Because I Do Really Like You :)

Kalau diminta mendeskripsikan rasanya suka sama orang, hmmm saya mau memilih hal-hal yang akan saya sebutkan dalam kalimat di bawah ini.

  1. Perasaan suka sama orang itu kayak merasakan sinar matahari di hari Minggu pagi sambil membawa koran Kompas lengkap dengan rubrik Samuel Mulya, Sosialita, dan Cerpennya di tangan kiri dan segelas Milo dan Soyjoy warna ungu di tangan kanan, serta tidak lupa telinga yang dipasangi headset dengan playlist lagu jatuh cinta bernada manis. Playlist favorit saya saat ini adalah,
    1. Oh, It is Love! - Hellogoodbye
    2. Nothing on You –BoB feat Bruno
    3. Seperti Bintang - Afgan
    4. Betapa Kucinta Padamu - Afgan
    5. Anyone Else but You (gatau siapa yang nyanyinya)
    6. Because I Do - Pearl and the Puppets
    7. Falling For You - Colbie Calliat
    8. I Stay in Love – Mariah Carey
    9. Just the Way You Are – Bruno Mars
    10. Manusia Biasa – Yovie and Nuno
    11. Marry You – Bruno Mars
    12. Malu tapi Mau – Gita Gutawa Maia
    13. Pyramid - Charice
    14. Anugerah yang Terindah yang Pernah Kumiliki – Sheila on 7
    15. The Little Things – Colbie Calliat
    16. Wishing Well – Dylan Mondegreen
    17. OST Personal Taste yang YoonHa (tau judulnya apaan)
    18. OST Playful Kiss yang GNA (tau dah judulnya apa)
    19. OST Marry Me, Marry yang judulnya Superstar sama Hello Hello
  2. Perasaan suka sama orang itu kayak lagi jalan-jalan ke mall tiba-tiba lihat barang branded unyu didiskon sampai 70% dan kebetulan juga dompet masih penuh habis gajian periode pertama. Pas ngubek-ngubek nyari ukuran, warna, dan model yang cocok, eh pas-pasan juga nemuin barang unyu lain yang budgetnya masih logis di dompet. Terus waktu mau pulang ketemu sama temen lama dan akhirnya terdampar di foodcourt makan crepes, es krim, donat, dan cola float.
  3. Hmmm, nomor dua terlalu utopis, absurd, materialistis, dan lagian jarang terjadi. Baiklah, perasaan suka sama orang itu kayak lagi nonton drama Korea di sekitar episode 8 sampai 11 yang pasti lagi rame tengkar, rame tegang, rame panas, rame bete sama antagonis, rame gemes kegengsian tokoh-tokoh utama, dan akhirnya dibayar tuntas pas akhirnya mereka jujur dan jadian. Scene jadian ini terungkapkan melalui simbol kissing. Hahaha. Saya selalu bersorak sorai bahagia kalau udah nyampe episode ini. Lebih rame lagi kalau nontonnya bareng sama teman-teman seumuran, sepermainan, dan sejenis kelamin. Heboh. Teriakan yang umum terungkapkan adalah,
    1. Eeeeeeeeyyyaaaaaa!!!
    2. Assseeeeeekkkkk!!!
    3. Wwwiiiidddiiihhhh!!!
    4. Kyaaaaaa, soooooo swwwiiiitttttt…!!!
    5. Gila, ini sumpah keren abis. Dapet bangettttt.
    6. Aaaaaah, aku mauuuuu punya pacar kayak gituuuuuu…
  4. Perasaan suka sama orang itu juga hampir sama kayak kalau saya lagi pulang malam di tengah cuaca malam yang nggak dingin, ngga panas, dan ngga ada polusi serta ditemani sinar bulan yang berwarna keemasan dan diitari kerlip bintang-bintang. Hmmm, waktu yang paling enak untuk merasakan hal itu adalah pukul 21.00. Mata belum ngantuk dan baterai hape masih cukup untuk mendendangkan lagu-lagu di playlist hape. Ditambah lagi jalan raya sudah lengang. Ah, cara paling asyik untuk menikmati malam itu adalah dengan bernyanyi sedikit keras dan dengan penjiwaan kuat sementara tangan tetap stabil mengendarai motor dalam kecepatan 50 km/jam saja.
  5. Perasaan suka sama orang itu serupa kayak perasaan saya yang lepas setiap kali saya berjalan-jalan sendirian atau bersama seorang teman di tempat yang asing buat saya. Perasaan itu sama kayak perasaan saya waktu menatap gedung-gedung di Surabaya ketika pagi hari di hari ulang tahun saya ke-17, lalu berlanjut sore harinya waktu diajak Mas Ayos, kakak saya yang eksentrik namun berjiwa patriotis ke belakang ITS melihat bunga-bunga eceng gondok berwarna ungu, terus sama juga kayak waktu saya menyusuri Nusa Dua sendirian sambil memungut kerang dan karang yang terdampar di pantai sementara teman-teman saya main banana boat dan segala atraksi berbahaya lainnya. Hmmm, sama juga kayak perasaan waktu saya duduk di pinggir Laut Arab di Mumbai jam 1 malam, sama kayak waktu malam-malam di Malaysia cari makanan dan cuman nemu 711, dan sama kayak waktu saya makan es krim sendirian sambil menyusuri Orchard Road.
  6. Perasaan ketika saya suka sama orang juga seindah perasaan saya setiap kali menatap pemandangan di sepanjang perjalanan yang saya tempuh. Melihat awan, pohon, mobil, papan iklan, orang, bulan, bintang, pelangi, sungai, laut, pabrik, kererta api, bus, pelanggaran lalu lintas, gedung dan aktivitasnya, dan ah banyak sekali. Inspiratif dan melegakan!
  7. Perasaan lain yang mampu mendeskripsikan nikmatnya suka sama orang adalah perasaan ketika saya berdiri di depan kaca jendela hotel yang lebih tinggi dan lebar daripada badan saya, memandangi pijar lampu kota yang tersusun dari kunang-kunang berwujud mobil, motor, lampu jalan, rumah, gedung sambil membawa minuman hangat di sebuah mug atau cangkir ditemani lagu-lagu slow dan memori menyenangkan tentang hidup.
  8. Perasaan suka sama orang itu se-amazing perasaan saya setiap kali mau mendarat di bandara! Nggak tahu kenapa dari kecil saya selalu suka perasaan itu! Melihat lanskap kota dan aktivitasnya dari ketinggian sedang adalah ritual sebelum pendaratan yang selalu membuat saya terkesiap, terpesona, dan tersenyum bahagia.
  9. Tapi ngga ada yang bisa mengalahkan deskripsi ini. Perasaan saya kalau lagi suka sama orang itu seindah perasaan saya waktu bisa tertawa lepas di depan orang itu serta bersamaan dengan itu saya nggak kepikiran untuk berharap orang itu juga suka sama saya :)

Ark. Feb’11.

MY DEARESTS PRAKTIKAN PRAKTIKUM PROFESI SINGAPURA

Halo praktikan praktikum profesi Singapura!!!!!

Apa kabar nilai semuanya?

Note ini sebenernya ngga penting, tapi saya sesenggukan juga waktu ngetiknya. Hiehehehe. Saya udah janji mau bikin note ini begitu nilai praktikum kita keluar, tapi berhubung saya lagi kkn jadi note ini baru lahir pada hari ini.

Saya cuma mau bilang, terima kasih banyak banyak banyak banyak banyak banyak seeeeeeeeeeekaaaaaaaaliiiiii atas kerja sama yang sudah kita lakukan selama satu semester kemarin. Ada banyak hal yang kita alami dan kita pelajari selama masa praktikum. Pasti masih pada inget gimana proses dari nol yang kita lakukan sampai akhirnya kita bisa mendapat nilai A dan B dalam praktikum ini. Setres bareng gara-gara harga tiket pesawat, harga hotel, travel, makan. Stuck bareng waktu bikin konsep, sidang, praktek, dan sidang lagi. Tabah bareng waktu kebijakan kampus selalu mengalami penyesuaian. Ketawa bareng waktu riri berguling di lucky plasa. Bertakbir bareng waktu geni akhirnya bisa naik pesawat (takbir dalam hati). Miris bareng waktu makan ayam hainan di food court yang harganya bisa bikin kita foya-foya makan di Che.co. Takjub bareng waktu ngelihat TKI di Singapura yang ngak cuma tinggal di KBRi tapi juga di Lucky Plasa (baca : TKI itu adalah kita). Trauma bareng lihat harga LV dan mencicipi kopi. Berdoa bareng waktu Dewa dan Ari bermesraan. Bersorak bareng waktu naik MRT, lihat Universal Studio DARI LUAR, dan mempertemukan Riri dengan sodara yang sudah lama terpiosah (merlion). Belom lagi Febe yang duitnya mengalami tragedi. Ah, jangan lupa juga waktu International Day. Thanks to decorator yang nemu pohon coklat dan beride brilian dengan bikin dekorasi unyu-unyu out of the box di booth. Oh iya, kita juga sempat mabok bareng waktu ngiklanin page kita di profil orang-orang bioar pada ngelike this.

Jangan lupakan juga dosen-dosen kita yang sudah mengangkat kita sedikit demi sedikit gari garis kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksabaran, kesoktauan melalui ilmu baru, wejangan, masukan, kritikan, cambukan, semangat. Tanpa adanya bapak-bapak dan ibu-ibu dosen kita yang tercinta, kita nggak mungkin menjadi manusia yang lebih baik pada semester tujuh kemarin.

Dan, waduhhhhhh paragraf di atas masih belum ada secuil dari kenangan kita waktu praktikum di Singapura!!!!!!!!!

Hufffff, terima kasih banyak sekaliiiiiii ya Teman-teman akkkoooeeehhh cemmuanyuaaahhhh. Maafin juga kalau saya sudah berperilaku menyebalkan, mengesalkan, emosian, ngga sabaran, susah mendengarkan, dan labil. Maafkan maafkan. Saya hanya manusia seksi yang taat pada norma kesusilaan, jadi wajar kalau saya berperilaku agak menyimpang.

Hmmmm, apa lagi ya...?

Nggak tauuuuu, saya pokoknya sayang sekali sama kalian!!!!

Semoga praktikum profesi ini selalu ada di hati dan pikiran kita......

BIG HUGGGGGGGGGGGGGG from Pasawahan Kidul.

Rikianarsyi.

NB: Praktikan, jangan lupa, kita masih harus ngumpul lagi buat membagikan amanah keuangan sekalian berdoa bareng demi pulihnya keuangan Mandala Airlines yang tiket promonya kita borong. Hiehehehhe.

Long Time No See

Pfuiih long time no posting yaaa? Hiks.
Saya udah pulang dari Singapura. Alhamdulillah nggak diminta jadi istri Tuan Takur di sana. Terus sekarang saya lagi di Purwakarta. Saya lagi KKN. Hmmm. Banyak banget nih yang mau saya curhatin. Sama banyaknya kayak berita-berita baru di televisi. Bintang bermunculan dan menghilang. Dari mulai dipujanya Irfan Bachdim beserta nyonya yang seksih abieeesss sampai meninggalnya Elfa dan Adjie Masaid. Ah, parah banget ya saya, udah nggak posting berapa lama coba tuh? Sekarang malah udah ada gantung-gantungan manusia dan bakar-bakaran tempat ibadah. Aduh, saya pusing.

Greeting from Cileunyi

Halo semua!

Dua bulan tidak bertemu, pasti pengen tahu apa kata-kata yang paling sering saya ucapkan selama kita tidak bersua dalam tulisan, kan? Sabar dulu, tenang dulu, ambil cemilan dulu. Kalian akan tahu setelah kalian menamatkan tulisan ini dan beberapa tulisan yang hari ini saya post di antara kesibukan saya yang tak tentu.

Dua bulan ini, huff you don’t know how hard it’s been. Olah otak, olah emosi, olah raga, olah duit, olah ibadah, pokoknya jiwa dan raga saya benar-benar mendapat asupan lezat!!!! Urusan pertama beres, muncul urusan lain beserta anak-anaknya. Pulsa tentu saja tersedot. Biasanya pulsa sms 25ribu itu jatah untuk tiga bulan, tapi dua bulan ini saya udah dua kali isi ulang pulsa sms 25 ribu dan berpuluh ribu lain untuk pulsa regular. Inbox sms yang biasanya hanya saya hapus tiap satu setengah bulan karena isinya sudah delapan ratusan, nah selama dua bulan ini saya sudah menghapus inbox selama empat kali karena inbox saya sudah jenuh dengan seribu seratus smsnya. Bukaaaaaaan, itu bukan inbox yang isinya sms percintaan!!! Saya masih bertahan dalam ke-single-an saya yang begitu indah dan syahdu. Eh, tapi sempat ada sih sms yang manis-manisan gitu, tapi akhirnya saya memutuskan untuk menghentikannya karena saya nggak bisa konsen sama dia. Jadi, ya sms manis itu hanya sekian persen saja dari sms yang masuk ke inbox saya, selebihnya adalah sms yang membuat jiwa dan raga saya begitu terolah.

Hajatan besar yang sudah dan sedang saya hadapi adalah arrange liburan Ganesha ke Pangandaran yang alhamdulillah udah beres dan yahhh, hasilnya bolehlah ya, dan Praktikum Profesi ke Singapura. Praktikum oh Praktikum. Kata “Praktikum” adalah kata ter-night-mare pada semester ini. Nggak cuman bagi saya, tapi juga bagi teman-teman 2007 lainnya. Gila gila gila gila. Masalah pertama dari prakprof adalah masalah pesawat dan travel. Dua minggu berkutat dengannya dengan segala macam perasaan akhirnya beres juga alhamdulillah. Beres masalah itu, masuklah ke sesi berikutnya, masalah materi. Hiks hiks hiks. Ini olah otak yang sesungguhnya. Belum tahu nih udah beres atau belum, tapi alhamdulillah berkat konsultasi dengan para dosen yang baik hati, terutama Bu Junita, akhirnya dapet juga satu titik temu. Semoga memang itu titik temunya, deh.

Hmmm, hal terberat tapi juga paling bermanfaat dari urusan perprakprofan itu adalah how to deal. Karena saya adalah team leader di situ, objek yang harus saya hadapi adalah kawan-kawan anggota saya dan bapak-ibu dosen sekalian yang padahal ngurusin satu di antara mereka aja udah bikin saya pengen loncat batu nias. Waktu awal-awal menghadapi mereka semmmuaaaa, sempat ada kesengsaraan batin, tapi makin ke sini karena udah makin kenal dan makin biasa, jadi ya sudah nggak ada masalah. Ada masalah juga biarin aja, ntar juga selesai sendiri. Haha. Engga gitu. Maksudnya, udah nggak syok-syok amat kalau ada masalah karena udah memprediksikan kalau masalah itu bakal datang sebagai akibat atau respon dari masalah lainnya. Jadi ya tinggal mengeluarkan plan-plan penyelesaian yang sudah dipersiapkan.

Yah, semoga lancar deh praktikumnya. Tanggal 22 November saya bakal ke Singapura, semoga semua urusan lancar dan bisa pulang dengan semangat dan sukacita pada tanggal 26 Novembernya dan laporannya pun beres. Semoga semester tujuh ini akan berakhir happy ending. Eh, sebentar, tulisan ini belum beres. Haha. Isi inbox saya nggak cuman pangandaran, sms manis yang saya akhiri, dan prakprof. Seperti biasa, masih ada sms reminding jadwal ngajar dan sms anak-anak tutor yang lutchu-lutchu. Oh mai goat, betapa besar jasa hp saya yang sejak tahun 2005 menemani saya. Bertambah lagi deh satu rangkaian cerita yang dia rekam dalam perjalanan saya menuju kedewasaan. Kikikikik.

Oia, saya patah hatiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Huaaa huaaaa huaaaa huaaaa huaaaaa. Bukan, bukan sama yang sempat bersmsan manis sama saya. Dia nggak bikin saya patah hati. Bukan juga patah hati gara-gara menyimak perjalanan cinta E*tu yang panjaaaaaaaaaaaaaanggggg banget setelah putus sama saya dua tahun lalu. Bukan. Bukan. Bukan. Saya nggak peduli sama E*tu. Eh, peduli ding, itu buktinya masih tahu perjalanan cintanya yang begitu panjang. Hahaha. Nggak ding. Piss ya E*tu. Haha. Kali ini saya patah hati sama seorang laki-laki yang begitu biassssssssssssssa sampai saya juga bingung kenapa dari bulan Juli lalu saya suka sama dia. Garis bawahi, SUKA, masih baru SUKA, belum ke tahap lain. Ah, gitulah, patah pokoknya hati saya. Ahahahaha. Saya bingung deh, kenapa sih saya, pertama, selalu suka sama orang yang nggak bakal mungkin suka sama saya dan kedua, sama orang yang nggak tahu gimana caranya menghargai perasaan perempuan. Karena hal ini sudah terjadi beberapa kali, maka walaupun saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dia adalah orang yang tolol, sebenarnya orang yang lebih tolol lagi adalah saya. Ya, saya! Nggak bisa belajar apah dari pengalaman yang dulu-dulu, dari jaman SMP yang suka abisssssssssssss sama Ifan selama empat tahun dan seterusnya seterusnya suka sama orang lain lagi. Aduh, Riki, kenapa sih harus suka sama orang yang setipe lagiiiiii? Setipe jahatnya kayak Ifan. Huaaa huaaa huaaaa. Hedehhhhh.

Eh, tapi untuk patah hati yang sekarang, saya udah punya kemajuan. Saya nggak sedih gara-gara patah hati. Yang saya rasakan dari kepatahhatian ini adalah SEBELLLLLLL sama diri sendiri. Betapa bebalnya otak dan hati saya untuk lagi-lagi suka sama orang yang nggak mungkin suka sama saya dan nggak tahu gimana caranya menghargai perasaan perempuan. Aduh, umur udah 21 tapi selera masih aja sama kayak waktu dulu masih umur 12 tahun. Ini nggak boleh dibiarkan. Kalau gitu, resolusi saya buat tahun depan atau bulan Desember nanti adalah, Jangan suka sama orang duluan karena orang yang saya sukai duluan adalah orang yang nggak bakal balas suka sama saya dan dia juga adalah orang yang bodohhhhhhh nggak tahu gimana caranya menghargai perasaan orang! Huh! Saya nggak bakal ngeceng lagi, saya cuman mau menyeleksi orang yang suka duluan sama saya. Kalau ada itu juga. Hahahha.

Ah, ya sudahlah, pokoknya itu update kabar terbaru dari saya. Oia, masih penasaran kata-kata apa yang sedang sering saya ucapkan? Ah, lebih baik Teman-teman nggak usah tahu. Itu adalah kata-kata umpatan. Sering hanya saya ucapkan dalam hati setelah bilang Astagfirulloh dan Masya Allah, tapi akhirnya tak tertahankan juga keluar ketika di jalan raya kalau ada pengguna jalan yang berpotensi membuat saya celaka. Hahaha. Kalau mau tahu, ayo saya bonceng, nanti tahu sendiri. Hehehhehee.

Ah, sh*dddddddd, saya masih punya banyak kerjaan di Minggu siang yang cerah ini. Sampai jumpa lagi.

Salam cinta.

Rikian.

Ark. Nov’10.

Night Walking

I think I should list this Night Walking as routine agenda whenever and wherever I’m pointed to go outside Bandung. It does make me please and reduce my uneasy feeling. I had started it in Singapore. Walking around the hotel, crossing the road, entering 711, eating ice cream, and taking some photographs. Then in India. Stepping the road around hotel, letting my foot move by itself, and parking at the margin between Arabian Sea and Mumbai Land. I also did it in Surabaya, accidentally because I needed some copies of important files but I hardly found the photocopy center (I got lost) and in Jember, breaking the rules that every participants weren’t allowed to leave hotel. Hmmm, but I didn’t do it in Bojonegoro. Okay. Next time I’ll do.

The newest Night Walking I did in Malaysia. Of course. That was the last place I was outing. What did I do? With whom? And why? Haha. I write this and make some attractive questions as if these were very important. In fact it isn’t.

Okay. That’s okay. This is my blog and I’m free to write all the things I want to write. Jump to other site if you don’t wish reading this, guys. Trust me. This is junk post. Haha.

Agustus Ayeyyy!!!!!

Setelah mengalami hal-hal yang ingin saya lupakan pada Juni dan Juli lalu, semoga Agustus ini akan membawa saya pada hal-hal yang menakjubkan, semenakjubkan datangnya Ramadhan dan perayaan kemerdekaan Indonesia. Pokoknya Agustus ini harus diwarnai dengan semangat postkolonialisme! Daripada kita percaya sama pandangan orientalis yang meletakkan kita pada posisi kelas dua yang barbar, tidak berperadaban, dan dipenuhi oleh kebodohan, mari kita pede terhadap semangat kesucian manusia seperti yang dijanjikan Allah apabila kita berhasil melewati Ramadhan tanpa hawa nafsu! Mari juga kita pede dengan identitas kita sebagai orang Timur yang memiliki nilai berbeda dari nilai Barat, misalnya mengisi kemerdekaan ini dengan lomba makan kerupuk ketimbang nonton video Keong Racun di Youtube, hihihi. Kasian tau Jojo dan Shinta. Sebagai sesama mahasiswa HI yang terlalu banyak mikirin Morgenthou dan Woodrow Wilson pada semester awal, saya paham gejolak jiwa yang begitu iseng memanfaatkan teknologi macam Youtube buat menyalurkan bakat menyanyikan lagu yang termasuk dalam genre to-the-point-banget-deh-ngga-ada-puitis-puitisnya-sama-sekali. Kalian pikir mereka bangga sama lagu itu? Taruhan, deh sama saya, pasti mereka nyanyiin lagu itu trus dimasukkin ke Youtube tuh niatnya cuman buat ketawa-ketawa doang. Hmmm, nanti saya bakal bikin posting tentang gejala sosial macam Keong Racun itu.

Oke, daripada mikirin nasib Jojo dan Shinta yang makin banyak masuk ke infotenmen atau mikirin infotenmen yang katanya udah difatwa haram, lebih baik saya meneruskan hidup. Jadwal saya mengajar di Ganesha sekarang udah padat lagi. Padatnya mah gapapa, masalahnya ada banyak yang tabrakan. Lagi-lagi harus memilih di antara dua pilihan. Saya benci memilih. Ah. Hmmm. Lalu, selain di Ganesha, ada lagi nih murid privat. Janji saya untuk nggak pulang malam lagi kayaknya harus dilanggar, deh. Saya kira jadwal saya di Ganesha nggak bakal padat-padat gimana gituh jadi sorenya bisa buat ngajar privat. Eh, nyatanya tidak demikian. Intinya, Welcome back to the night life, Riki!

Ketika saya menyetujui untuk mengajar dalam jadwal yang padat, permasalahannya bukan terletak pada uang. Saya lebih cinta sama kesehatan fisik dan mental saya daripada sama uang. Masalahnya, saya nggak tega buat bilang ENGGAK BISA atau DADAH di depan muka murid. Yasudahlah terima kelemahan diri sendiri.

Agenda lain mulai Agustus ini selain puasa adalah menulis dengan rajin. Menulis di blog, tentu saja, dan satu lagi, rutin menulis untuk koran. Cerpen saya dimuat lagi, hore! Tapi kali ini nggak bisa dicari di Google. Nggak tahu deh kenapa. Eh, ada lagi, saya juga harus menulis untuk tugas akhir. Hahha. Semester tujuh hayolohhhh. Bahan-bahan buat skripsi udah numpuk banyak banget di laptop dan rak buku sejak semester empat atau lima lalu. Tinggal dibaca, disortir, dan diajukan buat skripsi.

Intinya mulai Agustus ini hidup saya akan ‘normal’ lagi. Tapi saya bakal mengatur waktu dengan lebih baik, kok! Senin-Jumat untuk kuliah dan mengajar, Sabtu untuk mencuci, menulis, dan mungkin jalan-jalan, dan Minggu untuk istirahat dan nyiapin bahan buat pekan selanjutnya. Semoga istiqamah.

Special thanks Agustus ini untuk e-paper Kompas, warnet deket rumah, Indosiar dan CTChannel yang memutarkan film Jang Geun Suk, toko DVD bernama Chelsea yang menjual aneka film Jang Geun Suk dan Lee Min Ho, perpustakaan FISIP yang entah kapan beres melakukan katalogisasi buku jadi saya terpaksa cuman bisa pinjem skripsi doang, dan orang ganteng yang beberapa hari lalu ngobrol sama saya. Alhamdulillah, akhirnya saya ketemu juga sama orang ganteng. Alhamdulillah dia ngajak saya ngobrol. Selama ini hidup saya stak diajak ngobrol cuman sama pria-pria di kampus yang gantengnya masih kalah dibanding Bill Clinton atau Andre Taulani tapi mengaku mahaganteng. Sumpah, walaupun kegantengan oknum yang ngajak saya ngobrol lepas magrib itu belum bikin saya ngiris jari atau nyaris bunuh diri, saya tetap senang karena khzanah saya tentang orang ganteng akhirnya terluaskan. Hahaha. Preeet.

Big Congratulations buat adik saya yang Agustus ini akan mulai menjadi mahasiswa Sastra Jepang Unpad. Hubungan dekat HI-Sastra Jepang yang biasanya hanya dekat setiap ospek karena kita butuh PSBJ buat tempat SDC akhirnya akan dikukuhkan lagi dengan status adik saya yang menjadi mahasiswa di sana. Semoga nanti teman-teman HI bisa bilang gini ke penjaga PSBJ kalau mau minjem PSBJ, “Saya temen kakaknya Raki.” Hehehehhehe.

Yasudah. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menunaikan, selamat hari kemerdekaan Indonesia bagi yang merayakan, dan selamat menikmati blog saya bagi yang mau menikmati.

Ark. Agt’10.

Tidak Menulis

Dua bulan tanpa tulisan? Hmmm…Ya, saya memang sengaja tidak menulis. Tepatnya, saya menahan diri untuk menulis. Saya sedang dalam proses membuang episode-episode tertentu dalam dua bulan terakhir ini dan membiarkannya larut bersama nafas yang saya buang.

Bukannya ingin membuang pelajaran yang saya dapatkan melalui episode mengerikan itu, hanya saja saya tak habis pikir mengapa pelajaran yang begitu indah itu harus datang melalui lorong yang membuat saya sesak. Saya hanya ingin menyingkirkan memori saya mengenai lorong itu. Hidup terus berjalan. Ada hal yang harus kita simpan, tetapi ada juga hal yang harus kita singkirkan. Jika saya ingin menyimpan memori tersebut, saya akan menulis, tetapi jika saya ingin menyingkirkan memori tersebut maka saya harus menghentikan keinginan dan kebiasaan saya untuk menulis semua hal yang saya lihat.

Pada akhirnya, saya sadar bahwa saya hanya manusia biasa yang tidak tahan atas hal buruk. Ketika saya dihadapkan pada hal buruk tersebut saya harus rela untuk menutup mata dan mengikat tangan. Saya harus berhenti berpikir untuk mencari jawaban atas pertanyaan Mengapa. Saya harus berhenti menuliskan rentetan pertanyaan Mengapa dan semua probabilitas jawabannya. Saya harus menyerah dan membiarkan Allah menyisipkan kekuatan pada saya agar bisa menerima dan memaafkan.

Ya, menerima dan memaafkan. Lagi-lagi saya harus berhadapan dengan dua terminologi ini. Menerima bahwa mereka adalah manusia biasa. Manusia yang selalu diincar setan. Manusia yang hatinya ditutupi oleh jelaga sehingga tidak dapat menerima hidayah yang begitu bening. Saya pun terbius. Saya benar-benar mengamini Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Saya benar-benar melihat jenis manusia yang dipaparkan Allah dalam kitab-Nya.

Saya sedih. Saya tahu bahwa perasaan sedih yang saya rasakan ini adalah ejawantah dari ketidakterimaan saya akan diri mereka yang selama ini saya anggap sebagai teladan namun ternyata mereka hanya manusia biasa. Ah, namun sepertinya mereka tak sebiasa itu. Bukankah Allah memberikan kita nurani sebagai indera terpenting kita yang akan menyelamatkan kita bila kita mulai terjerumus ke jalan yang tidak Ia ikhlasi? Masalahnya mereka telah menenggelamkan nurani tersebut entah kemana. Mereka pun tersesat dan malah membanggakan kehilangan nurani tersebut.

Lalu apa yang bisa saya lakukan?

Apa yang bisa saya lakukan selain menerima kecacatan hati mereka dan memaklumi tingkah mereka?

Mengapa saya harus berusaha untuk menemukan nurani mereka sehingga membuat saya lupa akan hidup yang harus saya lewati sendirian dan terus menghinakan diri saya di bawah tawa mereka yang begitu nyaman dengan ketiadaan nurani tersebut?

Saya yakin sudah saatnya saya berhenti.

Saya harus menerima keadaan mereka. Bagaimanapun juga, mereka bagian hidup saya. Menerima mereka tak ubahnya menerima jalan hidup saya. Saya tahu saya harus menyusun kepingan-kepingan dalam hidup saya dan memperbaiki lukisan hidup saya. Namun, sepertinya saya harus mengubah perspektif saya mengenai penyusunan dan perbaikan tersebut. Hidup saya merupakan sebuah sistem yang tersusun dari diri saya dan mereka. Tak ada yang bisa saya lakukan terhadap mereka, tetapi setidaknya saya bisa melalukan sesuatu terhadap diri saya. Saya harus melepaskan mereka lalu mengalihkan pada diri saya sendiri. Hari esok terlalu manis untuk saya lewati dengan kegalauan dan kekecewaan saya terhadap mereka.

Saya sayang mereka.

Lalu seperti yang selalu saya yakini, perasaan sayang, cinta, dan sejenisnya adalah racun yang bisa membunuh saya kapan saja. Ya, itulah yang saya rasakan beberapa waktu lalu. Andai mereka bukan siapa-siapa bagi saya, saya mungkin kebal terhadap wajah asli mereka. Namun mereka adalah pusat tata surya bagi saya. Saya adalah Bumi, atau mungkin Neptunus, yang bergantung pada sinar yang mereka pancarkan. Saya tidak bisa mengusir mereka dari kehidupan saya. Saya juga tidak sanggup bila harus beranjak dari orbit saya. Ketika saya tahu bahwa mereka tak semegah matahari, saya pun hancur.

Saya ingin membenci mereka. Namun tidak pernah bisa. Saya menyayangi mereka. Akhirnya, tanpa saya sadari saya pun memohon pada Allah agar mengampuni mereka. Ah, lagi-lagi itu refleksi pemaafan saya terhadap mereka. Persis seperti yang saya yakini, cinta, sayang, dan segala jenisnya adalah racun. Racun yang mengekalkan penerimaan atas penindasan.

Menerima dan memaafkan. Sejauh apa pun saya berlari dan setinggi apa pun saya meloncat, dua hal itu tak pernah bisa saya halau. Mereka bersemayam bahkan ketika saya tertunduk dalam jongkok dan berusaha membungkam sisi hati saya yang lain yang ngotot memperjuangkan argumentasi bahwa saya harus menghindari mereka, bahkan jika perlu mengganti identitas saya.

Namun saya juga sadar. Meski saya menerima dan ternyata memaafkan mereka, perasaan saya terhadap mereka sudah berubah jauh. Saya tidak bisa lagi mencintai mereka dengan cara yang sama seperti ketika saya belum tahu wajah asli mereka. Penerimaan saya atas mereka terutama tentang pengertian bahwa mereka hanyalah manusia yang tak luput dari jilatan setan membuat saya tak sanggup menengadahkan wajah lalu memandang mata mereka. Bahkan lidah saya pun kelu bila terpaksa harus bercakap dengan mereka. Saya waswas bila melihat mereka beramah tamah dengan saya. Entah mengapa otak saya selalu memutar episode kelam yang baru saya lewati dan berlanjut pada kemungkinan episode kelam yang nanti akan saya lewati lagi. Saya pun terancam. Saya yakin bahwa manis senyum yang mereka tawarkan hanyalah satu babak fana yang cepat tercerabut. Setelah senyum itu, saya tahu saya akan tenggelam lagi bersama lendir ingus yang keluar lebih banyak daripada air mata saya.

Terang pasti ‘kan datang. Itu kata Pure Saturday, kata Astrid, kata Bees. Saya juga selalu yakin akan hal itu. Keyakinan itu yang membuat saya tetap hidup meski jalan selalu berat, tak beraspal, lubang-lubang, dan menjadi lautan lumpur saat hujan datang. Namun saya juga sadar bahwa terang hanya akan datang ketika saya berada dalam gelap. Saya pun kini mengamini bahwa kehidupan ini hakikatnya memang gelap. Lihat saja luar angkasa. Semilyar bintang tetap tak dapat membuatnya menjadi terang benderang.

Akan ada banyak terang yang mampir dalam kehidupan saya, saya tahu itu. Tapi mereka akan pergi lagi dengan cepat. Saya pun harus berlari dengan cepat sambil membuka penglihatan saya lebar-lebar. Saya juga harus dapat melintasi jalur terang itu dengan tepat. Tidak boleh oleng sedikit pun. Saya tahu itu sulit. Dan itulah jembatan syiratal mustaqim sejati yang saya temukan.

Saya hanya ingin berlari menuju gerbang surga. Saya tidak mau terperangkap dalam kegelapan tata surya, kebutaan penglihatan, kejelagaan nurani, dan jangkitan penyakit hati. Saya sudah melihat orang-orang yang berarti dalam kehidupan saya yang tercocok hidungnya akan kegelapan dan menolak terang yang datang dalam kehidupan mereka.

Saya sedih. Ya, saya sedih. Namun kesedihan itu kemudian saya sadari tidak hanya sebagai ejawantah bahwa saya tidak dapat menerima bahwa mereka adalah manusia biasa yang gampang teperdaya, tapi juga sebagai kesedihan karena ternyata kami memiliki pilihan hidup berbeda. Kami berpisah. Secara jelas kami berpisah pada Juli 2010 ini. Saya pun akhirnya menyadari, bumi memang benar-benar berotasi dan be-revolusi. Perjalanannya telah mengantarkan kami menjadi individu-individu yang memiliki persepsi, falsafah, dan pilihan hidup berbeda. Tak ada yang bisa saya lakukan terhadap hidup mereka. Begitu pun mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan terhadap hidup saya.

Saya sebenarnya tidak tahu apakah jalan yang saya pilih jauh lebih baik daripada jalan mereka. Yang saya tahu, saya tidak mengucapkan hal-hal yang mereka ucapkan. Yang saya tahu, hal yang mereka ucapkan itu adalah hal yang tidak diperbolehkan oleh peraturan manapun. Saya juga tidak tahu benarkah terang yang saya lihat adalah terang yang dikirimkan Allah untuk saya untuk menunjukkan saya sebuah syiratal mustaqim yang harus saya lewati. Atau jangan-jangan terang yang saya lihat adalah muslihat setan? Atau jangan-jangan jalan hidup yang mereka pilih justru jalan hidup yang benar? Namun dalam menggapai terang yang saya rasakan ini, saya tidak melakukan hal-hal yang mereka kerjakan. Yang saya tahu, mereka mengerjakan hal-hal yang seharusnya dihindari.

Wallahu alam bi shawab.

Jika yang saya pikirkan dan kerjakan saat ini ternyata hal yang salah, semoga Allah menyeret saya ke jalan yang sejatinya benar. Saya akan selalu membuka penglihatan saya agar malaikat bisa masuk kapan saja untuk meletakkan peta jalan yang benar di hati saya. Saya juga akan mengatifkan radar agar setan bisa terdeteksi dengan mudah jika ingin memanipulasi peta tersebut.

Hmmm…

Ya, hidup akan terus berjalan dengan segala kilatan terangnya yang mampir. Saya sudah sendirian di sini. Dan memang sudah seharusnya saya sendirian. Menikmati memori indah, membuang kenangan buruk, dan menelusuri jembatan syiratal mustaqim saya.

Menyesakkan juga ternyata.

Ah, tapi mungkin karena saya belum terbiasa.

Semua akan menggelinding dengan baik pada akhirnya.

Ark. Jul’10.

Makan Malam


Saya lagi senang bikin omelet dengan dua telur, kornet, mie rasa ayam panggang 50gr, sosis, dan sambal ABC, makan Jacob’s serta minum Milo. Sehat sekaliiiiiiii…..

Kalau bahan-bahan omelet sedang hilang dari peredaran kulkas, sebagai gantinya saya senang menggoreng peuyeum dengan mentega putih lalu ditaburi gula putih. Ada yang tahu apa nama makanan ini?

Colenak.

Hmmm, yummy….

Aslinya colenak, sih, nggak sesederhana itu, haha, tapi apa daya di kulkas cuman ada itu.

Senin-Jumat, makanan-makanan tersebut asyik disantap sambil menikmati Bioskop TransTV atau Big Movies di Global TV, sedangkan hari Sabtu sambil mengupas Apocalypse di MetroTV.

Saya suka sekali makan malaaaammmmm!!!

Oke, itu memang nggak sehat tapi sumpah, saya lapar. Lagipula, urusan perut nyaman, saya pun bisa berpikir dengan lancar.

Hahaha.

Akhir pekan ini lagi-lagi saya tidak pergi kemana-mana. Tapi jangan salah, alasan kali ini cukup mulia. Saya mau belajar menghadapi UAS semester enam! Aw aw…! Saya akan segera menjadi mahasiswi semester tujuh yang mengajukan Usulan Penelitian.

Oke, selesaikan UAS dengan baik dan tetapkan tiga tema untuk UP! Setuju?

Apa yang akan kalian lakukan pada pekan ini?

Oh iya, titip salam, buat Kawan-kawan HI Unpas, semangat ya buat PSNMHI-nya! Semangat juga buat delegasi dari Unpad!

Oke, sapaan sudah cukup, selamat berakhir pekan pada pekan (hampir) terakhir Mei, Teman-teman!

Ark.Mei’10.

Sedih

Halooooo, pembaca anaksawah yang budiman dan diberkahi kasih sayang oleh para paman dan bibi sedunia! Bagaimana kabar kalian? Apakah baik-baik saja? Sudah berapa kali kalian menyapu lantai rumah kalian pada hari ini? Lalu bagaimana pula kelanjutan dari serangan semut rangrang yang menimpa meja makan kalian? Apakah sudah tertumpas habis? Oke, saya harap semua keadaan yang kalian hadapi sesuai dengan prediksi dan kuasa kalian.

Hufff, pembaca, akhir-akhir ini sedang nggak enak hati euh. Posting kali ini akan sedikit memuat unsur kelam. Siapkan senter kalian!

Hal pertama yang merisaukan saya adalah hujan. Mmmm, saya tahu hujan itu berkah, saya tahu hujan itu rizki, saya tahu hujan itu anugerah, tapi sumpah saya nggak pernah bisa tenang kalau hujan turun, apalagi kalau hujannya gede dan kilat+gunturnya gede-gede. Suasana kayak gitu bisa menjepit saya secara maksimal. Hmmm, nggak tahu juga ya kenapa, saya cuman nggak suka aja sama hujan. Pokoknya bagi saya, hujan itu mengandung unsur ancaman yang besar dan berisik. Arsh! Hujan akan makin menyebalkan jika saya sedang berada tidak di rumah dan saya harus menembus hujan tanpa jas hujan, tanpa sandal jepit, tanpa lampu sorot yang terang, tanpa kaca helm yang terang, dan tanpa ada niat dari hujan itu untuk sedikit saja meredakan rinainya!

Hati saya juga nggak enak karena situasi di sekeliling saya. Hmmmm, akar dari semua keenggaenakan hati kayaknya ini, nih, iniiiiii!!! Ada suatu hal yang dari kecil sampai sekarang menyusahkan saya tapi nggak pernah bisa saya tangani. Ah, saya kesal sama diri saya sendiri! Tapi saya akan terus belajar mengatasinya! Semangat!!!

Nah, nah, nah, ini penyebab kerisauan saya yang paling tolol. Haha. Apa coba? Denger lagu! Hmmm, karena laptop dipakai bareng-bareng sama saya dan adik-adik saya, maka playlist winamp di laptop juga playlist campur-campur. Nah, kebetulan pula ada banyak lagu bernada sendu dan berlirik keji mengiris hati entah milik adik saya yang mana. Huhu, saya jadi ikutan sedih gara-gara kena suasana lagu itu. Udah gitu udah gitu, saya lebih sedih lagi waktu saya sadar,

“Lah, ini gue ikutan sedih gara-gara lagu kisah cinta tak sampai begini emangnya gue punya kecengan gituh?”

Hahaha. Iya itu dia, secara nada dan lirik sih udah dapet banget tuh nuansa sedihnya, tapi yang lebih menyayat hati adalah lagu sedih itu cuman sekedar lagu tanpa sebuah ide yang melekat. Saya nggak bisa neriakkin ini ke diri saya sendiri,

“Eh, ini lagu nasib gua banget, nih!”

Penyebabnya satu, saya nggak punya kecengan. Karena saya nggak punya kecengan maka saya juga nggak punya kisah cinta tak sampai. Huhu sedihnya, ada lagu bagus yang saya lewatkan gara-gara saya sedang tidak menaruh hati kepada siapa-siapa. Hahaha. Kurang afdol, nih kalau denger lagu tapi nggak ada objeknya! Aduh kayaknya biar saya nggak sedih-sedih kayak begini melulu saya harus ganti itu playlist dengan lagu macam Maju Tak Gentar dan Bagimu Negeri, deh! Hmmm, seengganya saya masih punya negara dan bangsa yang saya cintailah. Haha.

Ya, begitulah kisah kesedihan saya yang begitu menghimpit. Hihi. Haha. Tapi nggak apa-apa, dong. Kan saya juga manusia yang diberi kelenjar air mata dan kemampuan untuk merasakan sakit. Ouch! Haha. Eh, meski sedih, yang penting kita harus tetap sehat! Salam men sana in corpore sano!


Ark. Mei’10.

mau jadi anak gaul

Sepertinya selama hidup lebih dari dua dekade, saya belum pantas-pantas jua menyandang sebutan Anak Gaul.
Indikator :
  1. Nongkrong After School : Kantin dan beberapa tempat makan sekitar Jatinangor
  2. Begajulan : Mall doang, itu juga sendirian dan karena ada yang mau dibeli
  3. Nonton konser : NEVER
  4. Nonton bioskop : Kalau punya pacar doang, ehm pengecualian untuk Ayos. Ayos adalah satu-satunya teman laki-laki yang saya terima ajakannya buat nonton. Cuman dua kali itu jugaaa waktu saya ke Surabaya. Just watched Bourne and My Name is Khan.
  5. Koleksi buku : Buku yang berbau kuliah
  6. Koleksi Novel : Pinjeman semua
  7. Alasan pulang malam : RAPAT
  8. Koleksi DVD : Nggak punya
  9. Situs favorit : Fesbuk, blogspot
  10. Liburan : Tidur
  11. Jadwal main : enam bulan sekali sama sahabat segeng waktu SMA
  12. Top News sms : Jarkom rapat, reminder ngajar
  13. Top News email : TUGAS KULIAH
Hidup macam apa ini?????
Apa seperti yang dibilang Alex, Bayu, dan Gigih, "Faklah hidup ini!" ?
Hahhaha.
However, I love being meeeeee!!!!!

Happy Mayyyyy!!!

Menghindari Kenyataan

Saya baru sadar kalau selama ini saya terlalu banyak menghindari kenyataan dengan mencurahkan pikiran dan tenaga ke pekerjaan, tugas kuliah, dan urusan kepanitiaan/organisasi. Saya kira melalui pengalihan otak dan tenaga tersebut saya sedang belajar menghadapi kenyataan, tapi ternyata itu cuman penghindaran dan pengendapan. Ketika tiba-tiba secara terpaksa dan tak disangka saya dihadapkan dengan objek yang coba saya lupakan, tiba-tiba mood saya seharian berubah jadi jelek. Hmmm. Itu artinya saya masih dalam proses mengendapkan tapi belum bisa menerima, hehehe.

Ah, permasalahan itu makin pelik kalau udah menyangkut cinta. Ya, sebenernya nggak cinta doang sih, hampir di setiap bidang saya selalu kayak begituh kelakuannya. Tapi kalau udah masalah cinta, aihhhhhhh mood euy mood! Terpengaruh sekali!

Tapi nggak ada jalan lain untuk mengubah perilaku selain dengan menghadapkan diri pada objek yang paling pengen kita hindari. Aaaaaaah, saya males ketemu Estu tapi udah setaun kayak begini, buang muka dan pura-pura nggak kenal tapi pas Estunya udah jauh mood saya jadi rusak seharian, jadi mau sampai kapan ngehindarin….?

Okei, akhirnya saya usahain bener-bener usahain untuk nggak buang muka kalau ketemu orang itu. Beneran deh saya belain nggak buang muka, kalau dia nyapa juga saya usahain nganggukin kepala, kalau dia nanya mau kuliah apa juga udah saya usahain buat ngejawab aga dikitan panjang..hoek. Hahaha. Yah, walaupun berat tapi ternyata lebih melegakan lho! Hahha. Seengganya mood saya nggak rusak kayak kalau saya buang muka. Hahaha. Oia, sekarang juga saya udah berteman sama Estu. Hahha.

Terus kayak misalnya saya nggak suka sama sifat atau ceplosan temen saya. Nah, biasanya sih saya diem aja, ngesot dikit trus pindah tempat, dan kalau dalam radius 5km saya liat dia mendekat ke arah saya, langsung saya ngibrit atau kalau nggak sempet ya pura-pura sibuk. Tapi nggak bisa kayak gitu melulu. Akhirnya kalau misalnya dia ngomong atau bertindak nyebelin ya saya usahain buat bales perkataan dia, hahha, atau bilang keenggasukaan saya. Sejauh ini sih lebih melegakan. Hahha.

Bos saya nyebelin soalnya hobi nyuruh saya nanganin hampir seluruh kelas padahal saya juga harus bagi waktu kuliah, ngurus organisasi, makan, tidur, dan bersenang-senang? Oh no problemo. Pasti saya bilang langsung ke si Bapak kalau saya nggak bisa dan sesekali menyindir kenaikan gaji, hahha. Eh tapi manjur lho. Walaupun gaji belum naik secara signifikan tapi saya dapet jatah makan siang. Uhuy. Terus kalau misalnya saya nggak bisa ngajar ya bilang nggak bisa, mau dikasih iming-iming atau muka jutek si Bapak kek, hmmmm, nggak takut deh.. Daripada bilang iya bisa tapi pas ngajar bawaannya bete? Bheuh.

Ya jadi intinya, hadapi permasalahan karena itu akan lebih melegakan dan menyenangkan, tentunyaaaaa! Hahaha.

Ark. Apr’10.

Pilihan

Ada satu hal yang menarik pada Rabu silam. Ada seorang dosen yang ingin mengetahui kecenderungan mahasiswanya dalam berorientasi melalui semacam tes psikologis. Jadi begini, menurut dosen tersebut, manusia itu terbagi dalam tiga golongan. Pertama, golongan tradisional. Golongan ini memiliki orientasi yang berpatokan pada kejayaan masa lalu. Misalnya ketika ia diharuskan memilih bupati, ia akan memilih berdasarkan pertimbangan bahwa calon bupati tersebut merupakan keturunan ningrat yang pasti mempunyai takdir pantas jadi pemimpin. Lalu kedua adalah orang ambivalen. Orang seperti ini memilikii berkecenderungan hanya memikirkan keadaan pada hari ini, Ketika ia diminta memilih bupati, ia akan memilih bupati yang saat ini memiliki kekayaan dan aset berlimpah sehingga jika nanti bupati tersebut terpilih, maka orang tersebut akan terciprat keuntungan. Ketiga adalah golongan modern. Golongan ini memiliki orientasi ke masa depan. Pertimbangan yang ia ambil ketika harus memilih bupati adalah karena calon bupati tersebut memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Nah, uniknya, dalam menguji para mahasiswanya, dosen saya ini nggak menyodorkan tes-tes apalah itu yang macam ada tes bahasa, matematika, dan lain-lain selayaknya tes psikologi. Ia hanya menanyakan kepada kami (dan tentu saja harus kami jawab dalam di atas kertas lalu dikumpulkan), jika kami harus menikah dengan orang yang jauh jauh jauh jauhhhhhhhhhhhh lebih tua dari kami, pertimbangan apa yang kami pikirkan hingga kami mau menikah dengan orang yang jauh lebih tua tersebut.

Sepintas kami tertawa, namun beliau dengan cepat mengingatkan. Tujuan ia menyodorkan soal bahwa kami harus menikahi orang yang jauhhhhhh lebih tua adalah perumpamaan jika suatu saat nanti kami jadi pemimpin kami disodori pilihan yang sangat sangat sangat buruk dan nggak sesuai harapan namun harus kami ambil. Ketika kami mengiyakan pilihan buruk tersebut, tentu banyak alasan yang melatari, nah tapi kira-kira alasan apa yang paling mendominasi keputusan kita tersebut.

Beliau juga berkata bahwa tidak ada jawaban yang salah dan benar dari pilihan jawaban kami. Ia menghormati tipe manusia seperti apakah kami. Namun yang jadi permasalahan adalah kami harus bisa menyimpulkan sendiri manusia seperti apakah kami. Dengan pertimbangan-pertimbangan yang kami tuliskan, apakah pertimbangan tersebut sesuai dengan kesimpulan/penilaian kami terhadap diri kami sendiri. Nah, inilah yang akan jadi penilaian kedua bagi dosen saya. Ketepatan kami dalam menilai diri sendiri. Kalau bahasa di novel Maryamah Karpov mah jangan sampailah kita overvalued dalam menilai diri sendiri. Haha.

Tapi lalu saya berpikir lagi. Hmmmm, kali ini saya ingin menarik hal besar yang dikemukakan dosen saya menjadi refleksi bagi diri saya sendiri. Jadi kali ini posting saya agak beda. Kita bermain mikro deh sekarang.

Nilai pertama yang saya dapatkan dari sana terinspirasi ketika saya dan Bima diminta dosen tersebut untuk menghitung hasil jawaban. Ternyata tidak ada satu pun teman saya yang memiliki jawaban seragam. Satu, mereka memiliki jawaban sendiri atas pertimbangan mereka. Ada yang mengakui bahwa mereka orang tradisional, orang ambivalen, dan banyak sekali yang mengaku modern. Dua, meski mereka terbatasi tiga pilihan yang membuat mereka termasuk dalam golongan tertentu, mereka memiliki pertimbangan yang berbeda dalam menyimpulkan bahwa diri mereka termasuk golongan A, B, dan C. Lalu dengan ditambah perkataan dosen saya mengenai kebebasan kami untuk memilih dan tidak ada jawaban benar atau salah atas pilihan jawaban kami, saya pun jadi berpikir, ternyata kita ini memang diciptakan berbeda. Setiap kepala memiliki pertimbangan yang berbeda sesuai dengan pengalaman, kebutuhan, dan pandangan hidupnya. Ketika mereka disodorkan hal yang sama, mereka ada yang memilih dan ada pula yang tidak. Pada saat mereka terkumpul menjadi satu golongan karena memilih jawaban yang sama, pertimbangan mereka sebenarnya pun sebenarnya saling berbeda. Nah, ini yang seharusnya kita mengerti. Apapun yang mereka pilih, tidak ada yang salah. Jangan karena pilihan mereka berbeda dari pilihan kita lalu kita menilai bahwa mereka salah. Lebih parah lagi kalau kita nggak cuman menyalahkan tapi juga berusaha mengubah dia untuk sama dengan kita.

Secara teoritis dan dalam tataran wacana, hal tersebut pasti kita pahami, tapi saya yakin pasti pasti pasti banget kalau aplikasinya di lapangan akan sulit terwujud dengan mudah, semudah kita mengerti konsep itu.

Saya akan menariknya ke masalah cinta. Cailah. Haha. Sesi curhat sedang akan dilangsungkan, mari baca curhat saya jika demikian. Haha. Seingat saya, hahha sok sok lupa, saya pernah jadi orang yang nggak dipilih. Oke, saya yang udah pacaran sama dia dalam kurun waktu yang nggak bisa dibilang sebentar tiba-tiba harus mendapat cobaan di siang bolong pas lagi adzan duhur yaitu ketika si pacar yang saya cinta itu mengutarakan maksudnya untuk membina hubungan pertemanan saja dengan saya. Selidik punya selidik, dia ternyata sudah menemukan belahan jiwanya yang lain. Nggak habis pikir aja gituh. Gila, gue udah pacaran gitoh sama dia terus kita harus putus gara-gara ada cewek yang baru dia kenal. Oh my goat. Haha.

Cobaan yang panas pun datang silih berganti waktu teman-teman saya ikutan menginvestigasi latar belakang cewek itu. Menurut mereka, cewek itu sekolah di tempat yang sangat biasa, dia juga bukan orang yang rajin dan cerdas, dia juga nggak feminim seperti layaknya mitos-mitos bahwa cewek itu harus lembut dan tersipu malu, malah cewek itu tomboy abissssss!! Rambutnya pendek, hobi pake celana pendek, kaos, topi, dan beragam atribut mitos kemaskulinan lainnya. Cewek itu juga termasuk dalam kasta alay *hahaha, hinaan makin parah*. Yah begitulah. Kenyataan tentang cewek itu membuat saya dan teman-teman saya nggak habis pikir nyari alasan kenapa sih si pacar saya itu milih cewek itu. Kita sempat terjebak perkiraan mistis yang tolol abis. Jangan-jangan main dukun tuh cewek. Hahha. Beragam cara pun dilakukan untuk membuat si pacar yang sudah jadi mantan itu untuk kembali berpaling ke saya. Cara yang paling sering dihembuskan adalah…tebak apa????

Menasihati pacar saya itu dengan kalimat,“Banyakkin solat sama baca Quran deh supaya kamu bisa terbebas dari kekuatan sihir dan bisa melihat mana yang baik mana yang benar lagi.”
Hahaha.

Kalau saya kaji sekarang, hahhaha, aduh itu sumpah tolol abis. Nggak ada hal yang salah dengan keputusan pacar saya untuk memilih cewek itu gitu loh. Setelah dia jalan sama saya dalam kurun waktu yang lama itu pasti otak dia terbuka. Tipikal cewek seperti apakah saya, cocok nggak saya sama kriteria dia, kuat nggak dia hidup sama saya, dan apa sih yang sebenernya dia cari dalam suatu hubungan di usia awal 20-an. Yang salah justru saya yang nggak bisa memahami orientasi hidup dia itu seperti apa, tradisionalkah, ambivalenkah, atau modern, dan dalam waktu yang bersamaan saya juga nggak bisa melihat sisi positif dan negatif saya itu termasuk sisi yang dapat memenuhi kebutuhan golongan tradisional, ambivalen, atau modern. Ketika kita nggak memahami konsep orientasi hidup seseorang dan kita sendiri, ketika itu pulalah kita udah menyiksa diri kita dengan berbagai ketidakterimaan dan berjuta kutukan. Kita boleh aja punya segudang prestasi, muka yang cantik, badan yang aduhai, harta yang melimpah, kesabaran tiada tara, kesantunan luar biasa, kesucian yang tak tersentuh, kemampuan masak tak terkira, dan banyak lagi, tetapi yang perlu kita pikirkan, sesuaikah apa yang kita miliki dengan orientasi seseorang yang kita cintai?

Kelebihan-kelebihan tersebut nggak berarti kalau si orang yang kita cintai itu nggak butuh, nggak nyari, dan nggak merhatiin. Saya jadi inget deh petuah ibu saya. Katanya, mencari baju itu harus yang sesuai. Percuma punya baju bagus dan mahal kalau kita nggak pernah diundang ke pesta. Percuma juga punya baju yang seksi dan cantik kalau badan kita nggak sesuai dengan postur yang diinginkan baju itu. Baju itu cuman indah aja dipajang dan dilihat tapi nggak pernah bisa kita pakai. Mubazir, kan? Ngapain coba kalau begitu? Mending cari baju yang emang fungsional dan yang sesuai dengan postur kita. Akan lebih bermanfaat dan cantik kalau dipakai.
Ini yang suka kita lupakan. Nggak salah ketika kita menilai bahwa kita lebih baik daripada orang lain, tapi kita juga harus ingat bahwa kita nggak boleh menyalahkan pilihan orang yang nggak memilih kita, si orang yang lebih baik.

Begitu pun sebaliknya jika kita sedang memutuskan bahwa si A nggak baik untuk kita, yaudah lakukan dengan ringan, jangan bawa-bawa perasaan nggak enak apalagi kasihan. Hidup ini kan kita yang menjalani, kita yang merasakan, dan kita yang merefleksikan. Kita punya kebutuhan, pandangan, pengalaman, dan keinginan. Go fighting for it! Perasaan-perasaan nggak enak itu malah bikin kita tersiksa dan terkekang. Nggak sehat aja gituh. Jadilah manusia yang bebas memilih dan menghormati pilihan orang. Pada akhirnya kita bakal menemukan jalan hidup yang terbaik untuk kita. Mungkin nanti kita akan ketemu sama jodoh impian atau bisa juga akhirnya kita memilih untuk sendirian. Hmmmm, itu yang pertama. Tapi ingat, walaupun saya hanya memberi refleksi dari aspek cinta, hal ini juga bisa kita refleksikan dalam aspek lainnya. Seperti apa? Pikirlah, Nak. Saya cape ngetik. Hehe.

Kita lanjutkan pada nilai kedua. Ehem, okei, ketika dosen saya berkata bahwa hal yang ia nilai adalah kesesuaian pertimbangan dengan kesimpulan yang kami buat, nilai yang saya tarik adalah sepertinya kita kerap menemui kesulitan dalam menilai dan menyimpulkan tindakan dan pemikiran yang keluar dari diri sendiri. Kayak yang tadi saya bilang, bisa jadi kita sering overvalued dalam menilai diri kita. Kita menganggap kita ini golongan A tapi ternyata yang kita lakukan tuh nggak A banget atau ketika kita baru melakukan suatu hal kecil, kita sudah menilainya sebagai hal yang besar. Malu banget sih harusnya orang yang kayak gitu tapi sayangnya orang seperti itu mah banyak. Orang-orang yang cari muka demi kepentingan rezeki. Hmmmm. Bisa juga sebaliknya, kita sering nggak sadar bahwa kita telah melakukan hal yang besar. Namanya mah bukan rendah hati tapi bego. Keenggasadaran bahwa kita telah melakukan hal besar akan membuat kita dimanfaatkan pihak-pihak licik ala kapitalis yang melihat peluang untuk mengeruk laba sebanyak-banyaknya dari keenggasadaran kita.

Nah, dalam menilai, kita harus mampu menilai dengan kadar yang pas. Jika kita hanya melakukan hal kecil, akuilah hal tersebut sebagai hal kecil dan jika kita melakukan hal besar, akuilah bahwa itu hal besar yang penting. Nggak salah kok untuk menilai diri kita ini seperti apa. Salah banget kalau kita nggak bisa menilai. Ketidakmampuan kita untuk menilai diri sendiri ini yang menurut saya menjadi penyebab mengapa banyak pengangguran di Indonesia. Banyak orang yang sok tinggi dan nggak mau menyadari bahwa dia itu nggak hebat-hebat amat. Banyak orang yang menilai kemampuannya biasa saja padahal dia kalau masukkin lamaran ke tempat yang benar, dia punya prospek karir yang cerah. Ini lho hal yang sering kita abaikan. Kemampuan kita untuk menilai diri kita sendiri dengan kadar yang tepat dan benar.

Hmmmmm. Kuliah yang hanya dua SKS tapi memiliki refleksi sampai dalam hati. Oia, pertanyaan itu adalah pertanyaan UTS mata kuliah Politik Luar Negeri RI I. Yap, mungkin Pak Sumpena adalah orang yang sangat mempercayai konsep bahwa negara sebagai individu yang sangat bergantung pada sosok kepala negara. Mungkin ia juga meresapi benar factor idiosinkratik dalam polugri. Saya juga mengamini konsep tersebut. Faktor kepemimpinan merupakan factor yang penting dalam polugri. Dan sepertinya itulah alasan mengapa Pak Sumpena memberikan pertanyaan UTS seperti itu. Dia ingin tahu seperti apakah kondisi negara Indonesia sepeninggal ia sebagai dosen ketika nanti dipimpin kami.

Hmmmmm. Sepertinya ini UTS yang berfungsi sebagai penerawangan masa depan. Semoga teman-teman saya mampu melihat sisi yang lebih besar dari pertanyaan UTS tersebut ketimbang menertawakannya.


Ark. Apr’10.