Dakwah Bukan Untuk Menghakimi

Ada yang perlu saya koreksi dari cara berdakwah anak DKM angkatan di bawah saya,tapi sebelumnya saya minta maaf karena untuk masalah ini saya belum menemukan solusi jembatannya. Sekarang saya hanya bisa menyampaikan beberapa kelemahan mereka saja.



Ada dua hal yang membuat kening saya berkerut sekaligus menggelitik hati saya. Tapi yang perlu saya tegaskan di sini, saya bukan tidak suka atau tidak setuju dengan materi yang mereka sampaikan, saya juga tidak mengkritik apa yang menjadi bahan dakwahan mereka, saya hanya tidak setuju dengan cara mereka menyampaikan materi dakwah mereka dan itulah yang saya kritik di sini, cara mereka.



Pertama, ketika itu kebetulan saya sedang PRA UAN I Matematika di ruang 12 atau kelas 2 IPA 4. Di sana saya menemukan banyak sekali kertas-kertas HVS ukuran A4 yang dipotong menjadi dua bagian. Kertas-kertas itu berisi puisi yang sangat panjang, judulnya Bila Rasulullah Berkunjung ke Rumah Kita. Isinya menurut saya terlalu ekstrim dan tidak logis dengan kehidupan objek dakwah (kalau mereka mengambil anak SMAN 3 sebagai objek dakwahnya).


Di bawah ini antara lain yang menurut saya terlalu ekstrim :


ð Bila Rasulullah berkunjung ke rumah kita, pasti kita akan bingung menyembunyikan video rate 18+ yang berserakan di ruang keluarga kita



ð Bila Rasulullah datang ke rumah kita dan minta izin untuk shalat, jangan-jangan kita akan menyulap kamar mandi kita menjadi mushola



ð Bila Rasulullah berkunjung ke rumah kita, kita pasti akan malu karena perempuan-perempuan di rumah kita tidak memiliki baju yang pantas untuk menghadap Rasulullah



Inti dari ketiga bait yang saya petik itu yakni, kita sangat akrab dengan video porno sehingga tak malu lagi menggeletakkan video-video itu secara tercecer di ruang keluarga (Yang berarti kita tidak akan lagi malu menontonnya dengan seluruh anggota keluarga, sebab interpretasi dari ruang keluarga adalah ruang tempat berkumpul seluruh anggota keluarga), kita tidak punya mushola sehingga akan tega memakai kamar mandi, dan perempuan hanya memiliki baju yang mengumbar aurat. Ketiga inti tersebut saya nilai sebagai suatu pelecehan. Pelecehan bagi kehidupan objek dakwah yang dalam hal ini adalah siswa siswi SMAN 3.


Kehidupan siswa selain DKM sama sekali tidak seperti itu. Video porno, oke katakanlah hampir semua laki-laki punya, tapi apakah mereka akan sebegitu maniaknya dengan video tersebut dan apakah keluarga mereka sangat bobrok sehingga membolehkan mencecerkan video tersebut di ruang keluarga ? Itu yang pertama.


Kedua, pantas atau tidak bila kita menyetarakan mushola dengan WC ? Kenapa harus memakai kamar mandi sebagai mushola? Mushola untuk shalat, sedangkan kamar mandi untuk pembuangan. Dengan anak DKM menggunakan substitusi kamar mandi, maka itu juga berarti mereka juga melecehkan mushola, melecehkan shalat, melecehkan Allah secara jauhnya. Tidak adakah ruang yang lebih ekstrim sekalian dari kamar mandi untuk pengganti mushola? Kenapa, sih, harus menggunakan kamar mandi? Kenapa bukan ruang komputer atau ruang televisi atau ruang makan atau apalah yang setidaknya bukan kamar mandi.



Ketiga tentang perempuan yang tidak memiliki baju untuk menutupi aurat. Apa mereka pikir semua anak perempuan selain DKM tidak pernah membeli baju muslim ? Apa mereka pikir semua anak perempuan selain DKM hanya memakai tank top dan hot pants selama di rumah? Kalaupun ya, saya rasa bukan hak anak DKM untuk menghakimi anak-anak perempuan yang nampak seperti sesat itu. Masalah pakaian itu, kan, masalah privasi, kenapa harus dijadikan persoalan yang diusung dalam puisi yang disebarkan kepada khalayak umum ? Pantas atau tidak ? Kenapa yang diangkat malah masalah pakaian dan pakaian tersebut adalah pakaian di rumah? Kalau mereka mengkritisi pakaian-pakaian yang menjamur di BSM atau Ciwalk, okelah karena itu dipakai di tempat umum dan jelas-jelas perempuan yang memakainya memang memperlihatkan aurat kepada para mata, tapi sekarang yang mereka angkat adalah pakaian di rumah. Ya apa urusannya, siapa yang mau diperlihatkan aurat oleh para perempuan yang nampak akan menjadi calon penghuni neraka kata anak DKM itu?


Dengan begitu maka yang saya tangkap dari puisi tersebut adalah anak DKM belum terjun secara mendalam mengetahui seperti apa kehidupan nyata para anak SMAN 3. Anak DKM 08 dan 09 ternyata hanya mampu melihat kaver dan mencap buruk kaver tersebut tanpa sedikit pun mencoba tahu apa isi dari kaver tersebut, apa latar belakang hingga kaver itu tercipta, dan apa prinsip-prinsip ketuhanan yang dipegang kaver tersebut. Dakwah tanpa tahu medan juga sebenarnya salah, kan?



Jika anak DKM berkilah puisi tersebut hanyalah suatu perumpamaan saja untuk menyadarkan betapa jauhnya kita dari kehidupan yang dicontohkan Rasul, maka yang ingin saya balikkan adalah, “Apakah tidak ada lagi perumpamaan yang lebih kasar sekalian ? Biar sekalian mereka memusuhi Islam dan surga hanya akan dimonopoli anak DKM dan bersih dari para nista yang mau tobat.”


Puisi tersebut, yang saya yakin bahwa ia diciptakan sebenarnya untuk maksud yang baik, menurut saya tidak akan sama sekali menggerakkan objek dakwah untuk mendekat kepada jalan Allah, justru puisi tersebut akan menciptakan jurang yang sangat dalam antara objek dakwah dengan Allah dan objek dakwah dengan pendakwahnya alias anak DKM.


Yang perlu mereka tahu, dakwah tidak bisa dijalankan dengn garis keras sperti itu. Kalau dakwah dijalankan dengan garis keras, siapa pun tidak akan mau mendekat. Kita lihat para sunan, kenapa sih mereka bisa mengubah paradigma para pemuka dan penganut Hindu, Budha, animisme, dinamisme, paganisme serta masyarakat pedalaman yang tidak mengenal agama atau keyakinan khusus sehingga mereka mau menelaah Islam hingga akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam? Ya karena mereka berdakwah dengan jalan yang bisa masuk ke dalam keseharian para objek dakwah. Lewat wayanglah, lewat kidunglah, lewat obrolan lintas keyakinanlah, dan lain-lain, yang saya yakin cara-cara tersebut adalah cara yang jauh dari cara mengecam dan melecehkan seperti yang dilakukan anak DKM angkatan bawah saya.


Cara dakwah anak DKM (sayangnya saya tidak tahu puisi itu disebarkan oleh Divisi Ikhwan Al-Furqon atau Divisi Akhwat Dafa) tersebut sama sekali tidak menimbulkan pertanyaan. “Lalu Islam yang baik itu Islam yang seperti apa ? Kami harus bagaimana untuk menjadi umat yang baik?” dari setiap pembacanya. Ya jelas, karena belum apa-apa si objek tersebut sudah ngeper tercap buruk, sangat buruk.





(arkiar)

Perempuan on Action !!!!! Aaaaaaaaawaawwwww…!!!!

Keton dan aldehid dapat dibedakan lewat bereaksi atau tidakkah ia saat direaksikan dengan Fehling A atau Tollen’s. Alkohol dan eter pun dapat dibedakan lewat bereaksi atau tidakkah ia saat direaksikan dengan natrium. Nah, bagaimana metode yang tepat untuk membedakan laki-laki dan perempuan?


Jawaban saya hanya satu, bawa mereka ke lapangan, beri mereka tugas main sepak bola dan dari sana akan kita lihat betapa berbedanya laki-laki dan perempuan.
Tiga tahun saya bersekolah di SMA 3 dengan berbagai pengalaman menonton liga bola antarkelas serta memainkannya (eits, siapa kiper terbaik kelas 3ipa5??? Saya, tentunya…!!!) akhirnya saya bisa menarik kesimpulan ini.


Laki-laki kalau main bola bawaannya teriak gini mulu,


“Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!! Goblog! Bawa kadieu, beul!!!! Ah, sia mah!”


(jangan tanya artinya, deh, walaupun saya juga kadang sering , sering kadang, sering-sering, dan kadang-kadang meneriakkannya tapi saya tetep nggak tega ngasih tau artinya. Intinya mah kasarlah!).


Dan bagaimana dengan perempuan? Perempuan jauh lebih halus dalam meneriakkan kekesalan, tapi mereka cenderung tidak tegas dalam mengungkapkannya, baur
banget! Kayak gini…


Suara 1 : Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaawwwwww!!!!


Suara 2 : Ih, itu itu itu itu bolanya tendang!!!!!!!!!!


Suara 3 : Beceeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkk!!!!


Suara 4 : Aduuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhh, kotorrrrrr!!!!


Suara 5 : Ihhhhhhhhhhhhhhhhhhh, sakittttttttttt!!!!


Suara 6 : Bolanya awas awas awas awas awas bolanyaaaaaaaaa!!! Awaaaasss!!


Suara 7 : Vannyyyyy!!! Awas!!! Ayaaaaasss!! Deyyyyaaa!! Ambilllll!!!


Suara 8 : Aduuuuuuuuuuhhhhh!!!!


Suara 9 : Awas awas awas, ambil ambil ambil!!!!


Suara 10 : Lariiiiiii!!!


Suara 11 (kiper) : Bolanya bawa jauhhhhhh, anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssss!!! Bantuin gua jaga di depan woooooooyyyy!!!! Hoiiiiiii!!! Awas, May…itu musuh….Arggghhhh!!!! Yeeeeee, nggak gol…– suara saya –


Suara 12 (suporter kelas yang nggak kalah heboh) : (Reaksi atas kegagalan gol kelas orang) Gopeeeeeeeeeeeeeeeee, I Love yuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….!!!!



Selain dari teriakannya, laki-laki dan perempuan juga dapat dibedakan dalam cara membawa bola. Kalau laki-laki, pembagian 442 nya teratur, sedangkan perempuan ?


Wah, prinsip perempuan hanya satu, dimana ada bola, di sana ada kami.


Jadi kalau laki-laki main tuh berdasar pada porsinya, kiper ya kiper, pertahanan ya pertahanan, penyerang ya penyerang…Nah, kalau perempuan, satu-satunya yang konsisten dengan tugas cuman kiper doang! Itu pun kadang kipernya hokcay (molohok bari ngacay –bengong sambil ngiler –) di gawang soalnya nggak ada kerjaan (tapi saya enggak kok…).


Ya iyalah, secara bolanya aja dibawa-bawa sama 20 orang lain yang teriakannya sama-sama beda, kenceng, cempreng. Nah, 20 orang itu pun yang benar-benar keringetan paling cuman 19 orang (???) eh, 9 orang deh…10 sisanya ya ikut-ikutan lari aja…trus kalau bolanya ada di deket mereka kadang mereka suka lupa mana kawan mana musuh…trus malah ngumpan ke musuh…Waaaaah, parah!


Perbedaan lain adalah perempuan sangatlah barbar dalam berlari. Jadi kalau perempuan A udah bawa bola maka segala macam rintangan harus sirna. Dia akan terus berlari dan menyodok segala macam organ vital perempuan lain yang ia anggap menghalangi jalnnya. Untung aja nggak peraturan 3seconds dalam sepak bola.
Terus perempuan tuh kalau satu ada yang luka ya maka berhentilah seluruh permainan. Ngurusin yang luka, lah…biasa…


Wah, gila lah…pokoknya kalau perempuan main bola, suasana akan sangat memanas dengan segala macam teriakan cempreng dan kesakitan gara-gara jatuh disenggol.
Yah, mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa pemerintah tidak mengizinkan program listrik masuk desa….eeeeeeh, PON cabang sepakbola putri….Takut berisik seIndonesia. Dan yang jelas inilah yang membedakan laki-laki dan perempuan secara mendasar. Halaaaah.



(arkiar)

If U Can Dream It....

“If u can dream it…so u can do it..”


Percaya dengan kalimat tersebut?


Pada awalnya, saya kurang percaya, terutama dengan klausa terakhirnya, namun beberapa jam setelah saya membaca tulisan yang terpampang di Papan Mimpi atau Papan Rencana –papan yang berisi tujuan murid setelah lulus SMA, biasanya ada di tiap ruang kelas 3– kelas 3-8 itu, akhirnya saya percaya.


Apa pasal ?


Sore hari sepulang dari sekolah saya mendapati amplop coklat dari Redaksi Majalah Bobo di kamar saya. Setelah saya buka, ternyata amplop itu berisi Majalah Bobo no.46 edisi 22 Februari 2007. Dengan muka bingung karena tidak tahu mengapa saya harus dikirimi majalah oleh redaksinya sendiri, saya membuka lembar demi lembar dari majalah kesayangan saya sejak TK itu, sekedar mencari tahu jawaban. Agak lama tidak mengerti, akhirnya ketika saya menapaki halaman 29, saya menemukan jawabannya. Dongeng saya, Ketamakan An Li dimuat di sana.
Itulah saat-saat yang paling membuat saya menganga. Menganga terkejut sekaligus bahagia.

“Ini mimpi gua banget!”


Mungkin bagi penulis lain, tulisan dimuat di majalah atau koran bukanlah suatu hal yang luar biasa, namun bagi saya, hal tersebut adalah hal yang paling menakjubkan. Sungguh. Bukan bermaksud untuk sombong apalagi kampungan, hehe, tapi alasan saya mengesahkan rasa bahagia tersebut yaitu karena dengan dimuatnya tulisan saya, maka satu cita-cita dan mimpi terbesar dalam hidup saya (mulai dapat) tercapai.


Mimpi dan cita-cita?


Agak lucu juga awalnya. Setiap Kamis, hari saat Majalah Bobo terbit dan dibawakan ayah saya dari kantornya, semua isi dalam majalah habis saya lahap semua. Lalu Jumat saya mengulang membaca, Sabtu masih mengulang, Minggu mulai kesal dan tetap mengulang membaca, Senin saya sudah hapal apa saja isi majalah, Selasa saya tulis semua hal yang saya ingat dari apa yang saya baca, Rabu saya masih menulis, dan Kamis saya memiliki majalah edisi terbaru. Selalu begitu setiap minggu, sejak umur empat tahun hingga enam tahun.


Memasuki usia tujuh tahun, saya berpikir begini (jika dibahasakan dengan gaya bahasa saya sekarang), “Wah, gila, masa gua tetep nyalin tulisan majalah? Bikin sendiri aja! Gampang, kok! Masa gua nggak bisa?” –ternyata memang sifat nggak mau kalah saya ini sudah tampak sejak orok, ya!-


Dan pada saat itu saya mulai menulis apa yang saya pikirkan. Belum seratus persen berpikir di atas kreativitas saya juga sebenarnya. Memang, ketika itu saya menulis apa yang saya pikirkan, namun saya masih mengacu pada tema yang diangkat oleh rubrik-rubrik Majalah Bobo. Saya masih ingat betul, hal yang pertama saya tulis adalah puisi berjudul Gunung. Puisi itu saya tulis berangkat dari puisi dengan judul dan tema serupa, Gunung. Saya lupa siapa nama pengarangnya, yang jelas ia murid SD Xaverius, Palembang. Haha, hapal! Jumlah baris dan baitnya juga sama. Tujuh baris dan empat bait (atau kebalik, ya? Empat baris dan tujuh bait?). Intinya ketika itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa soal menulis dan akhirnya saya belajar secara otodidak dan otomaksa, hehe, pada apa yang disajikan oleh Majalah Bobo.


Sekitar sebelas tahun saya membaca Majalah Bobo, selama sebelas tahun itu pula saya iri, “Kok mereka bisa, ya nulis di majalah?” dan yang terpikir oleh otak saya adalah, “Berarti gua harus bisa nulis dengan cara kayak mereka nulis.”


Berangkat dari pemikiran seperti itu akhirnya saya mempelajari seluk-beluk menulis dari apa yang saya baca di Majalah Bobo. Bagaimana cara menulis puisi, cerpen, dan dongeng yang baik, apa yang harus ada dalam sebuah tulisan, bagaimana penokohan dalam sebuah cerita, bagaimana meletakkan tanda baca yang tepat, bagaimana agar bahasa bisa terbaca hidup, bagaimana caranya memberikan pemahaman kepada pembaca yang usianya masih muda, dan lain-lain. Lalu yang paling membanggakan adalah apa-apa yang telah saya pelajari itu ternyata mengantarkan saya mendapatkan nilai 9 setiap ada tugas mengarang selama di SD.


Kembali pada persoalan awal, If u can dream it, so u can do it, saya kini seratus persen percaya. Dulu saya bermimpi ada tulisan saya yang dimuat di Majalah Bobo dan kini mimpi saya telah menjadi kenyataan. Siapa yang tahu, kan? Dulu saya hanya anak kecil yang tolol masalah menulis, yang bisanya hanya meramu tema yang sama menjadi tulisan berbeda namun masih satu rumpun, dan sekarang bagaimana? Berkat terus membaca, terus mengoreksi, dan terus membandingkan, ternyata mimpi saya bisa terwujud. Ini pokok persoalan mengapa saya bisa bangga. Ya, karena ini adalah mimpi saya yang dapat saya wujudkan lewat belasan tahun belajar sendiri dengan membaca berulang.


Dimuatnya satu tulisan saya bukanlah akhir dari mimpi saya, tentunya. Ini adalah awal untuk mulai berjalan mendidik adik-adik saya, awal untuk memulai mimpi saya. Dan semoga Allah membantu saya. Amin.


Mmmm, apakah saya bisa ?


Tentu. Karena saya tahu dan percaya… If u can dream it, so u can do it.







(arkiar. Dok.pri. Mar 07)

Menjalani Maret....

Kemarin masih inget banget tuh baru juga nulis First February, eh sekarang udah nulis Menjalani Maret lagi. Wew, berarti udah satu bulan, ya? Yah, kalo gitu tinggal satu bulan lagi menuju UN. Ummm, sekolah mulai memadat, nih tugas-tugasnya. Terus makin padat aja tuh omelan guru-guru, terutama wali kelas saya. Iiiiiiih, ngomeeeeeel mulu! Ngomelnya juga tiba-tiba tanpa sebab musabab yang bisa disahkan sebagai hal yang fatal dan patut dimarahi. Ya Alllllllllllaaah…


Awal Maret ini ada event bazar dari sekolah tetangga, namanya 8soulvation. Saya, yang jelas-jelas miskin tak bermodal plus pelit hura-hura ternyata bisa dateng ke acara itu berkat kebaikan hati sepupu temen saya yang ngebeliin tiket, buat saya dan tentunya buat temen saya. Thanks, ya, Nit!


Tiga hari setelah itu, mulailah neraka otak. Ulangan fisika. Listrik 5 bab. Statis, dinamis, arus bolak-balik, magnet, samaaaaaaa ga tau satu lagi apa. Wah, mana pake sistem plus empat minus satu pula! Ah, alamat bakal ngosongin lembar jawaban ini mah.


Maret ini…sibuk..sibuk..sibuk…sibuk belajar buat UN, matem khususnya. Eh, iya! Bareng sama acara bazar itu, matem juga memberikan serangan 30 soal praUN, huwahuwa…susah euy! Yah, biasalah, apa sih yang nggak susah buat saya…hehehe.


Eh, dengan adanya kenyataan bahwa UN tinggal menghitung hari, detik demi detik, ….maka saya harus padamkan saja, kobar asmaramu…alias sedikit mengurangi pacaran sama laptop. Huah, perlu konsen yang tinggi dan niat yang mulia serta kesungguhan hati untuk memandang jauh ke depan bahwa, kudu lulus! Aduuuuuuuuh, amin.


Wah, kok kayaknya saya menderita sekali gitu, ya selama bulan Maret ini. Kayaknya sekolah tuh, sumpah, neraka banget gitu…Haha, enggaklah. Seimbang-seimbang aja, kok. Ada hal-hal yang bikin enak juga lah. Apa, ya? Wah, ya belum tahu. Maret-nya aja baru mulai, mana tau bakal ada apa aja. Ah, tapi yang jelas, sih bakal dibawa nyantei aja. Belajar ya belajar, main ya main, pacaran ma laptop masih jalan, pacaran ma manusia…wah, susah ini mah, manusia-nya nggak ada yang ‘lagi’ sama saya, nih! Gimana, dong? Whahaha.


Yah, Maret ini bulan yang berat soalnya bakal dipakai sama belajar buat UN, Maret ini juga bakal berat sama tugas yang numpuk, Maret pun bakal mahal buat ngeprint tugas yang harus diketik dan dijilid, intinya mah bikin pusing. Ummmm, wishing buat bulan ini…Semoga ada kebahagiaan di balik kesusahannya…amin…hehe. Bijak, nih gua sekarang.


Oia, turut berbelasungkawa juga, nih buat korban terbakarnya Garuda di Yogya. Wah, belum habis rasa nggak habis pikir gara-gara hilangnya Adam Air dan terbakar plus tenggelamnya Levina, eh dateng lagi musibah Garuda ini. Gara-gara tiga musibah yang menggoncangkan Indonesia ini, sekarang saya makin sering mimpiin Pak Hatta Rajasa, Pak Suripto, dan Pak D.Sudibyo, hehe, soalnya mereka akhir-akhir ini jadi laku gitu diwawancarai televisi-televisi, kan akhirnya wajahnya jadi familiar buat saya. Mmmm, wishingnya nambah lagi kalau gitu, semoga musibahnya cukup sampai sini aja, nggak berekor kesana kemari dan beranak pinak. Amin.


Ups, lupa… turut berbelasungkawa lagi buat saudara-saudara se-Tanah Air yang terkena bencana gempa bumi di Sumbar. Aduuuuuuuuuuuuh, musibah terus, nih. Kemarin banjir, trus ada lagi Lapindo yang makin parah lumpurnya, trus sekarang gempa. Kayaknya nggak ada habisnya. Satu yang harus diingat, jangan nyalahin alam, apalagi nyalahin Tuhan, soalnya dulu kita-kita juga yang tega sama alam dan Tuhan. Eksploitasi mulu, nggak pake bersyukur, lagih! Marah, deh tuh Tuhan lewat alam, ditambah lagi alamnya udah ngambek sama kita dari lama, jadi waktu disuruh Tuhan untuk ngasih pelajaran sama manusia, si alam semangat banget menjalankan. Hmmmmm, kalau gitu kita harus minta maaf sama alam dan Tuhan. Trus harus janji juga supaya ga jahat dan serakah banget ngeruk anugrah-anugrah dari Tuhan. Ya, nggak ?


Eh kemarin ada yang sempat lihat gerhana bulan ? Ada yang sempat motret fenomena itu nggak ? Wah, sayang banget kalau sampai nggak sempat. Soalnya kemarin itu langit lagi cerah-cerahnya, jadi nampol banget buat lihat umbra dan penumbra. Mmmm, tapi jangan khawatir, waktu saya baca di Tribun, katanya nanti sekitar bulan Agustus gitu bakal ada gerhana bulan lagi. Nah, nanti jangan sampai terlewat lagi. Oia, ngomongin soal gerhana bulan, saya jadi kangen gerhana matahari total. Kalau nggak salah inget, itu terjadi waktu saya masih SD. Wah, waktu masih SD, sih tolol banget nggak ngerti keindahan dari gerhana matahari total, makanya terlewat dengan datar aja. Huuuuuuummmmm, kapan lagi, ya bakal ada ? Nanti, sih nggak akan dilewatkan dengan datar-datar aja.


Trus trus trus trus… makin melebar aja jadinya. Ah, ngomong-ngomongnya udahan dulu, baca tulisan saya yang lainnya, ya!


Selamat Menjalani Maret!






(arkiar, Maret 2007)

Dari Cetusan Seorang Kawan…

Pernah menemukan jawaban untuk pertanyaan ini, “Cowok yang ganteng itu seperti apa, sih?”

Sepintas, pertanyaan ini mudah untuk dijawab. Tapi kalau kita melihatnya secara tidak sepintas, pertanyaan ini akan menimbulkan jawaban melebar yang menjauh dari topik. Ini pertanyaan yang rawan, khususnya bagi perempuan.

Pertanyaan ini hanya menanyakan, seperti apa cowok yang terkategorikan “Ganteng”, sebenarnya. Tapi kenapa berdasarkan data-data yang diperoleh kawan baik saya, hampir semua jawaban yang diberikan 27 responden malah menjurus untuk menjawab lo-mau-cowok-yang-kayak-gimana-buat-ngedampingin-sisa-idup-lo…????

Pertanyaan ini diajukan kawan baik saya yang juga seorang penulis, tujuannya untuk apa saya tidak tahu. Tapi yang jelas ia sudah cukup cerdas dan kritis untuk mengajukan pertanyaan yang mungkin teranggap tidak penting untuk ditanyakan (Nggak juga, sih. Kayaknya emang penting kali, ya! Soalnya udah ada lebih dari lima orang cowok –yang sebenernya, sih, mereka ganteng– yang nanyain hal itu ke saya sebelumnya. Tapi ya secara lisan, nggak dalam tulisan. No problemo tapi lah, toh mereka juga bukan penulis).

Ini jawaban acak secara umum (??? Ngomong opo thoooo, sok ngilmiah…) yang saya temukan sebagai jawaban yang janggal untuk menjawab pertanyaan dari kawan saya :
Menurut kalian, cowok Ganteng itu seperti apa ?

  1. Nyantei, ga grasak-grusuk kayak aku…
  2. Ga suka tebar pesona,,, yux,,, ga suka cowo kayak gitu (yg suka tebar pesona)
  3. Baiiiiiik banget!!! Penting itu!
  4. Ramaaaaaaaaaaaaaah banget!!!
  5. Seenggaknya bisa jadi imam salat!!! Ini juga penting
  6. Ga suka GR, jaim. Menghormati semua orang
  7. Pinter (itu penting!)
  8. Asik diajak ngobrol, punya kharisma laaaah
  9. Fleksibel
  10. Yang penting sih dapet chemistry-nya
  11. Tanggap, peka, pandai mengendalikan suasana
  12. Lebih tinggi dari aku
  13. Bisa mengayomi
  14. Baek
  15. Dewasa
  16. Punya sense humor yang baik
  17. Harus cinta banget ma JC
  18. Ga pemarah
  19. Tanggung jawab
  20. Setia
  21. Punya prinsip, ga disuruh orang mau aja
  22. Dia punya sesuatu yang mati-matian dibelanya
  23. Ngertiin keadaan orang lain
  24. Ga banyak protes dan keukeuh sama pengennya
  25. Tau kapan harus mengekang dan kapan harus membebaskan
  26. Ga asal suka sama cewek cantik dan eksis
  27. Seimbang iman, akhlak, otak, tampang, penampilan
  28. Kalo lagi pacaran mengarah kepada tujuan yang baik
  29. Deket sama orang tua
  30. Wawasan luas
  31. Ga berlebihan
  32. Suka olahraga
  33. Punya keahlian sendiri
  34. Bisa nyetir
  35. Harus baek juga, sabar, perhatian, dewasa
  36. Ga pemdiem, aga cerewet
  37. Ga sombong dan rendah hati
  38. Setia, perhatian
  39. Ngangenin
  40. Unpredictable
  41. Berani
  42. Galak
  43. Menantang
  44. Bisa jagain ceweknya


Huahahahaha….apaan tuh?

Bukan berarti 44 jawaban itu adalah jawaban salah. Jawaban-jawaban itu dapat terkategorikan sebagai jawaban, namun dalam kacamata saya jawaban-jawaban itu lebih cocok dilontarkan bila pertanyaan diganti dengan, “Selain ganteng, cowok seperti apa yang kamu mau, yang bisa bikin kamu jatuh cinta berkali-kali sama dia?” atau, “Apa yang harus dimiliki cowok supaya ganteng-nya dia itu bisa lebih terlihat?”

Dalam pandangan saya sendiri, pertanyaan, “Cowok ganteng itu seperti apa?” adalah pertanyaan yang lebih mempertanyakan kenapa sih mulut kamu tiba-tiba berucap, “Gilaaaa, ganteeeengggg!!! Banget banget banget!!!” setelah pandangan kamu tertumbuk pada seseorang.
Lebih terarah pada fisik yang ia miliki dan tingkah laku yang ia tunjukkan, menurut saya.

Ada satu jawaban yang cukup membingungkan saya, begini,

“Ya jadi menurut aqu ‘ganteng’ itu tergantung ‘mata’ yang melihatnya bukan ‘hati’ yang ‘merasa’. Tapi kelebihannya kata ‘ganteng :
Ganteng beda kali ya ma cakep; ganteng itu lebih ga ngebosenin
Ganteng g harus WAH… g harus KEREN tapi kalo kita(cewek2) ngeliat si ganteng hati lebih merasa senang riang karena dy punya ketertarikan sendiri (cat. arkiar : mungkin bukan ‘Ketertarikan’, tapi ‘Daya Tarik’…maknanya beda…jauh banget malah. –Tk.arKiar-)”

Perhatikan bagian yang saya beri warna yang mencolok, yah…

Maunya apa, sih?? Katanya ganteng itu tergantung pada mata, bukan hati, namun pada poin selanjutnya jawaban ini malah membahas bahwa kalau kita melihat si Ganteng itu maka hati kita akan merasa senang riang. Berarti, dalam hal ini, hati masih dipakai dong? Tuh, kan, maunya apa…???

Lagipula, menurut saya jawaban ini lebih tidak sumbang apabila pertanyaannya, “Orang kayak apa yang kamu kecengin?”

Dhsssssssssaaaaaaaaaaaaaaaaasss…

Tapi saya juga sadar, setiap orang punya pendapat yang berbeda-beda dalam mengungkapkan sisi-sisi kegantengan para cowok. Mungkin bagi mereka itulah yang dimaksud dengan ganteng versi mereka dan sekaligus, itulah yang mereka inginkan dari laki-laki. Ya, saya juga mau lah sama cowok yang kayak gitu mah, tapi saya tidak akan mengategorikannya sebagai ciri-ciri ganteng, saya akan memasukkannya ke dalam kategori, ini-nih-cowok-yang-harus-gua-dapetin-sebagai-jodoh-gua.

Mmmmmm, ada yang ingin saya tambahkan, bagi saya Ganteng itu sebenarnya terbagi dua. Ganteng pada pandangan pertama dan ganteng pada pandangan selanjutnya setelah mengenal lebih dalam. Kawan penulis saya mungkin kurang teliti dengan pertanyaannya. Harus disadari juga bahwa kalimat pertanyaannya masih terlalu umum, “Cowok ganteng itu seperti apa?”, mungkin akan lebih memberikan jawanban yang menjurus akurat apabila ia memperjelasnya dengan, siapa-cowok-yang-dimaksud, dalam arti cowok-yang-baru-gua-liat-di-mall atau cowok-yang-selama-ini-duduk-di-bangku-depan-gua.

“Orangnya tinggi, putih, kekar, matanya tajem, idungnya mancung, bibirnya kecil, rahangnya kotak, alisnya teges, dagunya belah, ga pake jerawat, jalannya gagah, cara makannya elegan, ketawanya renyah. Semi jas-nya bikin bahunya tambah bidang, kemeja merah hatinya tuh nyetak flat perutnya jelas banget. Wah, gilaaaaaa…ganteng banget tuh orangggggg…!!!” ini yang menurut saya definisi ganteng pada pandangan pertama.

“Waktu gua lihat dia lagi ngetik, kelihatan banget serius sama cerdasnya. Kalau gua denger dia argumenan, kedenger banget aura berhasilnya. Kalau dia lagi bercanda, kerasa banget sopannya. Terus gua lihat dia nggendong anak kecil dan anak kecil itu nyaman banget ketawa sama dia, wah kagumlah. Terus kemarin dia nyuci mobil pake celana pendek sama kaos kegedean, wah basah-basahnya dia tu seger banget diliat. Eh, waktu lebaran gua salam-salaman sama dia, dia pake baju takwa putih sama sarung biru sama peci hitam…duuuh, shaleeeeeh. Kemarin lagi gua lihat dia netesin air mata, wah perasaannya ternyata seganteng fisiknya. Minggu kemaren babeh gua jaga malam sama dia dan paginya dia kerja bakti, wah babeh gua aja salut. Terus minggu kemarennya, dia kepilih jadi ketua RT! Bahkan taun depan, Pak RW juga mau ngangkat dia jadi mantu.” ini yang namanya harapan saya…uuups..hehe, maksud saya, ini dia opini saya tentang cowok yang ganteng pada pandangan-pandangan selanjutnya.

Tapi pastinya nggak ada lah cowok yang seperti itu mah. Baik dari versi teman-teman maupun versi saya –terutama yang dijadiin pak RT–. Kalau sampai ada pun juga bukan karena dari sononya tapi karena kita yang menginginkannya dan mati-matian menjadikan pacar kita untuk menjadi orang yang seperti itu.
Dalam perenungan saya yang berhari-hari (huh, baru juga kemarin dapet ide ini), saya menyimpulkan ini. Setiap laki-laki itu pada dasarnya ganteng, nggak ada lah yang jelek mah. Tapi memang menurut perempuan ada momen-momen di mana laki-laki itu terlihat ganteng dan terlihat nggak ganteng (susah amat, bilang aja langsung, Jelek dan Hina Dina Nista…).

Laki-laki ganteng kalau…

  1. Pakai baju taqwa putih, sarung biru, peci hitam
  2. Pakai polo-shirt polos yang didalemnya didobel kaos putih
  3. Main gitar dan nyanyi
  4. Ngetik di komputer dengan muka yang serius tapi sebelumnya dia senyum dulu sama saya… (huahahahahahaha…ini mah namanya k-e-n-a-n-g-a-n….!!!!)
  5. Hunting foto sosial (bukan fotografer model-model supercantik)
  6. Lagi ngaji
  7. Rambutnya wet look, di-spike gitu lah
  8. Presentasi dan jawab pertanyaan dengan gaya tegas dan berdiri terus gerakan tangannya meaningfull banget
  9. Nyetir mobil (Nggak usah yang mewah lah, mobil dengan logo empat lingkaran yang saling besambungan juga bolehhhh…huahaha…audi…)
  10. Main sama anak kecil dan anak kecilnya ngenjoy
  11. Cara makannya sopan, elegan, manner bangetlah.
  12. Ngerjain kerjaan rumah, terutama nyuci mobil, motong rumput, jemur baju
  13. Mau ikut ronda dan kerjabakti dan bersedia jadi Pak RT..awawawaw

Laki-laki walaupun mukanya sangat ganteng mirip Tom Cruise, David Beckham, Brad Pitt, Leonardo Do Caploki..eh..Di Caprio…akan terlihat sangat hina kalau…

  1. Duduk di pinggir jalan (jongkok) terus bilang, “Neng… neng…!! Suit suittttt…” sama tiap cewek yang lewat
  2. Pake gaya sok ngeRock di acara konser atau meet and greet

Nah, buat para lelaki… Mungkin ini bisa jadi bahan rujukan, bagaimana-agar-terpandang-ganteng-sama-perempuan...hehehe...




Arkiar. Feb 07.
[Thanks buat Ferdy]

Antara Taman dan Toilet...



Mungkin bukan hal yang baru atau unik juga, ya kalau kita mbahas masalah halaman yang indah dengan WC yang bobrok. Saya juga yakin, nggak cuman sekolah saya, SMAN 3, aja yang punya masalah aib kayak gini. Tapi nggak apa-apa, kan kalau kita bahas tentang ini, yah itung-itung buat nambah referensi betapa-orang-Indonesia-sangat-nggak-peduli-sama-WC-padahal-mereka-butuh-boker-dan-pipis-oia-sama-ganti-pembalut.

Pertama kali masuk ke SMA ini, tamannya nggak sebagus yang saya pajang di sini. Nggak rapi, berantakan, nggak asri, nggak hijau, nggak ada bangku, kolamnya jelek, nggak bisa dipakai buat nongkrong, dan yang pasti nggak bisa difoto-foto. Kamar mandinya juga super duper amat sangat menjijikan. Nggak menimbulkan hasrat untuk berlama-lama mengunci diri, nggak menggerakkan hati untuk bolos pelajaran boring di situ, nggak membuat hati rela untuk antri berlama-lama. Kotor, banyak kerak, nampak nggak pernah dikuras, dan tempat sampah di dalam tuh tergenang sama air yang nggak tahulah itu air apa. Hiiiiiii….!!!

Setahun kemudian , ketika saya naik kelas 2, barulah ada perubahan. Taman-taman yang kayak ladang buka hutan itu dibenahi jadi seperti yang bisa Teman-teman lihat sekarang. Enaklah buat dipakai nongkrong. Nggak tahu tuh enak atau nggak buat pacaran soalnya selama ini saya nggak pernah pacaran di sana (ehm, emangnya punya pacar gituuuuuhhh…????) dan saya juga nggak pernah lihat ada dua sejolang sejoli lagi memadu kasih di sana…Aih aih…racuuuuuunnn…!!!

Satu tahun di kelas dua itu saya lewati dengan pemandangan indah di taman, yang kebetulan bisa langsung terekspos dari bangku saya yang ada di pojok samping agak ke belakang. Gurunya ngebetein, ya tinggal noleh ke kanan buat ngecengin ijo-ijo pohon. Tapi satu tahun yang harusnya cukup indah itu terasa ada yang kurang. Kok kayaknya agak gimanaaaaa gituh kalau lagi kebelet… Ummm, tak salah lagi, WC luput dari perhatian untuk direnovasi.

WC tetep kayak dulu, waktu pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA 3. Deskripsi yang ada sebelumnya sudah cukup jelas, kan? Yah, tetep aja tuh kayak gitu. Saya kira memang WC sengaja diluputkan karena anggarannya bukan pada tahun saya kelas dua. Saya tunggu tuh sampai sekarang, saya kelas 3, eeeeeh tetep aja tuh WC kayak gitu. Saya sendiri, sih akhirnya jadi males pipis di kamar mandi itu, yang deket taman. Selain karena sekarang kelas saya jauh dari taman dan ada WC yang jauh lebih deket sama kelas saya yang ada di lantai dua, saya juga males pipis di WC itu soalnya ya kotoooooooooornya menjijikkan. Mana, ups sori, ya…ada anak-anak cewek yang jorok, buang pembalut tanpa dicuci dan dibungkus. Kebayanglah tempat sampah di WC itu diisi sama merah-merah yang menyembul…hiiiiiiiii…Malu, deh, nyeritainnya (trus mereka yang ngebuang itu malu nggak, ya?).

Yang ingin saya kritisi adalah, kenapa sekolah lebih menitikberatkan anggaran untuk memperindah taman, bukannya untuk (juga) merenovasi WC yang nyata-nyatanya lebih esensial dan lebih ‘kepake’ oleh siswa. Memang, taman juga perlu diperhatikan keindahannya dan perawatannya, tapi kalau kita banding-bandingkan lagi lebih dalam, mana sih yang lebih berguna dan yang lebih nggak bisa dilepaskan dari siswa, taman atau WC?

Taman menurut saya hanya sebagai prestise. Lambang dan kebanggaan bahwa SMAN 3 peduli lingkungan, SMAN 3 pendukung penghijauan, SMAN 3 pecinta keindahan. Bangga, sih emang punya taman yang bagus dan yang dikomen, “Ih, sekolah lu bagus banget taman depannya!” tapi sebenernya dalam hati saya ketawa. Gimana enggak, lha wong siswa-siswanya itu selain ngeluh kamar mandinya jelek juga sama sekali nggak pernah nyicipin gimana rasanya main di lapangan depan atau ngeliatin air mancur yang seger banget kalo siang-siang –kata anak sekolah lain yang lintas pulangnya lewat SMAN 3– .

Gitu, ya orang Indonesia itu, senengnya bikin kaver yang bagus tapi isinya nggak diperhatikan bagus atau nggak, layak atau nggak, pantas atau nggak, sinergi atau enggak, dan atau eggak-atau enggak yang lain.

Saya jadi mikir, nih. Mungkin bisa jadi pemikiran si yang nentuin anggaran itu kayak gini, sejelek-jeleknya WC ya tetep aja ada peminatnya yang rela antri panjang-panjang tiap ganti pelajaran, tiap istirahat, dan tiap pulang sekolah. Lagian juga SMAN 3 dah terkenal sebagai sekolah yang terpercaya buat nyetak penghuni ITB dan FK tiap tahun. So, WC jelek, no problemo lah ya… Kalau taman jelek, kan bener-bener memalukan, masa sekolah ngetop eeeh kavernya berantakan dan kayak ladang…????

Itu satu penyebab mungkin WC lebih dipinggirkan kebutuhannya. Tapiiiii, kok kayaknya nggak adil, ya, kalau saya berpikirnya seperti itu...???
Nah, ini ada satu lagi yang saya pikir juga jadi bahan pertimbangan kenapa WC dientar-entar aja. WC emang kotor, banyak kerak, jijik, tapi sebenernya dia nggak rusak. Ubin masih terpasang teratur, WC nggak mampet, bak nggak bocor, dan pintu masih aman terkunci. Nah, ini sumber yang menurut saya lebih tepat jadi biang keroknya. Sekolah juga bingung, ini WC emang jelek tapi nggak ada yang rusak. WC jelek karena kotor aja. Lagian bodoh banget tuh kalau WC diganti ubin lantai atau ubin dinding cuman gara-gara mulai berkerak. Nah, kotornya itu WC bisa teratasi dengan perawatan tiap pagi dibersihkan, disikat, disiram karbol. Suruh aja pegawai sekolah buat ngerawat tiap hari. Itu pertimbangan yang menurut saya lebih nggak menyalahkan pihak-pihak. (pihak apa coba…??? Hwehwhehe…)

Ya, pastinya 70% alasan ini yang dipakai sekolah untuk ‘mendiamkan’ WC. Serba salah, sih kalau udah nyangkut WC. Dibangun lagi hambur duit, nggak dibangun tapi jorok. Nah, dengan pemikiran seperti ini, menurut saya WC itu salahnya udah dari awal dia dibangun. Yang ngerawatnya itu nggak telaten sampai-sampai WC jadi kotor. Nggak nyalahin pegawai sekolah juga soalnya wewenang dia cuma nyikat (disikat nggak, ya? Kok saya nggak pernah liat ada sikat di sekolah…), nyiram karbol (ini selalu dikerjain, apalagi kalau pagi-pagi, kecium kok baunya…), dan nguras bak kamar mandi, yang artinya waktu dia untuk berinteraksi sama WC cuman sedikit. Yang punya banyak waktu untuk berinteraksi, kan siswa-siswanya…Nah, sekarang yang mau saya tanyain sekaligus salahin, coba kalau diinget-inget buat Teman-teman SMAN 3 yang baca blog ini, kalau udah pipis kalian nyiramnya rata nggak tuh? Kalau sepatu kalian kotor dan kotorannya nular ke lantai kalian siram lagi nggak tuh lantainya sampai bersih? Kalau habis ganti pembalut itu darah (sori) udah kesiram bersih ke lubang penbuangan belum? Kalau pada belum, yaaaaa…pantes aja itu WC nggak ngaruh mau dibersihin kayak apa pun , tetep aja kotor dan coklat. Terus walaupun dia dibangun lagi jadi kayak WC standar mall, ya nggak bakal ngaruhlah, soalnya dari siswanya aja udah jorok dan nggak punya kepedulian sama lingkungan, segitu lingkungannya itu esensial, walaupun cuma berpredikat sebagai ‘tempat pembuangan’.

Mungkin keenggakpedulian siswa ini terendus sama guru-guru dan kepala sekolah sampai-sampai para siswa ini nggak boleh nyicipin main di taman depan yang ada air mancurnya. Mereka takut keindahan taman yang mahal didesain itu dirusak sama tangan-tangan jail siswa yang belum cinta sama lingkungan dan punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan sekolah kayak lingkungan miliknya sendiri. Mereka takut kalau taman-taman itu akhirnya berujung kayak WC. Yang kotor, coklat, jorok, dan serba salah untuk dibangun atau dirawat.

Hmmmm, ternyata balik-balik lagi dari semuanya ini yaitu sikap kita, siswa SMAN 3 sendiri yang belum punya rasa ngejaga.





Feb.07. Arkiar.Dok.pri

First February...Cakap-cakap Awal Bulan

Pertama-tama, wah kayaknya udah lama banget saya nggak ngeposting di sini… Waduh waduh, maaf… sebenernya ada banyak yang mau saya posting tuh kemarin-kemarin tapi sayang ada banyak halangan.. hehe. Dari mulai invasi anak kelas dua atas komputer-komputer perpus sampai nggak ada waktu gara-gara ada pelatihan Adobe, Flash, HTML di salah satu PTS yang lagi menarik minat anak SMA supaya masuk ke kampusnya. Belum lagi masalah kesehatan yang memburuk gara-gara dua hari berturut-turut dibonceng pas hujan dan uang yang makin menipis. Wah, banyaklah alasan kenapa saya nggak ngeposting.
Alasan kayaknya udah nggak penting lagi dibahas sekarang, yang lebih penting sekarang yaitu akhirnya saya bisa ngeposting juga…
Uhm, minggu awal Februari ini kayaknya saya harus sering kembali ke laptop –meminjam tag line salah satu acara TV swasta– , nih! Tugas banyak banget dan ulangan lagi-lagi memborbardir. Tapi untungnya minggu ini pra uan lagi off jadi seenggaknya malam Sabtu bisa terlewati dengan nonton bioskop TransTV plus silver queen dark -PS: Sendirian…hehe-.
Ada apa, ya pada bulan Februari ini ?
Oh, tanggal 13 nanti temen saya ulang tahun! Tahun kemarin saya sukses nelpon dia tepat jam 12 malam yang otomatis jadi orang pertama yang ngucapin! Mmm, tahun ini ulang lagi jangan, ya? Ah, kayaknya enggak, deh! Dulu saya bisa nelpon dia gara-gara tarif 300 rupiah, sekarang sih 3000 rupiah soalnya saya sama dia udah nggak satu operator lagi. Masa mau beli nomor baru lagi? Wah, se-Indonesia ngamuk lagi sama saya. Ya sudahlah, ntar ngirim sms aja.
Tanggal 14 ada Valentine’s Day. Mmmm, saya bukan termasuk pendukung atau pengecam, sih. Saya cuma pengamat aja. Jadi kalau di sini nanti ada tulisan tentang VD, itu cuma dari sudut pandang pengamat aja. Terus kalau nanti tiba-tiba saya bikin coklat buat orang dan coklatnya itu tentu saya kasih ke dia, bukan berarti saya pendukung VD tapi cuma asik-asikan doang, biar rame. Tapi emang pada dasarnya saya ini suka memberi, sih…hehe. Yah, berhubung harga coklat kalo lagi VD pada murah yaaaa gitu deh, baru ngasih coklat pas VD. Huehe.
Tanggal 18 ada Imlek! Tahun baru etnis yang terpinggirkan pada rezim Orde Baru ini menarik juga untuk ditulis. Selain karena baru dirayakan secara terang-terangan beberapa kali, saya juga tertarik untuk mencoba menulisnya karena saya…apa ya…ummm…boleh dibilang suka sama kebudayaannya. Eits, gini-gini dari SMP saya 70% fasih ngomong bahasa Mandarin looohh, ujian kenaikan tingkat aja nilai saya 100 sama A+ melulu…Wahahaha…tapi sekarang dah enggak euy, gara-gara nggak pernah practice lagi ngobrol sama orang Mei Sheng –Radio berbahasa Mandarin di Bandung– sama setaun nggak les.
Tanggal-tanggal berikutnya saya lupa ada event apa lagi yang bisa diangkat. Ummm, tapi sebenernya nggak usah nunggu event besar, sih, kalau mau nulis. Event pemilihan kepala desa juga nenarik untuk ditulis. Eh, saya udah diakui sebagai warga negara, loh! Buktinya saya diminta suara untuk nyoblos kepala desa tanggal 4 Februari. Wawawawawa. Hehe. Nah, nanti akan saya tulis juga, nih! Pengalaman Mencoblos Pertama Kali, wahahahaha.

Kegiatan bulan ini yang cukup menyenangkan sekaligus menyedihkan yaitu foto-foto buat buku tahunan. Argh! Waktu cepet banget tuh perginya. Perasaan nih, baru kemarin saya masuk kelas satu, diorientasikan. Eeeeeh, sekarang dah mau UN yang artinya dah mau lulus sekaligus diorientasikan lagi di kampus…cucucuchhhhhuuuy!!!
Perpisahan tuh sedih, ya! Huhuhuhuhu. Nggak pipis lagi di WC yang kotor tuh ternyata agak nyesek ternyata. Mmm, terus kalo udah perpisahan ntar nggak ada lagi nyatet pelajaran Pak Tata sambil berusaha mengonsentrasikan pikiran yang maunya ditutup sama kelopak mata. Terus nanti nggak bisa nyontek-nyontek tugas atau saling fotokopi catetan tempat les lain. Terus nanti nggak lagi nongkiyong di pojokan kantin sambil makan timbel, ngobrol+ngejek+ketawa sampe sore yang akhirnya juga telat solat. Terus nggak ada lagi jalan ke 3-7 sambil berusaha nyari angle yang bagus supaya nggak ketauan lagi ngeCCP-in orang di 3.6 –dan usaha itu pun selalu gagal, abisnya orang itu duduk di tempat yang super nggak strategis buat diCCp-in. Setiap istirahat pun akhirnya nggak pernah kelewatin dengan keberhasilan CCP–, whahahahahahahhaaaa…
Wah, gilalah.
Saya dulu nggak pernah bermimpi tuh punya kisah-kisah kayak gitu. Saya kira saya bakal ngelewatin masa SMA dengan datar-datar aja. Yah, secaraaaa liat SMA 3 yang menurut sahibul hikayat adalah sekolah yang gila pembelajaran, hehe. Tapi ternyata ada juga kisah-kisah kayak gitu dalam catatan sejarah saya yang belum saya bikinkan prasastinya. Terus kirain juga saya nggak bakal tuh punya kisah hati, alalalah… Hehe. Ternyata saya punya, walaupun itu kisah bakal (atau malah jangan-jangan, SUDAH?????) terancam jadi kisah yang kata Dewa, “Baru kusadariiiiii…Cintaku bertepuk sebelaaaaaaaah tangaaaaannnnn….” (dalam hati berdoa, “Ya Allah, jangannnn, jangan, jangan, jangan sampe, Ya Allah…” whahahahahahaha. Dasar, ngarep…ngareeeeeeep.

Argh, jadi ngomongin perpisahan, nih! Ya sudahlah daripada nanti saya nanti melebar nggak karuan, mending saya pisahin juga deh sekarang. Yuk yak yuk, selamat baca tulisan saya yang lainnya, ya!




Bandung, Feb 07.Arkiar

Pada Sebuah Hujan di Antara Lampu Merah....

Bandung seperti biasa, hujan. Sebenarnya tidak cukup deras namun cukup membuat sekujur tubuh basah dan menggigil, mungkin karena airnya yang dingin atau karena udara yang ditiupkan angin cukup dingin.

Saya yang duduk di angkot, tepatnya di kursi "Artis" -karena letaknya di belakang sopir sehingga semua mata tertuju kemari- dalam hati sempat menggerutu halus, apalagi kalau bukan karena air hujan itu terciprat ke baju saya dan hp saya yang sedang saya tekan keypad-nya. Bukan apa-apa, sepatu saya sudah cukup menjadi korban keganasan air hujan -tiga hari belum kering- dan saya tidak mau besok saya ke sekolah dengan rok abu hasil pinjaman -seperti sepatu saya- dan tanpa membawa hp karena hpnya rusak tertetesi air hujan.

Angkot melaju tersendat. Pertama karena si sopir mencoba mencari rezeki dari beberapa orang yang kebetulan lewat, sekedar berharap saja si sopir agar satu atau dua dari orang yang lewat itu mampir ke dalam angkotnya dan menyerahkan dua lembar seribuan beberapa menit kemudian. Kedua, apalagi kalau bukan karena Bandung pada pukul 17.30 yang macet. Rush hour, istilah beberapa koran untuk menyebut jam pulang aktivitas outdoor ini.

Angkot tetap terhenti di antara pepohonan yang mungkin sudah mati hasrat untuk membatuki polusi yang kerap melibas mereka, saya berusaha untuk mencondongkan tubuh ke dalam angkot untuk sekedar berlindung dari cipratan air yang bergerak memasuki angkot terdorong oleh energi yang ditinggalkan motor-motor gesit yang mencoba menyalip dari kiri. Sempat meringis karena kaki kiri saya terleceti oleh besi yang dibawa oleh bapak tua di hadapan saya. Ingin memaki lagi dalam hati karena perih namun ada satu scene dalam drama angkot itu yang membuat saya melupakan keinginan memaki itu.

Anak jalanan yang usianya sebaya dengan adik bungsu saya, tujuh tahun, berlari kecil menentang songsongan tetes air dari langit. Untung tak ada motor yang khilaf menyalip tanpa melihat arah depan dengan seksama, yang bisa membuat anak itu mati seketika tanpa diiringi tangis dari yang melihat. Tubuhnya kuyup, kuyup sekali. Dalam remang cahaya yang terbaurkan oleh lensa alami yang terciipta dari air, kulitnya saya tangkap dalam warna gelap. Gelap karena selama hidup selalu terpangang matahari dan beberapa helai dakinya jarang terbasuh air bersih. Ditambah lagi kini air hujan yang tak sebersih seperti yang dulu saya pikir memberondonginya.

Dia menghampiri kendaraan hijau muda yang saya tumpangi. Tangannya mengayunkan tumpukan tutup botol minuman yang disatukan oleh paku di sebuah kayu kecil yang entah ia dapat darimana. Mulutnya bernyanyi. Matanya yang kosong ia sapukan tak kepada saya ataupun kepada kepala-kepala lain yang ada di dalam angkot.

Beberapa lama ia menyanyi dengan iringan klakson panjang dari beberapa kendaraan yang tak sabar ingin segera diparkir di garasi rumah. Lewat fals semua nadanya, mudah saya temukan lewat liriknya bahwa lagu yang ia bawakan untuk mengundang recehan penumpang itu adalah lagu milik grup Ungu. Lagu Ungu yang entah judulnya apa, tapi saya tahu lagu itu sering dikumandangkan ketika bulan Ramadhan. Lagu religius.

Ada yang menarik yang saya perhatikan dari si anak jalanan yang tidak mengerti mengapa sebutan rendah itu ia sandang. Mulutnya dan matanya.

Mulutnya yang ia set agar terlihat seperti menyanyi itu berusaha menahan keinginan untuk menderakkan giginya. Saya tahu ia kedinginan. Siapa yang tidak, logikanya. Saya saja yang berada di dalam angkot dan tubuh saya tidak terkuyupi oleh basahnya seragam merasa dingin, apalagi ia yang jelas seluruh tubuhnya terkuyupi oleh basah baju merah yang kehilangan gambar depannya itu. Ia berusaha untuk tidak menggigil. Ia berusaha untuk tetap dapat bernyanyi. Ia berjuang dengan sangat keras untuk sekedar tidur dengan perut yang kenyang diisi makanan murahan. "Allahu Akbar, Allah Maha Besar..." lirik itu saya tangkap dengan miris. Ada sirat harap dari sana, nampaknya. Meminta sedikit saja ia dari semua besar yang dimiliki Dzat Pengasih ini agar setidaknya ia bisa tertawa esok hari.

Lagu berlanjut dengan lirik yang kurang saya perhatikan lagi karena kini saya memperhatikan matanya. Matanya yang kosong mungkin juga telah kosong akan harapan yang dibawa mimpi di sela bantal yang empuk. Huh, untuk menemukan tempat tidur saja kadang ia harus berkelahi dulu dengan rekannya, apalagi untuk melapisi kepalanya dengan bantal. Dan itu yang saya jadikan jawaban mengapa matanya begitu kosong. Matanya malu-malu ia sapukan ke badan mobil yang cukup mewah yang juga terjebak macet dan semrawutnya perang sisip menyisip di antara lampu merah, mungkin ia juga berharap dan sagat bermimpi bisa mendatangi mobil itu bukan untuk mengais receh seratusan yang ditolak penjaga warung , namun untuk menjadi penumpangnya, maaf, pemiliknya, itu lebih tepat. Bukan untuk bergaya ia memiliki harapan itu, namun untuk dijadikannya sebuah indikator bahwa ia juga memiliki rumah mewah yang sangat layak dan makanan yang mencukupi kriteria gizi yang ditetapkan biologi.

Terlalu asyik memperhatikannya, tanpa saya sadari kelopak mata saya memanas. Hampir saja saya meneteskan air mata namun untung saja angkot memasukkan gigi dan mulai melaju. Saking asyik memperhatikan anak itu, saya juga lupa di tas saya tersimpan kamera digital sejak saya SMP yang selalu saya bawa untuk merekam menit yang saya temukan sebagai menit yang indah.

Angkot mulai menjejakkan kembali roda hitamnya yang aus. Hujan tetap mengalun. Anak itu mengulurkan tangannya cepat-cepat ke hadapan penumpang. Tangannya mengatup sesaat setelah terisi lembar dan receh yang disisihkan tiga orang di angkot. Cepat-cepat ia masukkan uang itu ke dalam saku, takut rezekinya terenggut oleh predator jalanan yang tak belas kasihan membuatnya kelaparan sepanjang hari. Ia lalu turun dari angkot dengan melompat. Tuhan menyayangnya dengan tak mengarahkan kendaraan ke arahnya.

Saya mengekor pandangnya dengan suatu semangat baru. Anak itu pun kuat menghadapi jalan hidupnya yang tak ia minta, jadi kenapa saya dan mungkin Teman-teman mengeluh untuk menjalani hidup yang bahkan terkadang kita sendiri yang membuatnya susah.

Anak itu mungkin tak tahu, ia yang kini membuat saya tersenyum bahkan pada saat saya tahu saya boleh tidak tersenyum.

Kepada seorang anak jalanan yang bernyanyi di angkot yang terhenti lampu merah, terimakasih drama hujannya!







Kiarras. Bdg, 30 Jan 07.

Untuk UN yang Menjelang... ...

Januari, Februari, Maret, April…
Tinggal tiga bulan lagi tuh kita ketemu sama bulan April. Emang ada apa, sih di bulan April? Nggak ada apa-apa, kan?

Wah, kalo jawabannya kayak gitu, sih artinya ada tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama, yang jawab bukan anak kelas 3 es em a. Kedua, kalo yang jawab itu ternyata anak kelas 3 es em a berarti dia nggak punya tipi dan nggak pernah dengerin gosip terbaru di dunia pendidikan (ciah cuih!). Ketiga, orang yang jawab itu memang bukan anak kelas 3 es em a dan dia juga nggak punya tipi sama nggak pernah denger gosip.

Huuuu, cupu!

Bulan April 2007 ini, dari tanggal 17 sampai tanggal 19-nya bakal ada event besar yang mengguncang dunia persekolahan anak kelas 3 es em a. Masa depan mereka tergantung dari tanggal ini. Ada apa hayo…????

Ujian Akhir Nasional…yang tahun ini namanya dipersingkat jadi Ujian Nasional. Huh, apa bedanya, ya kan? Sama-sama sounds terrible dan annoying…mana soalnya juga tetep nggak berubah tuh jumlahnya. Matem 30, B.In 50, dan B.Ing 50… Kenapa sih nggak sekalian ikut dipersingkat jadi setengahnyaaaaaaa aja…??? Hehehe.

Menyambut event yang akan mempengaruhi hajat hidup rakyat banyak ini, murid-murid tidak tinggal diam. Mereka berupaya meningkatkan prestasi diri, dari belajar sampai mutusin pacar. Waaaaaah…. Oia, bahkan ada yang sampai pakai ramalan kartu, loh! Tujuan mereka pakai ramalan kartu itu supaya mereka bisa lebih tau secara spesifik bahasan-bahasan apa yang bakal diujikan di ujian yang katanya banyak dikeluhkan guru-guru ini. Katanya sih supaya mereka bisa menghemat waktu. Biar efisienlah belajar langsung ke sasaran, nggak mubeng-mubeng dulu sampe mabok.



“Yah, bukannya apa-apa, sih, kita kan ujian nggak cuman tiga pelajaran itu aja. Kan masih ada ujian akhir sekolah dan seleksi penerimaan mahasiswa baru… Kalo kita kebanyakan baca buat UN sampai akhirnya kita nggak sempet belajar buat ujian lain kan sayang banget. Apalagi kalau yang kita baca itu ternyata nggak dibuat pertanyaan. Nggak enaklah… Makanya kali-kali aja kalau kita ngeramal pakai kartu yah at least ketauanlah mana aja yang harus kita pelajari…” kata salah seorang sumber.


“Ya, sedih, sih diputusin mah, apalagi alasannya karena ujian. Tapi yah gimana lagi, sebagai cewek kan kita nggak bisa apa-apa kalau cowoknya udah ada mau. Saya mah pasrah ajalah. Semoga mantan saya itu lulus ujian dan saya juga lulus ujian. Semoga setelah lulus ujian, dia insaf dan meminang saya kembali, saya mah cinta mati-lah sama dia mah…Da buat saya mah, ujian ma pacaran sebenernya ga ada hubungan, jalannya pisah. Lagian kita juga kalo pacaran nggak pernah ngapa-ngapain selain bertengkar mulut dan fisik…” komentar salah seorang cewek yang baru aja diputusin pacarnya. Dia ngomong sambil nangis setelah sebelumnya cewek itu mengekor punggung mantan pacarnya dengan penuh kepiluan.


“Oia, kita juga manggil alumni buat ngajarin kita. Mereka baik dan mau ngeluangin waktu buat kita.”





“Belajarlah. Nggak ada yang lain selain belajar. Di perpus ini enak banget. Konsen banget kalo belajar.”





“UN? Gampang ujian kayak gitu mah.”





“Oh, di tempat les tuh gurunya asik-asik. Kalo kita lagi belajar di rumah terus ada yang nggak ngerti ya kita tinggal calling mereka aja. Mereka 24 jam siaga. Terus katanya kalo nanti waktu UN ada soal yang susah banget kita tinggal calling mereka, mereka pasti mbantu. Yah, hidup mah gampanglah.”





“UN? Saya sih nyantei aja, lagian saya emang pinter dan rajin. Liat, dong, di kantin aja saya belajar. Matematika lagih! Yah, tadi sih sempat ngabisin yamin sama mie ayam dulu terus minum jus sirsak campur stroberi, tapi setelah itu saya belajar lagi duoooongggg... Aduh, maaf yah, saya sibuk banget nih!” dan perempuan berambut keriting itu pun melanjutkan itung-itungan kalkulator.





“Enjoy aja lagih! Jangan dibawa tegang. Nyontek kan bisa. Nih kayak sekarang, gua lagi nyontek tugas, itung-itung latian buat nyontek pas UN.”






Waw, emang ya, kalo udah ngomongin UN…komentar tuh beragam! Tapi satu persamaan dari semua komentar itu adalah murid-murid rata-rata nggak takut sama yang namanya UN. Mereka udah siap-siap, mereka juga nggak tegang, trus mereka juga optimis banget bisa lulus UN.


Kalau dari saya sendiri, sih, kiat-kiat buat menghadapi UN ini yaitu :
1. Belajarlah, pasti…

2. Berdoa yang rajin, yang jelas, dan efektif. Maksudnya kalo berdoa tuh jangan setengah-setengah, “Tuhan, aku mau lulus UN…” itu kan masih umum banget, mau lulus UN apa? Tahun berapa? Nggak jelas dan nggak efektif tuh. Harusnya, “Tuhan, aku mau lulus UN Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dengan nilai antara 7 sampai 10, pada tahun 2007 ini. Aku mau lulus tanpa nyontek buku dan teman-teman sekelas maupun luar kelas. Aku mau lulus dengan mudah. Kalau aku udah stak nggak bisa, semoga itungan kancingku tepat…Amin.”

3. Jauhi kegiatan ngeceng, pacaran, terutama yang sampai nyita otak, hati, dan fisik. Kalau masih mau pacaran –ga mau putus–, bikin syarat sama pacar kalian supaya mau bantu pas UN. Mmmm, kayak nempelin kunci jawaban di pintu WC, njatuhin kertas kunci jawaban di jalan menuju WC, punya akses bluetooth dalam radius 400 kilometer tanpa terhalang tembok buat ngirim jawaban, hpnya bisa buat videocall jadi bisa kasih jawaban lewat mimik, atoooooo…ah, kok jadi maksiat gini…

4. Jangan sampai ketemuan sama musuh apalagi kalo sampai bertengkar

5. Jangan patah hati apalagi kalau sampai mau bunuh diri

6. Jangan makan makanan pedas, berlemak, berminyak, dan beracun…gawat, bisa-bisa ngerjain soal UN di kamar RS ato kamar mayat.

7. Hndari kebut-kebutan, taruhan, judi, dan sabung ayam




Selamat menempuh UN!!!







–Januari 07. Fst. Dok.pri–

Semacam Kata Pengantar Bagi Kahalayak yang Layak...

Assalamualaikum warohmatuwlohhiwabarokatuh...
Setelah pemilihan ketua RT yang cukup alot tadi malam selepas isya dan dipilihlah seorang bapak menjadi ketua RT yang baru, saya merasa sangat terharu...
Dengan dipilihnya ia maka saya pun dapat membuat blog baru setelah 4 blog saya sebelumnya hilang tanpa jejak dikarenakan saya lupa alamat atau lupa password...
Blog ini adalah blog perjalanan saya selama saya berada di luar rumah saya yang mana rumah saya itu ada di desa. Dekat sawah, kebun, ladang, sungai, tanah, dan akar-akar. Saya bangga bisa masuk kota karena di kota saya mendapat banyak pengalaman yang tidak berharga...eh, berharga diiiingggg... Di kota ini pun saya menemukan banyak hal yang mungkin sama orang kotanya sih disepelein tapi bagi saya hal tersebut adalah hal yang sangat-sangat-sangat amazing...saya mau membagi apa-apa saja yang saya dapatkan di kota kepada teman-teman di desa agar mereka bisa mengambil nilai positif yang sesuai dengan nilai yang diusung oleh pemerintah desa yang dipimpin oleh Bapak Endang Taefur Rahman yang mana sebentar lagi ia akan dikudeta oleh pemilihan Kades yang baru...(bukan dikudeta sih, emang masa jabatannya udah abis aja...).
Saya mendukung gerakan pemerintah untuk memperkecil urbanisasi, maka dari itulah di blog ini akan lebih banyak mengetengahkan permasalahan di kota daripada keindahannya...Saya hanya ingin membuka mata orang desa yang kebetulan menonton blog ini bahwa kota tidaklah seindah biasa seperti lagu Siti Nurhaliza.
Akhir kata saya ucapkan kepada segenap orang desa yang mau membaca dan mau mengambil nila-nilai yang saya siratkan secara agak sedikit maksa dan mendalam ini dan saya juga mengucapkan kepada orang kota yang telah membaca blog saya dan menyadari bahwa orang desa tidak mungkin bisa membaca blog ini karena di desa belum ada internet, bahkan listrik pun tak ada. Akhirnya dengan penuh rasa ketidakmnengertian yang amat sangat dalam dari tulisan yang telah saya tulis ini, saya ucapkan terimakasih.
Wasalamualaekomwarohmatuwlohiwabarokatuhhhhh.





_Rikian aka Kiarras_