Memahami


Sebenarnya niat utama saya saat menyeduh Milo, membawa camilan (baca : mie instant), dan membuka laptop (MS Word) pada Minggu sore yang sedikit mendung dan berkabut ini bukan untuk menulis tema posting ini tapi ngga tau nih gara-gara apa kok saya bisa nyasar ke tema ini. Pfuiiiih. Insidental sekali, nih kayak cerita cinta di film-film.


Bajingan aka OP

Tahu bajingan itu apa?

Bajingan adalah akronim dari Bahan Gunjingan. Istilah ini dipopulerkan pertama kali sekitar satu setengah tahun lalu dan sempat mendapat reaksi keras dari masyarakat, tentu saja masyarakat yang merasa digunjingkan. Mungkin mereka menginginkan nama yang lebih catchy daripada sekedar Bajingan. Ehm, entahlah, yang jelas benar juga, sih pada masa yang beradab ini kata bajingan memang kurang layak didengar saluran Eustachius. Kesimpulannya? Kita ganti saja jadi OP, okeh? Objek Pergunjingan.

Posting saya kali ini ingin mengajak Teman-teman pembaca anaksawah untuk mencari alasan sekaligus mencoba memahami mengapa pergunjingan bisa terjadi, mengapa seseorang atau sekelompok menjadi objek pergunjingan, dan mengapa sampai turun hadis yang mengatakan bahwa menggunjingkan orang lain sama seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Posting yang akan sangat menarik sekali, bukan?

Oia, satu catatan lagi perlu saya ketengahkan. Jika anda adalah laki-laki, jangan beranjak dari posting ini. Alasan pertama, saya yakin anda pasti pernah bergunjing, meski secara terselubung, meski secara ilmiah, meski secara curi dengar, meski secara tidak sadar, meski secara kebetulan, dan meski secara-secara yang lain. Alasan kedua, saya yakin nggak ada satupun dari anda yang tidak pernah dijadikan Bajingan atau OP oleh kawan anda! Okei? Jangan beranjak.


Manusiawi

Bagi saya, bergunjing adalah suatu hal yang manusiawi.

Kenapa?

Pertama, karena kita hidup di tengah orang-orang dan lingkungan yang begitu beragam. Keberagaman memang nggak salah, namun sebenarnya keberagaman mereka merupakan hal yang asing bagi kita, baik secara individu maupun secara berkelompok. Kayak misalnya saya. Saya nggak pernah punya niat ke kampus setiap hari dengan tampilan yang dressed up plus full make up karena saya nggak merasa jelek dan kurang terhadap diri saya sendiri sehingga saya juga nggak memprioritaskan uang saya untuk dandan. Namun, saya hidup di tengah masyarakat yang begitu majemuk. Ada yang sepemikiran dengan saya sehingga mereka persis sama kayak saya, nggak dandan tiap ke kampus, tapi ada pula yang pemikirannya berbeda sehingga mereka memprioritaskan pengeluarannya untuk masalah penampilan.

Nah, pergunjingan terjadi ketika keberagaman yang seharusnya biasa saja ini ditanggapi secara mendalam oleh orang-orang yang merasa dirinya normal. Yes, like me. Saya yang hidup dengan asumsi-asumsi dan pengalaman sendiri merasa bahwa kondisi saya adalah kondisi yang normal. Saya menutup mata bahwa asumsi dan pengalaman saya itu nggak universal. Bagi saya, orang-orang yang aneh dan saya gunjingkan adalah orang-orang nggak normal padahal alasan utama mengapa mereka bisa berbeda dari saya adalah mereka memiliki asumsi dan pengalaman yang berbeda dari asumsi dan pengalaman saya. Nah, tapi apakah orang-orang seperti saya yang suka bergunjing ini tahu dan paham apa yang mendasari keputusan mereka yang digunjingkan sehingga mereka berpenampilan berbeda dari yang lain?

Jawabannya ada dua. Satu, dua pihak berbeda ini saling nggak tahu dan saling nggak paham sama asumsi dan pemikiran yang mendasari keputusan mereka. Dua, sebenernya tahu dan paham tapi mau gimana lagi, bergunjing itu asyik! Nah, hati-hati, itu yang kejam. Setara kayak pengkhianatan atau pagar makan tanaman atau menusuk dari belakang. Kita akan bahas keduanya.


Saling Memahami

Dalam masalah pertama, ketidaktahuan dan ketidakpahaman, bergunjing bisa menjadi suatu hal yang permisif. Lha wong nggak tahu kok, jadi apa salahnya! Tapi apakah ketidaktahuan dan ketidakpahaman ini mau terus-terusan kita pelihara? Kenapa ketika kita menggunjingkan si A, kita malah menumpukkan bahan gunjingan yang lain tanpa sedikit pun kita menyelipkan diskusi, tebak-tebakan, sok-sok tauan, analisis, dan fakta-fakta yang bisa membuat kita terbuka akan kemungkinan alasan yang melatarbelakangi perbedaan mereka dari kita?

Hmmmm. Kenapa coba? Ada yang bisa bantu?

Saya juga sebenarnya nggak tahu jawaban dari pertanyaan saya, sih. Saya, sih di sini juga lagi bingung sama perilaku saya, teman-teman saya, dan tentu saja perilaku Teman-teman pembaca. Hehehe.

Nah, permasalahan makin kejam kalau kita ternyata tahu apa yang melatari seseorang atau sekelompok dalam melakukan suatu tindakan tapi kita tetap menggunjingkannya seolah kita nggak tahu apa-apa. Okei, katakan si A adalah musuh kita sehingga kita ngerasa males banget dah ngebela dia. Tapi permasalahannya, ini bukan soal bela-membela tapi mencoba untuk memahami. Memahami juga bukan berarti membuat dia menang, sih kalau kata saya mah. Dengan memahami dia, kita juga bisa menghancurkan dia. Lah, ini apa bedanya dengan mengkhianati yak???? Hahha. Ehem, kebanyakan baca buku perang. Haha. Nggak, saya nggak bermaksud ngajarin jahat, tapi saya cuman ingin menyoroti mengapa kita lebih suka untuk membesar-besarkan perbedaan ketimbang memahami perbedaan.


Makan Bangkai Saudara Sendiri

Memakan bangkai saudara sendiri? Ya, saya yakin Teman-teman tahu bahwa ini bukan makna denotatif. Pasti ada makna kiasan dari hadis tersebut. Saya, sih bukan ahli hadis atau ahli Bahasa Arab, orang saya ngomong Bahasa Indonesia aja masih tertatih-tatih, yah walaupun nilai UN Bahasa Indonesia saya nggak sekian koma sekian lah *tuh kan nggunjing lagi*, tapi saya rasa saya harus memaknai hadis ini dengan makna yang nggak sekedar makan bangkai itu bau, menjijikan, dan harus dihindari. Pemahaman yang begitu doang mah nggak akan menjauhkan kita dari kegiatan gunjing-menggunjing.

Bagi saya, alasan bahwa bergunjing merupakan kegiatan berbahaya yang harus kita hindari adalah, pertama, bergunjing merupakan prasangka. Kalau udah yang namanya prasangka, syukur-syukur kalau benar, nah kalau salah, bukankah kita sendiri yang malu? Contoh dari kasus tersebut bisa kita simak dari film-film box office atau cerpen-cerpen di Majalah Bobo. Alasan kedua, bergunjing tanpa analisis untuk mencoba memahami merupakan kegiatan yang bisa memecah belah persatuan bangsa. Ingat sila ketiga Pancasila! Jangan main-main sama Pancasila. Ada banyak kejadian yang berawal dari ketidaksalingpahaman lalu pergunjingan lalu pertempuran di dunia ini. Nah, kalau kita nggak pernah mau belajar untuk memahami, kita nggak akan pernah lepas dari keadaan konflik. Alasan ketiga, bergunjing adalah pengkhianatan kalau kita sebenarnya tahu asumsi dan pengalaman yang melandasi seseorang untuk berbeda dari kita. Jahat aja gitu, kenapa kita nggak menghormati perbedaan tetapi malah justru mempermasalahkan perbedaan itu dan memaksakan suatu persamaan asumsi dan pengalaman menjadi sebuah norma yang benar dan normal?

Inti permasalahan dari bergunjing sebenarnya adalah perbedaan. Nah, bagi saya, mengapa bergunjing ini menjadi salah satu hal yang disoroti dalam hadis karena bergunjing sebenarnya merupakan ejawantah dari ketiadaan penghormatan atas perbedaan padahal dalam ayat Qur’an sendiri dikatakan bahwa Allah menciptakan makhluknya dengan berbagai keragaman. Ketidakhormatan kita atas perbedaan padahal kita diciptakan dengan keadaan yang berbeda-beda ini merupakan precursor yang sangat empuk dalam menciptakan keadaan perang. Hmmm.

Ya sebenarnya cukup menjawab, sih. Cukup menjawab mengapa kita diminta untuk menjauhi pergunjingan tapi saya juga belum puas. Saya belum nemu apa pertalian makna bagai memakan bangkai saudara sendiri dari beberapa makna yang tadi saya kemukakan.

Ah, ya sudah, barangkali ada yang bisa membantu?

Bukan membantu bergunjing tepatnya. Saya cuman minta bantuin cari arti memakan bangkai saudara sendiri. Setelah kita tahu dan sepakat atas makna tersebut, mari kita kurangi bergunjing meski seperti yang saya bilang tadi, bergunjing adalah sikap yang sangat manusiawi.

Eh, susah deh ya kayaknya?

Hayooooolooooh.

Hahaha.



Ark.Mei’10.