Komunitas ASEAN 2015 dan ASEAN Blogger: Sebuah Upaya Menuju Perdamaian Nontradisional

Saat ditanya mengenai makna perdamaian, beberapa di antara kita akan menjawab perdamaian adalah keadaan tanpa perang yang membuat negara-negara hidup berdampingan. Jawaban tersebut tidak salah, hanya bila diproyeksikan pada masa kini ia tidak lagi update. Dalam keadaan pasca-Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin, jika memang pendefinisian perdamaian berhenti pada keadaan tanpa perang, seharusnya perdamaian tidak lagi menjadi isu yang dicita-citakan negara sekarang. Faktanya, sampai sekarang perdamaian yang sepertinya sudah tercapai seiring dengan munculnya pemenang-pemenang perang masih menjadi fokus cita-cita. Artinya, pendefinisian perdamaian masih belum usai sehingga perdamaian pun sebenarnya belum genap tercapai.

Dua dekade terlepas dari masa Perang Dingin, keadaan dunia makin kompleks. Isu-isu berkembang tidak hanya melibatkan negara, tetapi juga penduduknya. Globalisasi, perkembangan demografi penduduk dunia, modernisasi, industrialisasi, degradasi lingkungan, peningkatan permintaan energi, demokratisasi dan kesadaran penegakan HAM, bencana alam luar biasa, perdagangan bebas, merupakan beberapa dari sekian banyak penyebab keadaan paradoks yang mewajibkan kita (rakyat) masih harus berjuang meskipun telah bebas dari ancaman perang tradisional militeristik. Tuntutan rakyat kepada negara pun bergeser. Bukan kemerdekaan atau pakta gencatan senjata yang dipetisikan rakyat kepada pemerintahnya, melainkan penyelesaian secara maksimal isu low politics yang menekan rakyat.

Pergeseran makna perdamaian secara global tersebut juga melanda negara-negara di Asia Tenggara yang secara bertahap sejak tahun 1967 hingga 1999 tergabung dalam ASEAN. Menurut penulis, pergeseran makna perdamaian tersebut memiliki dua dampak bagi ASEAN. Pertama, tingginya ekspektasi rakyat terhadap kiprah ASEAN hingga pada tingkat grassroot dan kedua, keseriusan ASEAN dalam menanggapi ekspektasi penduduknya melalui perkembangan ASEAN yang menargetkan diri menjadi komunitas yang menaungi negara-negara di Asia Tenggara. Tak hanya bagi ASEAN, pergeseran makna perdamaian pun berdampak pada masyarakat, yakni munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang menyadari bahwa perdamaian pada masa kini yang bersifat people-centric menuntut keterlibatan people itu sendiri dalam perwujudannya. Internet menjadi media yang powerful dalam mengakomodasi gerakan-gerakan masyarakat dalam mewujudkan perdamaian nontradisional. Keaktifan ASEAN dan masyarakat dalam mewujudkan perdamaian nontradisional pun menjadi dua hal kunci terciptanya ASEAN yang lebih membumi.




ASEAN, Selayang Pandang 44 Tahun Usia

Tahun 2011 ini ASEAN telah 44 tahun menjadi bagian dari sejarah dunia. Perkembangan ASEAN dari sebuah organisasi hingga tinggal landas menjadi komunitas yang menandai bergesernya fokus perdamaian yang state-centric menjadi people-centric memperlihatkan dinamisasi yang signifikan dan responsif. Empat puluh empat tahun perjalanan ASEAN menandai bahwa ASEAN bukan organisasi yang didirikan sebagai bagian dari tren Perang Dingin atau poskolonialisme, melainkan organisasi bervisi jangka panjang yang mampu beradaptasi dengan berbagai isu di tingkat global.

Dalam masa awal pendiriannya, ASEAN hadir sebagai respon negara-negara yang baru merdeka yang berjuang menciptakan perdamaian dan stabilitas kawasan melalui pengamanan kolektif dalam kerja sama ekonomi. Kerja sama ekonomi demi kesejahteraan tersebut terutama ditujukan ASEAN untuk meminimalisasi berkembangnya komunisme yang berusaha mengudeta pemerintahan yang sah yang dipercaya berkembang pesat di tengah kondisi kurang sejahtera. Dengan adanya kerja sama ekonomi dan kesejahteraan yang dibawanya, diharapkan penyebaran komunisme dapat diminimalisasi sehingga masing-masing negara dapat berkembang mencapai kepentingan nasionalnya kemudian secara otomatis melahirkan kesejahteraan sekawasan. ASEAN seolah-olah mendahului logika Barry Buzan mengenai security complex, yakni keamanan di satu negara sangat bergantung pada keamanan negara-negara di sekitarnya. Karena berbagai permasalahan berpindah lebih cepat dalam lingkup geografis yang berdekatan, maka diperlukan adanya mekanisme untuk meminimalisasi ancaman-ancaman yang datang dari negara-negara di satu kawasan geografis.

ASEAN terus berkembang dengan menggandeng negara-negara di luar kawasan untuk bekerja sama dengan ASEAN. ASEAN menyadari bahwa dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas kawasan, ASEAN tidak dapat berjuang sendirian. Namun demikian, popularitas ASEAN yang tinggi di tingkat global pun memberi tantangan tersendiri bagi kiprah ASEAN secara internal. Rakyat di masing-masing negara ASEAN juga ingin ikut merayakan kemahsyuran nama ASEAN di wilayah sendiri dengan mengajukan pertanyaan, apa kontribusi ASEAN bagi perdamaian yang berdampak langsung pada rakyat?




Komunitas ASEAN 2015 : Penguatan ke Dalam

Sering dikatakan dalam pidato, kuliah umum, dan siaran-siaran pers resmi bahwa tanpa ASEAN, bukan wajah Asia Tenggara yang damai dan hidup berdampingan seperti ini yang sedang dan akan kita lihat. ASEAN adalah kunci bagi perdamaian Asia Tenggara, itu intinya. Tapi perdamaian dalam arti apa? Tradisionalkah? Nontradisionalkah? Selama masa berdiri ASEAN, memang kita tidak pernah mengalami perang yang hebat dengan sesama anggota ASEAN. Namun permasalahannya, perdamaian dalam arti tradisional tersebut terlalu elitis untuk bisa dipahami rakyat. Perdamaian yang diinginkan rakyat adalah perdamaian yang lebih membumi, merakyat, dan sederhana untuk diresapi, dimaknai, serta diraba. Rakyat menginginkan ASEAN sebagai wadah kedua setelah negara dalam mewujudkan perdamaian yang dekat dengan mereka.

Isi hati rakyat yang terdalam tersebut sepertinya juga disadari ASEAN. Sejak ASEAN Vision 2020 pada tahun 1997 yang kemudian diperkuat dalam Bali Concord II tahun 2003, ASEAN telah memproyeksikan wajahnya dalam beberapa tahun ke depan sebagai kawasan yang terintegrasi dengan menjadi komunitas negara-negara Asia Tenggara yang terbuka, damai, stabil dan sejahtera, saling peduli, dan diikat dalam kemitraan yang dinamis melalui tiga pilar utama yakni Komunitas Politik-Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN, dan Komunitas Sosio-Budaya ASEAN. Melalui visi untuk menjadi komunitas dengan pilar-pilar yang memiliki kekhususan tersebut, ASEAN berusaha untuk memenuhi kebutuhan perdamaian nontradisional bagi lima ratus juta rakyatnya.

Menjadi organisasi kawasan yang berkembang menjadi sebuah komunitas merupakan tantangan tersendiri bagi ASEAN terutama dengan perbedaan kondisi enam negara ‘senior’ ASEAN dengan empat negara CLMV (Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam) yang baru menjadi anggota ASEAN pada dekade 90-an. Permasalahan pembangunan di antara kedua pengelompokkan negara tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah ASEAN untuk bisa berdiri kokoh sebagai komunitas. Kerangka kerjasama menuju Komunitas ASEAN pun mau tidak mau meletakkan pembangunan CLMV sebagai prioritas utama. Tentu saja hal tersebut merupakan hal yang positif bagi CLMV. Bila ASEAN berhasil membangun CLMV, maka peresepan ASEAN sebagai pewujud perdamaian nontradisional di negara CLMV akan lebih dirasakan oleh rakyat CLMV. Bisa jadi, sense of belonging dari rakyat CLMV yang baru sepuluh-dua puluh tahun mengenal ASEAN akan lebih kuat daripada rakyat di enam negara senior di ASEAN.

Namun demikian, ASEAN juga perlu waspada. Meskipun Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Brunei sudah lebih dulu masuk menjadi anggota ASEAN ketimbang CLMV, peresapan ASEAN-isme di dalam masyarakat keenam negara tersebut tidak dapat dikatakan lebih kuat daripada di dalam masyarakat CLMV. Hal ini bisa ditelusuri dari kiprah ASEAN di keenam negara senior pada masa awal berdiri ASEAN hingga dekade 90-an yang masih berkisar pada persoalan perdamaian tradisional yang lebih melibatkan negara. Kaum elit pemerintahan di negara senior ASEAN memang lebih melek ASEAN ketimbang elit pemerintahan di CLMV, namun tidak demikian dengan masyarakat. Baik masyarakat di negara senior maupun CLMV masih berada pada level yang tidak jauh berbeda mengenai sense of belonging terhadap ASEAN. Usaha untuk membumikan ASEAN di benak masyarakat negara senior ASEAN dan CLMV seharusnya mendapat porsi yang seimbang.




ASEAN Blogger : Dari Masyarakat untuk Masyarakat demi ASEAN

Berkejaran dengan waktu untuk menjadi Komunitas ASEAN merupakan tantangan yang dihadapi ASEAN. Beruntung ASEAN kini hidup di era globalisasi yang dengan segala kemudahan teknologinya mampu mengompres jarak dan waktu serta melahirkan kelompok masyarakat yang dalam istilah posmodern disebut sebagai middle class atau kelompok masyarakat yang sudah melek akan suatu isu kemudian aktif menyebarkan gaya hidup atau pengetahuan yang berkaitan dengan isu tersebut kepada kelompok masyarakat lainnya. ASEAN blogger merupakan salah satu bagian dari middle class ASEAN yang berpotensi melakukan ASEAN-isasi ke seluruh wilayah ASEAN sehingga ASEAN pun dapat lebih membumi.

Kekuatan ASEAN blogger terletak pada penguasaannya pada teknologi melalui penggunaan internet, khususnya blog, dalam menyebarkan ASEAN-isme. Selain itu, ASEAN blogger merupakan kelompok masyarakat yang mandiri dari pemerintah. ASEAN-isasi yang dilakukannya minim potensi dicurigai sebagai bagian dari program buatan pemerintah, justru dianggap sebagai testimoni yang kemudian mampu meyakinkan kelompok masyarakat lain untuk lebih mengenal dan merasakan ASEAN.

Hal yang patut dieksplorasi ASEAN blogger untuk lebih membumikan ASEAN adalah pengeksplorasian perannya sebagai intermediary atau penengah antara pemerintah dengan rakyat yang mampu menerjemahkan ASEAN dalam pernyataan pemerintah menjadi ASEAN yang dipahami rakyat, serta sebaliknya, menerjemahkan kesederhanaan perdamaian yang diinginkan rakyat menjadi saran formulasi dan impelementasi kebijakan bagi pemerintah. Untuk memperkuat legitimasinya sebagai middle class ASEAN-isasi, ASEAN blogger juga harus semakin terlihat di mata masyarakat dan pemerintah, baik melalui kampanye atau pengiklanan diri maupun melalui keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan yang diselelnggarakan pemerintah dan masyarakat.



Komunitas ASEAN, ASEAN Blogger, dan Perdamaian yang Membumi

Perkembangan ASEAN sejak tahun 1967 hingga sekarang dalam merespon definisi perdamaian yang berubah menunjukkan bahwa ASEAN merupakan organisasi yang mengalami tahapan yang disebut oleh para regionalis sebagai spill-over. Namun demikian, masih ada missing link di antara pemerintah dengan masyarakat sehingga masyarakat masih mencari ASEAN seolah ASEAN sangat jauh di luar jangkauan mereka. Keberadaan middle class, yakni ASEAN blogger dalam era globalisasi diharapkan mampu ‘menambal’ missing link tersebut. ASEAN blogger merupakan kekuatan baru bagi ASEAN dalam usahanya untuk lebih dekat dengan masyarakat. Dengan segala potensi power-nya, ASEAN blogger diharapkan mampu menyebarkan dan membumikan perdamaian yang diwujudkan ASEAN di benak masyarakat sehingga Komunitas ASEAN yang menjadikan wilayah Asia Tenggara sebagai wilayah yang terintegrasi pun tidak mustahil akan benar-benar dapat terwujud mulai tahun 2015.



Rikianarsyi Arrassyidinta N. Wirantoputri

Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional Unpad, pemerhati isu ASEAN, peserta 100 ASEAN Students Visit to India tahun 2007, Juara III Lomba Penulisan ASEAN yang diselenggarakan Deplu RI pada tahun 2006.

Mitos di Sekitar ASEAN


Selepas kuliah THI beruntun pada hari Jumat dan Senin awal Mei lalu yang mengkritisi berbagai mitos yang mengitari hidup kita, saya jadi mikir kenapa pengetahuan kita tentang ASEAN selalu didasari pada penjelasan yang top-down dan sangat realis sekali. Hmmm, ada, sih pendekatan yang lebih dalam dari sekedar keinginan bersama lima negara Asia Tenggara (Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina). Namun demikian, pendekatan paling dalam yang saya temukan hanya satu lapis di bawah realis yakni neorealist. Saya pengen tahu apakah memang kenyataannya demikian atau ada hal-hal bottom-up yang melandasi terbentuknya ASEAN namun ditutupi sedemikian rupa sehingga tidak terlihat oleh outsider macam kita?

Ini juga yang akan menjawab pertanyaan saya sejak dulu kala mengenai alasan utama ASEAN sangat terobsesi dengan peningkatan interdependensi ekonomi di antara sepuluh negara anggotanya. Kenapa keinterdependensian ini begitu melegenda kepentingannya padahal saya yakin para pemimpin ASEAN sama-sama tahu keadaan mereka yang hampir sama, dari mulai keadaan geografi, kualitas SDM, hasil alam, sampai sumber daya alam. Kesamaan keadaan ini seharusnya dijadikan kemahfuman, dong bahwa ASEAN jangan dititikberatkan pada bidang ekonomi. Kalau yang saya baca dari literature, sih konon interdependensi bisa mengeratkan ASEAN.

Ah, masa, sih?

Pertama, apakah hanya interdependensi yang mampu mengeratkan kesatuan suatu organisasi? Kedua, kalau begitu ASEAN selama ini dipandang belum erat, dong. Nah, kalau belum erat, mengapa mereka harus bekerja sama? Terus, dari keeratan yang konon katanya akan tercapai melalui interdependensi, apa sih misi utama ASEAN? Apa tujuan yang ingin ia capai setelah ia erat? Butir-butir dalam ASEAN Charter-nyakah? Untuk siapa dan untuk apa tujuan itu harus dicapai? Untuk seluruh negara ASEAN atau beberapa atau bahkan satu negara saja? Dan benarkah hanya negara yang berkepentingan di sana? Atau ada aktor lain?

Hmmmm. Pertanyaan di otak saya makin berkembang, nih! Ah, sudah sudah sudah hentikan! Pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti akan berujung pada pertanyaan menampar macam ini, “Hayoloh, sebenernya saya mau jadi praktisi atau mau jadi akademisi?” Huaaaaa!!!!

Ark.Mei’10.

ASEAN, Kunci Perdamaian Asia Tenggara

Setiap kali ada deadline nulis dari STAIr, pasti kelabakan. Cuma dikasih waktu seminggu dua minggu doang! Haha. Edisi STAIr yang paling anyar akan mengangkat tema tentang perdamaian. Hmmmm. Berhari-hari jugkir balik di kasur dan di depan laptop dengan niat nyari ide yang out of the box akhirnya mendamparkan saya kembali pada tema yang nggak jauh-jauh dari kehidupan saya sehari-hari, ASEAN. Cekidot.

Pernah meragukan keyakinan kaum liberal bahwa kerja sama adalah kunci bagi perdamaian?

Keyakinan kaum liberal bahwa kerja sama adalah salah satu kunci bagi terciptanya perdamaian dapat kita buktikan di Asia Tenggara melalui kerja sama yang kita kenal dengan nama ASEAN. Seperti yang selalu ditekankan oleh mantan Menteri Luar Negeri RI, Hasan Wirayuda, saat kita membicarakan perdamaian di Asia Tenggara, mau tak mau kita akan membicarakan ASEAN. Ibaratnya, ASEAN dan perdamaian di Asia Tenggara adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Eratnya ASEAN dengan perdamaian bukan lahir tanpa alasan. Sejak awal, ASEAN memang dibentuk untuk menciptakan perdamaian. Bagi Indonesia, tanpa adanya perdamaian, mustahil kita mencapai kemakmuran. Namun mustahil pula kita meraih perdamaian jika kita hanya berjuang sendiri. Kita membutuhkan negara-negara lain untuk bersama-sama menciptakan perdamaian. Keinginan ini makin menguat saat memasuki dekade 60'an. Akhirnya, setelah diplomasi intensif dilakukan oleh Adam Malik dan direspon oleh berbagai masukan dari empat negara lain, di Bangkok, 8 Agustus 1967 bersama-sama Narcisco Ramos, Rajaratnam, Tun Abdul Razak, dan U Thant, Adam Malik mendeklarasikan Association of Southeast Asian Nations.

Saat pertama berdiri, ASEAN belum menjadi organisasi seperti yang kita kenal sekarang. Belum ada sekretariat khusus, kedudukan sekjen belum setingkat menteri, belum ada konferensi tingkat tinggi, belum ada piagam, dan tentu masih ada perbedaan-perbedaan persepsi yang tajam mengenai suatu isu di tiap negara anggota. Terlebih lagi, Asia Tenggara masih seolah-olah terbagi dua antara ASEAN five (pendiri ASEAN) dan Indochina. Itu dalam bidang politik. Dalam bidang ekonomi, ASEAN juga masih memiliki hambatan. Intratrade bukanlah suatu tren karena lima negara anggota ASEAN memiliki keadaan geografis yang tak jauh berbeda sehingga mereka memproduksi barang yang sama.

Namun nyatanya, struktur yang longgar, perbedaan persepsi ancaman dan perdamaian, dan minimnya aktivitas ekonomi di antara mereka tidak menjadikan ASEAN mati di tengah jalan. Pada akhir dekade 70'an hingga akhir 80'an ASEAN setahap demi setahap mulai melakukan spill-over hingga akhirnya, pada hari ini ASEAN sedang bersiap menjadi sebuah komunitas.

Perkembangan ASEAN yang positif dari tahun ke tahun itulah yang membuktikan bahwa ASEAN berhasil merealisasikan cita-cita perdamaian serta stabilitas kawasan yang dirumuskan founding fathers-nya empat puluh dua tahun lalu. Tanpa menjadi suatu aliansi keamanan, ASEAN mampu menghadirkan perdamaian sehingga rakyat Asia Tenggara tidak terancam oleh adanya peperangan meskipun masih ada beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan rumah ASEAN seperti permasalahan perbatasan, sumber daya alam bersama, pekerja imigran, dan perlindungan hak milik. Ada benarnya jika kita menyimak poin yang diungkapkan oleh Ben Perkasa Drajat, salah seorang yang berkonsentrasi terhadap ASEAN, "Jangan mempertanyakan mengapa masih ada konflik di Asia Tenggara meski telah ada ASEAN. Kita harus mengubah cara pandang kita menjadi bagaimana keadaan di Asia Tenggara jika tidak ada ASEAN."

Ya, tanpa ASEAN, perbedaan-perbedaan pandangan rawan berkembang menjadi konflik besar. Lihat saja di region lain. Lagipula, jika kita becermin terhadap sejarah ASEAN yang sedikit demi sedikit mampu menyelesaikan tantangannya, dari struktur yang sangat longgar menjadi mengikat dan signifikan melalui pemberian status jabatan Sekjen ASEAN setingkat dengan menteri, peratifikasian Piagam ASEAN, serta pengadaan KTT setahun dua kali, dari hambatan samanya produksi barang menjadi komitmen single base production, pendirian Badan HAM ASEAN, dan masih banyak lagi, tentu logis jika kita berharap bahwa pekerjaan yang belum terselesaikan akan segera ditemukan titik solusinya. Wajar juga bila kita berharap ASEAN sepuluh, lima belas, dua puluh, atau seratus tahun lagi akan menjadi ASEAN yang sangat besar dan tidak kita bayangkan pada hari ini. Perdamaian pun akan selalu hadir di Asia Tenggara, kawasan lingkar konsentris terdepan Indonesia.




Menuju Komunitas ASEAN 2015

ASEAN sebagai komunitas yang terintegrasi pada tahun 2020 adalah hal yang paling penting dari Bali Concord II yang diusulkan oleh Indonesia. Komunitas ini akan memiliki tiga pilar utama, yakni ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community, and ASEAN Socio-Culture Community, yang kesemuanya saling berhubungan.

Dalam pandangan para pemimpin ASEAN, pembentukan Komunitas ASEAN ini merupakan transformasi lanjutan dari keberhasilan ASEAN dalam menjadi region paling stabil di dunia. Jika kita membandingkan keadaan ASEAN dengan keadaan region lain, seperti di Timur Tengah, Semenanjung Korea, atau Afrika, pencapaian yang sering kita rasakan sebagai hal normal ini masih dirasakan oleh region tersebut sebagai capaian yang masih jauh diraih. Hal inilah yang menyemangati para pemimpin ASEAN untuk mengakselerasi pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015.

Berbeda dengan para pemimpinnya, rakyatASEAN sendiri nampak tidak memiliki kepedulian terhadap ASEAN. Dalam pandangan mereka, ASEAN hanyalah organisasi regional yang penuh oleh dialog dan pertemuan namun kurang dalam implementasi. Selain itu, ASEAN kerap diasosiasikan sebagai hubungan G-to-G atau Government to Government. Semangat ‘We Feeling’ yang selama ini sering dideklamasikan para pemimpin ASEAN dalam setiap pertemuan hanya mereka maknai sebagai slogan.

Kekontrasan tersebut memancing usikan untuk mempertanyakan dua hal esensial ini. Pertama, mengapa kontras tersebut bisa terjadi? Kedua, dengan keadaan acuh dari masyarakatnya, adakah peluang bagi ASEAN untuk mewujudkan cita-cita komunitasnya?

Komunitas : Sebuah Cita-Cita Lanjutan

Memulai perjalanannya empat puluh tahun lalu lewat penandatanganan deklarasi oleh Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand, ASEAN kini telah menjadi organisasi yang berpengaruh, tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, namun di seluruh dunia. Pencapaian tersebut terlihat misalnya dalam keberhasilan menyelesaikan konflik di Kamboja pada dekade 90’an, menyusun AFTA secara progresif hingga pada realisasi, dan keikutsertaan Australia, Selandia Baru, Kanada, AS, Rusia, Cina, Jepang, Korea Selatan, India, Pakistan, EU, UNDP, dan PBB sebagai mitra wicara. Bahkan seorang Kofi Anand pun dalam masa kepemimpinannya di PBB sempat berkomentar demikian,

Today, ASEAN is not only a well-functioning, indispensable reality in the region. It is a real force to be reckoned with far beyond the region. It is also a trusted partner of the United Nations in the field of development” (Kofi Anan dalam catatan Marty M. Natalegawa’s, ASEAN Selayang Pandang, Deplu RI, 2005).

Lumrah apabila pencapaian yang digenggam oleh ASEAN kini dianggap sebagai suatu kebanggaan. Dahulu sebelum Deklarasi Bangkok dicetuskan, kondisi hubungan antarnegara di Asia Tenggara selalu diwarnai dengan persengketaan dan konflik, yang tentu mengganggu atmosfer nasional. Kondisi ini lambat laun menyadarkan para lima pendiri ASEAN mengenai perlunya sebuah organisasi yang dapat mempersatukan mereka dalam satu visi bersama untuk mencapai keadaan regional yang stabil sehingga negara di Asia Tenggara dapat hidup dalam perdamaian dan meraih kepentingan nasional mereka. Dan akhirnya, ASEAN-lah organisasi tersebut.

Dalam masa awal pendiriannya, kegiatan ASEAN lebih dikonsentrasikan pada pembangunan rasa percaya di antara para negara anggotanya. Kini, saat kepercayaan itu telah terbangun dan ASEAN telah diakui berhasil menjadi region yang stabil, kebutuhan ASEAN pun bertambah. ASEAN kini membutuhkan suatu interaksi yang lebih dekat dan intens yang melibatkan seluruh elemen ASEAN. Inilah yang ingin dicapai oleh ASEAN dengan kerangka Komunitasnya. Sebuah integrasi dalam segala segi interaksi.

Antara Pemerintah dan Rakyat

Mengakselerasikan komunitas ASEAN pada tahun 2015 adalah hal yang ingin dicapai oleh para pemimpin ASEAN.

Dalam pandangan mereka, ASEAN adalah lingkaran konsentris bagi setiap kebijakan luar negeri masing-masing negara. Setiap hal yang didiskusikan dalam dialog, forum atau pertemuan ASEAN adalah proyeski dari kepentingan nasional mereka. Membicarakan mengenai kepentingan nasional, tentu hal tersebut tak dapat dipisahkan sebagai kepentingan rakyat. Hal ini menjadikan kesimpulan bahwa apa yang dibicarakan di ASEAN adalah segala sesuatu tentang rakyat. Jika demikian, seharusnya ASEAN disadari bukan hanya sebagai G-to-G, namun P-to-P alias People to People. Hanya saja, dalam hal ini subjek ‘P’ diwakili oleh ‘G.’

Sayangnya kenyataan tersebut tidak disadari oleh kebanyakan orang ASEAN. Media massa kerap memunculkan pertanyaan seperti ini, ”Apa hasil konkrit yang bisa didapat rakyat dari ASEAN?”, dimana pertanyaan ini mengindikasikan bahwa rakyat masih mencari apa pentingnya ASEAN bagi mereka. Padahal, ketika mereka mempertanyakan hal tersebut, mereka sebenarnya telah menikmati salah satu hasil konkrit dari ASEAN. Bagaimana dengan nafas yang mereka nikmati tanpa rasa khawatir adanya perang seperti yang dirasakan oleh rakyat di kawasan lain?

Hal menggelikan lain yang terlihat dari reaksi masyarakat yang sering geram dengan langkah konsensus dan dialog ASEAN adalah ketidaksadaran mereka akan adat timur. Konsensus dan dialog yang diadakan ASEAN merupakan produk Timur. Tentu lebih bijak apabila kita mempergunakan dialog atau konsensus dalam menyelesaikan pertikaian ketimbang dengan perang. Dan lagi, mereka kurang menyadari bahwa dua hal ’sepele’ dan ’lemah’ ini masih sangat sulit dilakukan oleh pemerintah di region belahan dunia lain.

Namun bagaimanapun, kita tidak dapat menutup mata atas kenyataan bahwa kepesimisan rakyat tersebut berasal dari ketidakpercayaan mereka akan kemampuan ASEAN dalam menyelesaikan permasalahan internal lewat otoritas yang kuat. Sampai sekarang masih ada beberapa permasalahan dalam internal ASEAN yang diselesaikan secara bilateral atau dengan bantuan UN. Inilah awal dari berbagai pertanyaan/kritik seputar keberadaan ASEAN, yang entah bermakna pengharapan kehadiran ASEAN yang bisa mereka rasakan atau hanya sebagai ejekan. Dimana ASEAN? Mengapa hanya berbagai cita-cita saja yang serius dibicarakan sedangkan rencana resolusi tidak ditempatkan seserius cita-citanya?

Kelemahan lain dari ASEAN yang dapat menghambat akselerasinya dalam integrasi komunitas 2015 adalah minimnya kepedulian rakyat ASEAN akan ASEAN. Di benak mereka ASEAN hanya mampir sebagai akronim organisasi di region Asia Tenggara. ASEAN bukanlah identitas mereka. ‘We Feeling’ yang bermakna dalam bagi pemimpin ASEAN ternyata bukanlah apa-apa bagi mereka. ‘We Feeling’ hanyalah slogan bagi mereka. Stereotype ASEAN sebagai G-to-G forum ternyata benar-benar telah menghilangkan semangat ke-ASEAN-an dalam rakyatnya.

Menghubungkan kelemahan dari sisi rakyat yang sedang dihadapi ASEAN dengan label G-to-G, dalam pandangan saya, hal tersebut bukan murni kesalahan pemerintah atau rakyat. Untuk menemukan jawabannya, kita harus kembali menelusuri perjalanan ASEAN selama empat puluh tahun ke belakang.

Pada awal masa berdirinya, ASEAN memang lebih dikonsentrasikan pada pembangunan rasa percaya di antara pemimpinnya sebagai perwakilan negara. Hubungan yang intens antara pemimpin ASEAN memang telah membawa ASEAN pada pencapaian perdamaian dan kestabilan region, namun ternyata di balik keberhasilan ini harga yang harus dibayar ASEAN adalah stereotype G-to-G yang melemahkan kepercayaan rakyat terhadap ASEAN.

Terdapat sebuah kesalahpahaman antara pemimpin dan rakyatnya pada poin di atas. Harapan para pemimpin untuk meresapkan kepercayaan di antara mereka kepada rakyatnya ternyata dianggap oleh rakyatnya sebagai keegoisan pemimpin dalam memiliki ASEAN. Ketika pemimpin ASEAN dalam menyelesaikan permasalahannya melibatkan pihak luar, rakyat pun bereaksi ‘mencemoohkan’ ASEAN. Ketika realisasi Action Plan dirasakan lambat oleh rakyat, kritik pun kembali dilancarkan. Satu hal yang perlu dimaklumi dari keadaan ini adalah keadaan negara-negara di ASEAN sendiri masih dalam taraf berkembang, dimana rakyat masing-masing negara aktif mengoreksi gerak-gerik pemimpinnya. Pemandangan tersebut tidak akan jauh berbeda dengan pemandangan hubungan antara pemimpin ASEAN dan rakyatnya karena keadaan di ASEAN merupakan agregasi keadaan nasional.

Kesimpulannya, hal yang perlu digarisbawahi sebagai penyebab lemhanya kepercayaan dan kepedulian rakyat ASEAN akan ASEAN adalah kesalahpahaman tujuan pemimpin dan budaya kritik yang masih hangat diusung rakyat.

ASEAN Community by 2015, Here We Come!

Saat ini ASEAN sedang memasuki gerbang tahapan baru dalam kiprahnya. Setelah empat puluh tahun berhasil menancapkan bendera keberhasilan timbulnya rasa saling percaya antara pemimpin, kini saatnya mengajak rakyatnya menancapkan bendera yang serupa. Kesalahpahaman tujuan confidence measures building harus berhasil dibayar pada tahapan baru ini, terutama menyadari bahwa Komunitas ASEAN akan datang hanya dalam tujuh tahun lagi. Harus tercipta rasa saling percaya dari rakyat terhadap ASEAN secara keseluruhan, dari rangka hierarkinya sampai alur kebijaksanaannya.

Langkah paling utama untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menghapuskan stereotype G-to-G. Rakyat harus intens terlibat dalam setiap kegiatan ASEAN, baik sebagai subjek maupun objek, baik sebagai pelaku maupun penonton. Rakyat juga harus mengetahui bahwa sebagian dari kebijakan nasional pemerintahnya merupakan hasil pembicaraan di forum ASEAN. Mulai pada tahap post-empat puluh tahun ini ASEAN harus benar-benar merakyat. Andai saja dalam per-ASEAN-an rakyat terlibat tidak hanya sebagai pembaca kegiatan ASEAN di koran dan sejarah ASEAN di buku pelajaran, namun juga sebagai pembuat berita tentang ASEAN dan pembuat sejarah tentang ASEAN, pastilah ‘We Feeling’ akan tertancap di hati mereka. Akhirnya, dengan tertanamnya ‘slogan’ tersebut, cita-cita komunitas 2015 bukan sekedar rumusan KTT Cebu.

Membiarkan rakyat ASEAN dalam keacuhannya sama saja membiarkan ASEAN bertambah tua tanpa menjadi dewasa. Komunitas yang dicita-citakan dan digariskan dengan penuh perhitungan hanya akan menjadi target yang utopia. Di sinilah pentingnya penambahan rencana aksi penghapusan stereotype G-to-G sebagai agenda persiapan Komunitas. Mindset rakyat ASEAN tentang masa depan ASEAN harus berubah. ASEAN bukan hanya milik pemerintah seperti apa yang dipikirkan dulu, itu hal pertama yang harus tertanamkan. ASEAN adalah milik kita karena semua yang ada di ASEAN merupakan tentang kita. Masa depan ASEAN bukan lagi tergantung pada usaha pemerintah, namun tergantung pada usaha kita untuk mau menerima ASEAN dengan pikiran terbuka dan respon positif.

(Ark.Feb’08)