Amerikanisasi, Arabisasi : Well done, People! We’re trapped in that Clash of Civilization!



Beberapa hari lalu saya ngobrol sama temen saya tentang Idul Adha. Eh, ralat, nggak ngobrol yang gimana sih, saya cuman iseng dan basa-basi aja sebenernya nanyain soal Idul Adha sama dia, tapi gara-gara jawabannya cukup membuat saya terdiam lima detik, saya pun jadi kepikiran untuk membuat posting ini.

Saya : “Idul Adha hari ini atau besok, Pak?
Dia : “Hari ini.”
Saya : “Oh, hari ini? Kenapa?”
Dia : “Kan di Arab hari ini.”

Yak, sampai di percakapan itu saya terdiam. Errrrr. Akhirnya setelah lima detik terdiam, saya cuman bisa menimpali, “Bapak orang Arab?”

Globalisasi
Jawaban si teman saya yang membuat saya terdiam lima detik itu adalah jawaban yang membuat saya berkesimpulan bahwa dia sebenarnya sudah terkena dan terpengaruh oleh angin globalisasi tapi dia nggak sadar, atau tepatnya nggak tahu. Saking dia nggak sadarnya, dia pun menjadi bangga dan mearasa lebih berderajat, tepatnya lebih terpandang alim, saat ia mengucapkan, “Kan di Arab hari ini.”

Jawabannya itu tak ubahnya membuat saya membandingkan ia dengan orang-orang yang dengan nada bangga dan lebih terhormat berkata,

“Ini ‘kan model jam tangan yang dipakai Beckham.”

“Gue nonton Glee, kali. Nggak nonton Cinta Fitri.”

“Di Jepang, baju model kayak gini lagi in, kali!”

Meskipun berbeda negara, nada dan pride yang terkandung dalam perkataan mereka itu sama! Nada yang lebih merasa terhormat karena memiliki atau memilih hal yang berada di luar lokalnya, Indonesia. Namun, ada lagi yang lebih menarik dari nada si teman saya itu. Dengan berkata bahwa alasan ia merayakan Idul Adha pada hari Selasa adalah karena di Arab Idul Adha dirayakan pada hari Selasa juga, dan secara tersirat saya melihat bahwa ia menyimbolkan Arab sebagai Islam, pride yang ia tunjukkan bukan menyangkut soal modernitas seperti yang ditunjukkan pada tiga contoh ungkapan pemujaan terhadap Barat di atas, melainkan menyangkut soal religiusitas. Ketika kita membicarakan sesuatu yang dibalut religiusitas, kita akan terjebak pada suatu membran yang tidak dapat atau sulit kita tembus. Secara halus, kita diancam bahwa hal tesrebut adalah hal yang tidak patut dipertanyakan karena akan mengundang dosa. Kita dibuat percaya bahwa hal tersebut adalah hal yang benar. Dengan kelekatan Arab dan Islam, sulit bagi orang Islam untuk membedakan mana yang agama Islam dan mana yang budaya Arab. Akhirnya, globalisasi Arab pun menjadi begitu langgeng.

Nah, tapi masih ada satu hal lagi yang menjadi kesalahan kita (tentu saja saya juga termasuk, tapi itu dulu, hehe). Kita terlalu terbiasa menggeneralisasi bahwa globalisasi adalah produk Barat. Anthony Mc Grew, Oom ahli globalisasi aja hanya membagi globalisasi dalam lima terminologi, salah satunya adalah westernisasi, khususnya amerikanisasi, padahal kalau kita perhatikan, nggak cuman paham Barat, khususnya Amerika aja yang menghiasi dunia ini. Bagaimana dengan Cina? Negeri ini terkenal dengan diasporanya di seluruh dunia. Ketika anggota bangsa ini menetap di luar tanah Cina, mereka masih dengan lekat mempertahankan adat, budaya, dan falsafah hidupnya, serta menyebarkannya. Dan yang tadi juga, jangan lupakan Arab. Arab dengan Islamnya adalah hal yang paling jelas mengglobal namun jarang dipandang sebagai fenomena globalisasi. Yang dinamakan globalisasi ya hanya westernisasi, amerikanisasi, mcdonaldisasi. Karena pelekatan yang demikian, bagi kawan-kawan yang awam dan terjebak pada Arabisasi-Islamisasi, globalisasi pun dianggap sebagai hal yang berlawanan dengan Arab-Islam. Arab-Islam muncul sebagai sisi putih, sedangkan globalisasi terdemonisasi sebagai sisi buruk, satanik, dan harus dibasmi. Ini lucu karena sebenarnya Arabisasi juga adalah bagian dari globalisasi. Ia juga sejajar dengan amerikanisasi, mcdonaldisasi, dan lain-lain. Hanya saja, ia mengusung kekuatan religiusitas sehingga ia bisa dicitrakan sebagai hal yang lebih baik dalam khazanah para Muslim.


Glokalisasi dan Grobalisasi
Walaupun saya bukan jebolan pesantren dan nggak pernah ikutan lomba MTQ, saya Muslim dan saya juga nggak pernah berniat pindah agama atau bikin tuhan baru. Saya sangat yakin kok dengan Islam. Yang saya kritik dalam tulisan ini bukan Islam, melainkan Arabisasi dan pandangan kawan-kawan saya mengenai Islam dan Arab. Hal yang membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini sebenarnya adalah kecintaan teman-teman saya yang berlebihan terhadap agama sehingga menafikkan identitas kebangsaan mereka.

Hey, we’re Indonesian!

Kita bukan orang Arab. Kita nggak dosa kok kalau kita berperilaku nggak-Arab-Arab-banget saat kita beragama. Kita harus bisa memilah mana yang Islam dan mana yang Arab. Kalau hal itu memang hal yang Islami, ya kita ikuti dengan sebaik-baiknya, namun jika hal tersebut nyatanya hanyalah budaya Arab, kenapa juga kita harus mengikutinya tanpa penyesuaian?

Hal utama yang ingin saya katakan dalam tulisan ini adalah sudah seharusnya kita mengglokalisasikan suatu hal yang global agar lebih sesuai dengan kepribadian, kebutuhan, dan keadaan kita. Islam adalah hal yang global, hal yang bukan asli punya kita. Hal yang asli punya kita, yang lokal banget, ya identitas kita sebagai orang Indonesia yang tinggal di Indonesia, yang posisi atronomis dan geografisnya jauh dari Arab. Nah, dua hal itu yang harus kita olah. Hasil olahan itu yang dinamakan oleh Roland Robertson sebagai glokalisasi, suatu interpenetrasi antara hal global dan lokal.

Dalam kasus perayaan Idul Adha yang dirayakan teman saya pada hari Selasa, mungkin kalau alasannya adalah karena ia secara langsung melihat hilalnya, ya saya masih bisa menerima alasan tersebut, tapi karena ia mengemukakan alasannya adalah karena di Arab dirayakan hari Selasa, saya melihat suatu kejanggalan. Lah, kita hidupnya kan di Indonesia, jadi kenapa harus ikut Arab? Terpaksa, saya kan jadi berpikir bahwa ia adalah objek yang tergrobalisasi.

Ya, grobalisasi, bukan sok-nggak-cadel-bilang-globalisasi. Ini istilah yang baru saya dapatkan dari artikel-artikel yang didownloadkan oleh dosen saya sebagai bahan UTS dan bahan praktikum. Grobalisasi, menurut oom pionirnya, Oom George Ritzer adalah suatu ambisi dari suatu pihak yang ingin menyebarkan nilai dan produknya ke pihak lain (yang lazimnya ke seluruh dunia) secara paksa sehingga pihak yang menjadi objek tersebut harus terpengaruh, menurut, dan mengikutinya. Paksaan yang dimaksudkan di sini nggak hanya terbatas pada paksaan kekerasan fisik, tapi juga melalui paksaan halus. Seperti yang tadi saya ungkapkan, dalam balutan religiusitas yang sulit ditentang, misalnya. Ditambah lagi, saya juga menangkap ungkapan pride dalam ucapannya saat mengucap Arab sebagai kiblat pandangannya. Seolah-olah kita nggak akan dianggap kaffah kalau kita nggak melakukan ritual Islami ala Arab. Saya nggak bisa menerima itu. Islam memang berasal dari Arab dan so what gitu? Apa kita harus memaksakan diri kita untuk berbudaya Arab?

Satu hal lagi yang membuat saya agak tertegun dan seperti biasa, nggak lancar berbicara (baru lancar mengkritik kalau udah ketemu MS.Word doang, hehe) adalah dialog part dua ini,

Saya : “Berarti takbirannya pas malam Senin kemarin, dong?”
Dia : “Takbiran?”
Saya : “Iya, kan kalau lebarannya hari ini berarti sekarang udah nggak
takbiran dong? Kan udah Senin malam kemarin.”
Dia : “Oh, takbiran kan budaya Indonesia tuh, jadi ya saya takbirannya
di dalam hati aja.”
Saya : Terdiam sesi dua lalu mengucap, “OH.”

Ada yang salah bila takbiran itu adalah budaya Indonesia? Justru bagus, kan? Itu adalah glokalisasi yang saya idamkan. Dengan adanya glokalisasi itu, berarti manusia Indonesia cerdas dalam menyikapi Islam. Saya nggak tahu sejarah takbiran seperti apa, tapi hey sebagai orang Indonesia yang suka heboh dalam merayakan sesuatu, sangat menyenangkan rasanya menikmati malam dengan gempita takbiran! Itu pasti akan menjadi suatu hal yang paling saya rindukan kalau suatu hari nanti saya nggak tinggal di Indonesia. Dengan adanya takbiran, lokalitas saya sebagai orang Indonesia yang masih suka hal heboh dan rame terfasilitasi dalam menanggapi hal global dari Islam berupa Lebaran. Lagipula, meskpiun kehebohan itu punya Indonesia, hal tersebut juga bukankah tidak bertentangan dengan Islam yang memang menghendaki sebarkanlah kabar gembira? Dengan pertimbangan sederhana itu saja, takbiran seharusnya bukan hal yang inferior dalam khazanah si teman saya.

Dari pernyataannya itu juga saya melihat sebenarnya si teman saya itu cukup cerdas untuk membedakan mana budaya dan mana agama, namun ya kembali lagi, saya menyayangkan, mengapa saat membicarakan budaya Indonesia dalam Islam, ia seolah-olah menanggapinya sebagai sesuatu yang nggak terlalu penting untuk dilaksanakan, sedangkan pada wacana praktek Arab dan Islam, ia malah menjadikannya sebagai alasan yang menunjukkan bahwa ia beridentitas Muslim. Bagi saya itu paradoks, janggal, dan saya nggak setuju. Saya jadi melihat identitas kemuslimannya hanya ditentukan oleh seberapa Arabkah ia. Tak berbeda kalau kita berkaca pada orang-orang yang bangga nonton Glee daripada Cinta Fitri hanya karena Glee adalah produk gaul dari AS sehingga mereka bisa kecipratan identitas sebagai anak gaul dan modern, bukan karena secara substansi nonton Glee lebih bermanfaat daripada nonton Cinta Fitri.

Bagi saya, seharusnya ada kebijakan dari dalam diri kita masing-masing untuk menentukan mana substansi dan mana yang budaya serta praktek. Substansi jelas harus dilaksanakan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, sedangkan budaya dan praktek ya harus disesuaikan dengan ruang dan waktu yang kita huni. Kita harus bisa menjadi subjek yang melakukan glokalisasi, nggak cuman jadi objek grobalisasi.

NB : Saya nggak tahu si teman saya ini bakal baca tulisan ini atau engga, tapi kalau dia baca tulisan ini, saya cuman mau bilang maaf sebesar-besarnya kalau isi tulisan ini menyinggung perasaan dan prinsip dia. Saya sadar sesadar-sadarnya ini adalah hal prisipil yang pasti membuat otak dan jiwa teraduk lalu emosi. Saya juga nggak bermaksud untuk memaksa dia dan Teman-teman setuju dengan pandangan saya. Ini hanya tulisan yang mengungkapkan pandangan dan sikap saya saja dari perspektif saya yang sungguh buta atas perspektif dia dan Teman-teman. Saya yakin pasti dia dan Teman-teman bisa meluruskan pandangan saya yang begitu dangkal ini.

Hmmm, hei , Pak, kalau Bapak baca tulisan ini dan merasa keberatan dengan tulisan ini, saya berharap Bapak mau meluruskan pandangan dalam tulisan ini di kolom komentar. 
Buseeet, seolah-olah dia udah setua apa gitu ya saya sapa “Bapak” hehehe. No, itu hanya panggilan di bimbel tempat saya kerja. Aslinya dia cuman beda dua tahun di atas saya dan dia adalah orang yang sangat ramah dan menyenangkan. 


Ark. Nov’10.

All the Things that Make You Prefer Chatting to Listening to Your Teacher

Saya harus mengakui bahwa selama satu setengah bulan saya lagi susah konsen sama murid-murid saya. Persoalan di kampus yang begitu asyik untuk ditekuni (sampai pengen loncat batu nias) adalah hal pertama yang membuat saya mengedepankan mencatat banyak bab dan soal di papan tulis ketimbang menerangkan satu bab dengan seksama lalu keliling kelas mengawasi cara mereka mengerjakan soal seperti biasanya. Hufff. I feel so sorry about that.

Saya sebenarnya juga mengerti, sih, kenapa dua bulan ini juga murid saya lebih seneng mengobrol daripada tekun dan khidmat belajar. Mood saya yang rusak ternyata memberi celah kepada mereka untuk nggak konsen belajar. Saya mau menegur mereka juga kok kayaknya nggak adil, ya. Kalau saya negur mereka karena megang hape melulu selama pelajaran, lah ya saya juga kan sama aja megang hape melulu. Abis saya beres bikin catatan dan nunggu mereka nyatet, lah saya juga kan sibuk berhape-ria, smsan, buka email, kirim email, googling, yming, dan bergelut dengan sejuta perasaan saya. Argh! Saya mau negur mereka gara-gara ngobrol sambil nyatet juga nggak adil. Lah, apa bedanya sama saya yang otaknya kemana-mana.

Ah, tapi untunglah mereka nggak benci saya. Mereka masih mengidolakan saya. Hahahaha. Nggak penting.

Nah, tapi lama-lama saya risih juga sama mereka. Dua minggu terakhir ini kan urusan saya udah mulai nyantai, jadi saya juga udah kembali ke kodrat semula. Fokus menerangkan dan mengawasi pengerjaan soal. Nah, menghadapi pengembalian kodrat saya ini, nampaknya mereka nggak ngeh. Mereka kok jadi terbiasa untuk nggak konsen, Ini terutama terjadi pada anak-anak SMP. Nah, dengan pertimbangan kerisihan saya itu, akhirnya saya memutuskan untuk menggali apa yang terjadi pada diri mereka yang membuat mereka susah konsentrasi pada pelajaran. Persoalannya udah bukan pada diri saya lagi, melainkan pada diri mereka dan saya harus tahu itu! Harus. Saya harus tahu karena mereka akan menghadapi UN pada bulan Maret akhir atau April awal sementara mereka sampai sekarang masih menunjukkan tanda-tanda kesulitan mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang kesemuanya adalah wacana komprehensif. Mau masuk SMA mana coba mereka kalau nilai mereka kecil? Dua nilai Bahasa itu harusnya jadi peluang bagi mereka, terutama kalau nilai IPA dan Matematika mereka belum sempurna.

Nah, akhirnya selama satu minggu, semua kelas yang saya masuki, setelah saya menerangkan sedikit materi dan sedikit soal tapi dengan banyak peer, saya mengadakan sesi curhat. Bukan sembarang curhat. Supaya agak akademis, curhatnya dimasukkan ke dalam materi Conversation. Hehehehhe. Mamam deh curhat pake Bahasa Inggris. Awalnya belepotan dan akhirnya larut dalam percakapan bahasa Indonesia. Hahaha. Here are the resumes.



#1 Guru di Sekolah Aku Jarang Masuk, kalau Masuk juga Nggak Nerangin, kalau Nerangin juga Ngebingungin, Nggak Ngerti, deh!

Ini adalah masalah klasik yang selalu ada, terutama di sekolah negeri. Nggak usah bawa-bawa sekolahnya sekolah favorit atau pinggiran. Waktu saya SMA juga persoalan saya kayak begini. Kalau saya waktu SMA sih, dalih yang terkenal adalah, “Anak-anak SMA 3 kan udah pinter jadi bisa belajar sendiri. Guru hanya sebagai fasilitator, selebihnya kalian sendiri.”

Hey, that’s totally ridiculous!

Ya, saya tahu dan saya ngerti bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar atau KBM, murid adalah subjek yang ingin dan harus mendapatkan ilmu. Saya juga paham tentang kurikulum yang selalu disempurnakan, dari jaman CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif, sekitar jaman saya SD), lalu kurikum 2000, 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), dan sekarang KPTS yang kesemuanya memang meletakkan siswa sebagai subjek, sedangkan guru sebagai pendamping dan fasilitator. Hal yang saya nggak ngerti adalah kenapa semua kurikulum yang tujuannnya mencerdaskan kehidupan bangsa macam yang disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945 itu dijadikan sebagai justifikasi bagi guru yang malas mengajar? Dalam kasus saya dan teman-teman saya si anak SMA 3 yang dimitoskan sebagai anak cerdas, ya kami memang memiliki kemampuan penyerapan pelajaran yang baik, namun bagaimana kami bisa menyerap pelajaran jika pelajarannya, paling tidak, konsep dasarnya saja tidak diberikan? Apa yang mau diserap dan dikembangkan?

Nah, kekosongan kepamahan tersebut sebenarnya memiliki dua muara. Muara pertama adalah motivasi untuk belajar lebih rajin di tempat les sebagai alternatif karena sekolah, gara-gara beberapa oknum guru yang malas, nggak bisa berfungsi sebagai tempat belajar yang sebenar-benarnya. Nah, ini kalau anaknya memang rajin, punya motivasi dan cita-cita tinggi, serta paham hakikat hidupnya, Haha. Nah, yang jadi masalah, dan sayangnya, ini yang banyak saya temui pada diri murid-murid saya, adalah jika alur tersebut berakhir pada muara kedua, yaitu ketidakterbiasaan anak-anak untuk berpikir. Karena di sekolah mereka tidak mendapatkan pelajaran yang cukup, mereka jadi nggak tau apa yang harus mereka lakukan. Mereka nggak tahu bahwa ada ilmu yang harus mereka pelajari. Mereka nggak tahu ada soal yang harus mereka pecahkan melalui ilmu tersebut. Mereka nggak tahu kenapa mereka harus les, harus belajar, harus serius. Akhirnya, ketika mereka les, mereka datang dengan kepala kosong dan hanya dengan niat ketemu kecengan doanggggg.



#2 Mmmmm, Aku Mau Ngelanjutin Kemana, ya? Nggak Tahu, Ah! Gimana Nanti Aja…

I hate that answer!

I hate I hear that answer very frequently!

Waktu saya masih sekolah, masih SMP atau SMA, saya suka geleng-geleng kepala sama temen-temen saya yang males belajar, nilainya jelek, remedial tetep dapet jelek, dateng sekolah terlambat, dan di kelas tidur (sama lah kayak saya, segeng, heheheh) tapi kalau ditanya mau ngelanjutin sekolah kemana, mereka dengan pedenya dan entengnya bilang, SMA 3, SMA 5, SMA 8, SMA 2, ITB, Kedokteran, Hukum, Ekonomi, HI, Farmasi, UGM, UI, Unpad, NTU, dll. Saya pikir, perbaikin dulu pola hidup looooo baru bisa songong mau ke sana. Eh, tapi sekarang saya pikir jawaban itu jauh jauh jauh jauhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh lebih baik daripada melihat sekawanan manusia yang malas belajar dan lebih mementingkan kecengan beserta pacar ditanya mau masuk SMA mana kalian, mau kuliah dimana kalian, setelah lima detik terdiam, jawaban mereka adalah, “Mmmmm, aku mau ngelanjutin kemana ya? Nggak tahu ah, Bu…gimana nanti aja, hehehehehe.” Bagus, kamu nyengir, saya ngiris jari.

Aduuuuhhhhhh.

Saya syok, oh mai goat, jadi murid-murid saya yang lutchu-lutchu dan unyu-unyu itu nggak tahu mau ngapain setelah UN? Pantas saja mereka lebih senang ngomongin pacar daripada ngomongin Obama makan bakso pake sambel atau engga.



#3 Pacaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr (Ah, Sh*d, they have, but I don’t! *curhat pribadi*)

Ini adalah hal yang paling membuat saya miris setelah dua hal di atas. Nggak ada hubungannya dengan kepatahhatian saya baru-baru ini, walopun saya rasa ada korelasi yang kuat dengan ketimpangan status sosial antara murid-murid berusia abege yang sedang punya 2 pacar dan 25 mantan dengan seorang guru berusia 21 tahun yang hanya pacaran sebanyak 3x dalam hidupnya dan jumlah itu juga adalah jumlah mantan pacarnya.

Curhat yang paling panjang dalam sesi penggalian masalah berbalut Conversation in English tersebut adalah curhat menyangkut cinta. Ah, gila, saya syok sekali waktu saya tahu berapa jumlah pacar mereka saat ini dan berapa mantan yang mereka punya. Saya lebih syok lagi bahwa selain pacaran, mereka juga masih tebar pesona ke lawan jenis lain dan masih menjalin hubungan tanpa status dengan beberapa lawan jenis yang sudah terpikat pada mereka. Yang bikin saya lebih syok dan hampir menelepon Lee Min Ho supaya segera pulang ke Indonesia dan meminang saya adalah mereka juga nggak cuman menyelingkuhi tapi juga jadi selingkuhan. Omaigoat omaigoat omaigoat. Saya langsung merasa bahwa sesi curhat tersebut tak ubahnya seperti nonton film horror Julia Perez dan HM Damsyik di tengah kuburan Cina bareng sama Grinanda Megantika dan Pravita Kusumaningtyas (cari di fesbuk kalau penasaran sama dua wanita unyu tersebut). Yang saya bingung, pertama, why do you do that? how do you deal with them? Kedua, how do you manage your time? Ketiga, how long you spend your time for yourself, sleeping, playing with your friends, and STUDYING? Pertanyaan pendalaman, Do you study?

Kata mereka, pacaran itu untuk memotivasi mereka buat dateng ke sekolah. Kalau nggak ada yang bisa dilihat mah ngapain ke sekolah. Terus, kenapa mereka bermain cinta dengan banyak lawan jenis, itu mah biar nggak bete. Kalau yang satu nggak bales sms, bisa smsan sama yang lain. Kalau yang satu ngeselin, bisa dihibur sama yang lain. Kalau yang satu nyelingkuhin, bisa bales selingkuh sama yang lain. Pokoknya kenapa mereka pacaran dan berhubungan dengan banyak cinta adalah supaya nggak bosen dan nggak sakit hati. Terus, yang penting mah bagi waktu aja dan jangan sampai ketauan. Solusinya, nomer hape jangan satu, hape jangan dipinjam-pinjam, dan pacarannya harus backstreet. Kalau belajar, ya kalau ada peer aja. Percaya, sih saya. Hape saya selalu bunyi tiap malem kalau mereka lagi ada peer. Isinya soal yang mereka harapkan saya kerjakan. Kalau saya nggak bales sms mereka, ya sudahlah mereka smsan lagi sama pacarnya, mantannya, selingkuhannya, pedekateannya, kecengannya. Intinya, mereka nggak belajar.

Huffff. You guys, don’t ever ever ever do that! Bagi saya, persoalan cinta adalah persoalan yang unik. Persoalan itu langsung berhubungan dengan hati dan saya percaya bahwa hati berhubungan sama mood dan mood sangat berhubungan dengan kesediaan kita untuk melakukan sesuatu. Mau cintanya lagi bagus atau lagi jelek, itu pasti akan berpengaruh pada produktivitas kita. Gara-gara cinta, pasti ada aja hal wajib yang kita tinggalin, terutama belajar. Ah, ketika kita meninggalkan suatu hal wajib macam belajar gara-gara mabuk kepayang atau patah hati, wah kita sudah merugikan diri kita sendiri. Jangan sok nggak percaya karena saya sudah expert dalam hal tersebut. Punya mantan 3 dan beberapa kecengan yang semuanya menyebalkan aja udah bikin gilaaaaaaaaaaaaa dan ngulang hukin 3 kali, gimana kalau saya ikut metode percintaan ala murid saya? Haduh, saya miris dengan murid-murid saya yang sudah lebih melek cinta ketimbang melek EYD.

Yang saya bingungkan sekarang adalah, bagaimana saya bisa mengentaskan mereka dari peradaban cinta yang barbar itu? Dalam pembelajaran di kelas yang ditujukan untuk meraih kesuksesan dalam UN, saya bisa mengatasi permasalahan guru mereka di sekolah yang jarang menerangkan dan kalau menerangkan pun malah membingungkan. Selain itu, saya juga masih bisa membuat mereka untuk sedikit saja berani dan mau bercita-cita. Nah, untuk masalah ketiga, saya nggak mungkin dong menyita hape mereka dan bikin sms ke semua orang yang terlibat percintaan dengan mereka yang isinya, “Sayang, aku mau belajar buat UN. Kita nggak usah smsan lagi SELAMANYA.” Bisa dirajam dan dilempar ke kawah gunung Vesuvius nih saya sama mereka. Ah, tapi masalahnya, dari ketiga permasalahan yang sudah saya paparkan, masalah inilah yang paling mempengaruhi kesediaan belajar mereka. Mereka sudah terlalu terlena dengan cinta sehingga benar-benar menganggap bahwa dunia takkan berhenti berputar jika nilai UN rata-rata enam asalkan sang ayang masih ada di ujung sana, smsan sama mereka.

Ya ampun, anak-anak zaman sekarang……………….

Tapi yasudahlah, seengganya dari tiga permasalahan, saya bisa bisa mengatasi dua poinnya.

Ark. Nov’10.

Greeting from Cileunyi

Halo semua!

Dua bulan tidak bertemu, pasti pengen tahu apa kata-kata yang paling sering saya ucapkan selama kita tidak bersua dalam tulisan, kan? Sabar dulu, tenang dulu, ambil cemilan dulu. Kalian akan tahu setelah kalian menamatkan tulisan ini dan beberapa tulisan yang hari ini saya post di antara kesibukan saya yang tak tentu.

Dua bulan ini, huff you don’t know how hard it’s been. Olah otak, olah emosi, olah raga, olah duit, olah ibadah, pokoknya jiwa dan raga saya benar-benar mendapat asupan lezat!!!! Urusan pertama beres, muncul urusan lain beserta anak-anaknya. Pulsa tentu saja tersedot. Biasanya pulsa sms 25ribu itu jatah untuk tiga bulan, tapi dua bulan ini saya udah dua kali isi ulang pulsa sms 25 ribu dan berpuluh ribu lain untuk pulsa regular. Inbox sms yang biasanya hanya saya hapus tiap satu setengah bulan karena isinya sudah delapan ratusan, nah selama dua bulan ini saya sudah menghapus inbox selama empat kali karena inbox saya sudah jenuh dengan seribu seratus smsnya. Bukaaaaaaan, itu bukan inbox yang isinya sms percintaan!!! Saya masih bertahan dalam ke-single-an saya yang begitu indah dan syahdu. Eh, tapi sempat ada sih sms yang manis-manisan gitu, tapi akhirnya saya memutuskan untuk menghentikannya karena saya nggak bisa konsen sama dia. Jadi, ya sms manis itu hanya sekian persen saja dari sms yang masuk ke inbox saya, selebihnya adalah sms yang membuat jiwa dan raga saya begitu terolah.

Hajatan besar yang sudah dan sedang saya hadapi adalah arrange liburan Ganesha ke Pangandaran yang alhamdulillah udah beres dan yahhh, hasilnya bolehlah ya, dan Praktikum Profesi ke Singapura. Praktikum oh Praktikum. Kata “Praktikum” adalah kata ter-night-mare pada semester ini. Nggak cuman bagi saya, tapi juga bagi teman-teman 2007 lainnya. Gila gila gila gila. Masalah pertama dari prakprof adalah masalah pesawat dan travel. Dua minggu berkutat dengannya dengan segala macam perasaan akhirnya beres juga alhamdulillah. Beres masalah itu, masuklah ke sesi berikutnya, masalah materi. Hiks hiks hiks. Ini olah otak yang sesungguhnya. Belum tahu nih udah beres atau belum, tapi alhamdulillah berkat konsultasi dengan para dosen yang baik hati, terutama Bu Junita, akhirnya dapet juga satu titik temu. Semoga memang itu titik temunya, deh.

Hmmm, hal terberat tapi juga paling bermanfaat dari urusan perprakprofan itu adalah how to deal. Karena saya adalah team leader di situ, objek yang harus saya hadapi adalah kawan-kawan anggota saya dan bapak-ibu dosen sekalian yang padahal ngurusin satu di antara mereka aja udah bikin saya pengen loncat batu nias. Waktu awal-awal menghadapi mereka semmmuaaaa, sempat ada kesengsaraan batin, tapi makin ke sini karena udah makin kenal dan makin biasa, jadi ya sudah nggak ada masalah. Ada masalah juga biarin aja, ntar juga selesai sendiri. Haha. Engga gitu. Maksudnya, udah nggak syok-syok amat kalau ada masalah karena udah memprediksikan kalau masalah itu bakal datang sebagai akibat atau respon dari masalah lainnya. Jadi ya tinggal mengeluarkan plan-plan penyelesaian yang sudah dipersiapkan.

Yah, semoga lancar deh praktikumnya. Tanggal 22 November saya bakal ke Singapura, semoga semua urusan lancar dan bisa pulang dengan semangat dan sukacita pada tanggal 26 Novembernya dan laporannya pun beres. Semoga semester tujuh ini akan berakhir happy ending. Eh, sebentar, tulisan ini belum beres. Haha. Isi inbox saya nggak cuman pangandaran, sms manis yang saya akhiri, dan prakprof. Seperti biasa, masih ada sms reminding jadwal ngajar dan sms anak-anak tutor yang lutchu-lutchu. Oh mai goat, betapa besar jasa hp saya yang sejak tahun 2005 menemani saya. Bertambah lagi deh satu rangkaian cerita yang dia rekam dalam perjalanan saya menuju kedewasaan. Kikikikik.

Oia, saya patah hatiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Huaaa huaaaa huaaaa huaaaa huaaaaa. Bukan, bukan sama yang sempat bersmsan manis sama saya. Dia nggak bikin saya patah hati. Bukan juga patah hati gara-gara menyimak perjalanan cinta E*tu yang panjaaaaaaaaaaaaaanggggg banget setelah putus sama saya dua tahun lalu. Bukan. Bukan. Bukan. Saya nggak peduli sama E*tu. Eh, peduli ding, itu buktinya masih tahu perjalanan cintanya yang begitu panjang. Hahaha. Nggak ding. Piss ya E*tu. Haha. Kali ini saya patah hati sama seorang laki-laki yang begitu biassssssssssssssa sampai saya juga bingung kenapa dari bulan Juli lalu saya suka sama dia. Garis bawahi, SUKA, masih baru SUKA, belum ke tahap lain. Ah, gitulah, patah pokoknya hati saya. Ahahahaha. Saya bingung deh, kenapa sih saya, pertama, selalu suka sama orang yang nggak bakal mungkin suka sama saya dan kedua, sama orang yang nggak tahu gimana caranya menghargai perasaan perempuan. Karena hal ini sudah terjadi beberapa kali, maka walaupun saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dia adalah orang yang tolol, sebenarnya orang yang lebih tolol lagi adalah saya. Ya, saya! Nggak bisa belajar apah dari pengalaman yang dulu-dulu, dari jaman SMP yang suka abisssssssssssss sama Ifan selama empat tahun dan seterusnya seterusnya suka sama orang lain lagi. Aduh, Riki, kenapa sih harus suka sama orang yang setipe lagiiiiii? Setipe jahatnya kayak Ifan. Huaaa huaaa huaaaa. Hedehhhhh.

Eh, tapi untuk patah hati yang sekarang, saya udah punya kemajuan. Saya nggak sedih gara-gara patah hati. Yang saya rasakan dari kepatahhatian ini adalah SEBELLLLLLL sama diri sendiri. Betapa bebalnya otak dan hati saya untuk lagi-lagi suka sama orang yang nggak mungkin suka sama saya dan nggak tahu gimana caranya menghargai perasaan perempuan. Aduh, umur udah 21 tapi selera masih aja sama kayak waktu dulu masih umur 12 tahun. Ini nggak boleh dibiarkan. Kalau gitu, resolusi saya buat tahun depan atau bulan Desember nanti adalah, Jangan suka sama orang duluan karena orang yang saya sukai duluan adalah orang yang nggak bakal balas suka sama saya dan dia juga adalah orang yang bodohhhhhhh nggak tahu gimana caranya menghargai perasaan orang! Huh! Saya nggak bakal ngeceng lagi, saya cuman mau menyeleksi orang yang suka duluan sama saya. Kalau ada itu juga. Hahahha.

Ah, ya sudahlah, pokoknya itu update kabar terbaru dari saya. Oia, masih penasaran kata-kata apa yang sedang sering saya ucapkan? Ah, lebih baik Teman-teman nggak usah tahu. Itu adalah kata-kata umpatan. Sering hanya saya ucapkan dalam hati setelah bilang Astagfirulloh dan Masya Allah, tapi akhirnya tak tertahankan juga keluar ketika di jalan raya kalau ada pengguna jalan yang berpotensi membuat saya celaka. Hahaha. Kalau mau tahu, ayo saya bonceng, nanti tahu sendiri. Hehehhehee.

Ah, sh*dddddddd, saya masih punya banyak kerjaan di Minggu siang yang cerah ini. Sampai jumpa lagi.

Salam cinta.

Rikian.

Ark. Nov’10.

Pelayan Masyarakat

Satu minggu lalu saya seneng banget, deh! Akhirnya setelah dinanti berbulan-bulan lamanya, waktu saya ke kantor pajak, saya nggak kebagian dilayani sama ibu-ibu judesssssssssssssssssssssssss tapi sama mas-mas yang baik hati dan sabar sekaliiiiii!!!

Penyakit Birokrasi Jilid I

Berdoa bagi saya nggak cukup pas awal tahun aja, tapi juga awal bulan. Gimana enggak, setiap awal bulan, pokoknya sampai sebelum tanggal 20, saya harus melaporkan data yayasan orang tua saya ke kantor pajak di Jalan Peta yang jauhnya naudzubillah dan dengan probabilitas dijudesin sama petugas pajak sekitar 50:50. Perjalanan menuju kantor pajak adalah perjalanan yang penuh doa. Doa pertama adalah doa semoga selamat di perjalanan, doa kedua adalah doa mohon ampunan dosa karena saya suka keceplosan memaki pengguna jalan raya yang kelakuannya serba ajaib, doa ketiga adalah doa semoga saya sabar dalam perjalanan, doa keempat adalah doa semoga nggak hujan, doa kelima adalah semoga saya nggak dapet dilayanin sama ibu-ibu tapi sama mas-mas!

Di loket PPh, kita bakal menemukan dua loket. Satu loket neraka yang dijaga sama ibu-ibu yang judes, dan satu lagi adalah loket kesejukan yang diduduki oleh mas-mas yang suka senyum sendirian walaupun belum saya senyumin. Selama empat bulan, saya selalu kebagian sama ibu-ibu! Kejadiannya selalu kayak begini :

Saya : (Duduk terus menyerahkan dokumen ke meja si ibu)

Ibu Judes : (Melirik sebentar, ngambil lembar Pasal 21)

Saya : (Diem aja)

Mas-mas : (Senyum kecil)

Ibu Judes : Lembar ketiga!

Saya : Hee..? Kenapa, Bu?

Ibu Judes : Lembar ketiga (sambil matanya lihat ke komputer)

Saya : (Nggak ngerti, diem aja)

Ibu Judes : (Mulai kalap) SSP-nya lembar ketiga aja, Neng!

Saya : Oh..

Mas-mas : (Mulai nahan ketawa)

Ibu Judes : (Api keluar dari hidungnya) Kasih ke saya lembar ketiga aja!

Saya : Ada kok, Bu di situ…

Ibu Judes : Iya, ambilin!

Saya : (dalam hati èASTAGFIRULLOHHHH!!! AMBIL SENDIRI NGAPAHHHH???)

Ibu Judes : (Tangannya berhenti nggerakin kursor)

Saya : (Bingung, ini udah beres apa belom yak…)

Mas-mas : (Senyum lagi)

Saya : Udah selesai, Bu?

Ibu Judes : (Mata melirik kejam…siap-siap, bagian ini klimaks menyebalkan) Ya belum, dong, Neng! Sabar sebentar nggak bisa, ya? Udah bagus kantor pajak yang ini mah nggak antri. Lihat, tuh di kantor yang lain mah bisa antri satu jam lebih! Ini cuman nunggu sebentar aja nggak bisa.

Saya : (Melongo! Kaget! Weh, buset buset buset, nggak kayak gini maksut gue)

Mas-mas : (Makin geli nahan ketawa)

Ibu Judes : Nih, udah! Lain kali yang sabar, ya! (melengos)

Mas-mas : (Ngetawain trus pura-pura buang muka pas saya liatin balik)

Neraka sekali, Sodara-sodara!

Nah, tapi pada bulan kelima sejak saya menggantikan tugas ibu saya lapor PPh bulanan ke kantor pajak, tepatnya pada bulan Agustus yang dipenuhi oleh berkah Ramadhan dan semangat kemerdekaan ini, akhirnya saya kebagian di loket mas-mas yang ramah! Begini kejadiannya,

Saya : (Ngambil nomor antrian, dapet no 38, sementara di loket ibu-ibu lagi dipanggil no 37 dan di loket mas-mas lagi no 14)

Mas-mas : (Sambil membimbing laporan pajak bapak dengan no antrian 14, langsung kasak-kusuk sama temennya pas liat saya duduk di bangku tunggu. Mereka pun tersenyum kecil sama saya)

Saya : (Deg-degan lihat nomor antrian. Mulai berdoa, “Ya Allah, plis nomer 14 cepet udahan sebelum no 37 udahan, Ya Allah…semoga bulan ini saya dapet sama mas-mas)

Bapak no 14 : (Mulai geserin pantat. Tanda mau udahan)

Ibu no 37 : (Udah ngangkat pantat. Tanda udah beres)

Saya : (Deg-degan)

Ibu judes : (Udah mau mencet bel antrian)

Mas-mas : (Ngeliat muka ngarep saya, ngelirik Ibu Judes, mergokin tangan Ibu Judes yang mau mencet bel, DAN TAU NGGAK, SODARA-SODARA, MAS-MAS ITU PUN LANGSUNG MENIKUNG TANGAN SI IBU JUDES! MASNYA MENCET BEL DULUAN!!!!)

Saya : (Tersenyum merekahhhh!!!! Mau sembah sujud tapi kasian ntar Ibu Judesnya tau kalau dia nggak diharapkan sama saya!)

Mas-mas : (Senyum menyambut kedatangan saya!)

Saya : (Berasa kayaknya ada sound effect lagu We are the Champion yang mengiringi langkah saya menuju loket si mas-mas)

Mas-mas : (Ngambil dokkumen saya) Udah ini aja?

Saya : (Mengangguk)

Mas-mas : Eh, sebentar, ini laporan untuk bulan Juli atau Agustus?

Saya : Hmmm? Yang ditulis di situ apaan emang, Mas?

Mas-mas : 08.

Saya : Harusnya?

Mas-mas : Kalau bulan Juli 07, kalau Agustus 08

Saya : (Ya iyalahhh!)

Mas-mas : Kalau ini untuk bulan 08, dilaporinnya bulan depan. Kalau dilaporinnya bulan sekarang, harusnya bulan 07. Nih, di sini ditulisnya 08.

Saya : Wah, nggak tau, Mas. Yang jelas, saya tiap bulan ke sini kok. Jadi nggak telat.

Mas-mas : Sebentar, ya saya cek. Yayasan Sejahtera ya…

Saya : Wah, Mas, serius nih kalau sekarang saya harusnya ngelaporin bulan Juli, saya nggak telat kan? (Gawat kalau telat, denda seratus ribu! Gabawa duit!)

Mas-mas : Iya, sebentar ya, ini saya cek dulu. Wah iya, Juli belum masuk.

Saya : Hahhh…? Tapi sekarang nggak telat kan?

Mas-mas : Engga, kok. Masih belum tanggal 20. Ini dibetulkan dulu kolomnya.

Saya : Pfuiihhhh. Kirain. Hehehe. Pinjem pulpen ya, Mas…?

Mas-mas : Oh iya, silakan…

Saya : Udah..

Mas-mas : (Ngetik lagi)

Saya : (Nungguin)

Mas-mas : Nah, ini udah selesai.

Saya : Oh, udah, Mas?

Mas-mas : Iya, sudah.

Saya : Terima kasih, Mas…

Mas-mas : Sama-sama…J

Sumpah yaaaaa….saya bersyukur bangetttttt hari itu saya kebagian di loket si Mas-mas. Kebayang, kan gap keramahan antara Mas-mas dan Ibu Judes? Coba kalau saya kebagiannya sama Ibu Judes. Habislah saya disemprot jauh lebih kejam dari bulan-bulan sebelumnya soalnya bulan ini laporan pajak saya ada yang salah tulis.

Huffff.

Saya rada aneh, deh sama orang-orang yang bekerja di garda depan. Jelas-jelas mereka berhadapan langsung dengan wajib pajak, pelanggan, nasabah, dan lain-lain. Jelas-jelas juga kalau nggak banyak dari para customer itu yang minim pengetahuannya. Jelas-jelas juga mereka ditugaskan di situ untuk memberikan arahan kepada customernya. Nah, tapi banyak di antara mereka yang malah judes, bahkan ada pula yang mempersulit customer?

Penyakit Birokrasi Jilid II

Saya punya pengalaman lain yang menyebalkan juga dalam hal ini.

Ini adalah masalah pertama yang saya dapatkan ketika akan ke Malaysia. Oke, kita runut kejadian ini dari beberapa waktu sebelumnya. Kesalahan pertama saya adalah tidak mengikuti suara hati yang sudah memangil-manggil sejak berbulan-bulan lalu agar segera membuat NPWP agar saya bisa mudah bepergian ke luar negeri tanpa beban fiskal 2,5juta. Ada dua pertimbangan mengapa saya tak kunjung menuruti suara hati yang begitu mulia tersebut. Pertama, saya juga nggak yakin-yakin amat kalau saya bakal ke luar negeri lagi dalam waktu dekat. Kedua, penghasilan saya kadang melampaui PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) namun lebih sering membuat saya berada pas di garis kepas-pasan.

Nah, berdasarkan dua hal tersebut, saya pun mengurungkan niat untuk membuat NPWP. Ah, tapi saya jadi merasa bersalah ketika tanggal 9 Juni dosen saya menelepon saya menanyakan apakah saya bisa ke Malaysia. Tak lama setelah saya mengiyakan pertanyaan tersebut, beliau pun mengingatkan saya untuk mengurus NPWP. Wuittttssss, okelah tanggal 9 Juni saya pun mengurus NPWP ke Kantor Pajak dan akhirnya tepat pada tanggal tersebut saya pun memiliki NPWP. Ya ya ya ya, akhirnya saya merasa lengkap hidup sebagai warga Indonesia. Saya punya KTP, SIM C, Paspor, dan NPWP. Hanya tinggal mencari SIM A, SIM B (siapa tahu saya nanti disuruh mengendarai bus atau truk).

Nah, namun ternyata kegembiraan saya setelah memiliki NPWP ini sirna dan pupus ketika saya menyerahkan NPWP saya ke loket pembayaran fiskal. Menurut mas-mas yang jaga di loket tersebut, NPWP saya belum berumur 2 hari jadi belum bisa digunakan. Menurutnya, saya harus membayar fiskal!!!! Hidup macam apa ini????

Hal lain yang mengesalkan dan menegangkan dari ditolaknya NPWP saya adalah kenyataan bahwa saya hanya memiliki waktu 15 menit untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saat itu jam menunjukkan pukul 05.45 sementara saya dan teman-teman harus sudah siap pada pukul 06.00 karena pesawat akan berangkat pada pukul 06.10. SETREESSS itu sumpah!!! Saya lalu menghubungi dosen saya dan menceritkan hambatan yang sedang saya alami. Akhirnya beliau bergerak cepat dengan meminta nomor rekening saya dan paling lama 10 menit kemudian uang fiskal tersebut akan sampai. Namun masalahnya, 10 menit tersebut terlalu riskan. Akhirnya teman-teman berinisiatif untuk mengumpulkan uang mereka dan berharap semoga dari enam orang yang akan berangkat ke Malaysia tersebut uang bisa terkumpul 2,5 juta.

Dengan harapan tipis, kami menghitung uang kami. Ketika kami telah menghitung hingga 2 juta, tiba-tiba ada seorang petugas bandara yang mendatangi kami,

Bapak Bandara : Maaf, sedang apa ini kok menghitung-hitung uang?

Teman saya : Ini, Pak, kita harus bayar fiskal soalnya ada NPWP yang belum diaktifkan.

Bapak Bandara : Memangnya kalian ini rombongan dari mana?
Teman saya : Dari Unpad, Pak.

Bapak Bandara : Kok harus bayar fiskal? Umur kalian sudah 21 memangnya?

Teman saya : Belum sih, Pak.

Bapak Bandara : Lah harusnya kalian nggak usah bayar fiskal! Siapa yang tadi disuruh bayar fiskal? Berapa dia umurnya? Udah 21 belum?

Saya : Wah, beneran, Pak? Umur saya 21 nanti September. Tapi saya sekarang ngga bawa NPWP orang tua atau Kartu Keluarga.

Bapak Bandara : Nggak usah, lihatin aja paspor kamu ke petugasnya. Kaish tahu tanggal lahir kamu. Nggak usah takut sama mereka. Mereka cuma mau menggertak saja tadi. Sudah sana ayo cepat!

Saya dan Teman-teman : Terima kasih banyak, Pak.

Daaaannnnnnn…..kami pun langsung mengambil langkah seribu untuk kembali ke loket pembayaran fiskal. Benar saja. Ternyata memang untuk orang yang masih berusia di bawah 21 tahun, ngga ada kewajiban membayar fiskal. Mereka juga nggak harus menyerahkan NPWP orang tuanya dan memperlihatkan KK atau Akte Kelahiran tapi cukup memperlihatkan paspor atau menyerahlan fotokopi paspor! Kampretos memang itu mas-mas penjaga fiskal.

Dia lalu menanggapi, “Oh, maaf tadi saya nggak memperhatikan paspornya, saya tadi terkonsentrasi dengan NPWP.”

Argggghhhhhh. Apa coba deh yang ada di otak mas-mas itu? Parah banget ngaku nggak meriksa paspor. Ini kelemahan banget nih. Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa masih ada penjahat yang lolos keluar masuk suatu wilayah. Untung mas-nya manis. Nggak jadi ngamukin si mas-nya deh saya. Hehehhehe.

Ah, tapi sumpah deh itu saya jadi mikir. Bener nggak sih yang diomongin mas itu bahwa dia tadi salah karena lupa nggak merhatiin paspor? Beneran lupa nggak merhatiin pasor atau ada kepentingan lain untuk menutup-nutupi kemudahan? Kenapa sih dia harus mempersulit orang-orang dengan mengatakan melalui kertas yang ditempel di loket bahwa untuk membebaskan diri dari pembayaran fiskal maka kita harus menyerahkan NPWP orang tua dan fotokopi KK padahal sebenarnya hanya dengan menyatakan dan membuktikan bahwa umur kita belum 21 kita sudah bisa lolos di loket fiskal? Mengapa kemudahan tersebut harus ditutupi?

Parahnya lagi, dia juga bukan pelayan masyarakat yang baik. Harusnya nih dia itu tahu kalau orang-orang macam saya dan teman-teman saya itu nggak tahu mengenai peraturan NPWP yang harus berumur tiga hari. Karena itu, harusnya dia tahu betapa paniknya kita waktu tahu peraturan itu tepat 15 menit sebelum pesawat berangkat dan kita juga jelas-jelas bukan orang yang punya uang segar 2,5juta. Saya juga yakin dia tahu kita itu mahasiswa yang umurnya belum menginjak 21 tahun karena sebelumnya dia sempat bertanya kita rombongan dari mana. Nah, karena dia tahu semua kenyataan itu harusnya dia refleks membuka paspor untuk memberi jalan keluar kedua kalau NPWP tidak berfungsi. Buka kek itu paspor yang ada di tangannya. Eh, dia mah waktu tahu NPWP saya masih berumur 2 hari malah bilang, “Aduh, maaf ya kami nggak bisa Bantu. Fiskal 2,5 jutanya harus dibayar.”

Tu orang emang minta dirayu dan disogok dah kayaknya!!!!!

Maaf, Mas. Walaupun Anda manis, sayang sekali saya nggak pinta merayu dan saya juga nggak mau menjatuhkan harga diri saya dengan menyogok Anda. Lebih baik nggak usah berangkat atau bayar 2,5 juta deh daripada saya harus mengiba-iba dan merayu supaya dia bilang, “Mmmmm, sebenernya sih bisa sih kalau umur situ belum 21 dan mau ngasih uang administrasi 500ribu….”

Noooo!!!

Alhamdulilah Allah masih melindungi saya dengan mengirimkan Bapak-Bapak penyeleksi barang di pintu masuk dan memberikan petunjuk tersebut.

Hedeuh!

Huffff. Kalau inget kejadian itu, saya jadi makin yakin, deh, kalau birokrasi kita udah nggak sehat lagi. Pegawai-nya itu loh!

Seperti yang didiskusikan dalam mata kuliah Pengantar Imu Administrasi dua minggu lalu, ada banyak teori birokrasi yang dikembangkan untuk memperbaiki kinerja birokrasi itu sendiri. Namun masalahnya, ketika kita membicarakan birokrasi, kita tidak akan bisa membicarakan sistem birokrasi sebagai sistem yang bisa dengan mudah kita kontrol karena predictable. Birokrasi itu diisi manusia-manusia yang selalu dinamis dan tidak dapat digeneralisasi. Akan ada banyak kondisi yang membuat teori birokrasi itu tidak dapat dengan mulus diimplementasikan di lapangan.

Saya malah jadi mikir, udah deh mending dibanyakkin aja deh program online untuk hal-hal yang selama ini diurus oleh pegawai garda depan. Petugas dalam bentuk manusianya ntar aja deh munculnya kalau misalnya ada beberapa orang yang kesulitan atau kalau ada kasus-kasus khusus aja. Dengan adanya pelimpahan tugas kepada mesin (internet), maka kestresan dan kejenuhan pegawai yang saat ini mengakibatkan tidak primanya layanan mereka bisa diatasi. Mereka akan terspesialisasikan menangani kasus-kasus khusus dengan wajah yang lebih ramah.

Namun memang, sih biayanya mahal dan gap teknologi juga masih banyak. Namun, bukan berarti dua masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat ditangani, kan? Jika ternyata manfaatnya jauh lebih banyak, mengapa tidak? Saya dan masyarakat lain di Indonesia juga nggak mau menghabiskan seluruh hidup saya dengan kejudesan dan tipuan petugas garda depan.

Ark. Agt’10.