Tentang "Taisetsu Na Koto Wa Subete Kimi Ga Oshiete Kureta"

Woh, sudah lumayan lama juga nggak posting, yah. Sekarang juga nggak akan posting yang mikir, ah. Mau yang ringan aja kayak kerupuk. Posting tentang film aja, deh. Dramaseri, sih sebenarnya. Akhir-akhir ini kan saya lagi nggak ada kerjaan. Ada, sih, tapi ya sudahlah nanti lagi saja diselesaikannya. Dari yang udah-udah, sih, udah nyelesein secepat mungkin, ujungnya malah belum waktunya, jadi dianggurin aja gitu sama yang berwenangnya. Jadi, ya sudahlah, waktu yang sekarang dipakai agak santai dulu saja. Nah, karena itulah saya memburu serial, baik dari donlot sendiri, maupun minta dari orang. Yang paling banyak, sih Conan. Itu special creditlah buat Bima. Saya juga ngedonlot sendiri yang season 20-21, tapi yang season awal sama movie sama bla bla lain, itu mah dibawain Bima. Selain Bima, saya juga minta Conan ke adik saya. Dikasihlah yang versi orang, asiklah. Eh, tapi saya bukan mau ngomongin Conan ketang di sini mah. Mau sih, tapi kayaknya mau ngebahas yang agak beratnya, tapi sekarang juga belum nyampe nih otak. Maklum, laper. Yaudah saya mau bahas film lain yang saya minta dari laptop adik saya.

Jadi intinya, adik saya ini kan kuliah di Sastra Jepang Unpad yak, semester berapa ya, lupa saya, hehe, tiga tahun di bawah sayalah pokoknya. Di semester-semester ini, dia lagi banyak tugas listening gitu, makanya laptopnya penuh sama dorama. Dia ngasih saya berapa serial yak, lupa. Yang baru beres saya tonton sih ini, hmmm bentar, judulnya panjang, euy, saya liat dulu. Oh, ini dia, "Taisetsu Na Koto Wa Subete Kimi Ga Oshiete Kureta." Kalau dilihat di tulisan filmnya sih, artinya semacam, "You Taught Me All Important Things." Dorama ini panjangnya 10 episode, makanya saya bisa nontonnya cuma 2 hari. Eh tapi sebenernya kelamaan juga sih. Yah, berhubung nontonnya malem, ya. Jadi satu malem cuma kuat nonton 5 episode.

Kesan dari film ini?
Pertama, ini mah seriusan dari detik pertama yang langsung nyorot si pemain utamanya, "Edan! Ganteng, coyyy! *ngomong sama diri sendiri* langsung deketin laptop ke depan muka* detik berikutnya diisi oleh makian betapa tampannya si abang Kashiwagi Shuji yang dimainkan olehhhhh....*search google* oh, Miura Haruma. Seriusan, ganteng. Nih, saya copy-in mukanya dari hati saya. 


Emang sih, rambutnya cupu dan terlihat tidak alami, yah berhubung peran dia sebagai guru baik-baik gitu. Ah, tapi yang namanya ganteng mah tetep gantenglah. Mungkin kalau film ini diindonesiakan, pasti peran yang dimainkan sama Hiruma ini bakal diperankan sama Dude Herlino.

Kesan kedua, oh karena setting dorama ini adalah di sekolah dengan profesi guru SMA, ih jadi dapet aja feelnya. Iya, sih saya bukan guru sekolah SMA, tapi feelnya kurang lebih samalah. Kayak misalnya pas lagi ngobrol sama siswa, bercanda atau dibercandain sama siswa, terus pas lagi ngabsen siswa, pas lagi nasehatin, pas lagi perpisahan, pas lagi ngomongin masa depan mereka. Pokoknya kalau adegan nangis, ikutan nangislah. Adegan lucu, ketawa kebawa ngakak. Terus saya jadi mikir, mengajar itu asyik, lho. Seriusan, Rik, kepikiran mau ninggalin dunia itu?

Okelah, sekarang kita omongin isi cerita dan amanah yang saya dapatkan. Yang standar ajalah ya.

Saeki Hikari, si cewek yang mirip Donita
Iya, kayak yang tadi saya bilang, dorama ini berkisah di sekolah. Ada Shuji Kashiwagi, seorang guru yang tampan, baik, favorit, dan akan segera menikah dengan guru yang cantik juga, Natsumi Uemura. Alkisah, Shuji ini kehidupannya baik-baik saja bangetlah, nggak pernah macem-macem. Lurus aja. Sampai suatu ketika, pas banget di episode pertama itu dia bangun tidur dan nemuin ada cewek tel*nj*ng  di kasurnya. Kagetlah dia. Tapi berhubung dia udah terlambat datang ke sekolah, dia nggak sempat nanya apa-apa lagi sama cewek itu. Habis ngomong sebentar yang intinya bingung kenapa cewek itu ada di sana, Shuji pun langsung buru-buru ke sekolah. Siapakah cewek itu? Bisa ditebak, dong, ternyata ya cewek itu muridnya. Kaget gitu Shuji. Intinya dia nggak paham kenapa hidup jadi rumit gini. Ditambah lagi,  si murid bernama Saeki Hikari yang mukanya mirip Donita itu mulai ngejar-ngejar dia dan akhirnya merusak hubungan si abang sama Natsumi.  

Sampai di episode 5 atau 6 ini kita emang dibawa sama si film ini supaya bete sama Shuji. Beda sama serial Indonesia atau Korea, dorama ini tuh nggak menjadikan kita untuk berada pada posisi penonton tahu segalanya. Ya kita diajak masuk ke cerita melalui misteri sama halnya yang dirasain para tokoh di film. Baru di episode 6 lah kita baru tahu bahwa Shuji itu nggak salah, dalam arti nggak tid*r sama Saeki. Shuji cuma kayak difitnah gitu sama Saeki. Nah, tapi di sini Saeki nggak diperlihatkan sebagai orang yang jahat banget. Kita malah diajak simpati sama hal-hal yang membuat Saeki bersikap demikian.

Natsumi Uemara.
Mungkin di Indonesia akan diperankan oleh Ayu Ting Ting
Nah, apakah ceritanya akan beres sampai di situ? Belum, Saudara-saudara, itu masih episode 6 haha. Masih ada episode 7-10. Nah, sekarang kita dibawa kesel sama sikap Natsumi. Natsumi itu tipikal cewek bangetlah. Penulisnya hebat, deh bisa bikin karakter cewek yang segala pertimbangan perubahan sikapnya dijelaskan secara logis dan empatik. Jadi pas awal episode, Natsumi itu tahu banget kalau Shuji ada masalah, tapi dia nggak kepo. Dibiarin aja dulu, cuma ngasih support tanpa banyak nanya. Terus pas Natsumi tahu kalau Shuji (katanya) tidur sama Saeki, Natsumi hancur, sih, tapi tetap percaya Shuji nggak mungkin kayak gitu. Pasti ada alasannya. Nah, berhubung Shuji juga bingung mau jelasin apaan, Natsumi beusaha nyari jawaban sendiri dengan nanya ke orang-orang dekat Shuji, bahkan sampai datang ke rumah orang tua Shuji. Terus waktu Shuji dihukum sama sekolah dan dicela murid, Natsumi masih setia nungguin di gerbang sekolah. Terus apa lagi, ya. Oh, iya, tentang feeling. Ada saat ketika Natsumi kuat di hadapan orang-orang dan ada saat Natsumi benar-benar ketakutan. Di titik terlemahnya itu, Natsumi beneran kayak cewek banget, yang miskolin Shuji sampai 50 kali terus bingung sendiri ngapain dia sampai segitunya miskolin orang *haha*, terus ada juga yang Natsumi ngerasa kayaknya Shuji udah nggak cinta lagi deh sama dia, terus yang Natsumi mikir kayaknya Shuji itu ngelihat Natsumi bukan sebagai wanita, tapi sebagai orang yang bisa diandalkan aja, terus gara-gara itu Natsumi ngerasa Shuji terpaksa aja cinta sama Natsumi. Wahahaha. Dari ketakutan itu akhirnya muncul kebodohan Natsumi, yaituuuuuuu nggak bilang ke Shuji kalau dia hamil dan langsung membatalkan pernikahan mereka. Berhubung Shuji diskors nggak boleh ke sekolah selama 1 semsester, ya Shuji emang nggak tahu kalau Natsumi hamil. Udah gitu, berhubung Shuji tipikal pria ngeselin yang mikirnya lamaaaaa banget, banyak pertimbangan yang intinya selalu mendahulukan gimana pendapat orang lain, Shuji juga pasrah aja waktu Natsumi membatalkan pernikahan. 

Masalah kedua pun muncul dan ini yang beneran bikin saya mikir dan menyimpulkan bahwa ya kita harus berjalan di jalan yang benar karena kita nggak akan pernah tahu bakal ada badai apa di depan sana. Jadi, Shuji kan di awal episode dicela gitu karena ketahuan tid*r sama murid. Mengenai hal ini, karena memang Shuji nggak melakukan, ya dia akhirnya selamat. Akhirnya namanya bersih lagi. Tapi, masalahnya, Shuji ini juga sebelum kejadian itu juga membuat kesalahan. Ya dia melakukan hal itu sama pacarnya, Natsumi, sampai akhirnya Natsumi hamil. Terserah deh, ya kalau ada yang menganggap hamil sama pacar itu wajar atau gimana, tapi saya dan film ini masih melihat hal tersebut sebagai hal yang salah. Mungkin kalau waktu bisa diputar, kalau misalnya nggak ada kejadian Shuji difitnah sama muridnya itu, ya Shuji dan Natsumi nggak akan merasa bahwa having sex before marriage itu salah karena bisa langsung ditutupi dengan pernikahan. Ya, itu kalau jadi menikahnya. Gimana kalau di tengah jalan ada kejadian nggak terduga seperti yang dialami Shuji yang akhirnya mengubah perasaan dan menciptakan kekhawatiran di antara Shuji dan Natsumi yang akhirnya membuat mereka batal menikah.  Kesel juga sih sama keputusan Natsumi yang nggak mau dinikahin Shuji padahal dia hamil dan Shuji juga mau bertanggung jawab. Alasan Natsumi, kayaknya Shuji sukanya sama Saeki deh dan Natsumi juga gamau dipilih hanya karena bayi yang dikandungnya. Penonton juga pasti kepikirannya kayak gitu soalnya sikap Shuji ini emang luar biasa ngeselinnya. Baru di akhir episode kita baru tahu gimana posisi Natsumi dan Saeki di hati Shuji. Akibat dari keputusan Natsumi yang sepihak itu, Shuji akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Dengan dikeluarkannya Shuji dari sekolah, ya karir Shuji sebagai guru langsung mati. Dia nggak bisa ngajar dimana-mana lagi. 

Gimana ya. Yang saya ambil dari dorama ini, sih, ya kita nggak akan dihukum atas hal yang nggak pernah kita lakukan, sebaliknya, kita nggak akan bisa lari dari kesalahan kita karena segala sesuatu punya konsekuensinya. Ya Shuji emang hampir dikeluarkan dari sekolah gara-gara kejadian sama Saeki, tapi karena Shuji nggak melakukannya, ya dia cuma diskors karena membiarkan murid tertidur di tempatnya *walaupun itu juga nggak sadar, kan kejadiannya Shuji lagi depresi dan mabuk*. Lain cerita sama kesalahan Shuji yang satu lagi, yang menghamili Natsumi. Itu jelas perbuatan Shuji, jadi Shuji tetapi harus menebus kesalahan itu, bahkan hingga mengorbankan masa depannya. Tentang masalah tebus-tebusan dosa, saya sepakat banget, nih. Ya, berhubung saya juga lagi mengalami kejadian yang berhubungan dengan tebus-menebus dosa. Intinya mah, sekarang kita tuh kalau mau melangkah, harus banget dipertimbangkan baik-buruknya karena kita nggak tahu di depan sana kita bakal menghadapi hal yang seperti apa. Berjalanlah di dalam langkah yang baik, kalau pesan ibu saya mah.

Eh, tapi masih belum beres. Di ending masih ada amanahnya. Spoiler aja deh, intinya, Shuji ini pas di episode akhir baru sadar gimana posisi Saeki dan Natsumi di hatinya. Dia sadar sih kayaknya dari dulu, tapi baru punya ketegasan di episode akhir-akhir. Yaudah, akhirnya di episode ini dia menegaskan bahwa kepedulian dia kepada Saeki setelah pengakuan Saeki yang memfitnah dia itu bukan perasaan cinta laki-laki ke perempuan, tapi perasaan peduli dari guru ke murid. Sedangkan ke Natsumi, Shuji sadar bahwa itu bukan perasaan ketergantungan yang membuat dia nggak pernah punya keputusan sendiri, tapi memang cuma Natsumi yang paling mengerti Shuji. Di titik ini, baru deh Shuji mengambil tindakan tegas. Kyaaaaa, akhirnya dia melamar Natsumi dengan tegas. Mengharukanlah pokoknya ini. Nada ucapannya itu loh. Ga menye-menye, tetapi tegaaaaasss seperti seharusnya pria bertindak. Asheeeekkkk. Yaudah, akhirnya di detik terkahir diperlihatkan jari yang sudah dilingkari cincin dan gimana kehidupan Natsumi dan Shuji setelah punya anak. Hikmah yang saya ambil, sih, hmmmm betapapun besar dosa atau kesalahan kita di masa lalu yang akhirnya membuat kita harus menebusnya dengan keras, asalkan kita ikhlas, kita pasti bisa kok menjalaninya dengan bahagia. Ditambah lagi, pada titik itu juga kita bakal lebih dewasa. Orang itu berubah nggak cuma karena adanya keberuntungan, tetapi juga dari cara pandangnya atas segala hal yang sempat dirasa buruk. Selain itu, kalau kita udah terjun di situ, kita nggak akan ngerasain takut dan ragu-ragu lagi. Kita pasti bisa kok menjalani hidup yang sebelumnya kita rasa berat.

Ah, gitulah. Keren pokoknya. Amanahnya dapet banget. Ya sekarang gimana caranya biar bisa dapetin abang tampan semacam Miura Haruma. Kalau ada abang, neng pasti kuat menghadapi beban hidup ini. Hahaha.



Ark. Agt'12.

Jebakan Betmen


Beberapa hari lalu saya main ke factory outlet. Niat awal sih emang cuma beli barang buat saya doang, tapi berhubung di otak juga beberapa minggu kemarinnya kepikiran survey barang buat temen saya, terus pas di FO itu saya liat ada barang yang bersangkutan, yaudah akhirnya saya beli barang itu sekalian. Nah, gara-gara kejadian beli barang buat teman saya itu, saya jadi menebak-nebak politik diskon toko, deh. Hmmm, ini baru dugaan saya doang, sih. Bukan buat provokasi kok. Hehe. 

Jadi waktu itu kejadiannya saya udah yakin sama baju *yesss, baju dong, apa lagi coba yang bisa dibeli di FO? hehe* yang mau saya beli buat diri saya. Pas jalan ke kasir, eh saya nemu ada barang, sekelompok dengan baju sih, tapi bukan baju *appppaaaa siihhhh*, yah semacam aksesoris pelengkap peampilan anda gitulah, yang dari minggu-minggu sebelumnya udah saya survey tapi harga dan modelnya nggak pernah ada yang cocok. Barang itu bukan buat saya, tapi buat teman saya. Nggak buru-buru juga sih butuh barang itunya, tapi saya pikir-pikir, kapan lagi coba saya ke FO ini lagi demi satu barang kecil yang udah pas banget, baik dari segi model maupun harga. Sebagaimana kustomer yang selalu lemah di hadapan toko, yaudah saya putuskan untuk membeli barang itu hari itu juga. Sekalian. Nah, pas saya milih-milih barang buat teman saya itu, setelah melalui prosedur reduksi data yang sangat rumit, saya pun menjatuhkan pilihan pada dua obyek serupa tapi tak sama. Serupa bagusnya tapi tak sama merknya yang akhirnya membuat harga barang itu berbeda.

Oke, kita sebut benda pertama sebagai A. Karakteristiknya berwarna hitam, harganya didiskon 50% dari harga normal. Sebenernya sih harganya Rp5juta tapi takutnya disangka sombong dan kaya raya, yaudah kita samarkan dengan harga tidak sebenarnya, ya katakan 150 ribulah, jadi dengan diskon, harganya jadi 75 ribu rupiah. Nah, benda kedua kita sebut sebagai F. Kenapa bukan B? Karena terlalu mainstream. Warnanya biru, harganya sebenarnya 4,5 juta tapi takut disangka bohong, jadi kita sebut saja 72.500 rupiah yes. Nah, dapat kan perbedaannya? Yang A Rp75.000, yang F Rp72.500. Nah, ini bukan masalah Rp2.500-nya sih. Eh, masalah ketang. Lumayan buat parkir seribu, aqua lima ratus, pengamen 2 orang @Rp500. Yak, jadi Rp2.500-nya kita jadikan pertimbangan, ya. Kenapa harus jadi pertimbangan soalnya kualitas barangnya sama dan sama-sama netral juga sih warnanya. Saya muter otak lagi. Tujuan utamanya tetep sih mending beli yang Rp72.500. Alasan berikutnya adalah saya lebih suka warna biru. Loh, tapi kan barang itu buat teman saya, bukan buat saya. Hmmm, saya mikir lagi. Oh, kayaknya teman saya juga suka warna biru, sih. Lagian, kalo misalnya dia sukanya warna hitam, ya itung-itung saya kasih pilihan baru dalam hidup lah dengan warna biru itu *MAKSA*. Terus saya mikir lagi. Mikir nyari cacatnya si A. Eh ternyata si A ini dipajang juga di manekin. Alhamdulillah ternyata si A ini pas dipasang di manekin cacatnya keliatan. Ada pola yang ngga simetris gitulah pokoknya. Yasudah, saya belilah si F. Lagian, rada kumaha juga gitu masa titipan teman dikasihnya yang diskonan 50% gitu. Nggak sopan. *ALASAN MACAM APAAAA INIIII* hahahaha.

Nah, udah aja pokoknya jadilah itu saya ke kasir. Jarak waktu antara saya nemu si barang A dan F sampai saya ke kasir itu ya kayaknya ada deh sekitar satu jam hahahaha. Pas di kasir, saya mau bayar pake American Express, tapi si mbaknya ngga punya alatnya. Mau saya bayar pake MasterCard, eh kartunya basah gara-gara hujan deras tadi. Mau bayar pake Visa, yah ada di dompet yang lain. Yaudah saya bayar pake uang seratus ribuan. Lah, baru inget, harga baju saya aja udah Rp9juta. Berat kan bawa uang seratus ribunya. 90 biji gitu. Yaudah, terpaksa harga baju saya itu didiskon sama mbaknya jadi nggak 9 juta banget. Alhamdulillah digabung sama barang buat teman saya itu, saya bisa bayar pake sekarung beras Cianjur. Problem solved.

Pas pulang ke rumah, saya lepasin label harga dari dua barang itu. Eh, saya baru sadar di label harga barang buat teman saya itu ada coretan spidol gitu. Jadi ada semacam dua harga gitu. Harga yang tadi terlihat yang saya bayar dengan beras Cianjur sama harga yang dicoret spidol. Dasar emang kustomer cerdas *walaupun telat*, saya penasaran sama harga barang yang dicoret. Saya terawang dari sisi yang berbeda. Damn, ya nggak akan keliatanlah. Satu, tebel. Dua, bukan tipex. Yaudah saya iseng ngorek-ngorek pake kuku. Eh, kekorek dong ternyata. Dan ternyata itu menyebalkanlah. Apa cik? Ternyata harga yang dicoret itu empat belas juta lebih murah dari yang saya bayar tadi. Kalau pake harga yang disamarkan, ya harganya ngga 72.500 banget. Sekitar beberapa ribu lebih murah. Ah, fak.

Yasudahlah mau gimana lagi coba. Paling nanti pas saya laporan sama teman saya, dia ngakak. Nggak, nggak, saya nggak mau laporan. Malu. *TAPI MALAH DITULIS DI BLOG*

Tapi ya gitu, saya jadi mikir. Ini kali ya politik toko. Jadi ada dua barang yang serupa tapi tak sama diletakkan secara berdekatan. Yang satu didiskon besar, yang satu lagi dikasih harga yang lebih murah dibanding harga yang sudah didiskon *padahal aslinya memang sudah lebih murah*. Tujuannya ya untuk menggiring preferensi kustomer untuk milih yang nggak didiskon. Kalau semua kustomer milih yang diskon, bisa jadi si toko nanti rugi. Terus kenapa juga si toko mau mendiskon gede, ya karena nanti dia dapat kompensasi dari harga barang satu lagi yang dimahalkan tapi seolah-olah tetap lebih murah. Ah, begitulah. Sebentar lagi juga lebaran, nih *puasa aja belom padahal*, pasti politik toko bakal tetap ada. Hati-hatilah dalam mempertimbangkan sesuatu *NGOMONG SAMA DIRI SENDIRI.*
  

Moral yang Bermateri

Salah satu tanda ketika orang-orang sadar bahwa mereka bersalah karena menghilangkan moral demi mengejar prestise dan pengakuan adalah ketika mereka berlomba-lomba menciptakan bentuk material dari moral itu sendiri. (Septari Bahagiarini, 2012)

Septari Bahagiarini itu ibu saya. Saya yakin ibu saya ini masih ada keturunan dari filsuf zaman-zaman dulu atau minimal reinkarnasi dari Aristoteles atau Ibnu-Ibnu di tanah Saudi sana. Kalau ibu saya dulu kuliahnya nggak ngambil Farmasi tapi Ilmu Budaya atau Sosiologi atau Psikologi terus saya waktu kecil nggak rewel-rewel banget jadi bisa ditinggal, saya yakin ibu saya sudah nongol di tivi atau koran-koran jadi narasumber masalah sosial di era globalisasi xixixixixixixixi. 

Quote yang secara persis saya kutip dari ibu saya itu lahir dari keprihatinan ibu saya (dan kami sekeluarga sih sebenarnya) atas nilai-nilai ujian yang luar biasa tinggi. Nggak cuma prihatin, sih, tapi juga nggak habis pikir karena (1) adik saya yang dari kelas 1 SD selalu ranking 1 ternyata pada saat UN mendapat nilai 25.2 yang seharusnya sudah bagus tapi karena zaman ini sudah menelurkan ribuan anak dengan nilai lebih dari 27 maka nilai 25.2 pun menjadi nilai yang 'hanya' mendapat tempat di sekolah cluster 3, (2) teman-teman adik saya di SD-nya banyak yang mendapat nilai lebih dari nilai adik saya padahal mereka menghitung operasi perkalian saja masih sulit dan dulu waktu masih kelas 6 sering dimarahi oleh guru, (3) nggak cuma di SD adik saya saja, tetapi juga di sekolah-sekolah menengah yang murid-muridnya jadi murid saya di Ganesha. Ada murid yang saya tahu pintar tapi 'hanya' mendapat nilai 36-37 yang membuat mereka harus sekolah di cluster 2 dan 3, sementara itu ada murid saya yang dulu membuat saya stres karena penyerapan materi dan aplikasi ke dalam soal sangat minim ternyata mendapat nilai 38 ke atas. Ini bukan cuma tentang keberuntungan yang diberikan secara terpilih oleh Allah kepada hamba-Nya yang tawaddu, tetapi juga tentang bagaimana mereka yang ragu dengan kemampuan diri sendiri didukung oleh lingkungannya untuk memilih jalan yang daripada mendapat malu, lebih baik menggadaikan moral. We know lah ya apa maksud saya dengan cara 'menggadaikan moral' ketika UN. 

Di tengah kondisi masyarakat yang bukannya malu telah menghilangkan moral mereka demi capaian prestasi semu jangka pendek, malah merayakan dengan tertawa-tawa, muncul sekolah yang menetapkan syarat penerimaan siswa baru tidak hanya dengan nilai UN, tetapi juga dengan sertifikan BTQ. Tahu BTQ? Hati-hati kalau kalian nggak tahu, nanti kalian dicap nonis atau non-Islam sama guru di sekolah itu hahahaha. Ngeselin emang capnya. BTQ itu Baca Tulis Quran, tapi nggak cuma baca dan tulisnya saja, tetapi juga mencakup pengetahuan fiqh, tauhid, dan sebagainya. Sertifikat ini hanya bisa diberikan oleh institusi, saya lupa instutusi apa, yang jelas semacam TPA resmi yang ditunjuk oleh negara. Ujiannya meliputi tes baca dan tulis Quran serta pertanyaan seputar keislaman.

Saya awalnya juga nggak ngerti apa maksud BTQ, apalagi sertifikat BTQ. Dari kecil keluarga saya memang nggak pernah memasukkan anak-anaknya ngaji di masjid. Saya dan adik-adik saya sejak TK sampai hampir SMP dipanggilkan guru mengaji di rumah setiap Sabtu dan Minggu dari jam Duhur/Asar sampai Isya. Baca Quran, hapalan surat, nulis huruf Arab, tanya jawab. Mas Tono bangetlah pokoknya mahzab kita hahahaha. Solat tarawih juga selalu di musola rumah. Kalau bukan Aba yang mengimami, ya Aba memanggil imam dan beberapa murid si imam dari pesantren di kampung bawah. Kenapa harus di rumah, ya karena bagi orang tua saya kalau ke masjid lebih banyak godaan. Jajan, misalnya. Ngobrol. Saingan. Ribut. Main. 

Kalau mau diadu dengan anak-anak jebolah pengajian masjid, ya silakan. Hampir sepuluh tahun belajar ngaji seminggu dua kali dalam waktu enam jam, ya masa kalah. Ya kami memang tidak belajar secara rigid dalam arti, "Sekarang kita belajar fiqh ya,"; "Sekarang kita masuk ke tauhid, ya." Tapi saya yakin pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan dulu ya bisa dipiliha ke dalam sub-sub itu. Hmmmm. 

Eh, tapi ternyata nggak bisa begitu nih sekarang. Di tengah kondisi masyarakat yang minim moral, menurut ibu saya, mereka tahu mereka telah menghilangkan moral mereka demi capaian semu. Tapi bagaimanapun juga mereka adalah manusia yang masih menganut agama dan mereka tahu bahwa seharusnya mereka memegang agama tersebut sampai ke liang lahat. Mereka juga sebenarnya masih takut neraka. Menutupi rasa bersalah dan keterancaman mereka akan Allah tersebut, ya mereka mencari suatu bentuk kasat mata atau bentuk material dari moral. Mereka kini berpegang pada penjamin untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa, "Murid yang masuk sini murid yang bermoral, lho. Yang tahu agama. Nih ada sertifikatnya!" Padahal murid tersebut saat UN lalu sudah menggadaikan moral dan melupakan Allah sejenak. Dari sisi murid, melalui sertifikat tersebut, mereka berkilah, "Aku kan beragama, aku bisa baca dan tulis quran. Kata siapa aku nggak bertuhan? Aku beragama! Aku benar! Aku nggak berdosa!"

Bagi saya dan ibu saya, moral dan agama itu seharusnya saling berkaitan. Agama adalah guide bagi moral, kemudian moral menjadi guide bagi pengambilan keputusan kita. Seharusnya proses itu terjadi secara otomatis di dalam hati dan otak kita. Seharusnya dengan agama dan moral sebagai pemandu hidup kita, kita jadi orang yang baik dan menjaga harmoni kehidupan. Tapi ternyata tidak. Demi hal-hal duniawi yang semu, yang pendek, dan yang nantinya malah menyiksa kita, baik dunia dan akhirat, kita menghilangkan keduanya. Kita pun berpaling pada bentuk material yang menerangkan bahwa kita bermoral. Konon persyaratan setifikat BTQ itu sudah di-Perda-kan, yang artinya negara sudah mendukung. Tapi lucu, sih. Ini sekolah umum, lho, bukan madrasah atau pesantren. Mengapa harus ada perwujudan material akan sesuatu yang seharusnya diwujudkan melalui perilaku yang baik? Mengapa sertifikat BTQ lebih dipentingkan daripada sikap yang bermoral dan ingat Allah saat ujian? Mengapa kita harus berpegang pada selembar kertas buatan manusia ketimbang azab dan pahala yang dijanjikan Allah? Apakah Allah mewujud di dalam selembar kertas?

Ark. Jul'12.

Buat yang Baru Naik Motor



Berawal dari satu pertanyaan, semuanya pun seperti sudah meant to be. Oh iya, nama dirahasiakan karena ini menyangkut hak cipta. Lebih tepatnya untuk menjaga identitas sih. Watir dia soalnya. Hhahahahhahaha.
Adik saya yang bungsu sedang deg-degan menunggu nilai ujian nasional. Surat lulus, sih sudah diterima, tapi ya namanya deg-degan ya....Hmmm, apalagi menurut kabar berita yang tersiar di komplek, semua anak SD sudah dapat surat lulus dan jumlah nilai. Saya nggak mau langsung percaya sama berita itu, makanya saya inget-inget siapa teman saya di Ganesha yang bisa saya tanya soal nilai UN SD sudah keluar atau belum. Inget, inget, inget, inget, oh iya kan ada Si A. Si A kan ngajar di SD juga. Sayangnya saya nggak punya nomor hape Si A. Maklum, Si A orang sibuk jadi nomer hapenya banyak. Mikir, mikir, mikir, akhirnya saya tanya nomor hape Si A ke teman saya yang lain, yang mau saya omongkan di posting ini.
"Heh~~~~~ minta nomer hape Si A..."
Tunggu punya tunggu. Wih, nggak dibalas-balas juga. Ini orang kemana coba masih setengah delapan udah gabisa dihubungi. Hmmmh, yasudah saya cari Si A di fesbuk, eh kebetulan Si A baru update status. Yaudah saya komen kapan nilai SD dibagikan. Tunggu lagi, eh ternyata yang bikin status itu bukan Si A, tapi Teh Ina istri Si A. Kata Teh Ina, Si A-nya lagi keluar.
Wih, parah pisan Si A malam-malam meninggalkan istri yang baru masak mie sambel goreng.
Sebentar saya menutup tab, eh hape saya bergetar. Dibalas ternyata sms saya sama abang-abang di Cibiru. Ituuuu..orang yang tadi saya sms. Dia bilang, "Ni sy lagi sama Si A, bu. lagi ngedate di alun-alun ujung berung. Haha."
Langsung mikir. Ini orang akrab bener hari Senin jam setengah delapan malam ketemuan di Ujung Berung. Oh habis solat Isya kali ya. Iya, saya lemot banget, baru sekarang kepikiran, ngapain solat Isya di mesjid Ujung Berung orang SI X rumahnya di Cibiru. Maklumlah, saya lagi mikirin adik saya. Yaudah saya nggak ambil peduli sama dia lagi dimanalah, yang penting saya tahu kemana harus menghubungi Si A. Gile, jodoh banget nyari Si A lewat Si X taunya Si A emang lagi sama Si X. Jodoh bener ini kita bertiga. Langsung aja saya instruksikan kepada Si X untuk bertanya kepada Si A soal nilai UN SD.
Lamaaaaa banget ngga ada balasan.
Emosi juga. Apa maksudnya coba orang ini bales sms saya tadi? Pamer doang ketemu Si A? Terus saya mikir, kok nggak biasanya ini orang pamer lagi ngedate sama siapa. Pake ketawa lagi. Bukannya ngasih nomor Si A langsung pula. Nggak nanya balik mau ada urusan apa coba saya sama Si A. Apa maunya. Wah, aneh, nih saya pikir. Ini pasti ada yang salah. Pasti ada kode di balik itu semua. Tapi ya sakumaha maneh weh lah. Ini adik aku piye nasibnya.
Eh, taunya dateng balesan sms dari nomor tak dikenal. Oalah ternyata Si A. Oh, baguslah, Kopral X sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Udah aja saya bales sms Si A dan Si A bales juga beberapa kali sampe akhirnya saya mau menyudahi sms itu. Saya bilang nuhunnnnn Pak , salam buat Teh Ina yaaaaa. Eh taunya Si A bales lagi, "Ok...ga salam ke Si X....Dia belajar dengan sangat cepat."
Si A kan orangnya banyol banget yah, jadi saya pikir omongan dalam smsnya itu bercandaan doang. Yaudah saya bales, "Oh lagi ngeprivatin Si X?" Beres ngetik itu, saya mikiiiiirrr, "Privatin apa coba? Hah? Privaaattttt? Jangan-jangan...jangan-jangan..." *zoom in zoom out, muka hokcai -bolohok ngacai-* Saya langsung ngetik sms lagi dan pake kepslok, "PRIVATIN NAIK MOTOR YAAAAA?" terus saya langsung ngakak sengakak-ngakaknya ngakak. Si A terus menjelaskan bagaimana perkembangan Si X selama belajar naik motor dan saya akhirnya tahu apa makna kode sms Si X ke saya tadi. Tiba-tiba nada sms Si X langsung berubah dari yang misterius menjadi cengar-cengir tengil. Pantesaaaannnnnn ceria. Pantessssaaaannn. Ternyata dia lagi bangga. Bangga naik motor tapi sok menyembunyikan sesuatu. Langsung saya sms, saya tantang dia ngedrift dari Dago Pakar ke Supratman Sabtu depan. Gayaaaaaaaaaaa dong. Eh dia nerima tantangan itu. Songong, coy, songong. Hahahahahhaa. End of story, kami pun bahagia selama-lamanya. Tengkyu verymuch. Naooonnn. Hahaha.
Entahlah, saya kaget banget Si X tiba-tiba mau naik motor. Ya nggak tiba-tiba juga, sih. Udah setahun dia dibully sebagai cowok cupu yang nggak bisa naik motor. Pokoknya Si X ini tipikal suami yang nggak akan pernah lulus casting bintang iklan KB Suami Siaga, Siap Antar Jaga. Heran gitu saya, ini orang pernah punya trauma apa sih sama kendaraan roda dua. Atau jangan-jangan Si X ini simpatisan HTI yang antizionis yang secara pukul rata menganggap barang bikinan AS dan Jepang adalah barang yang akan menyeret kita ke neraka karena kapasitasnya sebagai antek-antek Zionis. Atau Si X emang cupu aja dan cupu banget. Yang bikin kesel lagi, Si X ini kalau sudah dibully, tampangnya masih sok cool dan inosen gitu. Datar dan tetep pede. Kalem weh. Kirain teh hatinya telah mati terhadap bully gitu. Saya pikir Si X ini memang orang yang antiprogresivitas. Kalo udah liat tampang Si X yang kalem dibully gara-gara gabisa naik motor, saya mah suka kebayang sama nasib anak-anak dia kelak. Bayangkan, punya bapak yang nggak bisa naik motor. Nggak cool banget. Pasti anak-anaknya minta tuker tambah bapak. Diganti kek sama Andhika Pratama. Biar kata udah beristri sama Ussy, tapi kan ganteng dan bisa naik motor.
Pas tahu kabar Si X jam segitu belajar naik motor, which is itu adalah jam pulang kantor dia, dan itu di Ujung Berung yang sepertinya nggak mungkin kalau Si X pulang ke Cibiru dulu terus cus ke Ujung Berung lagi, saya makin salut. Gile ini orang ternyata menyimpan dendam dalam hatinya untuk membuktikan kepada saya dan kawan-kawan bahwa naik motor hanya persoalan waktu. Ya lama juga sih, umurnya udah 25 gitu. Kocaknya lagi, Sabtu lalu saya ketemu Si X di Bandung. Saya bilang kan ke dia, "Elu sih gabisa naik motor. Kalo bisa mah nih bawa nih kunci."  Itu baru satu, masih ada banyak bully soal motor lagi hari itu. Tanggapan dia ya cengar-cengir penuh misteri. Entah apa dia sudah punya rencana belajar motor atau belum, tapi firasat saya mengatakan bahwa dia kesel dikatain melulu hahahahaha.
Ih saya penasaranlah liat Si X bawa motor hahahahahahhahaha. Kalaupun pada saat itu dia terlihat tampan, tentu saya lebih keras tertawa menertawakan ketimbang memujinya. Hahahahhahahahaha. X, X.
Tapi nggak apa-apalah. Setiap orang punya titiknya masing-masing. Saya juga dulu telat belajar motor. Ya saya dari SMP sih sudah bisa tapi saya gara-gara waktu SMA saya pernah jatuh di dekat rumah, saya nggak mau lagi bawa motor. Baru pas kuliah kayaknya saya bawa motor ke jalan raya. Itu juga karena ibu saya yang jagoan neon mengalami sedikit kecelakaan waktu naik motor sehingga nggak mungkin saya bergantung pada ibu saya terus. Ya akhirnya berani-beraniin dirilah naik motor ke kampus. Awalnya masih kaku dan dikatain Mufli, "Kenapa sih ngeliat cara lo bawa motor kayaknya kaku bener?"; "Kampret lu,Muf. Tau gue masih awam bawa ginian."; "Ah, serem gue liatnya, sini gue puterin. Bisa nggak lu?"; "Hehe, takut, Muf."; "Ah, payah lu. Ati-ati di jalan."
Oh iya, saya juga dulu takut membonceng. Saya dari awal punya sepeda sendiri pas kelas 2 SD, saya nggak berani mbonceng. Berat, bro. Kebawalah itu sampe pas naik motor. Orang yang pertama saya bonceng adalah Deasy Walda. Itu gara-gara si Deasy maksa pengen sok jadi psikolog yag berhasil mengatasi ketakutan saya akan pemboncengan. Padahal itu si Deasy tahu juga itu bahwa nyawa adalah taruhannya. Selama ngebonceng itu, dari FISIP sampe Ayam Laos di Ciseke saya sama Deasy teriak-teriak nggak karuan kayak lagi main Ontang-Onting di Dufan. Fak banget emang. Hahahahhaha. "Rikiiiiiiiii kamuuuu bisaaaaa!!!" ; "Enggaaaa Dessiiii..kamu turun ajaaaaaaa jangan membahayakan dirimuuuu"; "Tidak Rikiiiiiiiiiii...kamu harus bisaaaaa dan kamu pasti bisaaaaa"; "Kalau kamu kenapa-kenapa gimana Deeessss..kamu turun aja atuhlahhhh aku ga bisaaaa"; "Gapapa kok Rikiiiiiiiiiiiii.."; "Yaudah aku jatuhin kamu aja ya kalo gituuuuuu"; "Jangaaaaaaaannnnn Rikiiiiiiiii.." Hahhahahahhahaha.  Seriusan saya nangis pas disuruh boncengin Desi sama semua panitia ospek. Nangis takut.
Saya juga nggak langsung lulus ujian SIM. Ujian tulis saya lulus. Ujian praktek bikin angka 8 saya lulus. Yang nggak lulus adalah ujian jalan lurus di antara halang rintang. Bulan depannya saya ujian lagi yang halang rintang. Lulus deh, horeeee. Sekarang saya sudah hidup bahagia selamanya dengan motor.
Kalau di jalan, hal buruk yang masih saya lakukan adalah memaki dan memencet klakson berkepanjangan. Iya, saya orangnya nggak sabaran. Saya suka kesel sama orang yang suka nyebrang sembarangan, apalagi yang mengandalkan kekuatan rambut, pantat, dan busungan dada. Dia pikir hanya dengan kekuatan kecantikan, semua kendaraan akan berhenti lima senti di depannya apa? Dia pikir dunia ini selebar iklan pelumas apahhhh? Terus saya juga suka emosi sama motor atau mobil yang ngambil kanan tapi jalannya lelet. Apa fungsinya coba nganan tapi lambat-lambatan. Saya juga sebel sama kendaraan yang nggak bisa jalan lurus dan ngambil jalur tengah. Rusak tuh otaknya. Yang bikin kesel lagi adalah bis dan knalpot yang asapnya ngehe tepat di depan muka. Percuma konsultasi ke Erha atau dioperasi palstik semirip Lee Min Ho kalo tiap hari dikentutin knalpot.
Tapi saya ngerasa sih semakin kita turun ke jalan, ya semakin lihai. Lihai membagi otak seperti, nyanyi, nyetir, dan memaki kemudian nyanyi lagi. Sekarang juga saya makin hobi nyalip, tapi nggak yang ekstrem macam menantang bus di jalur sebelah. Aduh, skripsi belum beres, jodoh belum ketemu, dan kerjaan masih butuh penampilan menarik. Tiap mau pergi sampai sekarang doa saya kencenggg bener. Di jalan juga hati-hati menjaga nyawa sendiri dan nyawa orang.  
Tapi overall asiklah naik motor teh. Pertama, jomblo kita nggak watir-watir banget. Jomblo yang paling watir adalah jomblo yang naik kendaraan umum setiap waktu.  Kedua, bebas mau pulang jam berapa aja nggak harus bergantung pada kasih sayang mamang angkot. Ketiga, nggak ngetem. Yaiyalah pasti. Orang jomblo. Mau ngetemin siapa? Keempat, praktis mau lewat jalan terpendek dan tersepi. Kelima, gagah sih. Keenam, tuntunan zaman.
Gitulah pokoknya buat kamu wahai Si X yang sudah berani menjadi manusia yang berbeda. Ikutan senenglah saya mah sama kamuh. Semoga weh kamu menjadi pengendara motor yang mabrur dan menjadi rahmat bagi semesta alam, misalnya dengan lebih banyak lagi membantu orang lewat cara membonceng. Iya, ini kode. Balas jasa, bro. Tanpa bully-an saya, kamuh mah ga akan kepikiran tah sok malem-malem belajar motor. Hahahahhahahahahahhahahaha. Selamat bergabung di squad maung motor bandung, bray!



Memilih

Mungkin pada akhirnya orang yang berada di tengah itu akan musnah. Pada akhirnya ia harus menentukan jalan. Apa mau ke kiri. Apa mau ke kanan. Akan ada saatnya seseorang merasa cukup mendapat informasi dan di titik itu ia harus menentukan siapa dia, apa keinginannya, dan harus menjadi seperti apa. Ya, pasti. Pasti ada suatu titik dimana kita harus memilih mau belok ke kiri atau ke kanan.

Idealisme

Pada akhirnya semua idealisme itu akan dipertaruhkan, sih. Pada saat itu juga kita baru sadar bahwa kita tidak bisa hidup hanya dengan memikirkan yang baik bagi diri kita sendiri. Sayangnya, pada saat kita sadar itu, there's no way back. Hmmm, pada akhirnya kita akan kembali lagi pada Allah. 

Dari Sebuah Buku "Islam dan Sekularisme" Part 1


Dua atau tiga minggu terakhir ini saya dipinjami buku oleh kawan saya secara nyicil. Maksudnya minggu pertama dipinjami dua buku, terus tiga hari beres, dua minggu kemudiannya dipinjami lagi satu, terus tiga hari beres. Iya, jadi bukunya ada tiga tuh, ketiga-tiganya memiliki isi yang yoi banget mamen. 
Buku yang mau saya bahas ini berjudul "Islam dan Sekularisme", buah karya Syed Muhammad maquib Al-Attas. Pada keprok, deh yakin baca judulnya. Sebagian keprok karena tahu dari siapa saya dapat pinjaman buku ini, sebagian keprok gara-gara ngira saya pencitraan di mata orang yang meminjamkan buku. Salah emang nih stigma orang. Haha. Terserahlah, tapi yang jelas dibanding dua buku sebelumnya yang juga bernafaskan Islam yang membahas Islam dari sudut diskursif dan kaitannya dengan tren posmodernisme yang bagi saya menarik karena menyajikan perbandingan Islam dan Barat secara kritis dan akademik, buku ini mengena bagi saya karena buku ini memberikan jawaban argumentatif atas apa yang saya pikirkan beberapa waktu terakhir, yakni ketidaksetujuan saya atas kegamangan orang-orang atas agama yang akhirnya membuat mereka mengecilkan arti agama sesungguhnya. Buku ini lebih bersifat mengenalkan kita pada hakikat hidup kita sebagai manusia.


Tentang Din
Satu hal mendasar yang paling saya setujui dari buku ini adalah pengidolaan kita, Muslim, terhadap Barat yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Ini bukan soal fasisme atau soal kedendaman karena konon Barat telah banyak mengambil dan memodifikasi hasil pemikiran ilmuwan Islam. Ini lebih karena intrepretasi Barat akan manusia dan agama itu sendiri yang berbeda dengan keseharusan pemahaman mengenai manusia dan agama sebagaimana yang digariskan Quran. Ketika kita memasuki pola pikir Barat ini, akhirnya kita terjebak dalam pendefinisian manusia dan agama ala Barat yang menjauhkan kita dari hakikat kita sebenarnya.

Titik konflik pertama terjadi ketika Barat menerjemahkan agama --tentu yang dimaksud di sini adalah agama Islam- atau yang dalam bahasa Arab disebut din sebagai religion. Sama-sama agama, memang, tetapi dengan pemaknaan yang lebih sederhana dan mereduksi makna din sesungguhnya. Pak Attas menyimpulkan  makna din sebagaimana yang diungkapkan dalam bahasa Arab menjadi empat, yakni (1)keadaan berhutang, (2) penyerahan diri, (3) kuasa peradilan, (4) kecenderungan alami.  Penjelasannya panjang, tapi secara ringkas konsep din ini merujuk pada suatu keadaan yang seharusnya disadari manusia bahwa ia adalah makhluk yang eksistensinya di dunia ini dipinjamkan oleh Allah sehingga pada akhirnya manusia ini memiliki kewajiban untuk selalu mengabdi. Pengabdian di sini juga tidak dimaknai seperti pengabdian pada umumnya yang kita pahami antara manusia dengan manusia, tetapi pengabdian kepada Allah yang dalam prosesnya bukan Allah yang diuntungkan, tetapi manusia yang mengabdi itulah yang mendapat manfaat. 

Dalam pengabdiannya ini, manusia juga harus taat akan segala hal yang dijadikan hukum oleh Allah. Hukum ini memang mengikat, tetapi kembali lagi pada pernyataan di atas, pada akhirnya hukum-hukum ini ada bukan demi Allah, melainkan demi kebahagiaan manusia itu sendiri. Ketaatan manusia akan hukum Allah ini akan melahirkan apa yang disebut Pak Attas sebagai konsep keadilan, yakni keadaan yang membuat segala hal berada sesuai dengan tempatnya. Din pun akhirnya mengenal konsep hirarki. Di satu sisi, manusia memang tidak dapat dilepaskan dari konsep kesetaraan. Namun berbeda dari konsep kesetaraan yang kita pahami saat ini, kesetaraan yang dimaksud di sini hanya berasal dari proses penciptaan manusia yang sama-sama dari tanah, saripati, yang nantinya atas izin Allah berkembang menjadi daging dan tulang. Kesetaraan penciptaan ini tidak dapat diproyeksikan lebih jauh lagi dalam ranah taqwa dan ilmu. Manusia di mata Allah akan berbeda derajatnya sesuai dengan dua hal tersebut, yang seharusnya tidak hanya dimaknai dengan ungkapan bahwa hanya Allah saja yang akan menilai dan menghargainya, tetapi juga harus dilakukan oleh manusia lainnya. 

Namun demikian, hierarki ini ada bukan untuk menciptakan opresi dan tirani di kalangan Islam. Hierarki ini dibutuhkan sebagai institusi untuk pemberian ilmu dan pendidikan. Tanpa adanya hierarki, menurut Pak Attas, manusia tidak akan mau mendengar. Mereka akan jumawa dengan merasa pendapat dan ijtihadnyalah yang lebih benar. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa ijtihad-ijtihad manusia yang hierarkinya lebih bawah ini bisa jadi melampaui ijtihad hierarki di atasnya. Namun bila hal ini terjadi, tetap saja harus ada pembinaan dari hierarki di atasnya. Menurut ibu saya, bagaimanapun juga, ketika manusia sudah berada di tingkatan atas hierarki, manusia itu sudah bisa menguasai medan dan bisa melihat potensi manusia yang ada di bawahnya. Peran manusia di tingkatan hierarki tinggi ini adalah melejitkan potensi manusia yang ada di bawahnya sehingga cahaya yang nanti mereka pancarkan jauh lebih kuat. Bagaimana dengan manusia yang suka menjegal dan mematikan potensi? Kata ibu saya, berarti mereka belum berada di hierarki atas secara sesungguhnya.

Kembali lagi soal din. Dengan paparan bahwa din pada akhirnya mengikat manusia kepada Allah secara mutlak, apakah din ini akan langsung ditolak manusia? Tidak menurut Pak Attas. Sebabnya apa? Ya, karena din itu sendiri adalah kecenderungan alami. Saya selalu percaya bahwa manusia itu di dunia ini dibekali kecerdasan akal, kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk, serta kemampuan untuk mencari tuhan entah bagaimana caranya. Ternyata Pak Attas juga mengetengahkan hal demikian. Pak Attas menjelaskan kecenderungan spiritual itu melalui adanya perjanjian ruh dengan Allah sebelum ruh itu diturunkan ke raga manusia. Saya percaya. Lebih percaya lagi karena harus diakui, tidak ada manusia yang tidak pernah merasa lemah dan takjub. Dari kelemahan, kita mencari dzat pelindung yang kita tahu itu bukan dari kalangan manusia lagi. Dari ketakjuban, kita mencari dzat yang dapat mengatur keajaiban dan kebaikan alam yang tentu bukan manusia lagi. Dua hal itu yang menuntun kita untuk mencari tuhan, entah dengan nama apa dan dalam kerangka religion apa, yang penting itu dzat yang membuat kita merasa nyaman dan yakin. Karena saya Muslim, ya Dzat yang menyamankan dan meyakinkan saya ya Allah dan dalam kerangka din Islam. Bagi manusia yang tidak atau belum mengenal Islam, ya ada banyak lagi. Bagaimana dengan atheis? Bagaimana dengan orang-orang yang mengakui Tuhan tetapi tidak berada di dalam kerangka agama manapun? Itu masalah yang akan dibahas dalam waktu yang lain.

Saya pikir penjelasan Pak Attas mengenai din Islam ini sangat mulia. Pak Attas kemudian juga memberikan karakteristik din Islam secara lengkap yang membedakannya dengan agama-agama lain. Salah satu hal yang menonjol adalah misi penyelamatan yang universal yang dibawa din Islam. Dalam agama-agama lain, misi penyelamatan tidak menonjol, apalagi universalitas. Banyak agama yang hanya ditujukan bagi bangsa-bangsa tertentu, terutama agama yang berkaitan dengan penghormatan terhadap nenek moyang, yang pada akhirnya membuat agama tersebut mengeksklusifkan lingkup penganutnya dan hanya memfokuskan pada pemujaan atau pemfokusan manfaat bagi sesembahannya, bukan bagi penganutnya. Pak Attas menyebutnya sebagai agama kebudayaan. Ada pula agama yang mencoba menjadi universal dengan menggabungkan fargmen-fragmen dari peradaban dan kepercayaan beragam bangsa namun pada akhirnya limbung diserang skeptisisme umatnya sendiri.  Fenomena agama yang seperti ini yang akhirnya membuat Barat memandang rendah agama. Bagi Barat, semua agama adalah bagian dari tahap pemikiran manusia usia anak-anak yang butuh dibimbing. Jika mau dewasa, agama harus dihapuskan dari alam pikiran manusia karena yang namanya orang dewasa tentu tidak lagi membutuhkan bimbingan. Ya, mungkin Barat nggak pernah skripsi kali ya, jadi menganggap enteng bimbingan hehehehehe.

Pereduksian Barat terhadap agama selain didukung oleh adanya fenomena agama yang seperti itu juga didukung oleh perkembangan ilmu dan pengetahuan di Barat sendiri yang didasarkan pada keraguan dan dekonstruksi. Pak Attas menganalogikan perkembangan ilmu di Barat yang demikian layaknya orang yang mendorong batu ke puncak gunung kemudian ketika sampai di puncak, batu itu digelindingkan lagi ke dasar gunung. Saya menyetujui pandangan Pak Attas karena memang hal itu yang saya rasakan selama saya membaca ilmu dan pengetahuan yang lahir di Barat. Tradisi Barat memang selalu mendekonstruksi dan ini tidak hanya terjadi pasca-Derrida, tapi bahkan dari zaman Renaissance. Renaissance dibangun dari keruntuhan Abad Kegelapan, bukan? Kemarahan, skeptisisme, ketakutan, penindasan, pemanfaatan, tirani, kejumawaan, dan usaha pencarian yang tidak berujung kerap menandai perkembangan masa di Barat. Dari perkembangan naive inductionist science yang benar-benar naif atas fakta inderawi, kemudian logical positivism yang mengandalkan logika deduktif, lalu popperian falsificationist science yang mencari kebenaran melalui falsifikasi, lalu kuhnian paradigmatic science yang intinya kebenaran akan disebut kebenaran bila dianut oleh banyak orang, ada pula lakatosian reserach program yang menjaga kebenaran suatu kebenaran melalui lapisan-lapisan uji bagi penemuan baru, hingga anything goes yang mengakui semua hal sebagai kebenaran. 

Perkembangan ilmu yang begitu dinamis di Barat tersebut memang menakjubkan bagi saya. Hanya dalam beberapa abad, sudah berapa tren yang terjadi? Itu baru secara umum. Belum jika kita memasukkan asumsi power/knowledge dari Foucoult dan beragam kritik sosial yang dilancarkan Baudrillard terhadap perkembangan masyarakat posmodernisme. Di satu sisi saya menganggap hebat pada Barat yang tidak hanya membangun peradaban dari hal-hal afirmatif terhadap perdabannya belaka, tetapi juga dari kritik. Namun memang harus diakui juga saya sering bertanya, "Kok bisa?" Pak Attas menjawab lewat buku ini, tanpa bermaksud fasis bahwa karena Barat tidak tahu apa yang mereka cari. Perbedaannya dengan Islam adalah Islam tahu apa yang ingin dicari, yakni Allah.  Dengan pemahaman din Islam, ya memang segala kegiatan manusia harus dipahami dan dilaksanakan sebagai kegiatan ibadah yang tujuannya untuk menjadi rahmat bagi sesama manusia dan alam sambil juga mengembalikan utangnya kepada Sang Pemilik. 

Ah, iya, mengenai perbandingan tradisi keilmuan Islam,memang harus diakui seperti yang disebut dalam buku Misykat yang juga dipinjamkan kawan saya itu, tradisi tulis dan keilmuan Islam juga tidak seberkembang di Barat sehingga banyak yang terlewat. Namun kawan saya yang meminjamkan buku ini meluruskan bahwa permasalahannya bukan karena tidak berkembang, melainkan karena tradisi tulis dan keilmuan Islam berbeda dari tradisi Barat. Saya setuju. Kenyataannya, memang segala hal yang tidak sesuai dengan Barat tentu akan menjadi liyan, subaltern, atau yang termarjinalkan. Saya bilang, ya inilah tantangan. Masalahnya adalah hidup kita sudah ditarik oleh Barat. Kita sudah terjebak dalam tradisi-tradisi yang dikukuhkannya melalui kekerasan simbolik yang menyamankan kita meski kita tahu tradisi itu tidak menguntungkan kita. 

Dari Sebuah Buku "Islam dan Sekularisme" Part 2


Tentang Manusia

Harus saya akui, penjelasan yang begitu mulia mengenai din Islam seperti dalam paragraf di atas memang merupakan penjelasan yang normatif. Saya pikir Pak Attas akan terjebak seperti penulis lain yang mencoba menjelaskan Islam hanya dari segi Islam itu sendiri yang tentu saja sangat-sangat indah padahal tantangan di luar sana menyoroti perilaku umat Islam yang jauh dari karakteristik Islam. Ternyata Pak Attas ini memang pantas menjadi penulis sejuta debar jantung karena Pak Attas juga membahas segi manusia. 

Ingat asumsi Realis dan Liberalis mengenai state of nature manusia yang saling bertolak belakang dan memecah umat Hubungan Internasional menjadi dua kubu yang sama-sama jumawa? Kata Realis, manusia itu sifat dasarnya buruk, sedangkan kata Liberalis, manusia itu sifat dasarnya baik. Nah, saya pikir Pak Attas ini harus di-HI-kan juga, deh. Konstrukstivis boleh mengklaim dirinya sebagai jembatan pertarungan Realis dan Liberalis hingga ke Neo-Neonya, tapi saya pikir Pak Attas ini cocok dapat penghargaan Nobel melebihi Alexander Wendt atau Nicholas Onuf. 

Pak Attas bilang manusia itu baik dan buruk, tergantung apa yang menguasai dirinya, apakah jiwa akalnya yang berasal dari ruh atau jiwa hewaninya yang berasal dari raga. Begitu saya menemukan penjelasan Pak Attas mengenai hal ini, saya langsung setuju. Pasalnya, bagi saya, menjadi manusia pada dasarnya adalah mengalami pergulatan dua sisi utama dari dirinya yang dalam bahasa metafora diperbandingkan dengan pertarungan kata malaikat dan kata setan di dalam hati. Hal yang selalu saya yakini,menjadi manusia adalah proses tarik-menarik antara akal dan nafsu yang seharusnya dimenangkan oleh akal. Namun memang, dalam proses pemenangan akal ini, segala sesuatu tidak berjalan dengan mudah.  Karena itulah proses menjadi manusia ini bukan proses semalam, melainkan proses seumur hidup. Ditambah lagi manusia ini hidup sebagai anggota dari beragam afiliasi masyarakat yang mengikatnya dalam beragam kepentingan yang bisa jadi saling tolak menolak, yang parahnya lagi, afiliasi masyarakat ini juga disusun oleh manusia-manusia yang sama-sama bergelut dengan akal dan nafsunya.  

Manusia-manusia ini pun kerap tidak memahami hakikat hidupnya sebagai manusia di dunia. Hidup ya hidup. Urusan mati ya tinggal dikubur. Berhubung di kuburan belum tahu bakal ada mal atau tidak, mending sekarang ke mal dulu.  Di situ nafsu hewani yang muncul. Itu baru urusan kesenangan di mal, belum kesenangan-kesenangan lain yang konon menggiurkan. Ketika manusia mengedepankan nafsu hewaninya, ya sifat hewan yang muncul, salah satunya keengganan untuk diikat. Mana ada kambing yang suka diikat? Mana ada burung yang bahagia di sangkar? Kalau bentuk ikatan kambing dan burung kan kasat mata, ya, nah bentuk ikatan bagi manusia yang nafsu hewaninya muncul ini adalah peraturan-peraturan yang tidak kasat mata tetapi membatasi gerak manusia. Din yang notebene diisi oleh peraturan pun menjadi musuh besar yang diretorikakan sebagai hal yang akan mengikat kreativitas dan kesejahteraan manusia. Din pun dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Saya pikir bukan tidak sesuai dengan perkembangan zaman, melainkan tidak sesuai dengan nafsu hewani manusia. Dengan adanya din, manusia akan dijanjikan kenyamanan, tetapi konsekuensinya, manusia harus patuh pada segala hukum din dan rela menundukkan nafsu hewaninya sehingga nantinya manusia itu akan diangkat ke derajat yang lebih tinggi sebagai manusia seutuhnya, bukan manusia 'siluman'. Dan proses itu sulit. Coba tanya kepada diri kita sendiri, sudah berapa persen diri kita yang memberi ruang pada ruh, bukan pada nafsu hewani? 

Keengganan akan keterikatan pada din ini yang menurut saya membuat manusia tidak sepenuhnya berserah diri pada din, malah  mengamini konsep religion ala Barat yang menganggap agama adalah tahap kanak-kanak pemikiran manusia yang dalam titik ekstrem, bisa jadi manusia ini memutukan untuk menjadi atheis. Namun memang pembahasan mengenai atheis ini harus dibahas dalam kesempatan khusus. Faktornya kompleks. DI bawah atheis, dalam kasus tidak sepenuhnya berserah diri pada din, hal yang kita temukan adalah perilaku menyimpang umat yang seharusnya menjadi rahmat, malah menjadi manusia-manusia amoral dan bejat. Manusia ini yang menjadi sebab bagi kritik atas din Islam. Bagi saya, kritik-kritik atas din Islam ini salah alamat. Bukan din Islam yang harus dipersalahkan, melainkan manusia-manusia yang tidak menyerahkan dirinya secara penuh kepada Islam dengan tidak menambah asupan makanan bagi akalnya, malah memperkaya nafsu hewaninya. Namun demikian, manusia-manusia ini pintar pula beretorika untuk menjustifikasi perilakunya. Hal-hal esensial yang diamanatkan din Islam pun tersamar oleh justifikasi tempelan mereka. Perilaku mereka ini yang membuat din Islam nampak usang dan melelahkan. Ini yang kemudian menjadi semacam stimulus bagi banyak pihak untuk berontak terhadap agama dan berbalik menyalahkan Tuhan.  

Kondisi ekstrem lain yang lahir dari sana bisa jadi manusia itu akan keluar dari din Islam kemudian mencari agama lain yang menurutnya bisa memberikan kedamaian atau dia keluar dari agama sama sekali. Untuk kasus yang pertama, bagi saya hal tersebut tidak recommended. Manusia yang seperti itu adalah manusia yang salah paham. Masalah yang melelahkannya sebenarnya tidak terletak pada din, tetapi pada manusianya. Dalam agama lain pun saya kira dia akan menemukan manusia-manusia yang 'menyesatkan' ajaran agama. Kemudian untuk kasus yang kedua saya punya asumsi bahwa mereka yang seperti itu adalah mereka yang ingin mencintai Tuhan tetapi tidak ingin tunduk secara penuh melalui garis yang telah ditentukan agama/din. Permasalahannya bukan pada manusia-manusia yang mereka amati dan melelahkan mereka, melainkan pada diri mereka sendiri yang masih jumawa untuk menerima kecenderungan alami mereka untuk ber-din/agama. Mereka ingin mencintai Tuhan bukan dalam keadaan mereka sebagai ruh, melainkan dalam keadaan yang mereka sebagai pemangku nafsu hewaniah.

Pada akhirnya, mengabdi pada Allah dalam din Islam ini memang bukan perkara mudah. Banyak manusia yang lahir dalam keadaan keluarganya ber-din Islam, tetapi tentu masing-masing dari manusia yang lahir itu nantinya akan mengalami proses pendewasaan sebagai umat Islam dari tarik-menariknya dengan urusan ruh dan nafsu. Mereka pun akan terbagi ke dalam hieraki-hierarki taqwa dan ilmu. Selama mereka hidup di dunia, saya rasa konflik juga tidak akan pernah berakhir. Ada  manusia yang terus berjuang memberikan ruang terbesar bagi ruhnya hingga akhir hayatnya, ada pula manusia yang memilih mengabdikan hidupnya bagi nafsu hewani yang bersemayam di dalam dirinya. Ada manusia yang secara jelas melihat apa tujuan yang ingin diraihnya selama hidup, ada manusia yang buta, entah dibutakan atau membutakan diri. 

Satu hal yang penting di dalam pergolakan akal dan nafsu manusia yang bisa mendamaikan dan menunjukkan jalan yang terang adalah ilmu.  Ilmu yang dimaksud di sini pun tidak sekedar ilmu formal semacam yang didapatkan di sekolah, tetapi juga ilmu mengenai Allah yang membuat manusia tidak hanya akan menjadi manusia yang cerdas secara kognitif, tetapi yang lebih  penting adalah menjadi manusia yang baik. Ilmu mengenai Allah ini lebih penting daripada ilmu mengenai manusia karena ilmu inilah yang akan menuntun manusia menuju kebahagiaan dan ketenangan sesungguhnya. Ilmu ini juga yang akan mendasari manusia untuk menjadi manusia yang tidak terombang-ambing dalam keraguan mengenai ilmu manusia. Keraguan akan ilmu manusia itu menurut Pak Attas, mengutip dari ayat Quran,  wajar karena memang manusia tidak diberi pengetahuan mengenai manusia sendiri, kecuali sedikit. Semakin manusia merenungi ilmu mengenai manusia, maka akan semakin meragulah ia. Kata dosen pembimbing saya, ilmu itu semakin dikupas, semakin akan menimbulkan pertanyaan. Dinamika ilmu di Barat yang selalu meragu, marah, mendekonstruksi itu bagi saya juga tidak salah. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa para ilmuwan Barat itu selalu mendayagunakan rasionya untuk mencari kebenaran. Nah, mengamankan dari segala jenis keraguan yang melanda, saya menyetujui pernyataan dosen saya yang lain, pada akhirnya di titik yang penuh pertanyaan itu manusia akan berhenti bertanya dan semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Nah, kesadaran untuk mendekatkan diri pada Tuhan ini juga tidak dapat didapat secara serta-merta sebagai konsekuensi otomatis selepas manusia meragukan manusia. Sebelum manusia meragu mengenai ilmu manusia, manusia ini harus dulu memiliki bekal ilmu mengenai Allah. Bekal ini yang menjadi tujuan pencariannya akan ilmu mengenai manusia dan yang akan menjaganya tetap menjadi manusia ber-ruh, bukan manusia hewani. 

Hmmm, akhir kata, hidup ini memang kompleks. Kompleksitas ini pun sebenarnya bukan diciptakan oleh Allah, tetapi oleh diri kita yang sampai kapan pun akan selalu bergelut dengan akal dan nafsu. Sekarang tinggal kembali pada diri kita sendiri, kita mau memilih jalan yang yang mana? Jalan akal atau jalan hewan? Kita kok yang membangun surga dan neraka kita sendiri di dunia dan di akhirat. 

PS : Terima kasih atas pinjaman bukunya. Sangat bermanfaat :) 

Ark. Mei'12.

Tentang Konser




Saya bukan tipe concert-goer. Dulu saya sempat punya, sih, impian pengen nonton konser idola saya semacam Energy. Waktu Energy konser di Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya sekitar tahun 2003 gitu pengennya sih saya ikutan kayak teman-teman fans club yang grupis abis ngestalking Energy sampai ke hotel, bandara, stasiun radio, dan mal tempat Energy makan. Tapi alhamdulillah harga diri dan logika saya menyuarakan hal yang lain. Saya nggak mau dilihat Energy sebagai fans yang annoying dan worshipping abis. Malu, bero. Akhirnya saya nggak pernah melihat konser Energy seumur hidup saya. Saya ikhlas hanya menikmati idola saya dari layar majalah, tivi, dan vcd. Ya, tapi nggak ikhlas-ikhlas banget, sih. Kemarin waktu ke Singapura terus saya ngelewatin Kallang, tempat yang suka dipake Energy konser kalau di Singapura, saya juga sempat merasa sesak. Ternyata cinta saya nggak garis keras banget buat Energy.

Okesip buat kisah Energy. Tadi di awal saya udah bilang kalau saya bukan tipe concert-goer. Seriusan. Saya nggak pernah betah dan nggak pernah percaya akan atmosfer yang berbeda antara kita nonton konser dengan kita dengerin dari radio. Yak, silakan sambit saya dengan ayat fans garis keras artis manapun, saya nggak akan pernah mengubah mindset saya bahwa konser is not my thing and somehow i wonder why people are willing to pay so much money for actualizing their love to their idol. Nggak salah, sih. Toh juga 5 dari 4 teman saya adalah concert-goer atau minimal pernahlah sekali dua kali nonton konser idolanya, entah dengan alasan cinta sama idola atau karena tiketnya udah terlanjur dibeliin orang tua. Tapi bagi saya sih itu mubazir, hehe. Apa, ya, mungkin karena gaji saya belum cukup usia buat dibelikan tiket, which is something economician calls them as tertiary needs, mungkin karena saya lebih memilih bayar utang daripada bersenang-senang, mungkin karena saya lebih memilih investasi beli baju daripada buat beli sesuatu yang habis dalam beberapa jam dan nggak masuk perut, mungkin karena saya juga nggak punya interest besar soal musik jadi saya nggak paham sama yang namanya menghargai kerja keras artis dengan membeli cd originalnya dan datang ke konsernya, mungkin karena saya nggak suka jadi orang kebanyakan yang pada umumnya memang senang datang ke konser, mungkin juga karena saya menganggap tidur adalah sebenar-benarnya istirahat, tapi yang paling jelas sih karena lingkungan keluarga saya tidak terbiasa dengan kegiatan semacam konser dan budaya pop lainnya. Kuno? Konservatif? Bebas, sih menginterpretasikan apa, tapi saya senang dan terbiasa kok berada di lingkungan yang berpikir ulang sampai akhirnya nggak jadi dalam menikmati budaya pop. 

Posting ini sebenernya nyambung ke konser Gaga yang batal. Awalnya saya nggak tahu dan nggak peduli soal Gaga mau konser ke Indonesia. Pertama tahu sih tanggapan saya cuma, "Wih, masih bulan Mei tapi udah penuh aja sejarah konser Indonesia di tahun 2012. Tajir, nih orang Indonesia." Iya, perhatikan, deh, dalam lima bulan ini sudah berapa artis besar yang konser, bero. Yang paling deket itu Suju, Laruku, terus siapa sih band idola Bima yang waktu itu Bima batal nonton konsernya gara-gara sakit? Aduh, lupa. Ya, pokoknya yang masih keinget sama saya udah tigalah, itu juga artisnya gede banget. Ya makanya pas tahu Gaga mau konser, ya luar biasa aja sih saya ngerasanya sama bangsa Indonesia. Anjir kemarin perasaan baru protes soal BBM naik dan BBM nggak bersubsidi, tapi ini di konser masih eksis. Paradoks, sih. Ya, memang sih yang nonton konser ya minimal harus berpunya yang pastinya juga orang-orang ini alhamdulillah diberi kecukupan rezeki sehingga kemarin mereka nggak ikutan demo BBM, tapi ya tetep aja paradoks. Gap distribusi kekayaan masyarakat kita tinggi banget. Semoga saja memang di balik kecukupan rezeki itu mereka selalu aktif membayar zakat.

Kejam juga ya dipikir-pikir pernyataan saya sekarang, hehehehe. Tapi seriusan itu yang jadi pemikiran saya udah dari lama banget. Saya bisa menghormati dan menghargai orang-orang yang ikutan konser, apalagi memang mereka semua adalah teman-teman saya, tapi dalam kurun waktu saya berteman dengan mereka, ya saya juga nggak pernah bisa mengubah mindset saya untuk sedikit lunak dengan konser. Saya pernah datang ke bazaar SMA 2, bazaar SMA 8, Symphonesia, tapi ya saya nggak pernah bisa mendapat atmosfer yang menyenangkan yang dijanjikan dalam konser. Ya liat mah liat aja, tapi jujur saya malah lebih sibuk nyariin orang-orang yang cipokan di konser hahahhahahahahahahahahhaaha. Iseng sih mikirin, anjir mau cipokan aja harus banget ke konser dulu, mahal cyyynnn hehhehehehehehhehehe. Saya mah seriusan nggak percaya kalau mereka datang ke konser beneran buat nonton konsernya. Paling awalnya doang itu. Ke sana-sananya otak udah kedistrak gimana nyari momen romantisnya. Kalau udah dapet juga itu dua-duanya udah sibuk dengan pikiran masing-masing. Pasti itu mah pasti. Teman-teman saya mah alhamdulillah fans garis keras dan jomblo sih jadi ya ke konser murni artis taala alias hanya untuk melihat si artisnya, jadi nggak melakukan hal-hal privat yang seharusnya nggak terekam oleh gadis dengan tingkat keingintahuan yang tinggi seperti saya. Oke, terlepas dari penyimpangan dan penistaan konser yang dilakukan oleh oknum yang berpasangan terutama pada lagu-lagu berirama mellow *padahal liriknya tentang patah hati, bukan tentang cinta selamanya*, saya memang nggak pernah bisa menerima konser sebagai bagian hidup saya.

Balik tentang Gaga, rada jengah, sih, sebenernya sama respon orang-orang tentang batalnya konser Gaga. 

Di satu sisi, saya sangat menyesalkan tindakan premanisme dan jumawa dari FPI yang bagi saya, kayak monster. Nilai yang mereka bawa sebagai isu utama untuk menolak Gaga sih saya paham dan setuju. Tapi pengaktualisasiannya itu loh, kayak yang paling benernya gitu. Lagian juga standar ganda banget. Nilai yang mereka sampaikan itu bagi saya universal dan memang cocok diterapkan di Indonesia seperti ya jangan mengundang nafsu birahi, jangan memuja setan, dan lain-lain. Nah, kalau gitu konsisten, dong. Larang juga kek dangdut erotik. Search deh di Youtube, banyak banget dangdut yang direkam dalam acara sunatan massal atau nikahan yang bahkan penyanyinya aja, dengan paha dan toket tersembul kemana-mana, ngebornya di pangkuan keyboardis. Kurang erotik, murahan, mengundang birahi, dan nggak pantas apa lagi coba? Itu bokep, sih, bukan dangdutan. Dan itu diadakan di acara nikahan atau sunatan gitu loh. Pertama ya tentu merusak iman sang mempelai. Kedua, heyyyyy itu acara sunatan woooyyyyy. Anak laki-laki seumur SD! Ketiga, itu hiburan murah yang bisa diakses secara luas oleh kelompok masyarakat umum, dari yang soleh sampai yang bejat. Spektrum audiensnya luas banget dan di situlah perusakan moral terjadi. Sidak deh ke warnet-warnet di daerah terpencil, saya yakin 4 dari 5 komputernya udah dipakai buat mendownload situs xxx oleh anak-anak dan remaja. Tanya juga berapa remaja perempuan yang sudah dibuai atau diancam putus sedemikian rupa untuk menyerahkan kegadisannya. Ketika FPI ramai mengutuk Gaga, yang sebenarnya sangat segmentatif, dalam arti sudah punya fanbase tertentu dan tiketnya mahal pula, jatuhnya itu lucu. Kita nggak bisa terus-menerus menyalahkan hal eksternal sebagai perusak moral sementara kita tahu bahwa di dalam masyarakat kita sendiri, moral itu sudah digadaikan demi saweran dan urusan syahwat. Ranah FPI pun bagi saya jadi sangat elitis. Maunya membersihkan budaya pop yang mahal di atas sana sementara yang di grassroot dibiarkan tenggelam dalam nerakanya sendiri. Coba, deh FPI itu memperluas spektrum sasaran orang yang ingin diselamatkan biar pada masuk surga. Jangan cuma orang kaya aja, tapi juga orang ekonomi menengah ke bawah. Jangan sampai membuat orang berstigma bahwa FPI itu setiran kapitalis dan jagonya pengalihan isu. Tegakkan Islam secara meratalah. Lihat ke bawah.

Namun demikian, bukan berarti juga saya mendukung orang-orang yang di twiter ramai bercuap tentang dipasungnya kebebasan berekspresi dengan batalnya konser Gaga. Seperti yang saya bilang, saya jengah. Ini juga subyektif didukung dengan latar belakang saya yang bukan anak concert-goer. Coba, deh, sebelum pada bercuap mengenai dipasungnya kebebasan berekspresi, pahami juga gap-gap yang terjadi di sekitar mereka. Saya tahu mereka berpunya dan saya juga mencoba untuk berpositive thinking bawa mereka sudah membayar zakat, tapi persoalan ini nggak berhenti di sini saja. Ini soal kepedulian dan kesetiakawanan sosial. Oke, itu pret mungkin buat kalian dan sangat okesip banget. Oke, ganti. Ini soal betapa kalian sudah menjadi budak bagi kapitalis. All hail Marx! Gue sosialis? Terserah. Kenyataannya memang demikian, kok. Baik kalian maupun artis idola kalian, dari Suju sampai Sule, itu budak kapitalis. Kalian mau bilang bahwa soal datang ke konser dan beli cd original itu adalah penghargaan bagi artis? Men, itu mitos! Itulah pengalamiahan yang diretorikakan oleh kapitalis untuk melanggengkan kekuasaan mereka atas diri kita. Melalui retorika itu kalian dipaksa bekerja lebih keras lagi untuk bisa mengeluarkan uang lebih banyak lagi demi tujuan pleasure dan leisure, yang kedua hal tersebut (kerja dan bersenang-senang) sama-sama akan menghegemonikan para kapitalis. Ya, monggolah kalau mau sekali-kali datang ke konser atau beli cd original, kasian juga kan si artis idola kalian nanti nggak makan, tapi ya nggak sampai fanatik banget bahkan sampai mempermalukan negara sendiri dengan ngetwit penuh tudingan marah ke FPI dan polisi. Ini juga makin menguatkan kapitalis gitu loh. Penistaan negara gitu itungannya. Beberapa tahun lagi, deh, kalau perilaku-perilaku emosional di twiter yang disebabkan oleh kemarahan kepada negara ini masih ramai bisa-bisa negara dibubarkan atas nama kebebasan individu yang sejatinya tidak akan membebaskan individu ke tingkatan yang bebas secara makrifat, tetapi menggiring mereka untuk masuk ke kekuasaan kapitalis yang tentu lebih kejam daripada ibu pertiwi yang sekarang sedang menangis kata Chikita Meidy.

Ah, tapi yasudahlah. Silakan balik ke kesenangan pribadi saja, maunya gimana ya monggolah, urip-uripmu hehehehehe. Baik FPI maupun pendukung konser Gaga ini sama-sama jumawa, jadi ya sulit juga kalau mau didamaikan. Sekarang mah mending FPI banyak turun mengawasi keadaan grassrootlah. Pendukung Gaga dan concert-goers lain juga mending mulai menyadari hakikat hidup kalian yang sudah masuk ke dalam kungkungan kapitalis. Kalian yang baca posting ini juga mending pada shalat isya dulu, deh. Saya juga belum, nih. Yuuuuu dadah babay.


*Posting ini ditulis malam hari walaupun dipublish siang hari

Ark.Mei'12.

Enam Tahun

Dalam enam tahun ini, ini kali kedua kita bertemu. Entah kebetulan atau sudah diatur semesta atau hati kita masih terikat tanpa kita sadari, peristiwa pertemuan kita terjadi dalam jangka waktu tiga tahun. Satu hal yang paling ingin kukatakan kepadamu saat ini sama seperti apa yang ingin aku katakan tiga tahun lalu. Tapi ya begitulah, lagi-lagi aku urungkan niatku karena melihat pemandangan yang sama seperti tiga tahun lalu yang tentunya tidak seperti apa yang aku harapkan enam tahun lalu ketika kita berpisah. Kita? Ah, ya, maksudku kita memang berpisah, tapi itu lebih karena keinginanmu yang sempat aku baca.

Tiga tahun itu lama. Enam tahun apalagi. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat siswa yang baru lulus SD bersiap-siap menjadi murid SMA. Enam tahun juga adalah waktu yang cukup untuk membuat si gadis putih merah menjelma menjadi mahasiswa dan meneriakkan kesetaraan gender. Ya, kita berpisah tentu bukan pada saat aku berusia SD. Yang aku maksud di sini adalah betapa tiga dan enam tahun itu adalah waktu yang tidak sekedar dilewatkan bumi untuk tiga sampai enam kali mengelilingi matahari dan hanya meninggalkan perubahan musim belaka. Waktu dalam satuan tahun itu adalah besaran yang sangat bermakna menciptakan ruang dan peran baru. Kurikulum saja sudah berapa kali direvisi dalam tiga hingga enam tahun itu.

Ah, entahlah. Sekarang sudah berjalan dua puluh menit. Aku lalu memasuki lift yang sudah berkali-kali naik-turun di gedung berlantai dua puluh ini. Sosokmu masih ada di luar sana. Sosok yang tidak pernah berubah dari segi penampilan, kedewasaan, bahkan status pekerjaan. Dan entah mengapa saat ini aku bersyukur kita berpisah sejak enam tahun lalu.

Irshad Manji


Berawal dari twit Remon tentang link pdf Irshad Manji dan lebih dipicu lagi oleh retweet dari radiobuku tentang ramainya diskusi Irshad Manji di *kalau nggak salah* Yogya yang di-'jaga' oleh kelompok bersenjata, saya akhirnya baca juga tentang Irshad Manji. Saya pernah dengar selintasan, sih tentang Manji ini tapi ya cuma sekedar dengar saja. Jadi, ya, buat yang mencap saya sebagai JIL, harap dipertimbangkan lagi, deh anugerah gelarnya, haha. Baca Manji aja baru tadi malam, itu juga baru seratus halaman terus saya tidur.
Setelah saya membaca seratus halaman buku Manji yang saya rasa tone-nya konsisten, saya mulai mendapat kesimpulan bagaimana posisi Manji di buku itu. Klarifikasi lagi, saya dimana-mana hanya memosisikan diri sebagai pengamat. Saya ini abu-abu dan nggak mau masuk ke dalam salah satu golongan, apakah itu FPI atau JIL, apakah itu ektremis atau liberal, dan sebagainya. Kedua titik itu terlalu ekstrem bagi saya. Selain itu, saya rasa mustahil juga bila kita (atau khususnya saya) bisa hidup di salah satu dari dua titik ekstrem tersebut. Saya percaya adanya titik tengah yang ekletik yang menggabungkan fragmen-fragmen baik dari kedua titik tersebut yang tidak perlu juga bila dijadikan aliran baru. Dengan mengambil posisi seperti itu, ya akhirnya lahirlah posting ini yang saya tujukan untuk membahas dan mengkritik Irshad tapi juga bukan untuk membela FPI haha.
Tulisan saya kali ini cukup sangat panjang hehehe jadi saya bagi  ke dalam tiga post, yaitu Dimensi Intrinsik Irshad Manji yang membahas isi tulisan Manji, Dimensi Ekstrinsik Irshad Manji yang membahas bagaimana posisi Manji dalam tulisannya, serta Jadi, Apa dan Bagaimana Irshad Manji yang saya jadikan kesimpulan dari dua bagian sebelumnya. Penataan posting ini sengaja saya dahulukan bagian kesimpulannya supaya scrolling tidak dilakukan dari bawah ke atas, tapi atas ke bawah.
Baiklah, mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan YME karena melalui rahmatnya blogspot ini dapat tercipta.