Jakarta Tahun Ketiga


Tahun 2016 ini saya akan memasuki tahun keempat berada di Jakarta. Selama tiga tahun di sini, ternyata saya tidak merasakan apa-apa dengan kota ini dan pengetahuan saya juga tidak bertambah. Berbeda sekali, katakan saat saya memasuki tahun ketiga sekolah di kawasan Kota Bandung, saat kelas 3 SMP. Tiga tahun hidup di jalan raya mulai pukul 05.30 dan sampai di rumah sekitar pukul 17.00 dan pernah juga pukul 21.00 karena ada pemugaran sekolah sehingga saya kebagian masuk sekolah siang hari dan sorenya terjebak banjir di rute pulang, saya sudah bisa menyombongkan diri  sebagai pribadi yang hapal jalan utama dan jalan tikus, rute angkot, bis damri, kobutri, pusat perbelanjaan, rumah teman, tempat-tempat les yang bonafit, dan hal-hal lain yang menunjang kehidupan anak remaja.

Kadang saya berpikir, mungkin keterkaitan batin yang saya rasakan erat dengan Bandung didorong juga oleh frekuensi berjalan-jalan di Bandung yang sangat sering dengan berbagai kendaraan, termasuk dengan jalan kaki. Jarak rumah saya dengan sekolah memang cukup jauh, sekitar 1 atau 2 jam perjalanan. Bila naik kendaraan umum, minimal saya harus berganti 2 trayek.

Dibandingkan dengan keseharian saya tiga tahun ini di Jakarta, saya memang relatif tidak banyak menjelajah, terutama menjelajah seorang diri dengan kendaraan umum. Berganti kantor 2x, saya selalu mengambil kost yang sangat dekat dengan kantor, hanya 10-15 menit berjalan kaki. Saya juga punya pacar yang selalu ikhlas dan siap sedia mengajak saya berkeliling Jakarta untuk mencari makan atau main dengan teman.

Melihat hal tersebut sebagai faktor keabaian saya terhadap Jakarta, sempat ada harapan juga untuk menyelamatkan hubungan saya dengan Jakarta kelak bila saya tinggal agak jauh dari kantor. Ya enggak di pinggiran yang kejauhan juga, sih. Setidaknya di wilayah yang membuat saya mengecap sedikit angkutan umum. Namun demikian, setelah saya renungkan kembali, apa iya itu akan jadi jalan mediasi saya dengan Jakarta?

Saya kemudian membayangkan hidup yang harus dilewatkan minimal 4 jam sehari dengan antri di halte busway, berdesakan secara tidak manusiawi, bertahan dengan bau pengap yang kayak bau umbel kering, dan bertempelan dengan keringat orang lain di kereta atau bus, atau berdiri dengan cengkraman tangan dan kaki yang kuat di kopaja, bisa juga duduk dengan waswas di angkot yang dikemudikan ugal-ugalan. Belum lagi bila bertemu dengan penumpang yang arogan atau kernet yang bicaranya keras, ketus, dan kasar. Wah, seram juga. Saya nggak yakin apakah dari interaksi yang bau dan padat itu maka akan lahir cinta.

Sekadar gambaran untuk membandingkan, sepadatnya angkot Bandung hasil ngetem, kalau penumpangnya ngamuk karena kernet memaksakan kehendak, kernet mah nurut sama penumpang. Soal ongkos kendaraan, kalau ada kernet yang coba korupsi me-mark up jumlah ongkos, begitu penumpang nyolot bilang, "Saya orang sini, Mang. Kurang nih kembaliannya!" dijamin kernet langsung bertekuk lutut. Sebuah hal yang tidak pernah saya temukan di Jakarta dan selalu membuat saya kembali menggunakan taksi, bajaj, atau menunggu pacar saya menjemput.

Saya kemudian berpikir lagi, sepertinya persoalan saya dengan Jakarta tidak hanya sekadar karena saya belum mampu memetakan Jakarta, tetapi juga karena saya masih berharap Jakarta seramah Bandung. Ya, mentok akhirnya. Saya selalu merasa aman hidup di Bandung, tidak peduli saya berangkat dan pulang jam berapa serta naik apa. Ongkos bisa diprediksi, selalu ada orang yang bisa ditanya, mau menjawab dengan nada yang ramah, dan saya tahu mana yang berpotensi menipu atau mencopet. Kalau terpaksa terjebak di dalam angkot malam hari cuma sendirian, satu-satunya yang membuat saya kesal -bukan khawatir- adalah kalau tukang angkotnya mau pulang duluan jadi meminta penumpang turun di tengah rute.

"Bade lungsur dimana neng? Tebih keneh? Mang bade uih. Lungsur di dieu teu nanaon nya neng?"

Diturunkan seperti itu pun, tukang angkotnya masih bertanggung jawab untuk memberhentikan angkot lain dan menitipkan ongkos kita. Di Jakarta, saya pernah diturunkan Kopaja dan saya harus membayar 2x, sambil tentu saja swadaya mencari Kopaja yang lain. Hmmm, tapi ada kemungkinan saat itu saya kurang beruntung saja.

Tentang Bandung pun, saya bisa paham dan memaparkan secara gamblang aspek-aspek yang tidak ada di dalam buku travel manapun. Ah, ya khusus untuk travel dan kuliner, berhubung saya ngga doyan-doyan amat jalan-jalan piknik dan jajan di Bandung karena kelamaan hidup sebagai pelajar yang uang sakunya terbatas, saya kurang paham. Namun aspek sosilogis seperti pergaulan si anu pergaulan kawasan Antapani banget, muka si anu muka Balubur banget, kelakuan si anu Kebon Kalapa banget, dan sebagainya, saya tahu. Beli baju kelas menengah ke atas, ke bawah, dan biasa saja cocoknya dimana, saya tahu. Beli alat tulis lebih murah dan lebih lengkap di Cibadak atau Balubur, saya juga paham. Anak sekolah mana berkumpul di mall mana juga bisa saya baca. Pengetahuan lokal itu saya dapatkan hanya dalam waktu tiga tahun pertama saya sekolah di Bandung. Kecerdasan seperti itu yang saat ini tidak saya petik dari kehidupan sehari-hari selama di Jakarta.

Meski terheran-heran karena ternyata cinta pada kota bukan suatu hal yang alamiah dan pasti akan terjadi, sejauh ini saya memandang perasaan tidak terikat pada Jakarta ini mungkin tidak masalah karena toh saya tidak akan selalu menetap di Jakarta. Akan ada masa saya tidak tinggal di kota ini untuk bertugas ke kota lain beberapa kali sehingga sepertinya Jakarta hanya akan selalu jadi persinggahan. Namun, tentu saja ada konsekuensi perasaan tentang Jakarta karena tidak adanya ikatan itu, yakni sulit bagi saya untuk bahagia dan nyaman bila harus kembali ke Jakarta. Satu-satunya hal yang membuat saya senang berada atau kembali ke Jakarta ya karena ada pacar saya -yang saya harapkan menjadi suami- tinggal selama bekerja di sini.


Ark. Jan'16.

Sebuah Halo

Setelah lama tidak menulis di blog, tentu klasiknya manusia yang ada di dunia akan membuka posting terbarunya dengan kalimat, "Wah sudah lama tidak menulis blog ya. Maklum sedang sibuk." Saya juga tadi niatnya nggak mau kayak gitu sih karena metode itu terlalu klasik, tapi apa boleh dikata karena sepertinya saya juga tidak  kreatif-kreatif amat ya saya gunakan juga kalimat reseptuil seperti itu. Apa coba reseptuil artinya? Nggak tahu juga. Akhir-akhir ini saya sering membuat kata-kata sendiri yang garing dan ngga ada artinya.

Sekarang saya membuat posting lagi di blog ini juga niatnya hanya untuk memaksakan diri saja. Ya, harus dipaksa karena kalau tidak dipaksa ya digigit nyamuk. Tuh kan saya ngaco lagi. Kenapa ya saya harus memaksakan diri untuk menulis? Ya, nggak tahu juga. Selain sering bicara ngaco, akhir-akhir ini juga saya sedang sering tidak punya alasan untuk melakukan suatu hal. Ya karena mau saja atau karena disuruh. Disuruh atasan terutamanya. Kalau disuruh kamu mah saya nggak mau. Saya mah orangnya tertutup kayak rapat penjurian suatu seleksi.

Ada banyak yang terjadi setahun ini. Kalau ditotal-total mah ya ada lah segitu. Saking banyaknya saya juga ngga ada ingat-ingatnya. Saya mah serius euy suka lupaan gitu orangnya. Kalau saya ditanya atasan saya surat anu atau dokumen anu, saya harus merangkai-rangkai dulu asosiasi yang membuat saya bisa ingat dengan hal itu. Kadang-kadang asosiasinya suka aneh, misalnya saya ditanya kesepakatan X itu dibahas waktu pertemuan Y yang keberapa. Saya ingat ada hasil itu tapi kan yang ditanya pertemuan keberapa, yang kemudian pasti akan ditanya diselenggarakan dimana, dan tanggal berapa. Terus saya berusaha mengingatnya misalnya dengan mengingat lagi hasil pertemuan itu dicetuskan waktu si Pak Z pakai baju apa, terus saya tanya lagi, Bapak dulu pakai baju yang anu itu pas kapan? Oh pas itu. Nah, berati itu kesepakatan waktu pertemuan bulan anu di anu pas hari ke-anu. Gitu. Lama ya? Ya tapi jangan dibayangkan saya ingat-ingatnya sampai 3 jam dong. Ya nggak mungkin dong. Masa saya duduk-duduk aja di depan atasan saya selama 3 jam? Jangan sedih-sedih banget dong menilai saya.

Tapi selupa-lupanya saya mah, nggak akan kayak pacar saya. Setelah tahun ini dia membuat tulisan yang luar biasa bikin terharunya dan mencetak ratusan jempol dan komentar positif sebagai kado ulang tahun saya, tiga bulan setelahnya dia lupa saya ulang tahun tanggal berapa. Heyyyy. Atuhlah saya mah nggak akan lupa sama hal yang telah saya tulis. Kalau dia sampai lupa gitu berarti dulu motivasimu apa mas sama aku? Apa kau hanya mau cinta dan simpatiku saja?

Ya begitulah pokoknya. 

Saya sebenarnya agak bingung. Ya, itulah sebenarnya motivasi saya untuk menulis sekarang. Gimana ya, mungkin karena ini imbas dari keteledoran saya yang mudah lupa. Jadi gimana ya saya sedang merasa bahwa hidup saya ini kurang sekali. Kurang menulis, itu yang terutama. Saya masih menulis sih, tapi menulis yang serius saja semacam menulis laporan, nota, surat, dan sedikit menengok bahan masukan. Saya juga kurang membaca, tapi bukan berarti saya tidak membaca, Saya hanya membaca bahan masukan, surat, nota, dan laporan. Tidak ketinggalan pula saya baca concept note, administrative arrangement, dan tentative program suatu workshop atau pertemuan yang ada sayanya atau nanti atasan saya yang bakal ikut. Saya juga baca piagam-piagam dan konvensi. Yang fun-nya ada juga sih saya baca koran dan majalah. Majalahnya juga macam-macam, dari Donal Bebek, Bobo, Femina, Marie Claire, Tempo, dan Economist. Kalau koran mah standar ya gitu-gitu aja. Saya juga baca artikel online, baik dibagikan secara gratis dan mutunya nggak terjamin macam yang biasa kita jumpai di beranda facebook, maupun yang akun resmi medianya saya ikuti di twiter.  Ya intinya masih baca sih tapi saya tetap merasa hidup saya kurang, Kalau lagi ngerasa kurang gitu mah ya sudah saya mah tidur aja atau lanjut baca timeline. Dari segala timeline sih yang paling ngeselin tentu saja timeline Path karena kita akan melihat posting-posting pamer nggak penting dari teman-teman yang hidupnya dekat dengan kita. Ya kita juga suka sama ngeselinnya kayak merekaa kalau udah posting-posting hal-hal sok bahagia dan memorable padahal biasa aja kali ah. 

Iya kembali lagi ke soal kurang.

Ini terutama soal menulis sih. Saya ngerasa sudah sangat berjarak sekali dengan isi otak saya sendiri. Apa-apa yang mebuat saya ingin sedikit merasa kritis, lebih banyak saya tahannya daripada saya kemukakan. Saya kayak lagi sedang menjinakkan diri saya sendiri. Sekarang kalau mau menulis, saya jadi harus berpikir beberapa kali lipat karena sadar bahwa sekarang saya nggak bisa hanya memikirkan dan mengungkapkan keresahan saya. Ya ada faktor institusi dan reputasi yang harus dipertimbangkan. Harus cari hal yang aman kalau mau menulis euy. Pas ada hal yang aman, eh yaudah saya juga malas nulisnya, Ya jadi saya juga bingung gitu ini memang saya yang beralasan atau memang saya hanya beralasan? Nah kan bingung. 

Ya namun demikian jika itu adanya, saya sepertinya memang tetap harus menulis biar ngga edan-edan amat. Kalau kata ibu saya mah saya harus tetap menulis, terutama yang lucu-lucu aja biar hidup tetap bahagia. Ya bahagia sih hdiup saya mah. Kalau lagi ingat mah, yah ternyata di tahun 2015 ini saya sudah melihat ASEAN-6. Kalau CLMV mah memang belum tahun ini. Ya mungkin ini memang tahunnya negara maju. Saya mah sebenarnya paling senang pas lagi pergi itu kalau sedang bikin laporan soalnya itulah saat saya tidak melamun dan mengingat hal-hal yang belum saya selesaikan. 

Masih ada euy yang belum diselesaikan pada tahun 2015 ini seperti niat, keinginan, dan tabungan untuk menikah serta niat, keinginan, determinaasi, dan perjuangan untuk ikut tes-tes agar bisa S2 di tempat yang baik dan sulit ditembus kalau kita hanya berpangku tangan belaka. Sepanjang tahun 2015 ini saya masih dalam tahap browsing-browsing dan bikin anggaran. Masalahnya, semakin dibrosing, saya semakin ragu, takut, dan merasakan perasaan lain yang tidak disarankan oleh agama. Selain itu, semakin saya membuat anggaran, saya semakin sulit berkomitmen untuk menjauhkan diri dari mal dan toko. Masya allah. Berat sekali ujian ini. Cuma ya saya tetap harus yakin untuk mewujudkan niat-niat yang hanya sampai pada tahap browsing itu pada tahun mendatang. Kalau tidak besok, kapan lagi?

Ya sekiranya demikian hasil kegelisahan saya hari ini yang meski setelah saya tuliskan di sini ya belum pulih-pulih amat. Tapi ya bagaimana lagi. Mungkin sudah saatnya saya menyerahkan semua pada Allah, salah satunya dengan salat setelah posting ini saya tutup.


Wassalam.



Ark. Des'15.

Tabu Pacaran di Sekolah


Ribut soal buku pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang memuat ulasan mengenai "pacaran sehat" rasanya cukup menggelikan. Mulai dari keberatan karena menggunakan ilustrasi perempuan berhijab dan laki-laki berpeci di depan air terjun, penjelasan yang tidak relevan dengan muatan PJOK sendiri, hingga kenapa persoalan pacaran harus diatur negara dengan diberikan arahan dari buku pelajaran. Haha. Saya sendiri punya pandangan lain mengenai kejadian tersebut.

Saya masih tidak habis pikir dengan kegemaran beberapa di antara kita untuk menabukan sesuatu hal yang sebenarnya telah menjadi fenomena yang tidak terhindarkan. Saya pikir, kenapa kita harus enggan membicarakan soal pacaran, terlebih dalam konteks untuk memberikan nasihat bagaimana sebaiknya hubungan dua remaja dibangun -mengingat buku pelajaran tersebut ditujukan untuk siswa SMA kelas XI-. Ulasan dalam buku pelajaran tersebut bagi saya justru membuka peluang bagi orang dewasa -dalam hal ini guru di sekolah- untuk memberi arahan gamblang atas pertanyaan-pertanyaan dalam pacaran yang saya yakin banyak menggelayuti pikiran ABG-ABG, khususnya perempuan. Fenomena kekerasan dalam pacaran, sifat posesif pacar yang membatasi gerak pasangan, dan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada seks bebas, kesemuanya butuh penjelasan dan peyakinan dari orang dewasa. Tanpa arahan tersebut, akan lebih banyak lagi remaja korban pacaran yang sesungguhnya.

Bagi saya yang pernah menjadi pengajar, pendamping, dan kawan curhat murid SMP dan SMA, dan pernah menjadi remaja, pacaran adalah hal yang tidak bisa begitu saja dilarang dan disimpan rapat-rapat. Bahkan, bisa dibilang, pacaran adalah bagian dari masa pubertas yang didukung oleh faktor kodrati dan kecenderungan lingkungan. Ketertarikan kepada lawan jenis, siapa di dunia ini yang belum pernah merasakannya saat remaja? Bahkan Felix Siauw yang saat ini sudah dijanjikan surga oleh dirinya sendiri itu pun pasti pernah merasakan cinta monyet. Masalah diterima atau tidak menjadi pacar si pujaan hati, biarkan saja menjadi rahasia besar pria yang di akun twiternya mengaku dengan bangga bahwa rumah pertamanya masih dibelikan orang tua setelah pisah pendapat sekian lama karena mau meratakan Jakarta dengan Islam.

Jangan pikirkan nama-nama jomblo dari lahir yang dari remaja sudah punya cinta tapi tidak jua berhasil mendapatkan, entah karena tertikung, cemen, mudah pindah ke lain hati, atau bukan jodoh. Fokus kita sekarang adalah pada remaja-remaja alpha male/female yang dengan gagahnya bisa jadian dengan pujaan. Ya namanya remaja yang baru merasakan cinta, pasti ada segi-segi amatir yang bila tidak diberi pengarahan, masa depan yang jadi taruhannya. Bisa jadi dia akan menganggap lumrah meluapkan emosi kepada pacar dengan memukul, menendang, atau meninggalkan di jalan tol. Bagi pacar yang jadi korban, dia juga tidak tahu apakah itu hal yang wajar didapatkannya karena tidak menyenangkan pasangannya atau justru dia harus melawan dan menegakkan harga dirinya bahwa apa pun yang dirasakan pacarnya, bukan dia yang seharusnya menanggung secara fisik dan batin. Bagaimana pula dengan remaja yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk kuliah karena sang pacar takut di universitas ia akan memiliki pacar baru, pandangan baru, dan lebih fokus mengejar cita-cita? Ada beberapa kawan saya yang dengan ikhlasnya menerima arahan posesif seperti itu dari pacarnya. Meski mereka sepertinya bahagia dengan pilihannya itu, saya tidak melihat pilihan tersebut sebagai hal yang adil karena bukan mereka yang memutuskan. 

Hal penting lagi terutama menyangkut aktivitas yang megarah pada seks bebas. Dorongan seksual saya rasa merupakan hal manusiawi yang dirasakan manusia saat ada kesempatan, niat, keinginan, pikiran, dan sebagainya. Dilema benar-salah, mau-tidak, takut-ragu menjadi isu yang pelik bagi remaja yang tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan atas batasan, dampak, dan cita-cita dalam pacaran. Ini tidak saja soal perempuan yang bila kegadisannya berakhir maka ia akan mendapat tempat yang tercela di mata masyarakat *kalau ketahuan* dan bagaimana ia akan menanggung kehamilan, kelahiran anak, dan mengasuh anak di usia muda, tapi juga bagaimana laki-laki dan perempuan menghargai dirinya sendiri dan pacarnya dalam suatu hubungan dan merencanakan masa depan hubungan mereka. Selama ada yang belum bisa dan belum mau bertanggung jawab atas dampak yang akan tertanggung di masa mendatang, masing-masing pihak boleh menolak tanpa rasa bersalah ajakan pihak yang lain. Sebaliknya, pihak yang ditolak juga tidak berhak untuk mempersuasi, apalagi memaksa pendirian tersebut. 

Masalahnya, jangankan untuk menentukan sikap, kebanyakan dari mereka tidak memiliki akses informasi terbuka tentang hal tersebut. Kalaupun ada, info yang ada adalah rekaan remaja yang sama-sama tidak tahu atau khayalan-khayalan yang sifatnya menabukan ketersediaan informasi. Saya saja pernah terseret pemahaman kearifan lokal anak remaja sok tau yang percaya bahwa kehamilan bisa terjadi lewat perpindahan sperma di kolam renang. Sampai kuliah saja saya percaya bahwa azab dari ciuman bibir adalah putus. Ini bukan persoalan sains yang menggunakan kecerdasan kognitif, melainkan ketidaktahuan yang dijelaskan dengan bentuk tabu dan ketakutan yang dampaknya dahsyat secara afektif. 

Persoalan apakah rambu-rambu pacaran itu pantas atau tidak diselipkan sebagai bahan pelajaran di sekolah, terlebih apakah relevan diselipkan sebagai salah satu bab dalam PJOK, dan sejauh mana negara dapat mengatur hubungan individu, saya pikir itu hanya persoalan teknis yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Apa salahnya sekolah memberi masukan mengenai hal-hal di luar kelimuan? Toh, fungsi sekolah pun adalah mendidik. Tentu tugas itu juga diemban oleh orang tua. Namun, sejauh mana dan seberapa banyak remaja yang dapat dengan bebas bertanya kepada orang tuanya mengenai, "Ma, kalau aku diludahi pacar aku lalu ditempeleng, tapi aku tetap cinta dia, aku harus apa?"; "Pa, pacar aku kok suka ikut campur memilihkan warna pakaian dalam aku?". Selain sungkan dan awkward, alokasi waktu remaja memang lebih banyak dihabiskan di sekolah dan dengan teman-temannya. Tak jarang pula, pacarnya berasal dari kawan-kawan sekolahnya yang juga dikenal oleh gurunya. Lalu apa yang salah bila sekolah juga menyelipkan wejangan mengenai pacaran? Lalu kenapa juga mesti mempertanyakan kenapa harus PJOK yang memberikan arahan mengenai pacaran yang sehat, kenapa bukan di Bimbingan dan Konseling (BK)? 

Bukan tidak mungkin untuk menyelipkan bab Pacaran Sehat pada buku pelajaran BK. Apalagi kawan saya yang menyenangi kemandiriannya dalam berpacaran, Remon, mengatakan bahwa ketika SMA ia memiliki buku pelajaran BK, berbeda dari saya yang tidak memilikinya, entah karena memang tidak diedarkan di sekolah saya atau saya yang terlalu apatis dengan pelajaran yang tidak ada ujiannya. Bisa jadi  faktor tidak meratanya buku pelajaran BK dan tidak diujiankannya pelajaran BK membuat buku BK kurang strategis untuk dijadikan alat sosialisasi pacaran sehat. Ya, tapi tidak berarti juga dengan dimasukkannya bab Pacaran Sehat ke PJOK maka akan ada ujian praktek Pacaran Sehat. Ini, sih jauh lebih tidak manusiawi. Ingat, masih banyak orang seperti Remon yang menjadikan pacaran sebagai aktivitas suci yang tidak perlu diuji-uji karena memang hatinya hanya untuk neng seorang. Masalah kapan Remon akan mempersunting si neng, itu masih menunggu keputusan KPK apakah cukup bersih untuk mendampingi pemuda Cipinang kinyis-kinyis pelaku revolusi mental ini. Cukuplah diselipkannya bab Pacaran Sehat ini hanya sebatas himbauan yang menumpang pada PJOK agar siswa SMA dapat berada dalam 1 kerangka formal untuk memperoleh informasi yang dapat mengurangi kegalauan mereka. Lagi-lagi persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan. 

Satu-satunya kesalahan yang perlu disorot dari ulasan pacaran sehat di buku PJOK tersebut adalah penyertaan ikon islam, gadis berjilbab dan lelaki berpeci, sebagai ilustrasi. Ya, di tengah majunya industri kreatif ilustrasi di dunia ini, kenapa harus memilih gambar muslim sebagai ilustrasi? Hehe. Saya memahami protes masyarakat yang merasa agamanya terlecehkan (secara tidak sengaja) itu. Di tengah kampanye antipacaran oleh kanjeng ganteng Felix Siauw yang suka bingung menepatkan posisinya sebagai ustad gaul atau penjual buku online dan lebih ngetrennya taaruf ketimbang tawaddu sebagai cara untuk mendekatkan jodoh, pemilihan ilustrasi tersebut memang sangat rawan kritik.

Namun tentu kritik atas ilustrasi tersebut tidak perlu mencuri panggung dari substansi yang ingin dibagi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pacaran, ingin ditutupi seperti apa pun caranya, telah menjadi fenomena yang paling manusiawi di dunia remaja. Saya malah merasa bahwa tanggapan negatif mengenai pacaran hanya merupakan keresahan penonton. Ya, saya juga suka ilfil kalau membaca menton-mention penuh cinta dari remaja, apalagi kalau hidupnya hanya diselimuti oleh cinta dan lupa kalau besok masih ada ujian fisika dan beberapa tahun ke depan, saat mereka masuk kerja, mereka akan menemukan bos muda serupa nabi yusuf dan banyak yang single. Hanya karena keresahan saya yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata penuh petuah yang inspiratif, tentu tidak adil apabila saya langsung menyebarkan informasi yang mendemonisasi pacaran lalu membuat remaja semakin gamang dengan gejala pubertasnya. Mereka sangat berhak memperoleh pengetahuan yang memiliki dampak langsung bagi diri mereka.

Ark. Okt. 14.

Sebal yang Kini Tak Bisa Sembarangan

Rasa sebal bisa terjadi karena banyak sebab musabab. Saya pernah disebali oleh orang yang baru mengenal saya hanya karena saya mirip dengan mantan orang yang kini jadi kekasihnya. Saya mahfum. Sebagai sesama perempuan, saya tahu rasa sebal itu. Haha.

Saya juga sebal kepada banyak orang untuk alasan-alasan yang tak masuk akal. Tidak hanya untuk alasan kepentingan bersama seperti bau yang menyeruak setiap kali ia mengayunkan tangannya, tetapi juga untuk alasan nonteknis seperti karena ia adalah teman perempuan pacar saya yang saat bertemu di toilet umum tidak membalas senyum saya. 

Saya akui, saya mudah sebal untuk hal-hal yang kelewat antimainstream di benak saya. Hal-hal yang tidak pernah saya temui sebelumnya dalam hidup saya yang tenang. Hal-hal yang terjadi tidak sesuai dengan ekspekstasi saya. Hal-hal yang mengingatkan saya akan hal-hal yang tidak ingin saya tahu dan rasakan. Hal-hal yang mengganggu secara kodrati dan terlintas begitu saja. 

Dulu saya mudah mengekspresikan rasa sebal saya tanpa berpikir panjang. Waktu SMP saya pernah menenpeleng kawan lelaki saya karena ia terasa begitu mengganggu selama seminggu memamerkan nilainya yang 10 sementara saya hanya 9. Saya juga pernah mengalami teror kelas saya dikepung belasan kakak kelas karena saya bersikeras tidak mau memberikan komputer umum di perpustakaan saat kakak kelas saya menyelonong hendak memotong antrian saya. Itu hanya dua kisah heroik. Sejak TK, tiap tahun saya memiliki tumbal berupa orang yang terlibat baku mulut dan baku hantam dengan saya tanpa memandang gender dan usia. Prinsipnya, saat saya menganggap dia aneh karena tidak sesuai kaidah yang saya terima dalam sistem pendidikan saya, saya akan mati-matian membela keyakinan saya dan memojokkannya. 

Namun demikian, nampaknya saya kini harus mulai mengendalikan ketidaksukaan saya kepada orang. Alasannya klise, karena saya adalah makhluk sosial yang kelak pasti akan membutuhkan bantuannya. Dorongan lain adalah rasa tidak nyaman setiap kali saya harus bertemu dia dengan perasaan yang selalu gondok. Pertimbangan ini tentu berbeda dari pertimbangan saya saat mencoba untuk tidak sering-sering sebal kepada pacar saya. Untuk pacar, alasan saya adalah demi terwujudnya relasi sehat yang dilandasi oleh kesalingpahaman dan belajar untuk menertawakan hal-hal yang menyebalkan di masa kini menjadi hal lucu di masa mendatang. Plus, apalah saya ini yang sebenarnya juga memiliki banyak hal menyebalkan di mata pacar saya. Saya tentu tidak boleh kufur nikmat untuk gampang sebal dengan kebiasaan pacar saya yang kalau kentut buru-buru menempelkan hape ke pantat agar saya juga menikmati kentutnya dari kejauhan, padahal saya juga sering menyuruhnya menunggu saya di bawah terik matahari saat saya masih belum selesai mencatok rambut.

Kalau pilihan untuk banyak berdamai dengan orang-orang yang saya sebali untuk berbagai alasan dan motivasi, ya saya hanya ingin hidup tenang. Saya pikir, janganlah saya sering-sering menampakan ketidaksukaan saya karena ujungnya meja, kursi, pintu, dan silaturahmi menjadi taruhan. Berkarir dari bawah dan sendirian, saya pikir saya harus hati-hati memilih waktu untuk menyerang dan menahan diri. 






Ark.Okt.14

Untuk Nisan yang Memaksa untuk Dipercaya

Tidak banyak yang bisa saya ingat mengenai pertemuan-pertemuan saya dengan nenek saya yang baru seminggu ini menyandang gelar almarhumah. Entah kenapa. Saya hanya ingat ada suatu saat ketika nenek saya terkejut melihat kedatangan saya di rumahnya kemudian menanyakan banyak hal, termasuk apakah saya punya pacar. Dulu belum. Ah ya, jika jawaban saya adalah saya belum punya pacar, berarti hal tersebut terjadi antara tahun 2008-2012. 

Saya juga hanya ingat ketika saya pamit pulang sebentar untuk menginap di rumah nenek saya yang lain, almarhumah nenek saya yang ini menanyakan apa saya kan kembali lagi. Saya jawab ya. Esoknya saat saya kembali dengan perasaan malas, saya terkejut karena nenek saya sudah memasakkan saya nasi kuning, makanan yang menurut tante saya jarang dimasak oleh beliau dan memang beliau khusus memasakkannya untuk saya. Saya menyesal saya sempat merasa enggan menyambanginya hanya karena persoalan sepele macam malas mandi.

Pamit untuk pulang kembali ke Bandung, almarhumah nenek saya ternyata telah membekali saya dengan roti sisir yang dibelinya dari pasar. Saat melihat saya mengepaknya, beliau berkata dengan lega bahwa ternyata saya sudah bisa mengatur tas travel dengan sangat baik. Beliau kemudian juga membekali saya dengan banyak hal dari toko yang dibukanya di depan rumah. Dari mulai biskuit hingga pembersih wajah. Haha. Sembunyi-sembunyi dari tante saya, beliau membekali saya uang Rp20.000.

Itu yang saya ingat mengenai pertemuan terakhir saya dengan beliau bertahun-tahun lalu yang bahkan saya tak bisa mengingat pada tahun berapa itu terjadi. Tak sering saya ke Surabaya tapi bahkan saya tak bisa mengingat dengan baik kapan momen itu berlangsung.

Berat bagi saya untuk mempercayai bahwa nenek saya telah tiada, dua hari sebelum ulang tahun saya. Saya tahu beliau sakit-sakitan dan menjadi sangat pendiam sejak kakek saya meninggal 7 tahun silam. Saya juga berjanji pada diri saya sendiri untuk menjenguknya ke Surabaya tahun lalu. Ah, tapi ternyata janji tinggal janji. Saya tak kunjung menepatinya karena banyak hal dan banyak pertimbangan. Selama ini saya hanya bisa berkata dalam hati, "Tunggu ya, Mbah. Jangan dulu meninggal sebelum aku ke sana."

Ada perasaan terkhianati saat ayah saya mengabari bahwa nenek saya meninggal. Entah terkhianati karena apa. Toh, saya sendiri pula yang tak kunjung menyambanginya dan 'membayar' Rp20.000-nya yang dulu disisipkan kepada saya saat beliau tahu hidup terasa keras bagi saya. Selain itu, saya pula yang memutar-mutarkan pembicaraan saya dengan nenek saya di telepon setelah pertemuan terakhir itu saat nenek saya menanyakan kapan saya kembali dengan suara yang terisak. Saya pula yang....ah entahlah, ada banyak hal. Tapi saya terhenyak ketika saya merasa ditinggalkan di sini tanpa tahu keadaan beliau yang terakhir.

Perasaan ditinggalkan ini serupa dengan perasaan yang selalu saya miliki di usia SD saat almarhumah nenek saya sering bertandang ke Bandung untuk waktu yang lama kemudian kembali ke Surabaya untuk mengurus beberapa hal. Saya bisa berguling-guling menangis di kamar beberapa hari saat beliau pamit berangkat ke terminal. Saya akan kembali riang saat dikabari beliau akan ke Bandung lagi dan saat beliau datang, saya akan memberondongnya setiap hari dengan pertanyaan, "Sampai kapan di Bandung?" hanya untuk menyiapkan mental saya saat nanti ditinggal pulang. Tapi tetap, bahkan dengan perisai yang saya buat itu sendiri pun, saya masih akan tetap menangis saat beliau mengepak pakaiannya pulang.

Tak terlalu banyak alasan kenapa saya menyayangi beliau. Tidak seperti teman saya yang kerap diceritakan kisah revolusi kemerdekaan RI dari kakek dan neneknya, kenangan saya dengan nenek saya hanya sebatas beliau adalah orang yang selalu paling pertama saya temui saat saya ingin jajan. Saya tidak diberi uang saku oleh orang tua saya, hanya dibekali nasi goreng, indomie goreng, telur ceplok, teh kotak, susu ultra, dan terkadang dunkin donut dengan kupon bonus 2 donat untuk pembelian selusin yang digunting dari sampul depan Majalah Bobo. Makanan yang kurang ngetren di tengah kepungan cilok, baso ikan, dan es petojo di depan sekolah dan di ujung gang. Sementara itu, almarhumah nenek saya menyimpan banyak sekali recehan di tasnya dan banyak sekali makanan di toples yang disimpannya di lemari baju. Hanya dengan saya beliau berbagi makanan yang dibeli dan disimpannya sendiri. Kebiasaan saya saat di rumah setiap pagi minta jatah sesajen dari ibu saya yang pergi ke warung untuk juga dibelikan makanan ringan menyejarah dari situ juga.

Ah, iya, Almarhumah nenek saya pun punya sejarah dalam memupuk jiwa enterpreneurship. Ketika SD saya punya usaha menjual notes yang saya buat dari kertas HVS, karton, dan kertas kado. Hal tersebut tidak terlepas dari suntikan modal dari almarhumah nenek saya. Saat beliau ada di Bandung, beliau memberi saya uang seratus dua ratus rupiah. Ketika beliau kembali ke Surabaya, saya diberi Rp5.000. Uang itu yang saya putar untuk dapat terus jajan meski tidak disuplai oleh orang tua. Ahahaha.

Hal lain yang saya ingat dari nenek saya adalah titahnya untuk mencarikan uban dan memijat betisnya yang varises setiap malam. Sampai sekarang saya masih ingat tekstur kakinya sejak saya SD hingga SMA yang bertambah keriput. Ada kesenangan tersendiri bila saya menarik kulit kakinya. Rasanya gimana gitu, lho, seperti menarik payung di leher reptil yang sedang berteriak.

Dibanding dengan nenek dan kakek lainnya, saya paling dekat dengan almarhumah nenek saya yang ini. Kata ayah saya, karena saya adalah cucu pertama dan karena di masa balita, saya selalu diasuh nenek saya selama ibu saya kuliah. Saya tidak ingat bagaimana momen itu berlangsung, hanya saja menurut ayah saya, sambil menunggu ibu saya pulang, agar saya tidak selalu menangis, nenek saya mengajak saya berpanas-panas keliling kampung dan pasar. Mungkin dari situ juga saya selalu suka belanja.

Ah, entahlah. Hanya itu yang bisa saya ingat mengenai relasi saya dan nenek saya. Berat juga rasanya mulai saat ini saya harus menyadari bahwa nenek yang saya minta tunggu saya di Surabaya itu telah pergi tanpa menunggu saya yang memang tidak bisa ditunggu. Berat juga rasanya memori saya atas paras beliau kini harus bersanding dengan gambar gundukan tanah berbatu yang dijadikan kuburannya yang tadi pagi baru dikirim ayah saya. Seolah keyakinan yang saya pegang di dalam hati saya bahwa nenek saya masih di Surabaya memesan roti sisir sudah haram untuk dipertahankan. Seolah lidah saya dipaksa untuk segera mengucap selamat tinggal dengan paripurna, menutup dialog bergejolak dengan diri saya sendiri saat shalat gaib dan saat mengirimkan yasin dan alfatihah selepas shalat fardu.

Kangen Mbah Dewi.




Ark.Okt.14.

Selamat Jalan, Pak Indra


"Bu, Pak Indra meninggal, cek fesbuk Pak Rian."
"Innalillahi wa innailaihi rajiun, telah meninggal pimpinan Ganesha, Bapak Indrayanto Sabtu, 12 Juli 2014 pukul 23.15. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah, diampuni dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan."

Mata saya masih setengah tertutup dan kesadaran saya belum pulih benar saat saya membuka dua notifikasi sms pagi Ramadhan itu. Pak Indra? Meninggal? Maksudnya? Ya Allah? PAK INDRA? MENINGGAL? Hah, ini gimana, maksudnya apa?
Saya membalas dua sms tersebut dengan ketidakpercayaan lalu saya membuka fesbuk Pak Rian. Saya berusaha menolak apa yang saya baca. Namun memang itu kenyataannya. Pak Indra telah berpulang. Pikiran saya lalu melayang pada Bu Tari, istri Pak Indra. Lalu Ilham, Uzi, Rara, dan adik kecilnya yang baru beberapa belas bulan lalu lahir. Adik saya yang sejak tahun lalu meneruskan saya mengajar di Ganesha kemudian mengingatkan hal yang lebih ironis, "Mana besok [Ilham, Uzi, Rara] masuk sekolah..." Ah, iya, besok hari pertama Uzi dan Rara, anak kembar Pak Indra, masuk SMP. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya masuk sekolah baru dengan babak kehidupan yang juga baru tanpa ayah yang selama ini mewanti-wanti belajar yang keras agar bisa masuk sekolah yang baik.
Pagi itu, saya juga menyesali keputusan untuk tidak pulang pada pekan ini ke Bandung. Andai saya pulang, saya bisa memberi penghormatan terakhir kepada atasan yang dengan baik hati telah membesarkan saya selama 5 tahun. Saya berutang budi banyak sekali kepada beliau. Berat sekali akhirnya saya hanya bisa mengirim sms belasungkawa kepada Bu Tari.
Terduduk di kamar asrama, saya teringat pembicaraan pada suatu malam di Ramadhan tahun 2011, sehabis acara buka bersama Ganesha dalam perjalanan kembali menuju Cibiru setelah mengantarkan guru-guru cabang di area belakang. Di mobil ada Bu Sukroh yang menyetir, Pak Tedi di sebelah Bu Sukroh, dan saya yang duduk di kursi tengah Avanza.
"Gimana ya, Pak, Bu, kehidupan kita nanti setelah ini?" tanya saya memecah kantuk Bu Sukroh yang bosan dengan pemandangan jalan raya yang gelap-gelap saja.
Agak lama tak ada jawaban, akhirnya Pak Tedi buka suara, "Ya, yang pasti akan bertambah baik." Bu Sukroh mengamini namun pikiran saya masih melayang. Iya ya akan seperti apa hidup setelah ini, duh lulus kuliah juga belum, begitu pikir saya saat itu.
Saat bertanya itu, saya sedang takut-takutnya berpisah. Saat itu, terutama setelah outing Ganesha ke Pangandaran akhir tahun 2010, silaturahmi guru-guru Ganesha sedang erat-eratnya. Pak Indra juga sedang nyaman-nyamannya mengayomi kami. Persoalan padatnya jadwal promo -yang selalu berhasil saya hindari karena malas bangun pagi dan dibalut alasan, "Ada kuliah, Pak," dan iritnya jatah fotokopi latihan soal adalah hal lain. Yang jelas, Ganesha adalah rumah kedua, literally, bagi saya dan guru-guru lain. Bagaimana tidak, di Ganesha kami bisa menghabiskan waktu untuk mengajar sejak jam 7 pagi sampai setengah 9 malam, bahkan dari Senin hingga Minggu, minimal di 6 cabang, tak terhitung jumlah kelas yang dipegang.
Ya, tentu tidak setiap hari jadwal full Senin-Minggu seperti itu. Hanya beberapa kali saja di musim ujian. Lagipula ada jeda-jeda tertentu di antara kelas pukul 7-20.30. Meski lelah, nyatanya padatnya jadwal tersebut tidak membuat stres karena jalinan kebersamaan dengan murid, pengajar, dan sekretaris cabang juga begitu kuat. Kedekatan dengan Pak Indra dan keluarga juga sangat erat karena frekuensi peredaran Pak Indra, Bu Tari, Ilham, Uzi, dan Rara yang juga tinggi ke berbagai cabang.
Kembali pada ingatan saya akan malam Ramadhan di Avanza kantor, pembicaran itu sampai saat ini selalu terasa nyata. Terlebih saat ternyata perpisahan itu mulai datang pelan-pelan menyerang lingkaran pertemanan saya yang tercipta karena lamanya jam beredar di Ganesha dan mendapat jadwal berdekatan. Pak Tedi mulai sibuk di kantor barunya sehingga hanya mengajar di malam hari dan akhir pekan –lalu belakangan menghilang lalu juga menikah, Bu Ina pindah ke Jakarta, Bu Sukroh dan Pak Rian makin jauh melanglangbuana ke cabang-cabang baru, Bu Egy mengajar di sekolah dan lebih banyak mengambil jadwal di Cicalengka, Pak Ajat menikah, Pak Dicky menikah, Bu Ely dan Bu Sukroh juga menikah, dan beberapa bulan selepas saya lulus saya juga hijrah ke Jakarta. Kini, perpisahan itu makin terasa dengan berpulangnya Pak Indra ke sisi Sang Pencipta tanpa disangka-sangka karena sakit yang juga tiba-tiba.
Entahlah, rasanya……Byaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….hal yang dulu retak-retak kini berhamburan pecah, hilang, dan meninggalkan banyak pertanyaan kenapa.
Saya benci sekali dengan perpisahan meski dalam hati saya selalu berusaha menerima bahwa perpisahan adalah hal yang pasti akan selalu saya alami. Pun mengenai perpisahan yang ini, yang bagi saya tak ubahnya seperti perpisahan dengan keluarga. Pak Indra, orang yang selalu kami ‘jaga’ kehadirannya dengan sms notifikasi semacam,
“Bu, jangan telat ya, Pak Indra udah otw ke Rancaekek dari Cicalengka,”
“Bu, Pak Indra lagi di Ujungberung ngga?”
“Si Bapak mau kemana Bu, habis ini?”
bagaimanapun juga adalah orang baik yang pernah memperkerjakan saya selama 5 tahun. Saya masih ingat saat pertama kali melamar pekerjaan, dites mengajar, diwawancarai oleh beliau saat saya masih menjadi mahasiswa semester 2. Kepercayaan beliau untuk menerima saya menjadi pengajar Bahasa Indonesia, lalu bertambah menjadi pengajar Bahasa Inggris pada saat itu adalah pintu yang dibukakan Allah untuk saya sehingga bisa hidup baik-baik saja selama kuliah. Gaji yang diterima tiap bulan tentu adalah salah satunya, tetapi yang lebih terasa hingga kini adalah ilmu dan kepercayaan diri yang terbangun selama di Ganesha.
Mengingat sosok Pak Indra, beliau adalah orang yang sangat kompleks dalam pemikiran saya, bahkan hingga saat ini. Itu juga yang menyebabkan saya masih belum bisa percaya bahwa Pak Indra sekarang sudah tiada. Dedikasinya yang begitu luar biasa akan usaha yang dibangunnya susah payah adalah hal yang begitu sulit dirumuskan dengan kata-kata. Kadang saya sebal pada Pak Indra. Biasa, bawahan males mah kayak begini hehe. Kadang saya paham dan menghargai juga mengapa Pak Indra mengambil keputusan A, B, C, dan sebagainya. Kadang Pak Indra juga nampak acuh dengan beberapa persoalan. Tapi tak jarang pula saya malu dan salah tingkah karena Pak Indra tahu hal-hal personal dan percintaan saya hahahaha. Pernah pula Pak Indra nampak keras kepada anak-anaknya dari soal jajan di luar hingga jadwal les yang sangat padat. Namun saya juga tersentuh saat melihat Pak Indra bercengkrama dengan anak-anaknya saat jeda jadwal belajar. Saya juga terpesona saat saya tahu Pak Indra memanggil Bu Tari dengan panggilan, “Yang” di umur mereka yang senior dan di depan kami semua.
Mengingat lagi pembicaraan di Ramadhan 3 tahun lalu itu, perginya Pak Indra tadi malam Ramadhan kali ini telah membuat tradisi Ramadhan yang baru bagi Ganesha. Biasanya tiap Ramadhan Pak Indra akan mengumpulkan kami dalam acara buka bersama. Saya selalu mendapat jatah membuat angket guru dan cabang, jadi MC dengan Pak Rian, dan ikut mengantar pulang guru-guru  dengan Bu Sukroh dan Pak Tedi. Bu Ely belanja hadiah, menyiapkan jadwal acara, makanan, dan dekorasi. Bu Sukroh jadi seksi sibuk segala urusan dalam dan transportasi. Pak Tedi menyiapkan slide acara dan pernah juga jadi ustad dadakan. Semua bergembira, terutama Pak Indra. Beliau banyak sekali menebar senyum –meski sempat juga tegang saat menyempaikan evaluasi tahunan hihi-, menyapa dan meledek guru dengan akrab, dan semangat mengajak foto bersama. THR dan bingkisan juga menjadi penyemarak. Ah, Pak Indra.
Mulai kini, sepeninggal beliau, entahlah bagaimana Ramadhan akan terlewati. Semua pasti akan berbeda tanpa Pak Indra meski saya yakin semua juga akan tetap baik-baik saja  atau bahkan lebih baik lagi seperti yang diyakini Pak Tedi. Sudah banyak kebaikan yang ditanam Pak Indra, baik bagi Ganesha dan bagi keluarganya sehingga tentu ya…hidup akan selalu berjalan dengan baik. Ya tapi, kehilangan itu akan selalu terasa.
Ada yang berkata bahwa orang yang meninggal pada bulan Ramadhan adalah orang baik. Saya jadi curiga bahwa memang memang kejadian yang begitu mendadak ini adalah skenario yang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa Pak Indra memang orang baik. Ah, tapi bagi saya, beliau memang orang baik, tidak peduli beliau meninggal pada bulan Ramadhan atau bukan. Kalau saya menyesali mengapa beliau meninggal pada bulan Ramadhan tadi malam, itu hanya karena saya merasa masih berutang budi pada beliau dan belum sempat mengunjunginya setahun ini, bahkan ketika saya mendapat kabar beliau masuk rumah sakit dan malah kini niat saya ditikung ajal. Sedih sekali rasanya saya hanya bisa mengantar kepergian beliau melalui posting ini dan sedikit doa tadi pagi.
Saya tidak tahu harus menulis apa lagi. Perasaan saya masih penuh dan otak saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa Pak Indra sudah tiada. Sementara ini, saya hanya bisa mengucapkan, “Selamat jalan, Bapak. Banyak tersenyumlah di sana.”


Ark.Jul’14.