Selebritas dan Konsumerisme Jasa-Representasi


Beberapa peristiwa yang saya lihat akhir-akhir ini semakin membuktikan disertasi dosen pembimbing saya mengenai Selebritas. Jumat lalu dosen saya sempat mengobrol banyak dengan saya mengenai isi disertasinya, tapi karena saya saat itu belum ingat sama hal yang saya rasakan hari ini, jadi saya perlu ngobrol lagi sama Ibu supaya apa yang saya tulis bisa tertangkap dengan agak lebih jelas. Hehe.

Saya lagi sering mendapati dua tipe orang yang sangat melelahkan untuk dilihat, yakni orang yang menganggap dirinya selebritas dan satu lagi, orang yang mereyakan keselbitasan selebritas hingga seolah-olah menjadikan si selebritas itu sebagai juru selamatnya, yang kalau nggak ada si seleb itu, maka mereka akan tersesat di dalam neraka dunia dan neraka akhirat.

Membahas sosok pertama, yakni selebritas, yang batasan kata "selebritas" sendiri sudah tidak hanya mencakup musisi atau aktor, tapi pada semua orang yang merasa memiliki pengetahuan lebih. Mereka adalah pemuda berusia pertengahan 20 hingga pertengahan 30 tahun yang memosisikan diri mereka sendiri sebagai sentral perhatian, yang dengan pendapat-pendapat yang mereka gulirkan ke publik dengan balutan citra-citra brilliance yang mereka atur, tata, dan klaim sendiri, mereka berusaha membentuk preferensi publik bahwa mereka adalah agen yang benar, yang perkataannya tidak hanya pantas untuk didengarkan, tetapi juga dirayakan. Dengan citra brilliance yang mereka gulirkan tersebut, mereka juga memersepsikan dan meletakkan dirinya sebagai sosok teladan, sosok contoh, dan juru selamat. Bagi saya, persepsi mereka mengenai dirinya sendiri merupakan fenomena yang unik bila dikaji dari pemaparan Vuving mengenai cara soft power bekerja. Vuving memang menyebutkan bahwa brilliance akan menghasilkan admiration dan peneladanan. Akan tetapi, proses pengidolaan dan peneladanan yang dimaksud Vuving lebih banyak terjadi di benak khalayak. Agen hanya memperlihatkan sisi brilliance-nya kemudian membiarkan khalayak menilainya dan membuat persepsi. Lain halnya dengan mereka. Mereka tidak memancing khalayak untuk mengidolakan dan meneladaninya secara diam-diam, tetapi justru secara aklamatif memosisikan dirinya sebagai agen yang patut diidolakan dan diteladani. 

Kemudian, pertanyaannya, whyyyyy?

Kenapa pada masa kini muncul sosok-sosok demikian? 

Kalau begitu, kita masuk ke golongan kedua, yakni golongan yang preferensinya mudah terkonstruksi dan gemar merayakan hal-hal yang dikonstruksikan "ih-wow-anjrit-ini-gue-banget". Yes, keberadaan gologan pertama tadi sangat didukung oleh keberadaan golongan kedua. Keberadaan golongan kedua ini juga nggak bisa dilepaskan oleh perkembangan konteks sosial di sekitar kita, yakni perkembangan masa fordist menjadi postfordist dan masa modern menjadi postmodern yang membuat proses produksi tidak lagi mengandalkan barang, tetapi jasa, yang jasa ini pun tidak ditujukan untuk konsumsi massal, namun tersegmentasi menurut status dan kelompok sosial tertentu. Konsumsi jasa yang tersegmentasi ini jelas perlu karena dalam masa ini pun masyarakat sedang kehilangan representasi. Mereka butuh pengakuan bahwa mereka adalah anggota dari kelompok tertentu. Ah, ya, kenapa juga mereka butuh representasi? Saya belum menemukan artikel penguat pendapat saya, tapi bagi saya, ini sangat berkaitan dengan perkembangan globalisasi yang membuat mata kita terbuka atas berbagai kegiatan orang-orang di seluruh dunia, dari yang penting semisal kelaparan di Afrika sampai yang ngga penting kayak "Ya ampun, hati gue tergetar banget habis baca Soe Hok Gie"; "Fakyu buat si X yang pacaran di depan dekanat!"; "Alhamdulillah, hari ini bisa beli tas Prada seri terbaru di ION Orchard pas lagi Great Singapore Sale," dan nggak cuma Twitter dan Facebook sih, pastinya. Bahkan tabloid gosip, tabloid religik, koran politik, dan YahooNews juga ikut andil dengan memberikan penggambaran mengenai sosok orang lain di luar sana yang membuat kita terkena penyakit hati. Ah, yes, saya rasa pelajaran Agama kelas 1 atau 2 SMP yang bab Penyakit Hati itu perlu ditambah, deh. Nggak cuma syirik, ujub, dan takabur, tetapi juga krisis representasi.

Nah, itulah sebabnya sekarang lagi menjamur jasa motivator, jasa asupan religius, dan jasa nasihat cinta yang tujuannya memberi tahu siapa diri kita dan kelompok apa yang cocok untuk kita. Jangan lupa juga, sekarang lagi musim pengidentifikasikan diri melalui kelompok tertentu, macam "gue-islam-jenis-x-dan-elo-jenis-y-so-mending-lo-gue-end" atau "gue-galau-x-elo-galau-y-dan-plis-ya-galau-lo-itu-inferior-dan-hina-dibanding-galau-gue" yang di antara dialog-dialog kedua kelompok itu diselipi juga nilai penajaman gap antargolongan.

Akibat dari perkembangan masa posfordis dan posmodern ini ya tentu saja perkembangan budaya selebritas dan konsumerisme. Agen yang menjadi selebritas terus-menerus memberi jasa sebagai representasi juru selamat, sedangkan khalayak terus-menerus terkonstruksi untuk mengonsumsi jasa mereka demi memenuhi kebutuhan mereka akan representasi, "Siapa sih diri saya? Termasuk kelompok apa saya?" Kehidupan kita pun dipenuhi,disergap, dan dikelilingi oleh beragam citra yang batasannya dengan realita sangat tipis dan bias sehingga kita pun menganggap citra tersebut sebagai identitas kita yang sesungguhnya. Paradoksnya lagi, dalam proses serah terima citra pada tarik-menarik selebritas-konsumer, khalayak ini seolah-olah sudah menjadi sosok yang berbeda dan superior di antara orang-orang di luar kelompok mereka. Mereka seolah-olah sedang menikmati tuhan, cinta, dan keyakinan yang benar, yang sesungguhnya, dan dengan dekat, padahal kebenaran yang hakiki mengenai Tuhan, cinta, dan keyakinan mereka masih berada di ruang lain yang entah dimana, yang justru semakin jauh ketika mereka merasa sedang dekat. Kenapa bisa jauh? Ya, karena konsep tentang tuhan, cinta, dan keyakinan yang disusupkan kepada mereka hanya sebatas komoditas jasa yang fungsinya hanya sebagai media agar para selebritas itu mendapat keuntungan. Di situlah simulakra atau kesemuan itu terbentuk. 

Pada akhirnya, dengan mengonsumsi nilai-nilai yang dibawa oleh selebritas, kita sebenarnya bukan sedang didekatkan pada tuhan atau cinta, tapi pada kekuasan dan kapital yang diinginkan oleh selebritas. Tuhan atau cinta yang sebenarnya tetap berada di tempat yang tidak terjamah, padahal bisa jadi keduanya berada di hati kita, hanya karena kita terlalu sibuk mencari representasi akan diri kita, kita melupakannya.

Ark.Feb'12

2 comments

Fenomena influencer ya Kaka? Mau dong baca disertasi dosennya (kalau boleh)

Reply

ferdy sechan!!!!! hai kamu yang ganteng!!! i misssss youuuuuuuu so big!!!!

disertasi dosen akunya masih on going fer...nanti kalo udah beres disertasinya aku sampaikan ada yang mau mendalami isinya yaaaa...

Reply