Motor #2


Mobilitas dari rumah - ganesha - kampus - kosan anak2 2007 - rumah murid privat - rumah akhirnya menjadi sebab musabab naik motor tidak lagi semenyeramkan minggu-minggu pertama percobaan. Mufli dan Gigih yang biasanya waswas melepas saya naik motor, sampai-sampai pernah membuat gerakan konvoi mengawal saya pulang ke rumah selama beberapa hari selepas rapat ospek, pada akhirnya ngelunjak, termasuk sedikit-sedikit mengajak rapat dengan alasan: “Kan elo ada motor tuh.” 

Itulah satu tanda kekuasaan Allah untuk menyadarkan saya bahwa memang laki-laki dimana-mana sama. 

Bahkan, ada yang masih ingat kerepotan agenda temu alumni dengan maba 2009 di Cimahi? Iya itu yang saya jadi ojek membonceng Wahyu 2008 yang jadi seksi konsumsi buat bolak-balik antar minuman dan makanan di pos-pos alumni. Posisinya adalah saya naik motor dan Wahyu duduk hadap belakang bawa baki minuman. Apa coba alasannya? Ya karena Wahyu ngga bisa naik motor dan cape jalan. Kebijakan Mufli yang jadi ketua ospek apa? 

“Kerjaan lo nggak banyak kan malam ini? Bisalahhh bantu anak konsumsi anterin makanan pake motor.”

“Mbakkk, naik motornya jangan kenceng-kenceng yoo, soalnya aku ini bawa baki dan minuman, mbak, nanti tumpah, mbak,” Wahyu dengan logat jawanya sudah mulai berani banyak request.

Maaf, ada yang namanya patriarki? Bisa selamatkan saya sebentar?

Sebenarnya dipikir-pikir keuntungan naik motor itu tidak terlalu banyak dibanding resikonya. Keuntungannya ya alhamdulillah hemat waktu, hemat ongkos, hemat pikiran, hemat tenaga, mendukung status jomblo, ya standarlah. Nah, tantangannya, selain jadi dimanfaatkan untuk kerja-kerja rodi, sebagaimana diungkapkan oleh ibu saya adalah: “Apa pun yang terjadi di jalanan, itu adalah tanggung jawabmu. Ban bocor, bensin habis, helm hilang. Tapi intinya, kalau mesin motor mati, jangan panik, tetap ingat letak tombol busi.”

“Kalau kena banjir, jangan lepas ngegasnya biar airnya ngga masuk knalpot, mbak!” Adik saya ikut menimpali.

Alhamdulillah, berkat 2 wejangan itu, saya selalu sukses menerjang banjir rutin di sekitar gede bage selama masa kepemimpinan walikota Dada Rosada tanpa motor mati. 

Naik motor pas banjir itu rasanya ya allah, melatih otot bisep trisep. Berat ngegasnya. Apalagi kalau sudah mulai masuk ke banjir yang agak dalam di atas batas knalpot. Kalau pakainya motor supra mah enak karena posisi ujung knalpotnya kan agak tinggi ya kayak cerobong asap. Nah, yang tegang mah kalau naik Honda Astrea 90. Itu motor pertama yang saya pakai, bahkan juga dipakai ibu saya waktu hamil saya. Knalpotnya kan rata pendek tu, terus dia juga bisa dibilang motor senior, ya secara umurnya juga lebih tua dari saya. Ibu Bapak saya baru resepsi, dia sudah dipamerkan di showroom siap dibeli. Tapi asli hebat dia, berapa kali kena banjir yang dalam, ngga mati! Jago banget rasanya tetap menjadi motor yang jalan di antara banjir sambil diiringi tatapan tidak percaya dari motor-motor baru yang tumbang begitu kena air. Makanya jangan beli matic!

Baru pas sudah lewat masa banjir, di daerah Cipadung, si Astrea mati hahaha. 

Tapi jangan panik. Biarkan dia istirahat dulu sebentar. Busi mana busi. Lalu kita jalan lagi.

Berkat motor, saya juga punya keuntungan lain yakni tidak perlu olahraga. Terima kasih kepada para mafia paku di jalanan, tidak terhitung berapa kali saya harus menuntun motor yang bannya bocor di tengah siang yang terik atau malam-malam yang sepi dan uang cuma ada goceng. 

Bersambung.
Bagian 3 insya allah jadi bagian terakhir mengenai kesan-kesan.