Tentang Tuhan yang Tidak Tahu Menahu Soal Maskulinisme

Ini tentang penyerahan hidup kita yang sebenarnya adalah pinjaman kepada Dzat yang meminjamkannya. Ini adalah hal yang terbesar yang ingin diujikan Tuhan kepada hamba-Nya. Ini serupa dengan kebimbangan Ibrahim ketika diminta menyembelih Ismail. Ini sama sekali bukan tentang pembedaan identitas semisal agar kamu terlihat muslim, maka kamu harus memakai busana yang a, b, c, d, e. Menjadi muslim adalah menjadi substansi yang muslim yang tidak terkacaukan oleh citra indrawi dan material. Menjadi muslim adalah menjadi insan yang yang dianggap muslim oleh Allah, bukan oleh sesama manusia. Ini juga bukan tentang apabila kamu memakai a, b, c, d, e maka kamu akan terlihat lebih cantik. Cantik? Cantik adalah terminologi yang sangat manusiawi. Cantik adalah keelokan fisik yang atraktif yang menimbulkan kekaguman dan keinginan untuk memiliki. Bila cantik dijadikan alasan, maka tanyalah pada dirimu sendiri, siapa Tuhanmu? Allah-kah atau laki-laki muslim borjuis kinyis-kinyis di Masjid Sunda Kelapa? Ingat, karena kamu adalah hasil ciptaan Tuhan dan selama hukum masih mengatakan bahwa hak paten kepemilikan dipegang oleh sang pencipta, maka kamu adalah milik Tuhan. Tanpa perlu terlihat cantik di mata-Nya pun kamu sudah dimiliki-Nya.

Ah, ya dan ini juga bukan sama sekali tentang perlindungan. Kamu harus menggunakan busana a, b, c, d, e untuk menjaga dirimu dari pandangan-pandangan hasrati yang meniupkan fantasi-fantasi birahi yang kemudian membuatmu menjadi korban kebejatan laki-laki yang sekaligus diharamkan aborsi. Persuasi tersebut dipenuhi oleh ideologi-ideologi dan kuasa maskulinis yang meletakkan wanita sebagai akar pangkal semua kejadian amoral di dunia ini. Mengamini alasan ini adalah bentuk penyekutuan bagi-Nya. Tentu saja, ketika kamu menggunakan busana a, b, c, d, e demi alasan menjaga tubuhmu dari sekutu busuk alam pikiran laki-laki dan jamahan haramnya, maka kamu melakukannya lebih karena takut dengan sundalnya pikiran laki-laki ketimbang dengan Tuhan yang kamu sembah wajib minimal lima kali sehari. Dan tak hanya itu, kamu juga sedang masuk ke dalam rezim maskulinitas yang mengatur hubungan laki-laki dan perempuan, bukan hubungan agama yang memberi panduan bagaimana berhubungan dengan Tuhan.

Esensi dari busana a, b, c, d, e sebenarnya adalah pertanyaan terbesar mengenai kesangupan kita menjalani hakikat hidup kita sebagai manusia yang tak lain adalah hamba dari Tuhan yang dinamakan Allah. Selayaknya hamba, maka kita diharuskan untuk menghamba memenuhi perintah dari sesembahannya.  Selayaknya barang yang kepemilikannya berada di tangan pemilik, maka kita ditanya seberapa sanggup menyerahkan diri dan menjalani hidup sebagai seorang yang mau tunduk dan melepaskan nafsu anarchy yang jumawa dan pongah. Selayaknya makhluk yang nyawanya bergantung pada takdir yang telah digariskan oleh si empunya, kita dituntut untuk menaklukan segala hal lusiferis dari diri kita semisal pongah, sombong, jumawa, berlagak, sok, takabur agar kita menjadi manusia yang benar-benar menjadi manusia. Tapi, ingat, kita hanya ditargetkan untuk menjadi manusia, bukan malaikat. Ketika kita mengalami pergolakan batin untuk menerima dan menjalani proses kita untuk berbusana a, b, c, d, e, itu bukan dosa. Itu alamiah. Itu alamiah karena kita adalah manusia. Manusia yang tak lain sebuah nexus antara setan dan malaikat, yang terus menerus bergulat dalam dialog baik dan buruk. Proses itulah yang nantinya memanusiakan kita. Proses yang bekerja untuk menaklukan kepongahan kita sebagai makhluk yang sempat enggan untuk berserah pada Tuhan dan berada pada fase denial bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Proses yang menggarap kita untuk mengamini bahwa pada akhirnya kita hidup untuk menghamba dan nyawa serta jasad yang kita miliki saat ini bukan milik kita sepenuhnya. 

Bagi Tuhan, ketika Tuhan menyeru kita untuk berbusana a, b, c, d, e, bukan karena Tuhan ingin membedakan satu kaum dengan kaum yang lain seolah-olah ada banyak Tuhan di dunia ini. Bukan juga karena tanpa busana itu maka Tuhan tidak bisa membedakan mana kaum A dengan kaum yang lain. Hei, bukankah Tuhan Maha Tahu? Bukankah Tuhan juga Maha Melihat hal-hal substansial? Bukankah Tuhan adalah satu-satunya pihak yang tak mempan dengan citra indrawi? Bukan pula Tuhan menyeru karena alasan mempercantik tampilan. Ah, Tuhan terlalu pencemburu untuk bisa merelakan makhluk yang Dia ciptakan berpaling pada makhluk lain yang juga Dia ciptakan. Tak hanya itu, Tuhan juga bukan ingin mengurangi tindak perkosaan dan pertumpahan darah di dunia. Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Maha Adil? Jika mau, Tuhan bisa saja mengasimkan otak-otak dan penis-penis sundal pria-pria maskulinis itu, tidak hanya menyeru perempuan untuk bertindak preventif. Dari seruan itu, Tuhan hendak bertanya kepada kita, mampukah kita menjadi makhluk yang bernama manusia? Dalam kurun waktu berapa lamakah kita menaklukan lusiferitas kita kemudian menggantinya dengan kepasrahan atas diri yang sesungguhnya sudah tak memiliki kuasa sejak lahir? 

Tapi entahlah, mengapa harus perempuan saja yang seruan untuk menghamba-Nya jelas?
Bagaimana dengan laki-laki?
Dengan cara apa mereka harus bermetamorfosis?
Melalui penyerahan diri apa mereka bisa menjadi hamba Tuhan?
Ataukah memang benar ideologi dari segala aspek kehidupan ini adalah maskulinisme?
Dan apakah Tuhan adalah penganut maskulinisme?
Ataukah di sini Tuhan juga dijadikan alat politik pengalamiahan maskulinisme?
Apakah kita sudah hidup di dalam rezim kebenaran yang benar?

Ah, entahlah, tapi saya beriman bahwa Tuhan juga menyayangi perempuan sehingga nanti di akhirat tentu Tuhan akan menghukum laki-laki yang menyebarkan ideologi maskulinisme.

Another Story tentang Diskusi dalam SMS

Tulisan ini berawal dari smsan saya sama Ayi Minggu malam. Berawal dari peluapan kekesalan saya terhadap parodi twit para pesolek prestise, Ayi pun ikut menyuarakan kekesalan hatinya atas masalah lain.

Saya : Sumpah deh geli ya baca twitnyaaaa hahahaha bête tapi ngakaklah aku hahahahaha.

Ayi : Twitnya sapa siiiihhhhhhh? **** apa ****? Eh sori baru bales, lg2 aku kesel sama pendapat org2 ttg org berkerudung. Huff.

Saya : 22nyaaa haha. Knp lg nih berkerudung..? ada apah ada apah?

Ayi : Ini loh ada orang bilang, “Duh, ni cewek kerudungan ngerokok, lepas ajalah mbak kerudungnya” Aku kesel sumpah!

Saya : Bwhahahahaha. Dikata lepas kerudung kyk lepas mukena abis beres solat. Hmmm tp pelik juga tuh permasalahan itu.

Ayi : Gimana ya riki, bagiku gak bisa juga ngerokok tuh dianggap salah. Kalo misalnya pake kerudung tapi dadanya atau belahan dada/pantat keliatan iya itu mslh karena dia gak komit, terutama dalam melindungi aurat tubuh. Tapi kalo ngerokok? Dalam agama aja itu makruh. Gak ada dosa dan memang itu kegiatan sia-sia. Kenapa kyai gak pernah disalahin krn mereka merokok? Apa karena mereka cowok? Aku benci pandangan begitu, kesannya orang pake kerudung harus selalu benar. Gitu. Makanya aku suka bete walopun bukan aku yang diomongin. Krn aku tau aku pake kerudung dan aku melakukan byk kesalahan. Aku juga ngerasain beratnya dibilang, “Kamu kan pake kerudung” gitu. Loh kok aku malah curhat?!?!?!

Asyik, kan? Panjang banget sms Ayi dan jawaban saya juga lebih panjang. Bahkan saking panjangnya bisa saya jadiin bahan nulis posting ini! Cekiprotssss!


All about Image

Seperti yang saya bilang, saya membalas sms Ayi dengan sms yang lebih panjang. Oh iya, Teman-teman harus tahu bahwa smsan panjang adalah salah satu seni yang perlu dilestarikan. Haha.

Hihihi. Iya yi.. Ekspektasi orang-orang awam sama perempuan muslim yang berkerudung itu ya begitu, harus yang alim-alim akhwat jilbab panjang, [ucapan] penuh dengan kalimat thoyyibah, mukanya selalu bersemu merah, ghadul bashar, tabah dipoligami, dan ga ngerokok. Terus juga nilai Timur memandang cewek itu ga pantes ngerokok. Terus pandangan mereka [orang yang memiliki konstruksi seperti itu] kan sempit, jadi dengan adanya nilai cewek jangan ngerokok&imej soleh muslim alim yang melekat di perempuan yang berkerudung, ya jadilah mereka gampang ngatain perempuan yang berkerudung. Selain itu, di dalam diri mereka ada keenggasukaan, kesinisan, dan mereka juga meremehkan cewek2 berkerudung. Mereka itu bersikap let’s see bisa ngga pake kerudung ke cewek-cewek karena pada dasarnya pandangan mereka ke cewek itu udah jelek. Mereka memiliki pandangan bahwa cewek itu ya penggoda, hiasan, ga kuat, dan ga mungkin bisa kaffah berkerudung.

Intinya, bagi saya, penyebab utama mengapa bisa timbul pengejekan kepada perempuan berkerudung dan merokok ya karena ada image yang bersemayam di dalam pemikiran dan hati si orang yang mengejek. Image itu begitu kuat bersemayam dan berkembang menjadi wacana. Ia pun melekat menjadi sesuatu yang seolah-olah universal dan nyata. Ketika hal tersebut dipertemukan dengan realita yang berbeda, seperti cewek berkerudung dan merokok, ia mengalami suatu guncangan dan memutuskan bahwa hal yang berlainan dengan kepercayaannya itu sebagai hal yang salah. Ia tidak akan mengoreksi dirinya sendiri lalu menjadikan hal tersebut sebagai wawasan baru atau minimal eksepsional yang ia apresiasi. Ia akan langsung mengklasifikasikan hal tersebut sebagai hal yang aneh, salah, dan harus dibasmi.

Hey, itu menyakitkan!

Citra atau image yang berasal dari bahasa Latin, yaitu imitari yang artinya meniru itu tidak lain tidak bukan, seperti yang didefinisikan Berger dan Karl, adalah hal yang tidak sebenarnya. Ia adalah hal yang telah direproduksi. Ia adalah representasi yang seharusnya tidak ditumpangtindihkan dengan objek material asli. Kita nggak bisa begitu saja mempercayainya. Kita nggak bisa memutuskan suatu hal sebagai hal yang salah atau benar hanya atas dasar citra yang berkembang di masyarakat menjadi wacana dan akhirnya menjadi kaidah yang (seolah-olah) universal dan given.


Kasihannya Cewek

Saya suka deh sama kata-kata Ayi yang dia protes kenapa cewek berkerudung dan merokok diprotes sedangkan kalau laki-laki nggak diprotes. Saya yakin hampir semua orang akan menjawab, “Ya karena perempuan itu sebaiknya tidak merokok.” Nah, iya, tapi kenapa? Kenapa perempuan sebaiknya tidak merokok? Kenapa nilai Timur kita memegang hal demikian?

Saya dan Ayi juga nggak merokok. Saya dan Ayi juga suka bête sama asap rokok. Saya dan Ayi cuma nggak habis pikir mengapa rokok menjadi hal yang permisif bagi laki-laki sementara bagi perempuan ia adalah suatu ketidakpantasan, bahkan penentangan terhadap norma sosial. Nilai itu bahkan sudah menjadi justifikasi perendahan martabat perempuan yang sudah menggunakan atribut kemuliaan seperti kerudung. Ia dianggap tidak legal lagi menggunakan kerudung hanya karena ia merokok.

Tidak hanya rokok saja yang memiliki power untuk merendahkan perempuan. Selingkuh, misalnya. Selingkuh merupakan dualitas yang unik. Di satu sisi ia adalah peristiwa yang lazim dikutuk ibu-ibu di seluruh dunia, namun di sisi lain ibu-ibu ini pun masih mau memaafkan dan menerima suami mereka padahal mereka tahu dengan jelas dan hati yang luka bahwa suaminya berselingkuh. Penerimaan kembali dari istri kepada suaminya itu merupakan bukti bahwa laki-laki secara tidak langsung ‘diizinkan’ untuk berselingkuh. Tanggapan orang-orang sekitar juga tidak akan menyudutkan si suami. Perselingkuhan yang dilakukan suami sudah dianggap sebagai hal yang biasa, bahkan disebut juga sebagai imbas ketidakmampuan istri memenuhi ekspektasi suami. Lagi-lagi perempuan yang disalahkan dalam pelanggaran janji pernikahan.

Nah, menyakitkannya lagi, coba jika kita balikkan kondisi tersebut. Bagaimana jika istri yang berselingkuh? Pertanyaannya, pertama, apakah suami mereka akan menerima istrinya dengan hati yang lapang? Kedua, apakah pandangan lingkungan sekitar akan menyudutkan suami dengan menuduh suami sebagai pihak yang tidak mampu memenuhi kebutuhan istri? Pada pertanyaan pertama, jawaban ‘ya’ akan sangat jarang terjadi. Perselingkuhan yang dimotori oleh istri biasanya akan berakhir di tangan suami, baik melalui penyiksaan fisik maupun penandatanganan surat talak. Pun pada pertanyaan kedua. Awalnya, ya, masyarakat akan menduga bahwa suami tidak mampu memenuhi kebutuhan istri. Namun, pada akhirnya, lagi-lagi istri yang disalahkan dengan sebuatn tidak mensyukuri dan menghargai suami. Akhirnya, perempuan itu akan dicap serakah dan materialistis.

Masalah lain adalah hubungan seksual, khususnya dalam penyunatan klitoris pada wanita. Perdebatan agama untuk memperkuat boleh tidaknya hal ini dilakukan sangat banyak. Saya nggak mengikutinya dengan baik jadi saya nggak akan membahas dari sudut agama. Saya hanya akan membahas dari sisi ketimpangan gender. Penyunatan klitoris ini nggak hanya mengerikan kalau dibayangkan pelaksanaannya, tetapi juga mengerikan kalau dibayangkan akibat pascapenyunatan. Klitoris adalah organ yang penting dalam menerima rangsangan dalam hubungan seksual. Kalau nggak ada klitoris, masalah urgennya nggak hanya terletak pada ketidakmampuan si perempuan menerima rangsang sehingga ia tidak mendapatkan kepuasan yang setara dengan suaminya, tetapi juga pada bagaimana perempuan itu mengatasi kesakitan ketika melakukan hubungan seksual. Itu hal pertama yang merugikan perempuan. Ia akan menjadi pihak yang kesakitan dalam hubungan seksual, lebih jelasnya dalam pemenuhan nafsu laki-laki. Ketika hubungan seksual menjadikan salah satu pihak yang terlibat di dalamnya kesakitan, dan pihak itu kebetulan adalah perempuan, maka ketika itulah kekerasan terhadap perempuan terjadi, bahkan di dalam ranah yang sangat privat sekali.

Kedua, karena klitoris adalah organ yang sangat berkaitan dengan rangsang, ada yang mengatakan bahwa penyunatan itu dilakukan untuk membatasi nafsu seksual perempuan yang dipercaya lebih tinggi daripada laki-laki. Pertanyaannya, memang ada yang salah jika nafsu perempuan lebih tinggi? Apa yang ditakutkan oleh laki-laki dari kenyataan tersebut? Tidak cukupkah selama ini mereka ‘menyunat’ nafsu perempuan melalui kaidah sosial yang meletakkan perempuan yang ‘tidak bisa mengendalikan’ nafsu seksualnya sebagai perempuan sundal, binal, jalang, dan berkelainan sehingga akhirnya mereka pun mewacanakan penyunatan klitoris? Mengapa permasalahan nafsu seksual tinggi menjadi hal yang permisif bila hal tersebut dikaitkan dengan laki-laki sementara bila dikaitkan dengan perempuan, perempuan tersebut secara otomatis terdemonisasi menjadi sosok lacur?

Selain permasalahan rokok, selingkuh, dan hubungan seksual, masih banyak lagi permasalahan yang mengitari perempuan. Banyak sekali batasan yang tidak boleh dilanggar perempuan yang kemudian hal tersebut menjadi ranah yang otoritasnya hanya dipegang laki-laki. Batasan itu lebih berat lagi dihadapi oleh perempuan-perempuan yang sudah berkerudung. Citra kemuliaan yang kemudian berkembang menjadi wacana-wacana kemuliaan banyak disodorkan kepada mereka dan diperkuat lagi oleh keniscayaan agama. Mereka dipaksa untuk tunduk, mengabdi, patuh, afirmatif, dan permisif atas banyak hal yang sebenarnya buatan interpretasi dan kepentingan manusia, khususnya laki-laki. Mereka pun bahkan dilatih untuk tidak bertanya dan tidak berpikir di luar batasan yang ditetapkan laki-laki. Mereka hanya boleh memodifikasi hal yang didesain laki-laki untuk bisa dimodifikasi. Mereka disenangkan dan dipuja agar tetap patuh pada norma yang dibuat laki-laki sehingga mereka sendiri yang memustahilkan kesetaraan gender. Bahkan untuk menyetarakan gender mereka yang terinjak, mereka harus menunggu persetujuan laki-laki. Mana bakal bisa tercapai itu kesetaraan yang dari tahun kapan sudah diperjuangkan? Bila ada satu perempuan yang berani keluar dari batasan, secara otomatis mereka akan dikenai sanksi yang tentu saja berat, baik dari laki-laki maupun dari kaum perempuan sendiri. Ya, seperti yang Ayi bilang tadi. Begitu ada perempuan berkerudung merokok, ya langsung dicerca, padahal kenal juga engga dan padahal juga beriman tidaknya seorang hamba nggak diindikasikan dengan merokok tidaknya ia.


Lalu ?

Lalu gimana?

Saya nggak bertujuan mengajari kefrontalan dalam blog ini. Saya cuma ingin membuka pandangan Teman-teman. Nah, karena itu saya nggak akan mengusulkan Gerakan 1000 Wanita Kerudung Boleh Merokok yang bakal turun protes ke Gedung DPR tepat pas saya ulang tahun nanti untuk mengatasi permasalahan ini.

Ada dua skenario. Pertama, jika tidak ingin menuai protes dari masyarakat yang memegang teguh norma sosial tentang bagaimana seharusnya bertindak, maka sadarilah posisi dan kewajiban yang Teman-teman emban. Turuti kaidah sosial dengan kaffah. Jangan melakukan hal-hal labil seperti sok nekat melanggar peraturan tapi takut menghadapi resiko dikucilkan, diejek, dicerca, dan bahkan dirajam omongan sinis. Hadapi resiko atau diam sama sekali.

Kedua, belajar menyadari dan menghargai. Sadari bahwa kaidah sosial yang mengitari kita adalah bikinan manusia yang harus kita pilah mana yang logis sehingga perlu diikuti dan mana yang irasional dan nyeleneh sehingga boleh kita negosiasikan. Sadari bahwa peraturan buatan manusia itu memang berkekurangan di sana-sini dan hanya berlaku pada tempat dan masa tertentu. Jangan terlalu percaya dan tunduk pada peraturan manusia. Percayalah pada Tuhan, Rasul, Kitab, Malaikat, dan Hari Akhir saja. Selama kita masih berstatus manusia yang ilmunya terbatas, jangan coba-coba menegosiasikan urusan itu. Ah, ya, satu hal lagiyang penting adalah jangan mencampuradukkan peraturan manusia dengan peraturan keagamaan. Udah dosa, sok tau, belum tentu bener pula! Haha.

Lalu setelah sadari, tahap berikutnya adalah hargai. Yang laki-laki hargai perempuan. Jangan mudah menyudutkan, jangan berekspektasi terlalu tinggi, apalagi sampai mengikat perempuan untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Dengarkan perspektif perempuan dan berikan kesempatan baginya untuk menginterpretasikan hal-hal di sekitarnya menurut perspektifnya. Sebaliknya buat perempuan, hargai juga laki-laki.

Secara umum, kita juga harus menghargai perbedaan yang muncul di sekitar kita. Jangan gampang mengklasifikasikan hal-hal di luar kepercayaan kita sebagai hal yang aneh, salah, dan patut dibasmi. Kita juga harus mencoba memandang dari perspektif yang berbeda dari perspektif kita dan tidak bersikap keras kepala apalagi antipati terhadap hal-hal baru itu.

Nasihat itu juga berlaku buat saya, sebenarnya. Terutama lagi soal kekesalan saya yang suka meluap kayak banjir bandang sama hal-hal nyeleneh di sekitar saya yang saya tumpahkan di twitter. Hihihi. Ya, implementasi itu selalu lebih susah daripada teorisasi. Ah tapi yang penting twitter ramelah. Hahahha.

Ark. Mar’11.

It is You Decide!

Kemarin saya menemukan satu status di fesbuk yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi. Saya lupa bagaimana bunyi lengkapnya, intinya si teman saya itu mengajak teman-teman dia di fesbuk (termasuk saya) untuk mem-follow dia di jejearing social baru yaitu salingsapa.com karena jejaring itu lebih islami. Saya sih nggak ada masalah sama jejaring salingsapa.com. Saya mengapresiasinya sebagai kreasi baru. Hal yang saya permasalahkan di sini adalah penekanan islami sebagai alasan untuk membuat akun di jejaring social dan penggunaan komparasi lebih antara salingsapa.com dan facebook.com padahal mereka sama-sama jejaring social.

Waktu saya pertama membaca status si teman saya itu, seperti biasa, saya langsung buang sampah di twitter. Saya malas menanggapi dia langsung di statnya. Pertama, saya kebiasaan aja ngatain orang di twitter. Kedua, kolom comment di facebook bagi saya bukan sarana yang pas untuk menuangkan pemikiran saya yang suka overlap karakter alias panjang banget. Ketiga, saya nggak suka aja diskusi di facebook. Keempat, saya sudah lama nggak posting di blog. Akhirnya ya begitulah, Teman-teman, intinya sih saya mau bilang saya nggak pengecut nggak nanggepin langsung di statnya. Hahaha. Jadi, akhirnya saya memutuskan untuk menangani keresahan hati saya secara darurat di twitter melalui tiga twit,


Rikianarsyi ANW
mau situsnya islami kek,klo itu diisi dgn stat provokatif,rasis,sara abis,mengumpat ya jadi ga islami lagi
Rikianarsyi ANW
bukan situsnya yg penting,tp apa yg kamu sisipkan dsana yg penting
Rikianarsyi ANW
br baca stat temen saya yg ngajakin pindah ke salingsapa.com krn lebih islami.. yaelah mbak

lalu pada hari ini saya menuangkannya secara panjang lebar di blog.

Stat persuasif teman saya itu sebenarnya bukan satu-satunya kelucuan yang saya temui di dunia ini. Ia juga bukan yang pertama yang saya temui. Banyak. Banyak sekali persuasi-persuasi senada yang dilewatkan baik melalui stat, twit, bahkan pidato yang saya rasa itu tidak terlalu cerdas. Saya sulit menganggapnya sebagai bujukan, rayuan, ajakan, himbauan, ancaman, tekanan sebagaimana yang disyaratkan oleh wacana persuasi yang baik. Saya malah menganggapnya sebagai sebuah cibiran. Parahnya lagi, cibiran yang tersirat dalam stat persuasi teman saya itu bukan sembarang cibiran seperti dalam iklan pemutih kulit yang diputar di kawasan Asia yang (hanya) mengatakan bahwa wanita berkulit putih itu lebih cantik daripada yang berkulit gelap. Cibiran yang terkandung dalam stat teman saya itu, pertama, jelas mengandung unsur keagamaan. Kedua, kalau kita mengkajinya secara cultural, ia juga ia juga lucu. Kenapa? Mari kita runut.


It is about Religion, Stupid!

Saya mau meminjam slogan terkenal Clinton waktu kampanye, “It is about economic, Stupid!” untuk mendefinisikan keadaan negara saya sekarang. Bedanya, saya mau mengganti kata economic menjadi religion alias agama. Gimana enggak, coba deh kita perhatikan berita-berita di media massa. Kita akan dengan mudah menemukan betapa bangsa kita ini begitu gampang terprovokasi sama hal-hal berbau keagamaan. Bahkan kalau mau sarkas-sarkasan, istilah senggol bacok juga sudah bisa diganti dengan beda perspektif bacok. Nggak usah harus berlainan agama dulu, bahkan dalam satu agama pun udah bisa main kekerasan.

Tingginya sensitivitas bangsa ini akan urusan keagamaan harusnya sudah bisa menjadi referensi kita untuk bertindak dan berucap lebih hati-hati. Maka dari itu saya langsung mengernyitkan dahi waktu membaca sta teman saya. Lebih islami, aduh frase itu jadi frase yang begitu mengerikan bagi saya, apalagi ia dipasang di facebook, jejaring social yang akibat dipasangi stat itu jadi mengalami peyorasi bahwa ia tidak lebih islami sehingga patut ditinggalkan.

Oke oke oke, secara fisik jejaring social salingsapa.com memang mengandung unsur-unsur keislaman. Oke, provider jejaring itu ada di Indonesia dan dijalankan oleh orang Indonesia yang menganut budaya Timur dan ia pun Muslim sehingga ia lebih tanggap dalam merespon konten-konten ‘berbahaya’ alias tidak sesuai dengan nilai Timur dan nilai Islam yang bisa saja diposkan oleh penggunanya. Oke, karena kita menggunakan jejaring social tersebut dan kita mengklik panel accept pada formulir Syarat dan Ketentuan maka kita terikat pada peraturan jejaring social tersebut yang tidak mengizinkan adanya konten-konten makian, umpatan, ejekan, kejahilan, kegeraman, kenakalan, dan ketidakpantasan lain. Pokoknya yang bakal lewat sensor adalah kalimat thoyyibah dan puji syukur, deh, jadi mungkin dengan mengeposkan sesuatu di jejaring social itu kita juga akan menambah pahala :p.

Ah, namun demikian, penggunaan komparasi lebih islami yang ditulis oleh teman saya di stat fesbuknya juga bukan pilihan tepat. Komparasi tersebut bagi saya tidak lain merupakan pembineran antara yang islami dengan yang tidak islami yang kemudian akan berujung pada pembineran antara yang baik dengan yang buruk, yang mana yang bakal masuk surga dengan yang mana yang bakal masuk neraka. Permasalahannya lagi, tidak bijak rasanya menentukan baik buruk dan islami tidaknya seseorang hanya berdasar identitas jejaring sosialnya. Pembineran tersebut tidak saja akan mengotakkan mana orang islam dan mana orang yang bukan islam, tetapi juga mana orang islam yang islami dan yang tidak islami. Bisa-bisa perang lagi kitaaaaaaaaaaaaaaa nanti.


Identity and Places

Pernah merasa bete sebete-betenya sama orang yang menganggap dirinya berbeda dan lebih berkelas dari orang lain hanya karena dia beli baju di butik di Grand Indonesia? Pernah dengan hati dongkol menerima kenyataan bahwa sebenarnya identitas kita lebih banyak didapatkan dengan penilaian orang sekitar kita ini makan di restoran apa, beli baju dimana, pacaran sama anak konglomerat yang mana, naik motor Ninja seri berapa, dan beli Prada di negara mana?

Saya pikir identitas yang sangat bergantung pada tempat itu hanya terjadi dalam tataran materialistis seperti di atas, tapi ternyata saya salah. Dalam tataran keagamaan pun peng-kelas-an juga terjadi. Dengan komparasi yang dilakukan oleh teman saya di dalam stat fesbuknya itu, saya jadi punya bukti baru bahwa yang namanya peng-kelas-an itu ya terjadi di semua bidang. Pada dasarnya kita memang manusia yang butuh identitas, butuh pengakuan, dan akhirnya butuh ruang yang bisa memberikan pengakuan akan identitas yang kita inginkan.

Butuh identitas sebagai orang islam? Tinggalkan fesbuk, tinggalkan twitter, itu yang bikinnya Amerika, di Amerika udah mereka agamanya nggak islam, banyak yang Yahudi, pula! Udah tinggalin ajaaaaa. Bukankah yang mengikuti setan dan kafir itu juga dianggap segolongan?

Secara nggak langsung, itu terjemahan dari komparasi bahwa salingsapa lebih islami seperti yang dibilang teman saya. Seolah-olah kalau kita nggak beralih ke salingsapa, maka kita bukan lagi orang islam dan nerakalah ganjarannya. Itu nggak hanya kekanak-kanakkan dan dangkal, tapi juga menyulut perang.


Postcolonialism in the Midst of Freedom Celebration

Dalam kasus salingsapa.com, selain adanya kecenderungan adanya kebutuhan pengakuan akan identitas, saya juga melihat adanya kecenderungan yang (mungkin) pada awalnya bertujuan positif yaitu mengatasi kejengahan atas konten-konten di dalam jejaring social pada umumnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Timur dan Islam karena adanya perbedaan budaya antarpengguna dan antara pengguna dengan provider. Solusi dari kejengahan tersebut pun dituangkan dalam pembuatan jejaring social baru yang diharapkan dapat mengatasi kejengahan yang ditimbulkan jejaring social lama.

Namun demikian, saya juga tidak bisa melihat peristiwa tersebut hanya dengan kacamata yang murni. Saya mengapresiasi adanya jejaring social baru tersebut, namun saya juga melihat adanya rasa ego tandingan, “Bikin yang ginian macam fesbuk atau twitter sih gue juga bisa!” Ada cuatan ego yang lahir dari perasaan tersubordinasi di sana. Entah itu balas dendam atau apa, tapi saya melihatnya sebagai keinginan dari pihak yang awalnya ‘terjajah’ untuk menyetarakan diri dengan yang ‘menjajah’. Nggak masalah, tapi itu benar-benar berbau poskolonial sekali. Poskolonialnya lagi, meski jejaring social salingsapa.com itu merupakan hasil dari kejengahan dan keinginan untuk merdeka dari Barat, ia pun masih berbau, bahkan tiruan Barat. Ia masih berbentuk jejaring social ala Barat. Ia masih menggunakan prinsip-prinsip jejaring social Barat. Keislamian yang ditampilkan di sana juga masih berupa aksesoris luar. Sistemnya masih ‘meminjam’ sistem Barat.

Itulah. Itulah yang saya bilang lucu. Kita itu sangat poskolonialis sekali. Sebenarnya kita nggak pernah membuat sesuatu yang baru atau yang benar-benar berbeda dari yang menjajah kita. Kita hanya memodifikasi dengan menempelkan aksesori-aksesori luar yang memang didesain oleh penjajah untuk bisa dimodifikasi. Sayangnya lagi, kita nggak sadar akan hal itu. Kita malah menganggap kita sudah berbeda, sudah setara dengan penjajah, dan menganggap bahwa orang-orang yang masih menginduk pada penjajah, yang dalam hal ini masih menghamba pada fesbuk dan twitter dan belum beralih ke salingsapa.com, adalah orang-orang yang belum tercerahkan, orang-orang yang derajatnya belum setinggi kita, dan berpotensi untuk kita perangi. Lucu sekali, bukan? Kita masih sama-sama menginduk pada penjajah yang sama. Nggak ada satu pun dari kita yang sudah lepas. Hanya kesadaran palsu kita saja yang berbeda.


What Should We Do?

Harus ngapain? Terserah, yang jelas jangan perang antarjejaring social. Nah, ini yang penting. Jangan perang itu gampang diucapkan tapi implementasinya susah loh.

Ketika kita mengikrarkan untuk tidak perang antarjejaring, maka, pertama, kita harus sadar bahwa kita semuaaaaa, yang pakai salingsapa, yang pakai fesbuk, yang pakai twitter, yang pakai friendster, yang pakai plurk, yang pakai apa lagi tuh kalau nggak salah ada banyak banget deh, adalah manusia yang sederajat. Lengkapnya, manusia yang sama-sama menginduk pada teknologi Barat hanya berbeda aksesori luar. Kalau kita perang, apalagi sampai bawa-bawa nasionalisme Timur dan atas nama agama, satu pihak yang bakal girang banget adalah Barat.

Kedua, ya kita harus bisa melepaskan ketergantungan kita akan pengakuan identitas dari tempat yang kita tinggali. Bukan tempat yang menentukan identitas kita, melainkan diri kita sendiri. Kita juga nggak bijak jika kita menentukan identitas orang lain berdasar tempat yang ia tinggali. Balik lagi, bukan tempat yang berkuasa atas diri kita, melainkan diri kita sendiri. It is You Decide to Act in a Moslem Way or Not!

Ketiga, jangan bertindak konyol dengan mengatakan salingsapa.com lebih islami daripada facebook di kolom facebook. Kan ketahuan tuh kalau kita dulunya nggak islami. Tuh buktinya punya akun di facebook. Hehehehe. Nah, tapi kalau sudah terlanjur bikin stat bilang kayak begitu, ya sudahlah insaf, jangan muncul lagi di facebook keesokan harinya. Kan jadinya nggak konsisten keislamiannya. Hehehehe. Tapi nggak apa-apalah, kita jadi tahu kalau nanti misalnya ada perang antara salingsapa.com dan facebook, tipe orang yang kayak gitu yang nggak bisa dijadikan pemimpin perang.

Ark. Feb’11.