Ah, babi nih kecoak!" Lah, kan bingung, jadi apa yang terbang? Babi atau kecoak?

5. Jarang ketemu temen satu geng zaman SMA tapi begitu dia ngesms, udah ngundang ke wisudaannya.
Efek : Insecure sehingga cenderung menggunakan 'bahasa halus' untuk meraba keadaan teman segeng lainnya. Contoh kasusnya, brooooo....

X_Y (invis) : Heh, maneh! Rek datang moal ka wisudaannya si retro? Siapa aja yang wisuda?
A_B : Kyaaaaaaaa, sejak kapan kita berteman di YM?
X_Y : Udah dari SMA kali ah. Dateng ngga?
A_B : Dateng kayaknya dateng. Yang wisuda? Ya si retro hungkul lah. Masa guweh.
X_Y : Hehehe, baguslah. Sebenernya si saya cuma mau nanya secara halus, "Maneh geus lulus can?"
A_B : Hahahhaha. Gablek. Anak gila. Eh, si M tau nih ikut atau engga. Ada dia ol, tapi YM blom dibales.
X_Y : Wah jangan-jangan dia udah lulus
A_B : Asa belom da. eh, bentar, ni dia bales nih.
X_Y : Naon katanya?
A_B : Walahhhhh, ngga bisa dateng cenah, data untuk TA-nya gagal cenah jadi kudu ngulang lagi.
X_Y : Hmmm...
A_B : Kalau begitu pesan moralnya 1, cuy.
X_Y : Naon
A_B: Kalau gitum, bener. Si eta ge can lulus siga urang. NYahahahhahahhahahaha.
X_Y : Wakakakkakakakkakak. Kesimpulan yang bagus! Aluslah can lulus, urang aya batur.


Masih ada lagi, tentunya, tapi sayang sekali saya sudah ngantuk maksimal. Jikalau demikian, nanti kita sambung kembali :D

Skripsi


Saya paling deg-degan kalau sudah menemukan satu nama muncul di layar hape saya, baik sebagai sms maupun telepon, dan notifikasi email saya. Bayangan revisi langsung menyalak-nyalak. Mungkin juga saya kurang lengkap dalam berdoa. Harusnya saya jangan cuma berdoa dapat tanda tangan acc, tapi juga berdoa supaya otak saya bisa berpikir dengan tepat sehingga tidak perlu banyak revisi. Hehehe.

Kejadian paling baru ya tadi siang. Saya lagi merevisi kerangka analisis saya di perpus. Nah, berhubung jam sudah menunjukan pukul 14.15, saya siap-siap turun dari perpus karena ada jadwal ngajar pukul 15.00. Eh, baru saja saya mau sign out YM, tiba-tiba ada notifikasi. Si Ibu *begitu saya biasa memanggilnya* ternyata mengirim DM. Wah, feeling udah nggak karuan, nih. Pas saya buka DM, benar kannnnnnnn.....

"klo gedung mall aja DestBrandingnya jadi kabur ya.klo gitu artefaknya ditanbah iklan2 d media cetak, board n internet meng mal spore!"
Nah, loh Rik. Hmmmm, saya urung beresin laptop dan segala aksesoris. Otak langsung mikir. Apaaaa coba ya ini harus balas apa. Lama mikir, saya balas dengan beberapa DM lagi *iyalah, masa sama doa*
"mmm,berrati proses dest,barndingnya sdh dimulai sejak khalayk masih berada di rumah ya bu? kl begitu, artefak meng iklan,terutama situs dest.branding spore diletakkan di aspek Tourism pencitraan brilliance dan benignity karena situs tsb melayani fungsi turisme dan memiliki citra brilliance dr teknologi internet utk mengakses spore serta citra benign dr kemudahan yg ditawarkan kpd turis (turis bs memesan pesawat,hotel langsung dr situs tsb). apa seperti itu bisa bu?"
Karena saya harus berangkat mengajar dan saya nggak bawa modem, jadi pembicaraan terputus, tuh. Pas magrib saya pulang dan tersambung dengan internet, saya baca balasan Ibu. Rasanya benar-benar bikin berpikir.

"Wiih jangan meluas, artefak itu yg ada promosi turisme mall aja.."
"Bisa! Selain artfeak di tanbah, metodeny juga. Krn media iklan cetak n situs internt itu tdk usah disemiotikkan!"
"Bagaimana dest brand spore dlm mempromosokan citra turisme mallnya di situs internet dan media iklan? Ini pertanyaan per1"
Penjelasan Ibu makes sense, sih. Malah cenderung melegakan. Kebayang aja kalau saya juga harus mengkaji iklan destination branding pakai semiotika. Tapi tapi tapi tapi, ini bukan persoalan sederhana. Nggak cuma tentang menambah rumusan permasalahan dan metode saja, tetapi juga heuhueheuheu menambah bab 1, bab 2, dan bab 3. Tahu artinya menambah? Artinya adalah membaca, berpikir, merenung, cari celah rombakan, mengetik, dan sebagainya. Jhahahaha.

Nggak apa-apa, sih. Saya juga sebenarnya menyadari dan paham memang harus dibegitukan. Saya tahu ada sesuatu yang agak miss gitu dari yang saya kerjakan. Hmmm, tapi memang sensasi deg-degean kalau dapat notifikasi dari Ibu itu nggak tertandingi. Hihihihi. Tapi ya kadang-kadang saya iseng aja mikir. Ini kenapa subhanallah sekali apa yang selama ini saya kerjakan. Oh iya, sini deh saya copy-kan screenshot folder draft skripsi saya, deh.




Hahaha. Jadi, siapa bilang saya nggak produktif menulis setahun ini? Pfuiiihhh, produktif kaliiiiiii. Ikikikikikikikikikik. Tapi serius, deh, kadang saya nggak habis pikir kenapa ya di dunia ini ada orang macam Iqra Anugrah yang dalam waktu 5 tahun udah mau dapet 3 gelar padahal umurnya kayaknya setahun di bawah atau agak-agak sebaya sama saya. Hmmm, 1 S1, 1 S2, dan 1 S2. Nah, saya? Pfuiiiihhhh.

Eh, tapi kalau dalam satu semester depan ini saya bisa menyelesaikan skripsi bab 4, 5, 6, dan 7 saya, sih, saya beneran bakal seneng banget dan dapet banget feel jadi sarjana penuh darah, keringat, dan air matanya. Iya loh, saya baru nyadar, kalau rumusan permasalahan saya nambah satu, berarti saya harus nambah 1 bab pembahasan lagi. Nggak mungkin kalau saya masukkan dalam satu bab saja. Masalahnya adalah, rumusan permasalahan poin 1 yang tadi baru dikemukakan Ibu, itu anaknya ada tiga, walaupun memang penelitiannya secara deskriptif. Nah, rumusan permasalahan lama yang sekarang jadi ke nomor 2 itu sudah punya sembilan anak. Iya ada sembilan benda dari mal Singapura yang nantinya akan saya analisis dengan semiotika. Iyaaaak, banyak juga euh. Hmmmmh, baiklah. Lets fight!



3 tahun

Tepat November 2011 ini, saya sudah tiga tahun mengajar di Ganesha. Harusnya momen tiga tahun ini biasa saja, sampai akhirnya saya beberapa kali terkesima disapa murid yang mengaku dulu waktu mereka kelas empat SD, kelas enam SD, kelas dua SMP, kelas 3 SMP juga diajar saya.

X : Hai, Bu Festy :)
Saya : Kok tahu nama aku?
X : Kan dulu saya waktu kelas xxxxxx pernah diajar Ibu :)
Saya : Ooooyaaa?
X : Iya, Bu. Kelas aku di ruang F itu. Masa Ibu lupaaa? Kelas aku kan ribut bangettt.

Saya kemudian berusaha mengingat-ingat masa ketika saya masih jadi 'junior' atau anak bawang yang belum punya jadwal tetap di cabang-cabang populer, masa ketika saya masih kemana-mana naik angkot, masa ketika saya harus mengajar di cabang yang paling jauh di ujung dunia yang hanya bisa dicapai dengan ojek, itu pun jam enam sore ojeknya sudah habis sehingga saya terpaksa nebeng motor seorang sekretaris yang dijemput suaminya *damn, dari dulu gue jomblo*, masa ketika saya harus berjuang menjadi diri saya sendiri di antara kuatnya bayangan guru senior yang saya gantikan di mata murid, masa ketika saya masih belajar menguasai materi dan menganggap bahwa diktat adalah kitab suci yang ajarannya harus selalu ditaati, masa ketika gaji saya zaman dulu masih setara dengan insentif saya sekarang, dan masa ketika saya baru putus *masiiiihhhh dibahas*.

Tiga tahun. Yah, cepat sekali waktu berjalan. Anak kelas empat SD sudah menjadi murid kelas 1 SMP, kelas 6 SD sudah menjadi kelas 3 SMP, dan kelas 3 SMP sudah menjadi kelas 3 SMA. Saya? Saya ketika itu masih semester 2 atau 3, dan sekarang sudah semester 9 dan proposal UP saya baru diacc, itu pun masih ada beberapa bagian yang harus diperbaiki. Hehe. Nasib juga masih single-single aja. Bedanya, sekarang saya udah naik motor jadi nggak usah khawatir ojek lagi.

Mengajar?

Kenapa saya harus mengajar?

"Oh, Bu Festy anak HI, toh. Kok ngajar, sih? Kan HI nggak ada hubungannya dengan ilmu keguruan."

Mungkin maksud dia care, tapi entah kenapa saya menganggapnya nyinyir. Maunya, sih saya semprot, "Menurut loooooooooo?" tapi saya ingat, kata ustad itu dosa. Lagipula, wajar juga, sih dia nanya seperti itu. Jangan-jangan saya memang aneh.

Keinginan untuk mengajar sebagai pekerjaan sampingan kuliah itu memang sudah menjadi target saya sejak masih sekolah. Ibu saya juga dulu begitu waktu masih mahasiswa. Bapak saya juga. Bedanya, kalau ibu saya mengajar les pelajaran secara privat, bapak saya melatih Kempo di kampusnya -Widya Mandala-, ITS, dan Unair (mungkin kalau dikonversikan di Bandung sih semacam Unpar, ITB, dan Unpad), dan saya setelah melalui serangkaian tes, termasuk tes kecantikan dan ketenaran, mengajar di institusi bimbingan belajar. Alasan lain juga buat menapaki 'tahap selanjutnya'. Mmmm, dari SD sampai SMA kan saya suka ikut lomba menulis dan mengirimkan tulisan ke media massa, tuh. Ya, saya pikir, mau sampai kapan saya jadi peserta? Saya juga harus membagi ilmu. Nah, itu alasan kenapa saya mengajar Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bidang yang paling dekat dengan dunia tulis menulis yang sudah saya geluti bertahun-tahun.

Berjalan sekitar enam bulan, saya mencoba mengajar Bahasa Inggris. Awalnya saya masih takut mengajar Bahasa Inggris. Hmmm, tapi pada akhirnya saya beranikan. Modal saya sih waktu itu adalah sudah terlalu sering baca bahan tugas yang semuanya berbahasa Inggris dan mengingat-ingat lagi materi dalam buku-buku mengenai grammar yang segrammar-grammarnya grammar yang dulu saya jadikan kitab hadis saat menjelang SPMB. Ya sejak saat itu saya mengajar dua mata pelajaran, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Mmmmmm, oiya, mengenai metode. Persis seperti yang dibilang guru iseng tadi, kok saya mengajar sih, padahal HI ngga ada nyambung-nyambungnya sama ilmu keguruan. Ya, memang sih, saya nggak belajar metode pengajaran, menurut lo aja gue dapet mata kuliah How to Teach in Realism Way, tapi saya malah merasa bahwa justru itu kelebihan saya. Saya jadi nggak terbebani dengan begitu banyak metode sehingga menciptakan jarak antara saya dan murid saya di dalam kelas. Ya, tapi bukan berarti juga pengetahuan mengajar saya kosong banget, sih. Apa gunanya coba sekolah dua belas tahun kalau nggak bisa mengingat-ingat cara guru kita mengajar kita zaman sekolah? Apalagi waktu zaman-zamannya kita masih jadi murid dan ikutan bimbel atau les bahasa, ya pasti masih nempellah ingatan kita mengenai cara mengajar orang bimbel dan les gimana. Lagipula, bagi saya, bedakan juga sih antara mengajar di kelas dan di bimbel. Ekspektasi bocah-bocah akan bimbel itu sih ya penyegaran akan cara penyampaian materi. Cara-cara formal mah cuma cocok dipake di sekolah. Kriteria pengajar bimbel ya orangnya harus menyenangkan, bisa dibuat curhat, hobi ngegosip, up date sama pergerakan dunia remaja, gaul, modis, tenar, cakep, bisa menertawakan dan menoleransi kemalasan, kebodohan, kegalauan, dan beragam penyakit sosial masyarakat berusia ABG, ya pokoknya kalau kalian melihat Putri Indonesia atau L-Men of the Year, ya itulah sosok gue dan laki gue di masa depan, eh maksudnya guru bimbel. Pesan moralnya, sih, satu, jangan sombong jadi sarjana keguruan *masiiih keseeel*.

Ah, sudah tiga tahun. Cepat sekali ya?

Hmmm, tapi tiga tahun ini juga sebenarna stagnan. Saya selalu mendapat tema yang sama dalam interaksi saya dengan murid-murid saya. Cinta, galau, selingkuh, teman makan pizza eh teman makan teman ding, cinta lokasi, putus lokasi, kedewasaan yang agak karbitan, romantisme picisan, sindir-sindir tersipu, nilai TO jelek, UAN banyak bocoran, passing grade ketinggian, mencontek massal. Ada juga preman sekolah yang selalu hormat sama saya, lalu jangan lupa juga omongan mesum khas anak SMP yang baru mengenal bokep dan masih menganggap bab Reproduksi di pelajaran Biologi adalah hal paling istimewa dalam sejarah sekolah yang kemudian berakhir dramatis dengan ancaman bahwa saya nggak akan mengajar mereka lagi kalau mereka masih membicarakan hal mesum di kelas saya dan di tengah anak-anak cewek. Hmmm, sesekali saya juga curhat sama mereka dan mendengarkan sudut pandang mereka yang begitu polos, tulus, dan cerdas. Dan, ah, iya, satu hal yang waktu dulu bikin saya move on adalah mereka. Saya nggak pernah nggak hilang bete setiap kali saya pulang ngajar. Selalu ada hal baru yang menyenangkan yang bikin saya segar kembali.

Tiga tahun ini, tentu nilai uang yang saya terima setiap tanggal 1 meningkat daripada zaman-zaman dulu. Tapi, bukan dari situ nampaknya kebahagiaan saya yang utama berasal. Mereka. Mereka yang menjadi sumber kebahagiaan utama saya :)

Quote

Bumi itu bulat. Sejauh apa pun kita berlari, kita pasti akan kembali ke tempat semula.

Quote

Pada suatu ketika, kesombongan itu pasti akan runtuh. Apalagi bila kesombongan itu dibangun di atas pondasi yang tidak terlalu kuat

november

November.

Ah, sudah bulan November. Bulan depan sudah Desember, kemudian Januari 2012. Tahun sudah akan berganti dalam jangka waktu 2 bulan lagi.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya ceritakan pada bulan November ini. Pokoknya otak saya udah penuhhhhhh. Bulan November ini sahabat saya dari kelas 2 SMA, seorang anak retro dengan muka jadul, Astrid Putri Paramita diwisuda. Ah, waktu berjalan cepat sekali, bukan? Saya masih ingat saat-saat kami galau di kantin gara-gara soal Matematika dan Fisika, dan eh sekarang Astrid udah diwisuda aja jadi Sarjana Sains. Fransis juga. Gadis cantik dan unyu ini juga sudah diwisuda jadi Sarjana HI. Ah, senang sekali. Bulan November ini juga tepat tiga tahun saya mengajar di Ganesha. Pantesan bos saya udah bosen liat muka saya dan belum lulus hihihihihihihihi. Terus, bulan November ini juga saya akhirnya dapat acc UP dari dosen pembimbing saya meskipun barusan saya dapat DM di twiter katanya kerangka analisis saya masih salah. Ngga apa-apalah, habis ini saya ke kampus. Mmmm, bulan November ini juga empat tahun lalu saya jadian wakakakakakakaka dan entah kenapa, kebetulan juga, beberapa hari lalu si orang yang dulu saya sayangi itu ngechat saya di YM malam-malam padahal biasanya engga pernah sama sekali. Ah, tidak CLBK kok saya, cuma geli aja, momennya pas. Pada bulan November ini juga saya dapat pelajaran sesekali harus rela menyerah dan menerima kenyataan bahwa dalam hidup, ngga semua yang benar, sahih, dan logis akan menang. Terus juga saya dapat satu kesimpulan lagi bahwa kadang kita bukan kalah oleh satu hal besar, melainkan oleh satu hal kecil. Mmmmm, dan oya, saya juga harus belajar menghilangkan kebiasaan dan meluruskan niat.

Apa lagi ya?

Ya, pokoknya nanti kalau ada waktu, saya bakal memposting semua isi otak saya pada bulan November ini, deh. Sekarang saya mau ke kampus dulu. Dadahhhhhhhh.

Berhenti Sejenak

Terkadang, untuk mendapat sebuah jawaban atau meraih sebuah impian, kita melakukan banyak cara yang kebanyakan menguras tenaga kita hingga kita merasa nggak tahu lagi harus ngapain. Kita mau menyerah tapi tanggung juga mengingat semua perjuangan yang sudah kita lakukan. Seperti yang sudah saya bilang dalam posting sebelumnya, ya mungkin itulah saat untuk kita berhenti sejenak. Berhenti, berpikir, merenung, dan menarik nafas. Bima bilang sama saya kalau kita juga harus belajar menyerah. Belajar bilang sama diri sendiri, "Nya nggeuslah, rek kumaha deui?" Menurut Bima, bahkan Napoleon pun pernah menyerah. Tapi kata Bima jangan anggap juga belajar menyerah itu adalah sebuah kekalahan. Belajar menyerah itu adalah strategi. Strategi untuk menang. Nggak apa-apa kalah di pertempuran (battle) demi memenangkan perang (war). Hidup kan pada dasarnya perang, jadi jangan sampai demi memenangkan satu pertempuran, kita memforsir diri sendiri sampai akhirnya kita kalah dalam perang yang sesungguhnya. Bima juga mencontohkan pertandingan bola. Biasanya, seorang pelatih akan memutuskan untuk membiarkan timnya kalah saja ketika melihat salah satu pemain topnya hampir cedera. Pelatih itu akan memberikan waktu istirahat bagi pemain-pemain terbaiknya agar dalam pertandingan yang lain mereka menang.

Berhenti sejenak. Istirahat. Tarik nafas.

Kata Bima dan kebetulan sering saya alami juga, di titik itu malah kita akan mendapatkan hal-hal yang tidak terduga. Tuhan justru memberikan jalan yang luar biasa mudah dan indah ketika kita sedang terdiam. Jalan itu kemudian menjawab semua kebuntuan yang kita rasakan. :)