Not So a Happy Birthday to Me

Ini ulang tahun saya ke-30 tapi rasanya agak berat juga menjalani hari ini. Ya silakan ketawain atau melakukan rolling eyes karena mungkin beberapa hari ke depan dan seterusnya saya juga akan melakukan hal yang sama haha. Yah sedih aja karena pas banget barengan sama kejadian demo-demo dan ada yang meninggal, ada yang ditangkap. Ikut berduka tentang mereka dan lebih berduka lagi karena sempat ngga tahu saya teh orang mana ya? Indonesia gitu? Kenapa saya ngerasanya kayak jadi orang Korea Utara? Demokrasi bener gitu ini teh? Kenapa atuh ada rasa yang aneh? 

Saya tuh makin sini makin punya kepercayaan sama demokrasi. Saya bangga aja gitu kalau melihat keadaan regional sekitar, ya negara kita yang paling menonjol teh ya soal demokrasinya. Makanya kayak waktu aksi-aksi yang pakai angka itu, walaupun saya juga sempat merasa apa atuhlah dan ngga setuju akan beberapa poin aspirasinya, tapi ya namanya juga orang berpendapat ya, yaudahlah, ya saya juga ga mendukung kalau mereka dilarang demo. Saya juga sebagai manusia mah sebenernya juga agak pesimis sih soal demo apakah akan membawa dampak langsung. Cuman, saya percaya juga bahwa kalau kita ngga ngomong, ngga akan ada yang tahu aspirasi kita. Jadi, terlepas aspirasi kita didengar dan disetujui atau tidak, yang paling penting adalah kita mengutarakan pandangan kita sebagai warga aja dulu. Hak bersuara kan ngga terbatas waktu pemilu saja, kalau kata saya mah. 

Lalu karena kita negara demokratis dan hak bersuara itu dijamin, saya juga percaya bahwa hal tersebut sudah seharusnya dilindungi. Dalam arti, ngga cuma sekadar diperbolehkan demo atau ngapainlah, baca puisi juga termasuk, tetapi juga dibuatkan seperangkat (sungguh birokrat sekali bahasa ini) peraturan yang menjamin hak tersebut. Ya udah ada juga meureun. Cuman gatau atuh kenapa jadi banyak yang terluka dan ada yang meninggal. Kenapa ya saat orang menyampaikan pendapat, malah jadi harus punya trade off antara kebebasan dan keamanan? Kalau orang selalu dihadapkan sama hal kayak gini, gimana mereka bisa berpendapat? Lewat koran? Artikel di jurnal ilmiah? Bukannya ga berpengaruh yah menuliskan apa yang dipikirkan kepada publik, tapi :
- Apakah mungkin koran bikin edisi khusus kayak lembar pengumuman mahasiswa baru tapi ini buat menampung semua aspirasi masyarakat atas isu tertentu? Ya ngga mungkinlah.
- Koran bagian pendapat mahasiswa tuh dibacanya sama berapa orang doang coba? Dibahasnya apakah bisa lebih dari sekadar: Wah hebat! Selamat! Ih bangga! dan yang ngucapin pun cuma teman dan keluarga.

Ya ngga berarti juga semua hal harus disampaikan lewat demonstrasi. Ini juga maksudnya jangan dipelintir jadi provokasi supaya demo yah. Cuman apa yah, orang-orang melakukan demonstrasi juga punya alasan dan jangan dijadikan suatu hal yang tabu juga harusnya. Ada saatnya membuat artikel itu perlu dan harus dipahami juga bahwa ada saatnya demonstrasi dipilih jadi jalan untuk mengungkapkan aspirasi secara kolektif. 

Namun kemudian kata kolektif ini jadi hal yang menakutkan dan dikaitkan dengan potensi rusuh sehingga dilakukan langkah-langkah yang katanya ditujukan untuk mengamankan. Lalu saya kehilangan titik dimana  keamanan sebagai tujuan ini dipindahkan menjadi kegiatan ofensif yang menimbulkan korban. Ya saya ngga pernah ikut demo dan kayaknya juga ngga bakal pernah ikut demo, jadi saya juga ngga tahu bagaimana situasi yang bergantung pada aksi-reaksi ini berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi chaos dan berasap sehingga diambil langkah-langkah yang (((mengamankan))). Mereka yang demo itu kan juga manusia. Adik kita. Anak bapak-bapak itu. Kapan mereka berubah jadi sasaran penaklukan? Sakit ih dipukulin tuh. Panik ih dikejar-kejar itu. 

Saya patah hati banget ternyata ya kita belum sampai di titik demokrasi yang terideal. Bukan hal baru juga mungkin untuk Teman-teman lain, berhubung saya juga sudah lama hidup dalam kepercayaan bahwa Indonesia demokratis. Ya karena itu patah hati yang saya rasakan besar juga hari ini dan ya, welcome to your 30s, R! Glad that you now have plenty of time to read and think.


Ark.Sept 19.

Review on Jay Chou's New Single: Won't Cry


It has been 16 months since Jay Chou released his latest single, “If You Don't Love Me, It's Fine - 不愛我就拉倒”.  It is too long, a way tooooo long, right? So, last week when I saw Jay’s instagram post that he was going to release newest song on Sept 16th, I felt:
  1. Finally a new song to listen to
  2. Seriously? Only a new single? Not an album?
Anyway, seeing his self-advertisement in instagram, seems that he enjoyed the process of delivering this new single so much, so yeah I joined Jay to celebrate his new song yeayyyy. So, here I am, proud of being the 18th account on youtube to watch Jay’s “Won’t Cry” hahahaha sorry for bragging this.

I was preparing myself to pay for every details on this MV, yet still I missed some familiar things on the first watch. My first impressions about this MV were wah, shooting Jay playing piano on wide angle is perfect; wahhh the girl is kawaii; aaaaa, the story is quite touching; aaaa I like the festival in the background; waahhhh so the boy will go to school leaving the girl?; waaaaa, their acting on this MV is so real; and Waaahhhhhhhh MAYDAY is THERE!!!!!

About Shin Mayday, I should have noticed earlier that there was something familiar on the opening melody which was so Mayday and it should be a hint that Mayday is involved in this song. Look at min 0:11 – 0:20, the sound of single piano, six hours after the song was launched, I just realize that it is the same touch that we can find in many of Mayday’s songs. I should have known that Jay Chou would be accompanied by another musician and it was Mayday! Having Mayday in Jay Chou’s MV was never crossed my mind as lately I only saw JJ Lin in Jay’s posts. I thought JJ and Jay will be on one project. Oh, but actually I was once sure that duet between Jay Chou and Shin Mayday would be great.  It was in Mayday’s concert last year, I guess, when Jay appeared as guest star and they sang “Rhythm of the Rain 聽見下雨的聲音.” (PS: JJ’s version of Rhythm of the Rain is also great!!!!)

Having Shin Mayday on this MV is the “it-factor” that makes this “Won’t Cry” outstanding. Strong Shin’s character, showed from min 2:05 to end, totally enriches this easy-listening ballad track and more importantly, delivers soul to this song. Jay’s voice that is light and much more on yearning, regret and restrained emotion, well presents this song’s message and Shin, with his heavier tone, sets emotion from this song to the level that the listeners get the feeling that the boy on this MV owes the girl so much.

Another note is hmmm I think Jay always needs an emphasize for his ballad songs, either by having duet partner who has vocal range one level above or below his or by accentuating  fast and dramatic piano note for back sound. In this song, Jay well uses both methods. Besides having Shin started on min 2:05, Jay also puts dramatic piano melody, the same dramatic as in the “If You Don’t Love Me It’s Fine”, on min 2:53, in a right proportion.

Moving to the lyric. As always, Vincent Fang and his style of poetry should never be questioned. My observation here is of course only based on its English translation provided by JVR at the bottom of the video. In general, this translation presents main message of the song, but in my limited Chinese vocabulary and grammar point of view, there are parts that should have been translated more intensely. One phrase that I think loses its intended tone is “bu gu rang wo zou” since it is only translated as “will not cry.” I think (again, in my very limited Chinese-English translation capability) this phrase would be more touching if it was translated as “will not cry when (you) let me go.” Never mind, I can still catch the main message by looking at the subtitle, actually. The Chinese listeners will not care either as they are listening to the song, not looking at the translation haha. Moreover, I believe that this problem is a common one, as most sentences in Chinese are formed in passive voice, while English prefers active voice more and yeah I guess this transformation affects translation for this song (and many other Chinese texts).

There are two parts of the lyric that I like the most. This part:
Then you started to ignore my calls,
Never mentioning how hard it is to be alone
You decided to leave so that I can move on and live the way I want

At first, I think these rows are partly silly, partly yeah I can understand because I don’t think people, or at least me, can ignore calls and leave while there is no problem at all. However, maybe these should not be interpreted literally. “Ignoring calls”, when it is combined with “never mentioning how hard to be alone”, can also be seen as pretending that everything is alright. The “calls” is not a phone call per se, but a “concern” whether this girl is okay or not. Therefore, part “you decided to leave” does not always mean that they stop seeing each other, but stop talking about any worries of being left alone. This girl does not want to place any burden to this boy.

And this is my favorite and accompanied by dramatic piano melody as the backsound:
You don’t have much
But you’re still there to support my dreams
After such a long time, you’re still there waiting for me

I can totally relate to the first two rows!!! Classic love story, right, when we save most of our money to buy costly present for the one whom we love or…only have a crush :D (yet, they still ignore us hahahaha). This part is totally sweet, highlighting “you’re still there”, which I think it is the main message of this song. This song is dedicated to all people who have sacrificed much for their significant other!! Indeed, illustrating this lyric with story on temporary parting for school is also relatable for most people these days, including me.

I am glad that Jay Chou finally comes back with a new song. I am still looking forward to his new album, though. It is interesting to realize that in these three years Jay has changed quite much. His latest album was in 2016, the Bedtime Story. I don’t know about revenue he earned from this last album, nor its comparison with previous albums. I mean, I can look for the data online, but not now. The thing is, what happened after 2016’s album that stops Jay from producing new album?

Jay does not stop from music industry, I know. In fact, from 2016 to date, he conducted more concerts than previous period and the area was also expansive. Australia, London, Paris, Vegas. I don’t know whether conducting concerts in those new areas brings more fame to Jay Chou because it will need a thorough research and analysis which I will not do it now, but I think it is debatable as we know there are number of Chinese who live there. Maybe it is not expansive in a sense that Jay expands his markets to non-Chinese listeners, rather it is part of making himself reachable to Chinese listeners abroad. With this in mind, it is not a new album that is important, but presenting memory back in China to Chinese listeners abroad by listing Jay’s legendary songs in his series of concert. Having one or two single(s) in a year is still important to keep his market alive and as a gimmick for his concerts and recurring song list.

I don’t know whether this thought is correct or not, nor I think that it is a bad practice. I just miss the old Jay that I’ve known since 2001 who used to produce new album annually.  Glad that today Jay releases his new single and few months ago he said he was being serious to produce a new album in a near future. But, ya, when is the future that Jay talked about?

Jay Chou, please one new album for us!

(Ark. Sept 19)

Seharusnya Memang Sederhana

Mungkin cinta dan keputusan untuk hidup bersama seseorang memang sesederhana hal-hal yang kita tertawakan. Mereka ada karena ada yang mengajak. Mereka ada karena memang sudah waktunya. Mereka ada karena salah satu pihak menjanjikan kehidupan yang lebih menyenangkan dan lebih mudah. Mereka ada karena manusia merasa itu pilihan yang baik. 

Namun memang ada orang-orang yang menganggapnya rumit dan penuh hal filosofis seperti bagaimana konsep gender di dalamnya; bagaimana mempertahankan eksistensi diri; bagaimana kisah-kisah romantis yang mungkin dijalin dan menjadi pondasi; bagaimana happy ending menjadi sebuah realita; dan hal-hal rumit lainnya. 

Mungkin bagi mereka yang merumitkannya, mereka takut akan masa depan dan konsekuensi luka yang mungkin timbul. Konsep diri yang berkurang; romantisme yang menguap; kesetiaan yang menjadi mahal; hal-hal manis yang menjadi usang dan berganti sebagai tanggung jawab mempertahankan; lalu semua berlomba mencintai anak sebagai pengisi hidup yang masih lama. 

Mungkin cinta dan menikah adalah suatu hal yang sudah diketahui tuhan sebagai hal yang rumit sehingga ia dianggap sebagai ibadah. It will not be easy. Merasakan perubahan dari manis hingga menjadi tanggung jawab tidak akan mudah. Mungkin karena itu juga seharusnya alasan untuk mencintai dan menikah tidak perlu dibuat terlalu rumit. Cukuplah mereka ada karena memang sudah waktunya ada. Cukuplah mereka muncul karena memang ada orang yang merasa perlu berhenti mencari lagi. Cukuplah mereka muncul karena ada yang menawarkan kehidupan yang lebih baik. Cukuplah mereka ada pada saat ini tanpa perlu ditanya esok dan tahun-tahun berikutnya akan ada kejadian apa sebagai cobaan dan apa kita akan selalu bisa dan perlu bertahan.


Ark. Feb’19

Lapar Ngga Bawa Uang

Kamis siang pukul 14.00, 22 Maret 2012, menuju long weekend, dan sedang menunggu kelas lagi satu jam lagi.

Tadi saya nyampe ke Ganesha jam 08.15. Kondisi jalan raya Cileunyi sampai Cibiru lengang, cuma meghabiskan sekitar tiga lagu saja. Masuk parkiran, pintu pagarnya masih dibuka sedikit, biasanya kan lebar gitu. Terus, begitu mau masuk kantor, lah pintu depan masih terkunci. Tumben banget. Nyari Aa OB buat minta dibukain pintu, pas ketemu mereka, wih serasa lagi berada di kapal layar, bukan di kantor. Aa OB-nya lagi saling memotongkan rambutlah hahaha.

Setelah pintu dibukakan, wih sepi banget kantor depan yak. Komputer masih mati. Nggak biasanyalah. Padahal saya juga itu sampai ke Ganesha teh itungannya udah telat. Naro tas, nyalain komputer, saya mikir mau beli makan dimana yak. Pas udah mau kepikiran mau beli makan dimana, saya baru sadar kalau saya nggak bawa uang hahahaha. Batallah mikirin beli makanan dimana. Lebih zonk lagi waktu saya sadar bahawa saya ada dua kelas di pagi ini. Hahaha. Menahan laparlah sampai jam 11.

Edisi Kembali Jadi SJW

Posting pertama di tahun 2018 yeay! Lagi-lagi postingnya dibuat di Bandung yeay! Hhhhh jangan-jangan memang hanya bisa menulis di Bandung. Oke baiklah. 

Kali ini mau balik jadi SJW dulu karena sedang ingin berpikir dan bicara panjang tapi tentu saja:

  1. Buat apa
  2. Ngapain
  3. Sudahlahhhhh kan sudah pensiun bicara soal ini.

Tapi eyniwey, ya tetap keinginan untuk berpikir ini ada. Berpikir apaaa? Berpikir kenapa masih menerima masukan soal ungkapan yang bias kelas dan bias gender, yakni apakah pantas perempuan terdidik menggunakan seruan yang kasar dan kotor dalam perbincangan sehari-hari?

Hhhhhhhh...

Saya mau bilang bahwa saya tidak peduli karena saya berkeyakinan bahwa semua adalah manusia, semua kata pada dasarnya bermakna netral, dan kenapa harus ada pengaturan bahwa kelas dan gender tertentu pantasnya bertindak ini itu? Sepenting itu pengaturannya? Kenapa? Lebih pentingnya lagi sih, kenapa saya pikirin dan bikin posting di sini ya hahahahahahahahaha

Oke baiklah lagi.

Kalau dipikir-pikir sih, ya ngga dari kecil jugalah seruan yang berwawasan fauna itu tercetuskan. Orang tua sih tentu sudah melarang ya. Jadi, pertanyaan semacam, “Anak liar ya kamu? Orang tua kamu tidak pernah memberi tutorial mana ucapan yang baik dan kasar ya hemmm?”, bisa disingkirkqn dari pikiran.

Faktor pernah berteman baik dan dekat dengan anak-anak anggota geng (maaf ini jadi bias kelas), juga bukan alasan karena pas zaman berteman ama mereka sih itu zamannya saya belum mengeksplor makna apa-apa dalam hidup. Ya sering sih dengar istilah-istilah itu(tentu sajaaaaaaa) dari siapa aja tuh, dari yang ngajak ngomong saya sampai yang liat-liatan doang soalnya ganteng euy, jadi terharu saya juga melihat dia dari jauh. 

Ya jadi ini intinya alasannya ideologis saja. Saya ngga paham kenapa ada banyak peraturan ditempelkan kepada gender tertentu, yakni wanita, dan kelas tertentu, yakni terdidik atau priyayi atau ya para pemegang budaya adiluhung lainnya, dalam kehidupan mereka. Seolah-olah ya hanya faktor bias gender dan kelas itu saja yang mendefinisikan mereka. Soal bahasa, soal merokoklah, soal perasaanlah, soal pergaulanlah, ya banyak bangetlah. Kayaknya cuma hal-hal superfisial itu yang paling penting padahal ya dalamnya hati dan ketulusan itu siapa sih yang tahu? 

Syedap.

Ada banyak hal tentunya yang dianggap penting sebagai identitas oleh orang. Saya termasuk yang tidak menganggap atribut kebahasaan, pergaulan, dan cara hidup sebagai hal yang penting, terutama bila itu menyangkut perempuan. Kasihan aja gitu, ga masuk akal. Ada banyak hal yang bisa dilihat lebih dalam dan dihargai dari sosok perempuan dan terdidik ketimbang tempelan patriarkis yang fungsinya dalam hidup juga debatable.

Jadi kuat, punya prinsip, jadi pintar, humble, ramah, humanis, toleran, nyaman dengan dirinya sendiri, bisa pencak silat, piawai main saksofon, memahami cara kerja garpu tala, atau apalah, harusnya itu sudah cukup memberikan nuansa yang lebih kuat atas persona perempuan ketimbang mengembalikan lagi pada adab-adab yang kalaupun mengganggu lingkungan sekitar, lalu kenapa cuma perempuan yang ngga boleh?

Lalu, selain alasan ideologis yang sangat SJW itu, saya juga selalu percaya bahwa ya pada dasarnya kata-kata itu ya bebas nilai. Kita sendiri yang mengisi mereka untuk punya makna. Siapa pun bisa menggunakan kata “bangsat”, misalnya, untuk merujuk pada keadaan yang mengesalkan, baik murka serius atau marah sekejap, atau bisa juga sambil tertawa karena ada keadaan yang super kocak dan tidak bisa diterima akal sehat. Masih banyak contoh lain. 

Lalu soal mengaitkannya dengan kelas terdidik, baik secara intelektualitas maupun kepribadian, saya juga ngga melihatnya sebagai hal yang selalu bersisian. Sebabnya, masuk ke dalam klasifikasi terdidik itu berkaitan dengan faktor kognitif dan ya, lagi-lagi kapital, sedangkan penggunaan kata dan bahasa tertentu, nuansanya datang dari perasaan. Apa menjadi orang terdidik juga artinya harus menahan perasaan? Ya bagi saya, kalau mau senang mau marah mau sedih mau benci mau menyesal ya ungkapkan dengan cara yang paling membuat terbuka. Daripada jadi pintar tapi kalau sebal sama orang lain lalu membunuh? Kriminil gitu. Atau sedihnya lagi, dia yang bunuh diri? 

Saya ngga pernah sepakat saja dengan konsep menahan perasaan demi norma kelas. Tidak semua manusia lahir sebagai keluarga royal family. Ya memang. Kita bukan orang Inggris semua.

Ya tentu ada kata-kata lain yang lebih positif atau religik untuk mengungkapkan rasa bahagia. Namun lagi-lagi, kalau orang sudah membicarakan perasaan, ya mau dibantah apa lagi?

Namun tentu ya, sebagai pensiunan SJW dan melihat banyak fenomena ‘mendidik’ ini terjadi, saya juga sadar bahwa perempuan tidak bisa setegas itu memegang apa yang mereka yakini secara ideologis untuk tetap diejawantahkan. Saya sih ngga peduli-peduli amat sama penilaian orang atas hal yang bagi saya superfisial. Namun demikian, ya bolehlah saya hargai juga pandangan mayoritas yang melihat ketentuan-ketentuan superfisial itu sebagai suatu atribut yang seharusnya melekat pada perempuan pada umumnya. 





Ark. Jul.18

Motor #3


Naik motor, begitu pula naik mobil, naik becak, naik pesawat, naik kapal, naik roket, bagi saya adalah persoalan hidup dan mati, terutama bila kita sempatkan diri duduk-duduk di polres dan membaca papan bertuliskan statistika kecelakaan di jalan raya. Oleh karena itu, tidak pernah saya lupakan membaca bismillahi tawakaltu allallahi wa la quwwaata apa? Ya wala quwwata ila billah, di setiap tarikan gas pertama setelah memasukkan gigi satu. Dalam perjalanan pun, prinsip yang selalu saya tegakkan adalah kita tidak hanya wajib menjaga keselamatan diri sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain. 

Implementasi prinsip di jalan raya harus saling menjaga itu kan seharusnya mudah, ya? Coba sesekali orang-orang yang terjaring operasi ketupat dikumpulkan di lapangan dan ditanya: “Siapa yang turun ke jalan hari ini ingin mati?” Apa ada yang mengacungkan tangan? Kan insya allah tidak ada. Nah, masalahnya kenapa banyak orang berperilaku serampangan di jalan raya? Inilah yang membuat saya terpanggil....

....untuk menjadi pribadi yang emosian di jalan raya.

Saya pernah menuliskan contoh kasus tersebut di blog saya, misalnya:

“Jangan kaget kalau saat saya membonceng Teman-teman, saya sering mengeluarkan kata-kata ketus tak bersahabat. Kata-kata tersebut tidak saya tujukan kepada Teman-teman, tentunya, tapi kepada pengendara yang semakin brutal di atas aspal. Dari mulai khilaf pasang lampu sign, smsn dan telpon-telponan di tengah jalan, ngga bisa stabil ngendaliin motor dan mobil sehingga berjalan zig-zag, posisi kendaraan yang nggak jelas mau ke kiri, ke kanan, atau di tengah, tiba-tiba mengerem, tiba-tiba menikung, tiba-tiba putar balik, tiba-tiba mundur waktu mau melanjutkan jalan setelah terjebak kemacetan, sampai (mungkin) sambungan listrik aki ke lampunya tersumbat sehingga LAMPU ANDA MATI SEMENTARA MOTOR ANDA MELAJU DENGAN KECEPATAN 100KM/JAM, MENYALIP 80KM/JAM SAYA DARI KIRI DAN MEMOTONG JALUR KANAN SAYA DI JALAN SOEKARNO HATTA DEKAT PINUS REGENCY YANG SUPER GELAP!!! Selamat, Anda sudah berhasil membuat saya kaget dan refleks meneriakkan kemarahan.”

Sikap ala social justice warrior (SJW) yang saya lakukan tersebut lalu ditanggapi dingin oleh adik bungsu saya dengan:

“Nggak mau ah dibonceng-bonceng sama mbak mah. Nyari musuh melulu di jalanan.”

Iyah gapapah. Tinggalin aja akuh dan prinsip hidup aku.

Ada beberapa kejadian serupa yang saya ingat, seperti di Dayeuh Kolot atau Otista, yang mobilnya bisa saya kejar. Ketika itu kami pun menjadi perang klakson, jari saling memfakyu, saling menghalangi jalan untuk nyalip, dan ujungnya karena terbawa nafsu mengejar rute yang ia jalani, saya pun nyasar. Harusnya dari Dayeuh Kolot mau ke Soreang, malah salah belok ke Ciparay. Harusnya dari alun-alun ke Otista dan ke Bu Inggit, malah terus ke Sudirman dan loh loh loh loh ini kok udah mau Cimahi aja hei hei hei puter baliknya kemana ini hei. Intinya jadi jauh.

Emosi di jalan raya tidak hanya terjadi sebagai wujud aksi-reaksi antarpengguna jalan raya, tetapi juga pernah terjadi sebagai ekses yang terjadi sebelum naik motor. Pernah dulu waktu patah hati sama orang, cieeee, kan sedih banget ya tapi beres ngajar di Ganesha magrib, saya juga ada jadwal les privat jam 7 di Arcamanik. Karena waktunya sempit padahal saya pengen menangis, ya gimana lagi ya, yaudah saya nangisnya di motor 😞 

Ketika mata sudah agak buta karena air mata yang menggenang di pelupuk (taeeeeeeeeeee), di sekitar Panghegar yang gelap, saya minggir dulu untuk menangis terisak dengan agak puas supaya air matanya ngga tersumbat gitu. Kan malu masa ngajar dengan mata sembab wakakaka iya bego emang. Yaudah habis itu naik motor lagi lalu ke rumah murid aku si Dea, pulang-pulang jam 10 malam dengan hati yang lega. Mudah bukan mengatasi patah hatinya?  

Sejak saya pindah ke Jakarta tahun 2013, frekuensi saya naik motor jadi berkurang karena saya tinggal di area sekitar kantor yang bisa dicapai dengan jalan kaki. Selain itu, tunangan saya juga punya motor. Sayangnya motornya motor matic sehingga tidak bisa saya pinjam. Sudah saya tekankan dari awal bahwa saya tidak suka motor matic. Hanya motor bergigi panutanku. Yaudah enak malah jadi diboncengin terus.

Namun tentu kerinduan pada motor selalu ada. Alhamdulillah kerinduan itu lalu terobati tahun lalu saat saya main ke kosan Astrid, teman SMA saya yang kerja di Cirebon. Kebetulan Astrid berhasil memalak temannya untuk meminjamkan motor supra yang bisa kami gunakan jalan-jalan dari Cirebon ke Kuningan. Kami berdua pun mulai touring Cirebon ke Telaga Remis di Ciremai lalu ke Linggarjati lalu ke Grage Kuningan pada pukul 07.00 pagi dan kembali ke Cirebon pukul 20.00 karena diselingi istirahat solat magrib di jalan raya. Kalau pergi sama Astrid mah haram ngejamak shalat 😞 

Seru banget waktu itu. Tujuan utama saya sebenarnya hanya Telaga Remis, secara lagu itu kan pernah jadi hits di tangga lagu Sunda yah, “Di sisi Telaga Remis~~~~ 🎶🎶🎶🎶”. Perjalanan menuju Telaga Remis juga cukup mendebarkan karena pakai motor orang yang baru pertama saya pegang, jarak agak jauh, dan medannya cukup menantang karena si Astrid walau kurus tapi berat euy pas dibonceng mah, untung dia bisa baca waze, lalu naik turun bukit, masuk kampung, aspal jalan bolong-bolong, banyak anak alay naik motor reptil (rengkep tilu alias bonceng tiga), banyak elf, banyak truk, banyak bus, dan ditambah pula si Astrid tidak berhenti mewanti-wanti:

“Pe, daerah orang ya jangan cari musuh.”

Woyyy.

*Tamat*
Udah gini doang.

Motor #2


Mobilitas dari rumah - ganesha - kampus - kosan anak2 2007 - rumah murid privat - rumah akhirnya menjadi sebab musabab naik motor tidak lagi semenyeramkan minggu-minggu pertama percobaan. Mufli dan Gigih yang biasanya waswas melepas saya naik motor, sampai-sampai pernah membuat gerakan konvoi mengawal saya pulang ke rumah selama beberapa hari selepas rapat ospek, pada akhirnya ngelunjak, termasuk sedikit-sedikit mengajak rapat dengan alasan: “Kan elo ada motor tuh.” 

Itulah satu tanda kekuasaan Allah untuk menyadarkan saya bahwa memang laki-laki dimana-mana sama. 

Bahkan, ada yang masih ingat kerepotan agenda temu alumni dengan maba 2009 di Cimahi? Iya itu yang saya jadi ojek membonceng Wahyu 2008 yang jadi seksi konsumsi buat bolak-balik antar minuman dan makanan di pos-pos alumni. Posisinya adalah saya naik motor dan Wahyu duduk hadap belakang bawa baki minuman. Apa coba alasannya? Ya karena Wahyu ngga bisa naik motor dan cape jalan. Kebijakan Mufli yang jadi ketua ospek apa? 

“Kerjaan lo nggak banyak kan malam ini? Bisalahhh bantu anak konsumsi anterin makanan pake motor.”

“Mbakkk, naik motornya jangan kenceng-kenceng yoo, soalnya aku ini bawa baki dan minuman, mbak, nanti tumpah, mbak,” Wahyu dengan logat jawanya sudah mulai berani banyak request.

Maaf, ada yang namanya patriarki? Bisa selamatkan saya sebentar?

Sebenarnya dipikir-pikir keuntungan naik motor itu tidak terlalu banyak dibanding resikonya. Keuntungannya ya alhamdulillah hemat waktu, hemat ongkos, hemat pikiran, hemat tenaga, mendukung status jomblo, ya standarlah. Nah, tantangannya, selain jadi dimanfaatkan untuk kerja-kerja rodi, sebagaimana diungkapkan oleh ibu saya adalah: “Apa pun yang terjadi di jalanan, itu adalah tanggung jawabmu. Ban bocor, bensin habis, helm hilang. Tapi intinya, kalau mesin motor mati, jangan panik, tetap ingat letak tombol busi.”

“Kalau kena banjir, jangan lepas ngegasnya biar airnya ngga masuk knalpot, mbak!” Adik saya ikut menimpali.

Alhamdulillah, berkat 2 wejangan itu, saya selalu sukses menerjang banjir rutin di sekitar gede bage selama masa kepemimpinan walikota Dada Rosada tanpa motor mati. 

Naik motor pas banjir itu rasanya ya allah, melatih otot bisep trisep. Berat ngegasnya. Apalagi kalau sudah mulai masuk ke banjir yang agak dalam di atas batas knalpot. Kalau pakainya motor supra mah enak karena posisi ujung knalpotnya kan agak tinggi ya kayak cerobong asap. Nah, yang tegang mah kalau naik Honda Astrea 90. Itu motor pertama yang saya pakai, bahkan juga dipakai ibu saya waktu hamil saya. Knalpotnya kan rata pendek tu, terus dia juga bisa dibilang motor senior, ya secara umurnya juga lebih tua dari saya. Ibu Bapak saya baru resepsi, dia sudah dipamerkan di showroom siap dibeli. Tapi asli hebat dia, berapa kali kena banjir yang dalam, ngga mati! Jago banget rasanya tetap menjadi motor yang jalan di antara banjir sambil diiringi tatapan tidak percaya dari motor-motor baru yang tumbang begitu kena air. Makanya jangan beli matic!

Baru pas sudah lewat masa banjir, di daerah Cipadung, si Astrea mati hahaha. 

Tapi jangan panik. Biarkan dia istirahat dulu sebentar. Busi mana busi. Lalu kita jalan lagi.

Berkat motor, saya juga punya keuntungan lain yakni tidak perlu olahraga. Terima kasih kepada para mafia paku di jalanan, tidak terhitung berapa kali saya harus menuntun motor yang bannya bocor di tengah siang yang terik atau malam-malam yang sepi dan uang cuma ada goceng. 

Bersambung.
Bagian 3 insya allah jadi bagian terakhir mengenai kesan-kesan.

Motor #1



Sebenarnya saya dikaruniai sifat manis-manis manja yang tidak bisa bepergian tanpa wali. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu kok ya ngga ada yang mau menemani saya kemana-mana padahal kegiatan saya waktu kuliah bisa dibilang cukup padat. Pagi kuliah, sebelum duhur ngajar dulu di Ganesha, siang kuliah lagi, sore ngajar lagi, malam disiksa ikut rapat panitia kegiatan kampus lalu lanjut online di warnet atau wifi kampus untuk cari bahan tugas kuliah, dan masih banyak lagi sampai-sampai sejak semester 3 hingga sidang skripsi, saya tidak sempat pacaran. Ya memang karena kisah cintanya cukup pahit sih. Alaaaah, cowok mah dimana-mana sama ajalah.

Merespon sifat alamiah dan takdir yang demikian, menjelang semester 3 saya pun mengikuti arahan ibu saya untuk: BERANILAH, NAK NAIK MOTOR, JANGAN NGEREPOTIN MINTA ANTAR JEMPUT!!!!! Yaudah.

Saya sebenarnya sudah belajar naik motor sejak SMP tapi sempat trauma karena pernah jatuh di tempat sepi dekat kebun singkong yang jauh dari komplek. Ngga ada yang nolong gitu. Sedihlah. Pas menegakkan motor kembali, saya lupa ngga matiin mesin atau minimal menetralkan gigi dulu. Yaudah pas saya angkat motornya, ga sadar ngegas, terus ya menurut hukum fisika yang saya buktikan sendiri itu ya motornya loncat lagi ya bego. Pulang-pulang juga dimarahi gara-gara baru sadar waktu motornya jatuh, step ada yang hilang. Hadehhhhh.

Namun trauma, sebagaimana korupsi, memang harus dilawan. Tahun 2008, saya pun memaksakan diri untuk bangkit mencoba berani naik motor lagi. Prosesnya cukup membuat tegang hampir trauma lagi, di antaranya:

1. Jalan di pinggir banget. Akhirnya jarak normal 10 menit dari rumah ke kampus menjadi 30 menit.

2. Pertama kali pergi ngajar dengan motor, ditelpon terus sama front desk dan hampir dipanggil yang punya Ganesha karena saya ngga kunjung datang, telat hampir 30 menit ke kelas karena takut belok, takut putar balik, takut nyebrang. Masya allah. Wkwkwk.

3. Didorong Ewa untuk berani membonceng orang dengan cara Ewa maksa minta dibonceng dari kampus fisip ke ayam laos lalu sepanjang perjalanan, kami berdua teriak-teriak heboh karena takut anjir. Saya takut boncengin Ewa, Ewa juga akhirnya jadi nyesal minta dibonceng saya.

4. Beberapa hari agak berani naik motor, eh ada guru di Ganesha yang lagi hamil gede minta diantar kontrol ke dokter kandungan karena suaminya sedang dinas di luar kota. Ya allahhhhhhh, keringat dingin allahuakbar. Terakhir kali membonceng Ewa itu tangan udah gemetar, lha ini atas nama kemanusiaan saya mustahil menolak permintaan membonceng ibu hamil. Tapi alhamdulillah berkat ridho Allah, ibu guru bisa selamat saya bonceng ke dokternya. Semoga anak yang dikandungnya (sekarang mah sudah masuk SD) kelak bisa menemukan obat kanker atau minimal bisa merajut benang-benang kebangsaan lebih erat.

Bersambung.
Bagian 2 insya allah mengenai prestasi dalam naik motor.

Kisah Inspiratif di Angkot Bandung #1: Menyapa atau Tidak Menyapa, Sebuah Kajian Fisika

Selama enam tahun, saya menghabiskan waktu minimal tiga jam sehari di angkot untuk sekolah. Banyak hal yang bisa dilakukan di dalam angkot berjam-jam, termasuk mengerjakan PR, belajar untuk ulangan, bahkan sarapan. Itu kalau pagi. Perjalanan pulang sekolah biasanya hanya saya nikmati dengan mendengarkan musik Taiwan dari walkman sambil membaca beragam bacaan, dari mulai catatan blog Raditya Dika yang dulu pernah terasa relatif lucu (sekarang malesin), chicklit dan komik sewaan dari taman bacaan, atau latihan soal yang saya fotokopi dari teman yang ikut les. Perkara membaca fotokopian soal itu bukan karena saya rajin atau berminat pada pelajaran, melainkan karena kertas soalnya juga baru diberikan teman sebelum turun angkot. 

Saya sempat mengeluh pada teman saya kenapa baru di saat genting fotokopian itu dia berikan. Sudah bagus masih ingat, kilahnya setelah berteriak, "Kiri payun, Mang!" Saya mau balas bilang, "Ih atuhlah," tapi beberapa detik kemudian, fotokopian soal laknat fisika itu menyelamatkan saya.

Di sekitar daerah Talaga Bodas, teman saya turun. Di titik itu, seorang pemuda kucel siaga menunggu dia turun untuk menggantikan kuota duduknya. Kayaknya kenal deh, dimana ya, ingat-ingat saya saat Aa dengan poni agak mencolok mata itu sudah duduk manis di pinggir pintu. Dari pojok belakang angkot, saya perhatikan penampilannya, harusnya kenal deh, tapi dimana ya, saya masih lupa. Astaga ini si Aa kucel bener. Untung masih tertolong bawa tas jadi terlihat seperti anak kuliahan. Kalau ngga ada tas dan hanya pakai sandal jepit, bisa jadi dia akan dinilai sebagai  pemuda lokal yang sedang mencari las knalpot. 

Angkot semakin kosong di daerah Mataraman. Aa itu duduk semakin mendekat ke arah saya yang setia di pojokan. Ingatan saya makin terbentuk. Sepertinya dia kakak kelas yang sempat saya sukai saat baru masuk sekolah. Sementara saya sibuk menolak ingatan saya mengenai sosok kakak itu karena dulu dia nggak sekucel saat itu, kakak itu mungkin mulai risih ada sepasang mata yang terlewat terbuka memperhatikannya. Dia menatap ke pojok. Karena terlambat bagi saya untuk memalingkan wajah, saya tetap pada posisi mata yang sama namun saya buat agar tatapan saya seperti sedang melamun memikirkan langkah penyelesaian soal fisika. Fotokopian soal agak saya angkat untuk menunjukkan betapa berdedikasinya saya memikirikan persoalan generasi muda bangsa ini di hadapan kurikulum KBK. 

Saya sempat melihat dia tersenyum kecil lalu melanjutkan pandangan ke arah lain. Saya menatap dia lagi untuk memastikan, ini Kang itu kan ya? Masa kucel sih? Dia kuliah dimana ya? Dia kuliah kan ya? Bukan terpuruk atau apa kan ya? Ini kenapa jadi kucel ya? Ini Kang itu kan ya?

Dia menatap saya lagi. Kali itu saya menggerakkan bibir saja untuk menunjukkan bahwa fotokopian itu benar-benar membuat saya ingin segera lulus dari SMA. Dia melihat saya agak lama hingga saya pun akhirnya menundukkan wajah di hadapan soal yang saya letakkan di atas tas. 

Saya harusnya bisa menyapa dia untuk bertanya apakah dia benar Kang I. Tapi kan kalau salah mah malu atuh. Dia juga seharusnya bisa menyapa saya, sih. Kami kan saling kenal sebenarnya. Kami juga beberapa kali berinteraksi langsung. Saya pernah memberanikan diri meminjam buku Biologi, berbohong kalau guru saya meminta kami sekelas membaca materi Biologi Kurikulum 2004 ketimbang KBK. Dia sendiri yang mendatangi kelas saya untuk meminjamkan buku. Bukunya sampai tahun 2016 ini juga masih ada! Waktu kelas 2, saya juga pernah mengirim sms mengucapkan selamat ulang tahun untuk dia pada bulan Juli dan dia balas menanyakan kapan saya ulang tahun. Lalu bulan Septembernya dia benar-benar mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Saya juga satu les Bahasa Inggris dengan teman sekelasnya lalu saya sms untuk sok-sok memastikan, Akang sekelas yaaa sama Teh Yuli yaa? Aku se-EF sama Teh Yuli. Dia harusnya bisa bilang, "Ya terooooosss kenapa ya?" di dalam hati lalu mengabaikan pertanyaan saya tapi dia dengan sopan membalas dengan kata-kata afirmasi yang ramah. 

Kami kenal, kami kenal. Tapi lima belas menit di angkot itu kami hanya saling menatap untuk memastikan apa benar kami adalah kami yang itu yang saling kenal. 

Angkot hampir memasuki daerah Buahbatu. Saya membuat keputusan akhir. Kalau dia turun di daerah yang nama jalannya nama alat musik tradisional, berarti dia Kang I yang itu. 
Iya, benar. Dia turun di situ. Iya, dia Kang I! 

Kang I lalu turun dan menyelesaikan transaksi keuangan dengan Mang Angkot. Saat angkot kembali melaju dan melewati sosoknya, saya sempatkan melemparkan pandangan ke arahnya. Dia melihat saya dan sepertinya dia tersenyum simpul. Saya mematung dan lagi-lagi membuat tatapan mata kosong seperti sedang memikirkan fotokopian fisika. Dalam hati menyesal, harusnya tadi saya sapa Kang I dan menanyakan dia kuliah dimana dan apakah nomor hapenya masih sama. 

Origami Bangau

Suatu waktu saat masih remaja, saya iseng membeli kertas lipat warna warni. Tidak ada alasan khusus. Harganya hanya empat ribu rupiah dan ada dua belas warna yang dibagi hampir rata di keseratus lembarnya. Saya bawa kertas itu ke sekolah dan membebaskan teman-teman yang tertarik untuk mengambilnya.

Lalu kawan itu datang. Duduk di sebelah saya dan mengambil dua lembar kertas lipat, biru muda, ungu. Saya yang sedang bermain hape membiarkan dia melakukan hal-hal yang dia sukai dengan kertas lipat itu. Saya hanya bertanya cuek untuk basa basi, "Bikin paan?" 

Dia menjawab dengan manis (well, saya sedang main hape jadi agak lupa kenapa saya bisa mengklasifikasikannya dengan kata manis), "Bikin bangau karena sedang punya harapan."

Karena saya orangnya cuek dan masih main hape, saya jawab, "Punya harapan mah berdoa atuhlah." Dia diam saja sambil meneruskan proyek bangaunya. Saya main hape lagi.

Tak berapa lama, bahkan saya juga belum kena game over, kawan saya beranjak dari duduknya. Saya menoleh sebentar untuk kesopanan. "Udah jadi bangaunya," katanya begitu. Wah benar, sudah ada dua bangau di meja saya. "Buat aku?" saya bertanya nggak tahu malu. Dia mengangguk.

Sebelum dia berjalan menjauh dari kursi, saya tanya dia, "Kan bangaunya kamu yang bikin, kenapa ga kamu yang nyimpan?"

"Aku mah bisa bikin kapan aja aku mau. Kamu mah ngga bisa main origami. Jadi itu buat kamu aja."
Saya hanya bilang okeee pada saat itu dan sampai berbelas tahun kemudian, yakni sekarang, bangau itu masih saya simpan di kamar saya, ditempel di sterefoam berisi hal-hal yang ingin saya ingat dari masa remaja.



Sebuah Halo

Setelah lama tidak menulis di blog, tentu klasiknya manusia yang ada di dunia akan membuka posting terbarunya dengan kalimat, "Wah sudah lama tidak menulis blog ya. Maklum sedang sibuk." Saya juga tadi niatnya nggak mau kayak gitu sih karena metode itu terlalu klasik, tapi apa boleh dikata karena sepertinya saya juga tidak  kreatif-kreatif amat ya saya gunakan juga kalimat reseptuil seperti itu. Apa coba reseptuil artinya? Nggak tahu juga. Akhir-akhir ini saya sering membuat kata-kata sendiri yang garing dan ngga ada artinya.

Sekarang saya membuat posting lagi di blog ini juga niatnya hanya untuk memaksakan diri saja. Ya, harus dipaksa karena kalau tidak dipaksa ya digigit nyamuk. Tuh kan saya ngaco lagi. Kenapa ya saya harus memaksakan diri untuk menulis? Ya, nggak tahu juga. Selain sering bicara ngaco, akhir-akhir ini juga saya sedang sering tidak punya alasan untuk melakukan suatu hal. Ya karena mau saja atau karena disuruh. Disuruh atasan terutamanya. Kalau disuruh kamu mah saya nggak mau. Saya mah orangnya tertutup kayak rapat penjurian suatu seleksi.

Ada banyak yang terjadi setahun ini. Kalau ditotal-total mah ya ada lah segitu. Saking banyaknya saya juga ngga ada ingat-ingatnya. Saya mah serius euy suka lupaan gitu orangnya. Kalau saya ditanya atasan saya surat anu atau dokumen anu, saya harus merangkai-rangkai dulu asosiasi yang membuat saya bisa ingat dengan hal itu. Kadang-kadang asosiasinya suka aneh, misalnya saya ditanya kesepakatan X itu dibahas waktu pertemuan Y yang keberapa. Saya ingat ada hasil itu tapi kan yang ditanya pertemuan keberapa, yang kemudian pasti akan ditanya diselenggarakan dimana, dan tanggal berapa. Terus saya berusaha mengingatnya misalnya dengan mengingat lagi hasil pertemuan itu dicetuskan waktu si Pak Z pakai baju apa, terus saya tanya lagi, Bapak dulu pakai baju yang anu itu pas kapan? Oh pas itu. Nah, berati itu kesepakatan waktu pertemuan bulan anu di anu pas hari ke-anu. Gitu. Lama ya? Ya tapi jangan dibayangkan saya ingat-ingatnya sampai 3 jam dong. Ya nggak mungkin dong. Masa saya duduk-duduk aja di depan atasan saya selama 3 jam? Jangan sedih-sedih banget dong menilai saya.

Tapi selupa-lupanya saya mah, nggak akan kayak pacar saya. Setelah tahun ini dia membuat tulisan yang luar biasa bikin terharunya dan mencetak ratusan jempol dan komentar positif sebagai kado ulang tahun saya, tiga bulan setelahnya dia lupa saya ulang tahun tanggal berapa. Heyyyy. Atuhlah saya mah nggak akan lupa sama hal yang telah saya tulis. Kalau dia sampai lupa gitu berarti dulu motivasimu apa mas sama aku? Apa kau hanya mau cinta dan simpatiku saja?

Ya begitulah pokoknya. 

Saya sebenarnya agak bingung. Ya, itulah sebenarnya motivasi saya untuk menulis sekarang. Gimana ya, mungkin karena ini imbas dari keteledoran saya yang mudah lupa. Jadi gimana ya saya sedang merasa bahwa hidup saya ini kurang sekali. Kurang menulis, itu yang terutama. Saya masih menulis sih, tapi menulis yang serius saja semacam menulis laporan, nota, surat, dan sedikit menengok bahan masukan. Saya juga kurang membaca, tapi bukan berarti saya tidak membaca, Saya hanya membaca bahan masukan, surat, nota, dan laporan. Tidak ketinggalan pula saya baca concept note, administrative arrangement, dan tentative program suatu workshop atau pertemuan yang ada sayanya atau nanti atasan saya yang bakal ikut. Saya juga baca piagam-piagam dan konvensi. Yang fun-nya ada juga sih saya baca koran dan majalah. Majalahnya juga macam-macam, dari Donal Bebek, Bobo, Femina, Marie Claire, Tempo, dan Economist. Kalau koran mah standar ya gitu-gitu aja. Saya juga baca artikel online, baik dibagikan secara gratis dan mutunya nggak terjamin macam yang biasa kita jumpai di beranda facebook, maupun yang akun resmi medianya saya ikuti di twiter.  Ya intinya masih baca sih tapi saya tetap merasa hidup saya kurang, Kalau lagi ngerasa kurang gitu mah ya sudah saya mah tidur aja atau lanjut baca timeline. Dari segala timeline sih yang paling ngeselin tentu saja timeline Path karena kita akan melihat posting-posting pamer nggak penting dari teman-teman yang hidupnya dekat dengan kita. Ya kita juga suka sama ngeselinnya kayak merekaa kalau udah posting-posting hal-hal sok bahagia dan memorable padahal biasa aja kali ah. 

Iya kembali lagi ke soal kurang.

Ini terutama soal menulis sih. Saya ngerasa sudah sangat berjarak sekali dengan isi otak saya sendiri. Apa-apa yang mebuat saya ingin sedikit merasa kritis, lebih banyak saya tahannya daripada saya kemukakan. Saya kayak lagi sedang menjinakkan diri saya sendiri. Sekarang kalau mau menulis, saya jadi harus berpikir beberapa kali lipat karena sadar bahwa sekarang saya nggak bisa hanya memikirkan dan mengungkapkan keresahan saya. Ya ada faktor institusi dan reputasi yang harus dipertimbangkan. Harus cari hal yang aman kalau mau menulis euy. Pas ada hal yang aman, eh yaudah saya juga malas nulisnya, Ya jadi saya juga bingung gitu ini memang saya yang beralasan atau memang saya hanya beralasan? Nah kan bingung. 

Ya namun demikian jika itu adanya, saya sepertinya memang tetap harus menulis biar ngga edan-edan amat. Kalau kata ibu saya mah saya harus tetap menulis, terutama yang lucu-lucu aja biar hidup tetap bahagia. Ya bahagia sih hdiup saya mah. Kalau lagi ingat mah, yah ternyata di tahun 2015 ini saya sudah melihat ASEAN-6. Kalau CLMV mah memang belum tahun ini. Ya mungkin ini memang tahunnya negara maju. Saya mah sebenarnya paling senang pas lagi pergi itu kalau sedang bikin laporan soalnya itulah saat saya tidak melamun dan mengingat hal-hal yang belum saya selesaikan. 

Masih ada euy yang belum diselesaikan pada tahun 2015 ini seperti niat, keinginan, dan tabungan untuk menikah serta niat, keinginan, determinaasi, dan perjuangan untuk ikut tes-tes agar bisa S2 di tempat yang baik dan sulit ditembus kalau kita hanya berpangku tangan belaka. Sepanjang tahun 2015 ini saya masih dalam tahap browsing-browsing dan bikin anggaran. Masalahnya, semakin dibrosing, saya semakin ragu, takut, dan merasakan perasaan lain yang tidak disarankan oleh agama. Selain itu, semakin saya membuat anggaran, saya semakin sulit berkomitmen untuk menjauhkan diri dari mal dan toko. Masya allah. Berat sekali ujian ini. Cuma ya saya tetap harus yakin untuk mewujudkan niat-niat yang hanya sampai pada tahap browsing itu pada tahun mendatang. Kalau tidak besok, kapan lagi?

Ya sekiranya demikian hasil kegelisahan saya hari ini yang meski setelah saya tuliskan di sini ya belum pulih-pulih amat. Tapi ya bagaimana lagi. Mungkin sudah saatnya saya menyerahkan semua pada Allah, salah satunya dengan salat setelah posting ini saya tutup.


Wassalam.



Ark. Des'15.

Sebal yang Kini Tak Bisa Sembarangan

Rasa sebal bisa terjadi karena banyak sebab musabab. Saya pernah disebali oleh orang yang baru mengenal saya hanya karena saya mirip dengan mantan orang yang kini jadi kekasihnya. Saya mahfum. Sebagai sesama perempuan, saya tahu rasa sebal itu. Haha.

Saya juga sebal kepada banyak orang untuk alasan-alasan yang tak masuk akal. Tidak hanya untuk alasan kepentingan bersama seperti bau yang menyeruak setiap kali ia mengayunkan tangannya, tetapi juga untuk alasan nonteknis seperti karena ia adalah teman perempuan pacar saya yang saat bertemu di toilet umum tidak membalas senyum saya. 

Saya akui, saya mudah sebal untuk hal-hal yang kelewat antimainstream di benak saya. Hal-hal yang tidak pernah saya temui sebelumnya dalam hidup saya yang tenang. Hal-hal yang terjadi tidak sesuai dengan ekspekstasi saya. Hal-hal yang mengingatkan saya akan hal-hal yang tidak ingin saya tahu dan rasakan. Hal-hal yang mengganggu secara kodrati dan terlintas begitu saja. 

Dulu saya mudah mengekspresikan rasa sebal saya tanpa berpikir panjang. Waktu SMP saya pernah menenpeleng kawan lelaki saya karena ia terasa begitu mengganggu selama seminggu memamerkan nilainya yang 10 sementara saya hanya 9. Saya juga pernah mengalami teror kelas saya dikepung belasan kakak kelas karena saya bersikeras tidak mau memberikan komputer umum di perpustakaan saat kakak kelas saya menyelonong hendak memotong antrian saya. Itu hanya dua kisah heroik. Sejak TK, tiap tahun saya memiliki tumbal berupa orang yang terlibat baku mulut dan baku hantam dengan saya tanpa memandang gender dan usia. Prinsipnya, saat saya menganggap dia aneh karena tidak sesuai kaidah yang saya terima dalam sistem pendidikan saya, saya akan mati-matian membela keyakinan saya dan memojokkannya. 

Namun demikian, nampaknya saya kini harus mulai mengendalikan ketidaksukaan saya kepada orang. Alasannya klise, karena saya adalah makhluk sosial yang kelak pasti akan membutuhkan bantuannya. Dorongan lain adalah rasa tidak nyaman setiap kali saya harus bertemu dia dengan perasaan yang selalu gondok. Pertimbangan ini tentu berbeda dari pertimbangan saya saat mencoba untuk tidak sering-sering sebal kepada pacar saya. Untuk pacar, alasan saya adalah demi terwujudnya relasi sehat yang dilandasi oleh kesalingpahaman dan belajar untuk menertawakan hal-hal yang menyebalkan di masa kini menjadi hal lucu di masa mendatang. Plus, apalah saya ini yang sebenarnya juga memiliki banyak hal menyebalkan di mata pacar saya. Saya tentu tidak boleh kufur nikmat untuk gampang sebal dengan kebiasaan pacar saya yang kalau kentut buru-buru menempelkan hape ke pantat agar saya juga menikmati kentutnya dari kejauhan, padahal saya juga sering menyuruhnya menunggu saya di bawah terik matahari saat saya masih belum selesai mencatok rambut.

Kalau pilihan untuk banyak berdamai dengan orang-orang yang saya sebali untuk berbagai alasan dan motivasi, ya saya hanya ingin hidup tenang. Saya pikir, janganlah saya sering-sering menampakan ketidaksukaan saya karena ujungnya meja, kursi, pintu, dan silaturahmi menjadi taruhan. Berkarir dari bawah dan sendirian, saya pikir saya harus hati-hati memilih waktu untuk menyerang dan menahan diri. 






Ark.Okt.14

Untuk Nisan yang Memaksa untuk Dipercaya

Tidak banyak yang bisa saya ingat mengenai pertemuan-pertemuan saya dengan nenek saya yang baru seminggu ini menyandang gelar almarhumah. Entah kenapa. Saya hanya ingat ada suatu saat ketika nenek saya terkejut melihat kedatangan saya di rumahnya kemudian menanyakan banyak hal, termasuk apakah saya punya pacar. Dulu belum. Ah ya, jika jawaban saya adalah saya belum punya pacar, berarti hal tersebut terjadi antara tahun 2008-2012. 

Saya juga hanya ingat ketika saya pamit pulang sebentar untuk menginap di rumah nenek saya yang lain, almarhumah nenek saya yang ini menanyakan apa saya kan kembali lagi. Saya jawab ya. Esoknya saat saya kembali dengan perasaan malas, saya terkejut karena nenek saya sudah memasakkan saya nasi kuning, makanan yang menurut tante saya jarang dimasak oleh beliau dan memang beliau khusus memasakkannya untuk saya. Saya menyesal saya sempat merasa enggan menyambanginya hanya karena persoalan sepele macam malas mandi.

Pamit untuk pulang kembali ke Bandung, almarhumah nenek saya ternyata telah membekali saya dengan roti sisir yang dibelinya dari pasar. Saat melihat saya mengepaknya, beliau berkata dengan lega bahwa ternyata saya sudah bisa mengatur tas travel dengan sangat baik. Beliau kemudian juga membekali saya dengan banyak hal dari toko yang dibukanya di depan rumah. Dari mulai biskuit hingga pembersih wajah. Haha. Sembunyi-sembunyi dari tante saya, beliau membekali saya uang Rp20.000.

Itu yang saya ingat mengenai pertemuan terakhir saya dengan beliau bertahun-tahun lalu yang bahkan saya tak bisa mengingat pada tahun berapa itu terjadi. Tak sering saya ke Surabaya tapi bahkan saya tak bisa mengingat dengan baik kapan momen itu berlangsung.

Berat bagi saya untuk mempercayai bahwa nenek saya telah tiada, dua hari sebelum ulang tahun saya. Saya tahu beliau sakit-sakitan dan menjadi sangat pendiam sejak kakek saya meninggal 7 tahun silam. Saya juga berjanji pada diri saya sendiri untuk menjenguknya ke Surabaya tahun lalu. Ah, tapi ternyata janji tinggal janji. Saya tak kunjung menepatinya karena banyak hal dan banyak pertimbangan. Selama ini saya hanya bisa berkata dalam hati, "Tunggu ya, Mbah. Jangan dulu meninggal sebelum aku ke sana."

Ada perasaan terkhianati saat ayah saya mengabari bahwa nenek saya meninggal. Entah terkhianati karena apa. Toh, saya sendiri pula yang tak kunjung menyambanginya dan 'membayar' Rp20.000-nya yang dulu disisipkan kepada saya saat beliau tahu hidup terasa keras bagi saya. Selain itu, saya pula yang memutar-mutarkan pembicaraan saya dengan nenek saya di telepon setelah pertemuan terakhir itu saat nenek saya menanyakan kapan saya kembali dengan suara yang terisak. Saya pula yang....ah entahlah, ada banyak hal. Tapi saya terhenyak ketika saya merasa ditinggalkan di sini tanpa tahu keadaan beliau yang terakhir.

Perasaan ditinggalkan ini serupa dengan perasaan yang selalu saya miliki di usia SD saat almarhumah nenek saya sering bertandang ke Bandung untuk waktu yang lama kemudian kembali ke Surabaya untuk mengurus beberapa hal. Saya bisa berguling-guling menangis di kamar beberapa hari saat beliau pamit berangkat ke terminal. Saya akan kembali riang saat dikabari beliau akan ke Bandung lagi dan saat beliau datang, saya akan memberondongnya setiap hari dengan pertanyaan, "Sampai kapan di Bandung?" hanya untuk menyiapkan mental saya saat nanti ditinggal pulang. Tapi tetap, bahkan dengan perisai yang saya buat itu sendiri pun, saya masih akan tetap menangis saat beliau mengepak pakaiannya pulang.

Tak terlalu banyak alasan kenapa saya menyayangi beliau. Tidak seperti teman saya yang kerap diceritakan kisah revolusi kemerdekaan RI dari kakek dan neneknya, kenangan saya dengan nenek saya hanya sebatas beliau adalah orang yang selalu paling pertama saya temui saat saya ingin jajan. Saya tidak diberi uang saku oleh orang tua saya, hanya dibekali nasi goreng, indomie goreng, telur ceplok, teh kotak, susu ultra, dan terkadang dunkin donut dengan kupon bonus 2 donat untuk pembelian selusin yang digunting dari sampul depan Majalah Bobo. Makanan yang kurang ngetren di tengah kepungan cilok, baso ikan, dan es petojo di depan sekolah dan di ujung gang. Sementara itu, almarhumah nenek saya menyimpan banyak sekali recehan di tasnya dan banyak sekali makanan di toples yang disimpannya di lemari baju. Hanya dengan saya beliau berbagi makanan yang dibeli dan disimpannya sendiri. Kebiasaan saya saat di rumah setiap pagi minta jatah sesajen dari ibu saya yang pergi ke warung untuk juga dibelikan makanan ringan menyejarah dari situ juga.

Ah, iya, Almarhumah nenek saya pun punya sejarah dalam memupuk jiwa enterpreneurship. Ketika SD saya punya usaha menjual notes yang saya buat dari kertas HVS, karton, dan kertas kado. Hal tersebut tidak terlepas dari suntikan modal dari almarhumah nenek saya. Saat beliau ada di Bandung, beliau memberi saya uang seratus dua ratus rupiah. Ketika beliau kembali ke Surabaya, saya diberi Rp5.000. Uang itu yang saya putar untuk dapat terus jajan meski tidak disuplai oleh orang tua. Ahahaha.

Hal lain yang saya ingat dari nenek saya adalah titahnya untuk mencarikan uban dan memijat betisnya yang varises setiap malam. Sampai sekarang saya masih ingat tekstur kakinya sejak saya SD hingga SMA yang bertambah keriput. Ada kesenangan tersendiri bila saya menarik kulit kakinya. Rasanya gimana gitu, lho, seperti menarik payung di leher reptil yang sedang berteriak.

Dibanding dengan nenek dan kakek lainnya, saya paling dekat dengan almarhumah nenek saya yang ini. Kata ayah saya, karena saya adalah cucu pertama dan karena di masa balita, saya selalu diasuh nenek saya selama ibu saya kuliah. Saya tidak ingat bagaimana momen itu berlangsung, hanya saja menurut ayah saya, sambil menunggu ibu saya pulang, agar saya tidak selalu menangis, nenek saya mengajak saya berpanas-panas keliling kampung dan pasar. Mungkin dari situ juga saya selalu suka belanja.

Ah, entahlah. Hanya itu yang bisa saya ingat mengenai relasi saya dan nenek saya. Berat juga rasanya mulai saat ini saya harus menyadari bahwa nenek yang saya minta tunggu saya di Surabaya itu telah pergi tanpa menunggu saya yang memang tidak bisa ditunggu. Berat juga rasanya memori saya atas paras beliau kini harus bersanding dengan gambar gundukan tanah berbatu yang dijadikan kuburannya yang tadi pagi baru dikirim ayah saya. Seolah keyakinan yang saya pegang di dalam hati saya bahwa nenek saya masih di Surabaya memesan roti sisir sudah haram untuk dipertahankan. Seolah lidah saya dipaksa untuk segera mengucap selamat tinggal dengan paripurna, menutup dialog bergejolak dengan diri saya sendiri saat shalat gaib dan saat mengirimkan yasin dan alfatihah selepas shalat fardu.

Kangen Mbah Dewi.




Ark.Okt.14.

Selamat Jalan, Pak Indra


"Bu, Pak Indra meninggal, cek fesbuk Pak Rian."
"Innalillahi wa innailaihi rajiun, telah meninggal pimpinan Ganesha, Bapak Indrayanto Sabtu, 12 Juli 2014 pukul 23.15. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah, diampuni dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan."

Mata saya masih setengah tertutup dan kesadaran saya belum pulih benar saat saya membuka dua notifikasi sms pagi Ramadhan itu. Pak Indra? Meninggal? Maksudnya? Ya Allah? PAK INDRA? MENINGGAL? Hah, ini gimana, maksudnya apa?
Saya membalas dua sms tersebut dengan ketidakpercayaan lalu saya membuka fesbuk Pak Rian. Saya berusaha menolak apa yang saya baca. Namun memang itu kenyataannya. Pak Indra telah berpulang. Pikiran saya lalu melayang pada Bu Tari, istri Pak Indra. Lalu Ilham, Uzi, Rara, dan adik kecilnya yang baru beberapa belas bulan lalu lahir. Adik saya yang sejak tahun lalu meneruskan saya mengajar di Ganesha kemudian mengingatkan hal yang lebih ironis, "Mana besok [Ilham, Uzi, Rara] masuk sekolah..." Ah, iya, besok hari pertama Uzi dan Rara, anak kembar Pak Indra, masuk SMP. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya masuk sekolah baru dengan babak kehidupan yang juga baru tanpa ayah yang selama ini mewanti-wanti belajar yang keras agar bisa masuk sekolah yang baik.
Pagi itu, saya juga menyesali keputusan untuk tidak pulang pada pekan ini ke Bandung. Andai saya pulang, saya bisa memberi penghormatan terakhir kepada atasan yang dengan baik hati telah membesarkan saya selama 5 tahun. Saya berutang budi banyak sekali kepada beliau. Berat sekali akhirnya saya hanya bisa mengirim sms belasungkawa kepada Bu Tari.
Terduduk di kamar asrama, saya teringat pembicaraan pada suatu malam di Ramadhan tahun 2011, sehabis acara buka bersama Ganesha dalam perjalanan kembali menuju Cibiru setelah mengantarkan guru-guru cabang di area belakang. Di mobil ada Bu Sukroh yang menyetir, Pak Tedi di sebelah Bu Sukroh, dan saya yang duduk di kursi tengah Avanza.
"Gimana ya, Pak, Bu, kehidupan kita nanti setelah ini?" tanya saya memecah kantuk Bu Sukroh yang bosan dengan pemandangan jalan raya yang gelap-gelap saja.
Agak lama tak ada jawaban, akhirnya Pak Tedi buka suara, "Ya, yang pasti akan bertambah baik." Bu Sukroh mengamini namun pikiran saya masih melayang. Iya ya akan seperti apa hidup setelah ini, duh lulus kuliah juga belum, begitu pikir saya saat itu.
Saat bertanya itu, saya sedang takut-takutnya berpisah. Saat itu, terutama setelah outing Ganesha ke Pangandaran akhir tahun 2010, silaturahmi guru-guru Ganesha sedang erat-eratnya. Pak Indra juga sedang nyaman-nyamannya mengayomi kami. Persoalan padatnya jadwal promo -yang selalu berhasil saya hindari karena malas bangun pagi dan dibalut alasan, "Ada kuliah, Pak," dan iritnya jatah fotokopi latihan soal adalah hal lain. Yang jelas, Ganesha adalah rumah kedua, literally, bagi saya dan guru-guru lain. Bagaimana tidak, di Ganesha kami bisa menghabiskan waktu untuk mengajar sejak jam 7 pagi sampai setengah 9 malam, bahkan dari Senin hingga Minggu, minimal di 6 cabang, tak terhitung jumlah kelas yang dipegang.
Ya, tentu tidak setiap hari jadwal full Senin-Minggu seperti itu. Hanya beberapa kali saja di musim ujian. Lagipula ada jeda-jeda tertentu di antara kelas pukul 7-20.30. Meski lelah, nyatanya padatnya jadwal tersebut tidak membuat stres karena jalinan kebersamaan dengan murid, pengajar, dan sekretaris cabang juga begitu kuat. Kedekatan dengan Pak Indra dan keluarga juga sangat erat karena frekuensi peredaran Pak Indra, Bu Tari, Ilham, Uzi, dan Rara yang juga tinggi ke berbagai cabang.
Kembali pada ingatan saya akan malam Ramadhan di Avanza kantor, pembicaran itu sampai saat ini selalu terasa nyata. Terlebih saat ternyata perpisahan itu mulai datang pelan-pelan menyerang lingkaran pertemanan saya yang tercipta karena lamanya jam beredar di Ganesha dan mendapat jadwal berdekatan. Pak Tedi mulai sibuk di kantor barunya sehingga hanya mengajar di malam hari dan akhir pekan –lalu belakangan menghilang lalu juga menikah, Bu Ina pindah ke Jakarta, Bu Sukroh dan Pak Rian makin jauh melanglangbuana ke cabang-cabang baru, Bu Egy mengajar di sekolah dan lebih banyak mengambil jadwal di Cicalengka, Pak Ajat menikah, Pak Dicky menikah, Bu Ely dan Bu Sukroh juga menikah, dan beberapa bulan selepas saya lulus saya juga hijrah ke Jakarta. Kini, perpisahan itu makin terasa dengan berpulangnya Pak Indra ke sisi Sang Pencipta tanpa disangka-sangka karena sakit yang juga tiba-tiba.
Entahlah, rasanya……Byaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….hal yang dulu retak-retak kini berhamburan pecah, hilang, dan meninggalkan banyak pertanyaan kenapa.
Saya benci sekali dengan perpisahan meski dalam hati saya selalu berusaha menerima bahwa perpisahan adalah hal yang pasti akan selalu saya alami. Pun mengenai perpisahan yang ini, yang bagi saya tak ubahnya seperti perpisahan dengan keluarga. Pak Indra, orang yang selalu kami ‘jaga’ kehadirannya dengan sms notifikasi semacam,
“Bu, jangan telat ya, Pak Indra udah otw ke Rancaekek dari Cicalengka,”
“Bu, Pak Indra lagi di Ujungberung ngga?”
“Si Bapak mau kemana Bu, habis ini?”
bagaimanapun juga adalah orang baik yang pernah memperkerjakan saya selama 5 tahun. Saya masih ingat saat pertama kali melamar pekerjaan, dites mengajar, diwawancarai oleh beliau saat saya masih menjadi mahasiswa semester 2. Kepercayaan beliau untuk menerima saya menjadi pengajar Bahasa Indonesia, lalu bertambah menjadi pengajar Bahasa Inggris pada saat itu adalah pintu yang dibukakan Allah untuk saya sehingga bisa hidup baik-baik saja selama kuliah. Gaji yang diterima tiap bulan tentu adalah salah satunya, tetapi yang lebih terasa hingga kini adalah ilmu dan kepercayaan diri yang terbangun selama di Ganesha.
Mengingat sosok Pak Indra, beliau adalah orang yang sangat kompleks dalam pemikiran saya, bahkan hingga saat ini. Itu juga yang menyebabkan saya masih belum bisa percaya bahwa Pak Indra sekarang sudah tiada. Dedikasinya yang begitu luar biasa akan usaha yang dibangunnya susah payah adalah hal yang begitu sulit dirumuskan dengan kata-kata. Kadang saya sebal pada Pak Indra. Biasa, bawahan males mah kayak begini hehe. Kadang saya paham dan menghargai juga mengapa Pak Indra mengambil keputusan A, B, C, dan sebagainya. Kadang Pak Indra juga nampak acuh dengan beberapa persoalan. Tapi tak jarang pula saya malu dan salah tingkah karena Pak Indra tahu hal-hal personal dan percintaan saya hahahaha. Pernah pula Pak Indra nampak keras kepada anak-anaknya dari soal jajan di luar hingga jadwal les yang sangat padat. Namun saya juga tersentuh saat melihat Pak Indra bercengkrama dengan anak-anaknya saat jeda jadwal belajar. Saya juga terpesona saat saya tahu Pak Indra memanggil Bu Tari dengan panggilan, “Yang” di umur mereka yang senior dan di depan kami semua.
Mengingat lagi pembicaraan di Ramadhan 3 tahun lalu itu, perginya Pak Indra tadi malam Ramadhan kali ini telah membuat tradisi Ramadhan yang baru bagi Ganesha. Biasanya tiap Ramadhan Pak Indra akan mengumpulkan kami dalam acara buka bersama. Saya selalu mendapat jatah membuat angket guru dan cabang, jadi MC dengan Pak Rian, dan ikut mengantar pulang guru-guru  dengan Bu Sukroh dan Pak Tedi. Bu Ely belanja hadiah, menyiapkan jadwal acara, makanan, dan dekorasi. Bu Sukroh jadi seksi sibuk segala urusan dalam dan transportasi. Pak Tedi menyiapkan slide acara dan pernah juga jadi ustad dadakan. Semua bergembira, terutama Pak Indra. Beliau banyak sekali menebar senyum –meski sempat juga tegang saat menyempaikan evaluasi tahunan hihi-, menyapa dan meledek guru dengan akrab, dan semangat mengajak foto bersama. THR dan bingkisan juga menjadi penyemarak. Ah, Pak Indra.
Mulai kini, sepeninggal beliau, entahlah bagaimana Ramadhan akan terlewati. Semua pasti akan berbeda tanpa Pak Indra meski saya yakin semua juga akan tetap baik-baik saja  atau bahkan lebih baik lagi seperti yang diyakini Pak Tedi. Sudah banyak kebaikan yang ditanam Pak Indra, baik bagi Ganesha dan bagi keluarganya sehingga tentu ya…hidup akan selalu berjalan dengan baik. Ya tapi, kehilangan itu akan selalu terasa.
Ada yang berkata bahwa orang yang meninggal pada bulan Ramadhan adalah orang baik. Saya jadi curiga bahwa memang memang kejadian yang begitu mendadak ini adalah skenario yang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa Pak Indra memang orang baik. Ah, tapi bagi saya, beliau memang orang baik, tidak peduli beliau meninggal pada bulan Ramadhan atau bukan. Kalau saya menyesali mengapa beliau meninggal pada bulan Ramadhan tadi malam, itu hanya karena saya merasa masih berutang budi pada beliau dan belum sempat mengunjunginya setahun ini, bahkan ketika saya mendapat kabar beliau masuk rumah sakit dan malah kini niat saya ditikung ajal. Sedih sekali rasanya saya hanya bisa mengantar kepergian beliau melalui posting ini dan sedikit doa tadi pagi.
Saya tidak tahu harus menulis apa lagi. Perasaan saya masih penuh dan otak saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa Pak Indra sudah tiada. Sementara ini, saya hanya bisa mengucapkan, “Selamat jalan, Bapak. Banyak tersenyumlah di sana.”


Ark.Jul’14.

Menunggu di Depan Pintu


Sepertinya tidak ada yang tahu mengenai hal yang ingin saya tuturkan di sini, termasuk ayah saya. Saya tidak pernah menganggap bahwa laki-laki adalah makhluk yang baik, terutama dalam hal ingin menyenangkan hati orang lain, ya salah satunya karena apa yang saya lihat sejak saya kecil.

Ayah saya seorang pekerja keras. Ketika masih bekerja di Bandung, setiap pagi saya selalu melihat ayah saya ganteng sekali mengancingkan lengan panjang bajunya yang rapi. Saya yang masih kecil akan dengan bersemangat mengambilkan sepatunya yang telah saya semir setiap jam 6 pagi sekadar agar saya terlibat dalam ritual pagi ganteng ala ayah saya. Ayah saya lalu akan berjalan untuk mengeluarkan mobil, saya mengantarnya dengan lambaian tangan di depan pagar.

Saya selalu bangga karena ayah saya ganteng dan pintar hehe. Pokoknya ayah saya yang paling hebat di dunia. Setiap hari saya selalu ingin menceritakan hal baru tentang ayah saya kepada kawan-kawan namun sayangnya tidak sampai di akhir pekan, saya kehabisan bahan. Oleh karena itu pula saya selalu merindukan momen libur di akhir pekan agar saya bisa bercengkrama dengan ayah saya.

Namun apa dikata, pekerjaan yang padat bagi seorang pekerja keras hanya akan meninggalkan lelah sejak Jumat malam. Itu yang saya baru pahami hari ini ketika saya sudah bekerja. Perjalanan pengertian yang sungguh lama sejak saya mulai mengenal konsep ayah dalam perkembangan pengetahuan anak.

Ayah saya tidak tahu betapa saya merindukan akhir pekan hanya untuk mendengar cerita-ceritanya atau mendengarkan cerita saya. Ayah saya juga tidak tahu bahwa di setiap tidurnya yang panjang pada akhir pekan, saya berkali-kali melongokkan kepala di pintu kamar untuk menunggunya terbangun lalu merangkul saya bersamanya sambil bercerita, jika memang ayah saya tidak cukup kuat untuk mengajak saya berjalan-jalan keliling kota dengan mobil Katana yang pada saat itu menjadi tren. Setiap Sabtu dan Minggu pada masa itu adalah penungguan akan kejutan menyenangkan namun sayangnya selalu ditutup dengan upaya penabahan diri anak-anak atas ungkapan, "Aba capek." 

Lama-kelamaan, sambil tetap menunggu Sabtu dan Minggu untuk bermain banyak dengan ayah saya, saya pun menjadi dewasa sendiri. Dewasa dalam arti menganggap bahwa keinginan terdalam saya itu tidak akan selalu disambut degan semangat ayah saya yang semenggebu saya. Ayah saya hanya tahu bahwa Sabtu dan Minggu adalah hari pelepasan penat, tanpa tahu bahwa saya sejak Senin hingga Jumat menunggu Sabtu dan Minggu untuk pelepasan rindu. Ya, walaupun saya setiap malam juga masih betemu ayah saya dan ditanyai soal sekolah. Entahlah, saya juga akhirnya menjadi lebih dewasa dengan berkata pada diri sendiri bahwa saya seharusnya sudah cukup bersyukur dengan pembicaraan singkat setiap malam dengan ayah saya.

Bukan berarti ayah saya sama sekali tidak pernah mengajak saya berjalan-jalan panjang pada Sabtu dan Minggu. Ada momen ketika ayah saya mengajak kami berjalan-jalan yang selalu saya anggap istimewa. Ayah saya tidak tahu bahwa selepas saya tahu rencana pergi esok hari, hati saya membuncah dan melonjak yang kekuatannya cukup untuk menggerakkan saya memilih-milih baju yang akan saya kenakan esok sambil otak saya berencana akan membicarakan apa saja besok dengan ayah saya dan tentu saja menerka-nerka besok ayah saya akan bercerita apa. Ya tapi momen itu terlalu istimewa  -penghalusan dari istilah : sedikit.

Beranjak umur, dengan tetap menyayangi ayah saya tidak peduli beliau suka mengajak saya berjalan-jalan atau tidak di Sabtu-Minggu masa kecil saya, kedewasaan yang ditempa dari pemaksaan diri untuk menerima apa yang saya terima ternyata menjadi ketidakpercayaan saya bahwa laki-laki memiliki kepedulian untuk menyenangkan orang di sekitarnya. Saya selalu menganggap bahwa ketika laki-laki membuat orang di sekelilingnya senang, ya dia melakukannya karena dia memang mau, bukan karena mau menyenangkan orang itu. Saya selalu skeptis dengan cerita teman-teman lelaki saya yang mengatakan betapa mereka ingin menyenangkan istrinya. Setahu apa mereka dengan keinginan yang sebenarnya ingin disuarakan istrinya tapi akhirnya tidak dibicarakan karena takut membebani mereka? Ya seperti ayah saya yang merasa sudah membuat saya senang sepanjang hidup tapi tidak tahu bahwa saya menunggunya bangun di setiap jam pada Sabtu dan Minggu.

Ah, iya. Sekarang ayah saya sudah pensiun, sudah banyak waktu untuk mengurus keluarga. Ada titik dimana saya iri dengan adik saya tapi juga saya sudah terlampau malas untuk mendekat. Adik saya bahkan tidak usah menunggu dengan sabar pada Sabtu dan Minggu untuk dibawa berkeliling kota atau dirangkul dalam tidur karena ayah saya setiap hari dengan semangat yang tinggi mengantar jemput adik saya ke sekolah dan ke tempat latihan renang dan kempo, bahkan les juga. Saat saya masih tinggal di rumah pun ayah saya beberapa kali berniat mengantarkan saya ke kampus atau rumah murid privat saya, tapi ah sudahlah saya malas. Saya sudah cukup terbiasa dengan penungguan yang tidak tentu akhirnya akan seperti apa sehingga saya menganggap bahwa tidak ada yang peduli juga dengan penungguan saya. Ya sudah.

Meskipun demikian, saya juga mungkin harus berterima kasih pada 'cara mendidik' ayah saya yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Laki-laki pekerja keras dan tidak sadar kehadirannya ditunggu tentu bukan ayah saya saja. Selain itu, berkaca pada ketidakpercayaan saya akan laki-laki yang mau menyenangkan orang lain tanpa dorongan dari dirinya sendiri, ya berarti episode penungguan yang tidak disadari itu juga tidak akan sekali saya alami. Bahkan mungkin kelak juga akan dialami anak saya. Ya sudahlah. Semoga nanti anak saya juga akan baik-baik saja seperti yang akhirnya saya putuskan.