Sepertinya posting kali ini agak berbahaya dan bisa menimbulkan salah interpretasi, jadi mohon disiapkan tisunya yang banyak *lohhh. Posting kali ini berkaitan dengan wacana yang saya temukan di soal ujian SPMB tahun 2010 kode 346 yang menurut saya bias gender. Nggak hanya dari isi teksnya, tetapi juga dari soal dan jawaban benarnya. Rasanya menemukan teks dan soal yang isinya bertabrakan dengan pandangan saya tapi saya harus bersikap netral karena teks itu adalah teks ujian yang harus disampaikan dengan seada-adanya jawaban wih berat sekali. Untungnya itu teks terakhir jadi saya betenya nggak kelamaan. Oke, ini dia teksnya dan tulisan yang saya tebalkan adalah framing yang saya pikir bias gender:
"It is common knowledge that as women get older, pregnancy becomes a riskier enterprise. Advanced maternal age is linked to a number of developmental disorders in children, such as Down's syndrome. Now, a study has confirmed that older mothers are more likely to give birth to a child with autism, too. The authors of the epidemiological study, published February 8 in Autism Research, examined the parental age of more than 5 12,000 children with autism and nearly five million "control" children between 1990 and 1999, all living in California. The researchers found that mothers over 40 had a 51 percent higher risk of having a child with autism than mothers 25 to 29, and a 77 percent higher risk than mothers under 25.
Autism-a developmental disorder characterized by impaired social interaction" and communication appears to be on the rise. The U.S. Centers for Disease Control and Prevention now estimates that as many 10 as one in 110 children in the U.S. has an autistic spectrum disorder-a group of developmental disorders including autism, Asperger's syndrome and pervasive developmental disorder. The prevalence of autistic spectrum disorders in California in 2007 was 12 times that from 1987, representing an average annual growth of 13 percent, according to a report from the California Department of Developmental Services. Only a fraction of these extra cases can be explained by changes to diagnostic criteria and earlier diagnoses.
15 Maternal age is also increasing in the USA. California-based study reported a three-fold increase in the number of births to women aged 40 to 44 between 1982 and 2004. But this trend toward delayed childbearing accounted for less than 5 percent of the total increase in autism diagnoses in California over the decade, according to the study-a finding that surprised Janie Shelton, a doctoral student in University of California, Davis's Department of Public Health Sciences and the study's lead author. "I would have expected to see 20 more of a contribution, because age is a risk factor and women are having kids later," she says. Earlier work had suggested that both maternal and paternal ages are independently associated with autism risk. But the current study found that paternal age is only a risk factor when the mother is under 30."
Lalu ini soal dan pilihan jawabannya, yang saya tebalkan itu yang bias gender :
41.ln the text above the writer deals with a topic on ...
(A) prevalence of autism among children.
(B) possible biological causes of autism.
(C) research findings on mental disorders.
(D) maternal age and autism in children.
(E) negative effects of delayed pregnancy.
43. It can be concluded from the text that ...
(A) a big age difference of parents of 40 years or beyond may result in autism.
(B) several mental disorders can be prevented by having kids earlier.
(C) women today show a general trend in delaying pregnancy.
(D) the paternal age only partly explains the case of mental disorders among children.
(E) the case of autism among children remains a mystery among scientists.
44. Which of the following best describes the author's purpose in this study?
(A) To reveal that the case of autism among children is prevalent
(B) To analyse how delayed pregnancy brings about autism
(C) To make the readers aware of the consequence of delayed pregnancy
(D) To refute a common misconception about the cause of autism
(E) To demonstrate that autism is associated with delayed pregnancy
45. From the information in the first and second paragraphs, it can be inferred that ...
(A) developmental disorders in children are close to delayed pregnancy.
(8) modified diagnosis criteria can detect many cases of autism.
(C) many of the children in the US obviously suffer from autism.
(0) Asperger's syndrome is not related in any way to autism.
(E) studies on autism have not successfully revealed its causes.
Poin yang saya buat dari teks dan soal di atas adalah :
Perempuan (ibu) masih menjadi pihak yang paling bertanggung jawab mengenai perkembangan anak, tidak hanya ketika anak tersebut bertumbuh kembang di dunia, tetapi juga sejak anak masih menjadi janin, sementara laki-laki (ayah) hanya menjadi pihak yang sebagian bertanggung jawab.
Perempuan dibuat berada dalam keadaan yang sulit untuk mengambil keputusan, yakni bekerja di luar atau tetap berada di sektor domestik, karena taruhannya adalah masa depan anak yang nanti ia kandung.
Power patriarki yang lahir dari ego laki-laki semakin dikukuhkan dengan knowledge yang dibuat sealamiah mungkin, salah satunya melalui sains yang secara common sense sudah diterima sebagai sumber pengetahuan yang paling sahih.
Oke,mari kita bahas, tapi sebelumnya saya mau bilang bahwa posisi saya di sini hanya sebagai penganalisis. Metode penganalisisan dalam posting ini nonpartisipan dan tidak reflektif jadi jangan tempatkan saya sebagai pihak yang mendukung delayed pregnancy. Jodoh saya belum datang kok jadi kalau nanti saya termasuk dalam golongan ini, itu semua hanya karena suratan takdir, bukan karena pilihan saya ahahahaha. Jangan plis atuhlah ya allah. Tapi kalau misalnya saya segera bertemu jodoh dan saya tidak melakukan delayed pregnancy juga dorongannya bukan karena ketakutan adanya kecenderungan disorder pada anak, melainkan karena sudah takdirnya saya punya anak. Oke masbro?
Hal pertama yang saya sesalkan dari teks di atas adalah cepatnya sang penulis memutuskan bahwa aged pregnancy disebabkan oleh wanita yang memutuskan untuk men-delay pregnancy-nya. Bagi saya, tidak semua aged pregnancy disebabkan oleh keputusan men-delay preganncy. Salahnya lagi, teks tersebut juga kurang lengkap menyebutkan apakah anak-anak yang terkena mental disorder karena dilahirkan oleh ibu yang berusia di atas 40 itu merupakan anak pertama atau anak tengah atau anak bungsu. Bisa saja kan seorang ibu hamil pada usia 40 dan itu bukan kehamilannya yang pertama? Ibu saya dan beberapa ibu teman saya juga melahirkan anak bungsu pada usia 40. Kemudian, bagaimana juga dengan ibu yang sudah lama tidak dikaruniai anak dan baru diberi anak pada usia 40? Apakah aged pregnancy-nya disebabkan ileh pilihannya untuk menunda kehamilan? Posisi saya jelas di sini, bagi saya, aged pregnancy tidak bisa disinonimkan dengan delayed-pregnancy.
Namun demikian, andaikata memang ada wanita yang men-delay pregnancy-nya sehingga ia mengalami aged-pregnancy, apakah itu juga sikap yang salah sehingga harus ditertibkan dengan keberadaan rezim pengetahuan bahwa delayed pregnancy itu mengorbankan perkembangan anak? Pertama ini soal pilihan. Ada perempuan yang memilih menikah dan punya anak, ada pula perempuan yang memilih untuk menyelesaikan dulu keinginan, cita-cita, dan tuntutan sektor nondomestik. Ini juga bukan soal egois tidak egois, tetapi ini adalah cara pandang seseorang yang pasti berbeda dari orang-orang lain. Laki-laki juga sama kok, mereka punya pilihan, apakah menikah atau tidak menikah. Mengapa hanya pilihan perempuan yang dipermasalahkan?
Saya melihat fenomena bermasalahnya perempuan yang memilih untuk tidak atau menunda pernikahan dan kehamilan ini sebagai produk budaya kita, yang tidak hanya terbatas di Indonesia, di Timur, dan di agama-agama, tetapi juga tersebar diamini secara universal. Ya, saya rasa ini hal yang sudah dianut secara universal : perempuan seharusnya manut ada di sektor domestik. Perempuan yang mencoba menghindari kewajiban budaya ini secara otomatis dianggap sebagai perempuan yang salah.
Pengikatan perempuan untuk berada di sektor domestik pun saya rasa sudah dipraktekan sejak lama. Adanya tabu, pamali, cap buruk, dosa mengenai perempuan yang memilih untuk berasa di luar rumah saya yakini merupakan bentuk pengikatan bagi perempuan untuk menjaga rezim patriarki. Namun seiring dengan perkembangan zaman, tentu tabu, pamali, stereotype, dan dosa ini makin terasa tradisionalitasnya sehingga kurang ampuh untuk mengekang perempuan. Lahirlah kemudian knowledge yang berasal dari ilmu pengetahuan yang metodenya disepakati sebagai metode ilmiah yang akhirnya membuat semua pengetahuan yang lahir darinya sebagai pengetahun ilmiah yang obyektif, nyata, sahih, dan benar. Studi-studi mengenai penundaan kehamilan pun bermunculan untuk memberi gambaran apa 'dosa' yang paling faktual dan instan dari penundaan kehamilan, yakni lahirnya anak yang seharusnya suci dan bahagia tapi malah 'berbeda' dari anak kebanyakan yang lahir dari perempuan (ibu) baik-baik yang menurut pada budaya patriarki.
Masalahnya lagi adalah rezim patriarki ini pun tidak hanya didukung oleh laki-laki, tetapi juga dari kalangan perempuan sendiri. Contohnya bisa dilihat pada paragraf terakhir teks di atas.
"I would have expected to see 20 more of a contribution, because age is a risk factor and women are having kids later," she says.
Keberadaan perempuan-perempuan yang memihak budaya patriarki merupakan hal yang penting bagi penguatan budaya patriarki. Mereka akan membuat perempuan lain yang ingin menentang budaya patriarki merasa salah dengan keputusannya. Selain itu, mereka juga adalah contoh dan teladan baik yang akan membuat perempuan yang tidak seperti mereka terdemonisasi secara otomatis. Mereka adalah batas biner antara yang baik dan buruk di dalam grup perempuan.
Saya nggak bermaksud bilang bahwa perempuan yang manut pada budaya patriarki itu jahat dan perempuan yang berani menentang budaya patriarki sebagai pihak yang baik. Saya hanya menyesalkan mengapa harus ada penguatan suatu budaya tertentu yang membuat dikotomi biner antara baik dan buruk. Bagi saya, mustahil bila kita membuat suatu dikotomi dan generalisasi mengenai apa yang baik dan buruk. Setiap orang (perempuan) tentu memiliki pandangan dan pengalaman masing-masing yang sepatutnya bukan dihakimi, melainkan dihormati.
Ini tentang penyerahan hidup kita yang sebenarnya adalah pinjaman kepada Dzat yang meminjamkannya. Ini adalah hal yang terbesar yang ingin diujikan Tuhan kepada hamba-Nya. Ini serupa dengan kebimbangan Ibrahim ketika diminta menyembelih Ismail. Ini sama sekali bukan tentang pembedaan identitas semisal agar kamu terlihat muslim, maka kamu harus memakai busana yang a, b, c, d, e. Menjadi muslim adalah menjadi substansi yang muslim yang tidak terkacaukan oleh citra indrawi dan material. Menjadi muslim adalah menjadi insan yang yang dianggap muslim oleh Allah, bukan oleh sesama manusia. Ini juga bukan tentang apabila kamu memakai a, b, c, d, e maka kamu akan terlihat lebih cantik. Cantik? Cantik adalah terminologi yang sangat manusiawi. Cantik adalah keelokan fisik yang atraktif yang menimbulkan kekaguman dan keinginan untuk memiliki. Bila cantik dijadikan alasan, maka tanyalah pada dirimu sendiri, siapa Tuhanmu? Allah-kah atau laki-laki muslim borjuis kinyis-kinyis di Masjid Sunda Kelapa? Ingat, karena kamu adalah hasil ciptaan Tuhan dan selama hukum masih mengatakan bahwa hak paten kepemilikan dipegang oleh sang pencipta, maka kamu adalah milik Tuhan. Tanpa perlu terlihat cantik di mata-Nya pun kamu sudah dimiliki-Nya.
Ah, ya dan ini juga bukan sama sekali tentang perlindungan. Kamu harus menggunakan busana a, b, c, d, e untuk menjaga dirimu dari pandangan-pandangan hasrati yang meniupkan fantasi-fantasi birahi yang kemudian membuatmu menjadi korban kebejatan laki-laki yang sekaligus diharamkan aborsi. Persuasi tersebut dipenuhi oleh ideologi-ideologi dan kuasa maskulinis yang meletakkan wanita sebagai akar pangkal semua kejadian amoral di dunia ini. Mengamini alasan ini adalah bentuk penyekutuan bagi-Nya. Tentu saja, ketika kamu menggunakan busana a, b, c, d, e demi alasan menjaga tubuhmu dari sekutu busuk alam pikiran laki-laki dan jamahan haramnya, maka kamu melakukannya lebih karena takut dengan sundalnya pikiran laki-laki ketimbang dengan Tuhan yang kamu sembah wajib minimal lima kali sehari. Dan tak hanya itu, kamu juga sedang masuk ke dalam rezim maskulinitas yang mengatur hubungan laki-laki dan perempuan, bukan hubungan agama yang memberi panduan bagaimana berhubungan dengan Tuhan.
Esensi dari busana a, b, c, d, e sebenarnya adalah pertanyaan terbesar mengenai kesangupan kita menjalani hakikat hidup kita sebagai manusia yang tak lain adalah hamba dari Tuhan yang dinamakan Allah. Selayaknya hamba, maka kita diharuskan untuk menghamba memenuhi perintah dari sesembahannya. Selayaknya barang yang kepemilikannya berada di tangan pemilik, maka kita ditanya seberapa sanggup menyerahkan diri dan menjalani hidup sebagai seorang yang mau tunduk dan melepaskan nafsu anarchy yang jumawa dan pongah. Selayaknya makhluk yang nyawanya bergantung pada takdir yang telah digariskan oleh si empunya, kita dituntut untuk menaklukan segala hal lusiferis dari diri kita semisal pongah, sombong, jumawa, berlagak, sok, takabur agar kita menjadi manusia yang benar-benar menjadi manusia. Tapi, ingat, kita hanya ditargetkan untuk menjadi manusia, bukan malaikat. Ketika kita mengalami pergolakan batin untuk menerima dan menjalani proses kita untuk berbusana a, b, c, d, e, itu bukan dosa. Itu alamiah. Itu alamiah karena kita adalah manusia. Manusia yang tak lain sebuah nexus antara setan dan malaikat, yang terus menerus bergulat dalam dialog baik dan buruk. Proses itulah yang nantinya memanusiakan kita. Proses yang bekerja untuk menaklukan kepongahan kita sebagai makhluk yang sempat enggan untuk berserah pada Tuhan dan berada pada fase denial bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Proses yang menggarap kita untuk mengamini bahwa pada akhirnya kita hidup untuk menghamba dan nyawa serta jasad yang kita miliki saat ini bukan milik kita sepenuhnya.
Bagi Tuhan, ketika Tuhan menyeru kita untuk berbusana a, b, c, d, e, bukan karena Tuhan ingin membedakan satu kaum dengan kaum yang lain seolah-olah ada banyak Tuhan di dunia ini. Bukan juga karena tanpa busana itu maka Tuhan tidak bisa membedakan mana kaum A dengan kaum yang lain. Hei, bukankah Tuhan Maha Tahu? Bukankah Tuhan juga Maha Melihat hal-hal substansial? Bukankah Tuhan adalah satu-satunya pihak yang tak mempan dengan citra indrawi? Bukan pula Tuhan menyeru karena alasan mempercantik tampilan. Ah, Tuhan terlalu pencemburu untuk bisa merelakan makhluk yang Dia ciptakan berpaling pada makhluk lain yang juga Dia ciptakan. Tak hanya itu, Tuhan juga bukan ingin mengurangi tindak perkosaan dan pertumpahan darah di dunia. Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Maha Adil? Jika mau, Tuhan bisa saja mengasimkan otak-otak dan penis-penis sundal pria-pria maskulinis itu, tidak hanya menyeru perempuan untuk bertindak preventif. Dari seruan itu, Tuhan hendak bertanya kepada kita, mampukah kita menjadi makhluk yang bernama manusia? Dalam kurun waktu berapa lamakah kita menaklukan lusiferitas kita kemudian menggantinya dengan kepasrahan atas diri yang sesungguhnya sudah tak memiliki kuasa sejak lahir?
Tapi entahlah, mengapa harus perempuan saja yang seruan untuk menghamba-Nya jelas?
Bagaimana dengan laki-laki?
Dengan cara apa mereka harus bermetamorfosis?
Melalui penyerahan diri apa mereka bisa menjadi hamba Tuhan?
Ataukah memang benar ideologi dari segala aspek kehidupan ini adalah maskulinisme?
Dan apakah Tuhan adalah penganut maskulinisme?
Ataukah di sini Tuhan juga dijadikan alat politik pengalamiahan maskulinisme?
Apakah kita sudah hidup di dalam rezim kebenaran yang benar?
Ah, entahlah, tapi saya beriman bahwa Tuhan juga menyayangi perempuan sehingga nanti di akhirat tentu Tuhan akan menghukum laki-laki yang menyebarkan ideologi maskulinisme.
Apa, sih, yang ada di benak Teman-teman kalau mendengar kata PERJUANGAN? Perjuangan kemerdekaan, perjuangan mendapatkan sesuap nasi, perjuangan mengentaskan kemiskinan, perjuangan hidup, hingga perjuangan pergerakan perempuan? Sama nggak, sih, perjuangan sama peperangan? Bagi saya, perjuangan memiliki arti dan citra yang berbeda dari peperangan. Sama kalau kita membicarakan konflik dan perang. Beda tapi kita cenderung menyamakannya dan menjadikannya dua istilah yang bisa saling menggantikan).
Nah, dalam masalah perjuangan yang kali ini saya mau bahas, saya menyesalkan padanan kata perjuangan dengan peperangan. Banyak sekali teman-teman saya atau bahkan Teman-teman pembaca anaksawah yang menjadikan dua kata tersebut sebagai sinonim. Akibatnya ketika kita membicarakan masalah perjuangan, kita harus menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah. Hal tersebut membingungkan. Bahkan dalam perjuangan memperoleh kemerdekaan pun sebenarnya tidak ada pihak yang kalah maupun menang. Seperti ini misalnya, pihak A menuntut kemerdekaan dari pihak B yang menjajahnya, nah kepentingan yang dibawa A bukan kepentingan untuk menjadi pemenang melainkan kepentingan untuk diakui sebagai pihak yang merdeka, bebas dari penjajahan B. Jika dalam perjuangan tersebut A mendapat reaksi keras dari B hingga mereka terlibat dalam adu kekerasan fisik, kita sudah tidak membicarakan perjuangan tetapi membicarakan peperangan. Pada bagian peperangan baru kita bisa membicarakan pemenang dan yang kalah.
Serupa dengan pergerakan perempuan yang kita kenal dengan nama feminisme. Tuntutan-tuntutan yang tercakup dalam semua gelombang feminisme bukan ditujukan untuk mengalahkan dominasi laki-laki sehingga perempuan menjadi pihak yang menang, sebaliknya laki-laki menjadi pihak yang kalah. Bukan itu. Perjuangan feminisme bukan ditujukan untuk memenangkan perempuan atas laki-laki melainkan ditujukan untuk memperoleh penerimaan dari laki-laki atas tuntutan yang diajukan perempuan karena selama ini perempuan merasa terugikan.
Salah Kaprah, Salah Paham, Salah Siapa?
Kesalahkaprahan dalam menangkap gelombang feminisme ini cukup krusial akibatnya. Gerakan feminisme seolah-olah menjadi hal yang begitu menakutkan di mata laki-laki, bahkan di mata wanita sendiri. Malah saya perhatikan kok feminisme dianggap kayak dosa aja gituh.
Dalam diskusi bertajuk Eksistensi Patriarki yang diadakan oleh Departemen Kajian HIMA HI 28 April 2010 lalu ada beberapa pertanyaan yang memperlihatkan kesalahkaprahan ini.
Dunia ini memang diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ada kuat-lemah, tinggi-rendah, baik-buruk, dan lain-lain, kenapa juga kita harus mempermasalahkan ini? Ketika pihak yang lemah telah berhasil menjadi pihak yang kuat, dunia malah jadi tidak seimbang dan tidak ada kerja sama karena semua merasa kuat.
Apa, sih, yang mau dicari sama feminisme postmodern?
Feminisme dengan segala gelombangnya merupakan usaha pencarian kebebasan tapi kebebasan dari apa? Toh ketika kita bebas dari lingkaran A sebenarnya kita juga akan masuk ke lingkaran B. Apakah masih disebut kebebasan jika kita hanya lepas dari konstruksi A padahal sebenarnya kita memasuki konstruksi B?
Oiya, saya jadi ingat pertanyaan kawan-kawan saya, tapi dia nggak ada di dalam diskusi tersebut.
Memangnya apa yang salah dengan sistem patriarki? Masalah kamu apa sama patriarki? Itu kan sudah jadi keseharian kita. Lagipula, apa yang bisa kamu perbuat untuk menggugurkan patriarki?
Salah kaprah dan salah paham, itu kesimpulan saya. Salah siapa itu? Menurut saya, ya salah kita karena kita menyinonimkan perjuangan dengan peperangan, salah kita juga yang terlalu cepat dalam menyimpulkan suatu hal sebagai ancaman.
Dalam pertanyaan pertama, ya saya mengamini seratus persen bahwa kita memang diciptakan untuk saling melengkapi melalui segala kelebihan dan kekurangan kita. Permasalahannya, pertama, biner tersebut tidak dipahami sebagai suatu komplemetasi tetapi malah menjadi sebuah eksploitasi.
Sebenarnya menjadi kuat itu nggak salah serta begitu pula sebaliknya, menjadi lemah pun tidak salah. Kesalahan terjadi ketika yang kuat merasa lebih tinggi dari yang lemah sehingga mereka merasa legal untuk mengopresi dan mengeksploitasi yang lemah. Lebih bodoh lagi ketika si lemah yang tereksploitasi itu nurut-nurut saja. Si lemah yang sayang sekali diidentikkan dengan perempuan ini harus sadar bahwa mereka selama ini diperlakukan secara tidak adil. Mereka ditekan, mereka dieksploitasi, mereka disubjugasi. Mereka harus sadar bahwa pola kerja sama yang terjadi diantara mereka dengan laki-laki tidak berlandaskan pada kesetaraan atas fungsi yang komplementaris tetapi pada dependensi yang mengeksploitasi dan mengopresi.
Loncat ke pertanyaan dari kawan saya yang ngga ada dalam diskusi, itulah yang salah dari sistem patriarki dan itulah masalah yang saya sadari! Itulah keseharian yang selama ini mengungkung, membatasi, menekan manusia tapi kita anggap sebagai hal yang wajar. Kewajaran tersebut juga menjadi masalah bagi saya.
Apa yang akan saya lakukan untuk menggugurkan patriarki?
Nah, salah kaprah lagi kan, tuh. Menggugurkan bagi saya bermakna memusnahkan, membuat hilang, mengalahkan. Nah, rancu lagi jadinya, apa yang mau kita gugurkan? Sistem patriarki? Sistem atau patriarki atau laki-laki atau apa?
Dalam tiga gelombang feminisme, saya juga nggak menemukan keinginan untuk menggugur-gugurkan. Saya hanya melihat keinginan untuk diakui dan diberi hak yang sama seperti laki-laki. Gelombang pertama menuntut hak-hak politik bagi wanita. Jika laki-laki boleh ikut pemilu, kenapa perempuan engga? Perempuan punya pemikiran dan pilihan yang berbeda dari suaminya, dari bapaknya, dari kakak atau adik laki-lakinya, dan dari saudara-saudara laki-lakinya sehingga kurang tepat jika pilihan mereka diwakili oleh pilihan laki-laki. Nah, apakah di situ perempuan-perempuan tersebut meminta supaya laki-laki dicabut hak politiknya? Kan engga.
Lalu gelombang kedua. Gelombang ini menuntut kesetaraan. Ranahnya nggak cuman di politik tapi hampir di semua bidang. Pokoknya perempuan boleh masuk ranah mana aja yang selama ini dieksklusifkan hanya untuk laki-laki. Saya juga nggak melihat suatu tuntutan untuk meruntuhkan. Perempuan nggak masalah tuh dengan kehadiran laki-laki. Nah, apalagi pada gelombang ketiga. Perempuan di sini hanya menuntut pengakuan atas pilihan-pilihan mereka. Kalau saya mau bekerja di luar ya tolong hormati, kalau saya mau jadi ibu rumah tangga ya tolong juga hormati. Pilihan mereka juga tidak didasari pada tekanan apa pun. Ya, mereka memilih karena itulah yang mereka pandang sebagai hal yang terbaik untuk mereka. Apaan yang mau digugurkan? O iya ini juga berarti menjawab pertanyaan nomor dua, yang dicari oleh feminisme postmodernis atau feminisme gelombang ketigaadalah pengakuan atas pilihan-pilihan perempuan.
Nah, kalau masalah gugur-guguran, semaksa-maksanya saya ya paling saya melihat gerakan feminisme ini bertujuan untuk menggugurkan mitos yang selama ini mengungkung perempuan, ehm bahkan mengungkung laki-laki. Nanti kita akan bahas masalah kungkungan terhadap laki-laki itu sendiri. Perempuan sama sekali nggak melihat perjuangan ini sebagai perjuangan menang kalah, tetapi perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang membebaskan mereka dari kungkungan mitos. Mereka nggak menentang laki-laki. Mereka hanya menentang tekanan yang dialamatkan kepada mereka.
Nah, kita sambung ke pertanyaan nomor tiga. Bebas, hmmm, bebas…. Saya, sih, kurang setuju kalau kita mengartikan bebas murni sebagai keadaan tanpa ikatan. Nggak ada bebas yang kayak begitu selama kita hidup di dunia. Bebas bagi saya adalah lepas dari suatu fase yang gelap menuju fase yang lebih terang. Masalah apakah fase yang saat ini kita anggap lebih terang tetapi ketika kita telah masuk ke dalamnya ternyata sama aja gelapnya mah beda lagi. Ya nanti paling kita bakal mencari lagi kebebasan baru lagi.Tapi ini lho kesalahkaprahan dan kesalahpahaman yang pada akhirnya mengungkung kita untuk tetap berada dalam status quo atau zona nyaman yang sebenarnya merugikan kita.
Dalam memandang kebebasan yang dicari oleh feminisme, ya jangan dipahami bahwa perempuan ingin bebas tanpa aturan, tanpa kungkungan lelaki, tanpa ketergantungan kepada laki-laki, bebas tak berakal kayak orang gila, haha. Jangan dipahami seperti itu. Kebebasan yang diperjuangkan oleh mereka adalah kebebasan dari opresi, tindasan, subjugasi, penomorduaan, mitos, dan kewajiban yang sama sekali tidak menguntungkan mereka. Itu saja.
Keluh Kesah
Nah, sekarang pertanyaannya, subjugasi, opresi, eksploitasi, penindasan, dan penomorduaan seperti apa yang selama ini diperjuangkan oleh feminisme untuk dihapuskan dari muka bumi? Coba kita lihat dari empat pernyataan yang sangat menggangu bagi saya.
1.Kamu kan perempuan, Ki. Kalau bisa jangan ambil tema skripsi atau bidang minat mengenai Keamanan, dong. Itu kan laki-laki banget.
2.Nama kamu Riki? Kok kayak laki-laki?
3.Menu malam ini apa, Rik? Kamukah yang masak? Eh, kamu sebagai perempuan harus bisa masak loh.
4.Laki-laki ya harus maskulin. Aneh deh kenapa ada laki-laki kayak di industri hiburan di Korea, Taiwan, Jepang. Mereka itu nggak maskulin.
Empat pertanyaan tesrebut menggangggu sekali bagi saya karena ya aneh aja gituh pada zaman modern dan globalisasi yang telah mengenal Kartini dan internet ini masih ada orang Indonesia yang mengeluarkan pernyataan seperti itu.
Pernyataan pertama merupakan pernyataan yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di telingan saya dan membuat saya kesaaaaaaaaaaaaaaaaaaallllll. Apa korelasi antara saya perempuan dan bidang minat Keamanan? Apa karena ilmuwan Kemanan lebih banyak laki-laki macam Barry Buzan, Ole Weaver, …. ? Apa karena pembahasan Keamanan membutuhkan zat tertentu yang berada di kromosom Y yang nggak saya punyai?Apa karena pidato mengenai Keamanan membutuhkan suara khas jakun? Apa perhitungan mengenai Keamanan membutuhkan bulu kaki yang lebat sementara kaki saya mulus? Jika tidak lalu mengapa saya disarankan untuk tidak mengambil konsentrasi Keamanan dalam studi saya selanjutnya?
Sama halnya ketika saya ditanya kenapa nama saya begitu laki-laki sekali. Pertama, dia cuman tau sepotong doang. Nama saya yang paling belakang juga Putri tapi bukan Riki Putri juga yaaaa. Hahha. Kedua, kenapa kita harus menggenderkan sebuah nama. Riki untuk laki-laki, Rika untuk perempuan. Kata bapak saya, sih, RikianArsyi itu artinya pemimpin seribu pasukan yang memiliki tempat tertinggi, nah arti asli dari nama saya itu kan nggak bergender, pokoknya bapak saya ngedoain saya melalui nama lah gituh. Eh, tapi ketika saya hidup tanpa proteksi seratus persen dari orang tua, ternyata nama saya dicap sebagai milik laki-laki. Ditanya pula kenapa nggak Rika aja. Lah, kalau nama saya jadi Rikanarsyi, artinya udah bukan jadi pemimpin seribu pasukan lagi lah. Apa kita harus mengorbankan arti yang substansial demi sebuah ide gender yang mitos itu?
Lalu pernyataan selanjutanya mengenai perempuan dan memasak, ehm, saya nggak nemu korelasi esensial dari dua variabel tersebut. Korelasinya itu ya korelasi mitos doang. Bagi saya, urusan masak itu berkaitan dengan perut, perut berkaitan dengan lapar, nah kan laki-laki dan perempuan sama-sama punya perut dan sama-sama merasakan lapar, lalu mengapa hanya perempuan yang dibebani urusan memasak? Saya sih di rumah bukannya nggak bisa dan nggak mau masak, tapi di rumah mah ibu saya masak terus, masa saya bikin soto sementara ibu saya udah masak ayam bakar? Nggak efisien.
Eh, serius itu bukan cari alasan. Ketika misalnya ibu saya nggak masak atau ketika saya sendirian di rumah lalu saya merasa lapar, ya saya masak. Saya nggak suka aja kalau saya disuruh memasak dengan alasan karena saya perempuan, saya nanti ngurus dapur, dan saya harus bisa membahagiakan suami. MITOS itu sumpah. Nggak ada jaminan juga kalau saya bisa masak maka saya terhindar dari ancaman cerai. Saya nggak setuju kalau saya harus memasak gara-gara masalah itu. Saya akan memasak kalau kondisinya memang saya harus memasak dan saya rasa saya butuh memasak. Satu lagi, saya juga harus senang untuk melakukan hal tersebut.
Permasalahan masak-memasak ini berkaitan erat dengan pilihan perempuan apakah ia mau bekerja atau mau menjadi ibu rumah tangga. Kita harus menyadari bahwa kedua hal tersebut adalah murni pilihan yang, pertama, tidak memiliki status yang lebih tinggi-lebih rendah, dan kedua, tidak perlu kita ambil kedua-duanya sekaligus. Nah, masalah pilihan itu yang sering menjebak kita. Seperti yang dijelaskan oleh salah satu narasumber dalam diskusi HIMA HI dan tentu juga dapat kita perhatikan dari lingkungan sekitar kita, model perempuan modern ideal, terutama dalam konstruk perempuan itu sendiri, adalah perempuan yang memiliki karir yang cemerlang, nggak gaptek, mobilitas tinggi, seksi dari segi pinggul, bentuk badan, dan dada, berkulit putih serta bebas jerawat, tidak lupa menyiapkan sarapan, baju suami, sepatu suami, sempat masak makan malam, punya anak yang ia kasih ASI setiap hari, yang ia dongengi setiap malam, yang ia antar ke sekolah setiap pagi, serta selalu siap kapan saja dan dimana saja ketika suaminya memintanya untuk melayaninya. Wawwwwww. Sungguh mulia dan hebat sekali perempuan itu yah. Eh, tapi ternyata itu mitos. Saya dapat pencerahan dari dua pernyataan ini,
1.Setiap perempuan dianugerahi gift yang berbeda. Ada yang diberi anugerah untuk dapat membangun keluarga tapi ada pula yang diberi anugerah untuk bekerja. Kita berhak memilih karena bagi saya mustahil kita bisa menjalani keduanya sama maksimalnya. Saya memilih untuk bekerja karena saya rasa saya nggak berbakat dalam membangun keluarga. (Sumber : Sosialita, Kompas)
2.Jadi full-time mother itu susah, lho, Mbak Rossy. Sama susahnya kayak kita bekerja di luar karena selama 24 jam kita harus melakukan banyak deal dengan anak kita. (Sumber : Rossy, Global TV)
Nah, itulah! Saya sebagai perempuan terbebani dengan mitos kalau mau kerja boleh asal jangan lupa kewajiban sebagai ibu! Bagi saya, itu merupakan dua hal yang pada akhirnya nggak akan bisa kita kerjakan secara maksimal. Namun permasalahannya, saya juga masih merasa setengah hati untuk menjadi ibu rumah tangga karena saya takut keputusan saya tersebut, satu, direndahkan karena mitos yang berkembang pada masa kini adalah lebih keren jadi wanita karir, dua, dianggap tradisional sekali padahal ketika misalnya saya memilih menjadi ibu rumah tangga, alasan utama saya adalah karena ingin mendidik anak secara baik, bukan karena ajaran budaya saya. Nah, tapi setelah mendapatkan pencerahan tersebut, saya jadi yakin untuk, satu bekerja semaksimal mungkin mumpung saya masih single, dua, memberikan jawaban yang dapat saya pertanggungjawabkan apakah tetap menjalani karir atau gantung raket sesuai dengan kondisi saya setelah menikah dan melahirkan (jika diizinkan Allah, amin, hehe). Bagi saya, dua jawaban tersebut merupakan aplikasi yang paling riil dari apa yang disebutkan dalam feminisme gelombang ketiga. Itulah yang dinamakan kebebasan untuk memilih.
Pengakuan atas pilihan ini juga sebenarnya seharusnya tidak hanya dirasakan oleh perempuan, tetapi juga oleh laki-laki itu sendiri. Coba lihat pernyataan keempat. Mengapa untuk diakui sebagai laki-laki, maka makhluk berpenis tersebut harus memiliki sifat maskulin? Kayak apa maskulinnya? Kalau saya Tanya ke teman-teman saya, ya pikiran mereka mengatakan bahwa maskulin itu gagah kayak James Bond, garang kayak preman pasar, gede kayak Rambo. Nah, jawaban mereka mencirikan bahwa mereka terkungkung pada mitos maskulinitas. Emang salah gitu kalau dia metro abis? Salah gitu kalau dia kyut (cute) kayak bintang film Asia?
Ada begitu banyak pilihan sebenarnya untuk hidup di dunia ini. Rugi banget kalau kita hanya terpaku pada satu pakem yang sebenarnya juga bikinan manusia yang didapat dari hasil kontemplasi juga. Ketika laki-laki berdandan ala James Bond dengan berbadan Rambo, ya biarin aja emang itu udah style yang membuat dia nyaman. Tapi jangan anggap dandanan tersebut lebih superior daripada pria macam Lee Min Ho yang aduhai banget rambutnya lebih jatuh daripada rambut saya dan lebih berani memakai baju pink. Kalau Lee Min Ho lebih nyaman dengan tampilan seperti itu, so what? Apa yang salah? Dia nyaman kok. Di mata mayoritas perempuan Asia Tenggara dan Asia Timur yang menonton aksinya dalam Boys Before Flower pun dia tampak ganteng dan menimbulkan banyak jeritan histeris. Sama hebohnya kayak zaman Bradd Pitt dan Sylvester Stallone. Pertama, setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dan nggak ada yang salah dengan preferensinya, sekalipun preferensi itu ekstrim di luar jangkauan pemikiran kita. Kedua, zaman juga nggak begini-gini aja. Haloooo, zaman itu begitu dinamis. Ada saatnya dimana pemikiran mainstream dipertanyakan dan pemikiran mainstream harus menerima hal itu, baik secara menyesuaikan diri dengan melakukan revisi atau bahkan hilang ditelan zaman.
Pengakuan
Hal-hal seperti itu lho yang sebenarnya dihadapi oleh patriarki dan mitos maskulinitas. Tuntutan pelepasan diri dari opresi, kungkungan, tekanan, batasan, eksploitasi, dan subjugasi yang selama ini mereka pertahankan melalui mitos-mitos yang saat ini sudah tidak sesuai zaman. Tujuan dari penuntutan tersebut juga bukan menang atau kalah melainkan pengakuan. Udah itu aja. Kenapa mereka harus ribet banget, sih, sampai bikin mitos-mitos yang meletakkan pergerakan feminisme dan pertanyaan mengenai maskulinitas setara dengan dosa yang harus diberantas?
Barusan saya nonton Opera Van Java yang Sule-nya pakai kebaya. Bukan nonton juga sih, tadi pas lagi mau ngambil minum kebetulan ngelewatin ruang keluarga terus keliatan deh ada Sule pakai kebaya. Karena saya nggak nonton secara lengkap episode OVJ 21 April ini, saya nggak akan ngebahas kebaya yang dipakai Sule meskipun siapa tau kebaya itu rancangan Anne Avantie feat Dedi Dores. Hal yang akan saya bahas di sini adalah kenapa tanggal 21 April yang menjadi hari kelahiran pahlawan wanita legendaris, ibu kita Ibu Kartini, selalu diidentikkan dengan kebaya, sampai-sampai Sule pun harus pakai kebaya di episode OVJ.
WHY….?
Kartini yang Begitu Menggemparkan
Nggak bisa dipungkiri, saya dan pastinya Teman-teman pembaca anaksawah hidup pada zaman yang memberi kelonggaran kepada perempuan untuk bersekolah dan berkarya. Nah, karena kita terbiasa hidup pada zaman yang kayak begitu, waktu kecil, waktu belum tahu apa-apa soal kesetaraan gender, pernah nggak sih kita mempertanyakan, “Emang Kartini hebat di bagian mananya sampai buku Habis Gelap Terbitlah Terangnya sangat fenomenal?”
Saya pernah mempertanyakan itu, bahkan hingga SMA. Saya sih dari TK sampai SMA nggak pernah absen ikut upacara dan pawai kebaya tiap Kartinian tapi ya saya nggak pernah dapat esensi, seberapa pentingnya sih Kartini?
Saya akhirnya sadar juga bahwa ternyata Tante Kartini ini sangat hebat! Kesadaran ini begitu menggugah! Sama menggugahnya ketika akhirnya saya mengamini bahwa kunci perdamaian Asia Tenggara adalah ASEAN! Ternyata setelah ditelisik lebih dalam, Kartini adalah sosok orang yang bisa think out of the box dan do out of the pattern!
Kartini dalam benak saya yang baru tercerahkan merupakan sosok wanita yang sangat cerdas. Cerdas karena ia mampu merasa janggal dengan keadaan yang dirasa nyaman-nyaman saja oleh wanita yang hidup sezaman dengannya dan dengan kejanggalan yang ia rasakan tersebut ia mempergunakan otaknya untuk mencari tahu kenapa dan harus apa. Proses pencariannya pun tidak hanya ia lakukan dalam satu kali berpikir. Ketika ia melihat perempuan diperistri hanya sebagai syarat pelengkap status sosial laki-laki tapi perempuan itu malah merasa senang, Kartini melihat bahwa kebahagiaan perempuan tersebut bukanlah murni suatu kebahagiaan melainkan ejawantah dari kepasrahan perempuan kepada laki-laki untuk menjamin hidupnya karena perempuan itu sendiri sebenarnya tidak bisa berjuang untuk hidupnya sendiri. Kepasrahan tersebut merupakan buah dari tekanan yang dialami perempuan yang diturunkan turun temurun dan diwacanakan sebagai kodrat. Hasilnya, ya perempuan begitu-begitu aja. Terkungkung dalam kebodohan dan nggak punya daya untuk keluar dari lingkaran mitos kodrat.
Itulah. Saya kagum dengan Kartini bukan karena ia wanita dari golongan menak yang mau turun ke rakyat dan membangun sekolah untuk rakyat berjenis kelamin perempuan dan digenderkan sebagai feminin. Saya juga bukan kagum karena ketika mengajar ia masih menggunakan kebaya. Oke, mungkin alasan saya kagum terlalu masuk ke golongan Naïve Deductive Theory, tapi nggak apa-apa lah, daripada saya bilang saya kagum dengan atribut kebaya Tante Tini. Kekaguman saya kepada Kartini lebih didasari pada pandangan saya yang melihat bahwa Kartini merupakan orang cerdas yang mau mempergunakan otaknya secara maksimal. Dari ide yang out of the box, ia mampu membuat sebuah perubahan. Do out of the pattern.
Relasi dengan Kebaya?
Nah, karena saya melihat Kartini sebagai tonggak kemerdekaan berpikir, saya jadi nggak bisa melihat relasi dan relevansi antara kebaya dengan Kartini.
Bagi saya ya itu, kepahlawanan Kartini bersumber dari otaknya, bukan dari kebayanya. Apa sih yang mau kita teladani dari atribut kebaya yang digunakan Kartini? Bukankah memang sudah sewajarnya Kartini mengenakan kebaya karena dia memang putri seorang bangsawan yang pastinya nggak mungkin kalau dia pakai baju kemben dan jarik ala pemeran figuran Tutur Tinular yang jadi rakyat jelata? Dan apakah Kartini menyisipkan pesan khusus tentang emansipasi melalui kebayanya? Saya nggak menemukan pesan khusus mengenai emansipasi dari mitos kebaya itu. Saya melihat Kartini dengan kebayanya yaaaaa sepintas seperti saya melihat saya pakai celana jins pas kuliah karena udah kultur dan tren berpakaiannya seperti itu. Kalau pun di dalam kebaya itu makna konotatif, makna konotatif tersebut saya lihat tidak ada sangkut pautnya dengan dukungan terhadap emansipasi. Malah saya melihat bahwa kebaya merupakan hal yang kontroversi dengan pemikiran Kartini!
Pertama, kebaya beserta sanggulnya merupakan simbol keningratan. Nggak semua orang bisa membeli kebaya dan memakaianya secara lengkap beserta sanggul dan selop setiap hari, kan? Nah, di sini saya melihat kebaya sebagai symbol keningratan. Dengan status itu, maka kita melihat sebuah pembeda atau ketidaksetaraan antara wanita itu sendiri. Dengan kebaya beserta sanggulnya yang rapi itu, Kartini tetap bertindak sebagai menak yang derajatnya lebih tinggi daripada rakyat yang ia ajar. Melalui kebaya tersebut malah Kartini menindas kultur wanita yang berkultur rakyat jelata. Ya, memang, Kartini dengan hasil pengamatan dan perenungannya memang menyimpulkan suatu penindasan yang dialami perempuan dan berkeinginan untuk memupus semua itu. Tapi permasalahannya, pandangan tersebut terlalu subjektif. Terlalu berpusat pada dirinya. Ketika Kartini membuat suatu wadah untuk mengentaskan perempuan dari penindasan, ia membuat metode yang benar dan tepat menurut dirinya, menurut kelasnya, tanpa melepaskan atribut keningratannya. Ia tidak melepas kebayanya lalu menggantinya dengan penampilan yang lebih merakyat, yang lebih bisa menyentuh dan mewakili penindasan yang dialami mayoritas perempuan rakyat jelata. Kartini tetap dengan kebaya tersebut. Kartini tetap melihat keadaan perempuan dari kacamata ia sendiri, yang ia rasa janggal dan harus dientaskan.
Kedua, kebaya menuurut saya adalah symbol pembatas bagi perempuan yang justru disematkan sebagai symbol keanggunan dan kebanggaan bagi perempuan. Keanggunan dan kebanggaan itu mitos! Ada makna konotatif lain di dalam kebaya. Saya sering mendengar ucapan manis dari banyak narasumber yang disiarkan oleh media massa bahwa kebaya dan jarik sebenarnya tidak membatasi gerak kita, perempuan. Ya, secara kasat mata memang demikian. Kita masih mungkin kok jogging pakai kebaya, itu kan hanya masalah pengikatan jarik dan model kebayanya saja bagaimana. Tapi, masalahnya bukan dari signifier tersebut melainkan dari signified atau ide dari alat budaya tersebut. Dengan menggunakan kebaya, meski kita masih bisa ikut terjun payung atau rock climbing, kita terikat oleh ide bahwa perempuan yang memakai kebaya itu harus behave supaya terlihat anggun dan memesona.
Nah, terus apa salahnya gituh kalau perempuan nggak terlihat anggun dan memesona? Kita nggak pernah dapat jawaban pasti dari pertanyaan ini. Kalau saya tanya ke nenek saya, nenek temen saya, nenek murid saya, nenek guru saya, dan nenek Teman-teman pembaca anaksawah, jawabannya ga bakal beda jauh walaupun mereka nggak pernah ikutan training kebaya se-Indonesia, “Perempuan itu kalau nggak anggun sulit dapet jodoh…”
Argh! Apakah keanggunan dan keelokan yang saya perjuangkan melalui kaki yang rapat di balik jarik *padahal saya terbiasa jalan ngangkang* dan perut yang sok rata karena stagen *padahal sebenarnya perut saya buncit akibat makan malam* hanya bermuara pada JODOH aka PRIA?
Ini lho yang membuat saya bertanya-tanya kenapa sih kebaya harus kita bawa-bawa ketika kita merayakan kelahiran Bu Tini. Kebaya itu justru controversial dengan emansipasi. Ketika kita terikat dengan ide anggun ketika memakai kebaya, kita terikat pada ketergantungan kita kepada laki-laki sekaligus terikat pada pembatasan bahwa hidup kita nanti akan dibaktikan kepada laki-laki sehingga ngga ada alasan bagi kita untuk memaksimalkan kompetensi hidup kita. Susah amat sekolah toh juga nanti bakal hidup di depan kompor, kalau mau hari tua bahagia, dapatkan pria mapan dengan menjaga keanggunan, pemikiran itu yang tertanam dari balik kebaya. Ketika Kartini membuka sekolah dan mengajar dengan menggunakan kebaya, Kartini juga sebenarnya nggak bebas-bebas amat dalam berpikir karena dia masih terikat pada mitos yang ia anggap day to day life saja. Mungkin yang ada di benak Kartini, “Lha wong baju saya cuman kebaya dan saya terbiasa pakai kebaya terus mau ngapain?”
Tapi justru ini kekurangan Kartini. Kartini ternyata cerdas dalam melihat penindasan tapi kurang jeli dalam melilhat makna konotatif. Kalau Kartini bangun dari kuburnya, semoga Jumat pukul 09.40 dia mau mampir ke kelas Studi Budaya deh.
Dengan poin kedua mengenai kebaya tersebut, saya jadi melihat bahwa kebaya merupakan salah satu alat untuk memperkukuh maskulinitas dan superioritas pria. Ya, kebaya memang bukan pakaian pria, tapi justru dengan pengidentifikasian kebaya dengan wanita itulah laki-laki memperkuat supremasi maskulinitas dan superioritasnya terhadap perempuan. Karena dengan kebaya dan idenya yang membuat kita terbatasi secara gerak fisik dan gerak otak, kita sulit turun tangan ke ranah yang dikuasai pria. Masalahnya lagi, meski saat ini kita nggak tiap hari pakai kebaya, ide mengenai keanggunan ala kebaya itu tertanam dengan kuat di otak kita. Kita terbatasi secara fisik dan mental. Kita terdoktrin untuk menjadi perempuan ala kebaya. Kalau kita nggak jadi perempuan kebaya, jangan harap bisa nikah muda dengan pria mapan yang aduhai. Kebaya adalah kepasrahan dan pengakuan kita secara tidak langsung bahwa kita definitely needs men! Both for money and affection. Kebutuhan kita yang begitu mutlak dan terikat itu justru bertabrakan dengan ide emansipasi, ide kebangkitan. Dan penindasan yang begitu halus tersebut lahir dari sebuah kebaya yang malah kita pakai setiap Kartinian.
Saya Cinta Kebaya, kok, tapi Hanya sebagai Benda Budaya
Ya, di sini saya bukan mau mengatakan bahwa kebaya adalah hal buruk yang harus kita tumpas. Sama sekali enggak. Saya cinta kok sama kebaya. Saya juga suka kalau saya pakai kebaya. Namun, kecintaan saya pada kebaya hanya sebatas pada kebaya sebagai benda budaya. Secara ide, dengan argumentasi yang tadi saya paparkan, sampai saat ini saya menyimpulkan bahwa kebaya adalah salah satu pembatas bagi perempuan yang bersumber dari keinginan pengukuhan maskulinitas dan superioritas pria.
Secara ide, saya kurang setuju dengan pemakaian kebaya pada hari Kartini. Pertama, jelas kebaya adalah salah satu tanda budaya yang tidak disadari oleh Kartini sebagai hal yang berseberangan dengan ide emansipasinya padahal jelas kebaya adalah symbol keningratan dan kepasrahan wanita. Nah, karena itulah di sini harus kita pahami bahwa pengidentikkan kebaya dengan Kartini adalah sebuah salah kaprah. Kartini sendiri sepertinya tidak meninggalkan pesan melalui kebayanya. Ia memakai kebaya sepertinya karena ia nggak ikutan kuliah Stubud pada zamannya. Nah, itu alasan kedua. Kebaya mah jangan dibawa-bawa dalam perayaan hari Kartini soalnya Kartininya juga nggak melihat sinyal bahaya dari kebaya jadi pemikiran dia jangan disangkutpautkan dengan sehelai kebaya dan sehelai jarik.
Nah, kalau melihat fenomena pengidentifikasian kebaya dengan dua puluh satu April, saya jadi mikirnya gini, kayaknya nih kita-kita orang Indonesia senengnya merayakan sesuatu hal secara seremonial, belum secara substantive. Karena Kartini atributnya pakai kebaya, makanya kita bikin karnaval kebayaan biar mirip Kartini. Tapi sebenarnya yang harus kita teladani dan renungi kan bukan kebayanya Tante Kartin, emangnya dia model Anna Avantie dan Dedi Dores.
Yang harus kita teladani dan sempurnakan adalah pemikiran dan semangatnya untuk mengentaskan penindasan, meski ya memang itu masih sangat subjektif dari pengamatannya sendiri sehingga ia mencari metode yang sesuainya sama kalangan dari kelas sosial dia sendiri. Kita tuh sebenarnya tahu masalah ini, tapi kita terlalu senang untuk memvisualisasikan suatu hal yang abstrak melalui simbol-simbol. Tapi salah. Simbol yang kita agungkan sebenarnya tidak relevan dan memliki relasi yang sangat kecil dengan substansi yang seharusnya kita rayakan.
Ini baru dari segi kebaya. Belum dari segi kenapa harus tanggal 21 April? Itu kan ulang tahunnya Kartini. Apa hubungan antara hari ulang tahun dengan pemikiran seseorang? Kenapa kita nggak merayakan hari Kartini pada tanggal ketika Kartini membuka sekolah untuk perempuan atau ketika buku Habis Gelap Terbitlah Terang terbit dan menggugah hati manusia lain yang hidup sezaman dengannya? Kenapa sih harus 21 April? Kurang mengenai sasaran menurut saya.
Yah, begitulah. Jadi bingung mau ngomong apa lagi. Saya kagum terhadap pemikiran Kartini, bukan terhadap kebayanya. Namun bukan berarti pula saya ingin membinasakan kebaya sebagai benda budaya, saya cuman pengen ide yang melekat di kebaya itu memudar seiring dengan perkembangan emansipasi.
Saya sadar bahwa ini adalah tema yang sangat sensistif, terutama lagi postingan ini berusaha mengungkap kebenaran *hahhaha* yang biasanya akan sangat menyakitkan kalau kita mengetahuinya. Ya ya ya ignorance is bliss memang ada benarnya. Kadang kita lebih memilih untuk nggak peduli dan nggak berkeinginan untuk mendobrak jeratan-jeratan sosial yang mengungkung kita. Oke, dalam posting kali ini bahasan yang saya angkat adalah keseksisan dan kediskriminatifan yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurun waktu beberapa abad, dekade, atau bahkan tahun lalu, hal-hal inilah yang kita hirup. Sangat nggak sehat sih kalau kata saya. Kenapa? Nah, ini alasan kenapa Teman-teman harus menyelesaikan bacaan ini.
Judul di atas merupakan kutipan dari pernyataan dosen saya, Bu Junita, dalam balas-membalas komentar status facebook beliau,
Junita BeeRMasalahnya kenapa hanya menohok wanita?! Laki2 pun yg pas untuk teman pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chit chat yg snob, merokok dan kadang mabuk - tidak mungkin direncakanan jadi suami !!
Tak hanya itu, saya pun secara langsung sering ditohok oleh pernyataan-pernyataan yang….hmmm, mungkin bagi Teman-teman yang tradisional dan mainstream, pernyataan yang nanti saya ceritakan adalah pernyataan kodrati, tapi bagi saya, hmmmmm….pernyataan tersebut nggak masuk akal. Yang paling baru ituh terjadi dalam percakapan YM antara saya dan oknum AG yang berjenis kelamin laki-laki dan jika dilihat dari tohokannya, maka dipastikan ia adalah penganut patriarki tradisional yang sangat primitif.
AG : -----------*sensor, ini basa basi yang tidak ada kaitan dengan posting*
Saya : --------*masih sensor*
AG : Jangan lupa ya kalo nikah undang saya!!
Saya : Buseeeeeeet, masih lama meureun, pacar pun tak punya..Haha…kamu aja kali yang udah mau nikah…
AG : Eh kok gitu? Jangan gitu, inget umur kamu udah 21..
Saya : Lah, MASIH 21…kenapa emang sama umur 21..?
AG : Kamu harus mikirin nikah…
Saya : Buset
AG : Eh iya loh, serius. Gini deh, kamu itu udah masuk umur 21 jadi harus mulai mikir ke arah sana, inget kamu itu nanti bakal jadi ibu
Saya : Hmmm
AG : Kamu sekarang jangan terlalu sibuk sama aktivitas kamu, kamu jangan sampai melupakan peran kamu sebagai ibu….
Saya : Yaoloh, ni baru juga masuk semester 6, mikir skripsi aja belom, masa mikirin nikah…..
AG : Tapi umur kamu kan udah masuk umur 20-an
Saya : Ya kan baru 21…lagian juga belom ada pria yang datang..hahhaha
AG : Gimana kalo dia udah dateng tapi ternyata kamu tolak?
Saya : Lah, kalau akunya nggak ada rasa apa-apa dan dia nggak baik-baik amat, harus aku terima gitu?
AG : Bukannya gitu….tapi coba kamu pikirin deh……
Dalam kedua contoh di atas, wah betapa beratnya status ibu yang akan disandang perempuan kelak sehingga ia harus menjauhi satu, perbuatan maksiat macam dugem, omongan snob, mabuk, judi, dll, dan dua, harus memikir ulang karirnya. Saya seratus persen setuju dengan syarat tersebut, tapi yang saya sesalkan, mengapa harus perempuan saja yang memperbaikinya? Dimana peran laki-laki? Mengapa Pak Mario Teguh tidak menghimbau laki-laki untuk insaf dari perbuatan maksiat? Apakah laki-laki tidak melakukan perbuatan tesebut? Atau karena Pak Mario Teguh nggak melihat sisi signifikan laki-laki dalam menjalankan perannya sebagai ayah?
Lalu dalam kasus saya dengan oknum AG, kenapa juga saya harus membatasi kegiatan saya karena saya sudah berumur 21 sedangkan laki-laki malah harus mengembangkan kegiatannya saat ia berumur 21? Karena laki-laki pada akhirnya akan menjadi provider bagi calon keluarganya kelak-kah? Tapi banyak juga laki-laki yang hingga umurnya memasuki kepala 3 tidak kunjung memikirkan berkeluarga dan banyak juga laki-laki yang saya temukan malah mempergunakan gajinya untuk melakukan hal-hal yang nggak penting macam dugem, judi, mabuk, rokok, dll…..
Satu lagi, saya juga aneh ketika oknum AG memberikan pertanyaan yang nggak penting dijawab, Gimana kalo dia udah dateng tapi ternyata kamu tolak. Bagi saya, wajar jika saya menolak laki-laki yang tidak sesuai dengan kriteria saya, toh di sisi lain, laki-laki pun kerap menolak wanita yang tidak masuk dalam daftar impiannya. Di saat laki-laki ingin mendapatkan wanita yang bersih dari hal-hal yang disebutkan oleh Pak Mario Teguh, saya setuju dengan status Bu Junita yang mengungkapkan bahwa perempuan juga nggak mau menjadikan laki-laki yang buruk sebagai suaminya. Saya nggak mau dong punya keluarga dengan laki-laki yang nggak bisa menjalankan perannya sebagai suami dan ayah seperti yang banyak terjadi di dunia ini.Saya berempati dengan banyak perempuan yang pada akhirnya memutuskan untuk hidup tanpa pasangan. Sudah nggak zaman deh kalau kita menuding mereka sebagai perempuan nggak laku. Saya pun mungkin akan memilih demikian jika saya tidak kunjung menemukan suami yang baik.
Okei, tidak ada kesempurnaan, saya tahu itu, tetapi apakah karena kesempurnaan itu nggak ada maka kita harus menyerah pada pria-pria yang buruk yang pada akhirnya nggak memberikan kebahagiaan untuk kita? Kalau lelaki punya impian mendapat wanita baik, begitu juga perempuan. Saya salut dengan perempuan yang mampu mempertahankan impiannya.
Lagipula, kita juga harus mempertanyakan arti kebahagiaan itu sebenarnya apa? Jika kita masih mengukur kebahagiaan pernikahan dari penis, ya monggo silakan menikahlah meski pria itu bukan pria yang baik. Menikahlah dan bersiaplah menderita karena melihat diri Anda tidak dihargai oleh suami Anda dan anak-anak Anda ditelantarkan.
Bagi saya sendiri, kebahagiaan tidak hanya diukur dari penis. Kebahagiaan adalah ketika kita diakui sebagai manusia yang bebas. Bebas dengan pemikiran kita, bebas dengan keinginan kita, bebas dengan pendapat kita.Kebahagiaan bagi saya juga memiliki makna, dihargai. Saya akan bahagia kalau saya dianggap sebagai manusia bebas dan kebebasan tersebut dihargai. Saya akan sangat bahagia kalau suami saya bisa menganggap saya manusia sekaligus menghargai kemanusiaan saya dengan bersama-sama saya merawat anak-anak. Jadi, merawat anak bukan hanya tugas ibu. Laki-laki pun punya tugas besar di sini! Saking besarnya tugas laki-laki, ketika ia melupakan perannya sebagai suami dan bapak, akibat yang akan dialami oleh istri dan anaknya akan sangat besar!
Saya tadi sempat mengatakan dalam komentar facebook Bu Jun bahwa pria-pria yang berkubang dalam hal-hal yang dikutuk Mario Teguh akan memakan korban anak dan istri. Bisa anak dan istrinya nggak dikasih makan, bisa anak dan istrinya dijual, bisa juga anak dan istrinya dibunuh. Nah, itu baru dari satu keluarga dan dari sudut pandang sempit. Akibat strukturalnya akan sangat panjang.
Secara agregasi dalam satu negara, laki-laki yang mengabaikan peran besarnya sebagai suami dan bapak akan menyumbang besar pada peningkatan angka kemiskinan. Indikator kemiskinan yang diakibatkan oleh laki-laki tak bertanggung jawab ini pun banyak. Misalnya, banyak wanita yang menjadi buruh murah, banyak pekerja anak, banyak angka kematian ibu, dan banyak wanita dan anak-anak buta huruf. Nah, hal ini juga diakui oleh Lorraine Corner dalam artikelnya, Rural Development and Poverty Alleviation in ASEAN : A Gender Perspective. Artikel ini menyuguhkan realita bahwa sampai saat ini, perempuan masih menjadi pihak yang paling rawan dalam menderita kemiskinan. Data mengenai kemiskinan perempuan ini bisa didapatkan secara kuantitatif dan kualitatif.
Data-data kuantitatif :
Perempuan yang tidak bekerja : Meskipun dalam pembelanjaan keluarga perempuan memegang peran besar, pembelanjaan tersebut jarang sekali mencerminkan belanja pribadi dari perempuan. Biasanya perempuan berbelanja untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarganya dan menyempingkan kebutuhannya sendiri.
Perempuan yang bekerja : perempuan yang bekerja memiliki kecenderungan untuk dibayar dengan gaji yang lebih rendah daripada laki-laki dalam pekerjaan yang sama, bahkan kadang-kadang perempuan juga tidak dibayar.
Data-data kualitatif, ada dua kesimpulan yang dapat diambil.
Pertama, perempuan rawan kemiskinan karena ia bertanggungjawab pada kebutuhan dasar anggota keluarganya.
Kedua, saat penghasilan dari suaminya tidak cukup untuk menghidupi keluarga, perempuan tersebut harus membantu sang suami memenuhi kebutuhan hidup sementara perempuan itu sendiri tidak dapat membebaskan dirinya dari kewajibannya sebagai pengurus rumah tangga.
Parahnya lagi, akibat desktruktif yang didapat dari pria-pria berkeluarga yang kejam nian ini tidak hanya tak disadari oleh Mario Teguh, tapi juga oleh pemerintah negara. Lebih jauh lagi Lorraine mengatakan bahwa kebijakan pemerintah negara-negara di ASEAN mengenai pengentasan kemiskinan pun sangat berbias gender dan menyempingkan keberadaan perempuan. Pemerintah seolah-olah melindungi perempuan, tapi pemerintah menutup mata bahwa dalam menghadapi kemiskinan, perempuan memiliki peran yang sangat berat. Dalam hal jaminan kesehatan misalnya, hampir semua pemerintah di ASEAN memberikan bantuan jaminan kesehatan, namun jaminan tersebut hanya meliputi pelayanan dan obat-obat tertentu yang hanya mengatasi penyakit perempuan yang berada di dalam rumah sebagai ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu rumah tangga. Pemerintah menutup mata bahwa dalam menghadapi kemiskinan, perempuan ada yang bekerja sebagai sopir, kondektur, petani, buruh kasar, dan berbagai pekerjaan lain yang biasanya hanya dilakukan laki-laki. Pemerintah tidak memberikan jaminan kesehatan bagi perempuan yang bekerja di dunia laki-laki.
Sebentar, masih ada yang salah lagi. Sistem! Selama ini kita, para perempuan, dikungkung dalam sistem yang seolah-olah mengenakkan kita. Sistem inilah yang membuat kita sangat terugikan saat kita bersuamikan pria kejam. Kita selalu diajarkan untuk berada di rumah. Kita selalu diajarkan untuk tidak mengungguli laki-laki, baik dari segi otak, kelincahan, karir, gaji. Kita selalu diberi wacana untuk berada di ranah inferior laki-laki. Ketika kita mendapatkan suami laki-laki yang baik hati bak pangeran Cinderella, sistem kepercayaan kita yang dipupuk demikian barangkali nggak jadi masalah. Tetapi ketika secara amit-amit naudzubillah himindzalik kita terjebak dalam siatuasi salah pilih suami, nggak heran kalau kita jadi kelabakan dan menambah berat beban Bank Dunia karena kemiskinan yang makin merajalela. Inilah.
Saya juga melihat ketika ada perempuan dan laki-laki yang terjebak dalam dunia kelam macam yang dibilang Pak Mario itu, hal tersebut mengindikasikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan merasa lelah untuk terus mengikuti sistem. Perempuan harus jadi wanita baik-baik. Laki-laki harus bisa jadi provider bagi keluarganya kelak. Ya, kita lelah dengan sistem tersebut sehingga akhirnya kita melakukan pemberontakan yang sebenarnya merugikan kita sendiri. Sebenarnya dalam dunia yang penuh dengan diskriminatif-diskriminatif ini, korbannya tidak hanya perempuan, laki-laki pun sebenarnya adalah korban!
Kenapa?
Karena pada sistem demikian, baik laki-laki maupun perempuan bukan dilihat sebagai manusia, melainkan sebagai benda yang bernama perempuan dan benda yang bernama laki-laki dengan pembagian tugas yang berbeda.
Permasalahan ini pun tak hanya terjadi di ranah domestik, bahkan hingga pada ranah internasional. Dalam situasi perang , misalnya. Di saat wanita dan anak-anak diungsikan sementara para pria yang kuat dijadikan serdadu, kita bisa menemukan nilai seperti ini :
Status wanita dipersamakan dengan status anak-anak. Di permukaan, kita akan melihat betapa baiknya sang sistem karena memberi privilege kepada wanita untuk dilindungi. Tapi, yang aneh…kenapa wanita harus dilindungi? Kenapa ia disetarakan dengan anak-anak padahal anak-anak adalah manusia yang belum dianggap sebagai manusia karena belum dapat memutuskan yang baik untuk dirinya? Bukankah wanita adalah manusia yang kebetulan tidak memiliki penis tapi tetap memiliki organ tubuh lain yang sama dengan laki-laki ? Di sini kita akan melihat betapa kuatnya humanisme (humanisme=paham yang menganggap bahwa yang diakui sebagai manusia hanyalah mereka yang berpenis). Wanita tidak dianggap sebagai manusia.
Laki-laki yang menjadi serdadu dianggap sebagai benda. Nah, ini juga yang kasihan. Dalam berperang, tentara tidak lagi dianggap sebagai manusia. Ada satu ungkapan yang terkenal yang selalu dikutip oleh dosen Hukum Internasional saya –cuman saya lupa itu dikutip dari siapa, War is license to kill yang menyiratkan makna demikian. Para pria yang menjadi serdadu tesebut diberi wacana sebagaimana rupa sehingga mereka merelakan dirinya melepaskan hak kemanusiaannya, yaitu hak hidup. Ketika ia melepaskan hak kemanusiaannya untuk hidup, maka ia pun melepaskan status kemanusiaannya meskipun dalam humanisme ia masih dianggap manusia karena ia memiliki penis.
Nah, jika begitu, laki-laki dan perempuan tidak dianggap sebagai manusia, lalu siapa manusia sesungguhnya?