Slice of Ceremony, Bowl of Myth, and Cup of Propaganda: Good Morning, World! It is Meal Bouquet from Postcolonial Civilization!


Beberapa hari lalu saya menemukan satu ayat menarik dan pas sekali dengan tema bulan ini dari surat Al-Baqarah. Namun, karena keterbatasan otak, saya lupa ayat berapa dan bagaimana bunyinya secara persis. Intinya begini, mengapa kita (kalau di ayat itu sih dibilangnya, Kamu) cenderung untuk mengabaikan seruan yang baru dan yang benar hanya karena kita sudah memiliki ritual yang kita lakukan secara turun-temurun alias warisan nenek moyang padahal nenek moyang kita yang melakukan ritual tersebut pun tidak mendapatkan esensi dan maksud dari ritual tersebut. Menghubungkan pertemuan saya dengan ayat tersebut, status kawan saya, Bima Prawira Utama, mengenai kepercayaan kita akan kuntilanak, dan beberapa hasil kontemplasi kuliah Studi-Studi Budaya (Cultural Studies), Teori Hubungan Internasional 1, serta beberapa literature yang sempat saya baca, saya pun jadi mengucap, Maha Suci Allah yang benar-benar memiliki pengetahuan luas akan makhluk-Nya! Ayat itu tidak hanya bisa kita pandang secara sempit dalam urusan keagamaan, tapi juga fenomena sosial, khususnya di Negara Postkolonial atau bekas jajahan, yang sangat lekat pada praktek pemitosan.


Kuntilanak dan Kemerdekaan

Bima bilang, “Jangan mengaku merdeka kalau masih percaya sama kuntilanak. Doi bikinan Belanda, loh. Gatau tah kalau pocong.”

Saya sempat mencandai status Bima tersebut, “Naha ai kita 17-an malah mistis kieu?” Pancingan saya berhasil, akhirnya Bima mengungkapkan mengapa ia memasang stat demikian. Menurut Bima, permasalahannya tidak terletak pada mistis-mistisan, tetapi pada cermin betapa masih terlekatnya kita pada konstruksi dari penjajah. Nah, jika kita masih terlekatkan dengan hal tersebut, bagaimana kita bisa menyebut diri kita merdeka? Yup, saya tahu poinnya. Saya setuju dengan pendapat Bima.

Nye bilang soft power itu jauh lebih efektif ketimbang hard power. Soft power macam penyebaran budaya akan menciptakan sebuah keterikatan, bahkan ketergantungan yang tentu lebih efektif daripada penggunaan ancaman dan instrument militer yang hanya akan membuat ketakutan. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ketika suatu kelompok ditekan dengan ancaman dan kekerasan, efek jangka pendeknya mereka akan menurut, namun efek jangka panjangnya mereka akan menjadikan bibit-bibit kedendaman menjadi sebuah semangat revolusi yang menentang status quo. Penundukkan pun bersifat sementara. Jika ingin mengeternalisasikan penundukkan, penggunaan soft power pun harus digunakan.

Saya nggak tahu ada hubungan apa antara Jan Pieterzon Coen, Daendels, dan Ratu Wilhelmina sama Joseph Nye. Mereka hidup di zaman yang berbeda, namun praktek yang dijalankan oleh kompeni tersebut nyatanya sama persis seperti yang diungkapkan Nye. Selama tiga ratus lima puluh tahun, penjajahan secara fisik jelas kita alami. Ancaman, kekerasan, perbudakan, mmmm….kata-kata buruk dari kelompok kata penindasan apa lagi coba yang belum kita alami selama tiga ratus lima puluh tahun itu? Didorong oleh perasaan marah, dendam, sakit hati yang lebih dalam daripada ketika putus sama pacar, kita pun be-revolusi, berani bersatu, berani mengumandangkan perang, dan akhirnya berani memproklamasikan kemerdekaan. Yup, oke memang. Tapi coba perhatikan, deh, kenapa kemerdekaan itu baru bisa kita kumandangkan pada tahun 1945? Kenapa juga selama tiga ratus lima puluh tahun, negeri yang melingkupi tiga belas ribu pulau ini hanya memiliki segelintir nama pahlawan besar?

Adanya soft power itulah, Teman-teman!

Ada praktek-praktek budaya yang diciptakan oleh penjajah untuk tetap mengungkung kita pada suatu sistem status quo. Pas lagi perang sama Belanda sore-sore, eh para prajurit tiba-tiba ciut. Ditanya sama komandannya, “Kenapa berhenti?” si prajurit pun menjawab, “Punten, Ndan, udah mau malam. Mak Lampir suka cari mangsa bada magrib.”

Nggak jauh beda kalau misalnya orang Belandanya kabur ke hutan. Tiba-tiba panglima dari laskar pribumi memberhentikan kudanya. Ditanya kan tuh sama anak buahnya, “Berhenti ini teh? Ada apa? Kita dijebak?” terus panglimanya jawab, “Eta hutan bukannya angker ya? Kan katanya ada mayat yang dibuang cenah?”

Lalu Teman-teman ingat juga, kan betapa tersulutnya emosi salah satu pahlawan nasional saat pemakaman leluhurnya dipasangi patok-patok jalan oleh Belanda? Sang pahlawan yang biasanya mampu menahan emosi tiba-tiba menjadi sosok yang begitu murka sehingga logikanya pun runtuh. Hasilnya? Apakah dengan kemarahan atas penginjakkan harga diri tersebut membuat sang penjajah terusir dari tanah air sang pahlawan, minimal tanah pemakaman leluhur yang diperjuangkan itu?

Itu sedikit gambaran betapa hebatnya penggunaan soft power. Sebarkan isu sensitif, maka sang target akan menurut bak kerbau dicocok hidungnya dan dicolok matanya.


Mendarah Daging

Masalahnya lagi, penjajah itu juga nggak cuman pakai soft power ala Nye, tapi juga kekerasan simbolik dari ala Om Gramsci. Melalui kekerasan simbolik itu, sang penjajah tetap bisa mempertahankan hegemoninya di tanah jajahan meskipun di tanah jajahan itu juga hidup Sultan-Sultan, Raja-Raja, Ratu-Ratu, dan pemuka agama yang begitu disegani oleh rakyat asli. Buku sejarah yang kita baca ketika masa sekolah pasti mengenalkan kita pada seorang Belanda yang begitu baik sama orang pribumi gara-gara dia memperjuangkan dibukanya akses pendidikan dan dilonggarkannya undang-undang pertanahan. Nah, saya dulu sempat kagum juga tuh sama orang itu. Namun, ketika saya membaca lebih lengkap lagi, saya pun merasa terkhianati. Ternyata, selain atas dasar kemanusiaan, tujuan sang Belanda yang baik hati itu juga untuk mengekalkan kekuasaan Belanda di Indonesia dengan meminimalkan gelombang protes dan revolusi rakyat.

Orang itu tahu benar bahwa penindasan yang begitu hebat dan lama harus diredakan tidak dengan penindasan lagi, tetapi dengan fasilitas yang menjanjikan dan menyamankan. Ditambah lagi, bukankah dengan mendidik tenaga pribumi maka biaya yang harus dikeluarkan oleh Belanda bisa ditekan? Orang pribumi nggak usah digaji gede, nggak usah dikasih fasilitas menak, priyayi, luxury. Dikasih sedikit saja hati, mereka akan tersenyum dan loyal selamanya. Buruh murah, nurut, dan cepat tanggap, apa lagi coba yang tidak lebih diinginkan oleh penjajah daripada hal itu?

Ketika pada akhirnya muncul pahlawan-pahlawan besar nasional, ketika revolusi fisik akhirnya berlangsung, dan ketika kemerdekaan pun akhirnya lahir, penjajahan memang berakhir. Namun, garisbawahi, hanya penjajahan fisiklah yang berakhir. Sementara itu, penjajahan mental dari penggunaan soft power dan kekerasan simbolik nyatanya tetap bersemayam dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem kepercayaan kita. Segala praktek seremonial, ancaman mistis, ajakan propaganda yang diciptakan penjajah dan diamini oleh nenek moyang kita pun akhirnya menjadi sebuah pengetahuan biasa, pengetahuan umum, bahkan falsafah hidup yang selalu kita anut kebenarannya.

Kita pun akhirnya menjadi kelompok yang serupa dengan kelompok manusia di Yunani Kuno yang hidup di dalam gua yang sangat yakin bahwa hanya gua itulah yang berperadaban dan benar hingga rela mencincang kawan mereka yang baru saja keluar gua dan membawa pengetahuan baru. Ketika kita berbeda sedikit dari komunitas kita, kita akan dicap aneh. Ketika kita teguh dengan identitas kita, mereka menolak kita. Ketika kita menghadapi penolakan itu, mereka menganggap kita adalah musuh berbahaya. Ujungnya ya itu tadi, dicincanglah kita.


Neokolonialisme? Neo?

Banyak orang dan organisasi garis keras yang mengatakan bahwa globalisasi pada masa ini merupakan perpanjangan dari imperialisme. Neokolonialisme. Penjajahan bentuk baru.

Kata mereka, ya kita memang tidak dijajah dalam arti disuruh membajak sawah sambil ditemani satu senjata laras panjang yang siaga dalam radius dua ratus meter, tapi sebagai gantinya kita memiliki ketergantungan untuk menggadaikan kekayaan alam kita kepada produsen Barat serta membeli dan membanggakan produk olahan Barat daripada produk yang dibuat oleh Timur. Melalui hubungan ekonomi itulah kita kembali dijajah. Pendapat tersebut ada benarnya juga. Namun saya rasa, penjajahan macam itu bukanlah penjajahan baru dalam arti penjajahan yang baru dipikirkan. Prosesnya bukan begini,

Negara Barat A : Kumaha yeuh, daerah jajahan udah pada lepas gini.

Negara Barat B : Iya, nih, proyekan macet semua.

Negara Barat C : Hayulah urang ngajajah deui!

Negara Barat D : Hussss, ai kita bukannya udah jadi anggota PBB sama ratifikasi Deklarasi HAM? Ya engga bisa atuh ngajajah kayak abad 18-19 dulu.

Negara Barat A: Ah, saya punya akal!

Negara Barat B : Gimanah?

Negara Barat A : Kita kuras kekayaan alam mereka terus kita olah jadi produk jadi terus kita jual ke sana lagi.

Negara Barat C : Ah, heu euh bener! Kita beli SDA-nya dengan harga murah, kita jual hasil olahan dengan harga mahal. Kualitas yang biasa weh lah. KW 10 juga udah cukup lah.

Negara Barat D : Mun mereka protes, hayu ajakan aja. Jadiin buruh-buruh murah, kasi beasiswa dikit biar rada maju otaknya tapi larang mereka buat jadi orang pinter. Atuh ntar ketauan rahasia kita kalau mereka pinter mah.

Negara B : Hayu atuh mulai besok der ah!

Proses yang terjadi dalam fenomena yang dinamakan neokolonialisme itu bisa jadi sudah direncanakan sejak lama, bahkan mungkin sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di Batavia! Para negara-negara Dunia Kesatu itu udah nggak usah susah-susah lagi rapat dan bikin rencana aksi untuk menciptakan penjajahan baru seperti yang saya ilustrasikan di atas. Ketika mereka pertama kali menjajah, mereka sudah tahu bagaimana mengendalikan rakyat jajahannya. Pendefinisian mereka akan kita nyatanya sangat tepat! Buktinya, mereka bisa mengulur waktu hingga tiga ratus lima puluh tahun dan meninggalkan wilayah jajahannya dalam keadaan begitu bodoh, lemah, dan tidak percaya diri. Ketepatan mereka dalam mendefinisikan kita telah membuat mereka menemukan cara-cara untuk mengendalikan kita, baik dalam bentuk kekerasan maupun bentuk budaya, pada masa lalu hingga masa depan.

Kaum penjajah pada pertengahan abad 20 lalu saya rasa tidak terpojok ketika gelombang dekolonialisasi melanda Asia dan Afrika. Mereka santai aja, kali.

Negara Barat A : Nggak apa-apa, gan itu orang Asia ama Afrika pada minta kemerdekaan?

Negara Barat B : Santai, bray! Biarin aja. Biar dulu mereka larut dalam euforia kemerdekaan. Bentar lagi juga paling bingung itu negara mau digimanain. Abis ini juga paling bakal ada banyak kudeta, konflik etnis, perang voodoo, hiperinflasi. Ntar juga kita-kita lagi yang turun tangan.

Negara Barat A : Ah, serius? Naha bisa? Nasionalisme mereka gede beuts, kali.

Negara Barat B : Halah, tahu apa mereka tentang nasionalisme? Eta istilah nasionalisme ge urang keneh nu nyiptakeun basa kakek saya masih jadi tuan tanah di Eropa. Mereka mah baru aja kenal sama kata nasionalisme. Biarin ajah. Saya mah udah ninggalin banyak warisan kolonial yang nanti bisa bikin mereka sakit kepala mikiran nasib negara sendiri.

Negara Barat A : Contohnya?

Negara Barat B : Saya udah bikin mereka percaya kalau kiblat solat boleh aja di Kabah, tapi kalo kiblat peradaban jelas dong di kita. Mereka pasti bakal selalu minta petunjuk kita. Kita mah ga usahlah ribet-ribet kayak orang Jepang yang bikin slogan 3A, sok sok saudara tua. Yeuhhhhh, dalam praktek saya menjajah mereka, dari cara jalan saya aja gituh ya mereka tuh udah silau. Pasti ngikutan. Nah, nanti mah pas mereka minta petunjuk dari kita, kita keluarin semua istilah-istilah sulit dari kita. Kata-kata mahadewa lah. Demokrasi, hak asasi, liberalisasi, pasar bersama, negara-bangsa, keluarin gan keluarin. Mereka silau geura, da. Langsung ngikut! Dijamin.

Negara Barat A : Loh, bukannya nanti kalau mereka ngikutin kita ntar mereka jadi bisa nyusul kita?

Negara Barat B : Nggak bakal. Pada dasarnya, kita sama mereka mah beda. Kita udah punya peradaban kayak begini dari dulu. Udah teruji dan sesuai dengan keadaan alam dan mental bangsa kita. Keadaan dasar mereka beda sama keadaan kita. Kalau keadaan udah beda, harusnya resepnya juga beda, kan? Nah, justru kalau kita kasih resep yang beda dari kita bisa jadi mereka bakal tahu identitas dan hakikat hidup mereka. Kita kebakaran jenggot ntar. Mending kasih resep yang sama. Kan nanti terjadi ketidaksesuaian kan tuh? Nahhhhhh, itu diaaaaa. Ntar pasti mereka ketagihan datang ke kita. Nanya terus. Yasudah, kita sesatkan saja terus. Hehehe.

Negara Barat A : Kalau mereka sadar gimana?

Negara Barat B : Emangnya mereka berani ngelawan kita? Emangnya mereka punya power? Pas mereka sadar juga percuma atuh, kan kita udah bikin banyak institusi yang menjerat mereka. Kalau mereka macam-macam dan mengganggu institusi yang kita buat itu, marahin aja balik. Hehehehe.

Namun demikian, dari ilustrasi yang barusan saya sampaikan, saya juga nggak bisa bilang kalau penjajah itu jahat banget. Kejahatan mereka adalah hal yang wajar, menurut saya. Bukankah mereka butuh makan di tengah alam negara mereka yang tidak berlimpah sumber daya alam? Saya justru melihat permasalahannya terletak pada kelemahan bangsa kita dan bangsa terjajah lain yang begitu menurut, baik hati, dan tulus kepada penjajah. Permasalahannya bukan karena terlalu lama dijajah, (justru terlalu lama dijajah adalah akibatnya) melainkan kenapa bangsa yang hidup di belahan dunia bagian Selatan ini menurut untuk selalu dijajah? Mengapa mereka begitu cepat percaya dan sangat mengamini konstruksi dari komunitas lain? Mengapa mereka begitu persis dengan ayat Al-Baqarah yang tadi saya sadur?

Saya melihat prosesnya begini, pertama, rakyat Dunia Selatan ini adalah manusia yang polos dan hidup baik-baik saja di atas alam yang indah serta kaya. Mereka pikir semua orang di dunia ini hidupnya nyaman kayak mereka. Tiba-tiba mereka tersentak, terkejut, sekaligus kagum waktu tanah mereka didatangi orang asing. Orang asingnya juga kagum waktu melihat ada tanah yang begitu kaya didiami orang yang begitu polos, baik, ramah, dan tidak tahu kalau tanahnya kaya. Plot sinetron pun terjadi mulai detik itu.

Si asing memperdaya si pribumi. Si pribumi awalnya masih sabar. Si asing makin menjadi. Si pribumi lalu mulai panas. Si pribumi pun mulai bikin perlawanan. Eh, si asing, sebagaimana layaknya orang licik dan jahat lainnya, selain memiliki umur panjang kok ya alhamdulillah gitu dianugerahi akal yang juga panjang. Ia pun menyusun rencana untuk menjegal si pribumi. Si pribumi ditakut-takutin. Pribumi pun takut dengan mitos rekaan pemeran antagonis. Si asing khawatir lagi takutnya si pribumi mulai mikir kalau mitos itu bohongan. Si asing pun pura-pura menyerah. Ia pun mendatangi si pribumi dengan muka manis dan senyum lebar. Tapi tenang aja, coba kameranya disorot ke kanan, tuh tuh tuh lihat, senyum dan wajah sumringah itu berubah jadi senyum serigala. Pada adegan itu, si asing mulai mengeluarkan jurus kekerasan simbolik buat si pribumi.

Si pribumi nih, layaknya Alisa Subandono, Marshanda, Ririn, Dini Aminarti, dan Desi Ratnasari, terenyuh melihat kebaikan hati si asing. Dia pikir doanya tadi malem yang bilang, “Ya Allah, maafin temen-temen Baim, ya Allah. Sadarkan mereka, Ya Allah,” udah dikabulin secara kilat. Dia langsung percaya kata-kata si asing. Ia pun lalu mengagumi si asing. Ia nurut kata-kata si asing. Sampai akhir hayatnya!

Waktu sakaratul maut udah deket, wejangannya buat keturunannya selain tunaikan solat, puasa, zakat, dan haji bila mampu, “Jagalah silaturahmi dengan asing. Sesungguhnya ia adalah orang yang benar. Jika ada keraguan mengenai sesuatu, tanya padanya dan langsung laksanakan.” Satu keluarga itu karena sangat menghormati si pribumi, langsung mengiyakan amanah si pribumi. Waktu ada anak si pribumi yang protes, seluruh keluarga mengutuk dia jadi kapal batu kayak Malin Kundang. Katanya durhaka.

Lalu bagaimana dengan asing yang tahu sahabat pribuminya meninggal? Oh, dia ikut nangis dong, tapi coba om kameramen digeser dong kameranya ke kiri, tuh tuh tuh si asing matanya mengerling ke atas sambil tersenyum penuh kepuasan. Ya, itulah drama reality show terbaik dari negara Dunia Ketiga.

Saya nggak tahu apa yang harus saya usulkan buat Teman-teman untuk menghentikan alur cerita sinetron yang sangat mengharukan itu selain tolong banyak-banyak baca Al-Baqarah biar ngehhhhh sama petunjuk bahwa diri kita ini berkecenderungan untuk jadi kerbau yang hidung dan matanya dicolok. Heuheu. Selain itu saya nggak tahu lagi harus ngasih usul apa. Saya juga takut kali kalau dikutuk jadi batu kayak anak sulung pribumi. Saya juga belum mau mati dicincang karena saya menyampaikan pengetahuan baru. Saya juga nggak bisa janji kalau nanti saya udah punya power, saya bakal menentang cengkraman asing di bahu saya. Jangan-jangan ketika saya sudah memiliki power, power itu nggak sebanding dengan penambahan kekuatan institusi yang sudah dibangun oleh orang-orang pribumi di sekitar saya atas usulan, nasihat, dan propaganda asing. Jangan-jangan power yang saya punya juga diberi sama orang asing itu.

Hmmm, melalui posting ini, saya cuman pengen memperlihatkan kepada Teman-teman bahwa kita sudah terlalu lama didoktrin dengan segala hal yang datang dari penjajahan. Kita sudah terlalu akrab, lekat, bersahabat, dan bergantung dengan hal-hal tersebut. Kita sudah tidak bisa mendefinisikan diri kita sendiri karena kita sudah dibuat percaya bahwa kita adalah bangsa nomor dua. Kita nggak tahu siapa diri kita, bagaimana kemampuan kita, apa tujuan kita, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencapai tujuan kita.

Hal itu pulalah yang bisa menjadi salah satu bukti bahwa kita memang berkecenderungan untuk menolak seruan alias pengetahuan baru dan tetap mengikuti ritual dari nenek moyang padahal nenek moyang itu pun tidak memiliki sedikit pengetahuan pun dari ritual yang mereka lakukan. Disuruh A, hayuuuu. Sambil mereka nggak ngerti kenapa harus melakukan A. Disuruh B, manggggaaaa. Padahal mereka juga nggak tahu kenapa dulu A, sekarang jadi B. Pokoknya disuruh sama orang-orang yang sudah lebih dulu beradab mah hayu ajalah. Hmmm, itu juga yang membuat saya melihat bahwa kita cenderung untuk menomorsatukan instrumen dan praktek seremonial ketimbang memikirkan substansi kemudian beralih pada penghayatan dan pengaplikasian substansi baru. Itu juga yang dibilang Bima bahwa kita belum merdeka.

Nah, kalau menurut Teman-teman?




Ark. Agt’10.

Sedikit Review tentang Beauty Case

Kemaren-kemaren baca buku Raditya Dika-nya David. Tapi belom yang terbaru. Yang ini aja belom dibalikin. Belom kelar semua dibacanya. Banyak kemalesan yang harus ditumpas nih makanya baca novel aga harus ditunda. Heuheu. Sebelumnya juga baru beres baca Beuty Case yang dipinjem dari Septaris. Kebetulan lagi nggak ada kesibukan makanya cepet beres baca Beauty Case.

Garing banget ya bacaan saya, secara juga gituh itu buku udah ada dari jaman saya masi pake seragam (seragam TK kali ya...hehe), tapi saya seneng tuh baru bisa baca sekarang, ya pikiran saya udah aga nyambung kan buat membaca suatu karya secara objektif.

Ya, saya pikir, mungkin kalau saya baca Beauty Case waktu jaman saya masi sekolah, saya bakal setuju bahwa kecantikan adalah branded dan punya pasangan yang bereputasi. Dan kalau saya baca Raditya waku saya masih sekolah, saya cuman bisa dapet ketawa-tawa tanpa ada intisari yang diambil.

Membahas Beauty Case dulu ya kita. Di chapter-chapter awal saya sempat tergoncang juga. Buset gaya hidupnya jet set amat. Beauty is always associated with the ‘branded’. U’re gonna look beauty if u wear Mango, if u go for shopping to high class mall, if u pay for Baskin Robbins, if u’re a freelancer who works for the high class, if u can be the person who stands beside ‘the right-branded guy’, and so on.

Jetlag banget dah intinya pas baca bagian awalnya. Nggak bermaksud sirik sih, tapi emangnya ada ya kehidupan yang kayak gitu? I mean, kehidupan seorang sarjana yang harusnya bisa dong lebih dewasa dalam menghadapi hidup, yang harusnya bisa mendeskripsikan kebahagiaan bukan hanya bisa didapat lewat menjadi pemenang kompetisi mendapatkan pria yang jadi idaman nasional karena dia anggota keluarga tokoh masyarakat, yang harusnya nggak selabil itu tengkar sama sahabatnya gara-gara dia merasa bisa memenangkan kontes tersebut meski dia bukan seorang top mpdel super maha cantik. Nggak logis aja gituh. Intinya dia kayak anak SMA aja.

Saya nggak tahu apakah emang bener cinta segitu bisanya membutakan seseorang sehingga seorang sarjana berumur seperempat abad pun jadi begitu labil dan cengeng menghadapi hidup. Dia selalu nanya apakah dia cantik hanya untuk membuktikan bahwa dia nggak jelek-jelek amat buat ngedampingin si pria yang bersangkutan dan nggak parah-parah amat kalau dibandingin sama super model maha cantik, maha indah yang juga ngeceng pria itu yang ternyata si top model itu udah jadian sama si pria. Dia juga menutupi ‘kekurangan’-nya dengan membeli berbagai barang bermerk untuk membuat ia berpikir bahwa ia cantik. Novel itu juga seolah mengiyakan bahwa hobi cewek adalah belanja, spesifiknya belanja barang bermerk, terutama kalau si cewek tersebut lagi stress atau emang lagi kambuh aja shopaholiknya. Saya juga heran, kenapa seorang yang jelas-jelas dia adalah freelancer, yang artinya duitnya nggak menentu bisa segitu kayanya belanja barang bermerk, dan dia sama sekali nggak saying sama duitnya. O wow , konyol juga sebenernya saya mikirin hal ini . heuheu. Tapi miris aja sih, siapa wanita yang sedang diceritakan Icha Rahmanti ini? Apa dia beneran ada? Golongan mana yang sedang Icha wakili?

Saya yakin pasti ada. Pertama, nggak mungkin juga Icha bikin novel tanpa ada latar belakang. Kedua, counter barang bermerk yang harganya bisa buat subsidi BBM itu juga masih menjamur dan selalu punya stok baru untuk dijual, yang artinya memang dia punya pasar. Ketiga, pasti kita juga udah nggak asing sama majalah-majalah cewek atau wanita yang memang mengajarkan bahwa dunia perempuan nggak akan jauh dari namanya fashion, make up, and being ellegant and smart by wearing the right stuffs, upsssssssssss also how to get the ’most everything’ guy. Pikiran kita udah dikonstruk untuk menghargai diri kita (kita :wanita) sebagai makhluk yang cantik lewat barang mahal dan cantik yang harus kita dapatkan melalui keringat kita sendiri. Itulah kebahagiaan kita, katanya.

Nggak muna juga, saya akuin emang yang kayak gitu indah, tapi kan itu nggak realistis aja. Menurut Feminisme post kolonial (kalau nggak salah nyatet), bentuk ’penghargaan’ seperti itu tanpa kita sadari sebenarnya sedang ’melecehkan’ kita, terutama wanita di belahan dunia selatan. Kata penganut Feminisme aliran itu, selama ini yang punya suara untuk dihargai hanyalah wanita dari belahan bumi utara alias negara maju. Buktinya segala definisi kecantikan selalu berkait dengan ciri klas utara atau klas borjuis global. Kulit putih, barang bermerk utara, gaya hidup utara, dan lainnya. Sementara yang selatan? Well, pikiran mereka sudah terkonstruk bahwa mereka nggak cantik karena mereka nggak kayak cewek di iklan, mereka nggak pakai baju dengan merk yang dipamerkan di peragaan busana Prancis, dan mereka nggak bekerja di luar, tanpa suami, tanpa anak, atau minimal tanpa gangguan anak dan suami. Selain itu, dalam pandangan saya, citra keutaraan nggak realistis karena budaya selatan beda dengan budaya utara. Dari mana-mana itu beda banget. Nggak realistis aja kalau kita menuntut kehidupan utara untuk kita penuhi di sini alias di selatan. Salah satunya kayak deskripsi cantik itu.

Pose-pose Icha di novel itu walaupun saya akui memang dari artistiknya bisa dibilang indah, saya masih merasa bahwa pose itu seolah menunjukkan bahwa kecantikan juga identik dengan kesensualan. Kesensualan dari angle belahan buah dada kita diperlihatkan, dari cara kita melirik, dari cara kita memanyunkan bibir, dari warna make up kita, dari cara kita berbaring miring, dari cara kita duduk, and so on. Saya melihatnya cukup annoying, jujur. Penasaran aja gituh...”Kenapa harus demikian?” Secara agama, terutama agama Islam, kita diminta untuk menjauhi hal seperti itu, ya elah jangankan dari kesensualan dari gerak gerik, orang dari bau parfum aja kita udah diwanti-wanti ya kan ? Selain itu, budaya tertutup kita juga sama sekali nggak mengizinkan kita untuk berpose demikian.

Tapi kenapa budaya utara mengesahkan hal tersebut?

Dalam pandangan saya, ada perbedaan bagaimana cara utara dan cara selatan menghargai wanita.

Pertama, dari cara utara. Mereka menghargai wanita dengan jalan memberikan kebebasan sebebasnya-bebasnya bagi wanita untuk mengeksplorasi kecantikannya. Dari karir, dari branded, dari sensualitas. Kedua, tentang cara selatan. Cara selatan menghargai wanita adalah dengan cara menjaga agar si wanita tidak menjadi objek fantasi laki-laki melalui lekuk sensualitasnya, melalui karirnya yang mengajarinya tiga prinsip realisme ala Tim Dunne (heuheu), Survival, Self Help, Statism (mari kita ganti istilah Statism yang artinya mengutamakan negara sebagai aktor internasional menjadi Selfism alias mengutamakan diri sendiri sebagai aktor yang utama. Waahahahaha, Maafkan dosen PHI...saya ngaco), dan melalui branded-branded yang lisensinya diperoleh dari utara namun dibuat oleh para buruh murahan di selatan.

Perbedaan cara itulah yang belum banyak disadari.

Kebanyakan warga selatan menganggap bahwa warga utara adalah warga penuh dengan peradaban sehingga menurut mereka, untuk dapat mengikuti peradaban, mereka harus pula mengikuti gaya hidup si utara. Memang ada beberapa prinsip yang patut kita contoh dari utara seperti bagaimana mereka meletakkan wanita sebagai makhluk yang juga memiliki hak seperti pria, namun kembali lagi pada pernyataan Feminisme Post Kolonial yang diwakili Gayatri Spivak bahwa penindasan terhadap perempuan sangat berkaitan dengan perbedaan ras dan klas secara global dimana salah satu penjelasannya menujukkan bahwa belum semua perempuan dapat menyuarakan suaranya. Hanya perempuan dengan ras tertentu lah yang dapat menunjukkan eksistensinya dan menuduh budaya yang berbeda dengan budaya mereka adalah budaya yang sesat, yang menyudutkan wanita. Padahal di budaya yangberbeda itu, alis budaya selatan, hal seperti itu adalah fair, benar, dan wajar.

Tidak ada yang patut dipersalahkan dalam perbedaan kedua pandangan atas penghargaan wanita dari ras utara dengan ras selatan. Dengan budaya yang berbeda maka akan tercipta pula pandangan yang berbeda. Namun yang jadi permasalahan adalah ketika satu budaya mencoba mendominasi budaya lain dengan menuding bahwa budaya yang terekspansi tersebut adalah budaya yang salah yang artinya harus ditinggalkan oleh penganutnya lewat doktrin-doktrin yang meresahkan para pengawas peraturan/norma. Globalisasi salah satu pencetus terhebatnya. Kalau globalisasi nggak ada, mungkin nggak sih keresahan akan definisi cantik yang diungkapkan Icha dalam novelnya bisa terbit? Mungkin nggak sih merk internasional yang mahalnya selangit itu bakal terdistribusikan ke negara berkembang yang butuh duit untuk keperluan yang lebih urgent daripada memberikan asetnya ke negara maju? Mungkin nggak sih kalau globalisasi nggak ada, perbudakan atas wanita di negara berkembang itu ada? Kalau globalisasi nggak ada, mungkin nggak sih monokulturalisme global ini terjadi?

Ya intinya kita kembali mempersalahkan globalisasi, baik lewat teknologi kayak sekarang maupun lewat kolonialisme kayak beberapa dekade atau abad lalu. Globalisasi juga sebenernya nggak jelek. Hidup kita nggak akan lebih berwarna kalau nggak ada globalisasi. Yang paling dibutuhkan sekarang adalah pengharagaan terhadap budaya. Kenapa hanya dengan globalisasi lima menit kita meninjau ulang semua kebudayaan kita yang terbangun sejak zaman nenek moyang kita nyembah matahari? Meninjaunya bukan untuk introspeksi, mengenal, memperkaya khazanah, dan memajukan budaya kita tapi malah menghancurkan budaya kita, itu masalahnya. Akhirnya yang timbul dalam diri kita adalah keresahan. Anomie, istilah sosiologinya (kalau nggak salah juga, ini pelajaran kelas 1 SMA). Resah aja, kita belum punya pegangan baru alias masih linglung karena belum mampu tapi kita udah ngelepasin identitas lama kita.

Alhasil, salah satu contohnya adalah terbitnya Beauty Case.

Ada beberapa komen yang perlu direvisi yang ada di Beauty Case. Kata salah satu komentatornya, Beauty Case cocok banget buat tahu isi pikiran cewek. O wow. Saya kurang setuju. Nggak semua cewek punya keresahan nggak meaning kaya gitu. Bagi saya, Beauty Case harus dibaca, pertama karena ada penjelasan tentang politiknya di sana, jadi yang buat yang mau ujian PIP atau Pengantar Ilmu Politik, yang pengen tahu definisi politik kata Aristoteles(politics is master of science) dan Harold Laswell (who gets what, when, and how) dengan rada nyantei (we never know lah ya apakah tahun depan di saat kita ngulang si Arbayyy nya mau nanya Bab 1A. Kan garing aja gituh kalau harus ngulang lagi tahun depannya alias ketemu Arbay dalam 5 semester –belum termasuk ngulang PHI 1 dan 2- gara-gara nggak bisa jawab pengertian politik kata Laswel dan Aris.heuheu), Beauty Case adalah buku wajib kedua setelah Reading Kit tebal itu yang patut dibaca. Kedua, bagi saya Beauty Case patut dibaca karena dia memperlihatkan bahwa dalam era globalisasi ini pikiran kita ternyata masih terlalu kaku untuk menerima perbedaan. Selain itu, Beauty Case juga memperlihatkan penindasan terhadap perempuan itu nggak cuman dari upah buruhnya yang rendah tapi juga dari monokulturalisme yang dipaksakan pihak yang kuat untuk mematikan pihak yang lemah lewat doktrin indah yang membius.

Yah, gitulah. Beauty Case. Agak gerah ngebacanya tapi akhirnya membuat saya sadar bahwa inilah keresahan social yang paling dekat di sekeliling kita, Kecantikan.

(Ark.Mei’08)