Balada Copy Paste

Wednesday, February 22, 2012

Ada seorang murid yang dalam dua kelas saya, nilainya sangat baik dan beberapa hari lalu, dia minta tolong pada saya untuk memeriksa tugas esai dari sekolahnya. Saya baca sejenak esai yang ia tulis tangan tersebut dan yes, saya terkesima sekaligus bangga karena esai itu sangat sangat bagus. Bayangkan, seorang anak SMA bisa berbicara mengenai hegemoni budaya. Serius, dia menulis hegemoni budaya, suatu istilah yang baru saya dapatkan di semester tengah dan baru saya pahami saat saya semester enam di mata kuliah Studi-studi Budaya. Saya nggak punya pikiran buruk saat membaca esai itu, apalagi esainay ditulis tangan. Saya pikir, ini anak bacaannya gila banget, sih hebat. Saya malah berpikir, pantas saja nilai pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dia sangat baik, lha wong bahasanya sudah begini hebat.

Hmmm.

Namun dengan berat hati saya harus menarik kebanggaan saya tersebut dan menggantinya dengan perasaan sedih. Sedih beneran sedih. Ah, sedihlah pokoknya.

Setelah saya baca secara skimming untuk melihat apakah strukturnya sudah benar atau belum, saya mulai membaca dengan agak mendalam untuk memahami substansinya. Di awal-awal paragraf, saya mengangguk-angguk. Substansinya luar biasa. Nah, di paragraf tengah, saya mulai mengernyitkan dahi. Ada beberapa paparan yang ia kutip dari ahli tapi tidak menggunakan footnote ataupun running note. Tapi di situ saya masih menganggap dia hanya lupa saja. Saya bilang, "Nanti ini pakai running note ya, jangan lupa ditulis di daftar pustaka." Dia jawab, "Wah, harus pakai daftar pustaka, Bu?", saya jawab lagi, "Iya, dong, ini kan kamu pakai kutipan dari orang, jadi harus disebutkan sumbernya." Dia diam saja saat itu.

Saya baca lagi, baca lagi, baca lagi, dan saya masih merasa tulisan dia bagus. Karena tulisannya bagus, saya puji lagi kan, "Wah, serius nih, bagus banget poin-poin kamu. Bagus beneran bagus." Entah mungkin saya yang suudzan, tapi waktu saya puji itu, ekspresi mukanya sama sekali nggak bangga, dia malah nunduk.

Saya baca lagi..baca lagi..baca lagi..kemudian saya mengulangi lagi bacaan saya dari awal. Nah, di situ saya menemukan kejanggalan. Strukturnya yang sangat sempurna, dari mulai EYD, klausa, dan koherensi-kohesivitas antarkalimat dan antarparagraf serta kutipan-kutipannya, mau nggak mau membuat saya curiga. Saya percaya dia pintar, tapi kalau saya perhatikan, kutipan yang ia gunakan sama sekali bukan kutipan yang dipergunakan untuk memperkuat pendapatnya akan tema yang ia angkat dalam esai, melainkan kutipan yang ditempel karena sudah satu paket dalam satu tulisan. Bingung? Maksud saya, dia meng-copy paste seluruh tulisan itu. Saya recheck lagi sampai akhirnya saya yakin bahwa iya, itu bukan tulisannya, itu tulisan orang lain.

Dan hmmmm, entahlah saya sedih.

Saya nggak tahu siapa yang salah.

Mungkin dia nggak salah karena dia nggak tahu apa itu copy-paste. Mungkin dia nggak salah karena sebagai anak SMA, gurunya nggak ngasih pemahaman mengenai seperti apa sih esai. Giliran sudah masuk musim ujian praktek, barulah seluruh murid diminta membuat esai dengan asumsi bahwa membuat esai itu semudah merebus air di rice cooker. Guru itu lupa bahwa membuat esai bukan sekedar membuat tulisan dengan struktur yang efektif, melainkan mengomunikasikan gagasan hasil olah pikir yang tentu tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai EYD dan Kalimat Efektif, tetapi juga pemikiran mendalam mengenai suatu isu. Oke, mari menyetujui bahwa menulis itu sama sekali bukan soal bakat, tapi latihan. Tapi latihan apa? Latihan membuat Kalimat efektif? Latihan menjadi Editor EYD? Bukan, kan? Latihan yang dimaksud entu latihan berpikir, latihan analisis, latihan memahami suatu isu, latihan membuka pikiran, yang semuanya tidak mungkin dibebankan pada beberapa jam pelajaran Bahasa. Ketika membuat esai itu menjadi tugas wajib, jelas kelimpunganlah anak-anak. Dorongan untuk mendapat nilai pun membuat mereka mengambil jalan pintas, mengambil karya orang lain dengan banal kemudian mengklaim karya itu sebagai karya sendiri. Mungkin guru-guru itu antara tahu dan pura-pura tidak tahu perihal copy paste itu. Mungkin kalaupun mereka tahu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi di situlah letak fatalnya. Anak-anak ini pun akan menganggap bahwa copy paste itu adalah tindakan wajar bila kita dipaksa deadline mengerjakan sesuatu yang tidak kita pahami. Mereka juga terbiasa untuk tidak berlatih berpikir. Dan akhirnya, proses pendidikan di sekolah pun hanya akan mencetak manusia-manusia yang gemar mengambil milik orang lain demi keuntungan pribadi.


Ark.Feb'12.


Beberapa peristiwa yang saya lihat akhir-akhir ini semakin membuktikan disertasi dosen pembimbing saya mengenai Selebritas. Jumat lalu dosen saya sempat mengobrol banyak dengan saya mengenai isi disertasinya, tapi karena saya saat itu belum ingat sama hal yang saya rasakan hari ini, jadi saya perlu ngobrol lagi sama Ibu supaya apa yang saya tulis bisa tertangkap dengan agak lebih jelas. Hehe.

Saya lagi sering mendapati dua tipe orang yang sangat melelahkan untuk dilihat, yakni orang yang menganggap dirinya selebritas dan satu lagi, orang yang mereyakan keselbitasan selebritas hingga seolah-olah menjadikan si selebritas itu sebagai juru selamatnya, yang kalau nggak ada si seleb itu, maka mereka akan tersesat di dalam neraka dunia dan neraka akhirat.

Membahas sosok pertama, yakni selebritas, yang batasan kata "selebritas" sendiri sudah tidak hanya mencakup musisi atau aktor, tapi pada semua orang yang merasa memiliki pengetahuan lebih. Mereka adalah pemuda berusia pertengahan 20 hingga pertengahan 30 tahun yang memosisikan diri mereka sendiri sebagai sentral perhatian, yang dengan pendapat-pendapat yang mereka gulirkan ke publik dengan balutan citra-citra brilliance yang mereka atur, tata, dan klaim sendiri, mereka berusaha membentuk preferensi publik bahwa mereka adalah agen yang benar, yang perkataannya tidak hanya pantas untuk didengarkan, tetapi juga dirayakan. Dengan citra brilliance yang mereka gulirkan tersebut, mereka juga memersepsikan dan meletakkan dirinya sebagai sosok teladan, sosok contoh, dan juru selamat. Bagi saya, persepsi mereka mengenai dirinya sendiri merupakan fenomena yang unik bila dikaji dari pemaparan Vuving mengenai cara soft power bekerja. Vuving memang menyebutkan bahwa brilliance akan menghasilkan admiration dan peneladanan. Akan tetapi, proses pengidolaan dan peneladanan yang dimaksud Vuving lebih banyak terjadi di benak khalayak. Agen hanya memperlihatkan sisi brilliance-nya kemudian membiarkan khalayak menilainya dan membuat persepsi. Lain halnya dengan mereka. Mereka tidak memancing khalayak untuk mengidolakan dan meneladaninya secara diam-diam, tetapi justru secara aklamatif memosisikan dirinya sebagai agen yang patut diidolakan dan diteladani. 

Kemudian, pertanyaannya, whyyyyy?

Kenapa pada masa kini muncul sosok-sosok demikian? 

Kalau begitu, kita masuk ke golongan kedua, yakni golongan yang preferensinya mudah terkonstruksi dan gemar merayakan hal-hal yang dikonstruksikan "ih-wow-anjrit-ini-gue-banget". Yes, keberadaan gologan pertama tadi sangat didukung oleh keberadaan golongan kedua. Keberadaan golongan kedua ini juga nggak bisa dilepaskan oleh perkembangan konteks sosial di sekitar kita, yakni perkembangan masa fordist menjadi postfordist dan masa modern menjadi postmodern yang membuat proses produksi tidak lagi mengandalkan barang, tetapi jasa, yang jasa ini pun tidak ditujukan untuk konsumsi massal, namun tersegmentasi menurut status dan kelompok sosial tertentu. Konsumsi jasa yang tersegmentasi ini jelas perlu karena dalam masa ini pun masyarakat sedang kehilangan representasi. Mereka butuh pengakuan bahwa mereka adalah anggota dari kelompok tertentu. Ah, ya, kenapa juga mereka butuh representasi? Saya belum menemukan artikel penguat pendapat saya, tapi bagi saya, ini sangat berkaitan dengan perkembangan globalisasi yang membuat mata kita terbuka atas berbagai kegiatan orang-orang di seluruh dunia, dari yang penting semisal kelaparan di Afrika sampai yang ngga penting kayak "Ya ampun, hati gue tergetar banget habis baca Soe Hok Gie"; "Fakyu buat si X yang pacaran di depan dekanat!"; "Alhamdulillah, hari ini bisa beli tas Prada seri terbaru di ION Orchard pas lagi Great Singapore Sale," dan nggak cuma Twitter dan Facebook sih, pastinya. Bahkan tabloid gosip, tabloid religik, koran politik, dan YahooNews juga ikut andil dengan memberikan penggambaran mengenai sosok orang lain di luar sana yang membuat kita terkena penyakit hati. Ah, yes, saya rasa pelajaran Agama kelas 1 atau 2 SMP yang bab Penyakit Hati itu perlu ditambah, deh. Nggak cuma syirik, ujub, dan takabur, tetapi juga krisis representasi.

Nah, itulah sebabnya sekarang lagi menjamur jasa motivator, jasa asupan religius, dan jasa nasihat cinta yang tujuannya memberi tahu siapa diri kita dan kelompok apa yang cocok untuk kita. Jangan lupa juga, sekarang lagi musim pengidentifikasikan diri melalui kelompok tertentu, macam "gue-islam-jenis-x-dan-elo-jenis-y-so-mending-lo-gue-end" atau "gue-galau-x-elo-galau-y-dan-plis-ya-galau-lo-itu-inferior-dan-hina-dibanding-galau-gue" yang di antara dialog-dialog kedua kelompok itu diselipi juga nilai penajaman gap antargolongan.

Akibat dari perkembangan masa posfordis dan posmodern ini ya tentu saja perkembangan budaya selebritas dan konsumerisme. Agen yang menjadi selebritas terus-menerus memberi jasa sebagai representasi juru selamat, sedangkan khalayak terus-menerus terkonstruksi untuk mengonsumsi jasa mereka demi memenuhi kebutuhan mereka akan representasi, "Siapa sih diri saya? Termasuk kelompok apa saya?" Kehidupan kita pun dipenuhi,disergap, dan dikelilingi oleh beragam citra yang batasannya dengan realita sangat tipis dan bias sehingga kita pun menganggap citra tersebut sebagai identitas kita yang sesungguhnya. Paradoksnya lagi, dalam proses serah terima citra pada tarik-menarik selebritas-konsumer, khalayak ini seolah-olah sudah menjadi sosok yang berbeda dan superior di antara orang-orang di luar kelompok mereka. Mereka seolah-olah sedang menikmati tuhan, cinta, dan keyakinan yang benar, yang sesungguhnya, dan dengan dekat, padahal kebenaran yang hakiki mengenai Tuhan, cinta, dan keyakinan mereka masih berada di ruang lain yang entah dimana, yang justru semakin jauh ketika mereka merasa sedang dekat. Kenapa bisa jauh? Ya, karena konsep tentang tuhan, cinta, dan keyakinan yang disusupkan kepada mereka hanya sebatas komoditas jasa yang fungsinya hanya sebagai media agar para selebritas itu mendapat keuntungan. Di situlah simulakra atau kesemuan itu terbentuk. 

Pada akhirnya, dengan mengonsumsi nilai-nilai yang dibawa oleh selebritas, kita sebenarnya bukan sedang didekatkan pada tuhan atau cinta, tapi pada kekuasan dan kapital yang diinginkan oleh selebritas. Tuhan atau cinta yang sebenarnya tetap berada di tempat yang tidak terjamah, padahal bisa jadi keduanya berada di hati kita, hanya karena kita terlalu sibuk mencari representasi akan diri kita, kita melupakannya.

Ark.Feb'12

Personifikasi

Monday, February 20, 2012

Saya lagi ngakak dan geleng-geleng kepala, deh habis ngetik salah satu subbab saya tentang Personifikasi Brand Singapura. Baca deh pasti kalian jadi punya pikiran yang sama kayak saya. Haha. Hina aja saya, tapi saya punya alasan logis kok untuk men-deny suara-suara di hati saya dan tentu saja men-deny kaliaaaann. Hahaha.

Ah, iya, sebagai preambule, personifikasi brand itu bisa dibilang merupakan citra dalam bentuk persona atau orang yang mampir di bayangan kita setelah kita mengamati suatu brand, yang dalam hal ini adalah brand negara. Personifikasi ini lahir dari interpretasi kita atas cara negara menceritakan dirinya, baik dalam bentuk kata-kata maupun pembangunan fisik. Setahu  saya sih persona ini sexless dan genderless alias nggak usah dikaitkan sama jenis kelamin dan gender apapun. Tapi berhubung kita kalau lagi ngomongin orang itu nggak bisa nggak lepas dari konstruksi tentang jenis kelamin dan gender, makanya si persona ini selalu digambarkan dalam bayangan laki-laki atau perempuan. Dari yang saya lihat di tugas-tugas mata kuliah THI adik kelas saya, umumnya, kalau lagi membicarakan negara atau kota, mereka menggunakan persona perempuan. Perempuannya juga yang lemah lembut, ramah, kemayu, halus, manja, dan lain-lain yang kalau ditilik-tilik sih karaketristik saya bangetlah.....hahhahahahah *tertawa garing*. Nah, karena hampir semua tulisan yang saya baca itu mengaitkan persona kota/negara dengan perempuan, saya pikir saya juga bakal memersonakan Singapura sebagai perempuan.

Tapi semua itu tidak terjadi, Saudara-saudara!

Singapura memang terkenal sebagai surga belanja, yang kalau diiklankan di koran sih pasti menampilkan wajah dua perempuan cantik yang tersenyum cerah menenteng tas kertasnya. Harusnya saya juga mikirin itu kaaaannn? Nyatanyaaa engggaaaa....Faktor pertama mungkin  karena saya tahu bahwa senyum perempuan itu palsu, apalagi kalau sudah mulai masuk tanggal jatuh tempo kartu kredit. Tapi yang paling penting sih faktor kedua ini. Iya, kawan-kawan, Singapura itu kalau ditilik-tilik susah kalau dipersonakan sebagai perempuan. Perjalanan Singapura itu adalah perjalanan agresif dan ambisius yang sangat, yes, laki-laki sekali *ngetik ini sambil tosssss sama Cynthia Webber, Susan Strange, Gayatri Spivak, dan Bu Junita hehhehehehehhehe*. Selain itu, coba kalian lihat video iklan Singapura ini. Tokoh utamanya ituh pria, Sodara-sodara.


Akhirnya yang terpikirkan di otak saya sebagai persona Singapura pun seperti ini :


Personifikasi Brand Singapura
Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti mendeksripsikan personifikasi Singapura sebagai seorang pria berusia pertengahan 30, seorang eksekutif muda yang bergerak di bidang marketing, aktif, dinamis, ramah, dan berorientasi pada tujuan. Dalam kehidupannya, pria ini memiliki pembagian waktu dan kegiatan yang teratur. Pekerjaannya dimulai pada pukul 07.00 pagi dengan rapat bersama timnya kemudian menghabiskan siang hingga petang bersama mitra kerja, kemudian mendatangi pusat hiburan malam ruang terbuka pada pukul 22.00. 
Sebagai pria Asia, meski berkehidupan modern, pria ini masih memiliki keluarga. Setelah lima hari bekerja, pada Sabtu dan Minggu pria ini mengajak istri dan dua anaknya yang masih balita dan berusia sekolah dasar menyusuri ruang hijau taman kota dan menikmati hiburan keluarga di theme park sambil memberikan kesempatan bagi istrinya untuk berbelanja di mal.
Selain menghabiskan akhir pekan bersama keluarga, sesekali pria ini juga menghabiskan waktu bersama teman-temannya, terutama ketika tiba musim pertunjukan F1. Pada waktu yang lain juga pria ini mengajak istrinya untuk menyaksikan pertunjukan seni dan teater sambil memperkenalkan mitra bisnisnya yang sedang mengadakan pertemuan dan konferensi di gedung convention yang menyatu dengan gedung seni. Pria ini pun akhirnya selalu memiliki momen-momen indah setiap hari sepanjang tahun.

Waaaiiiiiitttt, ini belum selesai. Kalian suudzan nggak sih sama saya? Kalian percaya nggak sih kalau personifikasi saya akan Singapura itu murni didasarkan pada pengamatan saya seperti yang saya paparkan di paragraf awal ditambah dengan beberapa kali melihat video iklan Singapura di Youtube yang tokoh utamanya adalah pria?

Saya malah curiga yah, kokkkkk personifikasi saya ideal banget sih? Serius ini tentang Singapura? Ini kayaknya nggak mungkin deh personifikasi saya tentang Singapura itu  murni didasarkan pada alasan-alasan itu. Sosok ini macamnya nggak hanya membicarakan Singapura, tetapi juga membicarakan idealisme saya  tentang laki-laki. Ya, walaupun ada poin yang enggak juga sih, semacam si pria itu terlalu sibuk sampai cuma bisa jalan-jalan hari Sabtu  dan Minggu doang dan nggak juga ya kalau dia Senin-Jumat habis pulang kerja nggak langsung pulang ke rumah tapi malah clubbing dan nggak sengaja nyerempet pinggang-pinggang ramping perempuan di Marina Bay. Naudzubillah. Naudzubillah. Tapi, di luar persona dengan karakteristik hedon itu, bahhhh si pria ini masih tetap ideal kalau hanya dijadikan persona sebuah negara. 

See?

Bahkan, dalam skripsi pun objektivitas kita juga dipertanyakan.

Parahnya, pertanyaan itu juga diajukan oleh lubuk hati kita yang paling dalam.

Yes, nggak kita, cuma saya aja. Sekian dan terima kasih.


The Chapter


Oke, mari menarik nafas lega. Huuuuuuffffff.

Hore, barusan saya selesai mengedit bab 4 saya!

Iya, jadi ceritanya, saya itu sudah menyelesaikan bab 4 saya sejak minggu lalu. Akhirnya, saya berjanji pada dosen saya bahwa minggu itu saya akan menghadap. Hmmmm, akan tetapi dan namun demikian, satu malam sebelum saya menghadap, saya kaget dan syok. Selama ini kan saya mengetik bab 4 saya dengan sistem penyubbabban. Apa coba penyubbaban hahaa. Maksudnya, saya mengetik ke dalam subbab-subbab biar gan kerasa berat. Nah, subbab demi subbab itu saya lalui dengan mengetik di notepad. Ketika malam peng-compile-an berlangsung, yang artinya saya memindahkan notepad-notepad subbab saya ke dalam lembar word dengan format margin 4433, times new roman 12, spasi 2, di akhir cerita tiba-tiba layar word saya menunjukkan angka halaman ke-76. Itu juga belum semuanya karena saya juga sudah hampir beres mengetik bab 5, which is bab 5 ini juga belum masuk ke bab pembahasan, tapi masih sama seperti bab 4 yang masih membahas objek penelitian. Waktu saya mindahin bab 5 saya di lembar berbeda, si lembar ini menunjukkan halaman ke -30 dan itu masih ada dua subbab yang belum beres. Apa-apaaaannnnnnnnn banyak bangetttttttt. 

No, jangan bilang saya nggak sehat. Sebelum kalian baca posting ini dan pengen melempar saya ke timbuktu dengan mesin ketik pun saya udah tahu saya nggak sehat. 

Jedhuar bangetlah itu saya pas malem pokoknya.

Saya tahu, satu-satunya jalan untuk mengembalikan kesehatan akal dan jiwa saya adalah dengan memotong si halaman-halaman kehidupan yang panjang banget itu. Tapi, masalahnya, ini bukan sekedar motong kertas, tapi motong paragraf, motong kalimat, motong kata, yang yes tentu saja sangat beresiko bagi kohesivitas dan koherensian wacana. Nggak mungkinlah bisa beres satu malam dan itu sudah malam banget gitu, jam setengah dua. 

Hufff saya akhirnya menyerah. 

Besoknya sih saya tetap menghadap dosen saya, sih. Saya bilang saya urung memberi draft saya hari itu karena jumlah halaman yang sudah saya ketik tidak masuk akal untuk ukuran objek penelitian. Dosen saya juga istigfar sih pas tau saya nulis segitu banyak. Wanti-wanti juga beliau bahwa itu harus dan wajib dipotong.

And here I am, hari Senin setelah hari Jumat berlalu, saya udah beres motong bab 4 saya yang awalnya 76 jadi 45 halaman saja horeeeeee!!!

Masih terlalu banyakkah?

Saya juga takutnya gitu, sih, tapi coba deh liat struktur bab 4 saya yang direkomendasikan dosen saya. Itu tuh banyak banget dan nggak mungkin cuma bisa dijelaskan dalam 20-an halaman.


BAB IV IDENTITAS, CITRA, REPUTASI INTERNASIONAL SINGAPURA
4.1 IDENTITAS SINGAPURA
4.1.1 Profil Umum dan Posisi Geografis Singapura
4.1.2 Posisi Ekonomi Singapura
4.1.3 Identitas Negara-Kota Singapura
4.1.3.1 Identitas Negara-Kota Singapura dalam Aspek Talent
4.1.3.2 Identitas Negara-Kota Singapura dalam Aspek Trade
4.1.3.3 Identitas Negara-Kota Singapura dalam Aspek Tourism/Leisure

4.2 CITRA SINGAPURA
4.2.1 Personal experience
4.2.2 Word of mouths
4.2.3 stereotype nasional
4.2.4 Politics
4.2.5 Pertunjukan
4.2.6 Export brand
4.2.7 Perilaku Masyarakat
4.2.8 Kampanye Nation Brand

4.3 REPUTASI INTERNASIONAL SINGAPURA
4.3.1 Reputasi Fungsional Singapura
4.3.2 Reputasi Sosial Singapura
4.3.3 Reputasi Ekspresif Singapura

4.4 GAP ANTARA IDENTITAS DAN CITRA SINGAPURA
4.4.1 Gap antara Identitas dan Citra Singapura dalam Aspek Talent
4.4.2 Gap antara Identitas dan Citra Singapura dalam Aspek Trade
4.4.3 Gap antara Identitas dan Citra Singapura dalam Aspek Tourism

4.5 PERSONIFIKASI BRAND


See? Percaya plisssssss 45 halaman itu udah maksimal banget. Kalaupun bisa dipotong lagi, pasti nggak sekarang karena jarak waktu antara saya baca, ngetik, dan ngedit masih deketan banget. Saya masih nggak objektif nih sekarang-sekarang ini. Ya, mungkin seiring waktu pasti ada yang bisa saya potong lagi. Tapi ngga berharap bisa motong sampai jadi 20 halaman juga, sih.

Oke, tapi pekerjaan saya sesungguhnya belum beres. Saya masih punya bab 5 yang akan membicarakan hal di bawah ini yang sampai saat ini karena belum diedit masih berada di kisaran 30 halaman dengan kondisi subbab Instant Asia dan YourSingapore belum saya tulis. Oke, semangat.

Hidup ini belum beres, saya masih punya 2 bab pembahasan lagi setelah penelitian lapangan di Singapura yang semoga sebelum 22 April 2012 sudah saya kerjakan karena paspor saya expired Oktober ini which means kalau setelah April saya maksain pergi, saya bakal dideportasi bahkan sejak di imigrasi Soekarno Hatta.


BAB V SOFT POWER DAN DESTINATION BRANDING SINGAPURA
5.1 SOFT POWER SINGAPURA
5.1.1 Budaya Singapura
5.1.2 Nilai Politik Domestik Singapura
5.1.3 Kebijakan Luar Negeri Singapura
5.1.4 Konteks Soft Power Singapura

5.2 DESTINATION BRANDING SINGAPURA
5.2.1 Instant Asia (1976-1985)
5.2.2 Surprising Singapore (1986-1996)
5.2.3 New Asia (1996-2004)
5.2.4 Uniquely Singapore (2004-2010)
5.2.5 YourSingapore (2010-sekarang) 




Tarik nafas lagiiiiii....

:*

Tuesday, February 14, 2012

Mungkin ya, mungkin...

Waktu kita tertawa ngakak, membahas perilaku menyimpang teman-teman, saling ejek "Jomblo luuuu," betah nongkrong di tempat makan atau ruang tamu kosan orang sampai tengah malam, teriak-teriak absurd, bikin konferensi di YM sampai adzan subuh, plus terlibat dalam kegiatan jodoh menjodohkan, itu kita bukan sedang dalam keadaan mabuk duren, mabuk janda, atau mabuk darat laut dan udara...

Itu bagian dari cara kita untuk membuat kenangan kali ya...

Yes, beberapa tahun lagi mah kita akan disibukkan oleh urusan pekerjaan yang suck *yes we agree that* dan urusan keluarga sakinah yang saat ini kita dambakan tapi nanti pas kita udah megang, ya tahu-tahu kita sadar bahwa kita setiap hari dikejar oleh adzan yang menyuarakan, "Get a LIFE!!!!".

Kerjaan kita di sela-sela waktu skripsi ini tuh emang sucks banget. Dan, haloooooo, ini semester kita yang kesepuluh dengan IPK kita yang beragam dari 3 kurus sampai 3 gemuk banget dan dalam status lajang ya. Ah, tapi ini pasti jadi satu momenlah yang nggak bakal terlupakan sampai tua. Dan yakin juga, deh..suatu saat nanti waktu kita reunian mungkin beberapa belas atau puluh tahun lagi *anjjiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr*, momen semester-semester akhir ini yang bakal pertama kali dan rame banget kita bahas.

Ah, ini ngapain gue nulis posting kayak begini, sih. It is just sooooooooo gay and sooooooooo jomblo. Sangat nggak berdedikasi banget buat dibicarakan di depan 7000 pemuda di dunia lewat podium PBB. Get a LIFE.

God Wants Us in This Way

Saturday, February 11, 2012

Ketika kita merasa iri dengan kelebihan seseorang sambil gengsi ngaku kalau kita mengutuk ketidakmampuan kita untuk bisa seperti dia, pernah nggak sih terpikir gitu bahwa Tuhan itu Maha Kuasa Sekuasanya Kuasa? Sangat mudah bagi-Nya untuk menjadikan kita seperti si X dengan segala kelebihannya dan sebaliknya, mudah juga bagi-Nya untuk menjadikan si X yang mulia itu untuk menjadi sehina kita di dalam pikiran kita. But, hey, why God keeps us in this way? Ini bukan tentang persoalan sayang atau nggak sayang atau diskriminasi ras, melainkan The God wants us in this way.  Yes, dan ada alasan tentunya untuk itu.

Kadang saya juga jadi mikir ya, mungkin nih ya mungkin, ketika misalnya kita menginginkan suatu hal namun kita nggak kunjung mendapatkan hal itu sebagai bagian dari hidup kita, bisa jadi aja sebenarnya driving factor yang menggerakkan kita untuk menginginkan hal itu so badly adalah karena kita ingin menjadi orang lain yang sama sekali bukan kita. God knows it so God prevents us to get lost. Hmmmm, but yes, proses untuk menerima diri kita dan diri mereka itu panjang dan berat, sih.

The New Human

Thursday, February 9, 2012


Nggak ada orang tua yang ingin anaknya terluka. Nggak ada orang tua yang ingin anaknya hidup menderita. Nggak ada orang tua yang ingin anaknya mengalami hal-hal yang pernah dialami mereka sewaktu seumur anak mereka.

Nggak ada.

Sama sekali nggak ada.

But, in some points, we, the children, have to grow up and survive in the jungle as our parent had experienced. We are all human. We have to become a human. We have to taste all the human must taste. Scars. Mocks. Sadness. Fails. Tears. Surviving. Happiness. Love. Doubts. Bertrays. Sweats. Poors. Plays. All.

Dalam beberapa masa, orang tua pun harus menyadari bahwa mereka bukan ibu dan bapak peri, bahkan Tuhan. They have no power or legitimation or authorization or strength to cover all the problems we have. They have to learn that in some cases, they are all needed just to give a comfort line so we are able to wake up tomorrow. They have to realize that all the things they have tasted before are not the thing that must be scared of. That things are not the things that legitimize them to traumatize us. Instead, those things are the things that must be shared to us so we can learn from their mistake and their sweet.

In some conditions, they have to wake up that years have passed so through and the baby they sang lullaby has become a new human. They have to accept it. Surely yes.

Terima kasih, Ummi atas kata-kata di atas :)

Satu Jam Kepanikan

Wednesday, February 8, 2012

Pantesan dari Senin lalu itu otak saya iseng banget mengimajinasikan apa yang terjadi kalau SIM saya hilang. Ah, ternyata beneranlah hari Selasa SIM saya hilang dan saya baru sadar Rabu ini.

Selasa itu saya ada urusan lagi ke Jakarta. Seperti biasa, supaya bisa dapat ID Visitor di kantor yang saya datangi itu, saya harus naro kartu identitas. Harusnya sih KTP ya, tapi berhubung minggu lalu setelah saya mengunjungi kantor itu dan naro KTP juga, saya lupa nyimpan dimana itu si KTP yang minggu lalu keluar dari dompet. Ya sudahlah biar cepat saya kasih SIM saya. Pas saya udah masuk dan saya mampir ke toilet, eh saya baru nemu, deh. Si KTP saya itu ternyata ada di saku tas paling depan. Bzzzzt.

Berbekal kealpaan saya dalam mengingat barang-barang yang berada di luar tempat seharusnya, saya meniatkan diri buat menyimpan SIM saya dengan appropriate sesegera mungkin setelah saya mengambil SIM di front office. Masalahnyaaaaa, di front office itu saya diajak ngomong sama bapak-bapak pegawai. Karena nggak sopan kalau saya ngobrol sambil ngubek-ngubek dompet merapikan SIM, jadi saya asal naro SIM saya aja di ruang dompet yang paling terjamah.

Setelah beres ngobrol sama bapak itu, saya pulang kan tuh. Jakarta udah macet, sih. Nggak ada yang lebih menggetarkan jiwa selain stak di Slipi sampai Semanggilah pokoknya. Untungnya karena saya balik dari sana masih jam 4, saya jadi bisa sampai di pool Primjas jam setengah enam sore. Seminggu sebelumnya saya pulang jam 6 dan baru sampai primjas jam setengah sepuluh malam. Kalau minjem bahasanya si Harris di Antologi Rasa, sih ya thankyouverymuch banget rasanya berada jutaan jam di dalam busway. Nah, karena jam masih menunjukkan waktu yang sangat sore, saya makan dulu di PGC. Senjata utama ya Hoka-Hoka Bento. Rasanya terjamin sama di seluruh Indonesia dan nggak perlu juga cuci tangan. Beres makan, saya nggak langsung pergi. Saya malah melamun sambil bersyukur mengenai status saya yang single ini. Hanya karena status saya single maka saya bisa dengan percaya diri bilang ke orang yang ngeinterview saya kalau saya siap kemana saja. Seneng banget loh jadi seorang manusia yang bisa langsung ngasih keputusan tanpa perlu mempertimbangkan pendapat orang lain slash pacar. Perasaan mandiri itu sungguh asyik rasanya sampai-sampai saya pun tidak merasa diri saya ini kasihan banget makan di Hokben sendirian di tengah belantara ibukota. Oke, saya overlap. Mari kembali ke permasalahan utama.

Iya, pas saya lagi melamun itu, saya inget saya mau beresin dompet yang tadi acak-acakan gara-gara saya nyari KTP nggak ketemu-ketemu. Saya keluarinlah itu isi dompet ke atas meja. Saya sumpah inget banget saya mengeluarkan beberapa kelompok kartu. Kelompok pertama adalah kartu nama, kartu Optik Melawai, dan kartu Prodia. Kelompok kedua adalah kartu MRT yang hijau, kartu LRT Pulau Sentosa, kartu MMC Matahari, Pers ID STaIR, dan kartu Perpustakaan Freedom. Kelompok ketiga adalah kartu NPWP, kartu Mahasiswa slash ATM BNI, dan ATM Mandiri. Nah, berhubung tadi si SIM ini baru dikeluarkan dari dompet dan saya rusuh masukinnya, dia pun jadi sendirian. Harusnya dia masuk ke dalam kelompok kartu ketiga. Niat saya juga emang mau masukin si SIM ke dalam kelompok ketiga.

Saya nggak ngerti saya kedistrak sama apa sampai akhirnya sepertinya saya lupa nggak ngegabungin SIM sama kelompok kartunya. Ah, saya sebel banget deh kalau saya lagi pelupa gini. Berasa ada missing link gitu loh. Gara-gara saya pelupa macem gini, saya kan makin yakin kalau sebenarnya saya ini pasti punya pacar tapi saya lupa. Oh, beb, maafkan aku ya kalau sekarang aku sedang menelantarkanmu. Kalau aku udah inget sama kamu, pasti aku balik lagi sama kamu. Sekarang kamu baik-baik aja ya di sana. Sekolah yang pinter, cari uang yang banyak, posisi karir juga harus kamu tingkatkan, dan jangan lupa solat sama makan ya. I love you. Mmmmmuah. 

Masalahnya lagi, saya lupa saya nggak masukin SIM itu ke dalam kelompok kartu dan tentu saja saya nggak masukin SIM ke dalam dompet bareng dengan tiga kelompok kartu lainnya. Saya lupa dan saya baru sadar hari ini bahwa saya kehilangan SIM, satu masalah kenegaraan yang tingkat urgensinya melebihi urusan pelanggaran batas wilayah ZEE. 

Arrrggghhh, damnnnnnn!!!!

Panik bangetlah. tepatnya sih, pias. Atuhlah. Kalau bapak saya tahu SIM saya hilang, bisa habislah daftar riwayat CVsaya. Belum lagi ribet juga kan ngurus SIM lagi. Soreang itu jauh banget, men dari Cileunyi. Perjalanan dua jamlah pakai motor. Mana saya juga nggak punyalah itu fotokopian SIM. Mana nomor SIM berapa juga saya nggak tahu. Dan plislah, kalau saya nggak punya SIM, gimana caranya saya bisa naik motor bikin laporan kehilangan ke Polsek Cileunyi? Argh, ribetlah.

Saya inget-inget dimana kira-kira saya menghilangkan SIM, ya yang saya inget itu cuma yang saya ceritain di atas itu. Kayaknya di Hokben. Awalnya saya pikir saya bongkar dompet itu kan di rumah, tapi pas saya cek, nggak ada ceceran apa-apa. Dan emang sejak malam saya pulang itu ya saya nggak megang dompet. Malam abis saya sampai rumah jam setengah sepuluh itu kan saya smsan *ciyyyeeeehhh* sama Arman Dhani yah thankyouverymuch dan teman baru saya, si Bangkit, terus nonton Big Bang Theory sama Greys Anatomy, terus ngerjain skripsi sampai jam 1 terus YMan konfrens sama Ayi dan Remon sampai jam setengah empat pagi. Bangun tidur juga saya cuma nyalain leptop buat nyiapin materi ngajar terus saya pergi.. Iya serius saya nggak buka-buka dompet. Ya sudah akhirnya saya yakinkan diri saya kalau saya pasti banget buka domept itu di Hokben.

Karena saya yakinnya di Hokben, saya coba cari nomor telepon Hokben PGC di Google. Alhamdulillah dapat. Tapi ada dua nomor. Nyoba nomor pertama nggak nyambung, nyoba yang kedua alhamdulillah nyambung. Sinyal lagi seret jadi saya bolak-balik nelpon tapi si Mas penerimanya nggak denger saya ngomong apa. Baru pas saya nelpon untuk keempat kalinya tuh suara saya kedengeran. Saya tanya apakah ada SIM nyasar yang tiba-tiba nemplok di nampan. Si masnya bilang dicari dulu. Si masnya pun nanya nomor hengpon saya. Lima menit kemudian, si masnya nelpon. Katanya nggak ada. Atuhlaaaahhhh. Aduh hilang dimanalah jadinya. Bingung aja gitu. Saya yakin sama ingatan saya yang kadang baik kadang buruk tapi akhirnya harus pupus juga. Yasudah saya pasrah dan besok niat ke Polsek naik ojek. Gatau deh ke Soreangnya gimana.

Eh, tapi...

Lima belas menit kemudian...

Ada telpon lagi dari Hokben.

"Mbak pesanannya mau Hoka Suka Lee Min Ho Beef Teriyaki atau Hoka Suka Bennedict Cumberbatch Chicken Teriyaki?"
"Loh, mas, saya pesennya Arman Dhani panggang. Nggak ada emang?"
"Oh itu mengandung boraks dan abate, mbak."
"Nggak apa-apa, mas, saya mau bungkusin dia buat teman saya, Ayik, biar Ayik bisa memberantas korupsi jomblo di tahun 2030."

Ya enggaklah..

Si masnya bilaaaangggg...

"MBAK, SIM-NYA ADA!"

Saya masih nggak mudeng, "Oh, masih nggak ada ya mas? Yah, nggak apa-apa deh hiks."

"ENGGA, MBAK. SAYA BILANG, SIMNYA SUDAH DITEMUKAN. SIMNYA ADA."

Langsunglah saya semangat 45, "AH SERIUSSSSS MASSSS? KYAAAAA!!"

Yah, untuk pertama kali dalam hidup, saya rasa happily ever after itu ada. Saya pun tukeran nomer hape sama si Mas Hokben. Ciyyeeehhh. Heh. Ini demi urusan perhokabentoan nih. Saya ngasih alamat rumah buat ngirim si SIM. Hmmmh. Masnya belum tahu sih bakal ngirim kapan, tapi semoga secepatnya ya masnya yaaa...

Alhamdulillah ketemu. Seneng bangetlah. Alhamdulillah.

Eh, tapi ini belum beres. Setengah jam kemudian, si Mas Hokbennya ngesms lagi..

"Mbak, ada pin bb?"

Eaaaaaa....

"Saya nggak pakek bb, mas. Mas mau ngirim SIM saya pakai bb?"

Kadang tanpa sengaja kita menemukan beberapa peristiwa yang nampaknya satu tipe, tapi karena kita belum dapat benang merahnya, kita maish agak-agak blur nagkap polanya. Nah, tapi kalau kita sudah tahu benang merahnya, pola itu pun akhirnya membesar dan semakin nyata. Kita pun semakin girang karena menemukan lebih banyak lagi contoh peristiwa yang membuat pola itu berkembang.

Hal itu berawal ketika SMA, teman-teman saya yang ikut olimpiade menemukan kertas formulir masuk NTU di pintu kamar hotelnya. Awalnya, sih pasti nggak paham, ini roomboy-nya ngapain gitu nyecer-nyecerin kertas. Tapi ya jelas nggak mungkin nyecer-nyecerin juga, sih, mengingat nggak cuma satu kamar dan satu orang yang dapat kertas itu, tetapi hampir semua. Orang-orang pun terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mungkin persoalan kertas itu bakal tetap jadi rahasia di otak masing-masing kalau saja satu orang ini nggak mengungkapkan pendapatnya, "Tadi malam gue ditelpon. Katanya gue bakal dikasih beasiswa dan kebutuhan hidup gue ditanggung. But, guys, no. I will not take the chance. Gue mau kuliah di sini aja." Kemudian pembicaraan pun berlanjut dan akhirnya saling tahu siapa yang mau ngambil kesempatan 'emas' itu dan siapa yang mau melepaskannya.

Beberapa waktu sebelum kejadian itu terjadi, saya juga tahu adanya beasiswa untuk pelajar sekolah menengah yang tertarik bersekolah di Singapura. Saya tertarik juga. Saya ikutan juga. Orang tua saya juga tipe orang tua yang kepercayaannya pada Allah diaplikasikan melalui kepercayaan pada anak sehingga nggak melarang anaknya untuk pergi jauh karena tahu anaknya pasti bisa hidup dan nggak akan terjerumus ke dalam lembah apapun. Hmmmm. Saya punya daya ingat yang sangat buruk mengenai masa remaja saya jadi saya sekarang lupa apa alasan saya akhirnya mundur dari ketertarikan saya ikutan program itu, yang jelas saya akhirnya masuk SMA 3 Bandung dan saya merasa itulah hal yang seharusnya saya jalani.

Tapi kemudian ada lagi teman dekat saya yang entah gara-gara ada hujan apa atau angin apa tiba-tiba merasa suck dengan kehidupannya di Bandung brackets Indonesia. He wanted to fly to Singapore. Yakin lo? Saya cuma nanya itu. Dia bilang yakin aja karena toh di Bandung ini juga dia nggak tinggal dengan orang tuanya jadi dia semacam sudah siap secara mental untuk tinggal di negeri orang. Saya punya daya ingat yang buruk juga, nih, so maafkan kalau ada kata yang tersilap, terselip, atau tidak lengkap, my dear Ferdy. Mmmmm, dia bilang alasan yang membuat dia tertarik kuliah di NTU adalah adanya satu konsentrasi jurusan yang nggak ada di ITB. Saya totally lupa apa konsentrasi jurusan itu.

Saya hampir lupa juga tiga kejadian itu sampai akhirnya saya beberapa minggu lalu terdampar di Gramedia dan membaca satu buku yang sangat luxurious, eksklusif, dan tentu saja mahal, mengingat google sebentar lagi mengantarkan saya pada versi ebook ilegal buku itu dan saya tahu bahwa harga Rp125.000 untuk hard cover dan Rp85.000 untuk soft cover itu bukan saya keluarkan untuk menanggung biaya produksi dan ilmu yang dibagi oleh si penulis, melainkan untuk membiayai reputasi si penulis. Itu beneran bukan buku biasa yang bisa kita pandang secara fungsional. Itu adalah buku perayaan bagi kita yang lelah dengan inflasi yang makin tinggi dan gaji yang besarannya makin nggak memungkinkan kita bikin resepsi pernikahan di salah satu kapsul Singapore Flyer atau di balkon Marina Sands Hotel. Nothing to do with all the words in there. Buku itu berisi pengalaman hidup seorang gadis yang akhirnya bisa sukses punya penghasilan satu juta dolar per bulan setelah mengalami berbagai kepahitan hidup. Buku itu cuma mengajarkan kita untuk berani bermimpi kemudian tidur lagi dan memuja si penulis dalam doa sebelum tidur kita. 

Oke, bukan buku itu yang ingin saya review di posting ini. Yang menarik perhatian saya adalah si penulis itu. Ketika saya membaca namanya di sampul depan, saya tahu dia orang Indonesia meskipun matanya sipit seperti 70% orang Singapura. Waktu saya baca bukunya di bawah tatapan penjaga Gramedia yang agak sangar kepada pembaca free rider seperti saya, bukunya juga berbahasa Indonesia. Masalahnya, di sampul belakang itu banyaknya disebutkan Singapura. Semua tentang Singapura, deh. Ah, tapi nama orang itu sangat Indonesia sekali. Bukan, bukan Sri Mawarni Astuti Widyaningsih, kok. Nama dia itu tipe nama Cina yang diindonesiakan karena hukum Orde Baru berkata demikian. Coba aja kalian ketik "Mimpi Sejuta Dolar" di Google kalau penasaran siapa nama cici ini. Baca punya baca, keyakinan saya akhirnya terbuktikan. Dia orang Indonesia yang kuliah di Singapura kemudian mengalami sulitnya hidup tapi kemudian bangkit dan menjadi perempuan inspiratif. Nah, di titik inspiratif yang dibilang semua orang sebagai titik keberhasilan itulah yang bikin saya ber-Oooohhh dan langsung ingat beberapa literatur skripsi saya tentang Singapura dan kejadian-kejadian semacam itu di kehidupan saya yang lalu.

Ini mah beneran brain drain demi cita-cita Singapura yang pengen jadi knowledge-based economy!

Mari kita urutkan hal-hal yang menyiratkan ke-braindrain-an.

Beasiswa untuk pelajar di ASEAN yang mau bersekolah di Singapura sebagai pelajar sekolah menegah. Come on, ada sepuluh negara ASEAN dan tentu ada skema pembeasiswaan sebagai cara untuk meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat di ASEAN, tapi cuma SIngapura yang menawarkan beasiswa bagi pelajar sekolah menengah.




Beasiswa untuk kuliah di NTU sekaligus promosi bahwa NTU adalah universitas teknologi masa depan yang  lebih wah daripada ITB. Know the fact? ITB jelas sudah berdiri sejak zaman Habibie masih jadi pemuda ideal dambaan kaum priyayi, bahkan sebelumnya juga. Coba kalian ngobrol sama burung-burung yang suka mangkal di Jalan Ganeca, pasti kalian bakal banyak dapat folklore yang diturunkan bergenerasi-generasi dari zaman mereka belum ber-evolusi dari kuda jadi burung. Intinya, ITB itu sudah melegenda dan sudah tua banget. Bandingkan dengan NTU yang baru berdiri pada tahun 1981 tepat ketika Lee Kuan Yew merasa galau membaca laporan komite ekonominya bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Singapura harus bertransformasi dari negara industrialisasi padat karya menjadi negara pemproduksi barang bernilai tinggi yang mengandalkan pengetahuan sebagai faktor produksi jika ingin tetap kompetitif terhadap perkembangan dunia. Masalahnya, ketika hal itu harus terjadi, Singapura dipastikan mengalami kekurangan sumber daya manusia terdidik yang mengandalkan otak ketimbang tenaga karena sebagian besar pekerja Singapura masih belum mengenyam pendidikan yang tinggi. 


Menanggapi laporan demikian, pelatihan bagi tenaga kerja Singapura memang bisa dilakukan, namun itu hanya rencana jangka pendek. Singapura harus membuat rencana jangka panjang yang membuat ekonominya tetap kompetitif. Caranya? Pertama, mencondongkan pendidikan sekolah menengah pada subjek matematika dan ilmu alam serta membangun universitas teknologi untuk riset dan pembangunan. Kedua, Singapura juga membuat kebijakan yang sangat ramah untuk menarik siswa, mahasiswa, dan pekerja asing yang cerdas untuk belajar dan bekerja di Singapura. Ketiga, mempromosikan citra-citra yang wah mengenai pendidikan di Singapura, dari mulai sistem yang teratur, fasilitas yang lengkap, penguasaan bahasa Inggris, dan keajaiban matematika dan IPA yang luar biasa berguna bagi peradaban manusia. Gengsi merupakan hal yang paling dipromosikan oleh Singapura, instead the fact, NTU is still very much longer longer younger than ITB, and exporting professor from abroad. 

Saya nggak bilang NTU nggak lebih bagus, ya. Tentu saja sama bagusnya atau bahkan, ya okelah lebih bagus. Tapi "NTU bagus" yang dimaksud di sini bagi saya lahir dengan cara yang berbeda. Tentu saja NTU bagus karena, satu, NTU sejak awal dikonsentrasikan untuk meningkatkan daya kompetisi Singapura dalam hal teknologi. Alasan itu jugalah yang melatarbelakangi mengapa ada beberapa konsentrasi jurusan yang ada di NTU tapi nggak ada di ITB atau institut teknologi lain. It purposefully serves Singapore's national interest. Singapura sejak tahun 1981 itu sudah kepikiran untuk menjadi seperti sekarang, lalu di akhir dekade 1980-an itu Singapura sudah mantap mendeklarasikan bahwa Singapura telah beranjak menuju fase deindustrialisasi padat karya menjadi industri barang bernilai tinggi, dan pada dekade 2000-an hingga sekarang ini, industri biologi, kimia, farmasi sudah beranak pinak menjadi jauh lebih khusus dan menadapat perhatian besar. Dua, pendidikan dasar dan menengah Singapura sudah dicondongkan pada IPA dan matematika. Ala bisa karena terbiasa gitu loh. Dasar para pelajar Singapura tentang IPA dan matematika itu udah kuat, makanya nggak terlalu sulit untuk membentuknya. Tiga, kalaupun NTU dimasuki oleh pelajar luar negeri yang sistem pendidikan menengahnya imbang antara IPA dan IPS, Singapura punya sistem seleksi tersendiri dan yang paling utamanya adalah memberi beasiswa bagi anak-anak yang sudah kuat dasar IPA-nya (baca : peserta dan khususnya pemenang olimpiade).

Why beasiswa? Kenapa Singapura baik banget memberi beasiswa? Pasti karena ada maunya, yes semua orang tahu. Secara teoritik memang benar.Kalau kita ngobrol sama Alexander Vuving, kita pasti bakal diomongin gini, "Beasiswa itu adalah soft power yang memiliki currency keramahtamahan. Keramahtamahan merupakan hal yang penting dalam soft power karena keramahtamahan atau benignity akan menghasilkan perasaan terlindungi, terima kasih, dan kebaikan berbalasan (reciprocal altruism). Dari rasa terlindungi dan terima kasih inilah klien akan mengikuti preferensi yang diberikan oleh agen sebagai balas jasa." Dengan adanya beasiswa, pasti nih si klien akan mikir-mikir yang pastinya ujung dari pemikirannya adalah membandingkan kebaikhatian Singapura dengan negara asalnya, yang biasanya sih Indonesia. Ujung ekstrem dari pemikiran ini sih biasanya berakhir pada kesimpulan, "Ah, gue pinter gini sampe Singapura aja mau, kalau di Indonesia mah gue nggak dapet pengharagaan. Apaan sih. Udah, ah mending gue ambil. Lulusan luar negeri juga lebih gampang dapet pekerjaan daripada lulusan Indonesia." Nggak salah juga, sih pemikiran itu. Itu adalah pemikiran paling rasional dari seorang warga negara poskolonial  yang diakui kepintarannya oleh negara lain yang termistifikasi sebagai negara yang lebih maju. Yang salah bukan dia, melainkan si negara asalnya yang lebih sering membongkar kasus korupsi partai berkuasa di detik-detik menjelang pemilu yang akhirnya kurang taktis dalam merumuskan prioritas kepentingan nasional demi meningkatkan daya saing di era globalisasi. Layaknya istri pertama yang lelah dengan kelakuan suami yang lebih sering mampir di rumah selir-selir, si orang ini pun memutuskan trade-off alias kegalauannya dengan memilih belajar di negeri orang. Baguslah, daripada dia mendengarkan Gloomy Sunday kemudian bunuh diri.

Nah, sebenarnya, kalau saya ingat-ingat, dalam ketentuan beasiswa ini, baik saat kita menghabiskan masa SMP-SMA-NTU kita di Singapura, kita nggak ada kewajiban untuk bekerja di Singapura. Malah, khusus untuk beasiswa sekolah menengah, kita disarankan segera pulang ke negara asal setelah kita menyelesaikan studi kita. Namun demikian.....jeng jeng jeng jeng jeng... Siapa yang bisa menolak segala macam penghargaan dari berbagai departemen pemerintah Singapura yang dilewatkan melalui pemberian kesempatan berbicara di banyak forum seperti yang dialami oleh mbak sejuta dolar itu? Ketika kita menjadi siswa yang pintar ketika bersekolah di Singapura, baik dengan beasiswa maupun tidak, dan mengingat Singapura melalui dokumen nation building-nya adalah negara yang mengajarkan warganya untuk menganga dan mengidolakan orang yang jenius ketimbang  terkena Korean Wave, pasti kita akan menjadi sorotan. Sorotan tersebut juga akan menyebar dengan sangat cepat dari teman ke teman, dosen ke dosen, media ke media, dan departemen ke departemen. Ibaratnya, kalau di Indonesia sini mah jam 11 siang kita pasti akan selalu menemukan Indra Herlambang menceritakan mobil baru Nikita Willy, kalau di Singapura, mungkin nih ya mungkin, kita bakal menemukan berita betapa jeniusnya si Nikita Willy menemukan cara untuk mengawinkan hamster dengan lobster kemudian memiliki anak berupa hamslob, yakni udang berbulu coklat pemakan kacang-kacangan. Hamslob ini pun akan dikaji secara ilmiah, bukan ditutup dengan antrian minta air berkah. 

Proses itu juga bisa dilihat sebagai soft power atau bahkan symbolic power yang menjebak kita dalam perayaan yang setiap sudut sistemnya menyamankan kita sehingga kita pun enggan untuk keluar dari sistem itu. Parahnya lagi, keengganan kita itu juga bukan dicegah oleh kekerasan dari luar, tapi justru dari kepesimisan kita sendiri akan kehidupan di luar sistem yang kemudian diperkuat oleh janji-janji manis yang diberikan oleh sistem. Kita pun yang awalnya hanya meniatkan diri sekolah di Singapura demi mendapat pekerjaan yang lebih prestisius di Indonesia akan tergerak untuk menikmati perayaan kejeniusan kita di Singapura kemudian menjadi Permanent Resident di Singapura. Dalam kasus mbak sejuta dolar, mbak itu memang masih bisa travel ke Indonesia, tanah airnya untuk menyebarkan ilmunya. But, hey, Indonesia, mbak sejuta dolar itu bukan milikmu. Mbak eh cici ding. Cici itu adalah milik Singapura. Saya belum tahu sih apakah dia udah jadi PR di Singapura atau belum, yang jelas, dia selalu pulang ke Singapura dan menjadi salah satu gadis kebanggaan Singapura karena menjadi ikon bagi Singapura sebagai Land of Dream, just like USA. Yes, Singapura memang membutuhkan sosok-sosok yang mengawali hidupnya dari nol di Singapura kemudian menjadi besar di Singapura karena seperti yang saya baca dalam beberapa pidato pemerintah Singapura, agar Singapura didatangi oleh banyak pekerja dan mahasiswa asing yang berkualitas, Singapura harus menampilkan dirinya sebagai Tanah Harapan. Singapura memang nggak punya emas seperti  California sehingga didatangi para pemburu emas, nah karena itulah Singapura harus menunjukkan sisi emasnya di bidang lain, salah satunya ya melalui sosok pengharapan itu.

Setelah Cici itu begitu inspiratif bagi saya dalam menganalisis Singapura, saya pun semakin banyak menemukan kasus serupa mengenai brain drain ke Singapura. Ada yang berasal dari kalangan artis karena Singapura juga sedang berusaha menjadikan dirinya negara pusat seni. Kenapa harus artis dari luar negeri? Bukan karena gengsi, bro. Ini karena pendidikan Singapura selama ini terlalu condong pada IPA dan matematika sehingga pendidikan seni terabaikan. SDM Singapura yang mumpuni dalam bidang seni itu minim banget jadi Singapura harus mengekspor seniman atau artis luar negeri sebagai awal pijakan Singapura melengkapi identitas dirinya sebagai negara berteknologi dan ber-high culture. Seni itu penting untuk meninggikan derajat bangsa dan mencitrakan kesan negara yang menyenangkan untuk ditinggali. Selain dari kalangan artis, pastinya juga dari kalangan dosen dan ilmuwan. Ini mah nggak heran banget. Singapura juga ingin jadi pusat pendidikan jadi Singapura harus punya dosen dan ilmuwan dari berbagai disiplin dan konsentrasi ilmu *dan tentu saja dari berbagai negara* yang aktif menulis karya ilmiah dan diterbitkan di Singapura. Ah, iya, dari kalangan atlet juga. Dari SD saya malah udah mewek-mewek kesal gara-gara atlet bulutangkis idola saya banyak yang setelah gantung raket malah jadi pelatih di Singapura. Singapura mau jadi negara yang kuat dalam bidang olahragakah? Ya iyalah, secara ada banyak perkumpulan olahraga tingkat dunia yang dianggotai Singapura dan di sana juga ada banyak pertandingannya. Kalah di bidang olahraga itu sudah pasti memalukan dan mengurangi reputasi internasional. Masih banyak, pastinya. Coba kita ingat-ingat.

Serakahkah Singapura? Harusnya, sih iya. Tapi, bagi saya, ya itu wajar. Singapura itu sejak kemerdekannya selalu percaya pada premis realisme mengenai survival, self help, statism dan nggak ada yang namanya musuh dan kawan abadi. Ini kata Lee Kuan Yew, Rajaratnam, dan kebijakan luar negeri Singapura deh serius, bukan kata saya. Selain itu, Singapura juga selalu menggarisbawahi kerawanannya dalam hal luas wilayah, SDA, SDM, dan letak geografis yang dikelilingi negara Melayu yang membenci Cina. Nah, masalahnya, Singapura juga nggak mungkin mengamankan dirinya dalam segi militer, bukan karena nggak ada budget dan lahan, melainkan karena akan memancing balance of power dari negara di sekitarnya. Singapura ini kan negara dagang dan investasi, jadi ya Singapura harus selalu maintain hubungan baiknya dengan semua negara di dunia. Delapan dari sepuluh poin prinsip kebijakan luar negeri Singapura pun akhirnya menegaskan komitmen Singapura untuk bersikap bersahabat dan beresiprokasi pada ajakan kerja sama. Nah, Singapura juga menyadari bahwa nggak mungkin ada negara yang mau bekerja sama dengan Singapura kalau Singapura nggak punya apa-apa. Singapura juga harus punya power berupa reputasi yang membuat negara-negara itu tertarik pada Singapura. Dengan keinginan untuk memiliki power itulah akhirnya Singapura menjadi negara yang tampaknya serakah harus menjadi pusat di segala bidang. Bukan serakah juga, sih. Itu adalah pilihan rasional bagi negara yang selalu merasa terancam dalam perjalanan hidupnya dan brain drain adalah salah satu cara untuk mendapat power demi mengonstruksikan citra nyaman bagi dirinya sendiri.

Ark. Feb'12.



Who's Picky?

Sunday, February 5, 2012

Teman saya pernah bilang sesuatu sama saya,
"Ah, zaman sekarang mah nggak usah milih-milih pekerjaan apalagi atas dasar idealisme bidang kuliah. Ambil aja apa yang ada."

Saya seriusnya, sih nggak setuju. Hal itu yang membuat saya nggak pernah mau ikutan kegiatan promo bimbel tempat saya bekerja karena saya dari kecil memang nggak pernah simpatik sama promotor bimbel yang mempromosikan bimbel ke sekolah-sekolah. Saya sombong? Mungkin. But, I dont wanna be a someone whom I hate. I am picky, mungkin yes secara sepintas. Saya cuma mau bekerja sebagai pengajar karena saya suka mengajar dan saya tahu saya cukup teguh untuk melaksanakan The Dont's saya yakni ikutan promo. 

Namun demikian, saya juga sadar, sih kalau mungkin di suatu hari nanti saya mungkin harus mengompromikan ketidaksukaan saya atas suatu bidang. Mungkin di waktu yang saya nggak tahu, saya harus menjalani profesi yang sama sekali tidak saya bayangkan. Hmmmm, saya jadi berpikir bahwa iya juga kali ya, sesungguhnya di dunia ini ada dua jenis pekerjaan, yakni pekerjaan yang sesuai idealisme kita dan pekerjaan yang kita kerjakan hanya karena kita harus bertahan hidup, entah hanya untuk bertahan hidup literally atau untuk menggapai impian kita di pekerjaan yang utama kita inginkan.

Tapiiii....Saya tetap merasa bahwa kalau kita sedang berada dalam tahapan bekerja di tempat yang tidak kita sukai hanya demi menggapai pekerjaan yang kita sukai itu seperti sedang menikahi duda yang sudah tua banget demi kekayaan terus waktu dia sudah mati, kita pun kembali ke pelukan Dude Herlino yang sudah kita cintai dan janjikan keseriusan begitu mendapat uang. Itu jahat, sih, kata saya. Jahat ke si duda dan si Dude. Pengorbanan kita untuk menikahi duda kemudian kembali ke Dude itu sama-sama merendahkan derajat duda dan Dude sekaligus juga membuat kita rendah di mata duda dan Dude. Kita menggampangkan keduanya. Kita mengambil jalan pintas untuk 'kebahagiaan' kita. Kita seolah-olah berjuang demi 'kebahagiaan sejati' tapi sebenarnya kita maunya mengambil jalan yang mudah saja. Justru kita picky ketika kita berada dalam jalan itu.

Tapi ya memang sih yang namanya hidup, susah juga selalu berjalan di jalan yang kita harapkan. Mungkin waktu kecil kita pengen jadi astronot sampai waktu SMA kita berhasil jadi juara Olimpiade Astronomi Internasional, tapi waktu SPMB kita malah masuk ke jurusan Administrasi Niaga. But, hey, ketika kita nggak jadi astronot, malah belajar Administrasi Niaga, nggak bijak juga kalau kita sampai marah karena nyatanya, kita masuk ke Administrasi Niaga bukan karena mukjizat Tuhan, tapi karena kita memilih jurusan itu di lembar pendaftaran SPMB kita. Samalah kayak pekerjaan. Dengan asumsi bahwa kita masuk ke suatu pekerjaan karena kita melamar bekerja di sana, kenapa harus marah dengan mengatakan bahwa pekerjaan yang kita jalani itu adalah pekerjaan yang sebenarnya nggak ingin kita jalani? Bukankah kita sendiri yang menulis surat lamaran kerjanya? Bukankah kita juga yang tetap datang waktu dipanggil untuk mengikuti segala macam tes? Kalau memang nggak mau, ya jangan dijalanilah. Saya pikir nggak lucu juga kalau kita masih ngeles bahwa keikutsertaan kita pada penulisan lamaran dan tes-tesnya itu hanya untuk menambah pengalaman, iseng, dan nggak nyangka aja bakal keterima. Don't make it as a guilty pleasurelah. Kita kan sudah besar dan seharusnya tahu mana yang enak dinikmati dan mana yang harus dihindari.

Seburuk-buruknya keadaan, saya lebih suka menggunakan istilah pekerjaan pilihan pertama dan pekerjaan pilihan kedua. Maksudnya? Ingat, kan waktu kita daftar SMP atau SMA? Misalnya, kita punya nilai 37, nah kita pasti mencari sekolah yang nilainya aman untuk kita masuki, misalnya 35 atau 36. Agak bebal juga kalau kita masih maksa masuk ke sekolah yang nilainya 41. Masalah kalau kita nyari dulu yang 36 kemudian di semester depan pindah ke sekolah ke yang nilainya 41 sih masalah lain, sekarang mah pikir dulu yang pasti bisa masuk dulu. Pesan moral pertama : Kita harus mengukur dulu kemampuan kita kalau kita mau memilih suatu pekerjaan. Nah, dalam memilih sekolah, kita juga dikasih dua atau tiga pilihan, kan? Yang artinya, meski kita yakin dengan kemampuan kita, kita masih punya peluang untuk gagal masuk sehingga kita harus memiliki cadangan. Sama juga kayak pekerjaan. Mungkin kita tahu kita punya kemampuan yang mumpuni di  dalam satu bidang pekerjaan yang kita inginkan, tapi kita juga harus punya pilihan kedua yang juga kita sukai kalau-kalau kita nggak bisa masuk di pilihan pertama. Ini penting supaya nggak ada lagi istilah-istilah "Gue nggak betah kerja di sini :(" atau "Gue maunya nggak kerja di sini." Pesan moral kedua sih ya berarti kita harus tahu kemampuan kita dan pilihan-pilihan lain yang kita sukai dan tentu saja mampu kita kerjakan. 

Coba deh kita berhenti jadi seorang pengeluh dan merendahkan diri kita sendiri. Yang semena-mena sama kita tuh sebenarnya bukan Tuhan, tapi kita sendiri.