Aged-Pregnancy dan Patriarki

Sepertinya posting kali ini agak berbahaya dan bisa menimbulkan salah interpretasi, jadi mohon disiapkan tisunya yang banyak *lohhh. Posting kali ini berkaitan dengan wacana yang saya temukan di soal ujian SPMB tahun 2010 kode 346 yang menurut saya bias gender. Nggak hanya dari isi teksnya, tetapi juga dari soal dan jawaban benarnya. Rasanya menemukan teks dan soal yang isinya bertabrakan dengan pandangan saya tapi saya harus bersikap netral karena teks itu adalah teks ujian yang harus disampaikan dengan seada-adanya jawaban wih berat sekali. Untungnya itu teks terakhir jadi saya betenya nggak kelamaan. Oke, ini dia teksnya dan tulisan yang saya tebalkan adalah framing yang saya pikir bias gender:

"It is common knowledge that as women get older, pregnancy becomes a riskier enterprise. Advanced maternal age is linked to a number of developmental disorders in children, such as Down's syndrome. Now, a study has confirmed that older mothers are more likely to give birth to a child with autism, too. The authors of the epidemiological study, published February 8 in Autism Research, examined the parental age of more than 5 12,000 children with autism and nearly five million "control" children between 1990 and 1999, all living in California. The researchers found that mothers over 40 had a 51 percent higher risk of having a child with autism than mothers 25 to 29, and a 77 percent higher risk than mothers under 25.

Autism-a developmental disorder characterized by impaired social interaction" and communication appears to be on the rise. The U.S. Centers for Disease Control and Prevention now estimates that as many 10 as one in 110 children in the U.S. has an autistic spectrum disorder-a group of developmental disorders including autism, Asperger's syndrome and pervasive developmental disorder. The prevalence of autistic spectrum disorders in California in 2007 was 12 times that from 1987, representing an average annual growth of 13 percent, according to a report from the California Department of Developmental Services. Only a fraction of these extra cases can be explained by changes to diagnostic criteria and earlier diagnoses.

15 Maternal age is also increasing in the USA. California-based study reported a three-fold increase in the number of births to women aged 40 to 44 between 1982 and 2004. But this trend toward delayed childbearing accounted for less than 5 percent of the total increase in autism diagnoses in California over the decade, according to the study-a finding that surprised Janie Shelton, a doctoral student in University of California, Davis's Department of Public Health Sciences and the study's lead author. "I would have expected to see 20 more of a contribution, because age is a risk factor and women are having kids later," she says. Earlier work had suggested that both maternal and paternal ages are independently associated with autism risk. But the current study found that paternal age is  only a risk factor when the mother is under 30."

Lalu ini soal dan pilihan jawabannya, yang saya tebalkan itu yang bias gender :

41.ln the text above the writer deals with a topic on ...
(A) prevalence of autism among children.
(B) possible biological causes of autism.
(C) research findings on mental disorders.
(D) maternal age and autism in children.
(E) negative effects of delayed pregnancy.

43. It can be concluded from the text that ...
(A) a big age difference of parents of 40 years or beyond may result in autism.
(B) several mental disorders can be prevented by having kids earlier.
(C) women today show a general trend in delaying pregnancy.
(D) the paternal age only partly explains the case of mental disorders among children.
(E) the case of autism among children remains a mystery among scientists.

44. Which of the following best describes the author's purpose in this study?
(A) To reveal that the case of autism among children is prevalent
(B) To analyse how delayed pregnancy brings about autism
(C) To make the readers aware of the consequence of delayed pregnancy
(D) To refute a common misconception about the cause of autism
(E) To demonstrate that autism is associated with delayed pregnancy

45. From the information in the first and second paragraphs, it can be inferred that ...
(A) developmental disorders in children are close to delayed pregnancy.
(8) modified diagnosis criteria can detect many cases of autism.
(C) many of the children in the US obviously suffer from autism.
(0) Asperger's syndrome is not related in any way to autism.
(E) studies on autism have not successfully revealed its causes.

Poin yang saya buat dari teks dan soal di atas adalah :
  1. Perempuan (ibu) masih menjadi pihak yang paling bertanggung jawab mengenai perkembangan anak, tidak hanya ketika anak tersebut bertumbuh kembang di dunia, tetapi juga sejak anak masih menjadi janin, sementara laki-laki (ayah) hanya menjadi pihak yang sebagian bertanggung jawab.
  2. Perempuan dibuat berada dalam keadaan yang sulit untuk mengambil keputusan, yakni bekerja di luar atau tetap berada di sektor domestik, karena taruhannya adalah masa depan anak yang nanti ia kandung. 
  3. Power patriarki yang lahir dari ego laki-laki semakin dikukuhkan dengan knowledge yang dibuat sealamiah mungkin, salah satunya melalui sains yang secara common sense sudah diterima sebagai sumber pengetahuan yang paling sahih.
Oke,mari kita bahas, tapi sebelumnya saya mau bilang bahwa posisi saya di sini hanya sebagai penganalisis. Metode penganalisisan dalam posting ini nonpartisipan dan tidak reflektif jadi jangan tempatkan saya sebagai pihak yang mendukung delayed pregnancy. Jodoh saya belum datang kok jadi kalau nanti saya termasuk dalam golongan ini, itu semua hanya karena suratan takdir, bukan karena pilihan saya ahahahaha. Jangan plis atuhlah ya allah. Tapi kalau misalnya saya segera bertemu jodoh dan saya tidak melakukan delayed pregnancy juga dorongannya bukan karena ketakutan adanya kecenderungan disorder pada anak, melainkan karena sudah takdirnya saya punya anak. Oke masbro?

Hal pertama yang saya sesalkan dari teks di atas adalah cepatnya sang penulis memutuskan bahwa aged pregnancy disebabkan oleh wanita yang memutuskan untuk men-delay pregnancy-nya. Bagi saya, tidak semua aged pregnancy disebabkan oleh keputusan men-delay preganncy. Salahnya lagi, teks tersebut juga kurang lengkap menyebutkan apakah anak-anak yang terkena mental disorder karena dilahirkan oleh ibu yang berusia di atas 40 itu merupakan anak pertama atau anak tengah atau anak bungsu. Bisa saja kan seorang ibu hamil pada usia 40 dan itu bukan kehamilannya yang pertama? Ibu saya dan beberapa ibu teman saya juga melahirkan anak bungsu pada usia 40. Kemudian, bagaimana juga dengan ibu yang sudah lama tidak dikaruniai anak dan baru diberi anak pada usia 40? Apakah aged pregnancy-nya disebabkan ileh pilihannya untuk menunda kehamilan? Posisi saya jelas di sini, bagi saya, aged pregnancy tidak bisa disinonimkan dengan delayed-pregnancy.

Namun demikian, andaikata memang ada wanita yang men-delay pregnancy-nya sehingga ia mengalami aged-pregnancy, apakah itu juga sikap yang salah sehingga harus ditertibkan dengan keberadaan rezim pengetahuan bahwa delayed pregnancy itu mengorbankan perkembangan anak? Pertama ini soal pilihan. Ada perempuan yang memilih menikah dan punya anak, ada pula perempuan yang memilih untuk menyelesaikan dulu keinginan, cita-cita, dan tuntutan sektor nondomestik. Ini juga bukan soal egois tidak egois, tetapi ini adalah cara pandang seseorang yang pasti berbeda dari orang-orang lain. Laki-laki juga sama kok, mereka punya pilihan, apakah menikah atau tidak menikah. Mengapa hanya pilihan perempuan yang dipermasalahkan? 

Saya melihat fenomena bermasalahnya perempuan yang memilih untuk tidak atau menunda pernikahan dan kehamilan ini sebagai produk budaya kita, yang tidak hanya terbatas di Indonesia, di Timur, dan di agama-agama, tetapi juga tersebar diamini secara universal. Ya, saya rasa ini hal yang sudah dianut secara universal : perempuan seharusnya manut ada di sektor domestik. Perempuan yang mencoba menghindari kewajiban budaya ini secara otomatis dianggap sebagai perempuan yang salah. 

Pengikatan perempuan untuk berada di sektor domestik pun saya rasa sudah dipraktekan sejak lama. Adanya tabu, pamali, cap buruk, dosa mengenai perempuan yang memilih untuk berasa di luar rumah saya yakini merupakan bentuk pengikatan bagi perempuan untuk menjaga rezim patriarki. Namun seiring dengan perkembangan zaman, tentu tabu, pamali, stereotype, dan dosa ini makin terasa tradisionalitasnya sehingga kurang ampuh untuk mengekang perempuan. Lahirlah kemudian knowledge yang berasal dari ilmu pengetahuan yang metodenya disepakati sebagai metode ilmiah yang akhirnya membuat semua pengetahuan yang lahir darinya sebagai pengetahun ilmiah yang obyektif, nyata, sahih, dan benar. Studi-studi mengenai penundaan kehamilan pun bermunculan untuk memberi gambaran apa 'dosa' yang paling faktual dan instan dari penundaan kehamilan, yakni lahirnya anak yang seharusnya suci dan bahagia tapi malah 'berbeda' dari anak kebanyakan yang lahir dari perempuan (ibu) baik-baik yang menurut pada budaya patriarki.  

Masalahnya lagi adalah rezim patriarki ini pun tidak hanya didukung oleh laki-laki, tetapi juga dari kalangan perempuan sendiri. Contohnya bisa dilihat pada paragraf terakhir teks di atas. 
"I would have expected to see 20 more of a contribution, because age is a risk factor and women are having kids later," she says.
Keberadaan perempuan-perempuan yang memihak budaya patriarki merupakan hal yang penting bagi penguatan budaya patriarki. Mereka akan membuat perempuan lain yang ingin menentang budaya patriarki merasa salah dengan keputusannya. Selain itu, mereka juga adalah contoh dan teladan baik yang akan membuat perempuan yang tidak seperti mereka terdemonisasi secara otomatis. Mereka adalah batas biner antara yang baik dan buruk di dalam grup perempuan.

Saya nggak bermaksud bilang bahwa perempuan yang manut pada budaya patriarki itu jahat dan perempuan yang berani menentang budaya patriarki sebagai pihak yang baik. Saya hanya menyesalkan mengapa harus ada penguatan suatu budaya tertentu yang membuat dikotomi biner antara baik dan buruk. Bagi saya, mustahil bila kita membuat suatu dikotomi dan generalisasi mengenai apa yang baik dan buruk. Setiap orang (perempuan) tentu memiliki pandangan dan pengalaman masing-masing yang sepatutnya bukan dihakimi, melainkan dihormati. 

Ark.Apr'12.

Kebenaran

Teman saya, Opank, dua tahun lalu pernah menulis hal yang menurut saya hebat dan sangat kicking ass sekali. Kata Opank, satu hal yang tidak diciptakan Tuhan adalah kebenaran. Bingung? Hmm, dosen saya, Pak RMT dalam perkuliahan terakhir Filsafat Ilmu semester ganjil lalu berbagi pendapat dengan para tutor mengenai apa itu kebenaran yang saya rasa penjelasan Pak RMT di ruang dan waktu yang berbeda dengan posting Opank dapat menjelaskan apa maksud Opank.

Ketika itu, Pak RMT bertanya kepada tutor-tutor yanng ada di kelas mengenai suatu isu, kebetulan waktu itu kasus Krisdayanti yang mencium Raul Lemos yang menimbulkan kontroversi karena dilakukan di hadapan kamera wartawan infotainment secara sengaja. Jawaban para tutor itu berbeda-beda, tapi dapat dikelompokkan dalam jawaban berikut,

  1. Tindakan KD tidak pantas dilakukan karena menyalahi adat Timur dan banyak ditonton anak-anak
  2. Tindakan KD wajar karena sebagai artis maka ia butuh popularitas yang salah satu sumbernya bisa berasal dari deviasi ketentuan sosial
Perhatikan, jawaban 1 merupakan jawaban yang bersumber dari petunjuk normatif, sedangkan jawaban 2 (saya termasuk ke dalam kelompok penjawab poin 2), merupakan jawaban yangg bersumber dari strategi menghadapi kehidupan. Bersepakat dengan Pak RMT, saya rasa tidak ada jawaban yang salah karena keduanya memiliki alasan yang masuk akal dan secara common sense saja sudah dipahami oleh banyak orang. Nah, tapi apakah keduanya benar? "Salah" memang memiliki antonim, baik antonim kembar maupun antonim relasional, berupa "Benar". Namun, bagaimana mungkin ada dua hal yang benar, sedangkan Tuhan saja satu? Bayangkan bila Tuhan ada dua, pasti akan ada perang ketuhanan. Nah, bagaimana dengan "benar"? Kebenaran itu hanya boleh satu atau tidak ada sama sekali, sedangkan dari dua jawaban di atas, keduanya benar menurut logika dan alasan masing-masing. Jika demikian, kebenaran yang mutlak itu sendiri tidak ada. Tidak ada karena semua pihak mengaku jawabannya benar menurut logika dan alasan masing-masing. Namun, terlepas dari benar atau tidak benar, kenyataan bahwa KD mencium Raul itu masih ada. Intinya, apa pun pendapat kita mengenai suatu isu, pendapat kita tidak akan mengubah terjadinya isu tersebut. Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan pendapat kita kecuali menjalani hidup kita sesuai dengan pendapat kita.

Namun kemudian muncul apa yang dikatakan teman saya dalam blog keempatnya yang beberapa hari lalu tidak saya sengaja saya temukan. Teman saya bilang, meskipun di dunia ini ada banyak pilihan untuk melakukan suatu hal, seharusnya kita tetap berpegang dengan apa yang digariskan oleh Islam. Saya nggak bermaksud untuk nggak setuju sama dia karena toh saya juga Muslim dan menjadikan Islam sebagai garis pedoman. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam tulisan tersebut, dari pengakuannya terhadap ada banyak pilihan hidup, si teman saya itu seolah-olah menghargai adanya perbedaan pilihan , tapi di sisi lain ketika ia memberikan pernyataan "seharusnya mengikuti apa yang digariskan Islam", ia sebenarnya sedang memberikan rekomendasi mengenai batasan kebenaran secara mutlak. Islam memang benar, tapi itu hanya bagi yang meyakini Islam. Di luar Islam, bukan berarti tidak ada kebenaran. Kebenaran masih ada, bagi mereka yang meyakini agama atau keyakinan lain. Ketika misalnya si teman saya mengatakan pada orang lain yang tidak meyakini Islam mengenai kebenaran Islam, maka sudah barang tentu si teman saya itu akan menghadapi bantahan-bantahan yang logis menurut logika si orang tersebut. Begitu pun sebaliknya, ketika ada seseorang yang tidak meyakini Islam sebagai kebenaran menyerang si teman saya dengan argumen-argumen anti-Islam, maka sudah pasti juga si teman saya akan balik membantah dengan memberikan argumen mengenai kebenaran Islam.

Nah, perang kebenaran yang dibawa oleh dua orang yang berbeda keyakinan mengenai kebenaranlah yang saat ini sedang ramai terjadi. Mereka lupa bahwa sebenarnya perang yang mereka lakukan itu sia-sia. Mereka sama-sama berangkat dari titik berbeda namun ingin mendapat kesimpulan atas satu hal yang sayangnya kesimpulan tersebut pun tidak ingin mereka capai secara win-win solution atau secara mufakat, tetapi secara zero-sum atau 1-0 alias satu pendapat saja yang benar. Masalahnya lagi, mereka juga saling mengukur benar tidaknya pihak lawan dari standar yang mereka buat berdasarkan pemahaman mereka atas satu kebenaran. Kasus yang sedang ramai sekarang adalah kasus anak punk yang ditangkap polisi di Aceh karena dianggap tidak sesuai syariat Islam. Dosen saya, Pak Indra membahasnya dalam artikel komprehensif di Jakarta Globe yang kebetulan saya share juga di wall facebook saya. 

Saya sepakat dengan Pak Indra, bagaimana mungkin kita menilai punk dari sudut pandang Islam? Punk jelas tidak akan pernah sesuai dengan syariat Islam karena punk sendiri lahir di luar kekuasaan Islam. Kecuali bila punk melakukan glokalisasi dengan menggabungkan beberapa nilai dan elemen punk dan Islam kemudian melahirkan hibrid baru berupa lagu punk berlirik islami atau nyanyi irama punk dengan fashion islamik, mungkin akan ada yang dinamakan punk yang sesuai syariat Islam. 

Nah, namun jika glokalisasi yang lahir dari negosiasi dan adaptasi antara dua kebenaran itu tidak terjadi maka punk juga tidak akan menjadi benar? Apakah karena punk lahir di luar kekuasaan Islam maka punk itu tidak punya kebenaran? Apakah kebenaran punk yang diambil dari filosofi antikemapanan dan rebel itu harus tunduk pada kebenaran ala Islam padahal si penganut punk itu punya kebebasan untuk menganut kebenaran mana pun yang ia rasa cocok dengan logika dan keyakinannya? Dan ketika alasan bahwa semua hal harus dilakukan secara Islamik dijadikan bahan argumen untuk menihilkan kebenaran punk, pertanyaannya siapa yang sebenarnya berambisi untuk menjadi hegemon kebenaran? Islamkah atau penganut Islam yang berbicara atas nama Islam padahal ia memiliki kepentingan lain di balik embel-embel Islam? 

Selain itu, apakah kebenaran hanya bisa diukur melalui satu satuan baku mengenai penampilan atau ritual saja? Merenungi kebesaran Tuhan dan dosa-dosa kita sebaiknya dilakukan di masjid atau minimal dengan shalat malam di rumah, itu memang benar secara Islam. Atau penguasa yang zalim itu harus diruntuhkan dalam beberapa cara, yang salah satunya bisa melalui orasi berkedok dakwah shalat Jumat di masjid tertentu, itu benar menurut Islam kelompok tertentu. Namun, apakah bila seseorang merenungi kebesaran Tuhan dan dosa-dosanya sambil jalan-jalan dengan kawan satu gengnya dan dia menentang penguasa yang zalim dengan simbolisasi antikemapanan dan antiaturan produk penguasa zalim yang jelas-jelas ritual dan elemen itu berbeda dari ritual dan elemen Islam maka si penegak Islam berhak menudingnya sebagai pihak yang salah, sesat, dan harus di-Islamkan?

Hal kedua setelah perang kebenaran yang sering saya temukan adalah pengotak-ngotakkan kebenaran berdasarkan penampilan visual dan ritual tertentu yang menafikkan bentukan substantif yang bisa jadi memang hanya mengarah pada satu acuan, yakni ketuhanan. Mengutip pandangan Opank bahwa satu hal yang tidak diciptakan Tuhan di dunia ini adalah kebenaran, saya rasa Tuhan memang tidak menciptakan kebenaran mutlak bagi manusia karena hanya Dialah Pemilik Kebenaran Mutlak. Dalam berbagai kebenaran-kebenaran yang dianut oleh umat manusia di dunia ini, sebenarnya akan ada satu benang merah, yakni kebenaran mutlak yang mengarah pada Tuhan atau yang disebut oleh beberapa yang tidak mengakui Tuhan sebagai kekuatan di luar sana yang belum ditemukan apa itu. Dalam Islam, ritual dan penampilan visualnya ditujukan untuk mencari kebenaran yang digariskan Tuhan. Pun dalam punk yang menurut elit Aceh sebagai hal yang bertentangan dengan syariat Islam, sejatinya punk pun mencari sesuatu Maha Benar yang dirindukan sebagai oase atas kemapanan artifisial dan kolonial yang mencengkram peradaban manusia. Masalah ritual dan penampilan visual yang berbeda, tentu saja akan berbeda karena Islam dan punk tidak lahir dari waktu, tempat, dan nabi yang sama. Perbedaan waktu, tempat, dan nabi yang berbeda itulah yang melahirkan perbedaan versi kebenaran. Hal yang paling bodoh yang kita lakukan tentu saja menimbang-nimbang mana yang (lebih) benar. Sampai Dajjal menjelma dalam rupa Jeremy Thomas juga kita tidak akan pernah bisa memufakatkan mana yag (lebih) benar. Kita hanya bisa secara temporer mengalahkan satu kebenaran, tapi itu juga jika kita memiliki kekuasaan, tapi itu juga tetap saja fiktif karena toh kebenaran itu sesuatu yang tidak ada wujudnya di dunia ini. 

Kenapa kita tidak mencoba saja untuk mengakui bahwa kebenaran di dunia ini sejatinya tidak ada? kenapa kita tidak belajar menghargai kebenaran yang diyakini orang lain sambil kita menjalani apa yang menjadi kebenaran versi keyakinan kita secara khusuk tanpa menilai kebenaran orang lain dari satuan kebenaran kita?

Saya Islam, saya meyakini kebenaran Islam, tapi saya juga mencatat dengan cermat untuk tidak menilai kebenaran orang lain dari satuan-satuan Islam yang saya yakini.

Dan tentang KD, berhubung dia artis dan saya bukan, karena itulah saya tidak menggunakan satuan ukur orang biasa untuk menilai artis.


Ark.Jan'12.

City Hunter dan Dialog Liberalisme



Negara membuat hukum demi melindungi rakyatnya. Namun bagaimana jika malah negara sendiri yang ingkar, mempergunakan kekuasaannya kemudian bersikap banal terhadap rakyat? John Locke, Montesquieu, dan CF Strong pernah menjawab pertanyaan tersebut dengan mengajukan konsep Trias Politica atau pembagian kekuasaan demi meminimalisasi korupsi power dari negara. Namun apakah pembagian kekuasaan antara pembuat hukum, pelaksana hukum, dan penegak hukum sudah cukup? Nampaknya tidak bagi Tsukasa Hojo, si pembuat komik strip koran di Jepang tahun 1985-1991. Melalui komiknya City Hunter, Hojo menuangkan impiannya akan keberadaan sosok yang mampu mengamankan rakyat dari kesewenangan negara. Komik tersebut kemudian mengisnpirasi film-film bertitel serupa di Jepang (1987) dan Cina (1993) serta yang teranyar di Korea (2011) melalui drama yang dibintangi aktor dan aktris rupawan yang tentu mampu menarik perhatian puluhan juta pasang mata di Asia. 

Meskipun diilhami dari komik City Hunter yang dibuat oleh Hojo, jangan pikir bahwa drama ini akan semata-mata memindahkan karakter komikal menjadi representasi manusia dengan jalan cerita yang sama. Jangan berharap menemukan Ryo Saeba, sang tokoh utama dalam komik, dalam representasi Lee Yoon Seong, tokoh utama dalam drama membasmi kejahatan ala Batman dan Spiderman di komik Marvel menggunakan pistol sambil memperdaya banyak wanita. Meski sama-sama mengisahkan perjalanan pahlawan yang bertugas menegakkan keadilan di kota, City Hunter versi Jepang ini telah banyak diadaptasi menjadi berbau Korea, tak hanya dari dekonstruksi pria maskulin ala Korea, bumbu percintaan, dan plot khas drama yang sangat kompleks menjelaskan hubungan keluarga, tetapi juga dari latar penceritaan yang menggerakkan keseluruhan cerita serta pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat film. Drama City Hunter pun menjadi drama yang tidak biasa karena menampilkan gagasan liberalisme, kekeluargaan, dan romantisme dalam satu layar.


Konflik-konflik
Diawali dari patriotisme membela bangsa yang diserang oleh pihak musuh, lima orang pejabat teras militer merundingkan rencana pembalasan dengan menyusupkan tentara rahasia ke Korea Utara. Di tengah operasi yang dijalankan oleh 21 orang tentara rahasia tersebut, kesepakatan yang dilandasi oleh rasa emosi itu dibatalkan karena adanya pertimbangan bahwa bila pihak sekutu Korea Selatan, yakni Amerika Serikat mengetahui pengkhianatan Korsel terhadap perjanjian dengan Korut, maka AS segera mencabut perlindungan terkait nuklir untuk Korsel. Memilih citra dan keamanan Korsel di tingkat internasional atau membela dua puluh satu orang tentara yang jelas-jelas telah menjadi 'anak negara', lima jenderal tersebut pun menjustifikasi keputusan mereka untuk melenyapkan dua puluh satu tentara sepulangnya tentara tersebut dari misi di Korut.

Hal pertama yang ingin diklarifikasi oleh drama City Hunter ini adalah tentara bukan sekedar bidak yang bisa dimainkan oleh negara begitu saja, yang apabila tentara tersebut meninggal maka mereka hanya akan menjadi sekumpulan nama yang bisa dihapus dari sejarah. Tentara adalah manusia dengan cinta yang teramat besar kepada negara yang menganggap bahwa negara adalah satu-satunya tempat bernaung paling aman yang tidak mungkin mengkhianati mereka. Ketika mereka tahu bahwa negara yang mereka agungkan berbalik menghilangkan mereka, maka mereka pun memiliki pertanyaan yang berkembang menjadi dendam.

Dendamlah yang kemudian mengantarkan satu-satunya tentara yang selamat dari operasi penyapuan, Lee Jin Pyo, untuk menggerakkan plot dalam drama City Hunter. Dilatarbelakangi oleh keinginan membalaskan dendam secara banal dan megah, Lee Jin Pyo kemudian menculik bayi dari sahabatnya yang mati dalam operasi penyapuan, membawanya ke perbatasan Myanmar-Thailand, kemudian mendidiknya dengan sangat keras sehingga menjadi seorang Lee Yoon Seong yang piawai berkelahi, mahir memainkan senjata, serta jenius secara akademik, namun sayangnya setelah mendapat pendidikan di Amerika Serikat dari mulai gelar S1 hingga PhD memiliki keyakinan besar pada keberadaban penyelesaian  melalui jalan hukum.  

Dua puluh delapan tahun berjalan, ketika dikirim Jin Pyo ke Korea kemudian menjadi salah seorang tenaga ahli di Blue House atau Istana Negara, Yoon Seong diharapkan mampu memburu lima jendral yang melakukan operasi penyapuan kemudian membunuh mereka tanpa ampun. Namun, berkebalikan dengan apa yang diharapkan oleh Jin Pyo, Yoon Seong malah mencari titik-titik kesalahan masing-masing jendral yang bisa diajukan ke meja pengadilan. Tak disangka, para jenderal yang pada saat ini telah menjadi pejabat politik Korsel tersebut memang melakukan korupsi besar di sektor-sektor strategis seperti pemeliharaan anak terlantar, militer, pendidikan, keselamatan pekerja, dan pembuatan undang-undang. Menariknya, sebagaimana yang bisa dilakukan oleh drama, korupsi tersebut tidak hanya disajikan melalui angka-angka, tetapi juga diperlihatkan melalui narasi penderitaan beberapa sosok yang terimbas korupsi pejabat yang kehadiran mereka menggugah Yoon Seong untuk segera bertindak. Di sini, Yoon Seong pun tidak tampil sebagai anak yang marah karena ayahnya ditembak mati di laut setelah menjalankan misi negara, tetapi sebagai warga sipil yang merasa kepercayaannya dikhianati. Rasa sakit karena dikhianati tersebut kemudian mengantar Yoon Seong menjadi sosok yang disebut media massa sebagai City Hunter. Secara jenius, cermat, dan taktis Yoon Seong membuat taktik untuk menjebak para koruptor di luar cara-cara dan birokrasi hukum, mempermalukan pejabat tersebut di mata publik, kemudian meyerahkannya kepada kejaksaan secara misterius.

Dua titik ekstrem tindakan Yoon Seong, yakni kemahiran berkelahi, memutar otak, dan menjebak target serta kepercayaannya terhadap hukum membuat Yoon Seong tidak hanya bertikai dengan Jin Pyo, tetapi juga dengan jaksa Kim Yong Ju. Jaksa Kim merasa terlecehkan karena selalu didahului oleh Yoon Seon dalam menangkap tangan para pejabat yang korup. Selain itu, dengan kepatuhan Jaksa Kim yang teramat besar terhadap hukum, ia pun mengutuk tindakan Yoon Seong dalam menangkap pejabat-pejabat tersebut. Terkait dengan kepatuhan, konflik lain yang dihadapi Yoon Seong adalah tindakannya untuk menjatuhkan pejabat teras tersebut berlawanan dengan tugas yang diembankan kepada orang yang dicintainya Kim Na Na, seorang penjaga keamanan pejabat negara. Sama seperti Jaksa Kim, Kim Na Na juga orang yang patuh pada peraturan. Meskipun Na Na tahu pejabat yang ia lindungi bersalah, Na Na tetap harus menjaga keamanan sang pejabat dan sebisa mungkin mencegah aksi Yoon Seong.


Siapa Tokoh Utama?
Menikmati jalan cerita drama City Hunter, saya sedikit meragukan keberadaan tokoh Lee Yoon Seong sebagai tokoh utama. Lee Yoon Seong sepertinya hanyalah penengah dari dialog besar mengenai kemarahan yang menimbulkan ketidakpercayaan terhadap hukum dan negara serta kepatuhan yang terlampau naif terhadap hukum. Tokoh utama di sini saya rasa adalah Jin Pyo sebagai representasi kemarahan dan dendam serta Jaksa Kim sebagai representasi kepercayaan terhadap hukum. Yoon Seong sendiri adalah solusi alternatif yang diimpikan oleh sang pembuat film dan manusia di seluruh dunia yang lelah dengan pertarungan dialog tersebut. Selain itu, ketika kita sampai hampir pada episode akhir, kita akan disajikan narasi bahwa Yoon Seong ternyata hanyalah alat pembalasan dendam Jin Pyo kepada komandannya, Choi En Chang yang memerintahkan secara langsung operasi penyusupan ke Korut dan pada saat ini menjadi Presiden Korsel.  Yoon Seong ternyata bukanlah anak kandung dari sahabat Jin Pyo yang ditembak di laut, melainkan anak hasil hubungan gelap Choi En Chang dengan perempuan yang kemudian dinikahi oleh sahabat Jin Pyo. Pembalasan dendam megah yang direncanakan Jin Pyo selama 28 tahun itu ternyata adalah membunuh En Chang melalui tangan anaknya sendiri. Di sini terlihat bahwa Jin Pyo-lah yang memegang kendali atas jalannya cerita.


Siapa yang Menang?
Dialog mengenai ketidakpercayaan terhadap hukum dan kenaifan terhadap hukum nampaknya merupakan masalah yang sulit untuk dicari penyelesainnya meski ada sosok City Hunter yang mencoba menggabungkan metode antihukum dan prohukum. Dalam penyelesaian kasus korupsi pejabat, hukum masih bisa diandalkan. Hal tersebut terlihat dari ditutupnya satu per satu kasus korupsi pejabat setiap kali mereka sudah diserahkan kepada kantor kejaksaan. Namun bagaimana dengan kasus dendam yang bahkan sedari awal sudah mencibirkan hukum sebagai instrumen yang paling lemah yang ada di dunia? Bagaimana dengan patriotisme yang dikhianati yang kemarahannya sanggup mengantarkan seseorang menjadi sosok yang berani mati? 

Sang pembuat drama ini sepertinya juga tidak sanggup mendewakan hukum berada di atas segalanya ketika sudah sampai pada titik dendam-mendendam. Hal tersebut disajikan pertama melalui kematian Jaksa Kim saat mencoba mengancam salah seorang pejabat yang ketahuan korup dengan menyebutkan daftar-daftar tuntutan yang akan menyeret sang pejabat mendekam 22 tahun di penjara. Sesaat dalam masa sekarat Jaksa Kim yang disaksikan oleh Yoon Seong yang telat datang menyelamatkan, Jaksa Kim  memercayakan penyelesaian kasus tersebut pada Yoon Seong. Ada hal yang ingin disampaikan oleh pembuat cerita. Ya, semacam pesan bahwa hukum memiliki keterbatasan. Hukum juga ternyata bisa kalah dan itu diakui oleh si penegaknya sendiri.

Kedua, dari kematian Jin Pyo. Ada beberapa makna yang saya tangkap dari penyelesaian dendam Jin Pyo yang harus melalui kematian juga. Satu, Jin Pyo sudah terlampau mendendam sehingga hukum pun tidak bisa menjeratnya sehingga hanya pistol lagilah yang mampu mengakhiri nafsu dendamnya. Dua, Jin Pyo yang patriotik dan sudah mencibir hukum merasa terhina apabila hukumlah yang harus mengakhiri kisah hidupnya. Tiga, justru hukumlah yang terlampau suci untuk menjerat orang yang karena dikendalikan dendam menjadi pembunuh bertangan dingin. Kesimpulan kesatu dan saya dapatkan dari mayoritas episode ketika Yoon Seong, Jaksa Kim, dan Kim Na Na mencoba untuk menghentikan aksi balas dendam Jin Pyo namun ditolak mentah-mentah oleh Jin Pyo, kemudian aroma kesimpulan ketiga yang begitu meninggikan derajat hukum saya dapatkan pada episode terakhir ketika Jin Pyo sudah menyerah, terlihat dari jatuhnya longsong peluru dari pistolnya, namun tetap ditembak berkali-kali oleh para petugas keamanan presiden.

Hukum tidak sanggup menyelesaikan semua masalah, begitu juga dendam tidak bisa menerbitkan kelegaan atas kefrustasian, jika begitu apakah metode penggabungan kekerasan dan hukum yang diwakilkan oleh Yoon Seong menjadi pemenang? Sepertinya sang pembuat drama ini juga berpikir dua kali untuk menyimpulkan hal itu. Yoon Seong juga sempat tertembak di akhir cerita saat melindungi ayah kandungnya, sang presiden, dari tembakan ayah angkatnya, Jin Pyo. Dari situ terlihat bahwa metode pengabungan pun tak cukup kuat untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, meskipun Yoon Seong akhirnya tidak mati akibat tindakan tersebut dan malah kembali untuk menunaikan misi sebagai City Hunter lagi dengan motivasi baru yang sempat ia sebutkan di hadapan presiden yakni bukan demi dendam, melainkan demi menjaga amanah rakyat yang dikhianati pejabat, nyatanya Yoon Seong pun mengungsikan keluarganya ke luar negeri, yakni Amerika Serikat. Tindakan Yoon Seong tersebut memperlihatkan sisi-sisi Yoon Seong yang tidak dapat memercayai hukum di negaranya sendiri, namun mengharamkan kekerasan, dan pada waktu yang bersamaan juga tidak memercayai metodenya sendiri. Tindakan tersebut mencerminkan juga adanya impian mengenai sesuatu di luar sana yang bisa menjamin keamanan diri dari kebanalan negara. Impian tersebut juga bukan hanya impian Yoon Seong, tapi impian semua orang. 


Drama?
Sudah banyak rumah produksi dari berbagai negara yang meminta izin kepada Tsukasa Hojo untuk mengadaptasi komik yang diterbitkan di Weekly Shonen Jump dari tahun 1985 hingga 1991 ini. Dari sekian banyak rumah produksi yang meminta pemfilman City Hunter, konon hanya drama City Hunter yang disutradarai Jin Hyuk dari Korea yang mampu memuaskan ekspektasi Hojo meskipun City Hunter versi Lee Min Ho ini berbeda dari versi komik. Saya sepakat.

Pertama, meskipun banyak protes yang dilayangkan oleh penikmat City Hunter versi komik akan peran Lee Yoon Seong yang diperankan oleh Lee Min Ho yang dinilai lebih cocok memerankan karakter romantis, apalagi dalam beberapa scene, Lee Min Ho juga ditampilkan menggunakan celana skinny pink, merah, dan hijau, saya rasa Lee Min Ho cukup representatif untuk memerankan sosok komikal tokoh utama yang dinamai Hojo sebagai Ryo Saeba. Lee Min Ho tampan dan tinggi, itu niscaya, mutlak, dan sahih. Selain itu keluwesan Lee Min Ho dalam melakukan adegan flirting, dingin, kaku, serius, romantis, gagah, bimbang, menendang, memukul, menembak juga patut diacungi jempol karena perepresentasian tersebut hampir mirip dengan penggambaran ala komik. Jangan lupakan juga reputasi Lee Min Ho yang sudah tinggi di Asia. Hanya dengan menyebut Lee Min Ho, hampir seluruh wanita di Asia akan berteriak histeris. Audiens penikmat pesan pertarungan antara hukum dan kekerasan yang tergolong berat dan enggan dicerna masyarakat pun meluas. Setidaknya, pesan bahwa dendam dan korupsi adalah hal terhina yang akan mencelakakan banyak orang, termasuk diri sendiri, dapat tersampaikan secara internasional. Posisi Lee Min Ho strategis bagi keberhasilan drama City Hunter dan pesan-pesan di dalamnya.

Kedua, City Hunter versi Korea ini juga relevan dengan kejadian sehari-hari. Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, City Hunter versi Korea ini menyajikan permasalahan yang jawabannya masih kita cari, yakni pertarungan hukum, kekerasan, dan penggabungan hukum-kekerasan. Drama ini juga tidak berusaha memihak salah satu sisi ketika ia menyajikan kekalahan dan kepesimisan bagi masing-masing sisi. Selain itu, korupsi juga suatu hal yang menghiasi lembaran berita di koran maupun cuplikan berita di televisi pada zaman ini. Meskpun pada masa kini juga tidak bisa dikatakan bahwa tingkat kriminalitas kota sudah menurun ketimbang tingkat pada tahun 1985-1991 saat komik City Hunter dibuat, namun saat ini masyarakat jauh lebih frustasi pada keberadaan koruptor yang mengkhianati suara yang mereka berikan dalam sistem demokrasi. Ada keinginan untuk menampilkan kemarahan atas keberadaan liberalisme yang dijanjikan mampu memberikan keamanan bagi rakyat, namun nyatanya malah menyiksa rakyat. 

Ketiga, City Hunter versi Korea juga menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini luput dari perhatian publik dan negara, di antaranya keberadaan tentara, anak-anak terlantar, dan buruh. Dalam hal tentara, drama ini mengungkapkan bahwa karena negara membutuhkan tentara untuk menjaga keutuhannya, negara pun sudah seharusnya memperhatikan suara dan keselamatan tentara sebagai suara dan keselamatan manusia, bukan hanya sebagai bidak yang siap disorongkan dalam berbagai kejadian berbahaya kemudian ditinggalkan setelah tidak urusan bela negara selesai. Tidak hanya melalui perjalanan dendam Jin Pyo saja City Hunter mengungkapkannya, tetapi juga dari sorotannya dalam korupsi menteri pertahanan pada pembelian pesawat jet bekas dan pabrik sepatu tentara yang mencetak sol yang mudah lepas yang kesemuanya membahayakan keselamatan tentara saat bertugas. Dalam persoalan anak-anak terlantar, selain menyoroti korupsi tidak tersampaikannya dana pemeliharaan anak terlantar kepada yang bersangkutan, drama ini juga menyoroti pilihan hidup anak terlantar yang lebih memilih tidak makan ketimbang harus menerima bantuan dari yayasan atau negara karena mereka akan dicap sebagai pengemis. Kemudian dalam persoalan buruh, drama ini memperlihatkan bahwa pihak yang paling akan menderita dari permainan politik, saham, dan krisis ekonomi adalah buruh. 

Keempat, drama ini menyajikan potret Asia kontemporer. Satu, tentu saja dari penggunaan teknologi yang begitu bertubi-tubi dalam mendapatkan informasi. Hampir semua episode dalam drama ini memperlihatkan penggunaan alat sadap, kamera supermini, tablet, IPad, dan internet supercerdas, sebuah siratan potret kehidupan Asia pada masa kini yang aktif menciptakan teknologi dan memanfaatkan teknologi. Dari situ terlihatlah Asia yang tidak lagi hanya bisa dipandang sebagai bangsa yang terlampau tradisional dan mengandalkan fisik, tetapi sebagai bangsa yang mampu mengandalkan otak. Dua, dari penitikberatan pada nilai kekeluargaan dalam arti perjuangan, penghargaan, dan penajgaan orang Asia  bagi keluarganya tapi di dalam waktu yang bersamaan juga tidak mengistimewakan keluarga apabila keluarga tersebut terbukti bersalah. Hal tersebut di antaranya diperlihatkan melalui keputusan  Yoon Seong untuk tidak bertindak kejam seperti yang diperintahkan Jin Pyo karena pertimbangannya mengenai bagaimana nasib keluarga apabila ayahnya mati dibunuh, desakan Jaksa Kim kepada ayahnya untuk meminta maaf kepada publik sebelum kasus korupsi sang ayah diungkap oleh kejaksaan, dan pengakuan palsu Jin Pyo pada saat-saat terakhir sebelum kematiannya bahwa Jin Pyolah City Hunter yang selama ini dicari kejaksaan demi melindungi masa depan Yoon Seong.

Kelima, mengenai kisah romantisme dalam cerita. Bagaimanapun juga, drama Korea tetap drama Korea yang senantiasa menyajikan kisah cinta romantis penuh tawar menawar antara harga diri dan perasaan, perjuangan, pengorbanan, dan penjagaan sang kekasih, serta harapan untuk selalu bersama. Menariknya, drama ini menyajikan kuatnya kebimbangan Yoon Seong atas keinginannya untuk hidup bersama Na Na namun tidak ingin membahayakan keselamatan Na Na yang kerap dijadikan alat tawar para musuh Yoon Seong serta kegigihan Na Na untuk meyakinkan Yoon Seong bahwa Na Na dapat diandalkan sebagai partner dan kekasih Yoon Seong. Hal yang paling heroik dari Na Na adalah keberaniannya mengungkapkan perasaannya secara jujur kepada Yoon Seong dan kekerasan niatnya untuk melindungi Yoon Seong meskipun Yoon Seong secara konsisten menampakkan sikap plin plan yang kadang mengiyakan kadang menolak.  

Namun demikian, dengan beberapa kelebihan yang dimiliki City Hunter versi Korea ini, bukan berarti ia bersih tanpa cacat. Secara makro, pesan dalam drama ini memang tersampaikan, namun memang harus diakui ada beberapa lubang dalam detail cerita. Ah, tapi tidak terlalu bermasalah juga seharusnya karena rating drama ini di Korea cukup bagus dengan menembus angka 20%. Saya juga menemukan banyak keinginan dari publik untuk menikmati sekuel dari City Hunter. Namun, terlepas dari sangkalan halus sang sutradara yang hanya akan mempertimbangkan sekuel apabila Lee Min Ho menyanggupi, bagi saya juga sepertinya harus ada alasan kuat dalam bentuk tema baru yang melandasi keinginan Yoon Seong untuk kembali menjadi City Hunter. Meskipun dalam episode-episode terakhir semakin dikukuhkan bahwa tujuan Yon Seong bukan lagi karena dendam, melainkan demi rakyat, tetap harus ada tema jelas yang menggerakan cerita sehingga drama Korea ini tetap berada pada jalur drama Korea pada umumnya, bukan drama Amerika semacam CSI atau yang lainnya yang menitikberatkan tema hanya pada satu episode yang akhirnya tidak tahu akan bagaimana mengakhirinya dan hanya menjadi rutinitas belaka. Tidak, drama Korea tidak seharusnya menjadi demikian dan Lee Min Ho tidak boleh menjadi aktor yang seperti itu. :)

Ark. Jan'12.


Kapitalisme dan Pendefinisian Hidup Kita


Selepas bimbingan yang baru selesai jam sembilan malam, saya dan Ayi meluncur ke che.co. Entah kenapa che.co malam itu ramaiiiiiii sekaaaaliiiii. Perasaan udah sering juga di che.co sampai malam, tapi baru sekali itu che.co sepenuh itu. Hampir tidak mendapatkan tempat duduk strategis, untungnya ketemu Andris yang sudah mendapatkan kursi yang wokeh dan seperti biasa membicarakan hal-hal berbau gay, lalu putar otak memesan makanan dan minuman yang kebetulan sudah banyak yang habis, dan akhirnya terdampar pada majalah Elle yang Ayi ambil dari meja di dekat wastafel che.co. Ada satu artikel yang menarik perhatian Ayi yang Ayi bagikan isinya kepada saya yang menginspirasi posting ini.

Artikel yang menarik perhatian Ayi itu adalah artikel mengenai definisi kecantikan wanita dari zaman ke zaman. Pasti tahu, kan kalau setiap zaman pasti punya definisi cantiknya masing-masing? Macam zaman sekarang, nih, yang cantik itu adalah yang putih, tinggi, langsing, dan sebagainya yang secara langsung mengeksklusi saya dari kriteria cantik. Huhuhuhuhu. Nah, si artikel yang dibaca sama Ayi itu membahas hal yang kayak gitu, malah dari abad 17 gitu. Secara paternistik, sih, meskipun zaman sudah berputar beberapa abad, terdapat beberapa definisi cantik yang terus berulang. Kulit putih bergantian dengan kulit sawo matang; tubuh langsing bergantian dengan tubuh berisi; pinggang kecil bergantian dengan pinggul besar; payudara besar bergantian dengan dada rata; seperti-seperti itulah. 

Menemukan pola demikian, saya sepakat dengan Remon yang pernah bilang kalau segala sesuatu itu bisa dibuat oleh pasar. Iya, saya yakin bahwa definisi yang bergantian sepanjang zaman itu tak lain adalah bagian dari perebutan pasar yang dibuat oleh kaum kapitalis. Bukan kita, si konsumer, yang membuat definisi cantik, tapi si kapitalis, si pembuat produk dan pemilik modal, yang menciptakan definisi kemudian memaksa kita untuk berebut memasuki klasifikasi yang dibuat mereka. Kang Jawot juga pernah membahas hal tersebut saat membahas skripsi Teh Eris tentang globalisasi representasi mitos "cantik" yang dilakukan oleh salah satu produsen pemutih kulit terkemuka di dunia. Untuk mempertahankan keberlangsungan hidup si produk pemutih kulit tersebut, konsumer diajak memasuki gerbang penindasan mental itu secara bertahap. Pertama, dikasih pemahaman bahwa putih itu cantik, gelap itu aib. Kalau mau cowok-cowok atau cewek-cewek mendekati kita, kulit itu harus putih, suatu pernyataan yang kontan langsung membuat saya mikir ketika menonton tivi, "Damn, pantesan gue jomblo." Target kedua adalah menunjukkan bahwa putih saja tidak cukup, tetapi juga harus bebas jerawat. Muncullah produk pemutih dan antijerawat atau pemutih plus antijerawat. Konstruksi ketiga adalah kulit keriput itu nggak banget. Dibuatlah produk antiaging. Target berikutnya akan ada lagi dan dibuat secara terus-menerus. Sebagai orang Asia yang tidak mungkin berkulit putih ala bule, kita dicengkram terus-menerus dalam konstruksi dan impian bahwa kita bisa kok tampil memesona ala bule dalam iklan supaya kita tetap membeli produk itu.

Definisi kemudian berubah ketika ada produk lain yang masuk ke pasaran. Untuk meraih perhatian dari konsumer, produk baru ini membuat definisi yang kontras dari definisi yang lama. Coba perhatikan, deh di rak-rak produk kosmetik di swalayan, sekarang lagi ada embel-embel "Putih Langsat", "Cantik Asia", "Langsat Asia". Produk-produk tersebut seolah memberi penyadaran bahwa kita selama ini dibodohi oleh produk lama dan ini loh, produk yang benar yang sesuai dengan kecantikan asli. Kenapa seolah? Ya, karena tujuan produk itu bukan untuk memberi penyadaran dalam arti mencerdaskan macam iklan layanan masyarakat Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu yang nyanyi lahir jangan rapat-rapat, jangan dekat-dekat, melainkan untuk menarik kita ke dalam cengkraman pembelian produknya. Keluar sarang macan masuk sarang buaya kalau kata mbah kita.

Pertarungan produsen yang slaing kontras tersebutlah yang menciptakan sejarah pendefinisian cantik dari abad kapan hingga abad kapan. Sampai kiamat pasti kita akan selalu dipingpong dari satu definisi ke definisi lain yang tujuannya adalah untuk menjadikan kita konsumer yang setia. Sementara kita bekerja keras demi bisa membeli produk yang harganya bervariasi dari sepuluh ribu hingga jutaan rupiah, si kapitalis tertawa lebar meraup uang kita kemudian beli tas Prada keluaran terbaru yang dipamerkan di ION Orchard. 

Lalu apakah kita setelah mengetahui kenyataan itu kita akan bisa keluar dari definisi yang mereka ciptakan? Nggak lagi-lagi beli produknya, misalnya? No, nggak akan ada istilah seperti itu, bahkan Kim Jong Il dan Lenin saja masih curi-curi pandang ke dunia Barat demi kelangsungan hidupnya. Plis juga jangan jadikan kaum-kaum pengikut khotbah solat Jumat di depan fakultas saya yang selalu bilang kapitalisme Barat itu haram sebagai contoh kaum yang bisa keluar dari definisi-definisi yang dibuat kaum kapitalis karena jika kalian mau sedikit jeli, toh khotbah yang membakar semangat anti-Barat dan anti-Zionis itu juga masih dikemukakan dengan bantuan mikrofon buatan antek Yahudi. Jangan berpikir terlampau muluk dengan keyakinan bahwa kita akan bisa keluar dari pendefinisian kaum kapitalis, Teman-teman. Mereka sudah membuat sistem pencengkraman sedemikian rupa yang disebut Gramsci sebagai kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik tersebut bisa dilewatkan melalui kenikmatan dan janji yang diilusikan kepada kita; bisa juga melalui ketakutan kita yang akhirnya mencegah kita untuk keluar dari 'zona nyaman'; atau bisa juga melalui judgement dari orang-orang di sekitar kita apabila kita menjadi alien atau menjadi orang yang bebas dari konstruksi. Memang luar biasa trik dari kapitalis ini, bukan?

Beralih dari definisi kecantikan, artikel Elle tersebut juga membahas mengenai perkembangan fashion seiring dengan definisi kecantikan. Satu hal menarik yang saya dan Ayi simpulkan dari pemaparan artikel tersebut adalah, Barat nggak melulu tentang baju seksi. Yap, kalau Teman-teman masih menganggap wanita Barat itu sungguh adalah makhluk yang akan paling dikutuk karena feminismenya mengajarkan keterbukaan pakaian sebagai eksplorasi atas kebebasan tubuh, oh plis, ralat pemikiran itu karena dari sejarah yang dipaparakan di dalam artikel tersebut terlihat bahwa keseksian perempuan yang kalian kutuk namun secara diam-diam kalian simpan di bawah kolong kasur itu adalah bentukan kapitalis juga. Dosen Gender dan Seksualitas dalam HI saya akan sangat murka kalau kita terus-menerus menyalahkaprahkan feminisme melulu hanya mengenai kebebasan mengeksplorasi tubuh. Pempertontonan banyak bagian dari tubuh perempuan di Barat sendiri baru marak dilakukan mulai Perang Dunia II sekitar tahun 1939. Itu pun bukan timbul dari keinginan si perempuan untuk memperlihatkan bagian tubuhnya. Buktinya, pada tahun bahkan abad sebelumnya, baju perempuan di Barat selalu bergaya Victoria yang berlengan panjang dan ber-rok panjang. Ya memang, sih, meskipun menggunakan baju panjang, tapi bagian pinggang tetap ketat dan payudara ditonjolkan, tapi itu juga berkaitan dengan kaum kapitalis yang ingin menonjolkan titik-titik definisi kecantikan. Nah, dari situ hal yang bisa kita lihat adalah Barat juga pernah kok mengonsepkan baju tertutup.

Fashion berbaju mini mulai berkembang seiring dengan banyaknya tentara yang dikirim perang.  Apa pasal? Siapa, sih, yang senang dapat tugas ke medan perang? Penanaman nasionalisme bagi para tentara memang oke, mungkin hampir sama dengan penanaman fundamentalisme agama di kalangan teroris. Namun, bedakan dengan teroris yang memang bertujuan sekali jalan sekali mati, kondisi perang yang berlangsung berhari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun ini dapat memicu stres. Tidak ada kepastian hidup atau mati; teman yang sekarang kita ajak ngobrol, bisa saja dua jam kemudian mati di depan mata kita; istri yang diambil tetangga karena si istri berpikir bahwa tidak ada kepastian hubungan dengan tentara; rindu anak; dan sebagainya. Kondisi yang dihadapi oleh tentara perang ini merupakan kondisi berat bagi seorang tentara yang secara politis hak-hak kemanusiaannya seperti berkeluarga dan hidup damai telah ditukar dengan kelangsungan hidup negara, namun secara manusiawi, khususnya dalam hal biologis, nilainya sebagai manusia yang berkebutuhan untuk menyalurkan kebutuhan seksual tidak hilang. Kondisi tersebut yang dilihat kaum kapitalis dan didukung oleh negara untuk mengembangkan terobosan penyemangat para tentara. Mulai pada masa ini mulai berkembang wanita-wanita yang didandani secara minimalis kemudian dipotret dan dijadikan poster penyemangat bagi para tentara yang bertugas di medan perang dengan tujuan membuat tentara nyaman berada di dalam kondisi penuh ketegangan perang, 

Melihat respon yang baik dari para tentara, kaum kapitalis kemudian melihat lahan basah. Ekspansi pasar pun dilakukan. Gadis-gadis berbaju imut pun menjadi komoditas yang bisa digunakan untuk menjaring pasar dari manusia berjenis kelamin pria. Hal inilah yang kemudian berkembang hingga masa kini dan menyebar ke seluruh dunia. Takhanya sampai di situ pekerjaan tangan kapitalis. Untuk menciptakan produk-produk yang lebih banyak, kaum kapitalis juga harus merangkul perempuan. Kaum perempuan harus dibuat suka dan rela, bahkan berebut untuk menjadi gadis-gadis imut penghias dinding kamar dan peralatan elektronik laki-laki. Muncul pemahaman bahwa cara untuk menjadi perempuan yag sempurna adalah dengan menjadi perempuan yang diinginkan laki-laki. Agar perempuan itu diinginkan laki-laki, perempuan harus memiliki hal yang dikritisi Bu Junita sebagai 5B, yakni beauty, brain, behavior, booty, dan boops. Dua hal yang disebut terakhir yang menjadi poin penting penilaian laki-laki. Dengan hal tersebut, kaum kapitalis berhasil menggiring perempuan untuk berbondong-bondong menata dirinya sesensual mungkin di hadapan laki-laki dan mengharap banyak laki-laki takluk padanya. 

Hal yang jelas-jelas menjajah perempuan tersebut tentu akan menyulut penolakan perempuan lain yang merasa dirinya sudah tersadarkan dalam gerakan feminisme. Mengakali hal tersebut, kaum kapitalis pun tidak menyerah. Pengeksplorasian tubuh kemudian dikatakan sebagai tindakan kebebasan perempuan. Hal tersebut pun kemudian diidentikkan dengan feminisme. Hmmmmm, sungguhlah memang cihuy sekali kaum kapitalis ini.

Eh, tapi tunggu dulu, saya juga mau menambahkan hal lain. Di Indonesia, khususnya di Bandung dan lebih khusus lagi di lingkungan sekitar saya, fashion yang sedang berkembang adalah busana muslim. Nah, bila melihat penjelasan saya yang menyebutkan bahwa baju mini sesungguhnya adalah buatan kapitalisme untuk mendapatkan pasar, lalu apakah busana muslim adalah bentuk kontras dari busana mini ala kapitalis atau dengan kata lain busana muslim bebas dari cengkraman kapitalis? Saya rasa tidak ada satu hal di dunia ini yang luput dari kuasa Allah dan kelicikan kaum kapitalis. Busana muslim pun sudah mulai ditunggangi oleh kapitalis. Tidak semua baju muslim, tentunya. Apabila kita menggunakan busana muslim secara fungsional atau murni sebagai baju muslim, baju muslim yang kita pakai tesebut masih memenuhi kriteria tulus lillahi taala. Namun akan berbeda tentunya jika kita menggunakan baju muslim dengan berbagai aksesori yang berlebihan dengan tujuan tetap tampil gaul meski berbaju muslim. Pertama, kita nggak lillahi taala dan belum ikhlas benar menggunakan baju muslim. Tujuan inti dari baju muslim untuk menutupi aurat dan demi mengabdikan diri pada Allah terdistraksi oleh keinginan manusiawi kita yang tetap ingin terlihat menarik. Kedua, itulah tanda-tanda kekuasaan kapitalis atas diri kita. 

Membaca posting saya ini, jangan salah paham dengan berpikir bahwa saya akan menutupnya dengan himbauan, "Hancurkan kapitalis!!!" atau ajakan masuk ke dalam gerakan politis berhalauan agama atau membangkitkan semangat kaum Marxis. Saya bukan tipe orang yang akan membicarakan hal-hal di luar kemampuan saya. Yang harus saya atau tepatnya kita akui adalah kita nggak akan bisa lepas dari cengkraman kapitalis. Semua definisi hidup kita itu yang membuat ya kapitalis. Ketika kita sadar dan kita ingin memberontak, diri kita sendiri yang akan mencegah tindakan tersebut dengan hal-hal yang sangat common sense, semacam :
  •  Kasus nggak mau pakai pelembab pemutih kulit lagi  => Terus nanti kalau kulit aku jadi kusam dan kering gimana?
  • Kasus nggak mau pakai baju mini lagi => Masa aku table manner besok pakai celana dan kaos aja? Kan nggak pantes. Salah kostum.
  • Kasus nggak mau pakai baju muslim dan aksesoris gaul lagi => Loh, Allah kan juga menyukai keindahan, masa pakai kerudung ala Syahrini aja nggak boleh?
So, saya nggak akan merekomendasikan tindakan apa pun untuk menghalangi cengkraman kapitalisme dari hidup kita. Kita hanya ikan kecil yang pasti kabur juga kalau bertemu ikan paus.


Ark. Des'11.

Ciwalk dan BIP : Representasi Citra Beauty dan Benign dalam Aspek Tourism dan Trade


Setelah Jumat lalu saya mengunjungi BSM, saya jadi kepikiran untuk mengunjungi mal-mal lain yang berada di Bandung. Sama sekali bukan untuk belanja, kok (errrr...tapi sempat membeli beberapa-suatu juga sih akhirnya). Saya lagi latihan menangkap citra-citra brilliance, beauty, benignity di mal supaya nanti kalau saya turun observasi lapangan di Singapura buat skripsi saya, saya nggak grogi lagi. Haha. Selain itu juga saya lagi menguji coba kamera hape saya apakah bisa digunakan sebagai alat kunci perekaman objek. Apa pasal? Pasalnya adalah kamera digital saya rusak dan kayaknya sayang aja kalau saya beli kamera digital baru. Nah, dalam melaksanakan uji coba tersebut, untuk menghindari niat belaka tanpa ada eksekusi, akhirnya pada hari Senin yang siangnya cerah dan sorenya hujan, saya pun melangkahkan motor ke Cihampelas Walk dan Bandung Indah Plaza setelah saya mengunjungi Kantor Pajak Majalaya di Jalan Peta. Sempat hujan deras dan jaket saya basah kuyup (termasuk juga sayalah tentunya), tapi hal tersebut tidak mengurangi kegigihan saya. Asek. Saya memulai petualangan mal pada pukul 16.30 hingga pukul 21.00. Kenapa lama sekali? Karena pada prinsipnya janganlah menyia-nyiakan perjalanan Anda tanpa menoleh-noleh Fitting Room.

Cihampelas Walk
Bangunan utama Ciwalk


Terletak di bilangan yang sudah terkenal seantero Indonesia sebagai pusat jeans dan sempat menjadi pusat turisme Bandung, Cihampelas Walk dibangun untuk melengkapi wisata belanja di sepanjang Jalan Cihampelas yang sejak saya TK sudah membuat saya ternganga karena keunikan bangunan-bangunannya. Menjadi cantik dan unik secara desain pun merupakan keharusan bagi Mal Cihampelas Walk. Citra beauty atau elok atau secara lengkap disebutkan Ruth Lorand dalam Aesthetic Order : A Philosophy of Order, Beauty, and Art sebagai bentuk abstrak yang dalam representasi materialnya mengandung nilai-nilai estetik dan mampu menciptakan kesenangan, kekaguman, dan pengidolaan di benak subyek yang mengamatinya pun saya temukan di beberapa sudut mal ini, terutama di ruang terbukanya. 


 Saya melihat beberapa hal yang mendorong kentalnya citra beauty di Ciwalk. Pertama karena Ciwalk harus bersaing menarik kunjungan wisatawan yang menyambangi toko-toko jeans di sekitarnya. Di kawasan Cihampelas, meskipun Ciwalk menjadi the only one mall, bukan berarti Ciwalk tidak memiliki saingan. Dalam hal ini, kita harus melihat Ciwalk tidak sebagai mal, tetapi sebagai toko yang menjual komoditas yang berada di kawasan turisme. Dibandingkan dengan toko-toko jeans di sekitarnya, Ciwalk tidak memiliki keunikan komoditas yang dijual. Ciwalk memang memiliki J.Co, Yogya Department Store, Adidas, Elizabeth, dan toko-toko bermerk lainnya, tetapi toko-toko seperti itu juga bisa ditemui para turis di wilayah asalnya. Selain itu, komoditas di Ciwalk juga dijual dengan harga yang standar alias di seluruh Indonesia atau singkat cerita, tidak ada harga atau promosi khusus bagi para pengunjung mal. 

Dengan minimnya keunikan, baik dari segi komoditas maupun harga, sementara pada dasarnya turis melakukan kegiatan turisme karena adanya dorongan ingin mencari sesuatu yang otentik dan unik, bagaimana Ciwalk dapat bertahan apabila Ciwalk tidak mengeksplorasi  citra beauty? Melalui citra beauty, Ciwalk dapat menunjukkan keunikannya dibanding toko-toko di sekitarnya. Dari beauty juga Ciwalk mengimpresi benak para pengunjungnya. Setelah pengunjung terimpresi kemudian tetarik menelusuri sudut-sudut Ciwalk, baru kemudian pengunjung diajak untuk menikmati komoditas yang dijual di Ciwalk. Pada proses penjualan komoditas di dalam Ciwalk, saya rasa Ciwalk menyerahkan sepenuhnya kepada para pemilik gerai. Tidak ada koordinasi khusus seperti adanya kartu anggota Ciwalk yang bisa dijadikan kartu diskon di gerai-gerai di Ciwalk.  
Kedua, kesatuan tema dengan bagunan-bangunan toko di kawasan Cihampelas menjadi alasan juga bagi Ciwalk untuk menjadi mal yang cantik. Sebagai bangunan yang terletak di kawasan yang bertema unik, tentu Ciwalk juga harus berada di dalam tema agar tidak menjadi alien. Kelebihan Ciwalk pada poin ini adalah sebagai mal, Ciwalk memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk mempercantik diri dalam tema tertentu sesuai dengan perayaan terdekat. Ciwalk pun memiliki banyak wajah yang bisa dinanti-nanti oleh para wisatawan. Dalam perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini, misalnya, kita bisa menikmati elemen estetik Ciwalk sejak kita masih berada di luar bangunan mal Ciwalk. Di ruang terbukanya yang luas, kita dengan mudah menemukan lampu-lampu Natal yang dirangkai di pepohonan, boneka salju lengkap dengan elemen-yang-saya-nggak-tahu-namanya-apa-tapi-bentuknya-seperti-tongkat, dan tentu saja pohon Natal yang besar lengkap dengan bintang-bintang cantiknya yang dengan mudah menarik perhatian pengunjung untuk berfoto di dekatnya. 




Melangkah ke pintu masuk utama Ciwalk, kita akan menemukan representasi citra beauty yang lebih total dengan adanya empat pohon Natal yang lagi-lagi lengkap dengan saya-nggak-tahu-namanya-apa-tapi-bentuknya-kayak-tongkat dan boneka santa serta rusa. Sebenarnya citra beauty dari penampilan tersebut sudah bisa kita temukan sejak kita berfoto di tiga obyek yang tadi saya sebutkan. Saya jadi melihat bahwa ketiga obyek tadi merupakan spoiler atau teaser atau cuplikan kecil dari citra beauty yang ingin ditampilkan Ciwalk. Representasi citra beauty yang utama berada di pintu masuk utama Ciwalk. Dari spoiler-spoiler yang ditampilkan di ruang terbuka Ciwalk, pengunjung digiring untuk menemukan representasi beauty utama dari Ciwalk. Uniknya lagi, berbeda dari mal-mal pada umumnya yang menampilkan citra beauty pada ruang dalam, Ciwalk menampilkannya pada ruang luar. Tema Natal pada ruang dalam Ciwalk hanya berupa lampu-lampu bergaya Natal yang menggantung. Nah, bila kita proyeksikan penampilan ruang luar Ciwalk ke ruang yang lebih luas di sekitar Ciwalk, yakni di kawasan Cihampelas, Ciwalk pun menjadi serupa dengan toko-toko lain di Cihampelas. Bukankah hampir semua toko di kawasan Cihampelas menonjolkan eksterior yang menggoda? Ada yang menampilkan Aladdin, Superman, bahkan kapal. Jejak-jejak khas Cihampelas ternyata masih menempel di Ciwalk yang notabene adalah mal, yakni toko yang mencoba berbeda dari toko-toko tradisional yang berada di Cihampelas. Dari keberadaan penampilan pintu masuk utama bertema Natal, Ciwalk ternyata masih satu tema dengan toko-toko di  Cihampelas.


Bandung Indah Plaza









Bandung Indah Plaza atau BIP merupakan mal tertua di Bandung yang sudah berdiri sejak tahun 1990 dan bahkan menurut bandungtourism.com sempat menjadi ikon belanja di Bandung karena sebelum BIP berdiri, orang Bandung hanya mengetahui konsep department store dan pasar swalayan. Terletak di Jalan Merdeka yang dekat dengan Alun-alun serta sekolah-sekolah terbaik Bandung, BIP pun selalu menjadi dibanjiri pengunjung yang kebanyakan berasal dari warga lokal.

Menjadi mal yang kebanyakan dikunjungi oleh warga lokal sekaligus menjadi ikon belanja tertua di Bandung membuat BIP berbeda dari Ciwalk yang mengeksplorasi citra beauty dalam aspek tourism. BIP dalam kacamata saya merupakan mal fungsional yang hanya bisa dilihat sebagai ruang perdagangan atau trade. BIP seolah bersepakat dengan warga Bandung bahwa BIP adalah tempat untuk berbelanja saja atau maksimal tempat bertemu/berkumpul dengan kawan. Dengan adanya 'kesepakatan' yang diamini secara tidak sadar tersebut, BIP seakan mendapat jaminan bahwa pengunjung yang mendatangi BIP hampir pasti akan mengeluarkan uangnya untuk membeli sesuatu atau banyak-suatu. BIP pun tidak perlu membuang banyak dana untuk mempercantik dirinya sebagaimana Ciwalk untuk menarik kunjungan dan pembelian. 

Nilai yang terkandung dalam BIP tersebut kemudian menggiring karakteristik BIP yang kita temui sekarang. Pertama, gerai-gerai di BIP merupakan gerai yang populer di mata masyarakat dan memiliki harga yang terjangkau. Keberadaan gerai-gerai tersebut kemudian menjadikan BIP sebagai mal yang ramah bagi penduduk Bandung. Tidak ada pengklasan sosial di BIP sehingga BIP menjadi ruang perkumpulan bagi masyarakat kota. Kedua, BIP juga merupakan mal yang paling banyak menawarkan diskon. Meskipun BIP juga tidak memiliki kebijakan kartu anggota yang memungkinkan pemberian potongan harga di gerai-gerainya sebagaimana Ciwalk, gerai-gerai di BIP kerap menawarkan diskon, bahkan tanpa perlu didorong perayaan khusus. Kedua hal tersebut membuat saya menyimpulkan bahwa BIP secara khusus mengeksplorasi citra benignity atau yang didefinisikan oleh Alexander Vuving sebagai kesantunan dalam bentuk pertolongan, perlindungan, dukungan, perhatian, penghormatan terhadap kebutuhan dan kepentingan subjek. Diskon yang diperlihatkan melalui banner-banner di depan gerai yang bersangkutan atau secara terkoordinasi diletakkan di tempat-tempat strategis oleh BIP merupakan representasi dari citra benign dari aspek trade yang ditujukan BIP untuk menarik dan mempertahankan konsumsi dari para pengunjungnya.

Usaha untuk mendorong kunjungan dan konsumsi yang terus-menerus dari pengunjungnya juga dilakukan BIP melalui penyelenggaraan live event. Dalam perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini BIP secara khusus menyebarkan pamflet-pamflet serta poster yang berisi jadwal pertunjukan langsung. BSM juga melakukan usaha serupa, sebenarnya, namun promosi yang dilakukan BSM tidak segencar promosi yang dilakukan oleh BIP. Dengan adanya live event sebagai pengganti penampilan visual tema Natal seperti yang dilakukan Ciwalk, BIP ingin menyampaikan pesan perayaan yang vibrant atau hidup kepada para pengunjungnya. Berbeda dari Ciwalk yang berkomunikasi melalui penampilan visual, BIP berkomunikasi melalui audio. Namun demikian, tujuan keduanya sama, yakni mengajak pengunjungnya untuk terlibat dalam perayaan yang mereka buat yang kemudian berujung pada konsumsi. Ya, bagaimanapun juga, keduanya tetap mal yang hidup dari konsumsi para pengunjungnya.




Mal dan Ruang yang Tidak Pernah Kosong Makna

Mal bagi saya merupakan ruang yang paling banyak memuat citra atau yang disebut Daniel J.Borrstin di dalam The Image sebagai profil berupa nilai simbolik menyenangkan yang sengaja diciptakan untuk diperlihatkan kepada publik. Citra yang berasal dari penajaman beberapa hal tertentu yang dianggap dapat menarik perhatian publik diperlukan demi tujuan stand out from the crowd atau menjadi pembeda yang kasat mata sehingga mampu mengantarkan suatu obyek menjadi pemenang persaingan. Mal jelas membutuhkan pengeksplorasian citra, baik untuk bersaing dengan sesama mal maupun untuk bersaing dengan toko-toko tradisional, department store, atau pasar swalayan. Apalagi, beban mal dibandingkan dengan jenis toko lainnya lebih berat karena mal memuat banyak toko yang berusaha menghadirkan konsep one stop shopping.  

Pengeksplorasian citra pun dapat kita temukan di seluruh mal yang ada di dunia, dengan contoh yang paling dekat adalah Ciwalk dan BIP. Sama-sama terletak di Bandung, kedua mal ini mengeksplorasi citra berbeda pada aspek yang berbeda untuk menarik perhatian khalayak meski keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan konsumsi terus-menerus dari pengunjung. Ciwalk lebih mengekplorasi citra beauty dalam aspek turismenya, sedangkan BIP mengeksplorasi citra benign dalam aspek perdagangannya. Dari pengeksplorasian citra yang berbeda tersebut, Ciwalk dan BIP pun memiliki karakteristik yang berbeda meskipun semua mengamini bahwa keduanya adalah mal. 

Kentalnya mal dengan citra-citra membuat mal tidak lagi cukup apabila hanya dianggap sebagai ruang tanpa makna. Bahkan, mal dalam pandangan Margaret Crawford merupakan contoh dari hiperrealitas dan menurut Featherstone merupakan ruang spektakuler yang mengonotasikan kemewahan, impian, dan nostalgia. Pengunjung mal pun dibuat terkesan oleh citra-citra yang terdapat di mal dan digiring untuk tidak bisa membedakan mana citra dan mana realita. Dari kesenangan dan kebiasan yang ditimbulkan oleh citra tersebut, pengunjung merasa betah berada di mal dan tidak berkeberatan menghabiskan lebih banyak lagi uangnya di sana.  Lebih jauh lagi, keberadaan mal malah telah menjadi sebuah syarat bagi kota atau bahkan negara untuk dapat dikategorikan sebagai tujuan/destinasi yang menarik dan patut dikunjungi. Mal pada masa kini telah berkembang menjadi salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam GNC atau Gross National Cool suatu negara :). 



Ark. Des'11

Mal dan Persaingan Reputasi Jakarta, Malaysia, dan Singapura

 




Rabu petang sambil menunggu hujan reda, saya duduk di meja front office Ganesha Cibiru sambil membongkar koran-koran lama. Tidak ada intensi khusus untuk mencari iklan Singapore-mall-shopping di Kompas sebagai bahan skripsi saya, sebenarnya, sampai akhirnya saya menemukan iklan belanja di Mal The Shoppes, Marina Bay, Singapura. Saya jadi tersadar bahwa saat ini adalah bulan Desember, dekat Natal dan Tahun Baru, dan iklan-iklan belanja di mal pasti banyak. Dengan didasari keyakinan bahwa hujan masih akan lama reda, saya pun lebih berkonsentrasi mencari iklan-iklan belanja di koran.


Insecurity
Alih-alih menemukan iklan belanja di mal di Singapura, saya malah menemukan iklan belanja di mal di Malaysia yang dibuat oleh pemerintah Malaysia dan iklan-iklan belanja di mal di Jakarta yang dibuat oleh pengembang mal. Saya jadi berpikir, sudah tenggelamkah mal-mal di Singapura sehingga tidak lagi membuat iklan di media cetak mancanegara? 

Ah, tidak! Saya kemudian meralat pemikiran saya sendiri. Sama sekali tidak. Mal di Singapura tidak tenggelam. Saya teringat perkataan dosen pembimbing saya beberapa bulan ke belakang setelah beliau membaca sebuah buku (yang saya tidak tanyakan judulnya apa, tapi sepertinya buku Simon Anholt) yang mengatakan bahwa negara-negara yang sudah mantap akan reputasinya cenderung abai terhadap promosi besar-besaran. Dari situ saya menyimpulkan bahwa justru minimnya iklan yang dibuat oleh Singapura di media cetak mancanegara menunjukkan bahwa Singapura sudah mantap. Hal tersebut berbeda dari Malaysia dan Jakarta (Indonesia) yang memang baru membangun reputasi kemenarikan melalui mal pada awal milenium baru ini. Tanpa perlu mengiklankan diri pada saat ini, Singapura sudah memiliki reputasi yang kuat sebagai Negara Surga Belanja, sebuah reputasi yang menurut Brenda S. Yeoh sudah sengaja dibangun sejak dekade 1980-an ketika modernisasi sedang marak di Singapura sehingga mau tidak mau Singapura kehilangan aroma orientalnya. Sejak pengusahaan reputasi Surga Belanja tahun 1986 tersebut, Singapura sudah menjadi rujukan pertama di benak hampir seluruh masyarakat Asia, khususnya Asia Tenggara dan Timur, yang ingin berbelanja atau sekedar menikmati atmosfer urban. Dalam Country Brand Index yang datanya dapat diakses melalui www.futurebrand.com, dari kelima aspek yakni Value System, Quality of Life, Good for Business, Heritage and Culture and Tourism, Singapura menempati posisi 16 dari 113 dan menjadi nomor satu di kawasan Asia Tenggara, mengingat posisi Thailand di urutan 26, Malaysia 43, Vietnam 59, Indonesia 76, Filipina 78, Laos 80, dan Kamboja 83. Selain itu, menurut City Branding Index terbaru yang dikeluarkan oleh Simon Anholt, Singapura menempati ranking pertama di benak orang Cina dan India, ranking sepuluh di benak orang Jepang, dan ranking empat di benak orang Korea Selatan dalam hal kemenarikan tempat. Sayang, Anholt tidak melakukan survey juga bagi Kuala Lumpur dan Jakarta sebagai perbandingan dengan Singapura. Namun, dari data yang disajikan Anholt tersebut dapat kita simpulkan bahwa Singapura sudah memiliki reputasi yang kuat dalam hal kemenarikan. Selain itu, meski Singapura tidak gencar mengiklankan mal-nya di media cetak mancanegara, Laporan Turisme Tahunan Singapura masih menunjukkan bahwa pada tahun 2010 lalu Singapura masih dikunjungi oleh hampir sebelas juta turis internasional dan belanja merupakan aktivitas terbanyak yang dilakukan oleh mereka yang datang ke Singapura. Belanja jugalah yang menjadi sumber pemasukan utama bagi turisme Singapura.

Namun kemudian, apakah dengan kemantapan Singapura dalam hal reputasi maka Singapura benar-benar diam saja? Tidak sama sekali. Tahap yang saat ini dijalani Singapura bukan lagi tahap promosi, melainkan tahap penguatan. Penguatan yang dilakukan Singapura juga sudah beranjak dari penguatan dalam hal citra pada iklan menuju penguatan pada hal kasat mata. Keith Dinnie dalam City Branding menyebutnya sebagai usaha pembuktian. Setidaknya terdapat dua usaha yang saya lihat sebagai usaha pembuktian, yakni Orchard Redevelopment dan penyertaan mal di hampir semua kawasan turisme Singapura. 

Orchard Redevelopment merupakan program yang dijalankan bersama antara Singapore Tourism Board (STB), Urban Redevelopment Authority (URA), Land Transport Authority (LTA), dan National Parks Board (NPB) sejak tahun 2007 hingga tahun 2009. Orchard Redevelopment mencakup pemercantikan trotoar Orchard Road dari segi taman, fasilitas pejalan kaki, dan tata lampu sehingga trotoar Orchard Road menjadi lebih lebar, hijau, menyala, dan menghibur, serta menghadirkan mal-mal dan hotel-hotel baru yang menakjubkan, baik dalam hal desain maupun tenant.  Melalui Orchard Redevelopment, Singapura seolah meyakinkan dengan manis kepada para pendatang setianya bahwa Singapuralah kiblat bagi dunia shopping. Malaysia, Jakarta, atau bahkan Bangkok bisa saja memiliki mal atau one-stop-shopping dalam jumlah yang banyak, namun hanya Singapuralah yang menyediakan one-stop-region bagi dunia shopping. Apalagi, brand ternama dunia fashion juga banyak yang hanya membuka gerai di Singapura. Atau, brand tersebut juga membuka gerai di negara tetangga Singapura, namun dengan fasilitas, pemandangan, dan koleksi yang lebih menggiurkan di Singapura.

Kedua,  meskipun 2,2 km Orchard Road telah diisi oleh lebih dari 50 mal, kita juga masih dapat menemukan mal di kawasan wisata Singapura lainnya. Sebut saja Chinatown, Bugis, Little India, Singapore River, Marina Bay, Pulau Sentosa, Jurong, dan sebagainya. Dari banyaknya mal yang tersebar secara merata di seluruh kawasan Singapura, hal apa lagi yang ingin ditekankan Singapura selain sebagai Negara Surga Belanja?  


Mengejar Reputasi
Melihat mal yang semakin mantap di Singapura dan melihat keberhasilan Singapura dalam menciptakan pendapatan turismenya 'hanya' dari kegiatan belanja, Malaysia dan Indonesia sepertinya mencoba mengejar. Apalagi, mal juga tidak hanya bisa dilihat sebagai ruang berkegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai ruang pembuktian akan keberadaan modernitas. Dengan adanya mal ketimbang hanya pasar tradisional, suatu kawasan akan dipandang sebagai kawasan yang modern dan mengikuti tren. Selain itu, karena barang-barang di mal dibatasi pada barang-barang yang memiliki brand dan tentu dipasang harga mahal, keberadaan mal pun menjadi indeks bagi keberadaan masyarakat berada yang makmur. Dengan adanya makna demikian, negara-negara pun lebih suka menunjukan mal daripada menunjukan tradisionalitas, terlebih apabila negara tersebut sempat dicap sebagai negara yang 'eksotis' yang bermakna belum terlalu modern. Pembangunan mal beserta promosi mal dalam destination branding-nya pun menjadi kebutuhan untuk dapat diakui sebagai negara yang pantas didatangi oleh masyarakat berperadaban modern.