Pacar?


Wih, judul posting ini syerem. Hahaha. Kalau ada anggota ormas Islam tertentu, jangan-jangan blog ini bisa di-report as spam. Hahaha.

Pacar. Jomblo. Pacar. Jomblo. Pacar. Jomblo. Ini tema yang paling banyak dibahas di lingkungan saya dan teman-teman saya akhir-akhir ini. Mungkin sudah tuntutan umur, tuntutan orang tua, tuntutan lingkungan, tuntutan dosen, dan tuntutan jaksa sehingga tema ini pun menjadi tema yang paling sering dibicarakan namun dalam kondisi saling ejek dan menertawai nasib. Hmmmm, tapi beda lagi sih kondisinya kalau saya berteman dengan komunitas agamis. Kalau saya membicarakan hal itu di depan mereka, pasti saya langsung difatwa sebagai gadis durjana yang sundal. MASYA ALLAH RIKI BAHASANYAAAAAA. Hahahahahhahahhaha. Mungkin kalau saya masuk ke dalam komunitas itu, bukan 'pacaran' yang akan saya sebut, tapi 'menikah'. Huffff. Nah, kebalikannya, kalau saya ngomongin 'menikah' di depan teman-teman saya yang sering nongkrong di perpustakaan, mal, tempat makan, dan kosan terdekat, nanti saya bakal dicibir ciyyeeehh ciyeeeehhh. Memang hidup ini pelik.

Kalau saya pikir-pikir, wajar, sih sebenarnya pada usia 22-24 ini teman-teman saya ramai membicarakan pacaran atau menikah. Akan terlalu lancang sepertinya kalau saya bilang ini berkaitan dengan dorongan seksual karena bagi saya sendiri persoalan pengen-pacaran atau pengen-menikah yang dirasakan pada fase umur ini rasa-rasanya tidak mengarah pada keinginan seksualitas. Saya lebih melihat dorongan nggak-pengen-sendirian-dalam-menghadapi-dunia-yang-kejam sebagai alasan pacaran dan menikah pada umur ini. 

Berdasarkan pemahaman yang saya refleksikan dari pengalaman pribadi dan analisis terhadap cerita-cerita teman-teman saya, hal yang paling dirasakan oleh kami adalah semacam perasaan insecure ketika mengingat umur dan semester kuliah. "Ih, gila, udah umur segini ajalah! Udah dibolehin pacaran tapi sama siapa dong?" ; "Aduh, bentar lagi lulus, terus nanti harus cari pacar dimana?" Kesalahan dari pertanyaan ini adalah janji palsu yang sering diucapkan orang tua kita waktu kita masih SMP atau SMA, lagi centil-centilnya dan lagi puber-pubernya tapi dilarang pacaran dengan iming-iming, "Nanti aja pas kuliah. Pandanganmu nanti terbuka lebar dan ada banyak pilihan di sana."

Bagi sebagian orang yang jodohnya sudah dekat, iming-iming itu memang benar, dalam kasus Bayu dan Fahmi, misalnya. Nah, namun hal tersebut tentu takbisa digeneralisasi. Itu hanya terjadi dalam perbadingan 2 : 5, yang sayangnya saya dan teman-teman saya (kecuali Bayu dan Fahmi) termasuk dalam golongan yang berjumlah tiga. Di Indonesia katakan ada 10 juta mahasiswa, nah kalikan dengan perbandingan itu, berarti akan ada 6 juta mahasiswa yang tidak memiliki kesempatan untuk tidak jomblo dalam masa perkuliahan, baik karena putus atau emang nggak dapet aja. Kemungkinan untuk masuk ke dalam 6 juta orang yang tidak beruntung itu sangat besar sekali, bukan? Plis, jangan jawab "Bukan."

Kalian nggak percaya sama perbandingan itu? Mari kita buktikan dari kisah hidup saya.
a. Kasus 1 : Fahmi, Bayu, Riki, Ayi, Desi. 
Punya pacar : Fahmi, Bayu
Jomblo : Riki, Ayi, Desi
.:. 2 : 5

b. Kasus 2 : Remon, Alex, Gigih, Mufli, Taufik
Punya pacar : Mufli, Taufik
Jomblo : Remon, Alex, Gigih
.:. 2 : 5

c. Kasus 3 : Riri, Rizka, Vita, Gori, Ami
Punya pacar : Rizka, Ami
Jomblo : Vita, Riri, Gori
.:. 2 : 5

d. Kasus 4 : Solpa, Ari, Gofur, Aros, Zet
Punya pacar : Gofur, Zet
Jomblo : Solpa, Ari, Aros
.:. 2 : 5

e. Kasus 5 : Lydia, Anin, Pradip, Fransis, Bima
Punya pacar : Lydia, Anin
Jomblo : Pradip, Fransis, Bima
.:. 2 : 5

Masih banyak kasus lain, tapi takut disangka buka aib. Nah, tapi terlihat kan bahwa perbandingan itu nyata dan iming-iming orang tua kita tidak selalu menjadi kenyataan?


Alasan kedua setelah insecure adalah insecure. Loh? Iya, lagi-lagi insecure. Saya sih yakin banget teman-teman saya yang jomblo di atas itu nggak butuh diingetin lewat sms buat makan, solat, dan tidur karena mereka makannya banyak, soleh, dan liat bantal langsung tidur. Selain itu, sebagai anak yang lahir di keluarga kaya raya nan sejahtera (alhamdulillah), kami masih punya alarm yang menemani. Kayaknya kami nggak butuh pacar untuk mengatakan perhatian artifisial seperti itu, deh. Kenapa artifisial? Berdasarkan pengalaman para ahli, sms macam gitu sih cuma manis di dua bulan awal aja, ke sana-sananya sih rutinitas tak berjiwa lagi. Secara kita bukan anak SMP atau SMA lagi gituh. Ada hal yang jauh lebih bikin insecure ketimbang nggak ada yang ngingetin makan, yakni insecure ngga punya teman paling setia untuk berbagi banyak hal, dari mulai gosip, buah pikiran, kesenangan, kesedihan, kebetean, kegembiraan, keharuan, kesakitan, dan tentu saja kekayaan dan kemiskinan. Dengan umur yang semakin menginjak usia bekerja yang mengharuskan kami (eh kalian juga termasuk, jadi saya ganti dengan kata 'kita' deh ya) berpisah dari urusan pertemanan akrab nan tulus pada masa sekolah dan kuliah, akhirnya kita pun membutuhkan orang yang bisa kita percaya untuk bisa menerima dan menyayangi kita apa pun keadaan kita. Semacam butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk ditelpon waktu liat gosip Syahrini ngutang di warteg, di-YM-in pas kita bingung mengolah data buat bab 5 kita, disms waktu kita nemu uang gocengan di depan alfamart, didatengin kosannya waktu kita pias tiba-tiba disuruh revisi tanpa dikasih tahu apa yang salah dari skripsi kita, diajak jalan-jalan waktu kita dapet honor lebih, ditulis di Ucapan Terima Kasih skripsi, dan tentu saja diundang untuk menjadi pendamping wisuda kita. *ngetik ini sambil sesenggukan.* Saya rasa hal-hal seperti itulah yang sebenarnya mendorong kita untuk galau massal di twiter sambil saling ngatain, "Ah, jomblo lu!" sebagai #kode kalau kita menginginkan keberadaan orang yang bisa kita andalkan jauh lebih intens dibanding teman-teman biasa (yang sebentar lagi pasti akan berpisah dengan kita).

Dengan adanya dua alasan yang saya yakin melatarbelakangi #kode-kode pengen punya pacar itulah saya nggak setuju sama pernyataan bahwa pacaran itu haram. Hmmm, harus ditelusuri dulu niatnya apa dong. Walaupun saya nggak menampik adanya kemungkinan berkembangnya niat aseksual menjadi niat seksual dalam pacaran,  saya rasa hal itu nggak bisa digeneralisasi juga untuk bersikap terlampau anti pada pacaran kemudian melampiaskannya pada arah yang halal, yakni menikah. Dengan dua alasan yang saya sebutkan tadi, bagi saya, menikah adalah langkah yang terlalu berat. Semacam overdosis dan overreaksi. Kamu sakit flu tapi saluran pernafasan kamu dioperasi. Terserah bila pernyataan saya barusan langsung difatwa dengan serentetan hadis dan ayat quran yang intinya bilang kalau dalam Islam nggak ada pacaran atau berduaan itu bisa mengundang setan. Saya cuma mau bilang, menikah adalah hal serius yang kurang tepat diaplikasikan sebagai solusi bagi lonjakan kondisi insecure kita yang sebenarnya fase seperti ini tidak akan berlangsung lama. Bisa dibilang, fase insecure kita saat ini adalah fase labil kita yang lebih baik diisi dengan bertafakur dan bersabar sampai kita dipertemukan dengan jodoh kita dan alasan yang menguatkan kita untuk yakin hidup bersama dia, menghadapi segala badai dan pelangi *kampret emang bahasa gue*, dan membentuk keluarga yang menjadi rumah bagi kita, dia, dan anak-anak. Menikah itu sungguhlah hal pertama di atas skripsi, tesis, dan disertasi yang membutuhkan kedewasaan tingkat tinggi. Kalau kita, hanya dengan dua alasan insecure yang saya sebutkan tadi menjadikan menikah sebagai solusi, bagi saya nggak seimbang dan malah memicu persoalan baru. 

Nah, jadi pacarankah solusinya?

Itu tergantung dari sudut pandang kita juga, sih. Intinya kalau kita berada pada fase insecure yang temporer itu sih saya nggak menyarankan untuk menikah. Masalah apakah kita kalau gitu mending pacaran aja atau stay single sambil shalat hajat sih balik ke kitanya sendiri. Kalau kita memilih untuk pacaran, maka berhati-hatilah agar tidak terjerumus ke lubang yang nantinya berat lagi kita tanggung. Kecuali kalau kita bisa menanggungnya di hadapan Allah, orang tua, tetangga, teman, dan jutaan orang kepo di seluruh dunia ya itu sih pilihan. Nah, kalau kitanya sendiri nggak yakin bisa istiqamah menjaga niat aseksual kita, ya lebih baik kita bersabar dalam keadaan jomblo sambil berdoa yang getol biar dikasih orang terbaik di waktu terbaik. Kemarin juga sih sempat conference di YM sama Ayi, Dewa, Remon, terus saya nyeletuk, bersyukur masih jomblo kita sekarang jadi masih bisa berteman kayak begini, malem-malem conference ngomongin hal absurd, coba kalau udah punya pacar atau nikah, mana ada masa kayak gini lagi. Ya, agak nggak ikhlas juga sih saya ngomongnya. Itu mah asli menghibur diri, hahahaha. Tapi ya sepertinya memang kita harus bersyukur sih atas apa pun yang diberikan pada kita karena pasti ada alasannya. Ya, kelabilan pengen punya seseorang yag kita andalkan ya dinikmati dulu sajalah. Perasaan juga kalau nanti kita punya pacar atau suami atau istri juga kita masih nggak bakal nemuin istilah happily ever after itu nyata di dunia ini. Haha.

Ark. Jan'12.