Kimberly Story

Posting ini lahir karena Sabtu lalu saya satu jadwal dengan guru yang kebetulan intrik cintanya saya ketahui. Sebut saja guru berjenis kelamin laki-laki ini , Jackson. Bukan nama asli, tentunya, hanya agar terkesan Barat, macho, mempesona, dan berdada bidang. Nah, tapi bukan Jackson ini yang akan jadi fokus cerita, melainkan gadis yang memiliki intrik cinta dengan Jackson. Sebut saja namanya Kimberly. Itu juga bukan nama asli, hanya agar terkesan Power Rangers saja. Bagaimanapun populer dan maksimalnya saya, saya hanyalah gadis yang pernah menghabiskan masa kecil dengan tontonan Minggu pagi yang bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti Pasukan Kekuatan.


Kimberly oh Kimberly
Entah kenapa, saya lahir sebagai guru yang perhatian cenderung kepo terhadap kisah cinta murid. Hehe. Bukan apa-apa, sih. Karena sambil menerangkan saya suka memberikan catatan yang banyak sekali kepada murid saya, saya jadi punya waktu cukup panjang untuk memperhatikan roman wajah mereka satu persatu saat mereka sedang menyalin (serius, deh, catatan dari saya itu banyak banget. Satu periode nulis itu bisa sampai empat halaman. Nanti kalau sudah beres, dilanjut lagi. Bisa sampai dua atau tiga periode). Nah, mungkin saya juga berbakat sebagai cenayang. Asik. Tebak-tebakan saya atas raut wajah mereka itu mayoritas selalu benar. Hehehehe. Padahal mah emang kelihatan saja, mana yang berkonsentrasi dan mana yang engga. Dari celetukan saya itu, keluarlah berbagai kisah cinta nan pelik khas kehidupan remaja yang berwarna warni dari mulut mereka.

Kimberly adalah salah satu murid saya tahun lalu yang kisah cintanya cukup membuat saya takjub dan senantiasa mengucap kalimat thoyyibah. Di satu sisi saya miris, di sisi lain saya terhenyak, di sisi yang lainnya lagi saya nggak bisa berbuat apa-apa.

Jujur, Kimberly bukan sosok gadis yang ada di dalam konstruksi sempurna saya tentang gadis yang berpacar banyak. Maksudnya, selama ini saya kalau membayangkan kenapa seorang perempuan bisa punya pacar banyak ya karena penampilan fisiknya aduhai, terutama tentang paras. Kimberly nggak jelek, tapi bagi saya, dia biasa saja. Tapi memang saya akui dia punya beberapa sex appeal yang mungkin bagi laki-laki cukup oke juga. Baju-baju Kimberly pun, entah sengaja atau tidak sengaja memang memperlihatkan beberapa tonjolan sex appealnya.

Dari cerita-cerita yang keluar dari pengakuan Kimberly, saya makin takjub. Kimberly punya keberanian yang luar biasa dan patut diacungi jempol! Oke, jadi begini, Kimberly ini sudah punya pacar. Pacarnya juga subhanallah sekali selalu mengantar Kimberly kemana-mana dan mau menunggu Kimberly. Kalau saya jadi Kimberly, mungkin saya tiap hari bakal tersenyum cerah ceria karena punya pacar yang bisa diandalkan (jadi agen delivery service). Kimberly bilang, dia juga sayang sama si pacarnya itu. Nah, dalam angan-angan saya, ketika ada laki-laki mengungkapkan rasa sayangnya tidak hanya melalui sms, "Udah makan? Jgn lupa solat. I love you.", tetapi juga melalui hal yang lebih real dan bermanfaat seperti misalnya mengantar-menungu (bukan mengantar-jemput lagi), lalu si perempuannya juga sayang sama si laki-laki itu, ya sudahlah, itu namanya sudah satu langkah menuju happily ever after. Ya jalani saja dengan baik dan serius. Nah, tapi itu salah. Lagi-lagi saya memnadang dari kacamata saya yang begitu sederhana. Ternyata rasa sayang si laki-laki yang begitu real dan bermanfaat itu belum bisa membuat Kimberly cukup. Kimberly dengan bangganya menceritakan pengalaman cintanya dengan beberapa nama, yang salah satunya adalah Jackson.

Dari hasil investigasi saya pada Kimberly yang menuai jawaban sukarela cenderung bangga dan bersemu merah serta pada Jackson yang diawali dengan beberapa ketakjuban Jackson yang seolah bilang, "Kok loooo tauuuuu siiihhh?", saya bukannya tercerahkan tapi malah jadi bingung, hahahaha. Intinya gini, Kimberly mengaku bahwa hubungan dia dengan Jackson sudah sangat dekat dan care sekali, dibuktikan dari telepon dan bahasa sms yang dekat. Hmmmm, saya sudah cukup matang dan berpengalaman untuk mengetahui mana frekuensi telepon dan bahasa sms yang biasa saja hingga yang bepercikan dengan api. Menurut saya sih frekuensi telepon dan sms dari mereka levelnya sudah bukan bepercikan dengan api lagi, melainkan sudah ada ledakan satu tank elpiji di SPBU naas. Nggak apa-apa sih seharusnya. Masalahnya adalah si Kimberly ini bukan gadis single yang bebas membina kesempatan atau hubungan dengan siapa saja. Kimberly kan sudah punya pacar. Kimberly bilang juga sayang sama pacarnya. Hubungan mereka juga bukan hubungan keterpaksaan.

Investigasi juga saya layangkan pada Jackson. Berikut gambaran wawancara tidak terstrukturnya.

Saya : Seriusan, tuh sama Kimberly?

Jackson : Hah? Tau dari mana lagi, nih?

Saya : Dari Kimberly-nyalah. Masa tiap kali pelajaran aku itu anak satu konsentrasinya ada dimana. Pas ditanyain, bener kan ternyata gara-gara Konci alias Konflik Cinta. Hedehhhhh. Kasian temen-temennya juga tuh, si Kimberly mah hobi curhat kasak-kusuk ke temennya.

Jackson : Aduh, parah baget itu anak ya. Aku juga nggak tahu, nih. Aku sih nganggap dia murid. Dia kan sering nanya tugas tuh, ya aku jawab aja. Eh, tapi kayaknya itu alasan, deh.

Saya : Kalau tugas, sih, kayaknya engga alasan. Dia mah emang sering ngsmsin guru-guru buat ngerjain tugasnya. Eh, tapi katanya situ yang udah akrab banget dan sering nelpon sama sms?

Jackson : Ih, dia bilang gitu? Apaan sih. Iya emang aku yang nelpon, tapi itu mah gara-gara Kimberly yang ngesms duluan minta ditelpon. Kalau aku nggak nelpon, dia marah, ngambek gitu. Terus miskol-miskol. Kalau smsnya lama aku balas juga dia miskol-miskol. Nggak apa-apa, sih, tapi pas udah aku telpon, kan kalau di sms mah kayaknya dia bilang urgent banget harus ditelpon, eh taunya cuma mau ngobrol doang.

Saya : Lahhhhh, masa berulang melulu. Sekali doang mah wajar. Ini kata Kimberly sering loh nelponnya.

Jackson : Iya emang sering. Aku juga jadi mikir, dia maunya apa kayak gini. Gini-gini juga gue laki kali. Ngerti gue. Tapi kesel juga gue waktu tau dia udah punya pacar. Lah terus ngapain nyariin gueeeeee? Terus, masa pacarnya juga sekarang jadi neror gue gitu. Katanya gue yang ganjen gangguin cewek orang.

Saya : Lah, emang baru tau kalau sia punya pacar?

Jackson : Iyaaaaaa. Ini pacarnya sms dan miskol-miskol.

Saya : Terus?

Jackson : Ya aku jelasin gimana keadaannya. Pacarnya diem aja. Pas di akhir dia bilang, intinya dia sayang sama Kimberly. Kalau emang aku juga sayang sama Kimberly, jangan dimainin Kimberly-nya. Lah, siapa yang mainin? Aku bilang, aku nganggap dia murid aja. Pacarnya minta maaf udah marah-marah ke aku. Ehhhhhh, aku kira udah beres tuh si Kimberly ini. Eh, belum dong. Besoknya dia masih manja-manja gitu ke aku. Ih, kan males ya. Aku cuekin. Eh, dia ngambek. Aduuuuuhhhh. Nggak ngerti, deh. Mau jaga jarak juga gimana. Dianya kayak ngga ada beban gitu. Nanti dikira aku yang kegeeran. Yaudahlah ya. Nggak ngertiiii.

Oke, ini pelik.


Kisah Berikutnya
Apakah hanya Jackson saja yang dicari Kimberly? Ternyata tidak. Belum beres persoalan Jackson dan pacar asli Kimberly, masih ada lagi nama berikutnya. Kimberly sendiri yang mengaku. Kali ini dengan sesama murid juga. Sebut saja namanya Andrew biar terkesan lemah lembut, pemalu, sopan, dan mudah canggung.

Kimberly : Bu, Bu, punya nomer hape Andrew nggak?

Saya : Engga. Kenapa gitu?

Kimberly : Kok nggak punya? Kan Andrew juga masuk kelas privat selain kelas reguler. Masa nggak punya nomer hapenya?

Saya : Lah aku nggak pernah nyimpen nomer hape murid.

Kimberly : Masa Andrew nggak pernah ngsms Ibu, sih?

Saya : Engga pernah. Sms ngapain?

Kimberly : Oh, gitu ya. Yah, Andrew ganti nomor hape, bu. Kayaknya dia lagi ngehindarin aku, deh.

Saya : Oh, hape dia hilang, Non. Kemarin dia nggak masuk les juga gara-gara nyari hapenya. Tahunya hilang. Kenapa emang?

Kimberly : Aku kan lagi pedekate, Bu sama dia. Ihihihihihihi. Doakan semoga berhasil ya sama Andrew.

Saya : Heeee? Lah kemarin sama Jackson? terus pacar kamu gimana?

Kimberly : Ah, nggak tahulah Jackson lagi sulit dihubungi. Kalau sama pacar aku. aku juga nggak tahu sekarang masih pacaran atau engga. Aku jenuh aja. Apa-apa selalu dilarang sama dia. Ini kan lagi bertengkar. Aku jadi nggak konsen aja. Aku kan mau SNMPTN, masa harus ada konflik aja sama pacar. Nggak konsen belajar jadinya. Aku harus cari suasana baru.

Saya : Dengan pedekate sama Andrew gitu?

Kimberly : Ihihihihihihihihihi. Iyaaaaa. Andrew tuh imut banget ya buuuuu...Doain aku dong biar bisa sama Andrew.

Saya : Masya Alllllloooohhhhhhhhh, Nooooon. Nyari suasana baru mah harusnya nggak usah pacaran. Kalau bosen sama pacar lama terus nyari pacar baru mah naon bedanaaaaaa? Dari mulut buaya masuk ke mulut harimau juga atuhhhhh. Belajar ai kamu teh. >>>>>>>>>> Ceritanya guru yang peduli pada pendidikan bangsa, padahal bete aja nggak habis pikir ada murid kayak begitu kelakuannya. Kok gue ngggaaakkkk bisaaaa kayak diaaaa. Hiks.




Origami Bangau

Suatu waktu saat masih remaja, saya iseng membeli kertas lipat warna warni. Tidak ada alasan khusus. Harganya hanya empat ribu rupiah dan ada dua belas warna yang dibagi hampir rata di keseratus lembarnya. Saya bawa kertas itu ke sekolah dan membebaskan teman-teman yang tertarik untuk mengambilnya.

Lalu kawan itu datang. Duduk di sebelah saya dan mengambil dua lembar kertas lipat, biru muda, ungu. Saya yang sedang bermain hape membiarkan dia melakukan hal-hal yang dia sukai dengan kertas lipat itu. Saya hanya bertanya cuek untuk basa basi, "Bikin paan?" 

Dia menjawab dengan manis (well, saya sedang main hape jadi agak lupa kenapa saya bisa mengklasifikasikannya dengan kata manis), "Bikin bangau karena sedang punya harapan."

Karena saya orangnya cuek dan masih main hape, saya jawab, "Punya harapan mah berdoa atuhlah." Dia diam saja sambil meneruskan proyek bangaunya. Saya main hape lagi.

Tak berapa lama, bahkan saya juga belum kena game over, kawan saya beranjak dari duduknya. Saya menoleh sebentar untuk kesopanan. "Udah jadi bangaunya," katanya begitu. Wah benar, sudah ada dua bangau di meja saya. "Buat aku?" saya bertanya nggak tahu malu. Dia mengangguk.

Sebelum dia berjalan menjauh dari kursi, saya tanya dia, "Kan bangaunya kamu yang bikin, kenapa ga kamu yang nyimpan?"

"Aku mah bisa bikin kapan aja aku mau. Kamu mah ngga bisa main origami. Jadi itu buat kamu aja."
Saya hanya bilang okeee pada saat itu dan sampai berbelas tahun kemudian, yakni sekarang, bangau itu masih saya simpan di kamar saya, ditempel di sterefoam berisi hal-hal yang ingin saya ingat dari masa remaja.



Sebuah Halo

Setelah lama tidak menulis di blog, tentu klasiknya manusia yang ada di dunia akan membuka posting terbarunya dengan kalimat, "Wah sudah lama tidak menulis blog ya. Maklum sedang sibuk." Saya juga tadi niatnya nggak mau kayak gitu sih karena metode itu terlalu klasik, tapi apa boleh dikata karena sepertinya saya juga tidak  kreatif-kreatif amat ya saya gunakan juga kalimat reseptuil seperti itu. Apa coba reseptuil artinya? Nggak tahu juga. Akhir-akhir ini saya sering membuat kata-kata sendiri yang garing dan ngga ada artinya.

Sekarang saya membuat posting lagi di blog ini juga niatnya hanya untuk memaksakan diri saja. Ya, harus dipaksa karena kalau tidak dipaksa ya digigit nyamuk. Tuh kan saya ngaco lagi. Kenapa ya saya harus memaksakan diri untuk menulis? Ya, nggak tahu juga. Selain sering bicara ngaco, akhir-akhir ini juga saya sedang sering tidak punya alasan untuk melakukan suatu hal. Ya karena mau saja atau karena disuruh. Disuruh atasan terutamanya. Kalau disuruh kamu mah saya nggak mau. Saya mah orangnya tertutup kayak rapat penjurian suatu seleksi.

Ada banyak yang terjadi setahun ini. Kalau ditotal-total mah ya ada lah segitu. Saking banyaknya saya juga ngga ada ingat-ingatnya. Saya mah serius euy suka lupaan gitu orangnya. Kalau saya ditanya atasan saya surat anu atau dokumen anu, saya harus merangkai-rangkai dulu asosiasi yang membuat saya bisa ingat dengan hal itu. Kadang-kadang asosiasinya suka aneh, misalnya saya ditanya kesepakatan X itu dibahas waktu pertemuan Y yang keberapa. Saya ingat ada hasil itu tapi kan yang ditanya pertemuan keberapa, yang kemudian pasti akan ditanya diselenggarakan dimana, dan tanggal berapa. Terus saya berusaha mengingatnya misalnya dengan mengingat lagi hasil pertemuan itu dicetuskan waktu si Pak Z pakai baju apa, terus saya tanya lagi, Bapak dulu pakai baju yang anu itu pas kapan? Oh pas itu. Nah, berati itu kesepakatan waktu pertemuan bulan anu di anu pas hari ke-anu. Gitu. Lama ya? Ya tapi jangan dibayangkan saya ingat-ingatnya sampai 3 jam dong. Ya nggak mungkin dong. Masa saya duduk-duduk aja di depan atasan saya selama 3 jam? Jangan sedih-sedih banget dong menilai saya.

Tapi selupa-lupanya saya mah, nggak akan kayak pacar saya. Setelah tahun ini dia membuat tulisan yang luar biasa bikin terharunya dan mencetak ratusan jempol dan komentar positif sebagai kado ulang tahun saya, tiga bulan setelahnya dia lupa saya ulang tahun tanggal berapa. Heyyyy. Atuhlah saya mah nggak akan lupa sama hal yang telah saya tulis. Kalau dia sampai lupa gitu berarti dulu motivasimu apa mas sama aku? Apa kau hanya mau cinta dan simpatiku saja?

Ya begitulah pokoknya. 

Saya sebenarnya agak bingung. Ya, itulah sebenarnya motivasi saya untuk menulis sekarang. Gimana ya, mungkin karena ini imbas dari keteledoran saya yang mudah lupa. Jadi gimana ya saya sedang merasa bahwa hidup saya ini kurang sekali. Kurang menulis, itu yang terutama. Saya masih menulis sih, tapi menulis yang serius saja semacam menulis laporan, nota, surat, dan sedikit menengok bahan masukan. Saya juga kurang membaca, tapi bukan berarti saya tidak membaca, Saya hanya membaca bahan masukan, surat, nota, dan laporan. Tidak ketinggalan pula saya baca concept note, administrative arrangement, dan tentative program suatu workshop atau pertemuan yang ada sayanya atau nanti atasan saya yang bakal ikut. Saya juga baca piagam-piagam dan konvensi. Yang fun-nya ada juga sih saya baca koran dan majalah. Majalahnya juga macam-macam, dari Donal Bebek, Bobo, Femina, Marie Claire, Tempo, dan Economist. Kalau koran mah standar ya gitu-gitu aja. Saya juga baca artikel online, baik dibagikan secara gratis dan mutunya nggak terjamin macam yang biasa kita jumpai di beranda facebook, maupun yang akun resmi medianya saya ikuti di twiter.  Ya intinya masih baca sih tapi saya tetap merasa hidup saya kurang, Kalau lagi ngerasa kurang gitu mah ya sudah saya mah tidur aja atau lanjut baca timeline. Dari segala timeline sih yang paling ngeselin tentu saja timeline Path karena kita akan melihat posting-posting pamer nggak penting dari teman-teman yang hidupnya dekat dengan kita. Ya kita juga suka sama ngeselinnya kayak merekaa kalau udah posting-posting hal-hal sok bahagia dan memorable padahal biasa aja kali ah. 

Iya kembali lagi ke soal kurang.

Ini terutama soal menulis sih. Saya ngerasa sudah sangat berjarak sekali dengan isi otak saya sendiri. Apa-apa yang mebuat saya ingin sedikit merasa kritis, lebih banyak saya tahannya daripada saya kemukakan. Saya kayak lagi sedang menjinakkan diri saya sendiri. Sekarang kalau mau menulis, saya jadi harus berpikir beberapa kali lipat karena sadar bahwa sekarang saya nggak bisa hanya memikirkan dan mengungkapkan keresahan saya. Ya ada faktor institusi dan reputasi yang harus dipertimbangkan. Harus cari hal yang aman kalau mau menulis euy. Pas ada hal yang aman, eh yaudah saya juga malas nulisnya, Ya jadi saya juga bingung gitu ini memang saya yang beralasan atau memang saya hanya beralasan? Nah kan bingung. 

Ya namun demikian jika itu adanya, saya sepertinya memang tetap harus menulis biar ngga edan-edan amat. Kalau kata ibu saya mah saya harus tetap menulis, terutama yang lucu-lucu aja biar hidup tetap bahagia. Ya bahagia sih hdiup saya mah. Kalau lagi ingat mah, yah ternyata di tahun 2015 ini saya sudah melihat ASEAN-6. Kalau CLMV mah memang belum tahun ini. Ya mungkin ini memang tahunnya negara maju. Saya mah sebenarnya paling senang pas lagi pergi itu kalau sedang bikin laporan soalnya itulah saat saya tidak melamun dan mengingat hal-hal yang belum saya selesaikan. 

Masih ada euy yang belum diselesaikan pada tahun 2015 ini seperti niat, keinginan, dan tabungan untuk menikah serta niat, keinginan, determinaasi, dan perjuangan untuk ikut tes-tes agar bisa S2 di tempat yang baik dan sulit ditembus kalau kita hanya berpangku tangan belaka. Sepanjang tahun 2015 ini saya masih dalam tahap browsing-browsing dan bikin anggaran. Masalahnya, semakin dibrosing, saya semakin ragu, takut, dan merasakan perasaan lain yang tidak disarankan oleh agama. Selain itu, semakin saya membuat anggaran, saya semakin sulit berkomitmen untuk menjauhkan diri dari mal dan toko. Masya allah. Berat sekali ujian ini. Cuma ya saya tetap harus yakin untuk mewujudkan niat-niat yang hanya sampai pada tahap browsing itu pada tahun mendatang. Kalau tidak besok, kapan lagi?

Ya sekiranya demikian hasil kegelisahan saya hari ini yang meski setelah saya tuliskan di sini ya belum pulih-pulih amat. Tapi ya bagaimana lagi. Mungkin sudah saatnya saya menyerahkan semua pada Allah, salah satunya dengan salat setelah posting ini saya tutup.


Wassalam.



Ark. Des'15.

Tabu Pacaran di Sekolah


Ribut soal buku pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang memuat ulasan mengenai "pacaran sehat" rasanya cukup menggelikan. Mulai dari keberatan karena menggunakan ilustrasi perempuan berhijab dan laki-laki berpeci di depan air terjun, penjelasan yang tidak relevan dengan muatan PJOK sendiri, hingga kenapa persoalan pacaran harus diatur negara dengan diberikan arahan dari buku pelajaran. Haha. Saya sendiri punya pandangan lain mengenai kejadian tersebut.

Saya masih tidak habis pikir dengan kegemaran beberapa di antara kita untuk menabukan sesuatu hal yang sebenarnya telah menjadi fenomena yang tidak terhindarkan. Saya pikir, kenapa kita harus enggan membicarakan soal pacaran, terlebih dalam konteks untuk memberikan nasihat bagaimana sebaiknya hubungan dua remaja dibangun -mengingat buku pelajaran tersebut ditujukan untuk siswa SMA kelas XI-. Ulasan dalam buku pelajaran tersebut bagi saya justru membuka peluang bagi orang dewasa -dalam hal ini guru di sekolah- untuk memberi arahan gamblang atas pertanyaan-pertanyaan dalam pacaran yang saya yakin banyak menggelayuti pikiran ABG-ABG, khususnya perempuan. Fenomena kekerasan dalam pacaran, sifat posesif pacar yang membatasi gerak pasangan, dan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada seks bebas, kesemuanya butuh penjelasan dan peyakinan dari orang dewasa. Tanpa arahan tersebut, akan lebih banyak lagi remaja korban pacaran yang sesungguhnya.

Bagi saya yang pernah menjadi pengajar, pendamping, dan kawan curhat murid SMP dan SMA, dan pernah menjadi remaja, pacaran adalah hal yang tidak bisa begitu saja dilarang dan disimpan rapat-rapat. Bahkan, bisa dibilang, pacaran adalah bagian dari masa pubertas yang didukung oleh faktor kodrati dan kecenderungan lingkungan. Ketertarikan kepada lawan jenis, siapa di dunia ini yang belum pernah merasakannya saat remaja? Bahkan Felix Siauw yang saat ini sudah dijanjikan surga oleh dirinya sendiri itu pun pasti pernah merasakan cinta monyet. Masalah diterima atau tidak menjadi pacar si pujaan hati, biarkan saja menjadi rahasia besar pria yang di akun twiternya mengaku dengan bangga bahwa rumah pertamanya masih dibelikan orang tua setelah pisah pendapat sekian lama karena mau meratakan Jakarta dengan Islam.

Jangan pikirkan nama-nama jomblo dari lahir yang dari remaja sudah punya cinta tapi tidak jua berhasil mendapatkan, entah karena tertikung, cemen, mudah pindah ke lain hati, atau bukan jodoh. Fokus kita sekarang adalah pada remaja-remaja alpha male/female yang dengan gagahnya bisa jadian dengan pujaan. Ya namanya remaja yang baru merasakan cinta, pasti ada segi-segi amatir yang bila tidak diberi pengarahan, masa depan yang jadi taruhannya. Bisa jadi dia akan menganggap lumrah meluapkan emosi kepada pacar dengan memukul, menendang, atau meninggalkan di jalan tol. Bagi pacar yang jadi korban, dia juga tidak tahu apakah itu hal yang wajar didapatkannya karena tidak menyenangkan pasangannya atau justru dia harus melawan dan menegakkan harga dirinya bahwa apa pun yang dirasakan pacarnya, bukan dia yang seharusnya menanggung secara fisik dan batin. Bagaimana pula dengan remaja yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk kuliah karena sang pacar takut di universitas ia akan memiliki pacar baru, pandangan baru, dan lebih fokus mengejar cita-cita? Ada beberapa kawan saya yang dengan ikhlasnya menerima arahan posesif seperti itu dari pacarnya. Meski mereka sepertinya bahagia dengan pilihannya itu, saya tidak melihat pilihan tersebut sebagai hal yang adil karena bukan mereka yang memutuskan. 

Hal penting lagi terutama menyangkut aktivitas yang megarah pada seks bebas. Dorongan seksual saya rasa merupakan hal manusiawi yang dirasakan manusia saat ada kesempatan, niat, keinginan, pikiran, dan sebagainya. Dilema benar-salah, mau-tidak, takut-ragu menjadi isu yang pelik bagi remaja yang tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan atas batasan, dampak, dan cita-cita dalam pacaran. Ini tidak saja soal perempuan yang bila kegadisannya berakhir maka ia akan mendapat tempat yang tercela di mata masyarakat *kalau ketahuan* dan bagaimana ia akan menanggung kehamilan, kelahiran anak, dan mengasuh anak di usia muda, tapi juga bagaimana laki-laki dan perempuan menghargai dirinya sendiri dan pacarnya dalam suatu hubungan dan merencanakan masa depan hubungan mereka. Selama ada yang belum bisa dan belum mau bertanggung jawab atas dampak yang akan tertanggung di masa mendatang, masing-masing pihak boleh menolak tanpa rasa bersalah ajakan pihak yang lain. Sebaliknya, pihak yang ditolak juga tidak berhak untuk mempersuasi, apalagi memaksa pendirian tersebut. 

Masalahnya, jangankan untuk menentukan sikap, kebanyakan dari mereka tidak memiliki akses informasi terbuka tentang hal tersebut. Kalaupun ada, info yang ada adalah rekaan remaja yang sama-sama tidak tahu atau khayalan-khayalan yang sifatnya menabukan ketersediaan informasi. Saya saja pernah terseret pemahaman kearifan lokal anak remaja sok tau yang percaya bahwa kehamilan bisa terjadi lewat perpindahan sperma di kolam renang. Sampai kuliah saja saya percaya bahwa azab dari ciuman bibir adalah putus. Ini bukan persoalan sains yang menggunakan kecerdasan kognitif, melainkan ketidaktahuan yang dijelaskan dengan bentuk tabu dan ketakutan yang dampaknya dahsyat secara afektif. 

Persoalan apakah rambu-rambu pacaran itu pantas atau tidak diselipkan sebagai bahan pelajaran di sekolah, terlebih apakah relevan diselipkan sebagai salah satu bab dalam PJOK, dan sejauh mana negara dapat mengatur hubungan individu, saya pikir itu hanya persoalan teknis yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Apa salahnya sekolah memberi masukan mengenai hal-hal di luar kelimuan? Toh, fungsi sekolah pun adalah mendidik. Tentu tugas itu juga diemban oleh orang tua. Namun, sejauh mana dan seberapa banyak remaja yang dapat dengan bebas bertanya kepada orang tuanya mengenai, "Ma, kalau aku diludahi pacar aku lalu ditempeleng, tapi aku tetap cinta dia, aku harus apa?"; "Pa, pacar aku kok suka ikut campur memilihkan warna pakaian dalam aku?". Selain sungkan dan awkward, alokasi waktu remaja memang lebih banyak dihabiskan di sekolah dan dengan teman-temannya. Tak jarang pula, pacarnya berasal dari kawan-kawan sekolahnya yang juga dikenal oleh gurunya. Lalu apa yang salah bila sekolah juga menyelipkan wejangan mengenai pacaran? Lalu kenapa juga mesti mempertanyakan kenapa harus PJOK yang memberikan arahan mengenai pacaran yang sehat, kenapa bukan di Bimbingan dan Konseling (BK)? 

Bukan tidak mungkin untuk menyelipkan bab Pacaran Sehat pada buku pelajaran BK. Apalagi kawan saya yang menyenangi kemandiriannya dalam berpacaran, Remon, mengatakan bahwa ketika SMA ia memiliki buku pelajaran BK, berbeda dari saya yang tidak memilikinya, entah karena memang tidak diedarkan di sekolah saya atau saya yang terlalu apatis dengan pelajaran yang tidak ada ujiannya. Bisa jadi  faktor tidak meratanya buku pelajaran BK dan tidak diujiankannya pelajaran BK membuat buku BK kurang strategis untuk dijadikan alat sosialisasi pacaran sehat. Ya, tapi tidak berarti juga dengan dimasukkannya bab Pacaran Sehat ke PJOK maka akan ada ujian praktek Pacaran Sehat. Ini, sih jauh lebih tidak manusiawi. Ingat, masih banyak orang seperti Remon yang menjadikan pacaran sebagai aktivitas suci yang tidak perlu diuji-uji karena memang hatinya hanya untuk neng seorang. Masalah kapan Remon akan mempersunting si neng, itu masih menunggu keputusan KPK apakah cukup bersih untuk mendampingi pemuda Cipinang kinyis-kinyis pelaku revolusi mental ini. Cukuplah diselipkannya bab Pacaran Sehat ini hanya sebatas himbauan yang menumpang pada PJOK agar siswa SMA dapat berada dalam 1 kerangka formal untuk memperoleh informasi yang dapat mengurangi kegalauan mereka. Lagi-lagi persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan. 

Satu-satunya kesalahan yang perlu disorot dari ulasan pacaran sehat di buku PJOK tersebut adalah penyertaan ikon islam, gadis berjilbab dan lelaki berpeci, sebagai ilustrasi. Ya, di tengah majunya industri kreatif ilustrasi di dunia ini, kenapa harus memilih gambar muslim sebagai ilustrasi? Hehe. Saya memahami protes masyarakat yang merasa agamanya terlecehkan (secara tidak sengaja) itu. Di tengah kampanye antipacaran oleh kanjeng ganteng Felix Siauw yang suka bingung menepatkan posisinya sebagai ustad gaul atau penjual buku online dan lebih ngetrennya taaruf ketimbang tawaddu sebagai cara untuk mendekatkan jodoh, pemilihan ilustrasi tersebut memang sangat rawan kritik.

Namun tentu kritik atas ilustrasi tersebut tidak perlu mencuri panggung dari substansi yang ingin dibagi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pacaran, ingin ditutupi seperti apa pun caranya, telah menjadi fenomena yang paling manusiawi di dunia remaja. Saya malah merasa bahwa tanggapan negatif mengenai pacaran hanya merupakan keresahan penonton. Ya, saya juga suka ilfil kalau membaca menton-mention penuh cinta dari remaja, apalagi kalau hidupnya hanya diselimuti oleh cinta dan lupa kalau besok masih ada ujian fisika dan beberapa tahun ke depan, saat mereka masuk kerja, mereka akan menemukan bos muda serupa nabi yusuf dan banyak yang single. Hanya karena keresahan saya yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata penuh petuah yang inspiratif, tentu tidak adil apabila saya langsung menyebarkan informasi yang mendemonisasi pacaran lalu membuat remaja semakin gamang dengan gejala pubertasnya. Mereka sangat berhak memperoleh pengetahuan yang memiliki dampak langsung bagi diri mereka.

Ark. Okt. 14.

Sebal yang Kini Tak Bisa Sembarangan

Rasa sebal bisa terjadi karena banyak sebab musabab. Saya pernah disebali oleh orang yang baru mengenal saya hanya karena saya mirip dengan mantan orang yang kini jadi kekasihnya. Saya mahfum. Sebagai sesama perempuan, saya tahu rasa sebal itu. Haha.

Saya juga sebal kepada banyak orang untuk alasan-alasan yang tak masuk akal. Tidak hanya untuk alasan kepentingan bersama seperti bau yang menyeruak setiap kali ia mengayunkan tangannya, tetapi juga untuk alasan nonteknis seperti karena ia adalah teman perempuan pacar saya yang saat bertemu di toilet umum tidak membalas senyum saya. 

Saya akui, saya mudah sebal untuk hal-hal yang kelewat antimainstream di benak saya. Hal-hal yang tidak pernah saya temui sebelumnya dalam hidup saya yang tenang. Hal-hal yang terjadi tidak sesuai dengan ekspekstasi saya. Hal-hal yang mengingatkan saya akan hal-hal yang tidak ingin saya tahu dan rasakan. Hal-hal yang mengganggu secara kodrati dan terlintas begitu saja. 

Dulu saya mudah mengekspresikan rasa sebal saya tanpa berpikir panjang. Waktu SMP saya pernah menenpeleng kawan lelaki saya karena ia terasa begitu mengganggu selama seminggu memamerkan nilainya yang 10 sementara saya hanya 9. Saya juga pernah mengalami teror kelas saya dikepung belasan kakak kelas karena saya bersikeras tidak mau memberikan komputer umum di perpustakaan saat kakak kelas saya menyelonong hendak memotong antrian saya. Itu hanya dua kisah heroik. Sejak TK, tiap tahun saya memiliki tumbal berupa orang yang terlibat baku mulut dan baku hantam dengan saya tanpa memandang gender dan usia. Prinsipnya, saat saya menganggap dia aneh karena tidak sesuai kaidah yang saya terima dalam sistem pendidikan saya, saya akan mati-matian membela keyakinan saya dan memojokkannya. 

Namun demikian, nampaknya saya kini harus mulai mengendalikan ketidaksukaan saya kepada orang. Alasannya klise, karena saya adalah makhluk sosial yang kelak pasti akan membutuhkan bantuannya. Dorongan lain adalah rasa tidak nyaman setiap kali saya harus bertemu dia dengan perasaan yang selalu gondok. Pertimbangan ini tentu berbeda dari pertimbangan saya saat mencoba untuk tidak sering-sering sebal kepada pacar saya. Untuk pacar, alasan saya adalah demi terwujudnya relasi sehat yang dilandasi oleh kesalingpahaman dan belajar untuk menertawakan hal-hal yang menyebalkan di masa kini menjadi hal lucu di masa mendatang. Plus, apalah saya ini yang sebenarnya juga memiliki banyak hal menyebalkan di mata pacar saya. Saya tentu tidak boleh kufur nikmat untuk gampang sebal dengan kebiasaan pacar saya yang kalau kentut buru-buru menempelkan hape ke pantat agar saya juga menikmati kentutnya dari kejauhan, padahal saya juga sering menyuruhnya menunggu saya di bawah terik matahari saat saya masih belum selesai mencatok rambut.

Kalau pilihan untuk banyak berdamai dengan orang-orang yang saya sebali untuk berbagai alasan dan motivasi, ya saya hanya ingin hidup tenang. Saya pikir, janganlah saya sering-sering menampakan ketidaksukaan saya karena ujungnya meja, kursi, pintu, dan silaturahmi menjadi taruhan. Berkarir dari bawah dan sendirian, saya pikir saya harus hati-hati memilih waktu untuk menyerang dan menahan diri. 






Ark.Okt.14

Untuk Nisan yang Memaksa untuk Dipercaya

Tidak banyak yang bisa saya ingat mengenai pertemuan-pertemuan saya dengan nenek saya yang baru seminggu ini menyandang gelar almarhumah. Entah kenapa. Saya hanya ingat ada suatu saat ketika nenek saya terkejut melihat kedatangan saya di rumahnya kemudian menanyakan banyak hal, termasuk apakah saya punya pacar. Dulu belum. Ah ya, jika jawaban saya adalah saya belum punya pacar, berarti hal tersebut terjadi antara tahun 2008-2012. 

Saya juga hanya ingat ketika saya pamit pulang sebentar untuk menginap di rumah nenek saya yang lain, almarhumah nenek saya yang ini menanyakan apa saya kan kembali lagi. Saya jawab ya. Esoknya saat saya kembali dengan perasaan malas, saya terkejut karena nenek saya sudah memasakkan saya nasi kuning, makanan yang menurut tante saya jarang dimasak oleh beliau dan memang beliau khusus memasakkannya untuk saya. Saya menyesal saya sempat merasa enggan menyambanginya hanya karena persoalan sepele macam malas mandi.

Pamit untuk pulang kembali ke Bandung, almarhumah nenek saya ternyata telah membekali saya dengan roti sisir yang dibelinya dari pasar. Saat melihat saya mengepaknya, beliau berkata dengan lega bahwa ternyata saya sudah bisa mengatur tas travel dengan sangat baik. Beliau kemudian juga membekali saya dengan banyak hal dari toko yang dibukanya di depan rumah. Dari mulai biskuit hingga pembersih wajah. Haha. Sembunyi-sembunyi dari tante saya, beliau membekali saya uang Rp20.000.

Itu yang saya ingat mengenai pertemuan terakhir saya dengan beliau bertahun-tahun lalu yang bahkan saya tak bisa mengingat pada tahun berapa itu terjadi. Tak sering saya ke Surabaya tapi bahkan saya tak bisa mengingat dengan baik kapan momen itu berlangsung.

Berat bagi saya untuk mempercayai bahwa nenek saya telah tiada, dua hari sebelum ulang tahun saya. Saya tahu beliau sakit-sakitan dan menjadi sangat pendiam sejak kakek saya meninggal 7 tahun silam. Saya juga berjanji pada diri saya sendiri untuk menjenguknya ke Surabaya tahun lalu. Ah, tapi ternyata janji tinggal janji. Saya tak kunjung menepatinya karena banyak hal dan banyak pertimbangan. Selama ini saya hanya bisa berkata dalam hati, "Tunggu ya, Mbah. Jangan dulu meninggal sebelum aku ke sana."

Ada perasaan terkhianati saat ayah saya mengabari bahwa nenek saya meninggal. Entah terkhianati karena apa. Toh, saya sendiri pula yang tak kunjung menyambanginya dan 'membayar' Rp20.000-nya yang dulu disisipkan kepada saya saat beliau tahu hidup terasa keras bagi saya. Selain itu, saya pula yang memutar-mutarkan pembicaraan saya dengan nenek saya di telepon setelah pertemuan terakhir itu saat nenek saya menanyakan kapan saya kembali dengan suara yang terisak. Saya pula yang....ah entahlah, ada banyak hal. Tapi saya terhenyak ketika saya merasa ditinggalkan di sini tanpa tahu keadaan beliau yang terakhir.

Perasaan ditinggalkan ini serupa dengan perasaan yang selalu saya miliki di usia SD saat almarhumah nenek saya sering bertandang ke Bandung untuk waktu yang lama kemudian kembali ke Surabaya untuk mengurus beberapa hal. Saya bisa berguling-guling menangis di kamar beberapa hari saat beliau pamit berangkat ke terminal. Saya akan kembali riang saat dikabari beliau akan ke Bandung lagi dan saat beliau datang, saya akan memberondongnya setiap hari dengan pertanyaan, "Sampai kapan di Bandung?" hanya untuk menyiapkan mental saya saat nanti ditinggal pulang. Tapi tetap, bahkan dengan perisai yang saya buat itu sendiri pun, saya masih akan tetap menangis saat beliau mengepak pakaiannya pulang.

Tak terlalu banyak alasan kenapa saya menyayangi beliau. Tidak seperti teman saya yang kerap diceritakan kisah revolusi kemerdekaan RI dari kakek dan neneknya, kenangan saya dengan nenek saya hanya sebatas beliau adalah orang yang selalu paling pertama saya temui saat saya ingin jajan. Saya tidak diberi uang saku oleh orang tua saya, hanya dibekali nasi goreng, indomie goreng, telur ceplok, teh kotak, susu ultra, dan terkadang dunkin donut dengan kupon bonus 2 donat untuk pembelian selusin yang digunting dari sampul depan Majalah Bobo. Makanan yang kurang ngetren di tengah kepungan cilok, baso ikan, dan es petojo di depan sekolah dan di ujung gang. Sementara itu, almarhumah nenek saya menyimpan banyak sekali recehan di tasnya dan banyak sekali makanan di toples yang disimpannya di lemari baju. Hanya dengan saya beliau berbagi makanan yang dibeli dan disimpannya sendiri. Kebiasaan saya saat di rumah setiap pagi minta jatah sesajen dari ibu saya yang pergi ke warung untuk juga dibelikan makanan ringan menyejarah dari situ juga.

Ah, iya, Almarhumah nenek saya pun punya sejarah dalam memupuk jiwa enterpreneurship. Ketika SD saya punya usaha menjual notes yang saya buat dari kertas HVS, karton, dan kertas kado. Hal tersebut tidak terlepas dari suntikan modal dari almarhumah nenek saya. Saat beliau ada di Bandung, beliau memberi saya uang seratus dua ratus rupiah. Ketika beliau kembali ke Surabaya, saya diberi Rp5.000. Uang itu yang saya putar untuk dapat terus jajan meski tidak disuplai oleh orang tua. Ahahaha.

Hal lain yang saya ingat dari nenek saya adalah titahnya untuk mencarikan uban dan memijat betisnya yang varises setiap malam. Sampai sekarang saya masih ingat tekstur kakinya sejak saya SD hingga SMA yang bertambah keriput. Ada kesenangan tersendiri bila saya menarik kulit kakinya. Rasanya gimana gitu, lho, seperti menarik payung di leher reptil yang sedang berteriak.

Dibanding dengan nenek dan kakek lainnya, saya paling dekat dengan almarhumah nenek saya yang ini. Kata ayah saya, karena saya adalah cucu pertama dan karena di masa balita, saya selalu diasuh nenek saya selama ibu saya kuliah. Saya tidak ingat bagaimana momen itu berlangsung, hanya saja menurut ayah saya, sambil menunggu ibu saya pulang, agar saya tidak selalu menangis, nenek saya mengajak saya berpanas-panas keliling kampung dan pasar. Mungkin dari situ juga saya selalu suka belanja.

Ah, entahlah. Hanya itu yang bisa saya ingat mengenai relasi saya dan nenek saya. Berat juga rasanya mulai saat ini saya harus menyadari bahwa nenek yang saya minta tunggu saya di Surabaya itu telah pergi tanpa menunggu saya yang memang tidak bisa ditunggu. Berat juga rasanya memori saya atas paras beliau kini harus bersanding dengan gambar gundukan tanah berbatu yang dijadikan kuburannya yang tadi pagi baru dikirim ayah saya. Seolah keyakinan yang saya pegang di dalam hati saya bahwa nenek saya masih di Surabaya memesan roti sisir sudah haram untuk dipertahankan. Seolah lidah saya dipaksa untuk segera mengucap selamat tinggal dengan paripurna, menutup dialog bergejolak dengan diri saya sendiri saat shalat gaib dan saat mengirimkan yasin dan alfatihah selepas shalat fardu.

Kangen Mbah Dewi.




Ark.Okt.14.

Selamat Jalan, Pak Indra


"Bu, Pak Indra meninggal, cek fesbuk Pak Rian."
"Innalillahi wa innailaihi rajiun, telah meninggal pimpinan Ganesha, Bapak Indrayanto Sabtu, 12 Juli 2014 pukul 23.15. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah, diampuni dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan."

Mata saya masih setengah tertutup dan kesadaran saya belum pulih benar saat saya membuka dua notifikasi sms pagi Ramadhan itu. Pak Indra? Meninggal? Maksudnya? Ya Allah? PAK INDRA? MENINGGAL? Hah, ini gimana, maksudnya apa?
Saya membalas dua sms tersebut dengan ketidakpercayaan lalu saya membuka fesbuk Pak Rian. Saya berusaha menolak apa yang saya baca. Namun memang itu kenyataannya. Pak Indra telah berpulang. Pikiran saya lalu melayang pada Bu Tari, istri Pak Indra. Lalu Ilham, Uzi, Rara, dan adik kecilnya yang baru beberapa belas bulan lalu lahir. Adik saya yang sejak tahun lalu meneruskan saya mengajar di Ganesha kemudian mengingatkan hal yang lebih ironis, "Mana besok [Ilham, Uzi, Rara] masuk sekolah..." Ah, iya, besok hari pertama Uzi dan Rara, anak kembar Pak Indra, masuk SMP. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya masuk sekolah baru dengan babak kehidupan yang juga baru tanpa ayah yang selama ini mewanti-wanti belajar yang keras agar bisa masuk sekolah yang baik.
Pagi itu, saya juga menyesali keputusan untuk tidak pulang pada pekan ini ke Bandung. Andai saya pulang, saya bisa memberi penghormatan terakhir kepada atasan yang dengan baik hati telah membesarkan saya selama 5 tahun. Saya berutang budi banyak sekali kepada beliau. Berat sekali akhirnya saya hanya bisa mengirim sms belasungkawa kepada Bu Tari.
Terduduk di kamar asrama, saya teringat pembicaraan pada suatu malam di Ramadhan tahun 2011, sehabis acara buka bersama Ganesha dalam perjalanan kembali menuju Cibiru setelah mengantarkan guru-guru cabang di area belakang. Di mobil ada Bu Sukroh yang menyetir, Pak Tedi di sebelah Bu Sukroh, dan saya yang duduk di kursi tengah Avanza.
"Gimana ya, Pak, Bu, kehidupan kita nanti setelah ini?" tanya saya memecah kantuk Bu Sukroh yang bosan dengan pemandangan jalan raya yang gelap-gelap saja.
Agak lama tak ada jawaban, akhirnya Pak Tedi buka suara, "Ya, yang pasti akan bertambah baik." Bu Sukroh mengamini namun pikiran saya masih melayang. Iya ya akan seperti apa hidup setelah ini, duh lulus kuliah juga belum, begitu pikir saya saat itu.
Saat bertanya itu, saya sedang takut-takutnya berpisah. Saat itu, terutama setelah outing Ganesha ke Pangandaran akhir tahun 2010, silaturahmi guru-guru Ganesha sedang erat-eratnya. Pak Indra juga sedang nyaman-nyamannya mengayomi kami. Persoalan padatnya jadwal promo -yang selalu berhasil saya hindari karena malas bangun pagi dan dibalut alasan, "Ada kuliah, Pak," dan iritnya jatah fotokopi latihan soal adalah hal lain. Yang jelas, Ganesha adalah rumah kedua, literally, bagi saya dan guru-guru lain. Bagaimana tidak, di Ganesha kami bisa menghabiskan waktu untuk mengajar sejak jam 7 pagi sampai setengah 9 malam, bahkan dari Senin hingga Minggu, minimal di 6 cabang, tak terhitung jumlah kelas yang dipegang.
Ya, tentu tidak setiap hari jadwal full Senin-Minggu seperti itu. Hanya beberapa kali saja di musim ujian. Lagipula ada jeda-jeda tertentu di antara kelas pukul 7-20.30. Meski lelah, nyatanya padatnya jadwal tersebut tidak membuat stres karena jalinan kebersamaan dengan murid, pengajar, dan sekretaris cabang juga begitu kuat. Kedekatan dengan Pak Indra dan keluarga juga sangat erat karena frekuensi peredaran Pak Indra, Bu Tari, Ilham, Uzi, dan Rara yang juga tinggi ke berbagai cabang.
Kembali pada ingatan saya akan malam Ramadhan di Avanza kantor, pembicaran itu sampai saat ini selalu terasa nyata. Terlebih saat ternyata perpisahan itu mulai datang pelan-pelan menyerang lingkaran pertemanan saya yang tercipta karena lamanya jam beredar di Ganesha dan mendapat jadwal berdekatan. Pak Tedi mulai sibuk di kantor barunya sehingga hanya mengajar di malam hari dan akhir pekan –lalu belakangan menghilang lalu juga menikah, Bu Ina pindah ke Jakarta, Bu Sukroh dan Pak Rian makin jauh melanglangbuana ke cabang-cabang baru, Bu Egy mengajar di sekolah dan lebih banyak mengambil jadwal di Cicalengka, Pak Ajat menikah, Pak Dicky menikah, Bu Ely dan Bu Sukroh juga menikah, dan beberapa bulan selepas saya lulus saya juga hijrah ke Jakarta. Kini, perpisahan itu makin terasa dengan berpulangnya Pak Indra ke sisi Sang Pencipta tanpa disangka-sangka karena sakit yang juga tiba-tiba.
Entahlah, rasanya……Byaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….hal yang dulu retak-retak kini berhamburan pecah, hilang, dan meninggalkan banyak pertanyaan kenapa.
Saya benci sekali dengan perpisahan meski dalam hati saya selalu berusaha menerima bahwa perpisahan adalah hal yang pasti akan selalu saya alami. Pun mengenai perpisahan yang ini, yang bagi saya tak ubahnya seperti perpisahan dengan keluarga. Pak Indra, orang yang selalu kami ‘jaga’ kehadirannya dengan sms notifikasi semacam,
“Bu, jangan telat ya, Pak Indra udah otw ke Rancaekek dari Cicalengka,”
“Bu, Pak Indra lagi di Ujungberung ngga?”
“Si Bapak mau kemana Bu, habis ini?”
bagaimanapun juga adalah orang baik yang pernah memperkerjakan saya selama 5 tahun. Saya masih ingat saat pertama kali melamar pekerjaan, dites mengajar, diwawancarai oleh beliau saat saya masih menjadi mahasiswa semester 2. Kepercayaan beliau untuk menerima saya menjadi pengajar Bahasa Indonesia, lalu bertambah menjadi pengajar Bahasa Inggris pada saat itu adalah pintu yang dibukakan Allah untuk saya sehingga bisa hidup baik-baik saja selama kuliah. Gaji yang diterima tiap bulan tentu adalah salah satunya, tetapi yang lebih terasa hingga kini adalah ilmu dan kepercayaan diri yang terbangun selama di Ganesha.
Mengingat sosok Pak Indra, beliau adalah orang yang sangat kompleks dalam pemikiran saya, bahkan hingga saat ini. Itu juga yang menyebabkan saya masih belum bisa percaya bahwa Pak Indra sekarang sudah tiada. Dedikasinya yang begitu luar biasa akan usaha yang dibangunnya susah payah adalah hal yang begitu sulit dirumuskan dengan kata-kata. Kadang saya sebal pada Pak Indra. Biasa, bawahan males mah kayak begini hehe. Kadang saya paham dan menghargai juga mengapa Pak Indra mengambil keputusan A, B, C, dan sebagainya. Kadang Pak Indra juga nampak acuh dengan beberapa persoalan. Tapi tak jarang pula saya malu dan salah tingkah karena Pak Indra tahu hal-hal personal dan percintaan saya hahahaha. Pernah pula Pak Indra nampak keras kepada anak-anaknya dari soal jajan di luar hingga jadwal les yang sangat padat. Namun saya juga tersentuh saat melihat Pak Indra bercengkrama dengan anak-anaknya saat jeda jadwal belajar. Saya juga terpesona saat saya tahu Pak Indra memanggil Bu Tari dengan panggilan, “Yang” di umur mereka yang senior dan di depan kami semua.
Mengingat lagi pembicaraan di Ramadhan 3 tahun lalu itu, perginya Pak Indra tadi malam Ramadhan kali ini telah membuat tradisi Ramadhan yang baru bagi Ganesha. Biasanya tiap Ramadhan Pak Indra akan mengumpulkan kami dalam acara buka bersama. Saya selalu mendapat jatah membuat angket guru dan cabang, jadi MC dengan Pak Rian, dan ikut mengantar pulang guru-guru  dengan Bu Sukroh dan Pak Tedi. Bu Ely belanja hadiah, menyiapkan jadwal acara, makanan, dan dekorasi. Bu Sukroh jadi seksi sibuk segala urusan dalam dan transportasi. Pak Tedi menyiapkan slide acara dan pernah juga jadi ustad dadakan. Semua bergembira, terutama Pak Indra. Beliau banyak sekali menebar senyum –meski sempat juga tegang saat menyempaikan evaluasi tahunan hihi-, menyapa dan meledek guru dengan akrab, dan semangat mengajak foto bersama. THR dan bingkisan juga menjadi penyemarak. Ah, Pak Indra.
Mulai kini, sepeninggal beliau, entahlah bagaimana Ramadhan akan terlewati. Semua pasti akan berbeda tanpa Pak Indra meski saya yakin semua juga akan tetap baik-baik saja  atau bahkan lebih baik lagi seperti yang diyakini Pak Tedi. Sudah banyak kebaikan yang ditanam Pak Indra, baik bagi Ganesha dan bagi keluarganya sehingga tentu ya…hidup akan selalu berjalan dengan baik. Ya tapi, kehilangan itu akan selalu terasa.
Ada yang berkata bahwa orang yang meninggal pada bulan Ramadhan adalah orang baik. Saya jadi curiga bahwa memang memang kejadian yang begitu mendadak ini adalah skenario yang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa Pak Indra memang orang baik. Ah, tapi bagi saya, beliau memang orang baik, tidak peduli beliau meninggal pada bulan Ramadhan atau bukan. Kalau saya menyesali mengapa beliau meninggal pada bulan Ramadhan tadi malam, itu hanya karena saya merasa masih berutang budi pada beliau dan belum sempat mengunjunginya setahun ini, bahkan ketika saya mendapat kabar beliau masuk rumah sakit dan malah kini niat saya ditikung ajal. Sedih sekali rasanya saya hanya bisa mengantar kepergian beliau melalui posting ini dan sedikit doa tadi pagi.
Saya tidak tahu harus menulis apa lagi. Perasaan saya masih penuh dan otak saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa Pak Indra sudah tiada. Sementara ini, saya hanya bisa mengucapkan, “Selamat jalan, Bapak. Banyak tersenyumlah di sana.”


Ark.Jul’14.

Surat Acak-acakan untuk Ayie Annisa



Untuk sahabatku tersayang, Annisa Utami Seminar yang baru saja menjadi seorang istri

Pertemuan pertama kita, sebagaimana yang dialami oleh HI Unpad 2007 adalah ketika menyiapkan Makrab. Beberapa kali kami menyambangi kostmu yang memiliki seprei bergambar strawberry dan halamannya bergazebo. Aku lupa kita mengerjakan apa, sepertinya tidak jauh-jauh dari membicarakan orang. Ahahaha. Pertemuan berikutnya adalah saat kita menjadi MC di Makrab bersama Dewa dan Nizar. Tapi, karena dulu aku tidak berpasangan denganmu, interaksi kita tidak terlalu intens.

Ah, iya! Sebelum Makrab juga kita sering bertemu. Saat itu kamu sering ke lapangan basket di POMA bersama abang-abang yang pada semester akhir kita sering diawasi manajer di Che.co, "Teh, teh, teh si Aa itu ke sini sama cewek lain loh, ih ga asik!" Ahahaha. Dulu jujur sih, aku sempat memandang sebal kepadamu, "Ngapain sih, itu outsider dibawa ke HI!" -ngga gini juga sih bahasanya- hahaha. Ya pokoknya dulu sempat heran kenapa gadis lucu sepertimu harus bersama pria yang penampilannya sangar dan suka menarik rambut ke belakang *ditawur se-Faperta.*

Kamu dulu adalah orang yang tidak mendapat banyak pandangan dariku. Alasannya ya karena kita jarang bercengkrama bersama. Aku baru menggantungkan hidupku pertama kali kepadamu saat ada tragedi angkatan hahaha. Itu tuh yang kesalahpahaman soal siapa menggunjingkan siapa. Meskipun aku jarang berinteraksi denganmu pada masa sebelum itu, aku yakin kamu mampu menjadi penengah yang netral antara dua kubu. 

Dan ternyata benar. Sejak saat itu, aku tahu bahwa Annisa Utami Seminar atau Ayi adalah orang yang akan menjadi saksi dalam momen penting pada hidup perkuliahanku. Ahahahahaha.

Ayi, si gadis lucu itu akhirnya memang menjadi sahabatku. Dia selalu jadi orang pertama untuk berlari setiap ada senang atau sedih. Chatting hingga subuh, smsan kayak orang bego, twitteran kayak orang gila, komen-komenan di fesbuk kayak orang bener, sampai stalking orang tak dikenal di kafe berwifi. 

Hmmm, tapi Ayi tak hanya menjadi sahabatku. Ayi adalah sahabat semua orang. Entah kenapa, padahal Ayi kalau naik mobil hanya mau duduk di sebelah kursi kemudi. Hmmm, mungkin semua itu terjadi karena Ayi selalu mendengar sambil berjoget. Mungkin Ayi selalu menasehati sambil bersikap lilin. Mungkin Ayi selalu memeluk sambil memesankan nasi goreng. Mungkin Ayi selalu bisa menghapus air mata *hoeeek* tanpa tisu. Mungkin Ayi selalu menanggapi gunjingan orang dengan komentar yang lucu menyentil hingga ke imajinasi yang tak terbayangkan. Mungkin karena idealisme Ayi tidak pernah bertentangan dengan moral kolektif. Mungkin karena Ayi punya segala sesuatu untuk dikatakan sebagai seorang sahabat publik.

Ayi adalah orang yang memodifikasi karya fotografinya untuk aku hanya untuk mengatakan jangan menyerah pada skripsi pada saat tertekan. Ayi juga yang membaca baris demi baris email dari si bedebah congcorang yang sudah menikamkan sembilu di hatiku *alaaah* dan tak jemu-jemu meneriaki aku untuk tidak lagi bersikap bodoh. Ayi adalah mama yang membuatkan scrapbook digital untuk Dewa sehingga seluruh dunia tahu bahwa Dewa pernah menari hula-hula pada masa kecilnya.

Hmmmm. Ayi sekarang sudah menikah dengan Kang Agus, orang yang aku yakin sudah menjadi orang paling bahagia di dunia ini sejak tanggal 12 Januari 2014 lalu, terlihat dari senyumnya yang sumringah dan ikhlas di dalam setiap jepretan foto. Aku curiga jangan-jangan Kang Agus ini memang punya bakat sebagai fotomodel kawakan yang wajahnya tipikal camera-face. Ah, tapi memang Kang Agus sangat sangat pantas bahagia. Bagaimana tidak, sekarang ada Ayi yang siaga menepuk punggungnya saat Kang Agus dihadapkan pada situasi sulit semacam ketika Fahmi menggendong Alex di pelaminan usai foto pernikahan. Tidak ada cobaan di dalam mahligai rumah tangga yang lebih berat setelah menyaksikan kerusuhan HI 2007 di panggung. Yakinlah itu, Kang Agus.

Hmmmm. Sebenarnya saya mau menulis hal romantis untuk pernikahan Ayi ini. Sebenarnya saat melihat pameran foto pernikahan yang diunggah Dewa di facebooknya, saya sudah terharu. Sudah mau menetes-neteskan air mata ke pelimbahan. Saya mau bilang, saya bahagia Ayi menikah. Saya senang Ayi sekarang sudah tidak jomblo seperti piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiippppppppp sinyal ilang. Saya senang Ayi sudah punya sandaran bila sedang pegal punggungnya. Saya senang akan ada yang Ayi rajutkan sweater saat Ayi sedang ingin menjadi wanita seutuhnya. Saya senang Ayi telah menjadi perempuan yang sangat sangat sangat dicintai oleh suaminya. Ayi, kamu pasti pasti pasti akan bahagia seperti yang selalu kamu bilang di tembok-tembok rumah kosong!

Rasa senang saya sepertinya lebih besar daripada rasa kehilangan. Ya, apa sih artinya kehilangan kawan chatting hingga subuh, toh saya juga nggak punya akses internet di kamar kosan hehehe. Hmmm, ya tapi sedikit kehilangan beneran juga, sih. Masihkah engkau bisa kupeluk saat badai menerjang, Ayi? Aaaaaahhhh, atuhlah saya mau menulis serius tapi kenapa sulit sekali!! 
Oke, mari perbaiki. Iya Ayi, jadi ceritanya aku senang tapi aku sedih. Aku senang karena aku yakin kamu pasti akan bahagia, tapi aku sedih karena aku nggak tahu apa kita bisa seperti dulu saat tak punya siapa-siapa untuk digenggam. Ah, Ayi, tapi jangan peduli soal kesedihan. Fokus di sini adalah kebahagiaan.

Ayi, selamat ya sudah menjadi istri. Kamu sekarang punya orang pertama untuk kamu ceritakan banyak hal dari hari-harimu. Sekarang kamu hanya perlu untuk peduli mengejar cita-cita setinggi mungkin. Di bawah sudah ada yang akan menangkap dan membantumu untuk lompat lagi. Jangan lupa kalau masak diinfokan ke twitter pakai emoticon cun pipi ya. Biar Bayu tahu bahwa itulah keutamaan memiliki istri.

Ayi, aku nggak tahu harus bilang apa lagi. Posting ini juga sudah ngalor ngidul entah bicara apa, antarparagraf sudah tidak ada kohesi dan koherensi. Aku nggak tahu bagaimana caranya mengungkapkan semua semua semua semua perasaanku kepadamu. Ayi, aku senang punya sahabat seperti kamu. Aku senang kamu akhirnya masuk ke gerbang yang katanya sih ada happily ever afternya. Aku senang kamu senang di hari itu. Mmmmmmuuuuaaahhhh!!!

Ayi, aku sayang kamuuuuu Mamaaaaa~~~~~~~~



Apa yang Salah Bila Buruh Minta Kenaikan Upah?

Membaca twit di timeline saya yang masih banyak membahas tuntutan kenaikan upah buruh, khususnya di area Bandung melalui retweet akun infobdg, saya jadi gatal juga menanggapi. Namun, berhubung pembalasan twit biasanya lebih kejam daripada twit umpan sehingga nantinya bisa menimbulkan pertumpahan darah, apalagi ruangnya hanya dibatasi 140 karakter yang ujungnya bisa mengakibatkan kultwit yang bagi sebagian orang terasa mengganggu, maka saya tanggapi di sini saja. Singkat saja (niatnya), bahkan jika perlu harus lebih panjang introduksi ketimbang isi. Hehe.

Saya nggak paham ya masalah warga Bandung dengan buruh itu apa hingga twit mereka pun rata-rata menolak tuntutan kenaikan upah buruh. Ada yang menganggap tuntutan tersebut tidak wajar, ada yang menanggapi secara syar'i dengan mengatakan lebih baik mensyukuri yang sudah ada, ada pula yang mengutip pepatah bahwa menuruti nafsu itu tidak akan ada ujungnya. Sebelum ramai-ramai tuntutan ini saya juga pernah terlibat dalam pembicaraan dengan kawan saya di tempat kerja saya yang lama yang mengatakan, "Enak banget jadi buruh sebulan bisa dapat 2 juta, kita aja ngajar sebulan olah raga otak belum tentu dapat segitu."

Reaksi negatif atas tuntutan pihak lain memang wajar, asal ada landasan yang kuat. Masalahnya, saya melihat benang merah dari reaksi negatif kelas menengah slash warga nonburuh (pabrik) ini bukan dilandasi oleh pondasi argumentasi yang kuat, melainkan sebatas ketidaksukaan belaka. Kita bisa panjang lebar membahas filosofi dari fenomena ini seperti ada upaya dari kelas menengah untuk memegang status quo ke-menengah-annya, tapi kita singkirkan dulu. Saya mau menengahi tuntutan buruh dengan kesombongan kaum menengah dulu.

Persoalan tuntutan kenaikan upah buruh ini bagi saya bukan persoalan wah. Semua negara pasti pernah mengalaminya. Singapura dan Cina, misalnya. Perbedaannya, bagaimana peran negara dalam isu ini. Saya fokus ke Singapura, deh. Di Singapura, tuntutan kenaikan upah buruh disponsori oleh negara. Pendorongnya, Singapura ingin meningkatkan tahapan industrialiasasinya yang dari manufaktur menjadi high value added product. Puluhan perusahaan manufaktur pun terpaksa hengkang karena tidak lagi sanggup menggaji buruh serta membayar pajak yang juga ikut dinaikkan. 

Hal yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak merugikan Singapura. Perusahaan high added value product berdatangan, terutama karena adanya insentif pajak yang diberikan. Mereka juga tidak berkebaratan menggaji buruhnya lebih tinggi karena dua hal. Pertama, pemerintah Singapura bertanggung jawab meningkatkan daya saing buruhnya dan kedua, gaji buruh sebanding dengan harga jual yang kelak dihasilkan dari proses produksi. Perusahaan manufaktur yang terpaksa hengkang juga pada akhirnya tidak menyimpan dendam kepada Singapura. Pasalnya, Singapura juga membentuk kesepakan dengan Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam pembangunan segitiga emas untuk menampung industri manufaktur yang tidak lagi bersaing dengan kebijakan industri Singapura. Singapura memang pragmatis, tapi saya rasa pragmatismenya bertaring. Kuncinya, ada kesepakan yang tidak seterusnya bersifat winner takes all. Skenario yang disiapkannya bagi saya mengantisipasi hal-hal yang berpotensi timbul. 

Poin saya di sini tidak hendak membela kelas menengah atau buruh. Saya hanya mempertanyakan bagaimana peran negara dalam hal ini. Seharusnya, kebijakan apa pun yang nanti dikeluarkan pemerintah tidak hanya membela satu pihak, baik buruh, pengusaha, warga, atau negara itu sendiri. Paling tidak, negara harus membuat master plan untuk menyelaraskan manfaat dan resikko yang akan muncul. 

Sebenarnya, pertanyaan paling dasar, mau dibawa kemana nasib industrialisasi Indonesia? Sudah ada master plan-nyakah? Buruh meminta kenaikan upah harusnya tidak perlu menjadi persoalan yang menuai reaksi negatif dari kelas menengah awam bila negara jelas dan ketat menggambarkan rencana industrialisasinya. Nah, hal yang selama ini terus dan lebih ramai digaungkan bukan Indonesia sebagai negara industri macan Asia jilid 2, melainkan besarnya potensi Indonesia sebagai negara konsumer. Memiliki pasar yang besar memang merupakan suatu keunggulan, namun resikonya sudah bisa kita lihat sekarang dalam tuntutan buruh untuk ikut serta menjadi konsumen di pasar Indonesia. Tuntutan tersebut sama sekali bukan tuntutan yang dikawal apalagi disponsori pemerintah seperti halnya yang terjadi di Singapura lebih dari dua dekade lalu. Tuntutan tersebut sangat tidak berarah dan sama sekali tidak mendapat pembelaan, apalagi realisasi. 

Kalau kita tarik juga ke tema konsumerisme yang digadang Indonesia, soal upah buruh ini juga menuai dampak. Bila tuntutan buruh tidak kunjung dipenuhi, wajah konsumeris Indonesia akan kontradiktif. Di satu sisi mempromosikan diri sebagai negara dengan pasar yang besar, namun di sisi lain pasar besar ini hanya akan jadi angka saja karena tidak diiringi dengan daya beli yang merata. Pertanyaan baru kemudian muncul, siapa menjadi komposisi pasar di Indonesia?

 Nah kan, pusing kan? Sama. Jadi bagaimana? Naikkan saja nih? Atau jangan? Lebih baik kita tagih master plan Indonesia saja dulu.



Ark. Nov'13.

Catatan dari UN dan Penerimaan Peserta Didik Baru SMA Tahun 2013 di Kota Bandung


Hal cukup melegakan terjadi pada penerimaan peserta didik kota Bandung tahun 2013 ini. Passing grade SMP dan SMA favorit yang terkumpul dalam cluster 1 mengalami penurunan ke tingkat yang saya sebut normal. SMAN 3 Bandung, contohnya. Setelah tahun 2012 lalu berpassing grade 39,1 atau kasarnya si calon siswa harus punya 3 nilai 10 dan 1 nilai 9 koma, tahun 2013 ini 'hanya' mensyaratkan nilai UN minimal 36,7.

Turunnya passing grade secara signifikan tersebut bagi saya jelas merupakan prestasi. Bahkan kalau saya boleh berlebihan, hal tersebut juga saya lihat sebagai arah perkembangan pendidikan yang lebih fair. Terdapat dua hal yang membuat saya berkata demikian, sekaligus yang saya lihat sebagai faktor pendorong turunnya passing grade. Pertama mengenai pengamanan UN tahun ini dari kebocoran, kedua mengenai penghapusan RSBI.


20 Paket UN
Saya awalnya mengira bahwa UN 20 paket hanya isu untuk menakuti murid agar lebih rajin belajar. Biasalah, saya juga pernah mengalami 'ancaman' kengerian UN saat saya sekolah. Masa-masa awal kelas 3 SMP/SMA memang sudah diskenariokan untuk melecut murid-murid lebih serius menghadapi hidup. Karena saya berpikir demikian, saya acuh saja saat murid-murid saya di Ganesha dulu sering sekali mengeluhkan ketakutannya, "Atuh, Bu, gimana dong UN sekarang mah 20 soal. Sekelas pada beda semua. Kita juga ngga dikasih tahu bakal dapat paket berapa. Guru-guru juga ngga ada yang tahu. Pokoknya on the spot." Tanggapan saya sok-sok netral saja (padahal dalam hati tertawa), "Makanya kalian belajar yang serius dari sekarang."

Eh, ternyata UN 20 paket bukan sekadar isapan jempol. Sempat diwarnai kepanikan karena soal yang terlambat datang di beberapa daerah, akhirnya UN 20 paket benar-benar terlaksana. Saya masih agak skeptis dengan teknisnya tapi kemudian murid saya curhat, "Bu, susah banget soal UN-nya. Mana 20 paket, sekelas nggak ada yang sama jadi terpaksa mengerjakan sendiri. Pusing."

Saya nggak paham sih dengan keluhan si murid yang masih sempat-sempatnya bilang, "terpaksa mengerjakan sendiri," bukankah memang seharusnya mengerjakan sendiri? Haha. Saya tanya soal sms kunci, dia mengeluh lagi. Katanya boro-boro mau nyari sms, dia aja nggak tahu bakal dapat soal tipe apa. Balik lagi ke mengerjakan semampu-mampunya otak mengerjakan.

Dahsyatnya soal UN 20 paket terlihat dari perolehan nilai UN para murid. Saya tahu nilai UN tidak sebesar biasanya saat murid saya mengirim message di fesbuk saya memberikan daftar nilai UN kawan-kawan sekelasnya di Ganesha. Dengan standar saya pada passing grade tahun lalu yang bahkan nilai 36 saja harus siap-siap terlempar ke sekolah swasta, saya sempat stres juga membaca message tersebut. Dua murid teratas saya di Ganesha Cabang Cinunuk, 'hanya' mendapat nilai 35 padahal mereka ingin melanjutkan ke kotamadya. Beberapa belas murid saya yang lain nilainya malah lebih mengenaskan lagi, antara 28-32. Aduh UN rata-rata nilai 7 mah atuh mau dibawa kemana. Saya tanya kenapa nilai mereka kecil, mereka bilang mereka juga nggak tahu. Yang jelas, di sekolah mereka, memang kebanyakan mendapat nilai 28-36. Bahkan ada juga yang di bawah 28. Nyut nyut.

Masuk ke musim penerimaan peserta didik baru (PPDB), data SMA macet tidak ada perubahan siginifikan hingga hari Jumat. Nilai-nilai yang masuk ke sekolah cluster 1 'masih' di kisaran 36. Saya pikir ini orang-orang kok berani banget ya nilai 36 masuk ke SMA 3, SMA 5, SMA 8. Sedikit menyinggung di tingkat SMP, hal yang hampir serupa juga terjadi di sana. SMP favorit lebih banyak diisi oleh nilai 27, padahal tahun lalu 27 sudah nggak punya tempat di cluster 1. Pemandangan berbeda justru saya lihat di SMP cluster 2. SMPN 17 Bandung yang notabene 'di bawah' SMPN 8 Bandung passig grade-nya melambung melebihi passing grade di SMPN 8 saat itu. Di sekolah lain dalam cluster 2 dan 3 pun serupa, nilai-nilai 26 berjubel. Saya rasa ibu-ibu muda yang mendaftrakan anaknya ke SMP punya perhitungan takut terlempar dari cluster 1 makanya memadati cluster 2 dan 3.

Tunggu punya tunggu, Sabtu akhirnya datang. Data SMA memang bertambah, namun angka passing grade tidak ada yang melonjak hingga ke angka 38. SMAN 3 Bandung yang tahun lalu memiliki 28 pendaftar dengan nilai terkecil 39,1 tahun ini sama sekali tidak memiliki pendaftar dengan nilai 39. Nilai terbesar hanya 38,95 dan dipegang oleh satu orang. Pemilik nilai 38 pun hanya 43 orang. Pun di SMAN 5, SMAN 8, SMAN 2. Tahun lalu saya ingat sekali nilai 39 dan 38 memadati seratus ranking teratas pendaftar. Berbeda dengan tahun ini yang tidak satu pun di antara mereka yang memiliki pendaftar dengan nilai 39.

Melihat tren nilai yang normal tersebut, saya jadi bingung . Saya yakin SKL UN punya standar yang baku setiap tahun. Dengan kata lain, saya nggak yakin kalau soal tahun ini lebih sulit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lagipula, masih banyak juga yang mendapat nilai 9 meski tak sebanyak tahun sebelumnya. Saya rasa penormalan nilai tersebut lebih didorong oleh 20 paket soal UN yang terbilang baru dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya 2 atau 5 paket.

Dasar kesimpulan saya juga sebenarnya buruk, sih. Saya tetap merasa bahwa UN tahun-tahun sebelumnya diwarnai kecurangan. Kalau hanya 2 atau 5 paket soal sih mudah saja bagi pihak-pihak yang terlibat dalam UN untuk mengakali UN, apalagi anak-anak pun sudah tahu mereka akan mendapat paket yang mana. Berbeda pada UN kali ini. Kecurangan dikunci sedemikian rupa sehingga anak-anak pun dipaksa untuk berkonsentrasi menundukkan kepala menghadap soal, bukan lagi menghadap kolong bangku membaca secarik kertas salinan kunci atau bahkan menghadap meja membaca kunci jawaban yang telah disalin dengan spidol berwarna cerah.

Ya, memang saya yakin tidak semua murid pada UN tahun lalu menggunakan kunci jawaban yang beredar secara bebas. Tapi ini sepatutnya menjadi catatan tersendiri, mengapa pada tahun-tahun sebelumnya ada lebih banyak anak cerdas di Bandung ketimbang tahun ini?


Penghapusan RSBI
Faktor lain yang menormalkan passing grade adalah penghapusan RSBI pada tahun ajaran ini. Bagi sekolah yang menerapkan RSBI seperti SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung,  jalur memasuki sekolah top di Bandung ini tak ayal menjadi beragam,namun sayangnya tidak memihak UN. Tes dilakukan secara mandiri jauh sebelum UN dan hasilnya pun sudah dapat diketahui sebelum pengumuman nilai UN.

Menjadikan sekolah-sekolah di Indonesia berstandar internasional itu bagus. Pun karena megahnya gelar yang disandang, yakni ‘internasional’, maka tak semua sekolah bisa langsung menerapkannya. Bertahaplah. Nah, namun demikian, ada harga yang harus dibayar dari keberadaan RSBI. Saya nggak membicarakan kastanisasi dalam pendidikan dan pengkhianatan terhadap bahasa pengantar Bahasa Indonesia di sin, tapi kaitan RSBI dengan UN.

Dari sisi UN, dengan tes mandiri yang diadakan oleh RSBI, saya rasa hal tersebut cukup menggelikan. Bagaimana mungkin sebuah sekolah yang nantinya akan menerapkan UN sebagai ujian akhir tapi di awal proses pendidikannya menepiskan UN? Saya nggak tahu apakah soal mandiri di RSBI itu lebih sulit atau lebih mudah dari UN. Dua-duanya tetap melecehkan UN. Pertama, bila soal tes mandiri RSBI lebih sulit daripada UN, pertanyaannya, mengapa harus demikian? Tidak percayakah pada UN? Bukankah UN digadang-gadang sebagai satu-satunya ujian standar dari proses belajar mengajar? Kedua, bila tes mandiri RSBI lebih mudah daripada UN, maka apakah fair tes mandiri tersebut dilakukan?

Selain itu, dari sisi passing grade, jelas keberadaan RSBI mengacaukan. Meski seolah mengurangi jumlah pendaftar ke sekolah negeri karena paling tidak sudah ada 700 orang yang sudah pasti diterima di sekolah RSBI, keberadaan jalur RSBI sudah barang tentu mengurangi kuota bagi jalur UN. Akhirnya, sekolah ber-RSBI hanya menerima kurang dari 50 anak dari jalur UN. Tidak heran sekolah seperti SMAN 3 dan SMAN 5 mensyaratkan passing grade kelewat tinggi bagi pendaftarnya.

Dengan dihapuskannya RSBI, satu hal yang paling terasa bagi orang luar seperti saya adalah kesempatan untuk masuk ke sekolah favorit dengan cara yang ‘semestinya’ yakni dari UN jadi jauh lebih besar. Tahun ini SMAN 3 Bandung kembali menerima 292 orang dengan passing grade 36,7, sebuah level yang memang wajar bagi kecerdasan anak SMP pada umumnya. Bandingkan bila SMAN 3 Bandung masih terikat pada RSBI sehingga hanya menyediakan 28 bangku bagi jalur UN. Data yang saya dapatkan dari ppdbkotabandung.web.id memperlihatkan ranking 28 pendaftar SMAN 3 Bandung ditempati oleh nilai 38,25. Dengan passing grade 38,25 tersebut, skenario satu yaitu nilai-nilai di bawahnya jelas akan menyebar ke SMA-SMA pilihan 2 seperti SMAN 1 dan SMAN 20 sehingga passing grade SMAN 1 dan SMAN 20 akan melonjak dari angka 33 yang resmi ditutup tahun ini. Akan banyak juga calon pendaftar dari SMAN 1 dan SMAN 20 yang terlempar ke cluster 3, dan anak cluster 3 pun akan terlempar ke swasta. Skenario tak kalah buruk juga datang dari SMA cluster 1 lain seperti SMAN 2 dan SMAN 8 yang kebanjiran pendaftar yang nilainya tak mencukupi di SMAN 3. Alurnya di cluster 2 dan 3 pun kemudian mengikuti skenario 1.


Normal
Meski tak menutup kemungkinan ada faktor-faktor lain yang menyebabkan turunnya passing grade SMA di Kota Bandung pada tahun 2013 ini, saya rasa pemaketan UN menjadi 20 tipe dan penghapusan RSBI sudah menampakkan taringnya. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Cluster
Sekolah
Tahun
2012
2013
PG
Kuota
PG
Kuota
1
SMAN 2 Bandung
 37.9 
316
 34.75
265
SMAN 3 Bandung
 39.1
28
 36.7
292
SMAN 5 Bandung
 38.9
23
 35.5
286
SMAN 8 Bandung
 38.2
298
 35.35
296
SMAN 24 Bandung
 37.65
237
 32.65
247
2
SMAN 1 Bandung
 37.35
283
 33.7
250
SMAN 20 Bandung
 37.5
215
 33.9
210
SMAN 22 Bandung
37
258
33.26
232
SMAN 7 Bandung
 36.6
253
 28.15
239

Penurunan passing grade di kedua cluster tersebut juga tidak main-main, minimal menyentuh selisih 2,4 (SMAN 3 Bandung). Bahkan, SMAN 7 mengalami penurunan hingga rentang 8. Selebihnya, SMAN 2 turun 3,15 poin; SMAN 5 3,4 poin; SMAN 8 2,85 poin; SMAN 24 turun 5 poin; SMAN 1 turun 3,65 poin; SMAN 22 turun 2,74 poin; dan SMA 20 turun 3,6 poin.  Jumlah siswa yang diterima di sekolah-sekolah favorit di atas jugasecara keseluruhan  meningkat meski di beberapa sekolah ada juga pengurangan siswa yang diterima. Tahun 2012 tercatat 1911 murid masuk sekolah favorit dari jalur UN, sedangkan tahun ini terdapat 2317 murid.

Ke depannya, saya tentu berharap passing grade tetap berada dalam jalur yang normal. Kalaupun ada peningkatan, pengennya sih bukan karena UN yang lagi-lagi kebobolan karena sudah ketahuan dimana celahnya, melainkan karena meningkatnya kemampuan siswa dalam mengerjakan UN. Saya sih sebenarnya nggak ada masalah dengan UN, RSBI, atau passing grade. Saya hanya berharap apa pun proses pendidikannya, proses tersebut tetap dijalankan secara fair.



Ark. Jul’13.